Karya : Vivi Widianti
Aku adalah seorang manusia. Aku adalah manusia yang terbuang, sampah masyarakat karena aku tak mampu menghidupi diriku sendiri dan selalu merugikan orang lain. Aku hanya bermalas-malasan, membentak orang, bersikap sok jagoan, dan sering berjudi.. Aku sering berjalan-jalan di malam hari, menemui gadis-gadis dan kelompok pengobat. Dan sekarang, aku menyesal. Sesal selalu datang belakangan. Warisan orangtuaku, yang dulu sangat berlimpah kini habis, bahkan satu koin pun tak tersisa. Aku stress dan pada suatu malam, aku keluyuran di luar untuk menghilangkan stress.
Aku belum lama berjalan menikmati malam ketika aku bertemu Larry. Cowok kurus ini adalah sahabatku. Atau sahabatku dulu, dua tahun yang lalu. Waktu itu, aku sedang duduk di depan kasino besar di kota. aku sedang pusing memikirkan cara untuk membayar hutangku kepada Sandy. Aku sudah lima kali kalah berjudi dengan Sandy, dan bodohnya, aku memasang taruhan yang besar. Aku tak tahan diolok-olok oleh Sandy dan kelompoknya. Gadis yang selalu di sampingku di meja judi membujukku untuk memasang taruhan yang lebih besar dari taruhan yang dipasang Sandy. Gadis itu cantik, matanya yang besar memohon padaku untuk memasang taruhan besar. semula, aku tak mau memasang taruhan yang lebih besar, aku tahu kemampuan finansialku dan resikonya jika aku kalah. Tapi, ketika aku menoleh, mataku langsung tertambat pada matanya yang besar. mata itu berwarna abu-abu, sinar matanya teduh. Kala itu, mata itu menyorotkan permohonan yang sangat dalam. Aku mabuk akan tatapan matanya, dan segera aku menambah jumlah taruhan. Dia berseru senang ketika aku mengatakannya, dan ketika aku mendengar seruannya, aku merasa telah menjadi laki-laki yang paling hebat.
Perasaan itu tidak bertahan lama. Dalam sekejap, seluruh uang terakhirku ludes di meja hijau jelek itu. Sandy terbahak-bahak puas. Dia dan kelompoknya yang kasar saling ber high-five. Setelah itu, mereka semua menertawakan aku, Sandy yang tertawa paling keras. Aku menoleh pada gadis cantik itu, mengharapkan dukungannya. Tapi, hatiku langsung melesak dan mendarat keras di perutku. Gadis itu ikut tertawa bersama kelompok Sandy. Ia terus tertawa dan berjalan menjauhiku, ke arah Sandy, dan ia memeluk Sandy mesra. Aku baru sadar betapa tololnya aku. Gadis itu jelas pacar Sandy dan ia memohon padaku untuk memasang taruhan besar karena ia tahu aku akan dikalahkan oleh Sandy. Ia juga tahu, setelah Sandy memperoleh semua uang yang dimenangkannya, ia akan diajak Sandy pergi ke tempat hiburan, disko, dan akan menghabiskan malam di hotel bintang lima di pusat kota. Aku langsung berlari menjauhi tempat itu.
Aku tak bisa berlari terlalu jauh, maka aku terduduk lemas di depan kasino itu. Aku terus menerus menampar diriku sendiri dan menangis kesal hingga Larry mendekatiku. Ia berjalan mendekatiku, tapi jalannya sangat oleng hingga membuatku khawatir kalau-kalau ia jatuh. Tapi ternyata tidak, ‘Keseimbangannya luar biasa,’ pikirku waktu itu. Larry sangat kurus dan urat-urat berwarna hijau di lengannya menonjol. Di bagian bawah lengannya aku melihat sebaris luka gores yang panjang. Ia mengenakan jins belel kumal, kaos merah bertulisan ‘Sialan Kau!’, jaket kulit hitam yang berbau memuakkan dan satu matanya ditutupi penutup mata. Keseluruhan penampilannya menunjukkan dia seorang pengangguran dan preman.
Waktu itu aku tak peduli padanya. Larry berusaha mengajakku bicara. Dia terus-menerus bertanya padaku, membuatku jengkel. Pertanyaannya seperti: “Kau kenapa?”, “Siapa namamu?”, “Di mana rumahmu?”. Akhirnya ia bertanya,” Apa kau kalah berjudi?”. Mendengar itu, aku tersentak. Dengan keras kukatakan padanya bahwa itu bukan urusannya dan sebaiknya ia pergi sebelum aku memberinya satu memar biru di matanya. Dia cuma berkata,”Hei, man, t’nang. ‘Ku cuma mau m’ringankan penderitaanmu. Aku punya satu barang yang pasti buat kau s’nang, man. Cobalah, kau takkan m’nyesal.” Ia terkekeh, kemudian melanjutkan,” Aku Larry. Jika kau ingin itu lagi, kau bisa datang ke samping bengkel tua di perempatan Jalan Kelima. Katakan pada orang-orang di sana kau temanku, dan mereka tentu dengan senang hati menyambutmu.” Lalu dia pergi.
Pagi itu aku terbangun di kamarku yang berantakan dan merasa amat senang. Aku tak peduli pada Sandy—siapa sih, Sandy? Kalau ia berani datang ke rumahku, aku akan menghajarnya dengan kekuatan penuh. Aku masih muda, dan beberapa hantaman akan membuatnya terjatuh. Aku menghela napas dan meresapi kebahagiaan itu. Lalu aku melanjutkan khayalan indahku. Kalau Sandy kalah, aku akan mengambil gadis cantik itu sebagai pacarku. Itu akan menyenangkan sekali. Sandy akan hancur, pikirku sambil terkekeh senang. Aku bangkit dari tempat tidurku dan seketika merasa pusing. Tapi pusing ini tidak memberatkan kepala. Pusing ini terasa begitu ringan dan membuat hati senang. Aku berjalan, mungkin terhuyung-huyung seperti Larry tadi malam, karena aku menabrak pintu dan lemari. Aku tak menggubrisnya, rasa ini terlalu membahagiakan dan aku tak peduli apa pun kecuali mereguk kebahagiaan ini sebanyak-banyaknya. Setelah berjalan sebentar (aku bahkan belum keluar kamar) aku menjatuhkan diri ke keramik yang sejuk dan melanjutkan mimpi bahagiaku. Sebelum terlelap, aku berterima kasih kepada Larry karena obatnya betul-betul manjur.
Matahari telah berada di horizon barat ketika aku terbangun dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk. Sinar matahari berwarna jingga yang masuk menerobos jendela kamarku terasa begitu menyakitkan bagi mata. Aku duduk dan mulai merasa pusing. Pusing kali ini sangat berat. “Aku harus menemui Larry,” kataku keras-keras Rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhku membuatku marah. Aku meninju lemari hingga bolong dan merenggut pakaian di dalamnya. Aku berpakaian dengan kasar, menyentakkan kancing-kancingnya hingga satu atau dua kancing terlepas dari jahitannya. Aku nyaris keluar rumah ketika aku sadar bahwa aku belum mengenakan jinsku. Aku memasukkan kakiku dengan kasar ke rongga di jins yang memang untuk kaki dan mengumpat keras ketika kaki jins itu terlipat. Setelah itu aku menyalakan sepeda motorku dan mengendarainya secepat mungkin ke tempat yang Larry beritahu kemarin malam. Ada sesosok laki-laki tua yang mengendarai sepeda yang mengikutiku. Aku mencoba untuk menyesatkan dia dengan berbelok ke jalan kecil di antara jalan Ketiga dan jalan Keempat. Aku melirik ke kaca spion. Aku mengumpat karena pria tua itu masih juga mengikuti aku. Aku membiarkan dia mengikutiku karena aku harus mengurus kepalaku dulu. “Masa bodoh dengan dia,” batinku.
Aku sampai di sana. Tempat itu kumuh dengan banyak drum bekas minyak. Ada jemuran seseorang yang tergantung sekitar 2 meter di atas kepalaku. Angin meniupnya hingga kain-kain putih melambai dan terbang lepas. Sialnya, kain itu mendarat di kepalaku. Dengan marah aku berkutat melepaskan kain itu. Ada suara orang tertawa di atasku. Aku berteriak kesal,” Bantu aku, jangan tertawa saja!” dan ada beberapa pasang tangan membantuku melepas kain itu. “Sialan!” umpatku sambil menginjak kain itu. “Sabar, anak muda. Jangan salahkan kain itu. Salahkan nasibmu yang begitu malang sehingga kau kena musibah saat kau sedang ketagihan.” kata sebuah suara berat di dekat telingaku. Orang itu menguarkan bau kimia, dan wangi pisang. Kurasa itu karena ia juga mengkonsumsi obat yang semalam diberikan Larry padaku.
“Ada Larry di sini? Aku temannya.” kataku.
“Kau temannya? Kapan kau bertemu Larry? Bagaimana kami bisa percaya kau?” kata sebuah suara lain. Suara yang ini melengking, dan tidak enak didengar, bahkan ketika kepalamu normal. Kau bisa bayangkan betapa suara itu menggangguku ketika kepalaku berat.
“Aku bertemu dengannya kemarin malam. Aku tak tahu bagaimana kau akan mempercayaiku. Kau hanya bisa mempercayaiku, atau tidak.”
“Bocah ini tidak berbohong. Aku memang bertemu dengannya. Dia kelihatan menyedihkan sekali kemarin malam, jadi kuberikan empat butir CX rasa pisang.”
Larry!
“Kumohon, Larry! Beri aku obat itu lagi! Aku benar-benar butuh itu sekarang! Aku akan bayar kau berapa pun. Tolong aku, Larry!” aku berlutut di depannya.
“Baiklah. Kau masih kelihatan tidak bahagia, man. Kali ini aku masih memberimu cuma-cuma.” Dia merogoh saku jaket hitamnya.”Nih.”
Aku menerima bungkusan itu dengan rasa syukur, lalu langsung membukanya. Aku begitu terburu-buru sehingga dua di antara enam butir CX menggelinding keluar. Mereka semua tertawa. Larry berkata,” Sabar, man.” Dan ia tertawa.
Aku merasa lebih baik tak lama setelah aku menelan empat butir CX. Aku berterima kasih kepada Larry dan kepalaku kini dipenuhi sensasi menyenangkan. Aku menaiki sepeda motor dan mengebut di jalan-jalan sepi di pinggir kota. Tiba-tiba laki-laki tua tadi sore menyetopku dan aku langsung mengerem. Tindakan ini membuatku jatuh terguling-guling di jalan aspal berdebu. Muka dan sikuku menjadi lecet. Aku menatap garang pada kakek itu. Tapi, sebelum aku mengumpat apa pun, laki-laki itu berkata,” Nak. Hentikan tindakanmu.”
“Apa maksudmu, Kakek? Jangan banyak omong, gara-gara kau, aku jatuh dan mukaku lecet!” aku mengepalkan tinjuku dan sudah mengambil ancang-ancang.
“Aku semakin tidak mengenalmu, Nak. Pasti obat itu telah mengacaukan hidupmu. Berbaliklah lagi ke jalan yang benar!” seru kakek itu seraya mengguncang tubuhku. Hidungnya yang bengkok dekat sekali dengan wajahku. Aku terkejut. Wajah keriput dengan hidung bengkok itu rasanya kukenal. Namun waktu itu aku terlalu marah untuk berpikir lebih lanjut. Dengan marah aku melepaskan cengkeramannya di bahuku, mendorongnya dan segera menaiki sepeda motorku menjauh. Dari kejauhan, masih terdengar suaranya lirih memanggil-manggilku.
Malam itu aku pergi ke kasino tempat Sandy biasa mangkal. Aku sedang menunggu Sandy datang untuk kembali bertaruh dengannya. Ketika aku menunggu, aku melihat sekelompok laki-laki berwajah sangar dengan jaket kulit masuk ke kasino dengan berisik. Aku tahu siapa mereka. Mereka adalah geng motor paling terkenal di wilayah ini. Mereka bersembilan dan semuanya sedang menuju ruang judi khusus untuk orang-orang yang terkenal dan tentunya, mereka yang kelebihan uang. Pikiran gila dan khayalan liarku mulai menyerbu benakku. Dua di antara mereka maju, membukakan pintu coklat yang membatasi ruang itu dengan ruangan biasa, kemudian segera berdiri menyamping, memberi jalan bagi ketua mereka.
Aku berpendapat akan keren sekali kalau aku ikut bergabung dengan kelompok itu. Membawa motor Harley yang besar dengan suara keras. Memakai rantai di pinggang jins. Mereka bahkan membawa pistol! Aku membayangkan diriku mengendarai sepeda motor itu, mengacungkan pistol ke arah seorang preman yang mengganggu seorang gadis manis. Setelah aku menyelamatkan gadis itu, dia akan berterima kasih padaku dan akan mengabulkan semua keinginanku… khayalanku terhenti tiba-tiba seakan-akan ada orang usil yang menusuk balon khayalanku dengan jarum pentul. Aku sadar aku harus melakukan sesuatu. Bergabung dengan mereka berarti aku akan ditakuti oleh Sandy dan gadis cantik bermata kelabu itu akan memujaku.
Aku segera berlari dan mendatangi kelompok itu untuk berbicara dengan bosnya. Pimpinan mereka tidak sulit ditemukan, dialah yang paling besar dan tentunya, berjalan paling depan dengan cerutu terselip di bibirnya yang kehitaman. Aku baru berjalan sekitar 2 meter ketika ditahan oleh dua orang anggota geng itu.
“ Apa maumu, anak ingusan?” kata salah seorang di antara mereka. Suaranya berat. Laki-laki ini giginya hitam, berambut gaya mohawk dan ia menindik hidungnya dengan (kira-kira) sepuluh anting perunggu. Ia mengatakan ini seraya menahan tubuhku dengan mencengkeram bahuku.
“Aku ingin bertemu ketua kalian,” kataku.
“Memangnya kau siapa, hah, mau ketemu bos? Sudah punya janji?” lanjutnya.
“Be..be..belum. tapi, kumohon, izinkan aku bertemu dengannya..Kumohon!”
Kedua pria itu tertawa keras. Seisi kasino menjadi senyap karena heran dan ini membuat suara tawa kedua pria itu makin keras.
“Apa katamu? Mau ketemu tapi belum punya janji? Kau gila, ya? Pergi sana!” kata pria itu sambil mengibaskan tangan tanda mengusirku.
“Oh, ayolah, …kumohon, aku benar-benar perlu bicara dengannya!” rengekku.
“Aaah, bayi besar! Pergi sana! Jangan mulai membuatku marah, kau bocah,” teman pria itu berkata sambil mengacungkan pistolnya dan mengarahkan tepat ke jantungku. Aku mengertakkan gigi, berusaha untuk tidak takut. Kemudian, dengan membulatkan tekad aku menerobos mereka. Keduanya kaget tak alang kepalang. Tapi kekagetan mereka segera hilang. Mereka mengejarku dan berhasil menangkapku. Aku meronta-ronta, berusaha membebaskan diri. Kakiku yang menendang-nendang liar menendang meja judi yang sedang dipakai terbalik. Meja itu terbalik dan menjatuhkan semua yang ada di atasnya—koin-koin berjatuhan dan menimbulkan suara gemerincing yang menyakiti telinga. Uang-uang taruhan berhamburan dan melayang-layang. Orang-orang di sekitar situ berebut mengambil uang yang tercecer sebanyak mungkin. Di sela-sela pemberontakanku aku melihat satu staf kasino membungkuk meraup uang sebanyak yang dia bisa dan menyelipkannya di balik bajunya.
Keributan ini terdengar hingga ke belakang, ke ruang khusus itu. Empat orang keluar dan mereka melihat aku serta kedua preman itu. Satu di antara mereka, yang botak dan alisnya ditindik berkata keras, “Apa-apaan ini, Jared? Kau bermain-main dengan anak kecil itu?” kemudian, laki-laki Mohawk tadi (ternyata namanya Jared) menjawab, “Anak ini yang bikin ribut! Dia memaksa mau ketemu bos,” jawab Jared sambil menghempaskan aku ke kaki si botak.
“Anak ini mau ketemu bos?” ulangnya. Lalu ia merenggut rambutku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Kau ingin bertemu bos? Kau siapa dan ada perlu apa? Cepat katakan atau kutembak kau,” ancamnya.
“Ma..maaf. aku ingin bertemu bos kalian karena aku i..ingin bergabung dengan kalian..” jawabku terbata-bata. Aku mulai takut saat itu.
“Apa?! Yang benar saja! Anak kecil seperti kau? Memangnya kau bisa apa?” serunya.
“Ya, dia bisa melakukan sesuatu untukku,” sebuah suara berat menyahut. Aku menoleh. “Ya ampun,” batinku, “ternyata aku dalam masalah besar! bosnya keluar!”
“Maaf, bos. Anak ini? Anda mau menyuruh dia melakukan apa? Dia cuma bocah kecil! Dia hanya akan mengganggu kelompok kita!” jawab si laki-laki botak terkejut.
Bos tak menggubrisnya. Ia malah melepaskan aku dari cengkeraman si botak dan mengajakku masuk ke ruang khusus. Dia berkata, “Mari. Aku punya tugas untukmu. Jika kau berhasil, maka kau boleh bergabung dengan kami.” Ia berkata sambil tersenyum ramah dan menepuk-nepuk bahuku. Aku membatin, “Rupanya dia tidak sejelek yang kuduga. Malah dia baik sekali.”
Kami duduk di sebuah meja bundar. Aku duduk di atas puff, sofa bulat yang benar-benar empuk. Si bos melanjutkan, “Aku perlu seseorang yang cekatan sepertimu untuk melakukan satu hal.
Dulu, kami memiliki seorang ketua. Dia orang yang hebat dan tak terkalahkan. Ia bisa mengalahkan puluhan polisi yang ingin menangkapnya. Selain itu, ia juga memiliki gudang kokain yang besar di perbatasan. Tak ada yang mengetahui hal ini sampai suatu waktu salah seorang anak buahnya yang bekerja di gudang itu melapor polisi
Si pengkhianat memberitahu polisi hari ketika ketua kami datang ke gudang. Maka, sang kapten mengutus pasukan besar untuk menangkapnya karena ia tahu bos kami sulit untuk ditangkap. Ketika bos turun, lututnya langsung ditembak dan ia dibawa pergi dengan mudahnya. Ia diseret pergi dengan tangan terikat dengan tali yang terpasang di belakang mobil. Maka, ketua harus berlari mengikuti mobil polisi itu. Para polisi sok jagoan itu tidak memelankan laju mobilnya. Mereka melaju hingga kecepatan hampir 80 kilometer per jam. Bos kami sampai terjatuh dan ia terseret di jalan pasir hingga 1 kilometer. Benar-benar suatu pengkhianatan!” bos mengakhiri ceritanya dengan geram.
“Nah, nak. Kau harus membebaskan ketua kami jika kau memang ingin bergabung dengan kami. Aku akan memberikan waktu 24 jam untuk berpikir dan datanglah lagi ke sini pukul 7 besok malam.” lanjutnya. Aku gemetar mendengar ceritanya, sadar siapa yang kuhadapi sekarang.
“Mmm, terima kasih atas kesempatannya…kurasa aku mau mempertimbangkannya dulu… permisi,” kataku sambil cepat-cepat bangkit dan keluar.
Di luar, efek superior dalam diriku akibat obat itu mulai menghilang. Aku mulai berpikir dengan akal sehat lagi (bisa dikatakan begitu) dan aku menyadari betapa bodohnya aku. Aku memutuskan untuk menolak tawaran itu dan akan kabur, mungkin ke tempat Larry dan minta perlindungan di sana. Aku segera menstarter sepeda motorku dan mengebut menjauh dari kasino itu.
Sensasi menyenangkan obat CX itu mulai menghilang. Tengah malam, aku terbangun kesakitan. Kepalaku rasanya sakit dan gatal sehingga ingin rasanya kubenturkan kepalaku ke dinding. Seluruh tubuhku rasanya ditusuk jarum panas. Aku tak kuat menahan sakitnya . aku bangkit dan berjalan terhuyung-huyung, berusaha meraih kunci motor. Ketika hendak kuhidupkan, motornya tak mau menyala. Aku menjadi sangat marah dan kesal. Kulihat jarum penunjuk isi tangki bensin yang menunjukkan huruf E. dengan kesal, kulempar kunci motor ke dalam rumah dan mengenai vas bunga. Vas itu oleng dan jatuh berkeping-keping. Aku tak menggubrisnya. Ketika aku melewatinya, aku teringat pada lengan Larry yang penuh bekas luka irisan. Ia juga pernah mengatakan padaku bahwa luka itu dibuatnya sendiri karena ia tak punya uang untuk membeli obat. Aku memungut pecahan vas itu, lalu kuiris pada lengan bawahku. Rasanya sakit, tentu saja, tapi aku tak memedulikannya. Aku lebih butuh darahku sekarang. Saat darah itu mengalir melewati kerongkonganku, rasanya betul-betul nikmat. Kini aku tahu, mengapa vampir senang minum darah. Setelah aku menyesap darahku sendiri, aku menghempaskan diri ke ranjang dan tertidur.
Sinar matahari yang menyilaukan menerobos masuk ke kamarku. Aku terbangun dan seketika mengerang. Aku bertanya-tanya mengapa lenganku perih sekali dan aku kaget sekali karena ada darah menggenang di sprei tempat tidurku. Kemudian aku ingat semua yang kulakukan malam tadi. Tanpa buang waktu—bahkan aku tidak mandi ataupun berganti pakaian—aku pergi ke gudang dan menemukan sepeda di tergantung di langit-langit gudang. Aku menurunkannya dan mendapati ban sepeda masih cukup kencang dan belum kempes. Aku menaikinya dan berpacu ke markas Larry.
Aku melihat kelompok Larry sedang minum-minum. Larry sendiri duduk di atas drum kosong yang berkarat. Di kedua tangannya ada botol bir. Matanya yang agak menerawang menatapku dan ia menyapaku, “Ahoi, bocah! Apa kabarmu?” ia bicara terlalu keras dan kupikir itu mungkin efek dari minuman yang ditenggaknya.
“Hai, Larry. Omong-omong, aku butuh CX lagi.”
“Hmm, kurasa kau mulai menikmatinya, ya. Aku punya beberapa, man, tapi benda ini tidak murah. Kau harus memberiku sejumlah uang supaya tanganku mau merogoh saku jinsku dan memberikannya padamu,” jawabnya sambil terkekeh.
“Baiklah,” kuulurkan sejumlah uang padanya. “Mana barangnya? Cepat berikan padaku. Aku sudah tak tahan lagi,” aku menyahut. Tubuhku gemetar hebat dan rasa sakit di kepalaku makin menjadi-jadi. Setelah aku mendapatkan obat itu, aku menghela napas lega. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dan merosot ke lantai. Larry berkata lagi, “Aku punya barang baru lagi. Yang ini enak sekali. Mau coba?” ia mengulurkan satu alat hirup dan beberapa bungkusan kertas yang kurasa obat hirup. Aku ragu-ragu. Aku tahu obat ini harus dihirup dan aku tak suka sesuatu selain udara masuk lewat hidungku. Larry dan kawan-kawannya terus mendesakku. Akhirnya aku mengulurkan tangan dan meraih benda-benda dari tangan Larry. Aku mencobanya, dan aku merasa sangat, sangat senang. Rasanya semua masalahku tentang Sandy itu hanyalah nyamuk menyebalkan. Aku merasa aku sangat tampan dan kuat dan semua orang—terutama gadis-gadis—akan sangat mengagumiku. Aku bagaikan melayang di awan-awan, kemudian awan-awan itu berubah menjadi gundukan uang, lalu berganti lagi menjadi serombongan gadis-gadis jelita yang mengerumuniku, mengantre untuk mendapatkan perhatianku. Aku diam sejenak, menikmati kebahagiaan itu. Aku tak peduli lagi pada apa pun, yang penting aku selalu merasakan perasaan nikmat seperti ini.
Begitulah kegiatan sehari-hariku. Aku mulai sering mengunjungi dan bergabung dengan kelompok Larry. Aku mulai bergantung pada obat-obatan itu. Saat kami berkumpul, kelompok Larry akan memberiku kesempatan mencoba beberapa jenis obat baru. Yang paling sering adalah mengkonsumsi obat yang digunakan dengan alat suntik. Kami bergantian memakainya karena bisa menghemat uang dan sisa uang bisa digunakan untuk membeli minuman keras dan obat lagi.
Barang-barang di rumahku mulai berkurang. Aku tak punya pilihan lain selain menggadaikannya untuk membeli obat. Aku tak peduli, yang penting aku bisa merasakan perasaan melayang yang menyenangkan itu lagi.
Suatu hari, aku sedang ketagihan. Aku tak punya apa-apa lagi untuk dijual, bahkan surat-surat rumah kugadaikan. Aku menghentak-hentakkan kepalaku ke dinding, berusaha menghilangkan rasa sakit dan gatal yang menggila. Aku mengiris lenganku dan menyesap darahku sendiri. Sakit kepala itu mulai menghilang, kemudian aku terlelap. Begitulah. Seharian aku tertidur dan terbangun berulang kali. Setiap aku terbangun, aku akan mengiris lenganku dan menyesap darah yang mengalir keluar.
Suatu hari, ketika aku datang ke markas kelompok Larry, aku terkejut.
Tempat itu lengang dan tidak ada suara pukulan drum kosong atau obrolan atau apa pun yang menandakan bahwa tempat itu dihuni. Aku berjalan ke sekeliling. Ada bercak darah, jarum suntik yang hancur, dan drum-drum kosong terbalik. Aku tersentak kaget karena seseorang berdeham.
Cepat-cepat aku membalikkan tubuh. Seorang laki-laki berdiri di sana. Ia berkata, “Sedang apa kau di sini, Nak?”
“Ah,..a..aku hanya mencari teman-temanku. Kau tahu ke mana mereka?”
“Ah, tentu. Kemarin mereka digerebek polisi. Polisi berkata bahwa mereka diberitahu seseorang. Ramai sekali kemarin. Banyak suara teriakan, kelontangan dan tembakan polisi. Kurasa polisi hanya menembak untuk menakut-nakuti mereka,” tambahnya cepat ketika melihat wajahku memucat.
Aku tak membuang-buang waktu lagi, aku langsung lari menjauhi tempat itu. Laki-laki tadi kaget, dan berseru memanggilku, namun aku tak peduli. Larry ditangkap polisi! Aku harus segera menjauh dari sini atau aku bakal ditangkap.
Aku sedang berpikir tempat tujuan pelarianku ketika seseorang mencengkeram tanganku dan menarikku masuk ke lumbung lapuk. Aku baru akan menjerit ketika kurasakan benda tajam dingin di leherku. “Diam! Diam kataku, brengsek!” orang itu berkata sambil menekap mulutku erat dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya memegang pisau yang diletakkan di leherku.
Aku kaget karena suara itu suara Larry. Larry melanjutkan, “Kau pengkhianat! Kami telah berlaku baik padamu dan ini balasannya terhadap kami? Jean, Meg, dan Dean tertangkap. Sisanya kocar-kacir dan bersembunyi. Kau betul-betul brengsek! Mestinya aku tak pernah bertemu denganmu! Mestinya aku tak memberikanmu apa-apa saat kau sedang kesakitan!” ia mendekatkan pisaunya ke leherku dan aku bisa merasa pisau itu mengiris leherku.
“Apa katamu? Aku melaporkan kalian pada polisi? Jangan sembarang menuduh, Larry! Aku tak pernah bermimpi untuk melaporkanmu! Malah aku sangat berterimakasih padamu karena kau membuatku hidupku bahagia!” aku membantahnya. Aku kaget sekali karena Larry menuduhku melaporkannya.
“Oho, memang pencuri akan mengaku,hah? Kalau iya, penjara sudah penuh, tahu. Aku memang tidak pernah bersekolah, tapi aku tidak bodoh! Kini, kau harus mati agar kemarahanku dan kelompokku bisa mereda. Kau harus mati karena berkhianat!” tanpa ragu ia mengiris leherku. Untungnya, aku sudah mengambil ancang-ancang dan aku menyundul keras wajahnya di belakang kepalaku. Ia mengerang kesakitan dan pegangannya mengendur. Aku menendang pisau itu dan lari. Leherku masih berdenyut-denyut dan aku berlari menembus malam, tak memedulikan rasa sakit yang menusuk-nusuk.
Itulah terakhir kali aku bertemu Larry. Aku tak tahu bagaimana nasibnya dan apa yang terjadi padanya kemudian. Berbulan-bulan aku berjalan, berkelana dari satu kota ke kota lain, menghindari kejaran polisi, karena aku yakin Meg atau Jean atau Dean akan menyebut nama anggota kelompok mereka. Aku juga tidak tahan berada di suatu tempat terlalu lama. Berjalan bisa meringankan rasa sakit yang terus menggangguku. Adakalanya aku merasa lebih baik mati karena ketagihan. Tapi aku tak kuasa bunuh diri. Mengapa? Karena aku seorang pengecut.
Malam ini cerah dan berbintang. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyebabkan rumput menunduk, melambai-lambai. Aku berusaha menahan api lilin untuk tetap menyala dengan menangkupkan tangan di sekitar api. Aku menggigil dan menaikkan kerah bajuku yang selama 2 tahun ini senantiasa menghangatkan diriku. Kemeja ini kian tipis dan compang-camping. Aku tak bisa menggantinya dengan yang baru—aku tidak menemukannya di tempat sampah di mana pun.
Aku merogoh-rogoh saku jinsku. Ada setengah bagian roti yang telah berumur sekitar 2 hari, kulit pisang, dan sedikit kuah sarden di dasar kaleng sarden. Hanya inilah yang kutemukan setelah berjam-jam mengorek-ngorek tempat sampah di seluruh bagian kota. Aku meletakkan lilin di tanah. Tempat aku berlindung sekarang, di balik bekas gudang beras di pinggir kota yang kumuh, melindungiku dari terpaan angin yang makin dingin seiring berlalunya sore. Aku duduk meringkuk, berusaha menghangatkan diri. Tapi aku tak mampu merasa hangat. Tubuhku juga makin kaku dan sulit digerakkan. Aku memejamkan mata, berusaha melarika diri dari rasa dingin dan kaku yang tidak kunjung hilang.
Alih-alih kegelapan, aku malah merasa ada lorong dengan sinar di ujungnya, kemudian dengan entakan keras, aku melayang. Kukira aku mendapat CX lagi, tapi setelah dipikirkan lebih jauh, aku ‘kan tak punya uang untuk membelinya. Lagipula, entakan keras itu apa? Aku melihat diriku sendiri terbaring di tanah. Kulihat aku mencengkeram lilin yang kini telah padam. Aku mencoba menyentuh diriku sendiri, tapi aku tembus begitu saja. Aku sedang berdiri keheranan ketika sebuah suara mengagetkan aku. “Mari, Nak. Kau telah menghabiskan waktumu di sini, dan hasilnya tidak bagus. Kau harus ikut aku untuk mempelajari lagi semua kesalahanmu supaya kau tidak mengulanginya lagi. Kau keras kepala dan bodoh. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ayo,” suara itu berkata. Secara kasar, ia berwarna kebiruan dengan bentuk yang tidak jelas, tapi, jika kau mengamatinya dengan seksama, ia seperti laki-laki tua yang pernah menghadangku dulu. Aku sadar apa yang terjadi, dan tanpa banyak omong, aku menurutinya menyusuri lorong itu, meninggalkan tubuhku yang tergeletak di sana.
TAMAT
Vi, sedih y tokoh utamanya. ~.~
BalasHapusEndingnya agk t jg y..
Tp, cerpen bs gmbrn situasi tokoh utamany..
Bagus d.
Bner2 bagus! kren! Trutama endingny...
BalasHapus