Karya : M.Ichiko Abdussalam/X.2/29
Joni, adalah seorang pemuda yang berumur sekitar dua puluh tahun. Ia sekarang sedang melakukan suatu perjalanan panjang dengan tujuan untuk mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Itu disebabkan karena dirinya pada saat umurnya masih 10 tahun pernah mendapat suatu kecelakaan mobil yang juga telah menewaskan kedua orang tuanya dan juga seorang adiknya. Hanya Joni lah satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan maut itu. Akibat dari kecelakaan itu, ia pun kehilangan semua ingatannya sampai masa lalunya pun ia tidak dapat mengetahuinya. Satu-satunya hal yang dia ingat adalah pada saat ia membuka matanya sehabis pingsan dari kecelakaan itu di sebuah rumah sakit dan orang yang pertama kali ia lihat adalah sebuah pria tua yang berumur kira-kira tujuh puluh tahun yang juga merupakan orang pertama yang menemukan Joni dalam kecelakaan itu.
Saat sadar, Joni langsung berteriak menanyakan siapa dirinya, di mana ia, dan apa yang terjadi pada dirinya kepada orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang menemukannya pun bingung harus menjawab apa karena mereka juga sama sekali tidak tahu siapa anak kecil ini.
“Hei, siapa aku? Di mana aku? Siapa kalian? Apa yang telah terjadi padaku? Tolong, jawablah!” teriak Joni di rumah sakit itu.
“Maaf, Nak! Kami juga tidak tahu siapa kau. Kami hanya menemukan kau saat kecelakaan mobil itu terjadi,”jelas salah seorang masyarakat yang juga ikut menemukan Joni.
“Hah? Kecelakaan apa? Apakah kecelakaan itu yang membuatku begini?” tanya Joni.
Orang-orang semakin bingung dengan keadaan saat itu. Mereka bertanya-tanya apakah anak ini kehilangan semua ingatannya akibat kecelakaan itu. Dan sesaat, semua terdiam. Lalu, terdengarlah suara seorang kakek-kakek yang memecah keheningan tersebut. Itu tak lain dan tak bukan adalah suara pria tua yang menemukan Joni.
“Maaf ya nak, sebenarnya kamu itu adalah anak bapak. Nama kamu itu Joni,” kata si kakek.
Serentak semua orang terkejut atas pengakuan si kakek karena semua orang tahu bahwa si kakek sebenarnya tidak pernah mempunyai seorang anak. Akan tetapi, mereka semua tahu bahwa sebenarnya kakek itu sedang berbohong dengan tujuan untuk tidak membuat Joni sedih dan membiarkan si kakek meneruskan penjelasannya.
“Sebenarnya kamu itu sedang bermain di pinggir jalan dan saat kau sedang asyik bermain, tiba-tiba ada mobil yang melaju sangat kencang dan akan menabrakmu. Akan tetapi, mobil itu malah menabrak mobil lain dan kau pun terjatuh dan pingsan,” jelas si kakek walaupun sebenarnya itu semua hanya kebohongan si kakek belaka.
“Jadi, kau adalah ayahku? Dan aku adalah Joni?” tanya si Joni.
“Ya anakku, aku adalah ayahmu. Aku sangat sedih ketika mendengar kau terjatuh pingsan saat kecelakaan itu terjadi,” kata si kakek.
Joni pun langsung percaya dengan perkataan si kakek dan langsung segera memeluk ayahnya itu walaupun ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia bukanlah ayah kandungnya.
Lalu, semua orang pun keluar dari ruangan tersebut sambil bernapas lega. Si kakek pun juga ikut keluar untuk membiarkan si Joni untuk beristirahat. Kemudian, salah seorang penduduk yang ikut dalam pencarian bertanya pada si kakek.
“Kek, kenapa kau mengakui anak yang tidak kau kenal itu sebagai anakmu? Lagipula kakek kan tidak mempunyai banyak uang, lantas mengapa kakek mau menambah beban kakek dengan mengangkat anak tersebut sebagai anak kakek?” tanya orang itu.
“Tidak apa-apa, aku hanya kasihan pada anak itu. Orang tuanya sudah meninggal dan ia pun kehilangan ingatannya. Ia tidak akan mempunyai tujuan hidup jika aku tidak berpura-pura sebagai keluarganya.” Kata si kakek.
“Akan tetapi Kek, bagaimana bila ingatannya kembali di suatu saat nanti dan bila itu terjadi, kakek pasti akan dimarahinya karena tidak menceritakan yang sebenarnya,” kata orang itu.
“Ya sudahlah, kita jalani saja dulu apa yang sedang terjadi. Untuk urusan itu, kita bisa pikirkan nanti. Lagipula apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil terhadap aku yang sudah tua ini. Ha…ha…ha…,” kata si kakek sambil tertawa.
“Ha… ha… ha…,” tawa orang itu mengikuti si kakek.
Kakek di desa terkenal dengan kebaikannya dan juga sikapnya yang suka menolong orang tanpa pandang status, hubungan, derajat, dan lain-lain. Ia pun juga terkenal akan sikapnya yang ramah sehingga ia sering dijadikan sebagai panutan di desa. Kakek bekerja sebagai pengumpul kayu. Ia sering mengumpulkan kayu dari hutan untuk dijual besoknya di pasar. Itu semua dilakukannya untuk mendapat uang untuk menghidupi dirinya.
Lalu, tiba-tiba ia teringat dengan bagaimana ia bisa membayar uang rumah sakitnya Joni. Ia pun bingung darimana ia bisa mendapatkan uang untuk membayarnya. Ia pun segera meminjam uang kepada penduduk desanya. Dan alangkah beruntungnya si kakek karena ia selalu ramah kepada setiap penduduk, seluruh penduduk di desa mau membantu si kakek dengan Cuma-Cuma. Akhirnya, masalah keuangan pun dapat diselesaikan.
Beberapa bulan kemudian, Joni pun keluar dari rumah sakit. Ia segera pulang menuju rumahnya yang sebenarnya merupakan rumah si kakek yang sekarang menjadi ayah angkatnya. Saat ia tiba di rumah, tampaklah rumah itu dengan keadaan yang memprihatinkan karena si kakek hanya bekerja sebagai pengumpul kayu tapi rumah itu masih layak untuk ditinggali mereka berdua. Dan mereka berdua pun hidup bahagia di rumah itu.
Beberapa tahun kemudian, si kakek pun bertambah tua. Ia tidak sanggup lagi untuk melakukan pekerjaannya sebagai pengumpul kayu. Karena merasa kasihan melihat ayahnya terkulai lemas tak berdaya, akhirnya Joni pun menginginkan agar ia dapat menggantikan pekerjaan ayahnya sebagai pengumpul kayu. Awalnya, si kakek menolak tawaran si Joni karena ia menganggap Joni masih terlalu muda untuk melakukan pekerjaannya. Akan tetapi, karena Joni terus memaksa, akhirnya ia memperbolehkan Joni untuk menggantikan pekerjaannya. Dan mulailah keseharian Joni yang baru sebagai pengumpul kayu untuk menggantikan ayah angkatnya itu.
Tahun berganti tahun, si kakek pun mulai merasa bahwa badannya tidak mampu lagi bergerak seperti dulu dan ia juga merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Melihat ayahnya yang tidak berdaya itu, Joni merasa khawatir. Ia pun memanggil seluruh warga desa untuk berdoa bersama untuk kesembuhan si kakek. Dan beruntung sekali si Joni karena saat ia merasa tidak adalagi cara yang bisa ia lakukan untuk menyembuhkan kakeknya, ada seorang dokter yang secara sukarela mau membantu Joni dan ayahnya. Ia merasa sangat bersyukur atas itu dan berkat itu, kondisi ayahnya pun mulai membaik lagi.
Akan tetapi, apa yang perlu dikata, si kakek akhirnya tetap juga meninggal dunia pada saat umurnya tepat menginjak delapan puluh tahun. Joni yang pada saat itu tepat menginjak dua puluh tahun merasa sangat sedih atas kepergian ayah tercintanya dan satu hal lagi yang membuatnya sedih adalah kenyataan pahit yang diceritakan ayahnya sebelum meninggal. Ya, sebelum meninggal si kakek akhirnya menceritakan bahwa sebenarnya Joni bukanlah anak kandungnya.
“Joni, sebelum aku menemui ajalku, aku ingin menceritakan satu hal tentangmu,” kata si kakek dengan suara yang tertatih-tatih.
“Ayah jangan bicara begitu! Kita tidak tahu kapan ayah akan pergi, hanya Tuhan yang tahu. Ceritakanlah hal itu, jika itu bisa membuat hatimu lega, Ayah!” kata si Joni.
“Baiklah, Joni, sebenarnya kau itu bukanlah anak kandungku, aku berbohong padamu saat aku mengatakan bahwa aku ini adalah ayahmu waktu itu di rumah sakit,” kata si kakek.
“Apa? Ayah ini bicara apa? Apakah yang dimaksud ayah itu bahwa aku ini sebenarnya bukan anakmu?” tanya Joni.
“Ya, Joni, kau bukan anakku, waktu itu aku hanya menemukanmu saat kecelakaan itu terjadi dan karena aku kasihan padamu makanya aku mengangkatmu sebagai anakku. Akan tetapi, aku sangat menyayangimu Joni. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Aku menceritakan ini bukan bermaksud untuk membuatmu sedih tapi aku tidak mau kau hidup dengan tidak mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Berjanjilah bahwa kau akan mencari identitas dirimu nanti setelah aku mati,” jelas si kakek.
“Ayah, tetapi ke mana aku harus mencari identitasku?” tanya Joni.
“Kau akan menemukan jawabanmu sendiri,” kata si kakek. Dan seketika itu pula mata kakek pun menutup dan ia tidak bergerak lagi. Ya, si kakek telah meninggal dunia. Joni sangat sedih akan kepergian ayah angkatnya itu. Akan tetapi, ia segera menghapus air matanya dan segera bangkit untuk memenuhi janji ayahnya untuk mencari identitas dirinya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari desa dan pergi merantau.
Itulah sekiranya apa yang dikenang Joni dalam hatinya sekarang. Setiap malam ia selalu mengenang masa-masa indah dengan ayah angkatnya itu. Ia pun selalu teringat kata-kata ayahnya sebelum ia meninggal. Ya, saat ini Joni sedang dalam perjalanannya dan sedang berada di sebuah kota besar. Saat ini sedang malam hari dan Joni sedang mencari sebuah penginapan untuk ia bisa tidur malam ini. Akan tetapi, karena mahalnya biaya penginapan di kota itu, dan ia tidak mempunyai uang yang banyak, ia pun tidak dapat menginap di penginapan dan akhirnya ia pun hanya dapat tidur di kolong jembatan. Ia menyesal mengapa ia datang ke kota itu dan berencana untuk pergi dari kota itu keesokan harinya. Akan tetapi, Joni tidak tahu bahwa sesungguhnya takdirlah yang membawanya ke sini karena sebenarnya kota itu adalah kota kelahirannya Joni. Sayang, ia tidak mengetahui itu dikarenakan ingatannya yang hilang.
Keesokan harinya, Joni pun bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kota itu. Sebelum meninggalkan kota, Joni ingin sekali lagi berkeliling di kota itu sebelum meninggalkannya. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja Joni menabrak seorang wanita paruh baya. Wanita itu pun terjatuh. Joni pun dengan segera berusaha untuk menolong wanita yang terjatuh itu. Ketika Joni hendak mengatakan maaf karena telah menabraknya tadi, tiba-tiba saja wanita itu langsung berteriak histeris ketika melihat wajah Joni dan setelah itu wanita itu pergi. Joni heran dengan sikap wanita itu dan bertanya-tanya apa yang membuatnya demikian. Lalu, Joni akhirnya sadar bahwa wanita tadi telah meninggalkan tasnya yang terjatuh. Joni pun berniat untuk mengembalikan tas tersebut tetapi ia tidak tahu di mana rumah wanita itu. Akan tetapi, setelah Joni mengecek isi tas itu, di dalamnya terdapat sebuah kartu tanda pengenal wanita tadi. Akhirnya, Joni pun mendapatkan alamat wanita itu dari kartu tanda pengenalnya dan segera pergi untuk mengembalikan tas tersebut.
Beberapa saat kemudian, sampailah Joni di rumah wanita itu. Di sebelah rumah wanita itu ada sebuah rumah yang sangat besar yang sudah tidak terawat.lagi oleh pemiliknya. Ketika Joni melihat rumah besar tersebut, tiba-tiba kepala Joni terasa sangat sakit seakan ia ingat sesuatu tentang rumah itu. Akan tetapi, Joni tidak menghiraukan rasa sakit itu dan segera menuju pintu rumah wanita itu. Joni pun segera mengetuk pintu rumah itu dan memberi salam.
Tok…tok… tok…
“Halo, selamat siang! Adakah orang di dalam?” tanya Joni dari luar rumah.
“Ya, tunggu sebentar! Saya bukakan pintunya,” sambut suara yang datang dari dalam rumah.
Lalu, pintu rumah itu pun terbuka dan muncullah wanita paruh baya yang tadi. Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Joni, wanita itu langsung berteriak seperti melihat setan dan segera menyuruh Joni. Joni pun berusaha untuk menjelaskan bahwa sebenarnya kedatangannya ini tidak mempunyai maksud jahat tetapi untuk mengembalikan tas wanita itu.
“Bu, Maaf Bu, saya telah menakut-nakuti ibu, tapi saya tidak ada maksud jahat untuk datang ke sini, saya hanya ingin mengembalikan tas ibu yang terjatuh tadi,” teriak Joni dari luar.
Mendengar penjelasan Joni tadi, akhirnya wanita itu mau membukakan pintu untuk Joni dan mempersilahkannya masuk. Joni pun langsung menyerahkan tas tersebut kepada ibu tersebut dan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Ibu, mengapa ibu terlihat sangat takut saat melihat saya? Apakah ibu dulu pernah mengenal saya? Kalau memang ibu pernah mengenal saya, ceritakanlah sebenarnya siapa saya karena dulu saya pernah mengalami kecelakaan mobil yang membuat ingatan saya hilang, dan sekarang saya sedang melakukan perjalanan untuk mencari identitas saya itu,” kata Joni dengan penuh harap.
“Jadi kamu benar-benar mengalami kecelakaan itu?” tanya ibu itu dengan rasa takut.
“Ya, Bu,” jawab Joni.
“Dan mengapa kau tidak tewas dalam kecelakaan itu?” tanya ibu itu sekali lagi, kali ini rasa takutnya mulai sedkit menghilang.
“Ya, syukur waktu itu ada orang yang menyelamatkan saya saat kecelakaan itu terjadi sehingga saya masih tetap hidup sampai sekarang ini,” jawab Joni.
“Jadi kau adalah Vino?” tanya ibu itu lagi.
“Vino? Siapa Vino, Bu? Nama saya adalah Joni. Atau mungkinkah itu namaku dulu sebelum aku kehilangan ingatanku?” tanya Joni dengan penuh heran.
“Syukurlah kau masih hidup Vino, eh, maksud saya Joni,” kata ibu itu dengan perasaan lega.
“Jadi, ibu mengenali saya?” tanya Joni.
“Bukan hanya kenal, tapi saya juga sudah mengenalmu sejak kau baru lahir,” kata ibu itu.
“Sebenarnya apakah hubunganku dengan ibu ini?”tanya Joni dengan semakin heran.
“Saya adalah teman ibumu dan juga tetanggamu dulu. Nama saya adalah Salma. Saya dulu juga membantu ibumu saat melahirkanmu makanya saya sangat mengenalmu,” kata ibu Salma.
“Tetangga? Jadi, ibu Salma ini adalah tetangga saya dulu. Berarti rumah besar di sebelah rumah ibu ini adalah…,” dan Joni tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Ya, benar, itu adalah rumahmu. Kau itu dulunya adalah anak dari seorang saudagar kaya yang sangat baik hatinya. Dan 10 tahun yang lalu terdengar kabar bahwa kalian sekeluarga telah mengalami kecelakaan yang telah menewaskan kalian semua. Makanya itu, saya ketakutan ketika melihat kau masih hidup dan ternyata kau memang masih hidup,” kata Ibu Salma dengan takjub.
Raut di wajah Joni pun mulai berubah. Ia merasa sangat bahagia sekarang karena ia telah berhasil menemukan asal-usulnya. Ia pun sangat bersyukur karena ia singgah di kota itu. Setelah itu, ia pun meminta Ibu Salma untuk menceritakan lebih banyak tentang asal-usulnya dan akhirnya mereka pun berbincang-bincang untuk waktu yang cukup lama.
Karena terlalu asyik mengobrol tentang masa lalu Joni, mereka berdua pun tidak sadar bahwa hari telah malam. Ketika mereka ingin mengakhiri perbincangan mereka, datanglah seorang remaja putri yang sangat cantik ke rumah itu yang kira-kira juga seumuran dengan Joni/Vino. Ia pun segera masuk ke dalam rumah itu, ia sangat terkejut ketika melihat wajah Joni/ Vino di rumah tersebut dan bertanya kepada Ibu Salma yang ternyata adalah ibunya mengapa ada orang yang sangat mirip dengan Vino di rumahnya. Lalu, Ibu Salma pun menjelaskan semua hal yang terjadi kepada anaknya itu. Akan tetapi, ia masih tidak mempercayainya dan ia merasa sangat marah dan pergi masuk ke kamarnya. Joni pun bertanya kepada Ibu Salma siapa gerangan wanita itu tadi.
“Bu Salma, siapakah wanita itu tadi?” tanya Joni.
“Itu adalah anak ibu, namanya adalah Indah. Dia dulu adalah teman masa kecilmu. Dulu, kau selalu bermain-main dengannya di halaman rumah belakang dan karena saking dekatnya kalian, saya pun kepikiran untuk menjodohkan kalian berdua. Saya juga tahu bahwa sebenarnya kalian itu dulu sama-sama suka satu sama lain tapi karena kalian masih kecil, kalian tidak menyadari hal itu,” jawab Bu Salma dengan tertawa kecil.
“ Akan tetapi, Bu, mengapa ia sangat marah ketika ibu menceritakan yang sebenarnya?” tanya Joni.
“Semenjak ia mengetahui bahwa kamu meninggal dalam kecelakaan itu, ia merasa sangat sedih karena ia merasa kamulah orang yang paling dekat dengannya sampai-sampai ia tidak mau makan sampai beberapa hari karena terlalu sedih ditinggal olehmu. Saya juga sebenarnya kurang mengerti mengapa ia sangat marah ketika saya bilang kamu itu Vino. Lebih baik kamu tanyakan saja pada dia besok. Sekarang, sebaiknya kamu menginap saja di sini karena kamu pasti tidak mempunyai tempat tinggal dan jika kamu ingin menginap di rumahmu yang dulu, rumah itu sudah terlalu kotor untuk ditinggali,” kata Ibu Salma dengan bijak.
“Ya, baiklah, Bu, terima kasih atas kebaikan ibu ini. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa,” kata Joni/Vino.
“Ah, tidak usah kau pikirkan soal itu. Yang penting sekarang kau istirahat karena besok saya akan membawamu ke tempat-tempat yang biasa kau kunjungi agar kau dapat mengingat kembali masa-masa kecilmu dulu. Saya juga akan mengajak Indah besok,” kata Ibu Salma.
“Ya, terima kasih, Bu, selamat tidur!” kata Joni.
Malamnya, karena saking senangnya, Joni sampai tidak bisa tidur malam itu karena ia selalu memikirkan saat ia mengetahui asal-usulnya dan juga orang-orang yang mengenalnya dulu. Akhirnya, ia pun dapat memenuhi janji ayah angkatnya dulu untuk mencari identitas dirinya dan sebentar lagi itu akan terwujud dan besar kemungkinan bahwa ingatannya juga akan kembali karena setiap hari di kota itu, ia selalu mendapat gambaran ingatan akan masa lalunya. Sekarang hanya satu yang mengganggu pikirannya adalah soal mengapa Indah sangat marah ketika mengetahui dirinya masih hidup dan itulah yang akan ditanyakannya pada Indah besok.
Keesokan harinya, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memecah keheningan di oagi hari tersebut. Ya, itu adalah suara teriakan Indah yang sedang bertengkar dengan ibunya, Ibu Salma. Walaupun tidak jelas, Joni masih dapat mendengar isi dari pembicaraan mereka.
“Ibu, mengapa ibu biarkan laki-laki itu untuk menginap di sini? Kita kan tidak tahu dia itu orang itu jahat atau tidak,” pekik Indah kepada ibunya.
“Tapi dia itu Vino, Indah. Dia itu teman masa kecil kamu. Mana mungkin kamu bisa lupa dengannya, bukan?” jawab Bu Salma.
“Ya, mana mungkin aku melupakannya. Bahkan aku sangat menyayanginya. Akan tetapi, Vino itu sudah meninggal, Bu. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali,”kata Indah.
“Tapi, Nak. Ibu kan sudah menceritakan bahwa dia itu selamat dari kecelakaan itu,” kata Ibu Salma.
“Aku tetap belum bisa percaya kalau Vino itu masih hidup. Setidaknya dia harus bisa membuktikan bahwa dirinya itu adalah Vino,” kata Indah.
“Akan tetapi, Indah, dia itu kehilangan ingatan. Bagaimana bisa ia dapat membuktikan dirinya adalah Vino sedangkan dia saja tidak tahu siapa dirinya kecuali jika ingatannya telah kembali,” kata Ibu Salma.
“Itulah yang membuatku curiga. Bagaimana jika ia hanya orang asing yang mirip Vino dan berpura-pura kehilangan ingatan dan mempunyai tujuan untuk mencelakakan kita? Kalau itu sampai terjadi aku tidak akan memaafkan rang itu,” kata Indah.
Lalu, Joni yang mendengarkan pembicaraan itu segera keluar dari kamarnya dan berkata kepada Indah dan Ibu Salma.
“Tenang saja, Indah dan Ibu Salma. Aku tidak akan mencelakakan keluarga ini. Aku hanya ingin mencari identitasku. Itu saja,” kata Joni.
“Ah, sudah cukup kau membual. Sebaiknya kau segera pergi dari rumah kami. Dengan melihat wajahmu yang mirip Vino itu sudah sangat membuatku sangat kesal,” kata Indah.
“Hei, Indah. Jaga perkataanmu!” sahut Ibu Salma.
“Baiklah, beri aku waktu 1 minggu untuk tinggal di sini sekaligus untuk mengembalikan ingatan masa laluku. Aku berjanji selama itu aku tidak akan melukai keluargamu,” kata Joni.
“Apa kau benar-benar dapat menjaga janjimu?” tanya Indah.
“Ya, aku akan selalu menepati janjiku,” kata Joni.
Jawaban Joni tiba-tiba membuat Indah terdiam. Ia seakan-akan teringat akan masa lalunya dengan Vino dulu. Dalam ingatannya itu, Vino juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Joni sekarang tapi untuk janji yang berbeda. Janji itu adalah sebuah janji yang mereka buat dulu yang hanya mereka berdua saja yang tahu apa janji itu. Tiba-tiba saja Indah langsung mengeluarkan air mata karena teringat akan masa lalunya itu. Sekarang, mulailah timbul sedikit rasa percaya di hati Indah bahwa Joni itu adalah Vino walaupun Indah belum sepenuhnya percaya kepadanya.
“Baiklah, kalau melanggar janjimu, saat itu pula aku akan mengusirmu dari rumah ini. Sekarang bersiap-siaplah! Kita akan pergi jalan-jalan mengelilingi kota seperti janji ibuku kemarin yang mungkin dapat mengembalikan ingatanmu walaupun aku tidak yakin kau punya ingatannya atau tidak sebenarnya. Sekarang mandilah!” kata Indah.
“Baiklah, terima kasih banyak,”kata Joni dengan perasaan bahagia karena ia merasa Indah mulai bisa mempercayainya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun telah siap dan segera pergi meninggalkan rumah. Joni pun kemudian diajak ke berbagai tempat yang biasa ia kunjungi seperti warung makanan yang sering ia kunjungi, taman bermain yang sering ia datangi, bahkan tempat sekolahnya dulu. Akan tetapi, tidak ada gambaran ingatan apa-apa yang muncul di kepala Joni. Ia sama sekali tidak ingat dengan tempat-tempat itu. Joni pun mulai khawatir jika ia tidak bisa mengingatnya Indah akan semakin curiga dengannya. Akan tetapi, ia sangat yakin kalau kota itu adalah kota kelahirannya.
Saat dibawa ke rumahnya yang dulu pun, tidak ada lagi gambaran-gambaran ingatan masa lalunya yang muncul seperti saat pertama kali ia melihatnya. Joni mulai merasa ragu kalau mungkin kota itu bukanlah tempat asal-usulnya. Ia merasa sangat depresi dan stress, sampai-sampai ia tidak mau makan untuk beberapa hari dan hanya mengurung dri di kamar. Tiba-tiba saja Indah mulai merasa kasihan kepada Joni. Ia pun mengajak Joni berbicara dan membuang jauh-jauh rasa curiganya akan Joni.
“Joni, bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan ingatan masa lalumu?” tanya Indah kali ini ia tidak sesinis biasanya. Malah, kali ini ia bicara sangat lembut seakan-akan ingin membantu kesusahan Joni.
“Tidak ada, tidak sama sekali. Aku mulai ragu apakah aku ini benar-benar Vino yang dulu pernah tinggal di rumah ini. Ah, rasanya aku ingin menyerah saja. Aku sudah capai,” kata Joni dengan nada pasrah.
“Kau memang mirip dengan Vino, Joni. Vino itu orangnya memang mudah menyerah. Akan tetapi, Vino yang kukenal ketika ia sudah menyerah, ia tiba-tiba saja dapat berubah pikiran dan berusaha untuk bangkit kembali,” kata Indah dengan lembut.
Vino heran dengan perkataan Indah tersebut. Ia heran mengapa tiba-tiba saja Indah menjadi perhatian kepadanya. Tiba-tiba saja jantung Joni berdegup kencang untuk pertama kalinya ketika ia melihat Indah. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah aku telah jatuh cinta kepada Indah akibat kelembutannya ini.
“Andaikan kau mengingat tentang janji kita dulu waktu kita kecil,” kata Indah tiba-tiba bergumam.
“Hah? Janji apa?” tanya Joni dengan terkejut.
“Hah? Oh, tidak. Aku hanya bicara sendiri. Tidak usah kau pikirkan apa yang kukatakan,” kata Indah dengan gugup lalu segera meninggalkan kamar Joni.
Di luar kamar, Indah pun merasa heran dengan dirinya. Ia heran mengapa dirinya tadi dalam sasaat malah mengharapkan bahwa Joni itu adalah Vino yang masih hidup. Ia pun menjadi pusing karena memikirkan hal itu. Hal yang serupa pun terjadi kepada Joni. Ia pun juga menjadi pusing karena terlalu memikirkan hal tadi.
Akhirnya, tibalah hari terakhir Joni untuk tinggal di rumah itu karena hari itu sudah seminggu dari hari di mana Joni berjanji. Ia pun semakin frustasi karena ia belum menemukan apa-apa setelah seminggu tinggal di sana. Karena kasihan melihat Joni, Indah pun mengajak Joni jalan-jalan sekali lagi mengelilingi kota. Joni pun berharap dengan sangat agar kali ini ia dapat mengingat sesuatu tentang dirinya.
Kemudian, mereka pun berjalan tapi kali ini mereka tidak membawa Ibu Salma. Indah dan Joni pun berjalan-jalan mengitari kota tetapi Joni tetap tidak dapat mengingat apa-apa. Lalu, Indah pun mengajak Joni ke sebuah pabrik tua yang tidak dipakai lagi di kota itu yang belum pernah dikunjungi oleh Joni sebelumnya.
“Hei, Indah. Tempat apa ini?” tanya Joni kepada Indah.
“Ini adalah tempat favoritku bersama Vino dulu waktu masih kecil. Waktu kecil setiap pulang sekolah, kami selalu pergi ke sini dulu sebelum pulang ke rumah. Kami menganggap ini adalah rumah kedua kami. Bila kau benar-benar adalah Vino, kau pasti ingat sesuatu akan tempat ini karena hampir setiap hari kau berada di sini dulu,” kata Indah.
Lalu, Joni pun melihat ke sekeliling ruangan pabrik. Tiba-tiba saja kepala Joni terasa sangat sakit sampai-sampai ia pun terjatuh. Di dalam kepalanya, muncul berbagai gambaran-gambaran masa-masa kecilnya dulu bersama Indah. Lalu, gambaran-gambaran tadi diikuti pula dengan gambaran-gambaran baru yang datang dengan terus menerus dan membuat kepala Joni sakit. Ia pun mengerang kesakitan sambil berteriak keras.
“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………….! Tolong aku!” teriak Joni menahan kesakitannya.
“Hei, Joni, ada apa dengan kamu? Apa yang terjadi?” tanya Indah dengan panik dan segera mengambil telepon genggamnya untuk meminta bantuan.
“Ingatan-ingatan itu, mereka terus saja datang dan aku tidak bisa menahannya. Aaakh…!” teriak Joni.
Dan karena tidak sanggup menahan rasa sakit itu, akhirnya Joni pun kehilangan kesadarannya. Di tengah ketidaksadarannya tersebut ia melihat sebuah mimpi. Di dalam mimpi tersebut ada Indah dan dirinya sendiri dalam bentuk anak kecil. Mereka berdua sedang berada di pabrik tua tadi dan sedang mengobrol. Di tengah obrolannya terdengar…
“Eh, Vino. Bagaimana kalau kita membuat janji?”tanya Indah kepada Vino yang mukanya sangat mirip dengan Joni.
“Janji apa?” tanya Vino.
“Ya, janji bahwa kita akan selalu bersama-sama untuk selama-lamanya hingga kita tua nanti. Bagaimana?” tanya Indah.
“Boleh, aku setuju,” kata Vino.
“Apakah kau akan selalu menjaga janjimu itu?”tanya Indah.
“Ya, aku akan selalu menepati janjiku,” kata Vino.
Joni yang melihat kejadian itu akhirnya mengerti. Ia akhirnya tahu janji yang sering disebut-sebut oleh Indah. Tiba-tiba saja pandangan Joni menjadi gelap. Karena terkejut ia pun akhirnya bangun dari tidurnya. Saat ia bangun, ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Di sebelahnya ada Indah dan Ibu Salma. Mereka berdua terkejut melihat Joni yang tiba-tiba terbangun. Lalu, Joni bertanya apa yang terjadi padanya.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?”
“Kau terjatuh pingsan saat kita berada di pabrik itu. Setelah itu, aku hanya memanggil bantuan dan membawamu ke rumah sakit ini. Kau sudah hampir pingsan selama 2 hari,” kata Indah.
“Hah? 2 hari?” kata Joni dengan terkejut.
Dalam sejenak semua orang terdiam.
“Bu Salma, Indah, rasanya aku sudah bisa mengingat sedikit tentang masa laluku akibat dari kejadian ini,”kata Joni memecah keheningan.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Lebih baik kau jangan banyak bicara dulu sekarang dan beristirahatlah. Dokter juga mengatakan bila kondisimu memungkinkan bisa saja besok kau sudah pulang,”kata Bu Salma.
“Baiklah,” kata Joni.
Keesokan harinya, Joni pun keluar dari rumah sakit. Setelah sampai di rumah, Joni pun dengan segera mengajak Indah pergi menuju pabrik tua itu lagi. Indah merasa bingung kenapa Joni mengajaknya ke pabrik itu lagi. Lalu, ia pun bertanya kepada Joni.
“Hei, Joni, mengapa kau membawaku ke sini?” tanya Indah.
“Saat aku pingsan, aku bermimpi. Di dalam mimpiku itu ada kamu dan juga seseorang yang sangat mirip sekali denganku dan kau memanggilnya Vino,”kata Joni.
“Apa yang dilakukan olehku dengan Vino di dalam mimpimu?” tanya Indah.
“Kalian berdua membuat janji sehidup semati di pabrik ini. Aku pikir itulah janji yang sering kau sebut-sebut,”kata Joni.
Indah hanya terdiam mendengar cerita Joni tersebut.
“Akan tetapi, yang membuatku lebih heran adalah aku merasa bahwa anak kecil bernama Vino itu adalah diriku. Akulah yang membuat janji itu bersamamu. Dan sekarang aku merasa bahwa aku ingat pernah membuat janji itu,”kata Joni.
Indah pun menitikkan air mata. Ia sangat terkejut dan hampir tidak percaya kalau Joni dapat mengingat janji yang pernah dibuatnya dengan Vino yang ternyata adalah Joni. Ia pun sekarang percaya kalau Joni itu adalah Vino dan segera memeluknya dengan erat.
“Ya, kita pernah membuat janji itu tepat di pabrik tua ini 10 tahun lalu sebelum kamu mengalami kecelakaan itu. Ya, Joni, kau benar-benar adalah Vino,” kata Indah sambil menangis.
“Ya, Indah, dan sekarang aku pun sangat yakin kalau aku ini adalah Vino, teman masa kecilmu dulu dan akan menjadi pendamping hidupmu yang akan selalu bersamamu selama-lamanya sampai kita tua nanti,” kata Joni yang sekarang juga ikut menangis bahagia karena telah menemukan cinta pertamanya dulu walaupun cinta itu terbentuk ketika mereka masih kecil.
Akhirnya, Joni pun menemukan identitas dirinya yaitu sebagai Vino yang di saat bersamaan dia juga telah menemukan kembali cinta pertamanya dulu. Walaupun Joni telah memenuhi satu janji dengan ayah angkatnya dulu untuk menemukan jati dirinya yang sesungguhnya tapi kali ini dia harus memenuhi satu janji lagi yang dibuatnya dulu dengan Indah untuk hidup bersamanya selama-lamanya.
Selasa, 21 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar