Karya: Metta Monica (30)
Lindy dan Lindya adalah anak kembar yang memiliki ciri fisik yang sama. Rambut yang sama panjang, wajah cantik yang sangat mirip dan memiliki tinggi badan yang sama. Secara fisik tidak ada yang dapat membedakan mereka berdua termasuk cara berpakaiannya. Namun walaupun mereka kembar, diantara mereka tetap ada perbedaan sifat yang sangat besar.
Lindy adalah anak yang bertanggung jawab, pintar memainkan alat music seperti piano dan biola, dia juga pintar menjahit serta merajut. Lindy sangat dewasa dalam mengambil suatu keputusan serta pilihan. Dia adalah ketua OSIS yang baik dan ramah. Lindy juga sangat disukai oleh teman-temannya. Banyak yang menyukai sifat ramah Lindy.
Disamping itu, Lindya adalah anak yang susah diatur, angkuh, kekanak-kanakan, dan mau menang sendiri. Namun Lindya sangat populer di kalangan anak laki-laki karena sifatny yang sedikit tomboy dan juga ramah. Lindya memang anak yang sedikit tomboy, namun dia senang dengan warna-warna cerah dan pakaian yang feminim. Tapi sayangnya Lindya sangat tidak kerasan bila satu harian hanya tinggal di rumah. Setiap hari dia selalu pergi bersama teman-temannya setelah pulang sekolah.
Walaupun Lindy dan Lindya adalah 2 anak yang berbeda sifat, namun ibu mereka sangat menyayangi keduanya. Ibunya tidak pernah membanding-bandingkan antara Lindy dan Lindya. Ibunya sangat memperhatikan perkembangan kedua putrinya itu. Ayah Lindy dan Lindya pun demikian. Dilihat dari sisi manapun mereka adalah keluarga yang bahagia.
Lindy dan Lindya selalu pergi ke sekolah bersama-sama. Mereka bersekolah di sekolah yang sama tetapi berbeda kelas. Seluruh murid di sekolah mereka bahkan guru-guru di sana sangat mengenal mereka berdua. Lindy dan Lindya yang ramah itulah julukan untuk kedua anak perempuan ini. Mereka yang ramah memiliki banyak teman. Walupun begitu, teman-teman mereka terkadang salah memanggil nama mereka.
Setiap pagi Lindy selalu bangun pagi dan dia selalu membangunkan Lindya. Setelah membangunkan Lindya, Lindy dan Lindya mencuci muka lalu turun untuk sarapan. Biasanya sarapan telah tersedia ketika mereka turun untuk sarapan, tapi tidak hari ini. Ibu Lindy dan Lindya tidak menyiapkan sarapan seperti biasa.
“ Ma, mana sarapannya?” teriak Lindya.
“Ssst.. Jangan teriak-teriak.. Coba cari dulu di kamar.” Kata Lindy.
Mereka berdua pun menuju kamar kedua orang tuannya.
Tok… tok… tok… Pintu diketuk oleh Lindy.
“Pa, ma, kami boleh masuk?” tanya Lindy agak berteriak.
“Masuklah.” Jawab ayahnya.
Ketika Lindy dan Lindya masuk, ia melihat mamanya masih tertidur.
“Pa, kok mama masih tidur?” tanya Lindya.
“Semalam mama kalian bilang kalau dia tidak enak badan. Jadi kalian nanti sarapan di sekolah saja ya.” jawab ayahnya.
“Ooo, kalau begitu kami langsung siap-siap ya pa.” jawab Lindy.
Lindy dan Lindya pun keluar dari kamar kedua orangtuanya.
“Nanti di sekolah kita mau makan apa?” tanya Lindya.
“Lihat nanti dech..” kata Lindy.
“Ya udah, aku mau mandi dulu ya.” Kata Lindya
“Aku juga.” Kata Lindy.
15 menit kemudian.
“Lindya, Lindya” teriak Lindy di depan kamar Lindya.
“Sebentar!” jawab Lindya dari dalam kamar.
“Aku mau berangkat. Kamu bisa lebih cepat sedikit kan?” tanay Lindy.
“Aku sudah selesai kok.” Jawab Lindya sambil membuka pintu kamar.
“Ayo berangkat.” Kata Lindy kemudian.
Sewaktu mereka ingin meninggalkan rumah, Lindya melihat seorang anak laki-laki melewati rumahnya. Dia melihat seragam yang dipakai oleh laki-laki itu tidak asing baginya. Seragam sekolah yang dipakai laki-laki itu sama dengan yang dikenakan oleh Lindy dan Lindya. Lindya yang penasaran bertanya pada Lindy.
“Dy, kamu pernah lihat laki-laki itu? Sepertinya dia satu sekolah dengan kita.” Tanya Lindya sambil menunjuk laki-laki yang baru saja lewat di depan rumahnya.
“Aku tidak pernah liat.” Jawab Lindy singkat sambil mengunci pintu rumahnya.
“Ooo… Ya sudah kalau begitu.”
“Ayo kita jalan!” seru Lindy.
Jarak antara sekolah dan rumah mereka tidak jauh dan bila ditempuh dengan jalan kaki hanya memakan waktu 5 menit. Jadi, setiap hari mereka berdua pergi ke sekolah dengan berjalan kaki begitu juga ketika pulang sekolah. Ketika sampai di sekolah, seperti biasa mereka dengan ramah menyapa guru-guru serta teman yang mereka kenal. Lalu mereka masuk ke kelas mereka masing-masing. Dan tak lama kemudian bel sekolah tanda masuk pun berdering. Siswa- siswi yang masih berada di luar kelas pun masuk ke dalam kelas masing-masing.
<***>
Lindya mendengar kabar bahwa di kelasnya akan ada murid pindahan baru. Ternayta kabar itu benar. Ketika Bu Rahayu masuk ke kelas untuk mengajar, dia membawa orang lain bersama dia.
“Anak-anak.. Coba dengar. Di kelas ini aka nada murid baru pindahan dari Surabaya. Sebentar, ibu akan memanggil dia.” Kata Bu Rahayu di depan kelas.
“Ayo masuk!” seru Bu Rahayu ke luar kelas.
Dan seorang laki-laki berbadan tinggi, tampan, rambutnya yang pendek tertata rapid an memakai seragam masuk ke dalam kelas lalu berdiri di tengah kelas.
“Silahkan perkenalkan diri kamu.” Kata Bu Rahayu kepada anak laki-laki itu.
“Terima kasih.” Jawab anak laki-laki itu dengan sopan.
Lalu ia memulai perkenalan dirinya.
“Selamat pagi teman-teman. Nama saya Alfred Hira Jaya. Panggil saya Alfred. Saya pindah ke Jakarta karena saya ikut dengan kedua orangtua saya. Mohon bantuan dari teman-teman.” Alfred mengenalkan diri.
“Terima kasih Alfred. Dan sekarang ada yang mau bertanya?” tanya Bu Rahayu.
Tiba-tiba seseorang mengacungkan jarinya.
“Silahkan Calvin.” Kata Bu Rahayu sambil menunjuk Calvin.
“Fred, kamu bisa main basket?” tanya Calvin.
“Huuuuuuuuu!!” seru muris-murid lain.
Maklum, Calvin adalah kapten basket sekolah dan sekarang sekolah sedang mencari anggota basket baru.
“Lumayan. Di sekolahku di Surabaya, aku ikut tim basket.” Jawab Alfred.
“Wah.. Kalau begitu kamu daftar ya di tim basket sekolah. Yah, siapa tau kamu bisa masuk ke tim inti. Aku tunggu ya.” jawab Calvin riang.
“Baiklah.” Balas Alferd singkat.
“Nah anak-anak.. Cukup kenalannya, nanti kalian lanjutkan sendiri ya. Alfred kamu duduk di belakang ya.” Kata Bu Rahayu.
“Iya bu. Terima kasih.” Seru Alfred sambil tersenyum.
Alfred duduk persis di belakang Lindya. Ketika Alfred duduk, Lindya dengan ramah menyapa Alfred.
“Hi Alfred. Nama aku Lindya. Senang berkenalan denganmu.” Kata Lindya.
“Sama-sama.” Jawab Alfred sambil menyunggingkan senyumnya.
Setelah itu Lindya langsung kembali melihat ke arah Bu Rahayu dan mulai memperhatikan pelajaran.
“Lindya.” Bisik suara dari belakang.
“Ya?” jawab Lindya dengan berbisik sambil menoleh ke belakang.
“Aku boleh pinjam buku catatan kamu? Sebentar aja.” Pinta Alfred.
“Hmm.. Boleh kok. Nih.” Seru L:indya sambil memberikan buku catatannya kepada Alfred.
“Makasih ya.” Ucap Alfred.
“Iya.” Jawab Lindya.
Setelah pelajaran Bu Rahayu usai Alfred mengembalikan buku catatan Lindya.
“Lindya, makasih ya udah mau meminjami aku buku catatan.” Kata Alfred.
“Sama-sama.” Jawab Lindya.
“Lindya, kamu mau menemani aku menunjukkan tempat-tempat di sekolah ini. Seperti kantin, lapangan olahraga, dan lain-lain. Apa kamu mau menemaniku?” tanya Alfred.
“Boleh juga. Tapi istirahat pertama nanti aku mau makan dulu. Bagaimana kalu istirahat kedua saja? Tidak apa-apa kan?” tanya Lindya lagi.
“Tak apa-apa kok.” Jawab Alfred sambil tersenyum.
Pak Nyoman guru bahasa Indonesia mereka pun masuk ke kelas. Teman-teman sekelas Lindya sangat menyukai pelajaran ini. Mereka memperhatikan dengan baik.
<***>
Tik.. . Tik… Tik… Sura detik jam di kelas Lindya terdengar jelas sekali. Dan detik-detik seperti ini yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh murid di sekolah itu. Kring… Kring… Kring… Bel istirahat pun berbunyi. Siswa- siswi langsung bersiap-siap untuk keluar kelas setelah guru keluar. Guru yang mengajar mereka pun keluar kelas dan mereka semua langsung berhamburan keluar.
Lindya langsung cepat-cepat menuju kantin. Setelah memesan bakso dan es teh manis. Lindya lansung duduk di salah satu meja di kantin. Tak lama kemudian Lindy datang dengan membawa makanan dan minuman yang sama dengan Lindya.
“Hai Dya..” sapa Lindy sambil menaruh makanan dan minumannya di atas meja lalu duduk.
“Hai juga..” jawab Lindya.
“Ayo makan.” Kata Lindy.
Mereka berdua pun makan dengan lahap.
Setelah mereka menhabiskan makanannya, mereka berdua langsung menuju ruang kelas masing-masing karena waktu istirahat hampir habis. Dan sewaktu mereka berjalan di koridor sekolah Lindya melihat Alfred sedang membaca pengumuman sekolah. Lindya langsung menyapa Alfred.
“Hai fred…” sapa Lindya.
Alfred yang sedang membaca pengumuman langsung menoleh dan menjawab.
“Hai juga.” Jawab Alfred.
“Lho.. Lindya kamu kok ada 2?” tanya Alfred bingung melihat Lindy dan Lindya.
“Hahahaha…” tawa Lindy dan Lindya meledak.
“Kamu belum tahu ya kalau aku punya saudara kembar?” tanya Lindya sambil tersenyum menahan tawa.
“Belum…” jawab Alfred sedikit bingung.
“Kenalin aku Lindy. Aku kembaran Lindya.” Kata Lindy sambil menyodorkan tangannya.
“Oo.. Aku Alfred. Senang berkenalan denganmu.” Jawab Alfred.
“Aku tidak tahu kalau kalian kembar. Kalian benar-benar mirip. Haha..” lanjut Alfred dengan tawa.
“Tidak apa-apa kok.” Jawab Lindy dan Lindya bersamaan.
Kring… Kring… Kring… Bel tanda usainya istirahat sudah berbunyi dan murid-murid langsung cepat-cepat masuk ke dalam kelas.
“Eh,aku duluan ya.” kata Lindy sambil meninggalkan Lindya dan Alfred.
“Iya… Sampai ketemu nanti ya, Dy!” seru Lindya.
“Ayo kita juga masuk kelas.” Ajak Lindya kepada Alfred.
“Ayo!” jawab Alfred.
Mereka berdua pun cepat-cepat menuju runag kelas.
Pelajaran selanjutnya pun dimulai, murid-murid terlihat tenang mengikuti pelajaran. Tapi Lindy terlihat sedikit melamun. Lindy sedang memikirkan sesuatu.
“Alfred lumayan juga ya…Humoris, mukanya juga lumayan… Coba aku yang sekelas sama dia ya…” kata Lindy dlam hati sambil sedikit tersenyum.
“Dy… Dy…” bisik Ville teman sebangkunya.
“Hah?” jawab Lindy terkejut.
“Kamu mikirin apa?” tanya Ville.
“Aku?”
“Iya... Dari tadi aku liat kamu melamun terus. Aku kira kamu ada masalah.”
“Aku tidak ada masalah kok.”
“Ooo… Ya sudah.” Balas Ville sambil tersenyum.
Lindy yang masih terkejut tidak melanjutkan lamunannya lagi, dan ia langsung memperhatikan pelajaran dengan serius.
<***>
Tak terasa bel istirahat kembali berbunyi. Murid-murid terlihat senang sekali. Lindya yang telah berjanji untuk menunjukkan Alfred tempat-tempat di sekolah langsung beranjak dari kursinya.
“Fred, ayo!!” seru Lindya.
“Iya iya…” jawab Alfred sambil tersenyum.
“Fred, boleh aku ajak Lindy?” tanya Lindya.
“Boleh!” jawab Alred cepat sambil tersenyum girang.
“Wah wah… Semangat sekali kamu…” kata Lindya sambil tersenyum.
“Kita jemput Lindy di kelasnya dulu ya.” lanjut Lindya.
Mereka pun berjalan menuju kelas Lindy yang hanya berbeda 2 kelas dari kelas mereka. Sesampainya di depan kelas Lindy.
“Lindy!!!” teriak Lindya sambil berjalan masuk ke kelas.
“Ya? Kenapa?” jawab Lindy sambil menoleh ke arah Lindya yang sedang berjalan ke arahnya.
“Ikut aku yuk!” ajak Lindya.
“Ke mana?” tanya Lindy bingung.
“Alfred mau ditemenin keliling sekolah. Ikut ya…” bujuk Lindya.
“Hmmm…” Lindy berpikir.
“Ayo dong!” bujuk Lindya lagi.
“Boleh deh.” Jawab Lindy.
“Asik!” seru Lindya sambil menark tangan Lindy.
Alfred yang menunggu di luar kelas Lindy tersenyum lebar. Dia sangat senang sewaktu Lindy mau ikut bersamanya.
“Ayo kita mulai!” seru Lindya senang.
Mereka pun berjalan keliling sekolah. Lindy dan Lindya menunjukkan ruangan-ruangan di sekolah mereka termasuk lapangan untuk olahraga. Tak terasa 20 menit terasa begitu cepat. Bel selesainya istirahat pun berbunyi.
“Aduh… Istirahatnya sudah habis.” keluh Lindya.
“Tidak apa-apa kok. Aku bisa lanjutin sendiri nanti.” kata Alfred.
“Oh iya. Terima kasih ya kalian sudah mau menemaniku keliling sekolah.” kata Alfred sambil terseyum.
“Sama-sama.” seru Lindy dan Lindya bersamaan sambil tersenyum.
“Ayo sekarang kita ke kelas.” Ajak Alfred.
“Iya. Ayo!” kata Lindy.
Mereka bertiga pun masuk ke kelas masing-masing. Pelajaran pun mereka ikuti seperti biasa. Walaupun terkadang ada pelajaran yang membosankan namun mereka tetap mengikutinya dengan baik.
<***>
Hari ini berjalan sangat cepat. Bel tanda berakhirnya pelajaran siang itu pun berbunyi. Siswa-siswi langsung membereskan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas dan bersiap-siap untuk pulang. Lalu mereka berdoa bersama untuk keselamatan di jalan pulang dan setelah itu mereka keluar dari kelas dengan wajah yang berseri-seri.
“Fred mau pulang bareng?” tanya Lindya.
“Memangnya rumah kita sejalan?” tanya Alfred bingung.
“Kamu tinggal di komplek Damai Sejahtera kan?” tanya Lindya.
“Iya… Kok kamu bisa tahu?” tanya Alfred lagi.
“Tadi pagi aku sama Lindy melihat kamu jalan di depan rumah kami.”jawab Lindya tersenyum.
“Ooo… Aku kira kamu peramal bisa tahu rumahku di mana. Haha…” canda Alfred.
“Peramal? Boleh juga tuh… Haha…”
“Ayo pulang.” ajak Lindya langsung.
“Ayo!” seru Alfred.
“Tapi kita jemput Lindy di kelasnya dulu ya…” kata Lindya sambil berjalan keluar kelas diikuti dengan Alfred.
Baru saja Lindya dan Alfred berjalan beberapa langkah, Lindy sudah muncul di depan mereka.
“Hai…” sapa Lindy.
“Wah wah… Baru saja aku mau menjemput kamu.” kata Lindya.
“Haha… Langsung pulang aja yuk. Aku capek banget soalnya.” ajak Lindy.
“Alfred ikut kita pulang juga. Tidak apa-apa kan?” tanya Lindya.
“Tidak apa-apa. Kita kan satu komplek. Haha…” jawab Lindy dan melihat kea rah Alfred yang sedang terseyum.
“Ayo.” kata Lindya kemudian.
Mereka bertiga pun berjalan kaki pulang ke rumah. Tapi ditengah jalan pulang Lindya melupakan sesuatu yang penting.
“Ya ampun!” seru Lindya.
“Kenapa?” tanya Lindy dan Alfred bersamaan.
“Aku kan ada janji sama Jesslyn!” seru Lindya.
“Jadi kamu tidak pulang ke rumah dulu?” tanya Lindy.
“Tidak. Tolong sampaikan sama mama ya, Dy.” pinta Lindya.
“Iya deh.” kata Lindy.
“Bye!” seru Lindya melambaikan tangan dan pergi.
Setelah Lindya hilang dari pandangan Lindy dan Alfred, mereka langsung melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan mereka terlihat tidak berbicara. Keduanya malu untuk memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Lindy memberanikan diri.
“Fred?” tanya Lindy.
“Kenapa?” tanya Alfred.
“Kenapa kamu pindah ke sini?”
“Orang tuaku pindah tugas ke sini. Dan di Surabaya aku tidak punya keluarga. Dan kedua orang tuaku bilang, mungkin mereka tidak akan pulang ke Surabaya lagi.” Cerita Alfred.
“Ooo… Kamu punya saudara?” tanya Lindy lagi.
“Aku punya saudara perempuan tapi dia sudah menikah dan sekarang tinggal di Kalimantan bersama suaminya.” jelas Alfred.
“Aku mau bertanya boleh?” tanya Alfred.
“Boleh. Silahkan.” jawab Lindy tersenyum.
“Selama ini kamu pernah bertengkar sama Lindya?” tanya Alfred.
“Pernah. Saudara yang berbeda umur saja masih bertengkar apalagi kami yang sama umurnya. Keegoisan yang sama, terkadang satu sama lain mau menang sendiri. Tapi walaupun begitu kami bisa menyelesaikannya sendiri.” jawab Lindy lalu tersenyum.
“Enak ya punya sudara yang seumur.” kata Alfred.
“Sekarang aku seperti anak tunggal. Terkadang aku merasa kesepian.Kedua orang tuaku bekerja dan pulang malam.” keluh Alfred.
“Kamu yang sabar ya.” hibur Lindy.
“Tidak apa-apa kok. Aku kan laki-laki. Dan sebagai laki-laki aku harus mandiri.” tegas Alfred.
“Ya betul! Hahaha…” tawa Lindy.
Obrolan mereka harus terhenti karena Lindy sudah sampai di depan rumahnya.
“Wah… Sudah sampai.” kata Lindy.
“Oh… Ini rumah kamu sam Lindya ya.” kata Alfred.
“Iya…” jawab Lindy.
“Berarti setiap pagi aku melewati rumah kalian terus dong.” kata Alfred.
“He-eh.” angguk Lindy.
“Kalau begitu mulai besok pagi kita bertiga berangkat bareng aja. Ya?” ajak Alfred.
“Hmm… Boleh deh.” Jawab Lindy girang.
“Aku jemput kalian ya besok pagi. Bye!” kata Alfred lalu berlalu pergi.
“Sampai ketemu besok!” seru Lindy.
Lindy sangat senag sekali, terlihat di mukanya betapa gembiranya ia. Ia langsung cepat-cepat masuk rumah, dan masuk ke kamar. Dia tidak sabar menunggu besok hari.
<***>
Keesokan paginya.
Lindy sangat bersemangat. Dia bangun pagi dan membangunkan Lindya. Lindya bingung akan tingkah laku Lindy tapi dia tidak bertanya sama sekali. Setelah sarapan dan mandi, mereka langsung bersiap-siap pergi sekolah. Saat mereka sedang memakai sepatu seseorang memanggil.
“Lindy! Lindya!” teriak orang itu.
Lindy langsung cepat-cepat memakai sepatu dan membuka pintu rumah.
“Tunggu sebentar ya Fred!” seru Lindy dari pintu rumah.
“Fred?” kata Lindya bingung.
“Aku lupa bilang sama kamu ya… Kemarin Alfred janji mau menjemput kita setiap pagi untuk pergi ke sekolah sama-sama.” kata Lindy girang.
“Ooo… Begitu ya.” jawab Lindya.
Setelah Lindya selesai memakai sepatu, Lindy langsung berlari menuju pagar rumahnya dan membuka pagar itu. Lindya menyusul Lindy ke depan pagar rumah.
“Halo, Fred!” sapa Lindy dan Lindya bersamaan.
“Hai juga!” jawab Alfred.
“Ayo kita berangkat sekarang.” ajak Lindya.
“Ayo.” jawab Lindy dan Alfred berbarengan.
Sejak hari itu, mereka bertiga selalu pulang dan pergi sekolah bersama-sama. Mereka pun menjadi sangat akrab dan tak terpisahkan.
<***>
2 bulan sudah Alfred pindah ke sekolah itu. Banyak hal yang menyenangkan yang dilakukannya bersama Lindy dan Lindya. Namu di lubuk hatinya yang paling dalam ada sesuatu yang terus mengganjal. Setiap kali melihat Lindy ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Jadi dia memutuskan untuk memastikan perasaannya itu. Dia meminta bantuan Lindya.
“Dya, kamu mau bantuin aku?” tanya Alfred ragu.
“Bantuin apa? Aku siap membantu.” jawab Lindya bersemangat.
“Kayaknya…” kata Alfred ragu.
“Kayaknya?” tanya Lindya penasaran.
“Hmm… Sini deh aku bisikin.” kata Alfred.
“Iya deh.” jawab Lindya.
Alfred pun membisikkan sesuatu kepada Lindya. Setelah mendengar bisikin Alfred, Lindya langsung tersenyum lebar.
“Wah wah wah… Jadi gitu ya? Hahaha…” tawa Lindya.
“Sssstt… Jangan keras-keras.” kata Alfred setengah berbisik.
“Iya iya.” jawab Lindya.
“Jadi gimana?” tanya Alfred kemudian.
“Aku bantu deh.” kata Lindya senang.
<***>
Tanpa sepengetahuan Lindy mereka membuat sebuah rencana. Mereka berdua pun sering berpergian berdua saja. Melihat itu Lindy agak kesal. Sekarang setiap pulang sekolah mereka tidak pernah pulang bertiga lagi. Pergi sekolah pun tidak pernah bertiga lagi, terkadang Lindy pun sendirian pergi ke sekolah. Dan hampir setiap sore Lindy melihat Lindya dan Alfred pulang berdua. Ada perasaan cemburu di hati Lindy. Walaupun begitu dia tidak dapat membohongi perasaannya bahwa dia menyukai Alfred.
1 minggu sudah Lindy sendirian pulang ke rumah. Dia sudah tak tahan lagi akan kelakuan Lindya dan Alfred yang selalu tidak mau menerima tawarannya untuk pulang bersama-sama. Dia sangat marah kepada Lindya dan Alfred.
Dan tepat sudah 1 minggu mereka tidak bersama-sama, Lindy sudah sangat tidak tahan akan kelakuan mereka berdua. Dia tidak berbicara apa-apa pada Lindya maupun Alfred. Lindy juga membuang mukanya ketika Lindya atau Alfred lewat di depannya. Lindya pun sedih melihat Lindy seperti itu.
“Fred, sekarang kita harus gimana? Lindy kayaknya tidak senang dengan kita akhir-akhir ini.” kata Lindya cemas.
“Jangan-jangan dia cemburu melihat kita akhir-akhir ini selalu pulang berdua.” tebak Alfred.
“Mungkin.” jawab Lindya singkat.
“Kita langsung jalanin rencana kita aja gimana?’ tanya Alfred.
“Tapi aku takut Lindy tidak mau mendengarkan aku.” kata Lindya cemas.
“Kita coba dulu saja. Ya?” bujuk Alfred.
“Iya deh.” jawab Lindya ragu.
Mereka berdua pun setuju menjalankan rencana mereka. Lindya dan Alfred mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Dan hari itu lagi-lagi Lindy harus pulang sendiri. Kesal, bingung dan cemburu bercampur menjadi satu. Lindy tidak tahu apa yang seharusnya dia perbuat.
<***>
Dan pada malam harinya. Lindya mengetok kamar Lindy untuk mengajak Lindy pergi ke taman dekat rumah.
Tok… Tok… Tok… Suara pintu diketok.
“Siapa?” tanya Lindy dari dalam.
“Ini Lindya. Boleh aku masuk?” tanya Lindya.
“Ngapain kamu? Bukannya harusnya kamu pergi sama Alfred?” tanya Lindy dengan sinis.
“Aku cuma mau ngajak kamu jalan-jalan. Itu saja kok.” kata Lindya.
“Ajak Alfred aja!” teriak Lindy.
“Dy, aku tau aku salah. Beberapa hari ini aku pulang berdua sama Alfred aja. Tapi aku dan Alfred tidak ada hubungan apa-apa.” kata Lindya dari luar.
“Terserah kamu mau ada hubungan apa tidak!” kata Lindy marah.
“Dy, please. Dengerin dulu penjelasan aku.” kata Lindya memohon.
“Memangnya apa lagi yang kamu mau jelasin?” tanya Lindy.
“Izinin aku masuk ya Dy.” kata Lindya memohon.
“Ya sudah kamu masuk aja. Pintunya tidak aku kunci.” kata Lindy dengan nada ketus.
“Makasih Dy.” kata Lindya sambil membuka pintu kamar Lindy.
Kedua orang tua mereka yang mendengar teriakan Lindy yang cukup keras itu bertanya-tanya ada apa diantara kedua anak mereka.
“Ma, coba liat ada apa di atas.” kata ayahnya khawatir.
“Iya.” kata ibunya sambil berjalan ke atas.
Ibu Lindy dan Lindya pun menuju ke kamar Lindy dan langsung masuk ke dalam.
“Ada apa ini?” tanya ibunya.
“”Tidak ada apa-apa ma.” kata Lindy cepat.
“Jangan mencoba bohong kepada mama. Mama tahu kalian ada masalah. Kalian sudah dewasa dan kalian juga saudara kembar seharusnya kalian tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik, bukan dengan cara bertengkar.” kata ibunya.
“Iya ma kami mengerti.” jawab Lindy dan Lindya berbarengan.
“Selesaikan dengan baik.” Kata ibunya sambil tersenyum lalu meninggalkan kamr Lindy.
Selama beberapa menit mereka diam sejenak. Mereka merasa bersalah satu sama lain.
“Sori ya.” kata Lindy dan Lindya berbarengan.
“Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf.” sambut Lindy langsung.
“Aku juga salah sudah membiarkan kamu pulang sendiri belakangan ini. Sekali lagi maaf ya.” kata Lindya.
“Iya tidak apa-apa.” kata Lindy sambil tersenyum lalu mendekati Lindya dan memeluknya.
“Oh iya. Kita ke taman yuk.” ajak Lindya.
“Malam-malam begini?” tanya Lindy.
“Iya. Ada yang ingin bertemu.” kata Lindya.
“Siapa?”
“Makanya kita ke taman.” ajak Lindya.
“Iya deh.” kata Lindy sambil mengangguk.
Mereka berdua pun berjalan ke taman dekat rumah mereka.
<***>
Sesampainya di taman.
“Dy, aku tinggal kamu di sini ya.” kata Lindya.
“Lho? Kamu mau kemana?” tanya Lindy.
“Sudah kamu di sini saja.” kata Lindya sambil berjalan pergi.
“Lho? Dia yang ngajak kok malah pergi.” kata Lindy.
Belum selesai Lindy berbicara Alfred dating menyapanya.
“Hai Dy.” sapa Alfred.
“Alfred?” tanya Lindy bingung.
“Iya. Aku yang minta Lindya bawa kamu ke sini.” kata Alfred.
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau memberi kamu sesuatu.” kata Alfres agak malu.
“Sesuatu?”
“Iya.”
“Apa?” kata Lindy sambil tersenyum.
“Kamu tutup mata dulu ya.” kata Alferd.
“Iya deh.” kata Lindy.
Ketika Lindy menutup mata, Alfred dan Lindya membereskan sesuatu yang telah mereka siapkan untuk Lindy.
“Sekarang buka mata kamu.” pinta Alfred.
Ketika Lindy membuka matanya dia melihat lampu-lampu yang ditata sangat rapi. Di bangku taman, ayunan bahkan di pohon. Lindy sangat senang melihat itu.
“Dy.” kata Alfred sambil meraih tangan Lindy.
“Ya?” kata Lindy malu.
“Ini ada gelang sebagai tanda kalau aku suka sama kamu.” kata Alfred sambil memakaikan gelang di tangan kanan Lindy. Di gelang itu terdapat nama Alfred dan Lindy. Lindy yang melihat itu pun sangat terkejut dan bahagia sekali.
“Fred kamu?” tanya Lindy girang.
“Iya.” Angguk Alfred yang mengerti maksud Lindy.
“Jadi?” sambung Lindya yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Lindya?” tanya Lindy kaget.
“Iya. Ini alasan aku sama Alfred sering pulang sore dan cuma berdua. Alfred meminta bantuanku untuk menyiapkan ini untuk kamu.” kata Lindya.
“Jadi jawabannya?” tanya Alfred kemudian.
“Iya.” jawab Lindy malu.
“Wah wah… Akhirnya perjuanganku selama ini tidak sia-sia.” kata Lindya.
“Eh, tapi kalian jangan lupa sama aku ya. Terus kalau misalnya jalan-jalan aku diajak ya.” lanjut Lindya.
“Iya iya.” jawab Alfred dan Lindy berbarengan.
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Dengan kejadian ini mereka satu sama lain makin akrab. Dan Alfred serta Lindy tidak pernah melupakan Lindya ke mana pun mereka pergi. Pertemanan mereka hangat sekali walaupun ada hubungan khusus antara Alfed dan Lindy. Masalah yang dihadapi oleh mereka selalu mereka hadapi bersama. Mereka bertiga berteman tapi mereka juga menganggap diri mereka bersaudara.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar