Karya : Dian Indah S. Rini
Aku terus memikirkannya. Aku terus memimpikan dirinya. Aku melihat dirinya dalam setiap perempuan yang aku jumpai. Aku tak dapat melupakan kulitnya yang putih, matanya yang cekung kecoklatan, dan rambutnya yang lurus ke bawah. Kemiripan dengannya sekecil apapun mampu membuat perutku kram. Amarahku muncul ketika ingat pada dirinya.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari berlalu. Aku tak bisa melepaskan diri dari bayangan perempuan yang telah merebut tunanganku, Jack, dan kemudian mengajaknya ke Jakarta untuk mencari pekerjaan bersama. Rasa benci, bersalah, dan marah sungguh menguras tenagaku, dan aku menjalani sisa hidupku tanpa gairah. Aku berusaha dengan segala macam cara agar terbebas dari bayangan perempuan itu dan semua kenanganku bersama Jack. Aku mengikuti konseling. Aku menghadiri kelas-kelas untuk memberikan pertolongan terhadap diri sendiri dan mendaftarkan diri dalam seminar serta lokakarya. Aku membaca banyak buku dan berbicara dengan semua orang yang mempunyai waktu dan mau mendengarkanku. Betapa tidak enak sakit hati ini. Baru kali ini kurasakan perasaan seperti ini.
Aku berlari setiap pagi. Aku melemparkan bola basketku sekencang mungkin. Aku memukul bola tenisku dengan kuat. Aku mengemudikan mobilku berkilo-kilometer jauhnya tanpa tujuan. Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang setiap malam. Aku menenggelamkan wajahku di bantal. Aku berdoa. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku melakukan apa saja, kecuali menyerah. Aku membuat diriku seolah-olah sibuk setiap hari. Seperti orang bodoh.
Sebelum perempuan itu muncul dalam kehidupanku, hari-hariku terasa indah, dapat terprediksi, dan terasa begitu mudah. Hal-hal yang didambakan setiap perempuan: tunangan yang mapan, selalu diberikan hal-hal romantis, tak lupa kecupan malam di dahi, berolahraga bersama orang yang disayangi, pergi ke gereja bersama orang yang dicintai. Kurang apalagi?
Kini tiba-tiba segalanya berubah. Kehidupanku takkan pernah sama seperti dulu lagi. Aku membenci pria yang telah kucintai selama 6 tahun, tunanganku. Aku membenci perempuan itu. Aku membenci pasangan-pasangan yang lewat di depan mataku. Semakin lama, aku mulai membenci diriku sendiri. Aku berpikir, mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa aku membiarkan semua ini terjadi pada kehidupanku yang sempurna? Apa yang kurang dari diriku sampai ia pergi meninggalkan aku? Apakah aku begitu buruk sampai ia pergi meninggalkan aku? Aku tak mengerti semua ini.
Aku tak dapat mendapatkan jawabannya seketika.
*****
Suatu ketika, seorang sahabatku, Aline, mengajakku pergi ke suatu seminar.
“Brenda, sabtu ini akan ada seminar tentang kuasa pemulihan dalam pengampunan di gereja kita. Aku rasa akan ada banyak hal menarik disana. Aku ingin mengikutinya, apa kau mau menemaniku?” tanya Aline dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
“Aku rasa tidak. Aku ingin bermain tenis sabtu ini. Aku ingin melampiaskan kekesalanku yang masih ada di hatiku,” jawabku dengan yakin.
“Ayolah, Brenda. Aku tak punya teman yang dapat kuajak untuk menemaniku pergi ke seminar itu. Aku mohon. Satu kali ini saja temani aku,” mohon Aline.
“Tidak, aku bilang aku ingin bermain tenis,” aku menolak dengan tegas.
“Ayolah, Bren. Aku benar-benar ingin ke sana. Aku ingin mencari tahu bagaimana cara aku mengampuni seseorang yang telah membunuh ayahku. Aku mohon padamu, Brenda,” kata Aline dengan nada semakin memelas.
Aku mulai berpikir. Aline pun ingin memaafkan orang yang telah mengambil nyawa ayahnya tercinta. Kenapa aku tak mau berusaha memaafkan orang yang hanya mengambil seseorang yang kucintai, sedangkan orang yang kucintai itu masih hidup.
“Baiklah, aku akan menemanimu pergi ke seminar itu,” kataku dengan volume mengecil.
“Bagus! Terima kasih, Brenda,” jawab Aline.
“Ya, sama-sama,” jawabku dengan sedikit terpaksa
*****
Hari sabtu pun tiba. Aline menjemputku untuk pergi ke seminar itu bersama-sama. Setelah sampai ke gereja, Aline turun dengan wajah sangat gembira. Aku hanya dapat mengikuti langkah Aline dari belakang.
Sesampainya di ruang seminar yang dihias dengan begitu meriahnya. Aku tak mengerti untuk apa dihias sedemikian rupa. Gambar Yesus yang sedang mengampuni orang-orang yang datang padanya ditempel di panggung.
Bagian pendahuluan pun telah dilewati. Begitu juga dengan sesi diskusi dan sharing. Sang pemimpin seminar pun mengajak semua peserta memejamkan mata.
“Saudara-saudari sekalian, mari kita semua memejamkan mata. Bayangkan dan pikirkan orang-orang yang belum anda semua ampuni atau bahkan tidak dapat anda ampuni sedikit pun dalam kehidupan anda ini karena alasan apa pun,” perintah si pemimpin seminar itu.
“Sandra,” nama yang langsung muncul dalam benakku.
“Apakah anda semua bersedia mengampuni orang itu?” lanjut si pemimpin.
“Tidak! Tidak akan pernah!” teriakku dalam hati.
“Apakah anda ingin memberikan senyuman anda pada orang tersebut?” suara sang pemimpin dengan lembut.
“Tidak akan pernah! Bagaimana mungkin aku harus mengampuni orang yang telah merenggut semuanya dari hidupku? Bagaimana mungkin aku tersenyum padanya? Mengampuninya saja aku tak dapat membayangkannya,” lanjut teriakanku yang semakin keras.
“Lupakanlah semua yang telah ia lakukan yang sudah menyakiti hatimu,” lanjut sang pemimpin lagi.
“Lupakan? Ia telah sangat melukai hatiku! Tidak! Bukan hanya aku! Tapi juga hati keluargaku. Keluargaku sudah sangat bermimpi aku segera menikah dengan Jack. Tapi dengan mudahnya perempuan itu merebut Jack dariku. Hati keluargaku hancur. Harapan mereka pupus begitu saja! Aku tak sanggup melihat kedua orang tuaku dengan wajah sedih menanti kedatangan Jack ke rumahku setiap malam!”
Aku mulai mengeluarkan air mataku. Aku tak mampu meneruskan semua ini! Aku tak mampu untuk terus memikirkan ini semua! Semua terngiang kembali! Aku tak mau semua ini tereka ulang. Semua kenangan-kenangan indahku bersama Jack. Semua kebahagiaan dan kesedihan yang kami alami bersama. Dan ketika ia pergi meninggalkan aku!
Aku membuka mataku dan segera beranjak dari tempat dudukku. Aku lari keluar dari ruangan itu. Semua panitia seminar itu menatapku. Bahkan ada yang bertanya apa yang terjadi. Aku tidak memperdulikannya! Ini urusanku!
Aku berlari menuju ke dalam gereja. Aku duduk diam di dalam sana. Aku mulai merasa tenang setelah beberapa saat. Aku diam sendiri di sana. Aku duduk sambil menundukkan wajahku sambil memejamkan mataku sekuat-kuatnya. Aku takut untuk menegakkan wajahku. Aku takut harus terbayang wajah perempuan itu lagi. Rasanya aku ingin sekali berteriak sekecang-kencangnya. Tapi bagaimana mungkin? Aku sedang di gereja. Rasanya aku ingin sekali segera amnesia. Aku ingin segera melupakan segala yang sudah terjadi di hidupku dan memulai semuanya dari awal.
Aku berjalan keluar dari gereja. Aku ingin tidur rasanya, aku ingin kembali ke rumahku. Aku menyeberangi jalan. Tiba aku merasa kepalaku sangat pusing. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku tak mengerti. Rasanya semuanya berputar-putar. Penglihatanku mulai kabur, semakin kabur.
*****
Tempat yang tak kukenal muncul dalam pandanganku.
“Nak, kamu tidak apa-apa?” tanya seorang ibu-ibu yang sudah cukup tua menurutku.
“Aku di mana ini? Kenapa aku ada di sini?” aku bingung melihat tempat ini.
“Kamu tadi pingsan di depan gereja. Dan ada laki-laki nakal yang mau membawamu tadi. Karena saya takut terjadi apa-apa padamu, maka saya segera membawamu ke sini. Kamu tidak apa-apa?”
“Kepalaku cuma terasa agak pusing. Terima kasih atas bantuannya. Tapi kenapa ibu siapa?” aku masih bingung.
“Saya tinggal di sini untuk membantu di gereja ini,”
“Ibu tak punya keluarga?”
“Punya, tapi suami saya sudah pergi dengan perempuan lain. Anak perempuan saya sedang bekerja di Jakarta. Dia mungkin seumuran denganmu,”
“Jakarta?” otakku langsung terarah ke Sandra dan Jack yang sedang disana.
“Ya, kenapa, Nak?”
“Siapa nama anak Ibu?” tanyaku dengan penasaran.
“Casandra Isabella. Memangnya kenapa, Nak?”
Itu nama Sandra! Orang yang telah merebut tunanganku! Orang yang telah menghancurkan hidupku dengan mudahnya.
“Nak, ada apa?” tanya Ibu itu lagi.
“Kenapa Ibu dan anak Ibu tidak tinggal bersama?”
“Oh, sejak suami saya pergi, hidup kami menjadi susah. Jika ia terus menerus di Palembang, kami tak akan bisa bertahan hidup. Kami harus bisa tanpa ayahnya,” cerita Ibu itu dengan senyum yang manis.
“Kenapa Ibu tidak ikut pergi ke sana?”
“Biaya hidup di sana sangat besar. Akan sama saja jika saya juga tinggal di sana,” jawab Ibu itu sambil tertawa kecil.
“Sepertinya Ibu sangat menderita ya? Maaf ya, Bu,”
“Tak apa, Nak. Tuhan punya rencana yang terbaik bagi kita. Jadi, yang memang seharusnya terjadi, biarlah terjadi. Intan tak dapat diasah tanpa gesekan. Maka, Tuhan sedang membentuk saya untuk menjadi lebih baik,” jelas Ibu itu dengan senyum yang lebih riang.
“Saya juga merasakan hal yang sama. Orang yang saya cintai direbut orang lain. Hidupku hancur setelah hal itu terjadi,” kataku tak dapat menahan kata-kata ini.
“Itu adalah jalan terbaik, Nak. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup,”
“Benarkah? Tapi aku tak tahu caranya, Bu. Bisa Ibu beri tahu saya bagaimana caranya?” aku tertarik dengan kata-kata Ibu ini. Aku sangat salut dengannya.
“Ikutilah arah yang diberikan Tuhan padamu. Jangan ikuti kemauanmu sendiri. Keinginan manusia jarang sekali baik untuk hidupnya,”
*****
Aku mencoba untuk mencerna apa yang Ibu itu katakan. Sepanjang malam aku memikirkannya. Terus memikirkannya. Sampai aku tertidur lelap. Aku merasakan suara Allah yang lembut berbicara dalam hatiku.
Sekarang aku ada di sebuah perhentian bis yang sangat ramai. Tapi tiba-tiba ada suatu suara yang muncul dengan nada yang snagat bijaksana.
“Siapkah kau melepaskan masalah ini, anak-Ku? Melepaskan perempuan itu? Memaafkan semuanya?”
Aku yakin suara detak jantungku dapat didengar semua orang di sini, yang ada di sekelilingku sekarang. Dengan yakin, aku ingin menjawab ya. Ibunya sangat baik, ia telah menolongku. Aku juga tak mau Sandra mengalami hal yang sama dengan yang ibunya alami. Aku tahu ini jalan yang Tuhan berikan untukku. Inilah yang terbaik. Aku harus menerimanya.
Aku tidak mampu lagi menyimpan kemarahan ini. Aku merasa benar-benar tersiksa dengan semua ini. Kemarahan itu rasanya membunuh jiwaku. Lebih baik aku memulai dari awal lagi dan melupakan semua yang buruk.
Rasanya saat ini juga aku merasakan perubahan yang sangat luar biasa. Aku merasakan sebuah kebebasan yang sangat hebat. Sesuatu terjadi dalam hatiku. Aku mulai melepaskan semua kemarahan itu sedikit demi sedikit. Dan saat ini juga aku merasakan semua kebencian itu hilang dari hatiku.
Untuk pertama kalinya, sejak aku ditinggalkan tunanganku yang sangat aku cintai, aku menyerahkan kendali atas hidupku pada Tuhan kembali. Aku sudah melepaskan cengkeramanku pada Sandra, pada Jack, dan pada diriku sendiri. Aku melepaskan kemarahan dan kebencianku. Aku merasa sangat lega sekarang.
Betapa selama ini aku menjadi seorang yang merasa diriku lebih baik daripada orang lain. Aku sangat sering bersikap menghakimi orang lain. Betapa pentingnya bagiku untuk dianggap benar tanpa memedulikan kerugian yang harus aku tanggung. Aku memang harus menanggung kerugian besar, yakni kesehatan, spontanitas, vitalitas, dan kedekatanku pada Allahku.
Aku memejamkan mataku untuk memastikan bahwa aku yakin untuk melepaskan semua ini. Ya! Aku yakin!
Aku membuka mataku. Ternyata aku sedang di tempat tidurku, dengan bantal kesayanganku di sebelahku. Ini hanya mimpi. Tapi aku tahu, Allah sedang mengajakku berdialog. Ia ingin menyadarkanku.
Aku segera menelepon Aline untuk menceritakan semua yang kurasakan saat ini.
“Aline, aku menyadari sesuatu. Jika aku terus mengikuti semua keinginan egoisku seumur hidupku, aku tidak tahu apakah aku akan memiliki keberanian atau kebesaran hati untuk mengambil langkah awal. Syukurlah, hal itu tidak diserahkan pada kehendak pribadiku. Tak diragukan lagi, kuasa Roh Kudus bekerja dalam diriku,” ceritaku dengan panjang lebar pada Aline.
“Baguslah, aku harap kau tak berubah pikiran. Katakanlah pada Sandra bahwa kau telah memaafkannya,” jawab Aline.
Aku tutup telepon itu. Aku berjalan masuk ke kantor dan menulis sepucuk surat kepada Sandra. Kata-kata mengalir begitu saja di atas kertas putih itu.
“Yang terhormat Sandra,” aku memulai menulis. Aku melanjutkan tulisan itu dengan menceritakan kepadanya apa yang kurasakan saat ini.
“Sandra, apa kabarmu? Aku harap baik-baik saja. Dan juga, aku harap hubunganmu dengan Jack baik-baik pula. Sandra, sejujurnya selama ini aku benar-benar membencimu karena perbuatanmu yang membawa pergi Jack. Bahkan saat aku mengikuti seminar pemulihan pun aku masih tak dapat memaafkanmu. Tapi, sekarang aku sadar, aku minta maaf atas pikiran-pikiranku yang dipenuhi kebencian. Aku mohon maaf, dan aku harap kita dapat menjalin hubungan baik. Sampai ketemu. Tuhan memberkatimu,” demikian isi surat yang telah kububuhi namaku, memasukkan surat ke dalam amplop, dan memasukkannya ke dalam kotak pos, tanpa ragu.
Satu minggu kemudian, telepon kantorku berdering.
“Brenda?”
Aku tahu pasti suara siapa itu.
“Ini Sandra,” ujar Sandra pelan.
Aku terkejut betapa saat itu perutku tetap tenang. Tanganku tidak berkeringat. Suaraku tetap terdengar mantap dan pasti. Aku lebih banyak mendengarkan, yang tidak biasanya aku lakukan. Aku menjadi tertarik untuk mendengarkan apa yang harus dikatakan Sandra.
“Brenda, aku sangat berterimakasih atas suratmu. Kau sangat berani, aku salut padamu. Jika aku menjadi dirimu, aku pasti tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Aku juga sangat menyesal untuk apa yang aku lakukan padamu, untuk segalanya. Maaf, Brenda,” ujarnya dengan suara yang sangat sendu.
“Ya, aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf, Sandra,” jawabku dengan senyuman yang sudah lama tak keluar dari bibirku.
BAGUS!!!!!!!!!
BalasHapusHUWWEE~~~ SEdih deh bacanya..
Sebenci apapun kita dengan seseorang.. mesti bisa mengampuni~~
BAGUS DIAN! XD
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmakasih..^^
BalasHapusSemoga cerpen kita bisa punya kesan tersendiri yaa...
GBU all!!!