Sabtu, 25 April 2009

Olive's Boy

Judul Cerpen : Olive’s Boy
Nama : Chelsea Cindy Sunyata
Kelas : X.2
No. Absen : 07



Olive tengah mematut diri di depan kaca dengan pakaian yang biasa digunakannya sehari-hari untuk pergi ke tempat-tempat umum. Olive berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelsa XII di SMA Pelita Bangsa. Olive merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakak laki-lakinya telah berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas dan tinggallah Olive sebagai anak tunggal di rumahnya yang lumayan besar itu.
“Aduh, udah jam 5 lewat, padahal aku janji jam 5 udah ada di rumah makan nih. Gawat deh, bakal ngomel deh.” Bisik Olive sambil melihat jam dinding di kamarnya melalui cermin. Olive mempunyai 5 orang sahabat yang sebaya dengannya dan bersekolah di sekolah yang sama.
Olive langsung menuju ke mobilnya yang telah disediakan oleh supir keluarganya dan langsung menuju ke rumah makan yang telah menjadi langganan Olive dan teman-temanya. Selama perjalanan Olive hanya duduk diam dan mendengarkan lagu-lagu pop kesukaannya yang selau ia dengar kapanpun ia di dalam mobilnya.
Sesampainya di sana, Olive celingak-celinguk mencari meja tempat teman-temannya duduk. Setelah melihat sekeliling berusaha mencari-cari, akhirnya ia menemukan teman-temannya sedang duduk di meja pojok sambil bercanda dan tertawa riang.
“Hi Guys, I’m here.” Olive berdiri di pinggir meja makan sambil menyunggingkan senyum kepada teman-temannya.
“Eh, nona besar, jam berapa nih? Si Lola yang udah jadi Duta Telat aja udah nongol di sini. Kamu malah baru nongol sekarang.” Canda Claudia sambil tersenyum menyindir Olive sekaligus Lola. Claudia adalah salah satu sahabat Olive yang memiliki pipi chubby dan wajah yang enak dipandang. Selain itu ada Melia yang dewasa, LoLa yang selalu terlambat kalau mereka hangout bersama, Rachel yang terkesan agak tomboy karna selalu berbicara dengan seenaknya, dan Pevita yang selalu memerhatikan trend dan gaya rambut yang terbaru. Mereka telah berteman cukup lama, sekitar 3 tahun.
“Ups, sorry deh, tadi ngak sadar udah jam 5 lewat. Biasa lah, mama-ku nyuruh ini itu.” Jawab Olive sambil memasang muka memelas.
“Ya udah, duduk sini, Liv. Udah disediain bangku kosong, kok. Ngak masalah juga telat sedikit.” Melia langsung menyudahi.
“Udah lengkap, kan? Pesan makanan yuk! Aku udah laper nih.” Sambung Rachel.
“Yuk! Panggil pelayannya dulu yah.” Pevita menanggapi sambil melambaikan tangan kearah pelayan yang sedang lalu di depannya. Pelayan itupun langsung menghampiri meja mereka dan menanyakan apa yang mereka pesan lalu pergi setelah semua teleh memesan. Mereka melanjutkan pembicaraan yang penuh dengan canda dan menyantap makanan masing-masing saat makanan tiba.

****

“Asik, udah weekend nih. Pulang sekolah jalan sama Leo, ah. Kita ngak ada acara kan hari ini, guys?” teriak Claudia senang karna akan pergi bersama pacarnya yang bernama Leonardus. Claudia telah 1 tahun memilki hubungan dengan Leonardus yang memiliki selisih umur beberapa tahun dari Claudia.
“Iya nih, kita ngak ada acara kan hari ini? Aku juga mau pergi bareng Vido nih. Mumpung weekend. Kamu vit? Mau pergi sama Andrew?” Melia menanggapi dengan nada suara yang halus seperti biasa.
“Ya udah deh kalo ada acara semua, ya kita ngak bakal hangout bareng hari ini.” Jawab Olive dengan ketus.
“OK kalo gitu. Aku pulang duluan yah.” Claudia yang cuek mengabaikan keketusan Olive. Claudia langsung segera berlari ke gerbang depan menaiki mobilnya.
“Ya udah Liv, ngak apa-apa, kan? Kita pulang yuk. Udah siang nih, ntar mama kamu nyariin kamu lagi.” Pevita yang mencium kejengkelan Olive langsung mendinginkna suasana.
Mereka langsung beranjak dari tempat mereka berdiri dan menuju ke depan sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Sesampainya di rumah, Olive langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidurnya dan berbicara kepada dirinya sendiri.
“Kenapa sih, Claudia, Pevita, dan Melia tuh bisa dapetin cowo yang baik banget sama mereka? Sedangkan aku, hanya pernah pacaran satu kali, dan itupun aku dibohongin sama cowok itu, dia selingkuh sama orang lain. Sebel deh liat mereka jalan-jaan bareng pacar masing-masing. Apa lagi Pevita, sebelum dia jadian sama Andrew, dia tuh paling dekat sama aku, sekarang perhatian dia kan terbagi dua untuk Andrew. AKU KESAL!!!!”
Olive memang pernah memiliki pacar yang ia sayangi, tetapi tanpa sepengetahuannya, cowok itu menjalin hubungan juga dengan wanita lain, akhirnya hal itu terbongkar. Olive marah besar dan memutuskan hubungannya dengan cowok itu. Setelah kejadian itu, Olive masih sakit hati dan sikapnya menjadi lebih egois dari sebelumnya. Ia ingin semua orang memerhatikannya, jika ada sesuatu yang membuat teman-temannya kurang memperhatikannya, ia mulai ketus dan akhirnya marah. Seperti yang terjadi 1 tahun yang lalu, Pevita yang sedang sibuk belajar untuk ulangan harian di kelasnya, tidak begitu memperhatikan teman-temannya dan Olive yang merasa tidak diperhatikan marah kepada Pevita.
Akhirnya Olive bangkit dari tempat tidurnya dan langsung pegi ke kamar mandi. Setelah Olive merasa segar dan lelahnya sudah sedikit berkurang, ia duduk di depan meja rias dan kembai terpikir masalah teman-teman dan pacar mereka.
“Olive! Ayo makan! Mama udah nungguin dari tadi nih.” Tidak lama setelah itu, Mama Olive mengajaknya untuk makan siang. Olive turun dan langsung duduk di kursi meja makan lalu dengan senang melihat mamanya memasak makanan kesukaannya.
“Wah.. Mama masak pangsit goring. Aku pasti makan banyak.” Olive memandang makanan yang disajikan mamanya dengan perut yang sudah lapar. Mama Olive hanya tersenyumsenyum melihat anaknya kegirangan karena melihat makanan kesukaannya yang disajikan di meja makan. Olive makan bersama mamanya, hanya berdua saja karena papanya sedang bekerja dan tidak makan di rumah, sedangkan kakak laki-lakinya sedang kuliah di Luar Negeri. Olive menyantap makanannya dengan sangat lahap. Mamanya hanya bisa tersenyum melihat anaknya menyantah hidangan yang sangat banyak.
Olive anak yang dimanja oleh kedua orangtuanya. Apalagi semenjak kakak laki-lakinya telah kuliah ke luar negeri dan Olive menjadi ‘anak tunggal’ di rumahnya. Orangtuanya sangat menjaganya, smpai-sampai, jika mau hangout bersama teman-temannya, ia sangat susah mendapatkan ijin. Tetapi mungkin karena merasa anaknya sudah tumbuh dewasa, orangtuanya mulai memberikan keringanan kepada Olive.

***

Senin pagi di SMA Pelita Bangsa telah terjadi keributan kecil yang melibatkan Olive dan Boy, teman sekelas Olive.
“Boy!! Bisa ngak sih berhenti gangguin aku? Bisa gila nih lama-lama dikerjain sama kamu terus!” Olive berteriak sambil marah-marah.
“Biarin, kamu juga yang gila. Aku ngak rugi dong kalo kamu gila. Dasar gorila, marah-marah aja kerjanya.” Boy membalas sambil berlari dari tangan Olive yang sudah siap mengelus kuat-kuat pundak Boy.
“Woi! Berhenti! Sini kalo berani! Jangan kabur! Dasar, beraninya sama cewek ajah.”
“Biarin, oh ya, emang kamu cewek yah? Aku taunya kamu itu gorila.”
“Dasar kamu, Boy! Ngejek orang terus! Kamu tuh, nama aja Boy! Nama yang Ja-Dul banget tau. Sama kayak orangnya yang mukanya ketinggalan jaman banget!”
“Yah, walaupun jadul tapi kan banyak yang naksir aku. Kamu tuh, ngak laku-laku.”
Saat tengah berlari-lari menejar Boy, Olive bertemu dengan teman-temannya yang sedang mengobrol di teras depan kelas.
“Hey Liv! Pagi-pagi udah kejar-kejaran sama Boy. Udah kayak Perang Dunia ke-4 aja.” Pevita langsung memotong acara kejar-kejaran antara Olive dan Boy.
“Iya tuh, si Boy rese banget deh. Pagi-pagi udah gangguin aku. Jadi kesel deh.” Jawab Olive terengah-engah.
“Dasar, kamunya juga nanggepin sih, makin menjadi-jadi deh si Boy gangguin kamu.” Baru selesai Pevita berbicara, tiba-tiba bel masuk sekolah berbunyi.
“Eh, udah masuk nih, kita masuk kelas, yuk.” Melia angkat bicara.
“Iya, kita masuk kelas dulu yuk, aku ulangan kimia nih di jam pertama.” Claudia juga langsung beranjak dari tempat duduknya. Mereka masuk ke kelas masing-masing dan siap mengikuti pelajaran, kecuali Olive. Boy masih mengganggunya selama pelajaran di kelas, sehingga ia tidak berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang disampaikan.
Boy telah berteman dengan Olive selama lebih dari 2 tahun. Dari kelas XI mereka duduk di kelas yang sama, karma kebiasaan Boy yang usil, Olive manjadi wadah tempat menampung segala keusilan yang ia lakukan. Secara Fisik, Boy cowok yang lumayan tampan. Di bidang akademik, Boy tidak begitu hebat, nilai-nilai pelajarannya cukup, tetapi tidak berlebih. Boy sangat hobi bermain game OnLine dan ia sangat menekuni hobinya itu.

***

“Huh! Gila, hari ini seharian ngak konsentrasi sama sekali. Boy gangguin aku terus nih. Bisa gila lama-lama.” Cerita Olive kepada teman-temannya.
“Kamu tanggepin dia, Liv?” tanya Pevita.
“Abis gimana, kalo ngak ditanggepin, aku udah kesel banget. Dia tuh rese banget.”
“Sabar-sabar aja dulu kali. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Kata Pevita sambil tertawa.
“Hah? Bukannya Bersakit-sakit dahulu, mati kemudian?” Lalu semuanya tertawa bersama dan Olive agak melupakan masalah Boy yang dari tadi mengganggunya.
“Oh y guys, ke restoran langganan yuk. Aku lagi pengen makan ayam goring lemonnya nih. Pengen banget.” Sambung Olive.
“Boleh juga tuh, aku juga udah laper. Kita pergi naik mobil siapa nih?” Claudia sependapat dengan Olive.
“Naik mobil aku aja deh, aku udah telepon supirku dari tadi, pasti bentar lagi nyampe deh. Gimana, setuju ngak?” Olive berkata dengan semangat.
“Aku sih OK, yang lain gimana?” Jawab Rachel.
“Aku OK juga.” Lola menjawab dengan semangat.
“Aku ikut deh.” Melia menjawab kalem
“Ya udah kalo semuanya ikut, aku pasti iku juga dong.” Pevita menjawab dengan senyum.
Mereka langsung menuju mobil Olive dan mobilpun langsung meluncur ke jalanan menuju tempat restoran favorit mereka.
Sesampainya disama mereka langsung memesan makanan masing-masing dan setelah itu mereka asik mengobrol dan tertawa dan tidak memerhatikan seorang anak SMA masuk ke dalam dan duduk di meja sebelah. Cowok itu memesan makanan kepada pelayan, dan tanpa sengaja, Olive yang sedang menoleh untuk melihat apakah makanan mereka akan segera siap dihidangkan bertemu pandang dengannya. Olive terpesona dengan parasnya yang sangat tampan, ia tak henti-hentinya menoleh untuk melihat siswa SMA yang berseragamkan SMA Virgo. SMA Virgo adalah sekolah yang termasuk ke dalam sekolah Ellite di kota itu. Teman-teman Olive memperhatikan Olive yang bertingkah aneh hari itu. Makanan sudah tersedia tapi ia belum menyentuh makanan yang dipesannya.
“Liv, tuh makanan udah mau basi bentar lagi. Makan gih. Dari tadi ngeliatin apaan sih?” Tegur Claudia.
“Ngak nih, cuma liat-liat aja. Iya aku makan.”
Claudia yang masih bingung mengikuti arah pandangan Olive dan mendapati Olive sedang memperhatikan Seorang anak SMA Virgo.
“Eh Liv, aku kenal loh sama si SMA Virgo itu. Jangan di liatin aja.” Claudia berbisik.
“Hah? Apaan sih kamu, ngak kok” Jawab Olive terkejut.
“Udah. Aku tau kok kamu ngeliatin cowok itu dari tadi. Aku kenal sama dia, namanya Jhonny. Biasa dipanggil Jojo.”
“Hah? Emang kamu kenal darimana Claud?”
“Dia itu temennya mantan pacarku. Teman SMPnya, aku kenal soalnya mereka teman baik, jadi sering ngobrol juga sama dia.”
“Koq jadi ngomongin dia sih, udah ah, aku makan dulu.”
Seusai makan, mereka jalan keluar dari restoran itu dan berpapasan dngan Jhonny. Claudia langsung menegur Jhonny.
“Hai Jo, udah lama banget nih ngak ketemu sama kamu.”
“Hai, Claud, gimana nih kabarnya?”
“Baik kok, kamu?”
“Aku juga baik. Makan-makan nih?”
“Iya, biasa, dengan teman-temanku. Kenalin dulu deh, Ini Lola, Melia, Rachel, Pevita dan yang terakhir Olive.” Claudia memperkenalkan teman-temannya dan sengaja menaruh Olive di urutan yang terakhir. Olive hanya bisa menunduk ketika dikenalkan dengan Jojo. Lalu setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing.

***

Sesampainya di rumah, Olive kembali termenung memikirkan Jojo yang masih menghantui pikirannya.
“Coba tadi aku nanya banyak sama Claudia deh. Aduh, kepikiran cowok itu terus jadinya. Cakep banget sih, berkharisma. Cowok idaman aku banget.” Olive terus bergumam pada diriny sendiri hingga sore menjelang dan lamunannya dibuyarkan oleh teriakan mamanya dari bawah yang memanggilnya untuk makan malam. Dengan masih berpakaian sekoah, Olive turun ke ruang makan yang telah diisi oleh orangtuanya.
“Liv, kok kamu masih pakai beju sekolah? Udah malem begini, dari tadi kamu ngapain aja?” Mama Olive yang keheranan dengan anaknya bertanya dengan wajah yang bingung.
“Hah? Iya ma, tadi aku langsung ketiduran. Capek banget dari sekolah tadi, ngak sadar ketiduran di kamar deh.” Dusta Olive
“Oh, ya udah, jadi kamu mau makan udulu atau mandi dulu aja?”
“Aku makan dulu aja deh ma, jadi kita makan sama-sama, nanti selesai makan aku langsung mandi deh.”
“Ya udah, kita makan dulu yah, sini duduk, Liv.” Ajak mamanya sekaligus menunjuk tempat duduk di sebelahnya. Lalu mereka makan bersama dan bercakap-cakap tentang aktivitas mereka tadi siang. Olive hanya mendengarkan percakan antara papa dan mamanya.
Selesai makan, Olive segera naik ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi dan dari luar kamar mandi seger terdengar siara yang erasa dari pancuran air. Olive mandi dengan cepat dan segera mengenakan piyamanya.
Olive duduk di pinggir ranjangnya dan baru teringat bahwa ia belum memeriksa handphne-nya. Olive segera memeriksa Handphone-nya dan mendapati ada 4 new messages. Ia segera membuka sms yang elah ia dapat. Dan mendapati sebuah nomor yang tidak ia kenal mengirimkan message. Olive membaca pesan singkat itu dan ia sangat terkejut, orang yang mengirim pesan itu adalah Jhonny. Dengan kegirangan, Olive segera bangkit dari duduknya dan melompat-lompat kecil. Dengan segera ia membalas message itu, dan mengobrol dengan Jojo hingga ia merasa mengantuk dan memutuskan untuk tidur.

***

Keesokan paginya Olive bangun dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mandi, sarapan, lalu pergi ke sekolah, seperti biasanya. Langit pagi ini mendung dan hujan rintik-rintik sudah mulai menghujam bumi. Sesampainya di sekolah Olive langsung menemui teman-temannya yang telah datang ke sekolah, tinggal Lola yang belum datang.
“Hai all.” Sapa Olive dengan mimic yang sangat ceria.
“Hai, Liv. Pagi-pagi udah cengar-cengir aja. Kenapa sih kamu?” Tanya Pevita
“Ngak kenapa-kenapa sih, Cuma lagi seneng aja. Seneng banget.”
“Emangnya ada kejadian apa sih, ampe segitu senangnya?” Sambung Claudia.
“Eh, Claud, kamu yah yang kasih tau nomor handphone aku sama Jojo?”
“Aku? Ya ngak lah, kemarin aja aku langsung pulang kok ke rumah. Jojo juga ngak punya nomor handphone aku.” Respon Claudia yang memang tidak mengetahui hal itu. Claudia sendiri terkejut mendengar kabar bahwa Jojo sudah menghubungi Olive. Claudia tau sifat Jojo yang kurang baik. Ia ingin mengingatkan Olive, tapi melihat Olive yang sedang senang minta ampun, Claudia tidak berani mengatakan hal itu.
Sepanjang hari Olive mengobrol dengan Jojo melalui SMS. Olive merasa nyaman berbicara dengan Jojo. Hal itu berkelanjutan hingga 2 bulan kemudian dan Olive bercerita dengan teman-temannya bahwa ia akan hangout bersama Jojo hari minggu nanti.
“Hah? Ngak salah, Liv?” kejut Claudia.
“Yah ngak salah dong, Claud. Aku kayaknya udah mulai suka sama dia nih.”
“Liv, aku certain sama kamu ya, Lupain aja Jojo! Jojo itu playboy, suka mainin cewek. Udah banyak cewek yang jadi korban dia. Selama aku pacaran sama Bram, aku sering banget diceritain kalo dia tuh suka mainin cewe. Aku ngak mau kamu jadi korban dia.”
“Claud, selama aku ngobrol sama dia, aku rasa dia orangnya baik kok, ngak mungkin deh dia mainin perasaan cewe. Mungkin aja dia udah ngerasa ngak cocok dengan mantan-mantannya, jadi mereka putus. Buka berarti dia mau mainin cewek.”
“Ngak, Liv. Kamu percaya aku deh, mantannya aja banyak banget.”
“Ngak lah Claud, aku percaya kok sama Jojo.”
Claudia yang tidak tau lagi bagaimana cara mengatakan hal yang sebenarnya kepada sahabatnya itu pun terdiam dengan menyimpan rasa sedikit dongkol. Teman-temannya hanya bisa mendengar perdebatan kedua sahabat mereka tersebut.
***

Olive pergi bersama Jojo ke sebuah Mall ternama di kota itu. Banyak hal yang mereka lakukan disana, menonton, makan siang, bermain game, dan hal-hal lainnya. Olive merasa nyaman dengan Jojo dan ia semakin menyukai Jojo. Olive sampai di rumah ketika senja telah menjelang. Olive langsung menceritakan semua yang ia kerjakan bersama jojo kepada Pevita. Pevita ikut senang karena sahabatnya merasa senang. Olive menutup hari itu setelah membersihkan diri dan menyantap makan malam bersama keluarganya.
Olive telah jatuh cinta! Olive yakin bahwa Jojo menyukainya dn merekan akan menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Tetapi hal itu dihancurkan ketika seminggu kemudian, Olive dan teman-temannya pergi ke Mall dan bercanda bersama, seperti biasa. Dan memergoki Jojo yang sedang bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Mereka berjalan sangat mesra dan Olive langsung shock melihat hal itu. Olive yang sangat terluka karena hal itu, segera minta pulang dengan teman-temannya. Mereka segera kelur dari Mall dan pulang ke rumah Olive.
“Claud, aku minta maaf ya.”
“Ngak apa-apa kok, lain kali kan kita bisa pergi sama-sama lagi.”
“Bukan soal itu, Claud.”
“Jadi soal apa, Liv?”
“Soal aku ngak mau dengerin nasehat kamu soal Jojo. Aku udah ketipu sama ketampanan Jojo, sampai ngak dengerin kata-kata sahabatku sendiri” Kata Olive dengan muka tertunduk.
Olive merenung dan menyadari keegoisan yang ia lakukan terhadap teman-temannya. Temannya yang sudah tidak ia percayapun dapat memaafkan dirinya. Ia menyadari rasa irinya terhadap teman-temannya yang telah memiliki kekasih. Ia juga meminta maaf atas segala hal itu.
“Aku juga minta maaf karma keegoisanku dan rasa iri yang terlalu besar terhadap kalian.”
“Rasa iri? Maksudmu?” Tanya Pevita.
“Iya, sebenarnya aku sangat iri sama kalian yang telah memiliki kekasih yang sangat menyayangi kalian. Aku sangat kesal jika kalian sedang besenang-senang dengan pacar kalian.”
“Ya ampun, Liv. Kami juga bukan sengaja mau menunjukan kebahagiaan kami di depan kamu. Kami sayang sama kamu, Liv.” Jawab Melia.
“Iya, kami semua sayang kamu, kok.” Mereka bersama-sama menghibur Olive.

***

Pagi yang cerah di hari berikutnya, Olive berjalan ke kelasnya dengan tampang kusut karena kejadian kemarin. Ia masuk ke kelasnya dan duduk di tempat duduk yang biasa ia duduki. Tanpa Olive sadari, ada seseorang yang menghampiri mejanya. Orang itu memperhatikan wajah Olive yang terlihat sangat sedih. Orang itu merasa sangat sedih melihat wajah Olive yang muram. Orang yang dengan tulus menyayangi Olive sejak 2 tahun yang lalu, yang selalu mengisi hari-hari Olive dengan segala keusilan yang ia perbuat. Ia hanya yakin, dengan cara itu ia dapat membuat Olive menjadi senang.
“Liv, ada apa?” Orang itu bertanya dengan lembut.
“Eh kamu, udah deh, aku lagi ngak mood main sama kamu.”
“Ngak, Liv, aku bukan mau gangguin kamu. Aku cuma mau tau keadaan kamu aja. Kok kamu gini, Liv? Ada apa?” Tanya orang itu. Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi dengan Olive. Ia telah menanyakan hal itu kepada teman-teman Olive.
“Ngak kok, aku Cuma ngak mood aja.”
“Oh, ya udah deh kalo emg ngak apa-apa. Tapi aku bersedia jadi tempat pencurahan kesedihan kamu kok, Liv.” Orang itu menyampaikan denan halus. Olive terkejut dengan perubahan yang terjadi dari orang itu. Sebenarnya bagaimana sih sifatnya? Kadang-kadang ngerjain orang ampe keterlaluan banget, kok sekarang jadi perhatian gitu sih? Aku jadi asing dengan orang ini. Bener ngak sih ini orang yang sama? Setiap hari orang itu memberikan Olive semangat, menghiburnya walaupun ia berpura-pura tidak tau apa masalah Olive.
Olive merasa perlu bercerita dengan seseorang, ia malu untuk cerita pada teman-temannya karena ia merasa sangat bodoh tidak menghiraukan nasihat sahabtnya sendiri. Akhirnya, Olive tanpa sadar bercerita kepada orang itu ketika ia sedang menghibur Olive. Orang itu bersedia mendengarkan cerita Olive dengan baik, sangat baik. Selesai Olive menceritakan hal itu, orang itu hanya memberikan senyum dan semangat-semangat untuk Olive. Membiarkan Olive yang sedih karena telah dipermainkan dua kali oleh orang yang sudah ia sayangi menitikkan airmata di tangannya, mejadikan dirinya tempat untuk mencurahkan segala kesedihan yang dialaminya.
Olive memang tidak sadar ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya, tetapi suatu saat, Olive akan menyadari hal itu. Cinta yang sesungguhnya telah ada dihadapannya. Ia hanya perlu melihatnya, menyadarinya, dan menggapainya dengan mudah, tanpa perlu mengejar cinta itu lagi.



--The End--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar