Karya : Freshca Silvano
Pagi ini akan sama saja dengan pagi-pagi hari kemarin. Irina dan Renata pasti terlambat lagi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.40, tetapi Irina dan Renata belum berangkat ke sekolah. Padahal bel masuk sekolah akan berbunyi 15 menit lagi dan jarak yang akan ditempuh tidak terlalu dekat.
“Renata, kalau dalam hitungan lima detik lagi kamu belum keluar dari kamarmu, aku bakalan ninggalin kamu,” ancam Irina sembari berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
“Aduh, sabar dong, Rin,” jawab Renata sambil menyisir rambutnya untuk yang kesepuluh kali.
“Sabar? Sedari tadi aku sudah sabar sekali,” tukas Irina.
“Iya, iya.. Ini juga sudah selesai kok. Jangan marah dong. Yuk berangkat !” ajak Renata sambil menggandeng lengan Irina.
***
“Aduh..jalanannya macet lagi. Pasti terlambat nih. Mana mata pelajaran pertama hari ini Matematika pula. Pak Cipto kan guru yang paling disiplin di sekolah kita. Pasti aku tidak boleh ikut pelajarannya,” oceh Irina. “Pokoknya, kalau aku nanti disetrap, itu gara-gara kamu, Ren.”
“Lho..kenapa gara-gara aku? Kan bukan aku yang menyebabkan jalanan jadi macet,” jawab Renata sambil memandangi mukanya di cermin.
“Memang jalanan macet bukan karena kamu, tapi kita terjebak macet karena kamu.”
“Memangnya aku salah apa sih?”, tanya Renata polos.
“Masa kamu tidak sadar? Salah kamu itu karena kamu dandannya terlalu lama, jadi kita berangkatnya kesiangan. Kalau sudah jam segini jalanan pasti macet. Nah, kalau jalanan macet kita pasti terlambat. Dan kalau kita terlambat kita akan disetrap.” Jelas Irina panjang lebar.
“Ooo..itu masalahnya”, sahut Renata sambil menganggukkan kepalanya.
“Lagian, kenapa sih kamu dandannya lama sekali? Kita kan mau ke sekolah, bukannya mau tampil di panggung.”
“Yah..tidak ada alasan khusus sih, tapi sebagai perempuan kan wajar kalau dandannya lama.”
“Aku juga perempuan, tapi dandannya tidak pernah selama kayak kamu.”
“Kamu itu terlalu cuek. Kamu kan sudah kelas dua SMA, harusnya kamu jangan terlalu cuek dengan penampilan. Jadi kamu bisa merasakan indahnya masa pacaran di SMA”, Renata menasehati.
“Memang penting ya?” balas Irina ogah-ogahan.
“Ya penting dong, Rin. Penting sekali. Kamu itu kan cantik. Coba kalau kamu lebih memperhatikan penampilan, pasti sudah banyak cowok yang ngantri mau jadi pacar kamu”, jelas Renata yakin.
“Ooo..”
“Jadi?”
“Jadi apa?” tanya Irina bingung.
“Jadi kapan kamu mau mulai memperbaiki penampilan kamu?”
“Hah, aku belum kepikiran.”
“Ya sudah, pikirin sekarang. Atau kita mulai dari besok?”
“Aduh, Ren. Aku benar-benar belum kepikiran buat memperhatikan penampilan apalgi cari pacar. Daripada kamu sibuk Tanya pertanyaan yang tidak penting kayak gitu, mending kamu bantu aku mikir gimana caranya biar kita tidak disetrap lagi hari ini.”
“Aku sih tenang-tenang saja. Mata pelajaran pertama aku hari ini Bahasa Inggris, dan Miss Linda kan lagi cuti melahirkan,” jawab Renata santai.
“Berarti hari ini aku bakalan disetrap sendirian dong. Ugh, sial sekali,” gerutu Irina.
“Yang sabar ya. Semoga hukuman hari ini tidak terlalu berat,” hibur Renata, tetapi malah membuat Irina semakin jengkel, dan selama sisa perjalanan menuju sekolah Irina tidak mau membuka mulutnya lagi.
***
“Renata, kalau dalam hitungan lima detik lagi kamu belum keluar dari kamarmu, aku bakalan ninggalin kamu,” ancam Irina sembari berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
“Aduh, sabar dong, Rin,” jawab Renata sambil menyisir rambutnya untuk yang kesepuluh kali.
“Sabar? Sedari tadi aku sudah sabar sekali,” tukas Irina.
“Iya, iya.. Ini juga sudah selesai kok. Jangan marah dong. Yuk berangkat !” ajak Renata sambil menggandeng lengan Irina.
***
“Aduh..jalanannya macet lagi. Pasti terlambat nih. Mana mata pelajaran pertama hari ini Matematika pula. Pak Cipto kan guru yang paling disiplin di sekolah kita. Pasti aku tidak boleh ikut pelajarannya,” oceh Irina. “Pokoknya, kalau aku nanti disetrap, itu gara-gara kamu, Ren.”
“Lho..kenapa gara-gara aku? Kan bukan aku yang menyebabkan jalanan jadi macet,” jawab Renata sambil memandangi mukanya di cermin.
“Memang jalanan macet bukan karena kamu, tapi kita terjebak macet karena kamu.”
“Memangnya aku salah apa sih?”, tanya Renata polos.
“Masa kamu tidak sadar? Salah kamu itu karena kamu dandannya terlalu lama, jadi kita berangkatnya kesiangan. Kalau sudah jam segini jalanan pasti macet. Nah, kalau jalanan macet kita pasti terlambat. Dan kalau kita terlambat kita akan disetrap.” Jelas Irina panjang lebar.
“Ooo..itu masalahnya”, sahut Renata sambil menganggukkan kepalanya.
“Lagian, kenapa sih kamu dandannya lama sekali? Kita kan mau ke sekolah, bukannya mau tampil di panggung.”
“Yah..tidak ada alasan khusus sih, tapi sebagai perempuan kan wajar kalau dandannya lama.”
“Aku juga perempuan, tapi dandannya tidak pernah selama kayak kamu.”
“Kamu itu terlalu cuek. Kamu kan sudah kelas dua SMA, harusnya kamu jangan terlalu cuek dengan penampilan. Jadi kamu bisa merasakan indahnya masa pacaran di SMA”, Renata menasehati.
“Memang penting ya?” balas Irina ogah-ogahan.
“Ya penting dong, Rin. Penting sekali. Kamu itu kan cantik. Coba kalau kamu lebih memperhatikan penampilan, pasti sudah banyak cowok yang ngantri mau jadi pacar kamu”, jelas Renata yakin.
“Ooo..”
“Jadi?”
“Jadi apa?” tanya Irina bingung.
“Jadi kapan kamu mau mulai memperbaiki penampilan kamu?”
“Hah, aku belum kepikiran.”
“Ya sudah, pikirin sekarang. Atau kita mulai dari besok?”
“Aduh, Ren. Aku benar-benar belum kepikiran buat memperhatikan penampilan apalgi cari pacar. Daripada kamu sibuk Tanya pertanyaan yang tidak penting kayak gitu, mending kamu bantu aku mikir gimana caranya biar kita tidak disetrap lagi hari ini.”
“Aku sih tenang-tenang saja. Mata pelajaran pertama aku hari ini Bahasa Inggris, dan Miss Linda kan lagi cuti melahirkan,” jawab Renata santai.
“Berarti hari ini aku bakalan disetrap sendirian dong. Ugh, sial sekali,” gerutu Irina.
“Yang sabar ya. Semoga hukuman hari ini tidak terlalu berat,” hibur Renata, tetapi malah membuat Irina semakin jengkel, dan selama sisa perjalanan menuju sekolah Irina tidak mau membuka mulutnya lagi.
***
“Ugh..sial sekali sih nasib aku hari ini,” gerutu Irina dalam hati, sambil menghentak-hentakkan kakinya di setiap anak tangga.“Sudah capek-capek berlari ke lantai tiga, kasih alasan yang masuk akal, tapi tetap saja aku disuru turun ke Ruang Kesiswaan.”
Semakin lama Irina semakin memperlambat jalannya. Dia sangat malas berjalan menuju Ruang Kesiswaan, tetapi tidak berani mengambil resiko yang akan terjadi bila dia tidak ke sana.
“Wah..sepi sekali ruangan ini,” kata Irina setelah sampai di Ruang Kesiswaan.
“Hari ini memang tidak ada murid yang terlambat atau semua guru selain Pak Cipto lagi berbaik hati sehingga memperbolehkan murid-murid yang terlambat masuk kelas ya?” tanya Irina dengan suara yang sangat pelan sehingga lebih seperti bergumam.
“Terlambat lagi ya?” tanya Bu Bunga sambil tersenyum ramah.
“Iya, Bu,” jawab Irina malu-malu.
“Lho..mana teman kamu satu lagi itu? Yang sering terlambat bareng kamu?” tanya Bu Bunga lagi sambil melihat kearah belakang Irina, berharap akan melihat Renata.
“Hmm..Renata hari ini pergi duluan. Jadi tidak terlambat,” jawab Irina berbohong.
“Wah, saying sekali. Berarti hari ini cuma kamu sendiri yang dihukum,” kata Bu Bunga lalu tersenyum dengan sangat manis.
Irina sedikit bergidik melihat senyuman Bu Bunga. Walaupun Bu Bunga sangat ramah dan manis, tetapi hukuman yang diberikannya tidak ramah sama sekali. Semua hukuman yang diberikan Bu Bunga sangat berat dan terkadang memalukan.
“Sepertinya perkataan saya tadi salah. Ternyata kamu tidak sendirian hari ini. Kamu punya teman yang baru,” kata Bu Bunga tiba-tiba sambil melihat kea rah luar pintu.
Mendengar kata Bu Bunga tadi, Irina pun langsung melihat ke arah yang sama seperti yang dilihat Bu Bunga sekarang. Irina melihat seorang cowok yang berlari-lari menuju ke Ruang Kesiswaan dengan tas sekolah berada di punggungnya. Irina pun mengerti apa maksud perkataan Bu Bunga tadi. Dalam hati Irina senang karena bukan hanya dia yang terlambat hari ini.
Tidak sampai satu menit, cowok itu sudah memasuki Ruang Kesiswaan dan berdiri di samping Irina, menghadap Bu Bunga. Tampak ekspresi Bu Bunga yang agak bingung bercampur kaget.
“Dion? Tidak biasanya kamu terlambat. Maaf, maksud saya, tidak pernah kamu terlambat. Pasti ada alasan yang masuk akal sehingga kamu tidak perlu dihukum hari ini,” kata Bu Bunga. “Karena kamu tidak pernah terlambat sama sekali selama kamu sekolah di sini, maka kamu saya perbolehkan untuk masuk ke kelas.”
“Hah, apa-apaan itu? Memang apa sih istimewanya nih cowok sampai dibebasin dari hukuman? Enak sekali. Tidak seharusnya Bu Bunga berkata seperti itu. Seharusnya dia tetap memberi hukuman dengan cowok ini, karena cowok ini juga melanggar peraturan,” batin Irina sambil melirik kearah cowok yang bernama Dion itu.
Seakan bisa mendengar pikiran Irina, Dion menjawab perkataan Bu Bunga tadi. Jawaban yang tidak disangka sama sekali.
“Tidak, Bu. Saya mau dihukum bersama dia.” kata Dion sambil menunjuk Irina “Karena saya juga melanggar peraturan di sekolah ini,” lanjut Dion.
“Baiklah, kalau kamu memang ingin seperti itu. Saya bangga karena kamu dapat menyadari kesalahanmu.”
“Kamu beruntung, Irina. Karena ada Dion, hukuman yang Ibu berikan hari ini tidak seberat biasanya,” kata Bu Bunga sambil tersenyum.
“Kalian dihukum lari keliling lapangan lima kali. Setelah itu kalian tunggu sampai bel jam pelajaran pertama berakhir, baru kalian boleh masuk ke kelas kalian. Ibu harap kalian dapat menjalani hukuman ini dengan baik walaupun tanpa pengawasan, karena Ibu ada urusan penting yang harus dilaksanakan sekarang.”
“ Baik, Bu,” jawab Irina dan Dion kompak.
“Bagus, Ibu percaya dengan kalian. Sekarang kalian pergi lah ke lapangan dan jalani hukuman kalian,” kata Bu Bunga sambil berdiri dari kursinya dan mengambil beberapa dokumen penting dari mejanya.
Dion berjalan ke luar ruangan terlebih dahulu lalu disusul oleh Irina di belakangnya. Setelah itu, Bu Bunga juga keluar dari Ruang Kesiswaan dan berjalan menuju Kantor Kepala Sekolah.
***
Irina dan Dion lari keliling lapangan lima kali. Setelah berlari mereka berdua duduk di pinggir lapangan dengan nafas ngo-ngosan. Mereka sama-sama kecapekan.
“Duh, capek,” kata Irina setelah berhasil mengatur nafasnya kembali normal. “Oh iya, kenalin nama aku Irina,” kata Irina sambil mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda perkenalan.
“Aku Dion.” Jawab Dion singkat.
“Terima kasih ya kamu mau nemenin aku dihukum,” kata Irina membuka pembicaraan.
“Maaf, kayaknya kamu terlalu GR deh. Aku bukannya mau nemenin kamu dihukum. Aku cuma menaati peraturan yang ada,” jawab Dion sedikit cuek.
Mendengar jawaban Dion, Irina jadi kesal setengah mati. Terutama karena Irina dibilang kegeeran. Ini pertama kalinya dia dibilang kegeeran oleh seorang cowok yang baru dia kenal pula.
“Sialan nih cowok. Padahal aku cuma mau ngucapin terima kasih. Bukannya aku kegeeran. Ugh, buat hari aku jadi semakin jelek saja.” gerutu Irina dalam hati.
Kring ! Bel tanda jam pelajaran pertama berakhir berbunyi. Irina langsung berdiri, menyambar tas sekolahnya dari lantai lalu langsung pergi menuju kelasnya tanpa berkata apa-apa lagi kepada Dion.
Irina sangat kesal dan sengaja berjalan dengan menhentak-hentakkan kakinya. Dion memandang kepergian Irina sampai dia berbelok menuju koridor dan menghilang dari pandangan Dion.
Dion menundukkan kepalanya, lalu tersenyum mengingat Irina yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Lalu dia berdiri dan menyandang tasnya kemudian berjalan menuju kelasnya.
Sepanjang jalan menuju kelasnya, Irina masih sangat kesal walaupun dia sudah berhenti berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sekarang dia sudah berjalan seperti biasa, tetapi mukanya cemberut karena ingat perkataan Dion tadi..
Sesampainya di kelas, Irina menyadari bahwa ada yang lain dari biasanya. Suasana kelas sekarang sangat tenang. Semua murid duduk dengan rapi sambil membaca buku pelajaran Sejarah dengan serius. Beberapa detik kemudian Irina baru sadar kalau jam kedua ini ada ulangan Sejarah. Irina langsung berlari menuju tempat duduknya lalu segera mengeluarkan buku Sejarah dan membacanya. Sejenak Irina langsung lupa tentang kejadian di pinggir lapangan tadi.
***
“Lama sekali sih. Habis ngapain sih?” tanya Irina tidak sabaran.
“Dari toilet. Kenapa muka kamu cemberut kayak gitu? Ada masalah?” tanya Renata.
Irina hanya mengangkat bahu dan membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam mobil. Renata memandang Irina heran, lalu ikut masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang Irina hanya diam saja. Tidak biasanya dia tidak menanggapi perkataan Renata sama sekali. Renata jadi merasa kesal.
“Haloo..kamu dengar tidak sih? Aku jadi seperti bicara sama patung nih. Kamu kenpa sih?”
“Oh, maaf. Aku lagi kesal karena kejadian tadi pagi.”
“Kejadian tadi pagi? Kamu kesal sama aku ya?” tanya Renata sedih.
“Tidak. Aku bukan kesal sama kamu kok,” jawab Irina.
“Jadi karena apa? Cerita dong sama aku,” bujuk Renata.
Irina menarik nafas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya. Setelah itu dia menceritakan kejadian tadi pagi yang membuat dia kesal kepada Renata.
“Dion? Kamu tahu nama lengkapnya tidak?” tanya Renata setelah Irina selesai bercerita.
“Iya, namanya Dion. Tapi aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Tidak ada urusannya dengan aku,” jawab Irina sedikit ketus
“Orangnya kayak gimana?” tanya Renata ingin tahu.
“Hmm..orangnya tinggi, putih, badannya atletis, terus mukanya cakep,” jawab Irina. “Kenapa memangnya? Kamu punya teman yang bernama Dion di sekolah ini?” selidik Irina.
“Hah, tidak. Aku cuma mau tau saja kok. Tidak ada maksud apa-apa.” jawab Renata.
Irina merasa ada sesuatu yang aneh dalam nada bicara Renata tadi. Namun Irina berusaha mengabaikannya dan berkonsentrasi menyetirmobil. Sementara itu, Renata mengeluarkan ponselnya lalu mengetik SMS buat seseorang.
***
“Huh..tega sekali sih Bu Citra, masa buku sebanyak ini aku sendiri yang bawa? Kan banyak anak cowok yang bisa dimintain tolong. Kenapa harus aku sih yang disuru?” oceh Irina sambil membawa setumpuk buku di kedua tangannya.
Tumpukan buku itu cukup tinggi, sampai mencapai bagian kepala Irina dan membuatnya sulit melihat jalan.
Gubrak !
“Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong,” oceh Irina sambil mengambil bukunya yang jatuh dan berserakan.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku bantuin ya.”
“Memang sudah seharusnya kamu bantuin aku,” jawab Irina sedikit kesal.
Setelah selesai mengambil buku dari lantai, Irina baru melihat wajah orang yang menabraknya.
“Kamu?” kata Irina terkejut.
Ternyata orang yang menabraknya adalah Dion. Irina jadi teringat kejadian di pimggir lapangan yang membuatnya sangat kesal.
“Sial sekali nasib aku. Pagi-pagi sudah ditabrak sama orang yang nyebelin,” kata Irina.
“Nyebelin? Aku kan tidak sengaja nabrak kamu, lagian aku sudah minta maaf,” jawab Dion.
Irina tidak menggubrisnya, lalu langsung pergi ke Ruang Guru, meninggalkan Dion begitu saja. Dion yang ditinggal begitu saja hanya bingung, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai. Dia melihat sebuah benda tergeletak di lantai dan mengambilnya.
***
“Tumben kamu lama sekali keluarnya. Biasanya kamu yang nungguin aku. Habis ngapain?” tanya Renata setelah 10 menit menunggu di parkiran.
“Maaf, hari ini aku agak sibuk. Dari tadi dimintain tolong melulu,” jawab Irina sambil masuk ke dalam mobil.
“Oh ya? Bagus dong, tolongin orang kan banyak pahala,” kata Renata sedikit bercanda lalu masuk ke dalam mobil.
“Harusnya tolongin orang memang mendapat pahala, tapi aku malah mendapat sial,” gerutu Irina.
“Masa sih? Kasian sekali. Eh, kita pergi ke Citos yuk!” ajak Renata.
“Ke Citos? Mau ngapain?” tanya Irina agak malas.
“Belanaja. Sudah lama aku tidak belanja, sekalian refreshing,” jawab Renata antusias.
“Hmm..sebentar, aku mau melihat berapa uang yang aku bawa,” kata Irina sambil mencari-cari dompetnya. Namun dompetnya tidak ada di mana pun.
“Dompet aku tidak ada. Gimana nih?”
“Kok bisa? Kamu yakin dompetnya tidak ketinggalan?”
“Aku yakin aku bawa. Istirahat tadi saja aku jajan di kantin.”
“Mungkin tidak sengaja terjatuh?”
Irina terdiam lalu berpikir sejenak. Dia mengingat-ingat kegiatannya hari ini dan kapan terakhir kali dia melihat dompetnya.
“Kayaknya dompet aku terjatuh sewaktu tabrakan dengan cowok nyebelin itu,” kata Irina tiba-tiba.
“Cowok nyebelin? Siapa?” tanya Renata ingin tahu.
“Cowok yang dihukum bareng aku. Tadi pagi waktu aku lagi bawa buku ke ruang guru, aku tabrakan sama dia.”
“Oh, si Dion.”
“Terserah deh siapa namanya. Jadi gimana nih?” tanya Irina putus asa.
“Ada apa saja di dompet kamu?”
“Ada uang jajan bulan ini, kartu pelajar, kartu ATM, foto-foto, banyak deh. Apalagi dompetnya itu oleh-oleh dari Perancis.”
“Ada kartu pelajar, berarti ada alamat rumah. Sekarang kamu berdoa saja. Mudah-mudahan dompet kamu diketemuin sama orang yang baik, terus dia kembaliin dompet kamu,” nasehat Renata.
“Iya,” jawab Irina lalu berdoa sejenak dan menyalakan mobil lalu segera pulang.
***
Tok ! tok!
“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci kok,” kata Irina dari dalam kamar.
“Rin, ada teman kamu tuh di bawah,” kata Mama.
“Siapa, Ma? Renata ya?” tanya Irina.
“Bukan, cowok kok. Tapi kayaknya tidak pernah ke sini,” jawab Mama.
Kening Irina langsung berkerut. Sebelumnya tidak pernah teman cowok Irina datang ke rumah. Irina langsung mengganti pakaiannya agar terlihat lebih sopan dan turun ke bawah.
Sesamapinya di bawah, Irina tidak langsung mengenali cowok itu. Karena cowok itu berdiri membelakanginya, sepertinya sedng melamun.
“Hai !” sapa Irina.
Cowok itu tersentak dari lamunannya dan membalikkan badannya. Irina langsung terkejut melihat cowok itu. Ternyata cowok itu adalah Dion.
“Ngapain kamu kesini? Tahu darimana rumah aku?” tanya Irina ketus.
“Aku cuma mau ngembaliin dompet kamu. Dompet kamu jatuh waktu tabrakan dengan aku tadi pagi,” jawab Dion lalu memberikan dompet itu kepada pemiliknya.
“Oh, terima kasih ya. Dompet ini benar-benar berharga bagi aku. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikkan kamu?” tanya Irina.
“Kamu serius dengan tawaran tadi?” tanya Dion.
“Iya. Aku merasa berhutang budi sama kamu,” jawab Irina tulus.
“Kalau begitu, kamu mau kan temenin aku pergi ke belanja? Aku mau cari kado buat teman aku. Tapi aku kurang tahu cewek sukanya barang kayak apa. Selain itu, aku juga malas kalau jalan ke tempat yang ramai sendirian. Mau kan bantu aku?”
“Hmm..oke deh. Aku ganti baju dulu ya.”
Irina segera berganti pakaian lalu turun lagi ke bawah. Setelah berpamitan dengan orangtuanya, Irina langsung menyusul Dion yang sudah berada dalam mobil lalu mereka pergi bersama.
Malam itu untuk pertama kalinya Irina pergi bersama dengan seorang cowok. Irina sangat menikmati acara jalan-jalan mereka, walaupun Irina belum lama mengenal Dion, tetapi Irina merasa sabgat nyaman pergi dengannya.
Irina pulang dengan muka berseri-seri dan senang. Sebelum tidur Irina mengulang lagi acara jalan-jalan tadi dan tanpa sadar Irina tertidur dan bermimpi sangat indah.
***
Seminggu sudah berlalu sejak Dion mengajak Irina jalan-jalan. Dalam waktu satu minggu hubungan Irina dan Dion semakin baik dan akrab. Hari ini Dion mengajak Irina pergi lagi, dan hari juga merupakan hari ulang tahun Irina. Tetapi Irina tidak pernah memberitahukan Dion kapan hari ulang tahunnya, dan mengira Dion hanya mengajaknya pergi untuk jalan-jalan biasa.
“Rin, jam berapa kamu dijemput Dion nanti?” tanya Renata lewat telepon.
“Jam setengah tujuh malam,” jawab Irina.
“Hmm..sekarang baru jam setengah empat sore, berarti masih sempat nih,” kata Renata lebih seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
“Hah, sempat apanya?” tanya Irina.
“Ya sempat buat dandanin kamu lah,” jawab Renata enteng. “Kamu bukain pintu dong, aku sudah ada di depan rumah kamu,” lanjut Renata lalu menutup telepon.
Irina jelas saja bingung. Karena dia tidak merasa membutuhkan dan tidak pernah menelpon Renata untuk datang ke rumahnya, apalagi untuk mendandaninya. Tetapi Irina langsung keluar dari kamarnya, turun ke bawah, dan membukakan pintu untuk Renata.
“Hai ! Selamat ulang tahu, Rin! Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu,” kata Renata setelah dibukakan pintu oleh Irina.
“Iya, terima kasih.”
“Nih kado buat kamu.”
“Oh, terima kasih. Isinya apa nih?” tanya Irina.
“Buka saja sendiri. Eh, bukanya jangan di sini, di atas saja,” kata Irina.
Irina menuruti saja perkataan Renata. Setelah mengunci pintu depan, Irina dan Renata langsung naik ke atas, dan masuk ke kamar Irina.
“Mau minum apa?” tanya Irina.
“Tidak perlu repot-repot. Kamu tidak mau lihat kado dari aku nih?” tanya Renata
“Oh, iya. Aku buka ya,” jawab Irina sambil merobek kertas kado dan membuka tutup kotaknya. “Wah, cantik sekali gaunnya. Warnanya biru pula,” kata Irina kagum.
“Iya dong, cantik kayak orang yang membelinya,” kata Renata sambil bercanda. “Sudah cukup pandangin gaunnya. Sekarang kamu cepat pergi mandi, habis itu aku akan mendandanin kamu.”
“Dandan? Ngapain sih pakai acara dandan segala?” tanya Irina.
“Kamu kan mau pergi sama Dion, jadi harus tampil cantik.”
“Aduh, Ren. Kan aku cuma mau pergi jalan-jalan biasa saja. Jadi ngapain harus dandan segala?”
“Sudah deh, kamu ikutin saja perkataan aku. Ayo, cepat mandi!” perintah Renata sambil mendorong Irina ke kamar mandi.
Irina Cuma pasrah saja dan menuruti perintah Renata. Setelah 15 menit akhirnya Irina keluar dari kamar mandi, walaupun sedikit terpaksa.
“Nah, lebih enak kan kalau sudah mandi. Sekarang kamu duduk di sini deh,” kata Renata sambil menunjuk kursi kecil yang ada di depan cermin rias. Irina pun menurut dan duduk di kursi tersebut.
Setelah kurang lebih dua jam lamanya, akhirnya Renata selesai mendandani Irina. Irina tampak sangat cantik, sampai-samapi dirinya sendiri awalnya tidak mengenali siapa orang yang berada dalam cermin itu.
“Wah, kamu cantik sekali, Rin. Pasti Dion terpesona melihat kamu nanti,” kata Renata sambil berdecak kagum.
Ting tong !
“Nah, itu pasti Dion. Kamu cepat pakai sepatumu, terus turun. Aku masih mau beres-beres peralatan dandan aku dulu nih,” kata Renata.
“Terima kasih ya. Kamu memang sahabat aku paling baik,” kata Irina tulus.
“Iya, sama-sama. Sudah kamu cepat turun sana. Selamat bersenang-senang ya.”
Irina segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah lalu menemui Dion. Renata hanya tersenyum bahagia melihat Irina.
***
Irina terkejut sekali ternyata Dion bukan mengajak dia pergi jalan-jalan biasa, tetapi pergi untuk makan malam. Restoran yang dipilih Dion mewah pula. Dalam hati Irina sangat berterima kasih kepada Renata.
“Kamu cantik sekali malam ini,” puji Dion.
“Terima kasih,” jawab Irina, pipinya langsung merah merona karena malu.
“Hmm..aku mau bicara sesuatu sama kamu,” kata Dion sedikit ragu-ragu.
“Mau bicara tentang apa?”
“Sebenarnya….”
Mereka berdua sama-sama terdiam sejenak. Dion terlihat sedang menyusun kata-kata, sedangkan Irina menunggu apa yang akan dikatakan Dion.
“Aku cuma mau bilang…selamat ulang tahun ya.”
“Hah, kamu cuma mau bilang itu?” tanya Irina tak percaya, lalu tertawa.
“Bukan. Sebenarnya aku mau bilang kalau aku suka sama kamu,” kata Dion tegas.
Mendengar perkataan Dion tadi Irina langsung berhenti tertawa. Irina seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
“Maaf, bisa diulangin lagi?”
“Irina, aku suka sama kamu. Maukah kamu jadi pacar aku?”
Dion merasa lega karena sudah menyatakan perasaannya. Sedangkan Irina merasa gugup. Jantungnya berdebar dengan cepat. Irina sampai tidak bisa berpikir dengan baik.
“Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan aku hari ini kok,” kata Dion setelah melihat ekspresi Irina.
“Aku akan menjawabnya sekarang,” tolak Irina. “Aku juga suka sama kamu, dan aku mau jadi pacar kamu,” kata Irina dengan susah payah.
Dion langsung tersenyum mendengar jawaban Irina.
“Terima kasih ya,” kata Dion tulus.
Dion langsung mengeluarkan suatu kotak dari kantung celananya dan memberikannya kepada Irina. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah kalung yang sangat cantik.
“Lho..ini kan kalung yang…”
“Iya, itu kalung yang kita cari bareng. Maaf ya, aku kemarin bohongin kamu. Sebenarnya aku mau cari kado buat kamu.”
Irina menjadi bingung. Tidak mungkin Dion tahu kapan tanggal ulang tahunnya, apalagi waktu itu mereka baru kenal. Jadi, kenapa Dion mau repot-repot cari kado untuk dia.
“Kamu tau darimana kalau aku berulang tahun hari ini? Terus, waktu itu kan kita baru saling kenal, kenapa kamu mau repot-repot cari kado buat aku?” tanya Irina bingung.
“Aku tahu tanggal ulang tahunmu dari Renata.”
“Renata?”
“Iya, aku sepupunya Renata. Sudah lama aku memperhatikan kamu, tapi aku tidak pernah berani menyapa kamu. Jadi aku cuma bisa mencari tahu tentang kamu dari Renata. Waktu di pinggir lapangan itu aku agak kasar karena aku sangat gugup sekaligus sangat senang karena bisa bicara langsung sama kamu. Kamu mau kan memaafkan kelakuan aku waktu itu?”
“Hmm..gimana ya? Agak sulit sih,” kata Irina serius.
Mendengar perkataan Irina, ekspresi Dion langsung berubah menjadi sedih. Melihat ekspresi Dion yang berubah, Irina langsung tertawa. Dion menjadi bingung melihat Irina tertawa.
“Aku mau maafin kamu kok, tapi dengan satu syarat,” kata Irina kembali serius lagi.
“Apa syaratnya?”
“Kamu harus cerita dengan aku, kenapa kamu bisa suka sama aku dan apa saja yang diceritakan Renata ke kamu.”
Mendengar syarat yang diajukan Irina, Dion langsung tersenyum lalu menceritakan semuanya, setelah itu Irina juga menceritakan tentang hidupnya . Mereka sangat terlarut dalam cerita masing-masing, sehingga tidak sadar bahwa hari sudah larut malam dan mereka telat pulang ke rumah.
Keesokan harinya, Irina dan Dion terlambat. Hari itu sama persis dengan hari dimana mereka berkenalan. Hanya saja hari itu menjadi hari yang membahagiakan bagi Irina, bukan hari yang menyebalkan seperti waktu itu dan Irina baru merasakan indahnya masa SMA seperti yang dikatakan Renata waktu itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar