Senin, 20 April 2009

Sesuai KehendakNya

Karya : Jevon

Budi adalah seorang anak yang sangat amat nakal. Sejak ia berada dalam kandungan ibunya sudah banyak orang yang berfirasat buruk akan janin yang dikandung ibunya. Di desanya, ibunya juga merupakan seorang perempuan yang dianggap “nakal” oleh masyarakat. Pada waktu muda ibunya bekerja entah dimana. Ibunya selalu pergi pada pagi hari dengan menggunakan pakaian yang tidak sewajarnya dipakai oleh perempuan yang tergolong bunga desa. Ibunya memang mantan seorang finalis bunga desa pada lomba 17 Agustus sekecamatan di desa itu. Ibunya selalu pergi pada saat matahari terbit dan pulang pada tengah malam. Entah apa yang ibunya kerjakan yang terpenting adalah ia dapat mencukupi kebutuhan dirinya.
Setelah beberapa tahun, mengandunglah ibu tersebut dan entah siapa yang membuatnya begitu. Semua orang di desa itu tidak ada satupun yang mengetahuinya. Pada bulan-bulan pertama masa kehamilannya ibunya selalu merasa malu dan terhina karena ia selalu dihina-hina oleh orang-orang di sekelilingnya. Bulan demi bulan berlalu ibunya sendiri tak ada yang menemani. Setiap malam ibunya selalu menangis meratapi nasibnya yang begitu malang. "Mengapa hidup saya seperti ini tidak ada orang yang mau memperdulikan saya. Teman-teman semua juga telah meniggalkan saya," ujar Ibu Budi sambil menangais tersedu-sedu.
Berita itu tersebar luas dengan cepat hingga ke suatu kota besar. Beberapa bulan kemudian datanglah seorang pria dengan mengendarai sebuah mobil mewah dan dengan baju yang rapi ke desa tersebut. Tak disangka ia bersedia menikahi ibunya karena merasa iba dengannya. Sejak hari itu hidupnya berubah total. Ternyata pria yang dinikahinya itu adalah seorang pengusaha sukses di bidang saham dan memiliki kehidupan yang mewah. Ia memiliki segala fasilitas yang ia butuhkan seperti mobil yang mewah, pesawat pribadi, dan juga rumah yang sangat mewah dilengkapi dengan kolam renang yang mewah pula.”Maukah kamu menjadi istri saya?” tanya pengusaha kaya itu. “Mau mas, terimaksih ya sudah rela untuk melamar saya,”jawab Ibu Budi sambil mengais dan memeluk pria itu. Tak disangka pengusaha itu adalah teman ibunya pada waktu kecil pantas saja ibu Budi tidak segan-segan menerima lamaran pria yang sudah ia kenal baik itu. Pada waktu kecil, mereka senang bermain berdua. Tetapi sejak umur 17 tahun mereka berpisah karena ayahnya pindah tugas ke kota besar dan tidak pernah bertemu hingga saat ini. Beberapa minngu kemudian ibunya melahirkandan memberi nama anaknya Budi. Budi terlahir dengan tubuh yang kecil dan kurus. Pada saat ia masih kecil tidak ada orang yang mau bermain dengannya karena mereka menganggap Budi merupakan anak yang berasal dari hasil hubungan gelap dengan pria lain. Hal ini tentu saja membuatnya kesal dan marah dan dari hal ini pula Budi menjadi seorang sangat yang nakal. Orang tua Budi merupakan sebuah keluarga yang beragama dan takut akan Tuhan. Walaupun ibunya dulu merupakn seorang wanita yang tidak benar, tetapi sejak ia menikah dengan ayah Budi ia bertobat dan menjadi seorang wanita yang baik. Mereka bingung bagaiman menguerus anak mereka ini yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa pada Tuhan gar mengubahkan sifat anaknya ini.
Sejak kecil Budi selalu senang mengganggu teman-temannya. Ada suatu waktu ketika Budi sedang ingin warung untuk jajan ia bertemu dengan tetangganya Banu. "Banu, darimana kamu?" tanya Budi. " Saya dari warung Bu Tukiyem untuk membeli gula pesanan ibu saya. Kalau kamu sendiri dariman Bud? " tanya Banu ramah. "Saya baru saja mau ke warung untuk jajan sekaligus membeli gula pasir juga pesanan ibu saya. Eh kebetulan sekali bertemu kamu Banu," ujar Budi sambil tersenyum licik. "Memangnya kenapa?" tanya Banu penasaran. "Hmmmmm, terimakasih ya Banu gulanya," ujar Budi yang langsung merebut gula pasir Banu dan kabur. " Budiiiiiii, jahat kamu," teriak Banu dengan sedih. Sepulangnya di rumah ia memberikan gula itu pada ibunya dan menyimpan uang yang diberikan ibunya untuk dirinya sendiri. Sejak hari itu semua temannya tidak mau bergaul denganya lagi dan jika bertemu mereka selalu menghinanya.
Di rumah ia sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya dengan segala fasilitas yang dimiliki karena tidak ada yang mau bergaul dengannya. “Budi jelek, mirip bebek Hahahahaha,” kata teman Budi yang sedang melewati rumahnya ” Kalian jahat,” kata Budi sambil menangis. Ia merasa terbuang, tetapi itu semua bernula dari kenakalan dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang tuanya selalu memenuhi apa yang Budi inginkan karena ia adalah anak satu-satunya dalam keluarga tersebut dan orang tuanya tidak mau ia menjdi anak yang bersifat buruk. Budi tumbuh menjadi anak yang manja, cengeng, juga bandel. Pada saat memasuki masa sekolah, ayahnya memasukkanya ke dalam sekolah yang terbaik yang ada dalam kota itu. Di sekolah ia juga sering berkelahi dengan teman-temannya. Oleh karena perilakunya yang nakal itu ia dijuluki sebagai anak pemberontak. Banyak orang-orang yang takut terhadapnya. "Teman-teman, itu Budi. Awas nanti kalian diganggunya," kata teman sekelasnya. "Apa kamu lihat-lihat!" bentak Budi yang baru datang ke sekolah. Hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan oleh kedua orang tuanya yang selalu memanjakannya di rumah dan juga latar belakang ibunya yang buruk pula yang membuat ia terhina dan berperilaku seperti ini. Ia memiliki perangai yang sangat buruk diantara teman-temannya. Tetapi di balik sifat buruknya ini ia memiliki beberapa sifat baik diantaranya ia pandai bergaul, pandai dalam hal mata pelajarannya di sekolah, dan juga ahli dalam bidang olahraga. Dalam hal mata pelajaran ia terampil dalam bidang hitungan dan hapalan. Ia sangat mudah mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya dan tentu saja Budi selalu mendapat juara kelas. Namun, ia tidak hanya ahli dalam bidang yang menyangkut kepandaian dalam hal eksak saja ia juga pandai dalam hal berolahraga. Di sekolahnya ia selalu memenangkan berbagai pertandingan yang bersangkutan dengan olahraga terutama basket. Tetapi tidak dapat dipungkiri sifat buruknya memang tidak dapat dihilangkan, ia selalu berkelahi dengan temannya. "Budi, kamu tidak boleh begitu, kamu seharusnya menurut pada ayah dan juga ibumu nak," kata salah satu guru di sekolahnya. "Biarlah,itu urusan saya kenapa ibu guru ikiut campur,"jawab Budi sinis. "Dasar anak keras kepala. Dinasihati malah jawab begitu," kata guru itu sambil pergi mengiggalkan Budi. Para guru serta kedua orang tuanya merasa sangat risau dan kesal terhadap perilaku Budi. Sudah berkali-kali ia diperingatkan untuk tidak mengulangi hal itu lagi, tetapi ia selalu membantahnya.
Pernah dalam suatu kesempatan ia beremu dengan seseorang yang ia sangat benci namanya Santun. Sesuai dengan namanya anak ini selalu menentang segala perbuatan yang Budi lakukan karena menurutnya hal itu tidak baik. Ia selalu menegur Budi dan mengkritik segala perbuatn Budi. Sampi tiba pada suatu waktu ketika Budi sedang ingin membolos dari pelajarannya ia tepergok dengan Santun. Seperti biasanya Santun menceramahi Budi dengan kata-katanya yang bijaksana dan penuh sopan santun sesuai namanya. Pada awalnya Budi diam saja, tetapi setelah 30 menit ia diceramahi oleh temannya yang cerewet itu.” Bud, mau kemana kamu?” tanya Santun heran. ”Aaaaku mau membolos. Apa urusanmu? Masuk saja ke kelas sana,” jawab Budi tegas.
” Aduh Budi, kamu tidak boleh membolos seperti itu. Itu merupakan suatu perbuatan yang tidak baik. Kamu sekarang seharusnya sudah kembali ke dalam kelas Bud. Di kelas Bapak Pantun sedang mengajarkan materi baru tentang cara mengarang puisi yang benar. Kamu seharusnya ikut Bud,” kata Santun dengan logat khasnya itu”Kamu mau apa sebenarnya? Dasar anak culun. Tidak kenal kamu siapa saya? Saya ini preman tahu,” bentak Budi kesal. “Kamu tahu preman? Preman itu adalah anak nakal yang tidak pernah menurut pada peratutan dan peraturan itu dibuat memang untuk dilanggar,” lanjut Budi.
Ia pun merasa tidak tahan lagi dan geram mendengar nasihat dari Santun. Mukanya sudah mulai memerah, ia sudah mulai mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul muka Santun. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera memukul mukanya dan menghajar Santun habis-habisan. Santun pun tidak dapat melawan karena ia memiliki badan yang kecil dan juga kurus tidak seperti Budi yang berbadan besar dan berotot. Pada awanya postur tubuh Budi memang seperti Santun, tetapi sejak ia gemar berolahraga badanya menjadi kekar dan kuat. Setelah puas memukuli Santun, Budi segera meninggalkannya dan berlari memanjat pagar sekolah untuk melanjutkan niatnya yang tertunda untuk membolos. "Jangan ganggu saya lagi. Awas kamu!" katanya sambil pergi memanjat pagar. Ia juga pernah terlibat dengan tawuran antar pelajar sampai-sampai ia hampir dimasukkan ke dalam penjara, tetapi karena ayah Budi merupakan orang yang kaya maka ia tidak jadi dimasukan ke dalam penjara.
Budi juga bergaul dengan anak-anak yang kurang baik. Pergaulan Budi sangatlah buruk, ia selalu bergaul dengan anak yang suka berjudi, menggunakan narkoba, menjual barag yang ilegal dan lain-lain. Budi mengenal pergaulan seperti ini dari sifatnya yang buruk dan kebiasaan-kebiasaan buruknya seperti suka duduk-duduk di tempat-tempat yang banyak terdapat anak-anak nakal. Di sana,ia meras sangat nayaman karena ia dapat menemukan teman-teman yang serupa seperti dirinya. Dari pergaulannya itu ia belajar bagaimana cara untuk merokok, memakai narkoba, menipu orang, merampok, mencuri, dan sebagainya yang membuat sifat buruknya itu makin berkembang dari hari ke hari.
“ Bud, coba kamu rasakan narkoba ini enak sekali,” kata Paul yang merupakn slah satu temannya.” Iya, terimakasih ya,” jawab Budi sambil mencicip narkoba itu.” “Gimana rasanya Bud?” tanya Paul dengan bangga.”Enak sekali. Saya tidak pernah merasakan hal senikmat ini sebelumnya,” jawab Budi sambil menikmati narkobanya.
Sebenarnya para guru sudah mengetahui hal ini tetapi mereka malas untuk mengambil tindakan karena Budi merupakan anak yang sudah terkenal keras kepala dan suka melawan serta nakal. Akhirnya orang tua Budi mempunyai akal yang cemerlang. “Jika kamu, berulah maka ayah dan ibu tidak segan-segan untuk memindahakan kamu ke kota lain hingga kamu berubah,”ujar ayahnya tegas. “Baik yah,”jawab Budi sedih. Memang tidak dapat dipungkiri ayah dan ibunya melakukan ini dengan berat hati, tetapi hal ini mereka lakukan demi kebaikan anak mereka Budi. Selama bertahun-tahun hal ini berjalan dengan baik. Setiap Budi berulah ia akan dipindahkan ke kota lain. Dalam 1 tahun Budi dapat pindah sebanyak 3 kali karena mengalami permasalahan yang sama yaitu berkelahi dengan temannya dan terlibat dalam perkelahian atau yang biasa disebut tawuran antar pelajar. Dari hidupnya yang berpindah-pindah ini ia menjadi memperoleh banyak teman baru .

......beberapa tahun kemudian.......

Tak terasa sekarang Budi sudah menjadi seorang anak yang tumbuh cukup dewasa dan kini ia sudah duduk di bangku kuliah. Pada waktu memasuki universitas ini Budi juga tidak dapat masuk semudah itu saja. Memang dalam hal nilai pada rapor dan peringkat di kelasnya sudah baik. Namun, pihak perguruan tinggi tidak dapat menerima tingkah laku Budi yang nakal itu. Ia sudah dicap sebagai anak yang menjadi aib dan merusak nama baik bagi sekolah-sekolah ternama di kota itu di masa lalu. Oleh karena ayah Budi merupakan orang yang penting dan sebagai slah satu pemegang saham dalam universitas tersebut Budi diizinkan untuk berkuliah di tempat itu. Pada semeseter awal Budi menunjukkan adanya perubahan. Hal ini dikarenakan keputusan ayah dan ibunya yang selalu memindah-mindahkan Budi setiap ia mendpat maslaah. Ia dapat belajar dengan baik tanpa ada masalah-masalah seperti tawuran, berkelahi, dan segala hal yang ia lakukan semasa ia bersekolah pada waktu dahulu. Nilainya sekarang pun semakin membaik lagi ia juga sudah memperoleh banyak teman. Para gurupun menjadi salut memuji sifat Budi yang kian hari kian membaik. “Bagus Bud, nilaimu sudah meningkat. Sifatmu dan pergaulanmu pun sudah berubah. Tingkatkan serta pertahankan ya Bud hal ini,” ujar salah satu dosen ketika jam kuliah selesai. “Iya pak, terimaksih atas pujian bapak,”jawab Budi dengan tersenyum bangga. Selam beberapa bulan ia menjalani hidupnya sebagai seorang anak dengan prestasi yang gemilang. Di universitasnya ia selalu aktif mengikuti kegiatn-kegiatan sosial yang berdampak positif bagi kehidupanya. Ia selalu datang kuliah tepat waktu dan yidak pernah membolos seperti yang dilakukanya dulu. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, tidak terasa ia sudah memasuki kuliahnya semester terakhir dan tinggal beberapa bulan lagi ia lulus. Ayah dan ibunya merasa bangga padanya. Cita-cita Budi pun terasa semakin dekat, sejak kecilia bercita-cita untuk menjadi seorang pilot yang dapat membawa ayah dan ibunya tercinta untuk terbang berkeliling dunia. "Ayah bangga padamu nak," kata ayahnya. "Ibu juga nak," ujat ibu Budi sambil memeluk anaknya itu. "Terimakasih Pak, terimakasih Bu," jawab Budi terharu. "Nanti jika Budi sudah lulus Budi akan masuk ke tempat penerbangan dan akan membawa ayah dan ibu berkeliling dunia dengan pesawat," lanjut Budi bangga. "Iya nak ayah dan ibu akan selalu mendukung cita-citamu asalkan sesuai dengan kehendak Tuhan," ujar ayahnya.

******

Pada suatu malam Budi merasa lapar, ia memutuskan untuk pergi keluar rumah untuk membeli sedikit makanan tunuk mengisi perutnya yang kosong itu. Ia memakai jaket dan membawa sedikit uang dalam dompetnya untuk membeli makanan. Lalu ia turun dan mengambil kunci mobil dan segera mengemudikan mobilnya keluar dari rumahnya. "Budi, mau kemana kamu malam-malam begini?" tanya ayahnya. "Budi lapar yah. Budi mau mencari makan sebentar di warung karena Budi melihat di kulkas sudah tidak ada makanan lagi jadi Budi memutuskan untuk pergi sebentar yah," jawab Budi sopan. "Oh begitu, ya sudah jangan telalu lam ya nak ini sugah malam," lanjut Ayahnya.
"Janga terlalu malam ya nak pulangnya," teriak Ibunya dari dalam. "Baik bu,"jawab Budi sambil menutup pagar rumahnya dan pergi. Rumah makan demi rumah makn ia hampiri , tetapi tidak ada yang buka semua sudah tutup karena itu sudah malam. Budi sudah mulai bingung kemana ia harus memuaskan rasa laparnya itu. Setelah berjam-jam berkeliling ia menemukan sebuah warung kecil dengan penerangan yang seadanya. "Akhirnya saya bisa makan. Perutku sudah lapar sekali,"gumam Budi dalam hati. Lalu ia turun dari mobilnya dan duduk di warung tersebut. "Pesan nasi goreng satu porsi," kata Budi sesampainya di warung. Tak disangka disana ia bertemu dengan teman lamanya Paul yang dulu menawarkannya narkoba. Dulu Paul dan Budi sama-sam tertangkap oleh polisi pada saat sedang pesta narkoba. Mereka berdua sama-sama mau dimasukkan ke dalam penjara, tetapi karena ayah Budi berunding dengan polisi tersebut dan mempunyai banyak uang akhirnya ia tidak jadi dipenjara. Sebaliknya, temannya Paul yang merupakan bandar narkoba dan berasal dari keluarga yang tidak jelas latar belakangnya dimasukkan ke dalam tempat rehabilitasi dan dipenjara selama 2 tahun. Setelah keluar dari penjara ia kembali lagi hidup dalam narkoba dan hingga sekarang masih menjadi buronan polisi. "Paul ya?"tegur Budi. "Eh kamu Bud, darimana saj kamu selama ini suadah lam tidak ketemu yah," ujar Paul sambil menghisap rokoknya. " Gimana kabarmu Paul?"tanya Budi. "Yaaa beginilah, saya sejak di penjara menjalani hidup yang susah. Semua keluarga tidak ada yang peduli pada saya. Mereka tidak pernah menjenguk saya. Di penjara saya merasa sendiri kesepian dan tidak ada teman. Sayua meas tertekan Bud hidup di penjara. Disana Hidupny keras, para tahanan disuruh makan makanan yang basi dan sudah kadarluarsa. Pada saat masa rehabilitasi juga sulit. Jatah narkoba yang diberikan pada kami selalu diberikan dengan dosis yang sangat sedikit sehingga kamimterkadang merasa sakit karena keinginan tubh kami akan narkoba tidak dipenuhi," jelas Paul. "Ooh begitu susah sekali hidupmu. Kalau saya sejak kita terakhir betemu saya selalu tinggal di kota-kota yang berbeda-beda. Orangtua saya selalu memindahkan saya ke kota yang berbeda jika saya mendapatkan masalah. Tetapi sekarang say sedang berkuliah di salah d=satu universitas dengan jurusan pilot. Sebentar lagi saya sudah mau lulus," jawab Budi sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong kamu mau apa datang kemari malam-malm Bud?" tanya Paul. "Oh saya mau membeli makanan, perut saya lapar sekali, di rumah makanan sudah habis jadi saya kesini untuk makan,"jawab Budi. "Eh Bud, ini ada narkoba untukmu," tawar Paul. "Tidak, tidak. Saya sudah tidak memakai barang seperti itu lagi terimakasih," tolak Budi.
Namun karena iman Budi belum kuat dan ia merasa tidak enak dengan teman lamanya Paul ia pun mencicipi narkoba itu dan langsung menjadi ketagihan karena Paul memberikannya dalam dosis yang tinggi. Di rumah, ayah dan ibu Budi sudah merasa cemas tentang anak mereka. Hari semakin larut dan Budi Belum pulang juga. Mereka menuggu anakanya itu semalamn dan tidak tidur. Mereka sudah berkali-kali menelpon telepon genggam Budi ,tapi tidak dijawab. "Aduh, Budi kemana ya Bu? Kenapa tidak pulang padahal ia cuman mau membeli makanan saja," ujar ayah Budi pada istrinya. "Waduh tidak tahu, pak ibu juga cemas sekali,"jawab ibunya sambil menangis. Akibatnya Budi membolos kuliah selama beberapa minggu. Budi tidak Pulang Selam berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan. Ayah dan Ibunya berusaha menelpon teman-teman Budi untuk menayakan apakah Budi menginap di rumah mereka atau tidak. Mereka juga meminta bantuan polisi untuk membantu mencari anak kesayangan mereka Budi. Mereka memasang foto-foto anak mereka Budi di tempat-tempat umum dengan harapan anak mereka Budi bisa ditemukan secepatnya. Orang tua Budi juga memajang foto anak mereka di koran-koran, majalah-majalah, dan iklan-iklan di televisi-televisi swasta. Kuliah Budi juga menjadi terbengkalai ia sudah absen dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena kehilangan satu-satunya anak mereka yang dicintainya ibunya menjadi sakit-sakitan. Ia mengalami sakit yang sangat parah yaitu kanker pada bagian usus yang membuatnya hanya bisa terbaring lemas di ruang opname. Setiap hari ibunya hanya bisa menangis dan menangis. Keadaanya bertambah parah ketika dokter mengatakan hidupnya sudah tinggal beberapa bulan lagi. Bisnis ayahnya juga sudah hancur karena saham yang ia kelola sudah bangkrut karena adnay krisis moneter. Semua saham yang ia punya tiba-tiba habis seketika dan membuatnya jatuh miskin. Orangtua Budi terpaksa harus menjual rumah mereka, mobil mereka dan seluruh harta yang mereka punya untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Bahkan mereka harus hidup dengan terbelit hutang dan tinggal di lingkungan yang kumuh. IbuBudi juga harus dikeluarkan dari rumah sakit karena mereka tidak dapat melunasi tunggakan biaya perwatan rumah sakit yang sangat mahal itu.

........Sekitar 3 bulan kemudian......

Sekarang ayah Budi tinggal Sendiri di sebuah rumah tua yang kumuh dan usang. Istrinya tercinta sudah tiada karena penyakit yang menyerangnya sudah bertambah parah dan tidak ada biaya untuk pengibatan sehingga ia meniggal dan hanya meniggalkan sebush surat kecil yang ia pesankan utnuk diberikan kepada anaknya Budi kelak kalau sudah ditemukan. Tidak hanya itu saja pihak universtitas diman Budi dahulu berkuliah juga sudah mengeluarkan Budi karena ia sudah terlalu lama tidak masuk kuliah tanpa alasan yang jelas dan biaya kuliahnya pun sudah tidak dibayarkan lagi oleh ayahnya karena krisis ekonomi yang menimpa keluargai ini.
Namun dalam kesedihannya ini ayahnya yang tinggal sebatang kara ini diberikan informasi dari pihak kepoloisisan bahwa anaknya Budi sudah ditemukan dna sekarang sedang berada dalam kantor polisi. Setelah mendengar kaber itupun ia segera pergi ke kantor polisi yang dimaksud itu dan menemui anakany yang telah lama hilang itu. Sesampainya di kantor polisi ia segera menemui anaknya Budi dan memeluknya sambil menangis haru. "Budi, Budi anak ayah. Kamu kemana selama ini nak?" tanya ayahnya. "Budi sejak waktu malam itu pergi memebeli makanan Budi diberikan narkoba sihingga Budi tidak sadarkan diri. Semua uang Budi, telepon genggam, serta mobil yang Budi bawa dicuri oleh Paul teman lam Budi. Lalu Budi ditinggal di suatu tempat terpencil. Selam beberapa bulan Budi mencari jalan untuk pulang. Budi bertahan hidup atas pertolongan Tuhan, banyak orang yang merasa kasihan dengan Budi sehingga mereka memberiakan Budi sediki makanan untuk mengisi perut Budi. Suatu hari Budi ditemukan oleh polisi dan dibawa kesini," jelas Budi dengan terengah-engah.
Lalu mereka pun pulang ke rumah mereka yang kumuh itu. Di rumah ayahnya menceritakan semuanya pada Budi. Budi hanya bisa menangis mendengar cerita ayahnya itu. Mereka hanya bisa berdoa dan berdoa serta beriman agar Tuahn mau membukakan jalan yang terbaik bagi kehidupan mereka. Akhirnya ayah Budi mendapaykan hikmat untuk berjualan mainan anak-anak untuk mencukupi kehidupan mereka sehati-hari. Usaha yang dilakukannya ini berhasil dan bisa menjadi sumber mata pencaharian bagi hidupnya dan juga kehidupan anaknya Budi. Setelah bertahun-tahun menekuni usaha ini mereka bisa membayar segala hutang-hutang yang mereka punya dan memebeli kembali sapa yang ayahnya jual pada saat sedang bangkrut. Dalam usianya yang sudah tua ini Budi menemukan seorang wanita yang menjadi pujaan hatinya dan akhirnya mereka menikah.
Pada saat ayah Budi sudah tua ia terkena penyakit tulang yang sangat parah. "Budi, ayah sudah tua mungkin sebentar lagi Tuhan akan menjemput ayah dan akan meningalkanmu, tapi sebelum itu ada sebuah surat titipan ibumu yang harus ayah berikan padamu," kata ayahnya sambil memberikan surat itu pada Budi. Lalu Budi membuka surat itu dan membacakannya di depan ayahany serta istrinya. Begini isinya:
"Budi anakku, mngkin pada saat kamu membaca surat ini ibu sudah tidak ad di sampingmu lagi. Ibu mungkin sudah kembali ke pangkuan Bapa yang ada di Sorga. Ibu hanya ingin berpesan ketahuilah nak bahwa kita ini hidup tidak selalu lurus tetapi selalu berliku-liku selalu ada masalah yang menerpa. Budi, mungkin sekarang kamu sudah tidak bisa lagi mewujudkan cita-citamu sebagai seorang pilot, tetapi di balik itu semua selalu ada rencana Tuhan yang indah bagi hidupmu. Jadi pesan ibu untukmu adalah kita harus hidup sesuai dengan kejendak Tuhan bukan seusai kehendak kita karena Tuhan lebih mengetahui apa yang baik untuk hidup kita. Apa yang kita pikirkan dan kita rencanakan itu belum tentu seindah apa yang Tuhan rencanakan bagi kita dan juga belum tentu sejalan dengan rencana Tuhan bagi hidup kita. Oleh karena itu kamu Budi harus hidup sesuai degab rencan Tuhan bukan atas rencanamu sendiri"
Setelah Budi membaca isi surat itu ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan Budi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar