Oleh : Steven Liyanto
Yukiko Amagi, itulah namaku. Anak seorang pengelolah penginapan di Inaga – desa kecil yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Penginapan milik ayahku seringkali menarik perhatian turis. Itulah penyebab satu – satunya desa kami dapat bertahan.
Walaupun menjadi anak pemilik penginapan yang mempertahankan keutuhan desa, aku tak memiliki banyak teman.Satonaka Chie merupakan temanku satu – satunya. Dia baik, berani, dan selalu membantuku di setiap keadaan. Jadi, tidak sulit baginya untuk bergaul dengan orang lain.
Hari ini adalah hari ke- 6 setelah kegiatan belajar mengajar di sekolahku kembali dilaksanakan. Pagi itu, Pak Morooka – wali kelasku – memberitahukan kami bahwa kami akan mendapat teman baru yang berasal dari kota. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan. Saat aneh rasanya, jika melihat ada orang kota yang ingin tinggal di desa terpencil seperti ini.
“ Pagi, Pak “ Sapa murid – murid ketika Pak Morooka memasuki kelas
“ Pagi. Perkenalakan, ini Seta Souji. Mulai sekarang ia akan berada di kelas kalian.”
Aku terkesiap, ketika Pak Morooka menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Atmosfer terasa berbeda saat aku berada di dekatnya. Entah mengapa aku jadi bersemangat, bukan karena rasa ingin tau seperti Chie – yang dari tadi menanyai Seta – tapi karena ada sesuatu yang menarik dari dirinya.
“ Jadi kenapa kamu bisa pindah ke sini ? “ tanya Chie penyasaran
“ Itu karena orang tuaku. Mereka selalu sibuk, jadi mereka menitipkan aku ke pamanku.”
“ Oh ! Itu pasti sulit.”
“ Yeah. Ngomong ngomong, mau kah kalian menemaniku untuk berkeliling ? Aku harus membiasakan diri.”
“ Tidak masalah. Bagaimana denganmu, Yukiko ? “
“ Tentu.” Jawabku.
Kami bertiga mulai mengelilingi desa. Desaku tidak terlalu luas, jadi tidak akan memakan waktu lama untuk mengitarinya. Chie yang ingin tahu, terus – terusan menanyai Seta tentang alasan perpindahannya.
“ Menurutmu Yukiko itu bagaimana ?”
“ Oh, jangan mulai lagi Chie “ pintaku
“ Ayolah, jawab saja Seta. Dia tidak akan marah kok “
Setelah mengamati beberapa saat, ia mulai menjawab. “Dia cute, baik, dan “ Seta terdiam sejenak. “ Cantik.” Lanjutnya tiba tiba. Mukaku memerah, aku mencoba untuk mengendalikan perasaanku lagi. Aku juga mencoba untuk terlihat marah, tapi kurasa itu percuma.
“ Hampir seluruhnya benar. Asal kau tahu saja, dia itu idaman semua siswa. Bahkan banyak kakak kakak kelas yang mengajaknya pergi. Tapi sayangnya, sang putri tidak tertarik sedikit pun” Chie menambahkan sambil tersenyum puas. “ Selain itu, dia adalah anak dari pemilik penginapan “Amagi”. Penginapan itu adalah jantung dari desa ini. “ tambahnya.
Aku tak mampu membalas, semua yang dikatakannya itu benar. Jadi aku tak bisa mengomentari apa apa.
Hampir seluruh desa sudah kami lewati, jadi kami memutuskan untuk berhenti. “ Selamat tinggal “ ucapku sebelum meninggalkan mereka
Pagi masih terlihat sejuk, burung burung pun terus bernyanyi diatas pohon yang berada di depan kamarku, entah kenapa hari ini aku merasa bersemangat.., mungkin karena aku akan bertemu dengan Seta di sekolah nanti. Aku juga tidak mengerti kenapa aku ingin sekali bertemu dengan dia lagi. Padahal sebelumnya aku tidak pernah tertarik untuk bergaul dengan orang lain.
Aku tak mau berpikir lagi, itu sungguh membebaniku. Pertanyaan pertanyaan berkecamuk di pikiranku, namun tidak satupun yang aku ketahui jawabanya. Ugh! Itu benar benar membuatku frustasi. Jadi kuputuskan untuk bersiap siap dan pergi ke sekolah.
Saat perjalaanan ke sekolah, aku bertemu Seta. Masih banyak yang ingin kuketahui darinya. Jadi, kugunakan kesempatan ini untuk bertanya.
“ Kau di sini tinggal dimana ? “ tanyaku penasaran.
“ Aku tinggal di rumah pamanku, Ryotaro Dojima.”
“ Oh! Detektif itu ya ? “
“ Bingo.”
Kami terus berbicara sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya aku dapat berbicara banyak dengan orang lain, apalagi yang menjadi lawan bicaraku adalah seorang lelaki. Terkadang aku heran juga, bagaimana bisa aku bisa akrab dengan nya – Seta – padahal sebelumnya aku tidak pernah berteman dengan orang lain. “ Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab “ pikirku kesal.
Waktu berjalan dengan cepat hari ini, mungkin karena aku melewati hari ini dengan mengobrol dengan Seta. Percakapanku dengan dia berjalan dengan baik, bahkan lebih baik daripada bersama Chie. Sesaat sebelum bel tanda berakhirnya pelajaran, ia mengatakan ingin pulang bersamaku. Entah mengapa aku tak bisa menolak – seakan aku tidak mau menyakitinya - , jadi aku menyutujui permintaannya itu.
Tak jauh dari rumahku, terdapat sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi. Aku mengajaknya mampir ke sana. Tanpa alasan yang logis, aku mencurahkan kejenuhanku kepadanya. Kejenuhan yang selama ini kupendam sendirian. Tapi anehnya aku justru menceritakannya dengan orang yang baru aku kenal selama 2 hari.
“ Tahun depan.” Kataku pelan seusai mencurahkan isi hatiku. “ Tahun depan aku akan meninggalkan Inaga.” Lanjutku. Aku dapat melihatnya tersentak kaget. Pikirannya yang sedang di penuhi pertanyaan itu, terlihat jelas di raut wajahnya. Tapi aku diam saja, menunggunya berbicara.
“ Kenapa ? Karena peraturan konyol orang tuamu itu? “
“ Benar. Aku sudah bosan. Jangan bergaul dengan ini , jangan bergaul dengan itu. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sekarang lihat hasilnya, aku tak memiliki teman. “
“ Pikirkan baik-baik Yuki – nama yang cukup asing bagiku. Itu bukan pilihan yang tepat. Itu sama saja dengan kau melarikan diri dari masalahmu, dan itu tidak akan menyelesaikan apapun. “
“ Entahlah. Maaf karena aku telah menarikmu ke masalahku. “
“ Itulah gunanya teman. “ jawabnya sambil tersenyum
Senyumnya yang indah itu mententramkan jiwaku. Aku ingin terus berbicara dengannya, tapi karena hari sudah gelap, aku memutuskan untuk mengakhirinya.
Aku tak percaya bahwa aku menghabiskan sepanjang hari bersama Seta. Sungguh aneh rasanya aku dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain – selain Chie. Mengapa aku bisa bergaul dengannya ? Sedangkan tidak dengan orang lain ? Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiranku. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, kelelahan atas kegiatan mengalahkan semuanya. Tidak lama waktu yang kubutuhkan untuk tertidur.
Saat aku terbangun, mentari telah berada di atas desa. Tentu saja aku tidak perlu datang ke sekolah. Bukan bolos, melainkan karena hari ini adalah hari pertama dari liburan musim panas. Tak lama kemudian Handphone-ku berdering. Ternyata panggilan itu dari Chie.
“ Siang Yukiko. Apakah kau sibuk hari ini ? “
“ Tidak. Tidak ada yang dapat ku kerjakan hari ini.”
“ Kalau bergitu, apakah kau mau menemaniku jalan – jalan ? Kita bisa pergi ke Junes – salah satu tempat hiburan. Aku juga akan mengajak Seta bila kau tidak keberatan ? “
“ Baiklah. Temui aku di sana 1 jam lagi. “ Jawabku singkat seraya mematikan panggilan tadi. Sedetik kemudian, aku segera melompat dari tempat tidurku untuk bersiap – siap. Aku berusaha untuk terlihat rapi namun menawan – aneh juga kalau dipikir – pikir. Bernampilan rapi untuk pergi ke tempat hiburan ? Namun hal itu tidak mengubah niatku.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku merasa seperti gugup, seakan – akan aku harus tampil di depan orang banyak. “Kenapa aku harus gugup untuk bertemu mereka ? “ tanyaku pada diri sendiri. Pikiranku segera tertuju pada Seta. Kenapa perasaan ini selalu ada saat aku akan bertemu Seta ? Kenapa tidak jika aku berada di dekat orang lain ? Apakah aku telah jatuh cinta padanya ?
Kutinggalkan semua pertanyaan pertanyaan bodoh itu – mungkin karena aku tak bisa menjawab nya – dan segera menuju Junes. Aku melirik ke arah jam tangan yang melekat di lengan kiriku. Aku masih memiliki 20 menit, tapi aku berlarian seperti orang yang telat. Akhirnya aku sampai di Junes 15 menit lebih cepat dari seharusnya. Karena tak ada yang dapat dikerjakan, pikiran itu datang kembali. Mengapa aku harus terburu-buru seperti ini ? Apakah aku butuh waktu untuk menenangkan perasaan gugupku ini ? Ataukah karena aku tak sabar bertemu dengan Seta ?
Pertanyaan-pertanyaan itu menenggelamkanku. Mungkin aku tidak akan sadar jika Seta – ia sudah berdiri di sebelahku tanpa sepengetahuanku – tidak memanggilku. Kulirik wajahnya, terlihat jelas bahwa ia juga sedang memperhatikanku. Aku tertunduk, mukaku merah padam. Aku coba mengalihkan perhatianku dengan cara mencari-cari Chie. Namun aku tak bisa menemukannya. Jadi, aku berusaha membuka pembicaraan.
“ Tidak seperti biasanya , Chie telat. “
“ Oh! Tadi dia bilang bahwa ia tidak bisa datang hari ini. Ia takut kau kecewa, jadi ia tetap menyuruhku datang.”
“ Ini pasti salah satu dari rencananya. Tapi sudahlah. Tidak ada gunanya marah sekarang. Umm, kau keberatan kalau kita pergi ke supermarket dulu? “
“ Memangnya ada pilihan lain ? “ jawabnya sambil tertawa. Akupun ikut tertawa bersamanya.
Kami bergegas menuju supermarket – yang terdapat Junes. Setelah berada di supermarket, aku menjadi sibuk sendiri. Bahkan sesekali aku tidak menyadari keberadaan Seta di sebelahku. Ia tampak kesal dan bosan, jadi aku mengajaknya untuk pulang.
Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa hari sudah sore. Tapi aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya.
“ Hei Yuki, Buat apa kau membeli bahan makanan sebanyak itu ? Apa kau menjadi koki di penginapanmu ? “
“ Jangankan menjadi koki, memasak pun aku belum lulus. “
“ Maksudmu, kamu sedang belajar memasak ? “
“ Tepat. Kalau kau tidak keberatan, aku mau kau mencoba masakanku besok “
“ Tentu. Aku akan menantikannya. “
“ Kalau begitu, kau pasti memerlukan obat sakit perut. Jangan lupa untuk membawanya. “
Kami tertawa bersama - senang rasanya bisa tertawa lepas seperti ini. Tak pernah tepikirkan bahwa aku dapat tertawa dengan orang lain. Karena hari semakin gelap, Seta mengantarku pulang.
Sesampainya di rumah, aku bergegas mengeluarkan hasil belanjaanku – yang isinya merupakan bahan makanan semua. Aku mengira-ngira jenis makanan apa yang akan disukai Seta dan mulai memasak.
Detik demi detik, menit demi menit , jam demi jam telah berlalu. Bel tanda usainya pelajaran pun berbunyi. Aku segera menghampiri Seta dan mengajaknya ke kuil lagi. “ Nih, silakan dicoba. Tapi jangan marah ya, kalau ga enak. “ ujarku malu-malu. Seta mulai mencoba, diam-diam aku berharap agar masakanku tidak mengecewakannya.
“ Enak. Sudah kuduga, kau memang cocok jadi koki. “ sindir Seta. Aku dapat merasakan darah naik ke kepalaku, semburat merah itu pasti tampak jelas di wajahku. Aku menunduk, berusaha menutupi perasaanku. Seta tertawa melihat tingkah laku-ku.
***
Hari terus berganti. Ini merupakan bulan ke-3 sejak kedatangan Seta, dan sejak saat itu, hampir seluruh waktuku aku habiskan bersama dia. Heran juga aku, mengapa ia tidak bosan – sebenarnya aku juga tidak bosan – menghabiskan waktunya denganku. Jadi kuputuskan untuk menanyainnya sepulang sekolah nanti.
“ Boleh aku menanyakan sesuatu ? “ pintaku saat perjalanan pulang.
“ Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan ? “
“ Mengapa kau selalu menghabiskan waktumu bersamaku ? “
“ Kau keberatan ? “
“ Tentu saja tidak. Tapi pertanyaan itu selalu mengusikku. “
Ia tertawa ringan. “ Kau benar-benar ingin tahu ?”
“ Tentu. Kalau tidak mana mungkin aku menanyakannya padamu. “
Ia terdiam sejenak, sepertinya sedang menyusun kalimatnya. “ Itu karena.. Karena kau sayang sama kamu , Yuki.”
Aku terperanjat. “ B-Benarkah ? “ jawabku terbata-bata.
“ Yeah. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakannya. Tapi karena aku tidak dapat melihat perasaanmu padaku, aku memutuskan untuk menundanya. “
“Sesungguhnya aku juga memiliki perasaan yang sama dengan kamu. “
“ Berarti.. “
Aku mengangguk sebelum Seta menyelesaikan kalimatnya. Senyuman indah kembali merekah di wajahnya. Dengan sendirinya, kedua tanganku bergerak untuk memeluknya, ia membalas pelukanku, memberikan rasa hangat di hatiku.
- TAMAT -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar