Senin, 20 April 2009

Rasa Ini . . .

Karya : Caecilia Izabelle Gumulya / 05


Hari ini, Castaltoncroel High School terlihat seperti hari-hari biasanya, yang selalu ramai dengan para murid yang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Lapangan basket pun penuh dengan siswa-siswa cowok yang sedang berusaha membuang-buang energi mereka walaupun hari masih pagi, dan juga para anggota cheerleader yang sedang menyesuaikan gerakan mereka seirama dengan suara pantulan bola.

Begitu pula yang terjadi di lapangan parkir, para siswa yang membawa mobil ke sekolah berusaha membidik lokasi yang tepat dan bagus di tempat parkir untuk memarkirkan mobil mereka, kecuali satu. Mobil Mustang convertible berwarna pink mengkilat berjalan melintasi tempat parkir siswa menuju tempat khusus yang dibatasi garis berwarna pink tepat di depan sekolah. Demetria Roubell Stewart, putri tunggal donatur terbesar di Castaltoncroel High School ini dan sekaligus menjabat sebagai presiden klub drama, melangkah keluar, gerakan kakinya seirama menyusuri halaman sekolah yang dipenuhi dengan para siswa yang sedang lalu-lalang menuju pintu masuk sekolah.

Pintu sekolah pun seolah mengayun membuka dengan sendirinya ketika Bella melangkah masuk, rambut blondenya yang panjang berdesir di belakangnya. Ia melaju sepanjang koridor tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri, atasan kemeja ruffles putih ditambah dengan vest berwarna soft pink dipadukan dengan bawahan rok tartan hitam-shocking pink dan dengan sentuhan terakhir berupa sepasang sneaker putih dan koas kaki berwarna putih berlist merah muda, tampak serasi dengan gerak kakinya yang terlihat terkoordinasi dengan baik, seperti seorang model yang sedang berjalan di atas catwalk. Siswa-siswa lain tampak memberi jalan kepadanya, saling bertabrakan agar dapat menyingkir dari jalannya.

Ia mencapai lokernya, yang berukuran dua kali lipat dari ukuran loker normal, yang juga sangat senada dengan warna mobilnya, pink. Ia memandang ke sekeliling untuk memastikan agar tidak ada orang yang melihat saat dia memasukkan kombinasi nomor dan membuka kunci kombinasinya. Ia pun dengan sigap mengambil buku kalkulus dan sains, dan tidak lupa membawa buku notes berwarna pinknya sembari sesekali melihat jam tangan Levi’s pink miliknya.

‘Sebentar lagi pelajaran Ms Meinson dimulai, sepertinya aku harus bergegas. Bella, good luck for today!’ batin Bella dalam hati sambil menutup kembali loker miliknya.

Buukk . . .

Sepertinya good luck yang tadi diucapkan oleh Bella tidak berpengaruh banyak. Buktinya, baru saja Bella melangkahkan kaki beberapa langkah dari loker big size miliknya, dia sudah ditabrak oleh cowok yang bisa dibilang cukup keren dan tampangnya juga nggak beda-beda jauh dengan Lucas Grabeel ataupun Zac Efron.

“Ups, sorry.” cowok itu pun mengucapkan permohonan maafnya.

“Aku lagi buru-buru. See ya.” lanjutnya sambil bergegas pergi dari hadapan Bella yang dari tadi bengong menunjukkan ekspresi tak percaya.

‘Emangnya dia pikir dia itu siapa sih? Belum tahu ya kalau aku adalah queen di sekolah ini!! Dasar cowok aneh!’ batin Bella dalam hati sambil menunjukkan ekspresi cemberut.

♪♫♪

“Baiklah anak-anak, ketua OSIS sekaligus ketua editor buku tahunan sekolah kita akan memberikan pengumuman yang sangat penting. Charlotte, silakan.” ujar Ms. Meinson sambil memberikan tempat bagi Charlotte untuk memberikan pengumuman.

Charlotte pun segera memulai, tapi sebelum sempat dia memulai, pintu pun diketuk oleh seorang cowok yang tak lain dan tak bukan merupakan cowok yang tadi bertabrakan dengan Bella tadi.

“Ya, masuk.” Ms. Meinson pun mempersilahkan kepada cowok itu untuk masuk. “Kamu pasti anak baru pindahan dari London High School.” lanjut Ms Meinson.

Pertanyaan itu pun hanya dijawab dengan anggukan dan seulas senyum oleh cowok yang memiliki mata berwarna biru muda dan rambut berwarna dark brown itu.

“Okay, silahkan perkenalkan diri kamu pada teman-temanmu.”

“Nama saya Sethdeans David Carrizosa, kalian bisa memanggil saya Seth.” Cowok itu pun memperkenalkan dirinya di depan kelas. Suaranya terdengar sangat renyah dan enak untuk didengar.

“Baiklah Seth, kamu bisa duduk di kursi kosong itu.” ujar Ms. Meinson sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang berada di baris ketiga dari depan.

Dan tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Seth langsung bergegas menuju tempat yang memang sudah lama tidak berpenghuni itu.

‘Oh, ternyata namanya Seth, dan dia juga satu kelas denganku. Benar-benar hari yang sial.’ batin Bella yang baru menyadari kehadiran Seth karena sedari tadi dia sibuk menatap layar Blackberry miliknya untuk membuka situs internet dan melihat koleksi terbaru yang dikeluarkan oleh Prada dan Gucci.

“Baiklah, saya akan melanjutkan pengumuman yang sempat tertunda.” terdengar suara alto milik Charlotte memecah keheningan. “Akhir bulan ini, sekolah kita akan mengadakan Masquerade Waltz Party, diharapkan semua siswa dapat ikut berpartisipasi . . . kalian bisa meminta tiket Masquerade Waltz Party kalian pada Anneclaire, dan rapat akan diadakan pada hari Jumat, untuk itu jadwal kelompok belajar pada hari Jum’at akan diundur menjadi Senin minggu depan. Ada pertanyaan?”

Semua orang pun bisa melongo mendengar penjelasan dari Charlotte yang sepertinya hanya dia ucapkan dalam satu tarikan nafas.

‘Sepertinya aku harus membeli baju baru untuk Masquerade Waltz Party nanti.’ batin Jordan yang duduk di pojok kiri belakang.

‘Masquerade? Sepertinya membosankan.’ kali ini Jason yang menggerutuk di dalam hati.

‘Menu spesial kantin hari ini kira-kira apa ya?’ Mike pun dari tadi hanya mengkhayal makanan apa saja yang akan menantinya pada saat jam istirahat tanpa mendengarkan pengumuman yang disampaikan oleh Charlotte tadi.

‘Masquerade Waltz Party. Hmm . . . sangat menarik! Sepertinya aku harus menghubungi Caroline Marxs untuk membuatkanku gaun yang sangat ISTIMEWA.’ ucap Bella dalam hati sambil sesekali mengulaskan senyum di bibirnya setiap kali membayangkan seistimewa apa gaunnya nanti.

Seth pun hanya duduk manis di tempatnya tanpa memperdulikan orang-orang di kelas yang sedari tadi sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dia hanya diam dan sesekali mencoret-coret buku catatannya yang terlihat sudah penuh dengan sketsa gambar.

“Any question?” Charlotte pun mengulang kembali pertanyaannya.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih Charlotte. Silahkan kembali ke tempat dudukmu.” Ms. Meinson pun mulai lagi berceloteh tentang masa depan yang belum selasai dia bicarakan pada pertemuan sebelumnya.

Dan sepertinya, beliau harus bersabar untuk berpidato alias berceramah di depan kelas tentang masa depan itu, karena bel pun berpihak pada para murid yang sepertinya sudah sangat bosan setiap kali mendengar celotehan Ms. Meinson.

Mereka pun bergegas membereskan barang-barang mereka, dan bergegas menuju kelas berikutnya, kalkulus.

♪♫♪

Jam istirahat.

Kantin pun telah penuh dengan orang-orang yang pastinya ingin mencicipi menu spesial kantin hari ini.

Bella pun berdiri dalam antrian sambil memegang nampan siangnya yang lagi-lagi berwarna pink.

“Tolong Lasagna nya satu.”

“Puding strawberry satu.” pesan Bella ketika sampai pada antrian dessert.

“Milkshake strawberry nya juga satu.”

“Tolong saladnya juga satu.” Bella pun memesan salad kesukaannya. “Yang organik. Thanks.” lanjunya.

Bella pun duduk di meja yang selalu tersedia untuknya. Meja berwarna pink yang menghadap langsung ke arah taman yang salau terawat dan sangat indah untuk dipandang. Taman itupun dipenuhi dengan berbagai macam bunga, seperti mawar, matahari, daisy, baby rose, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tanpa sengaja, saat di hendak mengangkat kepalanya, tatapannya pun berpapasan dengan Seth yang duduk tak jauh dari mejanya. Mereka pun saling bertatapan cukup lama, tapi tak satu pun dari mereka mengerti arti tatapan mereka itu.

‘Ya ampun, cowok itu lagi? Kenapa nggak Orlando Bloom saja sekalian yang ada di hadapanku atau Justin Timberlake pun tak apa-apa, kenapa mesti cowok itu lagi?’ batin Bella.

Akhirnya, Bella pun melanjutkan acara makan siangnya, dan mengalihkan pandangannya ke taman bunga yang sekarang telah dikerubungi oleh sekelompok kupu-kupu yang sangat indah.

♪♫♪

Bella berlari-lari kecil menaiki tangga menuju tempat persembunyian favoritnya, taman bunga di atap yang dikelola oleh klub gardening. Di saat kepalanya mumet dan rasanya mau pecah, dia selalu datang ke sini, karena pemandangan yang dapat dilihat dari sini sangatlah indah.

Tapi, saat ini dia sepertinya dia tidak sendirian di atas sana. Ada tamu tak diundang.

‘Seth? Ngapain dia di sini? Ganggu suasana saja!’

“Kamu Seth, ya?” akhirnya Bella memberanikan diri untuk bertanya pada cowok yang sedang memunggunginya itu.

Cowok itu pun berbalik dan melihat Bella yang terlihat sangat cantik dengan dress terusan bercorak flora dan sepasang high heels.

‘Tuh kan benar kalo itu Seth.’ Bella pun sepertinya sedang sibuk berkutat dalam hatinya sendiri.

“Kamu ngapain di sini?” Bella pun bertanya sambil berjalan maju melewati cowok yang juga terlihat sangat keren, mengenakan kaos putih dipadankan dengan jaket training berwarna merah dan celana jeans, dan juga sepasang sneaker Converse berwarna hitam.

“Memangnya ada larangan ke sini?” akhirnya Seth pun angkat bicara.

“Heh?” Bella pun mencari kata-kata yang tepat untuk membalas pertanyaan Seth. “Ada. Karena ini adalah wilayahku, dan kamu ngapain di sini?”

Seth tidak menjawab. Dia pun hanya berbalik dan berjalan menjauhi Bella.

“Hei, tunggu!”

Bella berusaha menarik lengan jaket Seth, tapi karena memang pada dasarnya cowok lebih kuat daripada cewek, malahan Bella yang hampir terjatuh, kalau saja tangan Seth tidak sigap menahan tubuh Bella yang hampir terjatuh.

Pandangan mata mereka pun bertabrakan untuk kedua kalinya.

Akhirnya, Bella pun sadar kalau posisinya saat ini tidak menguntungkan.

“Sorry.” Bella pun berusaha menyadarkan Seth.

“Ups, sorry.” kali ini Seth yang meminta maaf.

“Kamu itu ya, selalu saja membuatku hampir celaka. Kalau kuku-kukuku yang cantik ini sampai rusak, kamu mau ganti?!?” ujar Bella sewot.

“Ha? Kuku? Emang aku pikirin!” mereka pun saling berperang mulut.

Bella rasanya mau teriak, menjerit, dan mencekik leher orang yang nyebelinnya nggak ketulungan itu, kalau saja tidak dihentikan oleh . . .

♪Oh, and it rains in your bedroom, everything is wrong. It rains when you’re here and it rains when you’re gone. ‘Cause I was there where you sai d forever and always.♪ terdengar suara message allert milik Bella.

“Ups, tunggu sebentar, sepertinya ada sms masuk.”

Bella pun menatap layar Blackberry miliknya, dan seketika dia memekik kegirangan.

“Kenapa? Kok tiba-tiba teriak histeris begitu?” tanya Seth yang merasa heran melihat perubahan drastis dari ekspresi wajah Bella.

“Ada sale besar-besaran di LV!” Bella pun terlihat bersemangat.

“Aku pergi dulu ya. Dadah.” lanjutnya sambil melangkah meninggalkan Seth yang menunjukkan ekspresi bengong.

‘Dasar Miss Shopaholic!’ batin Seth dalam hati.

♪♫♪

“Hei! Ngapain kamu menghalangi mobilku!” teriak Bella pada mobil Aston Martin V12 Vanquish yang menghalangi mobil Mustang convertible pink miliknya.

“Hei!” teriak Bella sekali lagi.

Pengemudi mobil Aston Martin V12 Vanquish itu pun keluar dan berjalan menuju mobil Bella.

“Hei Bells, terserah aku dong mau memarkir mobilku di mana saja.” Seth pun sepertinya ingin memulai perang mulut lagi dengan Bella.

“Memang terserah kamu mau markirin mobil kamu di mana saja kamu suka. Tapi ada satu pengecualian, jangan pernah kamu menghalangi tempat parkirku. Memangnya kamu tidak lihat ada garis pembatas berwarna pink itu? Itu kan wilayahku!” protes Bella.

“Kamu kan bisa memutar balik mobilmu dan parkir lewat jalan satunya. Kenapa aku yang harus mengalah?”

“Karena aku yang berkuasa di sini!” jawab Bella dengan sedikit memekik.

“Oh ya?” Seth pun hanya memasang wajah innocent miliknya dan sejurus kemudian dia pergi dari lapangan parkir, dan kemudian memasuki gedung sekolah.

Bella pun mendengus kesal.

Dia pun akhirnya dengan sangat-sangat-sangat terpaksa harus memutar balik mobilnya, daripada dia harus merelakan mobil kesayangannya itu lecet karena bela-belain menabrak mobil milik Seth.

‘Dasar cowok nyebelin! Okay Bella, show must go on.’ batin Bella dalam hati.

♪♫♪

Semenjak murid baru yang bernama Seth itu masuk ke dalam kehidupan Bella, sepertinya kegiatan rutin harian Bella bertambah satu, yaitu perang mulut dengan Seth.

Bella pun berjalan melewati koridor menuju loker miliknya. Tanpa sengaja dia melihat pemandangan yang bisa dibilang mirip dengan adegan-adegan yang ada di telenovela atau di film-film remaja yang sedang marak-maraknya tayang di televisi.

Seth dan Blair, sedang mengobrol di depan loker Seth. Blair adalah anak cheerleader yang bisa dibilang cukup sempurna, selain sering mengukir prestasi di bidang akademis, dia pun juga sangat berprestasi di bidang non-akademis.

Bella pun mengintip dari pintu lokernya. Ada perasaan yang berbeda terbesit di dalam hatinya. Perasaan cemburukah?

‘Sepertinya mereka sudah cukup akrab. Ngapain mereka ngobrol-ngobrol di depan loker Seth? Pakai pegang-pegangan tangan lagi!!’ perasaanya pun berkecamuk di dalam hati.

‘Wait, aku cemburu? Nggak mungkin!! Nggak mungkin aku cemburu sama cewek itu, toh Seth bukan siapa-siapa aku. Dia itu cuman seorang cowok nyebelin yang suka cari gara-gara. Titik. Ya ampun Bella, nggak mungkin kamu suka sama Seth!! Sadar Bells, sadar!’ Bella pun membanting keras pintu lokernya dan mengunci lokernya itu, dan bergegas pergi sebelum kepalanya pusing mendengar suara-suara yang teriak di dalam hatinya.

♪♫♪

Malam harinya, Bella duduk termenung di dekat jendela sambil menatap langit yang bercahaya dengan adanya kerlap-kerlip bintang yang senantiasa menjadi penerang di malam hari.

‘Bintang . . . nggak mungkin banget kalau aku suka sama Seth. Pernah kepikiran suka sama dia saja nggak pernah dan nggak minat sama sekali. Tapi, tadi saat aku ngelihat dia dengan cewek lain, perasaan yang muncul dalam diriku adalah perasaan cemburu. ARRGGHH!!! Pusing!!! Kenapa sih cinta itu begitu rumit? Kenapa dia selalu datang di saat yang tidak terduga? Tapi rasanya nggak mungkin aku suka sama Seth, dia itu kan cuman cowok nyebelin yang suka banget cari gara-gara. Nggak mungkin, nggak mungkin, dan nggak mungkin! Tapi . . . ARGGHH!!! Pusing!!!.’

Mungkin ini yang disebut dengan ‘benci berarti benar-benar cinta. Saat kita benci sama seseorang, otomatis pikiran dan tenaga pun terbuang hanya untuk memikirkan orang itu, dan perlahan secara tidak sadar, kita pun akan selalu memikirkan orang itu dan perasaan benci itu pun berubah menjadi perasaan cinta.

Bella pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang berbedcover warna pink miliknya dan sejurus kemudian dia tertidur pulas di atas bantal bulu angsanya itu.

♪♫♪

Saat pulang sekolah, Bella pun kembali ke lokernya untuk menaruh kembali buku kalkulus dan sastra miliknya. Saat dia membuka loker miliknya, ada secarik kertas yang jatuh, sepertinya ada seseorang yang menyelipkan kertas itu di loker Bella.

‘Siapa ya yang menaruh kertas ini? Membuat sampah saja!!’ akhirnya Bella pun dengan penasaran membuka lipatan kertas itu, dan melihat tulisan tangan yang tak asing baginya.

Aku tunggu di taman bunga di atap. Jangan lama-lama,

karena aku bukan tipe orang yang sabaran.

Hehehe . . . just kidding.

-Seth-

‘Ternyata dari Seth. Tapi, ngapain dia nunggu di taman bunga di atap?’ sebelum tercipta pertanyaan-pertanyaan baru di kepalanya, Bella bergegas menutup kembali lokernya dan segera menaiki tangga menuju taman bunga, tempat persembunyian faforitnya itu.

“Hei, kamu ngapain suruh aku ke sini? Bukan buat perang mulut lagi kan? Soalnya, lama-lama suaraku yang merdu ini bisa habis dengan percuma dan sia-sia karena keseringan dipakai untuk perang mulut dengan kamu.” dengan suara yang tersendat-sendat karena ngos-ngosan kehabisan nafas, akhirnya Bella baru menyadari kalau Seth sedang berdiri di depannya sambil membawa dua jas tuksedo.

“Menurut kamu mana yang paling bagus?” tanya Seth pada Bella.

“Ha? Menurutku semuanya bagus kok, tapi akan lebih bagus lagi kalau pada jas tuksedonya diberi sentuhan warna shocking pink.” jawab Bella asal.

“Pink? Nggak salah tuh?” Seth pun protes dengan jawaban asal Bella tadi. “Pilih salah satu yang menurutmu bagus.”

“Maksa banget sih!! Memangnya kenapa harus tanya ke aku? Pilih saja sendiri!”

“Soalnya aku yakin kamu akan kelihatan cantik sekali saat Masquerade Waltz Party dan aku mau kelihatan pantas.”

“Sepertinya ini sebuah undangan.” jawab Bella sambil mencerna setiap perkataan Seth.

Seth menjulurkan tangannya ke dalam salah satu jas tuksedo yang dia bawa itu, dan menarik dua buah tiket yang bertuliskan: Masquerade Waltz Party.

“Wow . . . aku sudah menolak beberapa ajakan, tapi sepertinya yang kali ini bisa kuperhitungkan.” Bella pun mengarahkan pendangannya pada jas tuksedo yang dibawa oleh Seth. “Menurutku yang warna hitam ini cocok untukmu, dan kurasa warnanya akan sangat serasi dengan warna gaun yang akan kupakai.”

“Jadi, kamu menerima ajakanku?”

“Pikir saja sendiri bodoh!” Bella pun pergi meninggalkan Seth yang terlihat sangat tidak percaya kalau Bella akan menerima ajakannya itu, karena dia mengira Bella tidak akan menerima ajakannya itu selama ini dia selalu saja mencari gara-gara dengan cewek yang shopaholic itu, hanya sekedar untuk . . .

Terlihat seulas senyum yang terpancar dari bibir Bella saat dia pergi meninggalkan Seth yang masih setia berdiri di tengah taman bunga itu walaupun gerimis sudah terlihat turun.

‘Bella, kalau saja kamu tahu kalau aku . . .’

♪♫♪

Bella pun datang ke Masquerade Waltz Party berdua dengan Seth. Bella yang mengenakan gaun ala Princess Anneliese berwarna soft pink sangat serasi dengan tuksedo ala pangeran kerajaan yang dikenakan oleh Seth. Mereka berdua pun memakai topeng yang sangatlah serasi dengan pakaian mereka.

Suasana pesta sangatlah ramai. Semua orang mengenakan gaun terbaik mereka, dan sepertinya para kaum hawa yang hadir di acara ini, sebelum datang, mereka telah menyempatkan diri pergi ke salon guna mempercantik diri mereka.

“Mau berdansa?” Seth mengulurkan tangannya pada Bella yang disambut dengan anggukan dari Bella.

“Tentu saja.” jawab Bella sembari menerima uluran tangan dari Seth.

Instrumen musik yang diputar pun sangat mendukung, ‘Claire de Lune’ dari Debussy.

Mereka berdua berdansa di tengah taman sekolah yang sekarang sudah dihias sedemikian rupa menjadi tempat pesta yang sangat mengagumkan, ditemani dengan keindahan malam dan kerlap-kerlip bintang yang senantiasa menghiasi malam dengan sinarnya.

“Ternyata kamu pintar berdansa juga ya?” tanya Bella memulai pembicaraan.

“Kamu juga pintar dalam hal berdansa.” ujar Seth sambil tersenyum. “Dan kamu sangat cantik malam ini.”

“Makasih. Dan kamu juga terlihat sangat tampan.” terlihat semburat warna pink di pipi Bella. “Tapi sudah kukatakan sebelumnya, kamu akan terlihat lebih tampan jika kamu memadukan warna shocking pink pada jas tuksedomu.”

“What? Pink? Nggak salah tuh. Emangnya aku pinky boy?” ujar Seth sedikit memekik.

“Emang salah ya kalau ngasih saran?” Bella pun memasang wajah cemberutnya.

“Nggak salah. Cuman saranmu itu yang salah.”

“Tapi kan warna pink itu bagus.”

“Kata siapa? Warna pink itu kan hanya untuk cewek!” mereka pun sepertinya akan memulai untuk perang mulut lagi.

“Oh ya?”

Seth pun menggenggam erat tangan Bella.

“Bells.” ujar Seth ragu-ragu.

“Apa?”

“Kemarin aku membaca sebuah novel, dan aku menemukan kutipan yang sepertinya sangat cocok untuk mengungkapkan perasaanku saat ini.” lanjut Seth.

“Oh ya, sepertinya aku harus meminjam novel itu darimu. Memangnya seperti apa isi kalimatnya?”

Seth pun menatap lekat mata cokelat milik Bella. “Before you, Bella, my life was like a moonless night. Very dark, but there was stars points of light and reason . . . And then you shot across my sky like a meteor. Suddenly everything was on fire; there was brilliancy, there was beauty. When you were gone, when the meteor had fallen over the horizon, everything went black. Nothing had changed, but my eyes were blinded by the light. I couldn’t see the stars anymore. And there was no more reason for anything.”

“Wow . . . itu pasti dari novel New Moon karya Stephenie Meyer, kan? Aku suka banget novel-novel karya dia, dan salah satu alasannya karena namaku juga sama dengan karakter tokoh utama di dalam novelnya. Dan alasan lainnya karena Edward Cullen itu keren banget!” ujar Bella kagum.

Seth tak menanggapi perkataan Bella.

“Bella, semenjak aku pertama kali melihat kamu, aku tahu kalau perasaan ini sudah ada, dan aku nggak mungkin sanggup lagi ini untuk menahan semua perasaan yang bergejolak dalam hati ini. Selama ini aku selalu cari gara-gara denganmu karena aku hanya ingin mencari perhatianmu. Bella, do you want to be my girlfriend?” tanya Seth pada Bella sambil berlutut di hadapan cewek yang sekarang hanya bisa bengong, menatap tak percaya.

“Do you want to be my Princess? Forever and always.” tanya Seth sekali lagi.

Seth pun menunggu jawaban dari Bella.

“You’ll be my Prince, and . . . I’ll be your Princess. Forever and always.” ujar Bella sambil memeluk cowok yang sekarang sudah menjadi pacarnya itu.

Mereka pun melanjutkan acara berdansa mereka yang sempat tertunda. Lagu yang diputar pun telah berganti menjadi ‘Flightless Bird, American Mouth’ dari Iron and Wine.

♪Have I found you? Flightless bird, jealous, weeping. Or lost you? American mouth. Big pill looming . . .♪

...

2 komentar:

  1. ik, kato-kato PINK t hrsnyo kw highlight pink byar q tmbh pening...

    kapan season 2-ny???

    BalasHapus
  2. Sil, n paduan Sharpay sm Troy y?

    Pinky girl lbh bagus d drpd pinky boy..

    Kaget jg aku kl s/d Seth yg barang''ny kebanyakan pink..

    BalasHapus