Kamis, 16 April 2009

Kedipan Mata Penuh Cinta

Karya : Devi Oktama Putri

Olin baru saja lulus dari SMP Cinta Damai. Ia adalah anak yang pintar. Ia lulus dengan nilai Ujian Nasional yang cukup tinggi.Tidak hanya pintar, Olin juga adalah anak yang cantik dan baik hati. Ia mempunyai tiga orang sahabat, yaitu Andrea, Bunga, dan Aurea. Mereka telah menjalin persahabatan ini selama tiga tahun. Olin, Andrea, Bunga, dan Aurea dijuluki Empat Serangkai versi 2009 oleh teman – temannya. Mereka selalu bersama dan memilih SMA yang sama, yaitu SMA Cinta Kasih.
Hari ini, Olin memulai hari pertamanya sebagai siswa di SMA Cinta Kasih. Sebagai siswa baru, tentu ia harus menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS). Olin sangat kesal, ia harus menguncir rambutnya sebanyak tujuh buah kunciran dengan tujuh macam warna pita yang berbeda, yaitu merah, jingga, kuning, hijau , biru, nila, dan ungu, seperti pelangi. Selain itu, ia juga harus memakai kaos kaki yang berwarna seperti pelangi. Benar – benar menyebalkan ! Di samping susah didapat, hal ini juga memalukan karena akan diadakan jalan pagi selama MOS yang diadakan selama satu minggu.
Pada saat istirahat, Olin menemui ketiga orang sahabatnya dan berbincang - bincang.
“Kamu masuk kelas berapa, Lin?” tanya Andrea.
“X.4, kamu?” Olin balas bertanya.
“X.11. Kayaknya kita berempat tidak masuk di kelas yang sama,” Andrea menjawab.
“Tidak apa – apalah. Kalau Tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama, pasti kita bisa sekelas lagi,” kata Olin.
“Ucapan kamu berlebihan sekali,” Bunga meneruskan.
“Harusnya kamu bangga punya teman seperti aku. Calon penulis!” kata Olin.
“Calon penulis tidak ada yang seperti kamu,” kata Aurea.
Kriiiiiiiiiing. Bel sekolah berbunyi dan mereka berempat masuk ke kelas masing – masing.

*****

Hari demi hari Olin lalui dengan semangat, meskipun ia dikerjai habis – habisan oleh kakak OSIS. Satu minggu berlalu dan ternyata Olin, Andrea, Bunga, dan Aurea lulus MOS. Mereka pun segera menuju ke papan pengumuman untuk mengetahui kelas mereka masing- masing. Mereka masih terus mencari sampai akhirnya ada teman yang mengatakan, “Hai empat serangkai, kalian sekelas. Kelas X.1.” Mereka berempat langsung meloncat gembira dan otomatis menjadi pusat perhatian semua siswa yang berada di dekat papan pengumuman itu.
Sesampainya di kelas, mereka bertemu dengan teman – teman baru. Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke kelas itu.
“Selamat pagi, anak – anak!” kata Pak Ivan
“Pagi, Pak !” jawab siswa X.1.
“Bapak yakin, kalian pasti sudah saling mengenal. Buktinya, banyak sekali siswa yang memakai seragam yang sama. Akan tetapi, akan lebih baik apabila kita saling memperkenalkan diri supaya lebih saling kenal lagi,” kata Pak Ivan.
Semua siswa memperkenalkan diri mereka masing – masing dan setelah itu kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa.

*****
Satu minggu berlalu. Siswa – siswa di kelas X.1 mulai terlihat lebih akrab, terutama siswa laki – laki. Olin dan tiga orang sahabatnya itu juga sudah mulai terlihat
akrab dengan siswa lainnya. Empat serangkai itu juga sudah dapat berinteraksi dengan siswa yang berbeda asal sekolah. Keakraban mulai terlihat di kelas X.1. Ternyata, siswa – siswa di kelas X.1 adalah siswa – siswa yang tidak sombong dan dapat menerima temannya satu sama lain meskipun berbeda asal sekolah.
Pada saat pelajaran Geografi, kelas X.1 belajar di laboratorium IPS. Posisi tempat duduk di laboratorium itu membentuk huruf U, sehingga siswa laki – laki akan berhadapan dengan siswa perempuan. Seperti biasanya, empat serangkai itu bagaikan memiliki lem yang tak bisa dilepaskan. Mereka duduk berempat di barisan yang sama. Kebetulan, Olin berhadapan dengan temannya pada saat SMP dulu, yaitu Axel. Dari dulu, Axel dan Olin memang suka saling berdebat raut wajah yang bisa membuat teman – teman di sekitar mereka tertawa. Axel duduk bersebelahan dengan Kevin. Kevin adalah teman Axel sejak SD. Ia adalah anak yang pintar dan agak jahil, tetapi sebenarnya ia adalah anak yang baik.
Kevin melihat tingkah Axel dan Olin yang aneh. Ia pun ingin mengetahui siapa yang duduk berhadapan dengan Axel. Ia pun menanyakan kepada Axel siapa nama cewek yang bertingkah aneh dan duduk berhadapan dengan Axel itu. Setelah itu, Kevin ikut – ikutan berdebat raut wajah dengan Olin. Olin merasa Kevin sangat aneh dan tidak membalasnya. Kevin terus berusaha bermain raut wajah dengan Olin. Kevin memanggil – manggil Olin, tetapi Olin tetap tidak memberikan reaksi apapun.
Setelah pelajaran Geografi berakhir, mereka kembali ke kelas dan menyambut pelajaran berikutnya, yaitu Sosiologi.
“Selamat pagi. Buka buku cetak kalian halaman 1. Lihat peta konsep itu! Saya akan membahasnya satu per satu dan garisi yang penting – penting dengan pena merah! Perhatikan baik – baik ucapan saya karena semua kata yang keluar dari mulut saya itu berguna!” kata Pak Rudi.
Olin tidak mempunyai pena merah dan bertanya kepada tiga orang temannya itu. Mereka bertiga juga tidak punya pena merah. Mungkin slogan “Satu untuk Semua” memang cocok untuk Empat Serangkai versi 2009 ini. Olin pun menanyakan hal yang sama pada Kevin.
“ Bolehkah aku meminjam pena merah kamu?”tanya Olin.
“ Boleh. Ini, pakai saja dulu,” kata Kevin.
Kevin memberikan pena merah itu sambil mengedipkan kedua matanya. Di dalam pikiran Olin, ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, Kevin masih ingin berdebat raut wajah dengan Olin dengan cara mengedipkan matanya. Kemungkinan yang kedua, Kevin cacingan. Akan tetapi, Olin tidak menghiraukannya.
Pelajaran Sosiologi pun berakhir dan secara otomatis pelajaran di sekolah pun berakhir karena Sosiologi merupakan pelajaran terakhir pada hari itu. Olin mengembalikan pena merah Kevin sambil bertanya “ Kamu cacingan, ya?” Kevin tidak menjawab dan terus mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum – senyum. Di dalam pikiran Olin pun muncul kemungkinan ketiga, yaitu Kevin sudah gila.

*****

Keesokan harinya…
“Bolehkah aku meminjam buku Matematika kamu? Aku tidak mengerti soal nomor 5. Maukah kamu mengajarkan caranya kepadaku?” kata Kevin.
“Boleh,” kata Olin.
Olin sangat terkejut melihat Kevin yang sangat serius itu. Di dalam pikiran Olin pun muncul kemungkinan keempat, yaitu Kevin adalah orang yang bisa mengubah ekspresinya di saat – saat tertentu. Olin pun mengajarkannya kepada Kevin. Tak lama kemudian bel sekolah pun berbunyi.
Pelajaran pertama mereka hari ini adalah pelajaran Biologi. Siswa – siswa di kelas X.1 dibagi dalam kelompok – kelompok untuk melakukan pengamatan terhadap objek yang telah ditentukan dan hasil pengamatan itu harus dikumpul besok pagi. Olin, Andrea, Bunga, Aurea, Axel, dan Kevin tergabung dalam kelompok 3. Mereka harus melakukan pengamatan pada eceng gondok. Mereka melakukan pengamatan dengan serius. Hasil pengamatan itu harus dicatat oleh semua anggota kelompok, tetapi hasil sementara dicatat oleh Olin. Empat puluh menit berlalu. Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi dan mereka harus kembali ke kelas.

*****

Bel istirahat pertama berbunyi.
“Bolehkah aku meminjam hasil pengamatannya?” tanya Kevin.
“Boleh,” kata Olin sambil memberikan buku, lalu meninggalkan Kevin.
“Tunggu!” Kevin menjerit.
“Ada apa?” tanya Olin sambil menoleh ke arah Kevin.
“Jangan tinggalkan diriku!!!” kata Kevin.
Olin bingung dan di dalam pikirannya muncul kemungkinan kelima, yaitu Kevin gila dan stres karena kebanyakan belajar.
“Tulisanmu tidak jelas. Cewek kok tulisan jelek, sih,” kata Kevin.
“Itulah uniknya diriku. Harusnya kamu bangga bisa sekelas dengan aku,” Olin menjawab sambil tertawa.
“Iya, iya. Sekarang duduk dan terjemahin satu per satu tulisan kamu yang tidak jelas ini,” kata Kevin.
Sejak saat itu mereka terlihat akrab dan menjadi bahan pembicaraan utama para biang gosip di kelas mereka. Andrea, Aurea, dan Bunga juga ikut – ikutan menggosipi teman akrab mereka itu.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Pelajaran berikutnya adalah pelajaran Matematika. Guru pelajaran Matematika adalah Pak Ricky. Pak Ricky adalah guru yang aneh. Ia adalah guru yang suka bercanda dan apabila mulutnya sudah mulai berbicara, ia tidak akan berhenti sampai jam pelajaran selesai apabila tidak ada yang memotong pembicaraannya untuk mengingatkannya. Oleh karena itu, beberapa murid ada yang tertidur apabila sedang mengikuti pelajaran Matematika karena kebiasaan Pak Ricky yang aneh ini. Maklumlah, karena menurut berita – berita yang beredar, Pak Ricky masih sedih karena ia tidak memenangkan lomba pidato pada saat ia masih SMA dulu, sehingga sampai sekarang ia masih terus berlatih berpidato melalui pembicaraan – pembicaraan yang ia lakukan. Selain itu, meskipun ia adalah guru Matematika, ia juga sering memberikan ilmu sosial kepada murid – muridnya.
Khusus hari ini, siswa X.1 belajar di laboratorium Matematika. Pada saat Olin memasuki pintu laboratorium Matematika, Kevin langsung menyelip dan memotong Olin. Jalan pun jadi macet karena ulah mereka berdua.
“Aku duluan!” kata Kevin sambil menjulurkan lidah kepada Olin.
Olin tak menghiraukan dan membiarkan Kevin masuk duluan. Olin pun semakin yakin bahwa tingkah – tingkah Kevin selama ini mulai menunjukkan titik terang, yaitu mengarah pada kemungkinan keempat dan kemungkinan kelima.
Setelah semua siswa X.1 masuk ke laboratorium Matematika, Pak Ricky pun mulai berbicara.
“Murid – muridku yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, murah senyum, sayang pada orang tua, ramah, dan rajin, kali ini Bapak akan membagi kalian dalam kelompok yang terdiri dari dua orang, yaitu laki – laki dan perempuan. Jangan tanyakan mengapa kelompoknya seperti ini. Bapak hanya ingin kalian menjadi laki – laki dan perempuan yang normal dan tidak melakukan penyimpangan sosial, seperti lesbian atau homo seksual. Seperti yang kita ketahui, zaman sekarang ini memang zaman edan. Ada – ada saja yang dilakukan anak remaja sekarang, seperti narkoba, lesbian, homoseksual, dan lain – lain yang menyimpang dari nilai dan norma yang seharusnya menjadi pedoman yang utama bagi kita. Oleh karena itu, mari kita……,”kata Pak Ricky yang dipotong oleh Ricky. Murid yang satu ini memang memiliki nama yang sama dengan guru Matematika yang unik ini.
“Maaf, Pak. Ada yang mau saya katakan,” kata Ricky.
“Ada apa saudara kembarku? Eh, maksudnya murid yang memiliki nama yang kembar denganku. Maklumlah, Ricky adalah nama yang keren sehingga semua ibu – ibu yang ada di dunia ini memakai nama saya sebagai nama anak mereka. Ricky itu artinya kerajaan, jadi bisa disimpulkan bahwa saya adalah raja dan kalian semua adalah rakyatnya. Sebagai rakyat, kalian harus menurut kepada raja kalian ini. Akan tetapi, karena kalian masih kecil, kalian bisa menganggap saya sebagai ayah kalian. Tentunya, kalian akan bangga bila bisa mempunyai ayah seperti saya, selain ganteng, keren, saya juga pintar. Selain itu………,” kata Pak Ricky yang dipotong lagi oleh Ricky.
“Pak, sebelumnya saya mau minta maaf. Tetapi, sepertinya yang Bapak bicarakan ini tidak ada hubungannya dengan tugas yang akan Bapak berikan, bahkan Bapak juga belum memberitahu kami apa yang harus kami kerjakan, Pak,” kata Ricky.
Pak Ricky pun terdiam sejenak dan wajahnya mulai terlihat serius.
“Maafkan Bapak. Bapak tahu, yang Bapak bicarakan ini tidak ada hubungannya dengan tugas kita. Tugas kalian adalah bekerja sama dengan orang yang sudah Bapak tentukan untuk melakukan pengamatan terhadap sekolah kita , kemudian membuat maket sekolah kita yang tercinta ini. Bapak beri kalian waktu selama seminggu dan minggu depan akan dikumpul. Bapak tidak mau mendengar bahwa ada di antara kalian yang tidak mengerjakan tugas ini karena satu minggu adalah waktu yang lama. Jadi, kalian harus membuat maket ini dengan sebaik – baiknya. Kalian bisa mengadakan pengamatan dari sekarang. Silakan kalian turun ke bawah untuk melakukan pengamatan supaya tugas ini bisa cepat selesai,” kata Pak Ricky. Sebenarnya, semua siswa X.1 bingung mengapa Pak Ricky menjadi serius dan tidak membicarakan hal – hal yang aneh. Akan tetapi, mereka bersyukur karena mereka tidak harus mendengarkan pembicaraan yang panjang dan tidak ada hubungannya dengan pelajaran itu.
Sesuatu yang tak terduga terjadi. Olin sekelompok dengan Kevin. Suasana kelas itu semakin ricuh saja dan gosip – gosip pun meluas ke seluruh penjuru dunia, bagaikan artis saja. Lalu, siswa – siswa X.1 turun untuk membuat melakukan pengamatan.
“Kita mau buat maketnya dengan skala berapa?” tanya Olin.
“Nantilah baru kita pikirkan, yang penting kita gambar dulu sekarang. Kamu yang gambar saja, ya,” jawab Kevin.
“Tapi…,” kata Olin yang dipotong oleh Kevin.
“Tapi gambar kamu jelek, kan? Kamu emang cewek yang paling aneh, tulisan jelek, gambar pun tak bisa. Oh Tuhan tolonglah aku. Janganlah kau biarkan diriku, sekelompok dengan Olin. Sebab bila itu terjadi, akan ada maket yang terluka. Oh Tuhan tolong diriku,” kata Kevin sambil bersenandung dan tertawa.
“Enak saja! Siapa bilang aku tidak bisa menggambar? Tadi, aku mau bilang, aku tidak membawa kertas, bukan tidak bisa menggambar. Bilang saja, kamu tidak bisa menggambar,” Olin menjawab.
“Memang tidak bisa,” kata Kevin sambil tertawa terbahak – bahak.
Melihat Kevin tertawa terbahak – bahak, Olin pun ikut tertawa, karena Olin adalah orang yang suka tertawa. Kevin pun diam – diam mulai menaruh hati pada Olin.
“Nomor handphone kamu berapa?” kata Kevin.
“Buat apa?” tanya Olin.
“Buat tugas kita ini. Kalau aku tidak punya nomor handphone kamu, bagaimana aku bisa bertanya dan mendiskusikan maket kita ini?” Kevin menjawab.
“Benar juga, ya. Handphone kamu di mana? kata Olin.
“Buat apa? Mau kenalan dengan handphoneku, ya? Lebih baik kenalan dengan orang yang punya saja. Orangnya ganteng, lho,” Kevin menjawab dengan bangganya.
“Buat kasih nomor handphone,” kata Olin dengan nada yang agak meninggi.
“Jangan marah – marah! Mata kamu tambah sipit kalo marah,” kata Kevin.
Kevin pun semakin tertarik pada Olin. Sepertinya, Kevin sudah mulai suka pada cewek yang tulisannya jelek ini. Olin dan Kevin pun melanjutkan pengamatan mereka. Murid – murid lain juga melakukan pengamatan, tetapi pengamatan terhadap Olin dan Kevin. Andrea, Bunga, dan Aurea merasa bahwa teman mereka yang satu ini mulai didekati oleh seorang laki –laki. Sebagai teman baik, mereka sangat senang melihat hal itu dan sambil mengawasi dua sejoli itu.

*****

Malam harinya, Olin menerima pesan singkat dari Kevin. Awalnya, mereka membicarakan tentang maket. Namun, lama – kelaman, pembicaraan mereka mengarah pada obrolan lain. Kevin pun mulai menerapkan panggilan sayang kepada Olin yaitu sipit. Olin pun begitu. Ia memanggil Kevin dengan sebutan sipit karena mata Kevin juga sipit. Karena panggilan mereka berdua sama, maka disepakatilah bahwa Olin adalah Sipit 1 dan Kevin adalah Sipit 2. Mereka mulai mengenal satu sama lain, meskipun tidak terlalu banyak.
Kevin semakin ingin tahu tentang Olin. Ia menanyakan tentang masa - masa SMP Olin di SMP Cinta Damai. Olin pun menceritakan masa – masa pendidikannya di SMP yang menyenangkan dan teman – temannya yang baik dan lucu. Kevin juga menceritakan pengalamannya di SMP Cinta Dunia. Mereka juga saling melontarkan kata – kata lucu. Olin dan Kevin memang cocok. Mereka sama – sama suka bercanda dan tertawa. Apapun yang Olin bicarakan, Kevin bisa membalasnya dengan jawaban yang berhubungan dengan kata – kata Olin dan membuat Olin tertawa. Begitu juga jika Kevin membicarakan sesuatu, Olin bisa langsung mengerti dan membalasnya dengan jawaban – jawaban yang bisa membuat Kevin tertawa. Mereka bagaikan memiliki hubungan batin yang kuat dan mempunyai pikiran yang sama.

*****
Keesokan harinya…
“Pagi, Sipit 1!” kata Kevin.
“Pagi juga, Sipit 2!” kata Olin.
Teman – teman di sekitar mereka merasa aneh karena panggilan seperti itu. Menurut mereka, telah terjadi sesuatu di antara Kevin dan Olin. Meskipun belum diumumkan secara resmi, tetapi bunga – bunga cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Pada hari itu, siswa – siswa kelas X.1 sudah sepakat untuk mengerjakan maket sepulang sekolah. Semua kelompok mengerjakannya sambil bersuara karena ada beberapa siswa laki – laki dan siswa perempuan tidak bisa akur pada saat sedang bekerja sama membuat maket, tetapi tidak untuk Kevin dan Olin. Mereka sangat akur. Ikatan batin mereka yang tadinya seperti tali rafia sudah mulai menguat seperti tali tambang. Maket yang mereka buat sangat rapi.
“Horeee! Akhirnya, maket kita selesai juga,” kata Olin
“Iya, tapi kamu jangan teriak seperti itu, Sipit 1. Mata kamu menjadi tambah sipit,” kata Kevin.
Olin hanya tersenyum. Kevin sangat senang melihat Olin tersenyum, seperti ada peri kecil di hadapannya. Hatinya berbunga – bunga ketika melihat Olin tersenyum gembira. Lalu ia mengedipkan kedua matanya kembali.
“Sudah lama kamu tidak mengedipkan kedua matamu. Cacingan kamu kambuh, ya?” kata Olin sambil tertawa
“Kamu kan belum beli obatnya, “kata Kevin.
“Di mana resepnya?” kata Olin
“Hilang,”kata Kevin.
“Bagaimana aku bisa membelikan obat buat kamu kalau resepnya hilang?”tanya Olin.
“Kamu pergi ke kutub utara, cari yang namanya Dokter Kevin, “kata Kevin.
“Bagaimana cara pergi ke kutub utara itu?”tanya Olin
“Naik angkutan umum warna ungu,”kata Kevin
“Mana ada angkutan umum warna ungu,” kata Olin.
“Makanya, kamu beli satu mobil, kamu cat dengan warna ungu, lalu di mobil itu kamu tulis “Angkutan Umum Jurusan Kutub Utara”. Itulah angkutan umum warna ungu.” kata Kevin.
Mereka berdua tertawa dengan candaan mereka yang aneh itu. Sebenarnya, Kevin tidak cacingan. Kevin mengedipkan kedua matanya hanya untuk membuat Olin tertawa. Setiap hari, Kevin selalu mendekati Olin dengan berbagai cara. Olin selalu mengisi hari – hari Kevin dengan canda dan tawa, sehingga Kevin merasa nyaman ketika berada di dekat Olin. Begitu juga dengan Olin. Ia merasa bahwa Kevin adalah teman yang baik dan enak diajak bicara. Ikatan batin di antara mereka semakin kuat. Olin dan Kevin adalah pasangan yang paling kompak di kelas X.1. Mereka saling memberi semangat satu sama lain.

*****
Hari demi hari Kevin lalui dengan bahagia. Hari – harinya dipenuhi dengan bunga – bunga cinta yang ia dapatkan dari Olin. Semakin lama, ia merasa perasaannya kepada Olin semakin kuat. Olin juga merasakan sesuatu dengan Kevin. Suatu hari, Kevin mencoba mengungkapkan perasaannya kepada Olin.
“Hei, Sipit 1!” kata Kevin.
“Ada apa Sipit 2?” tanya Olin.
“Aku mau bicara sesuatu,” kata Kevin.
“Tentang apa?” tanya Olin.
“Tentang kita.” kata Kevin.
“Itu lagu, kan?” Olin meneruskan.
“Bukan. Aku serius!” kata Kevin.
“Wah, hebat! Aku baru tahu kalau seorang Sipit 2 bisa serius juga,” kata Olin sambil tertawa.
“Jangan tertawa!”kata Kevin.
“Mamaku bilang, tertawa itu bisa buat kita awet muda, lho,” kata Olin.
“Iya juga ya,” jawab Kevin.
“Karena itu, mari kita tertawa bersama!” ajak Olin.
“Olin, aku lagi serius!” kata Kevin.
“Iya, iya. Bicaralah!!!” kata Olin.
“Aku…….,”kata Kevin.
“Olin, ayo cepat! Kalau kita tidak pulang sekarang, nanti kita bisa telat ke bimbingan belajar, “ kata Aurea.
Olin meninggalkan Kevin. Kevin kesal. Ia belum sempat berkata apa – apa tentang perasaannya itu. Besok hari libur. Kevin dan Olin hanya bisa bertemu di bimbingan belajar mereka.

*****
Keesokan harinya di bimbingan belajar…
“Hei, Sipit 1!” sapa Kevin
“Ada apa Sipit 2?” tanya Olin.
“Aku mau melanjutkan yang kemarin,” kata Kevin.
“Lanjutkanlah!” jawab Olin.
“Sebenarnya, aku hanya ingin mengatakan……,”kata Kevin.
“Olin, apakah kamu mau makan es krim?” tanya Bunga.
“Iya, boleh,” jawab Olin.
Olin kembali meninggalkan Kevin karena Olin adalah penyuka es krim dan permen. Apapun yang berhubungan dengan kedua hal itu, ia pasti langsung datang. Jantung Kevin semakin berdetak kencang bila ia berada di dekat Olin. Semakin lama ia tidak menyatakan perasaannya, ia merasa detakan jantungnya semakin cepat. Kevin memutuskan untuk mengatakan hal ini nanti, setelah pulang dari bimbingan belajar.
Saat pulang, Kevin berusaha mengejar Olin agar ia tidak pulang terlebih dahulu, dan untungnya, Olin belum dijemput.
“Mengapa kamu belum pulang?” tanya Kevin.
“Belum dijemput. Mungkin satu jam lagi karena ayahku mau menjemput adikku terlebih dahulu, “jawab Olin.
“Lama sekali,” kata Kevin.
“Iya,” kata Olin.
“Aku mau melanjutkan yang tadi. Intinya, aku suka sama kamu. Aku merasa nyaman kalau dekat kamu. Kamu itu berbeda dari cewek lainnya. Itu saja,” kata Kevin.
Olin hanya tersenyum – senyum saja. Tanpa ia sadari, mukanya memerah. Lalu Kevin bertanya lagi.
“Menurut kamu, aku orangnya seperti apa?” tanya Kevin.
“Hmm…Sipit 2 adalah orang yang baik hati, suka menolong, rajin menabung , murah senyum, rajin berdoa, dan sayang kepada orang tua,” kata Olin.
“Aku lagi serius, Olin!” kata Kevin.
“Iya, iya. Maaf, tetapi kamu memang orang yang baik dan enak diajak bicara,” jawab Olin.
“Kalau perasaan kamu?” tanya Kevin sambil mengedipkan kedua matanya.
“Hari ini, perasaanku senang sekali karena tadi pagi aku mendapatkan boneka beruang yang besar dari tanteku,” jawab Olin sambil tertawa.
“Bukan itu, maksudku bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanya Kevin dengan wajah serius.
“Begitulah. Rahasia!” jawab Olin dengan wajah memerah.
“Iih, kok dirahasiakan, sih?” kata Kevin.
Olin hanya tersenyum – senyum saja, lalu Kevin berkata lagi.
“Besok dijawab, ya! Itu kamu sudah dijemput. Sampai jumpa besok, sayangku,” kata Kevin.
“Enak saja. Jangan panggil aku dengan sebutan begitu! Ya sudah, sampai jumpa besok,” kata Olin.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok Sipit 1 sayangku,” kata Kevin sambil mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum – senyum. Kevin lega karena akhirnya ia berhasil mengungkapkan perasaannya itu tanpa ada gangguan. Akan tetapi, ia juga harus bersiap – siap akan jawaban yang akan diberikan Olin besok.

*****
“Hei, Sipit 1, jawabannya apa? tanya Kevin dengan penuh harap – harap cemas.
“Jawabannya 6 log 9,” jawab Olin.
“6 log 9? Maksudku jawaban pertanyaanku yang kemarin. Jawabannya apa?” tanya Kevin.
“Pertanyaan yang mana?” tanya Olin dengan wajah polosnya.
“Kamu sebenarnya benar – benar tidak tahu atau pura – pura tidak tahu atau pikun, sih? tanya Kevin.
“Ooo, yang kemarin, ya? Nanti saja ya, setelah pulang,” jawab Olin.
“Oke. Tapi jangan pikun lagi, ya! Masih muda kok sudah pikun,” kata Kevin.
Setelah pulang les, Kevin secepat kilat langsung menghadang Olin. Ia tak sabar lagi menunggu jawaban dari Olin.
“Jadi jawabannya apa?” tanya Kevin.
“11 log 15,” jawab Olin.
“Tadi katanya 6 log 9, sekarang 11 log 15. Maksudku, jawaban pertanyaanku yang kemarin, Olin,” kata Kevin sambil mengedipkan kedua matanya dan tersenyum – senyum.
“Aku mau beli permen dulu, ya,” kata Olin.
“Aku juga mau,” kata Kevin.
Mereka pun makan permen berdua dengan rasa yang sama, yaitu rasa stroberi. Pada saat sedang memakan permen, Kevin menanyakan hal yang sama.
“Olin, kamu suka dengan aku atau tidak?” tanya Kevin.
“Aku jawabnya setelah selesai makan permen saja, ya, “ jawab Olin.
Kevin menunggu Olin makan permen dengan sabar. Ternyata, Olin membeli lima buah permen. Untuk memakan satu permen, Olin membutuhkan waktu 20 menit. Kevin tetap menunggunya dengan sabar sampai akhirnya Olin selesai memakan semua permennya itu. Kevin pun bertanya kembali.
“Olin, jadi bagaimana?” tanya Kevin.
“Bolehkah aku membeli es krim terlebih dahulu?” tanya Olin.
“Boleh, tetapi setelah menjawab pertanyaanku. Kamu suka padaku atau tidak?” tanya Kevin.
“Apa aku boleh menunda untuk menjawabnya?” tanya Olin.
“Boleh, tetapi ditunda lima detik saja. Ini sudah lima detik, jadi jawabanmu apa?” kata Kevin.
“Iya,” Olin menjawab dengan muka memerah.
Seketika itu juga, Kevin meloncat gembira. Ternyata, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak saat itu mereka semakin akrab dan bertambah akrab. Mereka saling mendukung dan semakin kompak. Mereka juga dinobatkan sebagai pasangan teraneh dan terkompak di SMA Cinta Kasih.

2 komentar:

  1. Lucu y cerpenny.. Aq sampe ketawa2 sendiri bacanya.. Hahaha..
    Pertama aku kira si Olin sama Axel tapi ternyata sama si Kevin..
    Good Job Pottie.. (^.^)

    NB: Ada nama Ricky-ny jg ternyata.. Haha..

    BalasHapus
  2. Pottie, q tw klo kalian t disuruh pke EYD, tpi kiro2...
    Guru mtkny stres nian...
    N brentila pke namo kevin, di antara cerpen2 kalian ado bnyk nian namo kevin...

    BalasHapus