Sabtu, 18 April 2009

Di Bawah Matahari yang Sama

Karya: Devan Tri Wirawan (12)

Di sebuah pulau terpencil yang tidak pernah dijamah kekotoran tangan manusia, manusia hidup dengan damai, berdampingan dengan alam. Kehidupan sejahtera terjalin antaranggota masyarakat, dan hidup yang tidak pernah berpikir akan kegerahan hidup di dunia, tetapi terdapat dua suku yang selalu berselisih. Kehidupan rukun memang terlihat, tetapi hanya untuk suku mereka masing- masing. Pertengkaran, keributan, dan permusuhan merupakan rutinitas mereka. Sungguh aneh, tapi itulah adanya.

Awal perselisihan ini terjadi sekitar 200 tahun sebelumnya di mana pemimpin masing- masing suku mempunyai pemikiran yang berbeda untuk mengatasi perampokan yang melanda daerah mereka. Pemimpin Suku Atheo menginginkan penyelesaian dengan cara bijaksana, yaitu menangkap pelaku lalu dihakimi berdasarkan motifnya. Sedangkan pemimpin Suku Athei menginginkan penyelesaian dengan menghukum mati pelaku, keluarga, beserta teman- temannya. Pemimpin Suku Atheis tidak setuju dengan pemikiran Suku Athei, demikian juga sebaliknya. Tidak ada yang mau mengalah.

Setelah kejadian ini, anggota suku kedua pimimpin ini menjadi tidak harmonis. Mereka mencoba untuk saling menguasai sehingga tidak ada yang mau mengalah. Sebagai contoh, warga Suku Athei pernah melemparkan batu ke arah pemimpin Suku Atheo. Hal ini diikuti dengan pertempuran antara kedua suku. Hasilnya, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, serta menghabiskan populasi laki- laki dewasa di kedua suku tersebut. Yang tersisa hanyalah permpuan-perempuan beserta anak- anak mereka. Akan tetapi perdamaian tidak kunjung dicapai, tetapi menyuburkan benih- benih permusuhan yang sudah ditanam.

Setelah melewati waktu yang sekian lama, permusuhan mereka tidak kunjung sirna. Dengan kebiasaan saling bermusuhan antara kedua kelompok ini, semakin lama dendam mereka semakin membara. Namun mereka tidak pernah melampiaskannya. Apakah gerangan sebabnya?

Pada suatu waktu saat mereka sedang bertempur, ada suara ledakan yang sangat keras. Setelah mereka selidiki, ternyata suara itu adalah suara ledakan kapal yang bangkainya terdampar di pantai pulau itu. Suku Atheo memasuki bangkai kapal itu. Satu- satunya barang yang tidak hangus hanyalah peti yang dilapisi oleh emas. Mereka membawa peti itu keluar dan membukanya secara paksa. setelah itu, dengan bertanya- tanya mereka melihat isinya. Mereka melihat beberapa gulungan kertas yang juga dilapisi dengan emas. Belum habis keheranan mereka, tiba- tiba terdampar pula 1 kapal lagi yang belum meledak. Kapal itu mereka masuki. Setelah berkeliling di dalam kapal itu, mereka menemukan 1 orang yang selamat dalam keadaan pingsan. Suku Atheo membawanya keluar dari kapal dan menuju kampong mereka. Setelah itu, mereka merawat orang itu. Setelah beberapa hari, orang itu sadar. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan bahasanya. Dia berkata “ my name is Drea, nice to meet you”. Tetapi anggota Suku Atheo tidak mengerti. Drea yang merupakan seorang peneliti bahasa kuno dan kapten kapal yang karam itu segera mengerti kesulitan orang- orang di depannya. Dia menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara. Akhirnya orang- orang di sana mengertibahwa nama orang itu adalah Drea. Setelah mampu bangkit dari tempat tidurnya, Drea keluar dari kamarnya itu. Ketika melihat ruang tengah, dia terkejut. Terdapat banyak tengkorak manusia yang disusun rapi. Di atasnya dipajang sebuah keris yang kata penduduk setempat merupakan keris sakti yang mampu bergerak setiap 100 tahun. Dia merasa takjub.

Drea yang sudah sedikit mengerti bahasa penduduk menanyakan perihal keris tersebut. Pemimpin suku menjawab,“Pemilik asli keris itu adalah pemimpin sukunya yang pertama dan merupakan leluhurnya. Keris itu digunakan sebagai tujuan hidup kami karena setelah kami mati, roh kami akan masuk ke dalam keris itu.”

“Mengenai bergeraknya keris itu?” tanya Drea.

“Setiap 100 tahun keris ini akan jatuh dari tempatnya digantung,” jawab sang pemimpin.

“Lu….. ar….. bi…. a…. sa…..”, jawab Drea terbata- bata dalam bahasa suku itu. Kemudian dia keluar dari rumah dan melihat pemandangan di sekitarnya. Dia takjub akan keindahan daerah itu.”It’s real, very fantastic. Thanks God”, ungkapnya.

Penduduk di sekitarnya terheran- heran dengan apa yang dilakukan Drea dan apa yang diucapkannya. Penduduk juga heran akan munculnya orang yang berbeda itu dari rumah pemimpin mereka.

Aneh? Wajar jika mereka merasa aneh. Drea berkulit putih, berambut lurus dengan warna kekuning- kuningan, tinggi, berhidung mancung dan gagah. Dan mereka berkulit gelap, berambut keriting dengan warna hitam, pendek, hidung tidak mancung, tetapi tetap terlihat gagah.

Drea melihat orang- orang itu terdiam melihatnya. Drea berjalan menekati mereka dan berbicara dalam bahasa mereka. “Nama saya Drea, saya orang baru di sini”. Ucapnya sambil tersenyum. Orang- orang itu membalas senyuman Drea seraya bersalaman dengannya.

Setelah dua minggu di pulau itu, pemimpin suku memberikan sebuah buku kepada Drea untuk dibaca. Itu dilakukan karena pemimpin suku yakin akan kejujuran Drea dan melihat gelagatnya yang sepertinya senang tinggal di sana. Drea menerima buku itu dengan senang hati. Di membaca tulisan di sampul buku itu. Cukup sulit. Tetapi akhirnya dia mengetahui maksud tulisan itu. Dengan bekal sedikit kosakata daerah itu dan penelitiannya tentang bahasa kuno, di mampu membaca tulisan itu. “Sedjarah soekoe Atheo”, bisiknya dalam hati.

Pemimpin suku itu memang melihat Drea sebagai orang yang baik, tetapi dia mempunyai maksud lain. Dia bermaksud untuk mencegah Drea keluar dari kamarnya sekian waktu hingga akhirnya dia berpura- pura terluka akibat serangan Suku Athei. Tujuannya jelas, membuat Drea membantu sukunya.

Di buku itu Drea menemukan banyak hal. Tentang keindahan daerah itu, sikap toleransi antarwarga suku, dan lain- lain. Namun ada dua hal yang membuatnya takut. Di dalam buku itu tercantum tentang permusuhan Suku Atheo dan Suku Athei yang menimbulkan perselisihan mendalam. Dan yang paling menakutkan baginya ialah ketidaktahuan akan agama dan adanya Tuhan sebagai awal dan akhir hidup mereka. Dia mulai menebak- nebak tentang kebaikan anggota suku itu kepadanya. Apakah ia akan dijadikan budak? Apakah ia akan dijadikan sebagai persembahan kepada keris mereka? Apakah ia akan digunakan sebagai pakan binatang buas?

Drea mulai berpikir untuk melarikan diri. Namun ia merasa tidak enak apabila anggota suku itu merasa tidak dihargai kebaikan mereka. Seribu sebab yang meragukan kepergiannya melintas dipikirannya. Dia bingung. Di saat itu dia teringat akan pesan ibunya ketika dia hendak berangkat berperang. “Baca kitab sucimu bila engkau merasa bingung, niscaya percaya diri dan kebenaran akan datang padamu. Dan apabila suatu hal yang buruk menimpamu serta tidak membuatmu kembali ke rumah, kami ikhlas asalkan engkau mampu memberikan kesejukan bagi orang- orang di sekitarmu nanti”.

Drea membaca kitab sucinya. Lama ia membaca kitab sucinya untuk mendapatkan ketenangan hati dan jawaban atas keresahan dirinya. Di akhir bacaannya ia mendapat yang ia butuhkan.”Sebarkanlah keyakinan ini ke seluruh dunia tanpa paksaan, namun dengan pelayanan yang membuat mereka percaya akan adanya Tuhan sebagai awal, pengarah, dan akhir dari hidup mereka”. Drea tersadar. Hal itulah yang harus ia lakukan. Menyebarkan agama yang dipahami oleh dirinya sebagai pegangan hidup menuju Tuhan.

Drea keluar dari kamarnya. Dia berbicara empat mata dengan pemimpin suku. Maksudnya jelas, ingin membuat penduduk mempunyai agama yang jelas serta membuat mereka melakukan yang terbaik untuk mereka dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Pembicaraan yang semula diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 1 jam itu berjalan panjang dan menjadi sulit bagi Drea. Pemimpin suku tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Drea.

“Pak, walaupun saya orang baru di sini dan saya belum cukup lama untuk dikatakan sebagai penduduk di sini, tetapi saya merasa ada yang berbeda dengan kehidupan saya di sini,” kata Drea.

“Kalau boleh saya tahu, hal apa yang membuat anda merasa berbeda di sini?” tanya pemimpin suku.

“Sejak lahir, saya diajarkan oleh orang tua saya untuk menghormati hak- hak orang lain serta harus menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri sebagai persiapan menjadi pemimpin bagi orang lain,” cerita Drea.

“Apa maksud anda? Saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan anda,”tanya pemimpin suku dengan nada bingung.

“Begini. Sejak kecil orang tua saya membimbing saya untuk bertindak yang benar dengan tidak merampas hak orang lain. Jadi, saya selalu mencoba untuk melakukan sesuatu yang tidak menimbulkan keluhan ini dan itu dari orang lain. Kecuali, jika yang orang lain lakukan melanggar batas- batas nilai kehidupan, barulah saya melakukan sesuatu yang dapat dikatakan kejam,”jelas Drea. Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. “Semua itu saya lakukan dengan menjadi pemimpin yang baik bagi diri saya sendiri. Saya selalu menjaga diri saya dari perbuatan yang keji, seperti berkelahi, bertengkar, dan hal-hal buruk yang lain. Semua itu saya lakukan demi kehidupan saya di masa depan. Sekarang saya telah mendapat hasilnya. Sampai sekarang, di pulau ini saya masih melakukannya. Oleh karena itu saya ingin mendarahdagingkan perilaku yang baik itu kepada anggota suku ini, walaupun saya tahu bahwa suku ini sedang terlibat perang saudara,” lanjutnya.

“Saya tidak akan pernah setuju dengan maksud yang anda sampaikan. Saya mengerti tujuan anda. Anda menginginkan kami berdamai dengan Athei itu kan? Tidak akan terjadi! Tidak akan!,”bentak pemimpin suku Atheo.

“Maaf jika cerita saya menyinggung anda. Tapi tujuan utama saya bukan itu,” elak Drea.

“Kalau begitu apa yang engkau inginkan?” tanya pemimpin suku.

“Dasar dari semua perbuatan manusia adalah keberadaan perbuatan itu di dalam jalan menuju Tuhan. Maka dari itu, saya akan mengenalkan Tuhan Yang Maha Esa kepada anda,”terang Drea.

“Tuhan? Apa itu Tuhan?” tanya pemimpin suku.

“Tuhan. Satu kata yang tidak terlalu panjang, tetapi mempunyai arti besar bagi manusia. Dari Tuhan, anda, saudara anda, teman- teman anda, anggota suku anda, musuh suku anda, saya, seluruh manusia, pepohonan di luar sana, bahkan bumi ini dibentuk oleh Tuhan. Sumber daya, air, udara, dan matahari di atas sana juga merupakan ciptaan-Nya,”jawab Drea.

“Lalu?”tanya pemimpin suku itu lagi.

“Tuhan memberikan kita segalanya. Hidup yang kau miliki juga berasal dari-Nya. Jadi, sudah selayaknya jika kita tetap berada di atas jalan kebaikan-Nya,”jawab Drea kemudian.

“Benarkah itu? Alangkah nista diri ini yang menganggap keris itu sebagai awal dan akhir dari hidup kami karena dengan cara seperti itul, berarti kami menduakan adanya Tuhan,”sesal pemimpin suku.

“Tidak harus menyesal seperti itu. Tuhan tidak pernah menutup diri dari orang yang ingin bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Kamu dan sukumu dapat belajar mengenai jalan kebaikan Tuhan melalui diriku. Aku membawa kitab suci agamaku,”kata Drea.

“Terima kasih. Mohon bimbingannya,” minta pemimpin suku.

Waktu berlalu. Detik- detik menjadi menit. Menit- menit menjadi jam. Jam menjadi hari. Hari- hari berlalu. Tanpa perang. Tanpa hinaan. Tanpa pertengkaran. Ajaran agama dari Drea benar- benar membuat Suku Atheo menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan dan mengikuti seluruh ajaran Tuhan. Hari- hari mereka yang damai dihiasidengan pujian-pujian kepada Tuhan mereka yang sesungguhnya dan benar- benar patut untuk disembah. Bukan hanya itu. Perintah berbuat baik juga dilakukan dengan sebenar- benarnya berdasar pada ajaran kitab suci ajaran agama mereka. Satu hal yang mengagumkan adalah kemauan mereka dalam menulis kitab suci yang adanya hanya satu di pulau itu. Mereka beranggapan dengan menulis mereka juga bisa membaca..

Saat sedang menulis dengan serius, mereka membaca salah satu ayat dalam kitab suci mereka. ”Sesama manusia, haruslah saling menyayangi, mengasihi, dan menghargai. Tidak boleh ada perkelahian. Semua manusia adalah sama.”

Sampai di kata itu, mereka berhenti menulis kitab suci itu untuk sementara waktu. Hati mereka bergejolak. “Haruskah kami melakukan itu?” pertanyaan yang muncul di hati setiap warga.

Setelah kejadian itu, hari- hari mereka dilalui dengan datar. Mereka tidak terfokus pada kehidupan mereka. Mereka hanya ingin tahu jawaban dari pertanyaan mereka.”Haruskah kami melakukan itu?”

Rupanya pertanyaan itu benar- benar membuat suku Atheo menjadi frustrasi. Muka mereka muram, rambut keriting mereka menjadi seperti benang kusut, kulit hitam bersih mereka menjadi hitam kotor, dan mereka menjadi orang-orang yang menjadi malas berbicara. Ketika suku Athei menyerang, mereka menghadapinya dengan dingin. Suku Athei dibiarkan melakukan apa saja di wilayah Suku Atheo.

Semakin hari, semakin gencar serangan dari Suku Athei. Sedangkan Suku Atheo masih memikirkan jawaban pertanyaan mereka. Rumah mereka hancur, wilayah mereka rusak. Serangan sporadis yang dilancarkan Suku Athei benar- benar membuat penderitaan yang mendalam.

Pada suatu hari, saat Suku Athei sedang beristirahat, seorang laki- laki berjubah hitam, berambut keriting yang berwarna hitam, dengan hidung mancung, bermata besar, bermuka keriput, membawa tongkat, memelihara burung elang yang selalu berada di lengan tangannya datang ke tengah- tengah anggota Suku Atheo yang sedang berkumpul untuk membahas serangan dari Suku Athei.

“Apakah kalian masih ingat dengan aku?” tanya pria itu.

Semua orang menjadi bingung, termasuk pemimpin suku itu. Drea yang berada di tengah- tengah anggota suku itu menjadi ketakutan dengan wajah laki- laki itu. Lalu, muncul pertanyaan- pertanyaan yang membuat suasana tempat itu menjadi rebut. “Siapa orang seram itu?”
“Jika kalian lupa, aku akan mengingatkan kalian siapa diriku. Namaku adalah Witch. Aku adalah anggota suku ini. Aku sudah lama pergi bertapa untuk bertemu dengan nenek moyang suku kita. Sudah lama aku menyiksa diriku untuk kemajuan suku kita ini. Kalian tahu apa yang aku dapatkan?” tanya Witch.

“Apa itu?” tanyapemimpin suku.

“Menurut gambaran yang aku dapatkan, suku kita telah kedatangan seorang manusia asing yang diutus oleh pemimpin Suku Athei untuk mengacaubalaukan suku kita. Tujuannya satu, mereka ingin menguasai suku kita,” terang Witch

Serentak warga terhenyak mendengar pernyataan itu, tak terkecuali Drea. Witch memang anggota suku itu. Warga ingat akan dirinya kembali setelah dia memperkenalkan dirinya.Witch dikenal sebagai dukun terpercaya suku itu. Penjelasan dari Witch seolah menghipnotis anggota Suku Atheo. Semua mata tertuju pada satu orang, Drea!

Drea merasa dirinya tersudut. Dia tidak menyangka akan kejadian yang sedang menimpa dirinya. Dia tidak menyangka akan ada dukun yang akan mengganjal keinginannya untuk menyebarkan agama Tuhan. Tetapi, sebagai orang yang taat akan ajaran Tuhan, Drea memejamkan matanya. Dia berdoa kepada Tuhan.

“Apa yang sedang kau lakukan bocah bodoh! Kau mengajak kami untuk menganut apa yang kau sebut dengan agama itu, ternyata ini tujuanmu. Ini tujuanmu! Membuatkami mati dan membuat musuh kami yang biadab itu tertawa atas penderitaan kami!” bentak salah satu anggota Suku Atheo.

“Bu…. bu… bukan i…. tu…… ma…. ma…. mak……sud… ku……” jawab Drea dengan terbata- bata.

“Jadi apa? Membuat kami mati! Kau sudah kami rawat baik- baik ketika kau kesakitan, kami anggap kau sebagai saudara. Apa yang kau berikan pada kami? Ajaran sesat yang memudarkan kepercayaan kami? Ajaran iblis pembawa keburukan bagi kami! Kurang apa yang kami berikan padamu! Tidakkah kau malu atas perbuatanmu sendiri! Anjing yang kami tolong di hutan, kami rawat, dan setelah itu dia mampu menjadi sahabat yang baik bagi kami! Anjing pun sadar akan kebaikan. Sedangkan kau? Lebih mulia anjing dihadapan kami daripada percaya pada iblis berwujud manusia seperti kau! Percuma kau menutup mata, berkomat- kamit kepada teman- teman iblismu. Kami tidak takut kepada mereka!” bentak pemimpin Suku Atheo.

“Tunggu apalagi! Langsung ikat saja tangannya. Kita bawa dia ke tugu persembahan agar dia dihukum mati,”suara yang didengungkan oleh anggota suku.

Dalam keadaan seperti itu, Drea hanya mampu pasrah dan berserah diri kepada Tuhan. Dia hanya ingin mendapatkan yang terbaik baginya. Di saat seperti itu, dia malah merasa sebuah ketenangan yang membalut tubuhnya sehingga dia tidak merasa ketakutan sedikit pun. Semakin lama waktu yang dibutuhkan Suku Atheo untuk menghukum dirnya, semakin tenang pula dirinya berhadapan dengan maut yang seolah tinggal membawanya.

Di saat akan menghukum Drea, terdengar suara gemuruh. Apakah itu? Suku Atheo terkejut. Di saat mereka akan mengeksekusi seseorang, mereka mendapat ancaman yang lebih hebat. Ya, Suku Athei. Anggota Suku Atheo segera bersiap- siap untuk melawan musuh abadi mereka.

Suku Atheo dengan gigih melawan serangan Suku Athei. Tapi ada yang berubah dengan cara berperang mereka. Mereka tidak lagi membunh, tetapi membuat musuh mati lemas. Hal itu dikarenakan ajaran agama yang dibawa oleh Drea. Satu per satu prajurit perang Suku Athei dibuat lemas oleh prajurit Suku Atheo. Hingga prajurit terakhir, mereka telah membuat lemas 267 orang. Tawanan mereka ini langsung diikat, lalu di bawa ke tugu persembahan. Suku Atheo merasakan kegembiraan yang luar biasa. Mereka menjadi lengah. Padahal kesempatan seperti inilah yang ditunggu- tunggu oleh Suku Athei.

Dari tempat yang tidak terlihat mata oleh Suku Atheo, prajurit Suku Athei mendekati gerombolan prajurit perang Suku Atheo. Suku Atheo dengan kegembiraannya masih belum sadar bahwa musuh yang sebenarnya ada di dekat mereka.

Prajurit perang Suku Athei yang dikenal dengan sebutan ‘ninja’ menjadi aktor dalam peperangan yang maha dahsyat ini. Para ninja dengan cepat melakukan serangan kilat mereka ke arah gerombolan prajurit Suku Atheo. Hasilnya, 20 orang tewas!

Di saat yang hampir bersamaan baru sadarlah prajurit Suku Atheo bahwa perang belum selesai. Mereka kembali dalam keadaan siap untuk berperang, walaupun menurut kuantitas prajurit mereka kalah, tetapi mereka tetap bersemangat.

Pemimpin Suku Athei dengan segala kemampuannya, mengeluarkan ilmu- ilmu yang menjadi senjata pamungkasnya dalam menghadapi lawan. Tetapi dia tidaksendiri. Salah seorang prajuritnya membantunya dalam mengepung pemimpin Suku Atheo. Mereka berdua berputar- putar mengelilingi pemimpin lawan dengan sesekali mengeluarkan gertakan yang tidak sedikit pun membuat pemimpin Suku Atheo menjadi takut. Pemimpin Suku Atheo dengan segala keberanianya mengawasi kedua lawan dihadapannya. Matanya bersiaga seperti berburu mangsa, dan gerakannya dibuat menjadi lebih hati- hati. Pemimpin Suku Athei menghimpun tenaga untuk menembakan energi ke arah lawan. Tak kalah kemampuannya, pemimpin Suku Atheo juga menghimpun tenaga untuk menembakkan energi ke arah lawannya. Sedangkan prajurit Suku Athei hanya bersiap- siap untuk membantu pemimpinnya untuk menembak energi. Terdengar suara teriakan.

Teriakan itu disertai dengan pancaran sinar berwarna putih dan hitam yang keluar dari tangan dari kedua pemimpin suku. Kedua pancaran energi itu bertemu tepat di tengah- tengah di antara mereka. Seperti sedang beradu tangan, keduanya berusaha keras untuk saling mengalahkan musuhnya.

Angin berputar- putar mengelilingi mereka. Tanah disekitar mereka terangkat, lalu berputar- putar juga mengelilingi mereka. Langit menjadi hitam. Angin bertiup membawa tensi tinggi di antara dua jagoan dengan pandangan berbeda. Pemimpin Suku Atheo dengan kebijaksanaan dengan keyakinan yang kuat akan keberadaan Tuhan yang sebenarnya, sedangkan pemimpin Suku Athei dengan kekerasan dan keyakinan kepada nenek moyangnya.

Pertarungan anatara kedua pemimpin masih sengit ketika para prajurit mereka dengan berlumuran darah mempertahankan ideologi mereka masing- masing. Daerah yang bertanah hitam subur itu berubah menjadi danau merah dengan bangkai berserakan. Tetapi, semangat pantang menyerah tetap mengobarkan perang itu.

Sedangkan Drea, menyaksikan adegan- adegan berdarah yang terjadi tepat dihadapnya. Drea yang amat sedih melihat hal ini, seketika berteriak yang disertai teriakan Guntur.

“Berhenti semuanya!” teriak Drea. Gar. Dar. Kilatan Guntur beserta suaranya menghiasi teriakan Drea. Sekejap semuanya berhenti.

“Maafkan aku,”teriaknya sambil menangis.”Aku tahu apa masalah diantara kalian semua. Aku mengerti penyebab permusuhan kalian. Sekarang kalian dengarkan aku. Kalian mempunyai kemiripan warna kulit, postur tubuh, jenis dan warna rambut, dan juga kalian benar- benar mirip secara umum. Tapi apa yang kalian lakukan? Bermusuhan, bertengkar, dan bahkan berperang. Apakah kalian tidak sadar? Apa yang sudahkalian lakukan ini sama saja dengan membunuh sanak saudara kalian sendiri. Tuhan menciptakan kalian sebagai satu keluarga. Bukan hanya kalian, aku, saudaraku, teman- temanku juga merupakan saudara kalian. Kita semua bersaudara. Kita semua bersaudara!”teriak Drea dengan penuh pengharapan.

Mendengar teriakan yang menggebu- gebu itu, seluruh prajurit menjadi terdiam, tertunduk lesu. Kebanyakan diantara mereka menangis. Ada yang bersujud di lantai. Ada yang pingsan. Tetapi ada satu orang prajurit yang seperti memendam tanda tanya.

“Drea, kau dengan segala keberanian dan pertolongan dari Tuhan mampu menyadarkan kami, tetapi apakah benar bahwa kamu adalah mata- mata mereka,” ungkapnya sambil menunjuk Suku Athei.

“Tidak. Kami tidak pernah bertemu Drea, apalagi memanfaatkannya.” Jawab pemimpin Suku Athei.

“Sial, kita semua tertipu oleh Witch. Ternyata dialah biang keladi pertempuran kita ini. Di mana kau Witch? Tunjukkan dirimu!” teriak pemimpin Suku Atheo.

Semua prajurit tersisa berpencar mencari Witch. Tetapi Witch bukanlah anak kecil yang mudah ditangkap. Waktu berlalu tanpa hasil yang memuaskan. Walaupun dari jarak yang tidak begitu jauh Witch memantau mereka, kedua suku bersaudara itu tetap mencari dimanakah Witch berada. Drea meminta dirinya dilepas dari ikatannya. Dan akhirnya dia pun dilepas. Dia segera berlari menuju kekamarnya untuk mengambil kitab suci agamanya. Orang- orang itu menjadi bingnung dengan apa yang dilakukan oleh Drea.

Salah seorang diantara merek bertanya kepada Drea tentang apa yang dilakukannya.

“Drea, apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Aku yakin, dengan apa yang telah dilakukan Witch membuatnya terjebak di dalam dosa yang akan membuatnya terbakar bila mendengar kalimat suci dari kitab Tuhan ini. Ambil kitab kalian. Mari kita bersama- sama membaca kitab ini,” ajak Drea.

Para penduduk yang mempunyai kitab langsung mengambil kitab mereka yang belum selesai dicatat. Lalu dibawa keluar dan menuju ke tempat di mana Drea berada.

“Buka lembar ke- 100. Baca kalimat di bagian pertama dengan diawali kata ‘kami percaya kepada- Mu, pemilik alam dan seisinya’. Setelah selesai, ucapkan kata- kata itu lagi,”jelas Drea.

“Kami percaya kepada- Mu, pemilik alam dan seisinya. Kami manusia, berserah diri kepada- Mu atas apa yang terjadi. Kami hanya percaya perkataan- Mu, atas apa yang terjadipada kami.lindungilah kami dari fitnah yang sesat atas kami, karena kami percaya kekuatan- Mu adalah yang segalanya bagi kami. Kami percaya kepada- Mu, pemilik alam dan seisinya,” doa seluruh orang yang dilakukan dengan sungguh- sungguh.

Gubrak. Terdengar bunyi benda jatuh. Setelah dicek, ternyata itu adalah suara Witch yang terjatuh dari pohon dalam keadaan yang sudah hangus.

Kejadian ajaib yang menyihir semua orang untuk percaya bahwa itu adalah mukjizat nyata dari Tuhan. Mereka menjadi percaya bahwa agama yang diajarkan Drea itu memang benar adanya, tanpa cacat sedikitpun. Mereka langsung menyatakan kesediaan menjadi umat Tuhan yang satu,

Drea senang mendengar kejujuran hati mereka itu. Drea mengajak mereka berkumpul di depan rumah pemimpin Suku Atheo. Drea masuk ke dalam rumah pemimpin Suku Atheo untuk melakukan sesuatu.

Umat Tuhan di depan rumah pemimpin Suku Atheo dengan sabar menunggu pembawa kesadaran mereka. Dan penantian mereka berbuah.

Drea keluar dari rumah itu sambil berkata sesuatu.

“Aku telah mengajak sebagian dari kalian untuk mempelajari kitab ini. Aku rasa itu cukup. Selain itu aku akan meninggalkan buku karangan pemimpin agamaku tentang agama ini. Aku harap kalian mampu membaca buku itu dan menyelesaikan bacaan kitab suci itu. Jangan lupa untuk mengulang bacaan dari kitab itu, sebab itu adalah pelita hidup,’ucapan Drea terhenti dengan diikuti jatuhnya tubuh itu ke tanah.

Semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Drea akan meninggalkan harta hidup yang sangat berharga kepada mereka tepat sebelum akhir hayatnya. Lalu, salah seorang diantara mereka mengambil buku panduan agama itu, dan membaca apa yang harus dilakukan kepada jasad seorang manusia. Mereka mendapat jawabannya. Mereka harus mengubur jasad itu dan mendoakan arwahnya.

Mereka melakukan semua itu dengan diiringi tangis haru atas pengorbanannya kepada mereka. Menghabiskan sisa waktu bersama mereka. Mengajari mereka. Dan yang terpenting, tidak menyalahkan mereka atas apa yang telah terjadi.

Setelah itu, tidak ada perselisihan lagi diantara kedua suku itu. Mulai ada senyum diantara mereka, ada canda diantara mereka, dan yang terpenting ada kepercayaan diantara mereka. Mereka membaca isi kitab itu bersama- sama. Mencerna isinya. melakukan perintah Tuhan.

Kerukunan mereka terus berlanjut sepanjang waktu. Kepercayaan mereka kepada Tuhan juga semakin kuat. Persaudaraan mereka semakin kuat. Semakin semakin baik sampai ke zaman modern di mana suku ini menjadi bangsa besar yang paling unggul dalam segala hal. Tetapi yang lebih membanggakan, Negara ini menjadi pusat pembelajaran agama Tuhan yang sangat besar. Tidak ada penduduk yang meragukan Tuhan. Tidak ada yang mampu melunturkan keyakinan mereka akan Tuhan. Negara yang merupakan evolusi Suku Atheo dan Athei menjadi Negara yang termashyur disegala bidang, sepanjang zaman.

Apa yang membuat hal itu dapat terjadi?

”Sesama manusia, haruslah saling menyayangi, mengasihi, dan menghargai. Tidak boleh ada perkelahian. Semua manusia adalah sama.” Itu adalah kalimat dari bagian yang belum selesai dibaca. Lanjutanya yang membuat keadaan berubah diantara kedua suku itu adalah “Percuma adanya permusuhan, sia- sia adanya pertengkaran. Semuanya adalah saudara. Buktinya, kalian hidup di bawah matahari yang sama.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar