Hari itu, hujan sedang turun deras sekali, dan aku terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak dengan diselimuti mimpi yang indah, mimpi yang menemukanku pada Almarhum Ayahku. Aku sangat rindu kepadanya , sampai- sampai terbawa ke dalam mimpi itu.
Aku langsung bergegas masuk ke kamar mandi, mencuci muka, mengambil air wudhu, lalu aku sholat Shubuh. Bersyukur kepada Tuhan atas rahmat yang Ia berikan dan beryukur bahwa aku masih dapat menghirup udara segar pada hari ini.
Setelah sholat Shubuh, aku melihat jam yang menunjukkan tepat pukul 05.15. aku langsung mandi dan menyiapkan diriku untuk pergi ke sekolah baruku. Lalu aku sarapan, dengan segelas susu dan roti selai keju bersama dengan Ibu dan kakakku. Lalu, Aku berangkat bersama dengan ibu dan kakakku, Kak Andrea. Ia adalah kakak yang sangat aku sayangi. Ia sangat anggun dan aku kagum padanya. Berbeda sekali dengan diriku yang “tomboy”. Kami naik ke dalam mobil sedan yang berwarna hitam dengan plat BG 2720 NH, dengan ibu yang mengendarai mobil itu. Aku duduk di sebelah ibu dan Kak Andrea duduk di belakang kami.
Sekarang aku hanya tinggal dengan ibu, Kak Andrea, dan seorang pembantu, Ayuk Sari. Kami tinggal di rumah yang tidak terlalu besar tetapi kami sangat nyaman tinggal di rumah itu. Rumahku berpagar dinding yang di cat berwarna putih dengan pekarangan yang sangat luas di tumbuhi oleh bunga – bunga yang berwarna-warni dengan satu buah kolam ikan dengan air mancurnya. Di pekaranganku itu juga terdapat satu pohon belimbing yang sudah cukup tua, pohon itu besar dan rindang. Pada musim kemarau seperti sekarang, buahnya sangat manis dan besar-besar. Waktu kecil, aku sering sekali memanjat pohon itu untuk mengambil buahnya. Tetapi, setelah aku besar seperti saat ini, aku sudah tidak tertarik lagi untuk memanjat pohon itu.
Oh ya, berbicara tentang ayahku, ia sudah meninggal saat aku berumur 10 tahun. Aku sangat sedih saat aku mengingat masa itu. Ia meninggal karena sakit jantung yang dideritanya di rumah sakit. Aku ingat betapa sedihnya pula ibuku yang menangisi kepergian ayah. Jadi, sekarang aku tidak boleh membuat ibu sedih lagi, aku bertekad untuk menjadi anak yang baik, yang tidak melawan orang tua. Aku sangat sayang kepada ibu, dan juga ayahku. Mereka adalah orang yang sangat aku hormati, mereka sangat berarti dalam hidupku.
Ibu mengantarkan kami ke sekolah baru kami yang cukup disegani di Palembang, SMA Pelita 1. Dengan langit yang diseliimuti awan yang mendung dan hujan yang gerimis, aku dan kakakku keluar dari mobil dan menuju kelas kami masing-masing. Aku sekarang duduk di kelas X, dan kak Andrea duduk di kelas XII. Kami berdua adalah murid pindahan dari Jakarta. Sebelumnya kami bersekolah di Jakarta, kami hanya tinggal berdua di sana, tetapi saat sakit ayah kambuh, kami diminta ibu untuk liburan di Palembang saja sekalian mengurus ayah di rumah sakit. Dan ternyata ketika ayah telah tiada, kami terpaksa harus dipindahkan ke Palembang untuk menemani ibu di sini.
Sampailah kami di sekolah kami yang baru. Aku dan kakakku kemudian masuk ke sekolah itu, sekolah yang cukup besar yang bangunannya dominan di cat berwarna abu-abu dan krem. Aku dan kakakku sangat bingung mencari kelas kami di sekolah yang sebesar ini. Aku masuk ke kelas X6 dan kakakku masuk ke kelas XII IPS 2. Kemudian bel masuk berbunyi, kami kemudian langsung mencari guru di sana dan kami bertemu dengan seorang guru perempuan dengan membawa buku yang bertuliskan ”Biologi untuk SMA kelas 1” dan alat tulisnya. Aku melihat bet namanya, dan aku mendapati bahwa ibu itu bernama Riska Rahmawati, Spd.
“Yah, ada apa nak ?” tanya ibu itu.
“Kami berdua anak baru, bu, kami sedikit bingung mencari kelas kami” kata kakakku
“Kalian berdua kelas berapa ?” tanya ibu itu
“Saya Andrea Nadia Lukman, kelas XII IPS 2 dan ini adik saya Aurora Amanda Lukman, kelas X6.”
“Oh, kebetulan sekali, saya wali kelas dari X6, baiklah kalo begitu, ibu akan mengantarkan kalian berdua ke kelas kalian masing-masing,” kata ibu itu
“Wah, terima kasih banyak Bu” jawab kami dengan senyuman
Sambil tersenyum ramah, Ibu itu pun menjawab,
“Ya sama-sama, ayo cepat, ini sudah waktunya masuk kelas”
Kami pun segera bergegas menuju kelas kami, aku dan kakakku mengikuti Bu Riska menuju kelas Kak Andrea. Akhirnya, tibalah kami di kelas kakakku, di atas kelas itu terdapat tulisan kelas XII IPS 2, kak andrea lalu masuk ke kelasnya itu. Setelah kami mengantarnya, Bu Riska pun mengantarkanku ke kelasku yang merupakan kelasnya juga. Kami harus naik tangga tengah sampai lantai ke 3, lalu berbelok ke kiri, dan kami pun sampai di kelas X6.
”Nah Aurora, ini kelasmu dan saya wali kelasmu, ayo lekas masuk” ajak Ibu itu
”Baik bu” kataku
Aku melangkahkan kakiku di kelas itu, aku agak sedikit merasa canggung . Aku berdiri di tengah dan kemudian ibu Riska menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
”Selamat pagi teman-teman”
”Selamat pagi!” jawab mereka serentak
”Nama saya Aurora Amanda Lukman, saya murid pindahan dari Jakarta, kalian dapat memanggilku dengan panggilan Rara. Saya harap kalian dapat menjadi teman saya dan dapat membantu saya karena saya tidak terlalu tahu sekolah ini dan juga kelas ini. Saya mohon bantuannya.” ucapku
”Nah Aurora, kamu bisa duduk di sebelah Naldo di sana.” kata Ibu Riska sambil menunjukkan tempat dudukku.
Aku langsung melihat ke arah tempat duduk yang kosong yang ditunjuk oleh Ibu Riska dengan seorang anak laki-laki di sebelahnya, aku duduk di sana. Aku melihat anak laki-laki yang cukup tampan di sana, dan itu adalah Naldo. Aku pun tersenyum pada Naldo, tetapi ia tidak membalas senyumku itu. Kesan pertama membuatku sangat jengkel dan sebal. Selama pelajaran berlangsung pun kami hanya duduk diam tanpa berkata sedikit pun.
...............................................................................................................................................
Trrriiiinnggg !!!! Bel istirahat telah dibunyikan. Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu datang juga, perutku sangat lapar, aku ingin pergi untuk makan, tapi aku tidak tahu dimana kantin sekolah. Aku lihat Naldo beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas. Aku mengikutinya, berharap ia akan pergi ke kantin. dia berjalan melewati tangga , dan menuju lantai 2. ia pun masuk ke suatu ruangan, dan ternyata itu adalah perpustakaan. Aku berhenti di depan perpustakaan itu, aku sangat lapar sekali, aku tidak tahu harus kemana, tiba-tiba Nando pun keluar dan ia bertanya padaku
”Kenapa kau mengikutiku sampai perpustakaan ini ?” tanya Nando padaku
Aku tidak menyangka dia bisa tahu bahwa aku mengikutinya , aku pun menjawab pertanyaannya,
”Ah, tidak, tidak apa-apa. Aku juga mau ke perpustakaan, ingin mencari novel untuk dibaca.” jawabku
”Aku tahu kau berbohong padaku.” kata Nando
Aku terdiam sejenak, aku kaget dia pun tahu aku berbohong padanya. Aku harus mengatakan apa lagi padanya.
“Ayo ikuti aku.“ lanjutnya
Aku mengikutinya, kami turun ke lantai satu dan akhirnya aku sampai di suatu tempat yang memang kucari yaitu KANTIN.
“Kau sebenarnya mau ke kantin, kan ?” tanya Nando
“Darimana kau bisa tahu?“ tanyaku kembali padanya
”Ya tentu saja aku tahu, aku lihat dari tadi kau memegangi perutmu, dan aku tahu kau pasti lapar.” tebaknya
”Hahaha, kau benar, aku memang sedang mencari kantin di sekolah ini, terima kasih telah mengantarkanku sampai ke sini.” ujarku padanya sambil tertawa.
”Tidak perlu sungkan, jika kau memang butuh pertolongan, bicara saja padaku.” jelas Nando
”Terima kasih banyak” kataku
”Apa kau mau kutemani ? Kebetulan aku juga menjadi lapar sekarang.” ujar Nando
”Ah, baiklah. Ayo, perutku sudah sangat lapar.” kataku sambil memegangi perutku yang sangat lapar itu.
Kami berdua berjalan masuk ke kantin. Ternyata kesan pertama memang tidak dapat memastikan sikap orang, Naldo sangat baik. Tapi, saat di kantin, aku heran, mengapa semua orang memperhatikan kami. Apa ada yang salah denganku ? aku rasa tidak ada. Tapi kenapa orang – orang terus memperhatikan kami ? ah, sudahlah, tidak perlu kupikirkan, yang penting aku mau makan dulu, aku sangat lapar. Aku dan Naldo duduk di meja yang sama, kami makan bakso di sana. Kami pun mengobrol tentang sekolah ini, dan aku menceritakan sekolahku di Jakarta. Kadang kami juga saling bercanda, sangat menyenangkan bisa mengobrol dengannya.
’Nando..” panggilku
”Yah, ada apa ?” tanyanya
”Aku heran, mengapa semua orang melihat ke arah kita terus?” tanyaku pada Nando
”Hahaha, aku juga tidak tahu. Mungkin mereka melihatmu asing karena kau memang anak baru di sekolah ini. Sudahlah, tidak perlu di pikirkan, lebih baik kita makan saja, sebentar lagi bel masuk berbunyi” jawab Nando padaku.
”Baiklah.”
Sesampainya di kelas, kami pun duduk di bangku kami masing-masing dan memulai pelajaran berikutnya.
................................................................................................................................................
Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku mengemas buku dan alat tulisku ke dalam tasku. Setelah itu kami berdoa dan memberi hormat ke bendera merah putih di kelas. Kemudian nando bertanya padaku,
”Kau mau kuantar pulang, tidak ? Kebetulan aku sedang tidak ada acara pulang sekolah ini.” ujar Nando.
”Terima kasih, tetapi aku nanti akan pulang bersama kakakku.”jawabku padanya
”Oh, baiklah kalau begitu. Aku duluan ya Ra.” ujar Nando padaku.
”Ya, sampai jumpa” jawabku
Tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang menghampiriku.
“Hai, kau Aurora kan?” tanyanya padaku
“Ya, salam kenal.” jawabku
”Namaku Astrid, senang berkenalan denganmu. Ra, kelihatannya kau sangat dekat dengan Nando.” kata Astrid
”Ya, begitulah, kami menjadi akrab, padahal baru saja berkenalan hari ini.” kataku
”Kau hebat, Ra.”
”Hebat ? Hebat kenapa ?” tanyaku
”Kau hebat karena bisa akrab dengan Nando. Tidak banyak orang yang bisa akrab dengannya. Apa kau tahu dia itu laki-laki yang sangat terkenal di sekolah kita. Ia terkenal karena ia sangat tampan , kaya, dan juga ia merupakan Wakil Ketua OSIS di sini. Banyak anak perempuan yang mendekatinya, tapi ia terlalu cuek. Di kelas ia sangat pendiam, ia suka menyendiri dan tidak terlalu berbaur dengan teman-teman disini.” cerita Astrid.
”Oh ya ? Aku baru tahu dan aku tidak menyangka sama sekali tentang dirinya.” kataku
”Ra, aku pulang duluan ya, senang berkenalan denganmu.” ujar Astrid
”Iya, sampai jumpa”
Wah, aku sangat tidak menyangka. Sekarang aku tahu mengapa semua orang memperhatikanku dan Nando di kantin tadi. Ternyata ia anak laki-laki yang populer di sekolah ini. Aku tidak percaya juga bahwa ia laki-laki yang pendiam, menurutku ia sangat cerewet.
”i’m all out of love, i’m so lost without you….”
Ponselku berbunyi, Kak Andrea menelponku. Aku mengangkat telepon dan Kak Andrea mulai bebicara padaku
“Rara, kau pulang sendiri saja ya, kau tahu kan jalan pulang? Kau tinggal naik angkot yang berwarna hijau itu saja, nanti kau akan berhenti di depan rumah.” kata Kak Andrea
“Memangnya kenapa kak ? Kakak tidak ikut pulang bersamaku ?” tanyaku
“Aku mau pergi ke toko kaset bersama temanku. Kau bisa kan, Ra ?”
” Oh begitu, baiklah kak, aku bisa.”
Aku keluar dari kelas, aku berjalan menuju gerbang sekolah. Aku lihat disana sangat ramai sekali dan tidak disangka aku bertemu dengan Nando. Ternyata ia belum pulang.
”Hai Nando, kenapa kau belum pulang ?” tanyaku
”Oh, hai Ra. Ini, aku baru saja dari perpustakaan meminjam novel. Sebenarnya aku mau meminjam novel berjudul ”Totto-Chan” itu, tapi aku tidak menemukannya, karena masih dipinjam oleh anak lain. Jadi aku mencari novel yang lain saja. Oh ya, kau juga, kenapa belum pulang ? Mana kakakmu ?” tanya Nando
”Kakakku tidak bisa pulang bersamaku, dia sedang pergi bersama temannya ke toko kaset, sehingga aku harus pulang sendiri.” jawabku
”Ah ! Aku antar kau saja. Kau mau ? Ayolah, tenang saja, gratis
“Hahaha, baiklah kalau begitu. Gratis kan ?
“Hahaha, iya gratis, ayo.“
Akhirnya, aku diantar oleh Nando. Aku tak menyangka aku bisa langsung akrab dengannya. Menyenangkan sekali bisa berteman dengannya. Aku diantar dengan mobilnya dan akhirnya aku pun sampai di rumah.
”Sampai di sini saja, itu rumahku yang berpagar warna putih.” kataku
”Wah rumah yang cantik sekali. Sepertinya sangat nyaman.” tukasnya.
”Ya, begitulah, kau tidak mau mampir dulu ke dalam?” tanyaku
”Terima kasih, kapan-kapan saja. Aku langsung pulang ya, Ra” jawab Nando
”Hmm, begitu. Baiklah, terima kasih ya. Sampai jumpa besok.”
”Ya, sampai jumpa.”
................................................................................................................................................
Hari-hariku di sekolah semakin menyenangkan. Aku bertemu dengan banyak teman baru yang sangat baik dan perhatian padaku. Aku pun telah mengenal banyak sekolah baruku itu.
Dan hari-hariku itu semakin indah ketika aku bertemu dengan sesosok Nando itu. Anak laki-laki yang sangat menyenangkan. Aku dan dia menjadi sangat akrab. Aku banyak menghabiskan waktuku dengannya untuk saling bercerita dan saling bercanda. Kadang – kadang, ia pergi bermain ke rumahku untuk belajar kelompok ataupun hanya sekedar mampir. Aku juga pernah diajak untuk mengunjungi rumahnya dan kami juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di rumahku. Semakin hari, aku merasa sangat nyaman berteman dengannya. Aku merasa Nando seperti kakakku saja. Dan aku rasa, semakin lama pun aku menjadi suka pada dirinya itu. Aku tidak tahu dengan perasaan suka itu, apakah sebagai teman, kakak, atau perasaan suka ini berarti lebih ?
................................................................................................................................................
Seperti hari-hari biasanya, aku pergi ke sekolah dengan kakakku dengan diantarkan oleh ibuku. Aku naik tangga tengah sampai lantai tiga, dan berbelok ke kiri dan aku sampai di kelasku. Dan aku bertemu dengan Astrid.
“Pagi, Ra”
“Ah ya pagi Astrid, apa Nando sudah datang ?” tanyaku
“Nando ? Aku rasa dia belum datang.” jawab Astrid
“Oh begitu, biasanya dia sudah datang jam segini” kataku
“Aku juga tidak tahu, Ra. Mungkin ia akan sedikit telat, kau tunggu saja ia datang.”
“Ya, baiklah”
Aku heran sekali, mengapa Nando belum juga datang jam segini ? Padahal biasanya ia sudah datang lebih dulu daripada aku. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul 06.49. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, tapi ia juga belum datang ke sekolah
“Trriiiiiiiiiiinggg !!!!!!!!!!”
Bel telah berbunyi. Aku rasa Nando memang benar-benar tidak masuk sekolah. Aku lihat Bu Iin, guru Fisika ku telah memasuki kelas dan telah siap untuk memberikan kami materi untuk hari ini. Ah, sudahlah, aku harus fokus belajar hari ini karena aku kurang mengerti pelajaran fisika pada materi ini. Aku yakin besok Nando akan masuk ke sekolah.
................................................................................................................................................
Keesokan paginya, aku tidak melihat Nando lagi. Aku hanya duduk sendirian dan tidak bersamanya. Nando tidak masuk sekolah lagi. Aku penasaran dengan Nando, mengapa ia tidak masuk sekolah ? Ada apa dengannya ?
Hari-hari berikutnya pun berjalan dengan sama , tanpa ada Nando di kelas. Aku menjadi semakin penasaran dengannya, sampai sekarang pun tidak ada keterangan apapun mengenai dirinya. Pulang sekolah ini, aku akan menanyakan hal ini kepada Bu Riska.
Pulang sekolah, aku bergegas masuk ke ruang guru dan aku bertemu dengan Bu Riska.
“Selamat siang Bu.”sapaku
“Selamat siang , Ra. Ada apa ? Apa ada yang bisa ibu bantu ?” tanya Ibu Riska
“Begini bu, saya ingin menanyakan tentang Nando ? Mengapa Nando tidak masuk, bu ? Apa ada keterangan tentang dirinya ? Ini sudah lebih dari 1 minggu lebih ia tidak masuk sekolah.” tanyaku
“Ibu juga tidak tahu , Ra. Ibu juga heran mengapa belum ada keterangan sama sekali. Ketika Ibu hubungi telepon rumahnya berulang kali, tidak ada yang mengangkat telepon ibu.” jawab Ibu Riska
“Oh begitu Bu. Baiklah kalau memang begitu, saya pamit dulu ya bu. Selamat siang”
“Ya, selamat siang.”
Aku pikir aku mungkin harus ke rumah Nando. Aku ingin tahu mengapa ia tidak masuk sekolah. Aku keluar dari gerbang sekolah. Aku naik angkutan umum dan naik becak. Akhirnya aku sampai di depan rumah Nando. Aku menekan bel di gerbang rumahnya. Aku mengintip dari sela-sela pagar ada seorang ibu dengan baju terusan berwarna biru berjalan ke arahku.
“Maaf, adik mencari siapa ya ?” tanya Ibu itu.
“Ini, saya mau mencari Nando.” jawabku
Ibu itu diam sejenak. Mukanya langsung murung ketika aku mulai berbicara tentang Nando.
“Maaf, saya ingin bertanya saja, mengapa Nando tidak masuk sekolah dalam beberapa hari ini ? saya dan teman-teman sekelas sangat khawatir padanya. Ada apa dengan Nando , Bu ?” sambungku
Sambil menghela nafas panjang, Ibu itu mulai berkata,
“Begini dik, Nando sekarang sedang sekarat di rumah sakit.”
Aku terdiam. Aku sangat kaget. Nando sekarat ? Ia sakit ? Ibu itu mulai melanjutkan pembicaraannya lagi.
”Ayo kita masuk dulu ke dalam, tidak enak jika kamu hanya berdiri saja di depan gerbang. Ayo masuk.” ajak Ibu itu.
”Nah silakan duduk. Oh ya, sebelumnya perkenalkan dulu, saya tantenya Nando, Tante Rani, dan kamu ?” tanyanya
“Saya Rara, teman sebangku Nando, tante.” jawabku.
“Oh, Rara. Tante sering sekali mendengar Nando bercerita tentang kamu, ketika ia bercerita, mukanya terlihat sangat senang sekali. Tante senang melihat ia tersenyum. Terima kasih ya Ra.”
“Sama-sama tante. Saya juga sangat senang bisa menjadi teman baik Nando.”
“Jadi seperti ini Ra, Nando sejak kecil memang lemah. Tapi ia selalu memaksakan dirinya untuk menjadi orang yang kuat. Karena terlalu dianggap lemah ia menjadi sangat sedih. Kemudian ia pun menjadi orang yang sangat pendiam, melakukan segalanya sendirian. Ia tidak suka dibantu oleh orang lain, karena ia menganggap ia bisa mengerjakannya sendiri dan ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan anak yang lemah. Ia terserang penyakit hepatitis C. Ia tertular penyakit ini sejak ia bayi dari Almarhum ibunya. Pertamanya tidak terlihat gejala-gejala yang aneh yang timbul, karena penyakit ini hanya membuat seseorang terlihat begitu kelelahan. Tante kira mungkin hanya kelelahan biasa, tetapi tiba-tiba Nando pingsan dan setelah diperiksa, ia mengidap penyakit itu, dan sekarang penyakit itu telah menjadi sangat parah.” jelas Tante Rani
”Jadi Ibu Nando sudah meninggal dunia, Tante ? Apa karena penyakit Hepatitis C itu ?” tanyaku
“Iya Ra. Almarhum Ibunya juga telah meninggal karena penyakit itu ketika Nando masih berumur 10 tahun. Karena itulah, ibunya meminta saya untuk menjaga Nando. Ibunya berharap ia bisa sembuh. Ia tidak mau Nando akan bernasib yang sama dengan ibunya. Dan sekarang, Nando tergolek lemah di rumah sakit karena penyakitnya mulai kronis.”
”Kita doakan saja Nando akan sembuh Tante. Oh ya Tante, bagaimana dengan Ayah Nando ?”
“Kira-kira saat Nando berumur 5 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Sekarang, Tante juga tidak tahu di mana ayahnya. Tante sangat sedih melihat hidup yang dijalani Nando sekarang. Tante berdoa setiap hari untuk kesembuhan Nando. Oh ya Ra, apa kau mau ikut Tante menjenguk Nando di rumah sakit ? Kebetulan Tante memang akan ke sana sekarang .”
“Baiklah Tante, Rara ingin ikut. Rara ingin melihat keadaan Nando sekarang.”
”Nah ayo kita cepat bergegas.”
”Ya Tante”
Dengan menaiki mobil Tante Rani, kami berdua pergi ke rumah sakit dimana Nando di rawat. Ketika kami sampai, kami masuk ke rumah sakit itu dan menuju kamar Nando.
”Nah ini kamar Nando, Ra. Ayo kita masuk.”
Aku pun mengangguk sambil berkata “Ya Tante”
Tante Rani membuka pintu kamar Nando. Aku masuk ke kamarnya. Dan aku lihat Nando sedang tergolek sangat lemah. Aku ingin sekali menangis melihatnya. Dan aku meneteskan air mata melihat keadaan Nando yang seperti itu. Aku tidak percaya sama sekali. Yang aku tahu Nando orang yang sangat kuat dan bersemangat. Tetapi sekarang aku hanya melihatnya tergolek diselimuti di kasur itu. Di tangannya dipakaikan jarum infus. Aku mengambil kursi dan duduk di sisi Nando sambil melihat wajahnya itu. Tapi tiba-tiba, aku lihat matanya yang tertutup itu bergerak sedikit. Nando membuka perlahan-lahan matanya. Sepertinya ia tersadar akan kedatangan kami berdua.
”Nando.” kataku sambil tersenyum
Nando melihat ke arahku, ia hanya tersenyum. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia terus menatapku, tetapi tiba-tiba ia meneteskan air mata.
”Nando , mengapa kau menangis ?” tanyaku dengan wajahku yang juga sedang menangis.
Nando menggerakkan tangannya. Ia menggenggam tanganku. Tangannya dingin sekali. Ia menggenggam tanganku erat sambil meneteskan air mata, dan matanya perlahan-lahan tertutup.
”Nando ?”
”Tante rasa ia ingin istirahat , Ra. Ayo kita biarkan ia istirahat dulu.”
Aku melepaskan genggaman tangan Nando perlahan-lahan. Sambil menangis, aku keluar dari kamar Nando bersama Tante Rani. Aku tidak tahu, mengapa air mataku ini terus menetes keluar. Tante Rani kemudian menyodorkan tisu kepadaku. Aku mengambilnya dan mengusap air mataku dengan tisu itu. Kami duduk di luar kamar Nando.
”Tante sangat sedih melihat keadaan Nando yang seperti itu, Ra.” kata Tante Rani yang kemudian meneteskan air mata pula.
Aku hanya terdiam sambil menangis dan aku berdoa agar Nando akan diberikan kesembuhan dan dapat masuk ke sekolah kembali. Tiba-tiba, Dokter yang memeriksa Nando memanggil Tante Rani. Tante Rani menghapus air matanya itu dan ia masuk ke dalam ruangan dokter itu. Aku lihat pintu ruang dokter itu sedikit terbuka, aku mengintip sedikit ke arah Dokter dan Tante Rani yang sedang melakukan suatu pembicaraan, mungkin tentang keadaan Nando. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Tante Rani keluar dari ruangan dokter itu. Aku ingin sekali tahu tentang apa yang dibicarakan dokter dan Tante Rani. Tapi aku tidak enak bertanya kepada Tante Rani.
“Ayo Ra, kita pulang . Tante akan mengantarkanmu sampai rumah.”
“Baiklah tante.”
Akhirnya kami pulang. Di perjalanan pulang, Tante Rani hanya diam saja dengan wajahnya yang terlihat sangat murung.
................................................................................................................................................
Aku kembali ke sekolah tanpa Nando. Aku menceritakan keadaan Nando pada Bu Riska. Dan akhirnya, satu kelas tahu mengenai keadaan Nando yang sekarang.
Hari-hariku juga aku sempatkan pergi untuk menjenguk Nando. Saat aku datang, ia juga hanya tersenyum. Aku bercerita tentang sekolah kami dan ia hanya mendengarkan ceritaku. Kadang-kadang ia akan sedikit mengatakan sesuatu pula untuk merespon pembicaraanku. Dan saat aku datang, aku juga membawakan ia novel yang kupinjamkan dari perpustakaan. Aku menceritakan inti isi dari novel itu dan ia juga mendengarkanku. Kadang-kadang, saat aku becerita, ia terlelap tidur. Aku sangat senang dapat mengunjunginya, bercerita padanya. Karena aku tahu, ia pasti butuh teman.
Saat itu aku datang ke rumah sakit mengunjungi Nando. Aku membawa satu novel mangenai perjuangan seorang anak pengemis melawan kerasnya hidup. Aku semangat sekali menceritakan isi novel itu. Akhirnya, aku selesai bercerita. Nando tiba-tiba, menggenggam tanganku. Tangannya masih terasa dingin sekali. Ia menatapku.
”Aku sayang kamu. terima kasih atas semua ya Ra.” ucapnya padaku.
Aku terdiam dan mungkin mukaku memerah sekarang. Dan ia pun tertidur lelap. Aku tidak menyangka ia berkata seperti itu padaku. Aku keluar dari ruangan Nando dirawat dan aku hanya tersenyum mengingat kata-kata Nando itu.
………………………………………………………………………………………………
Aku juga sayang kamu Nando…
………………………………………………………………………………………………
Tapi, rasa senang saat aku mendengar kata-kata Nando itu berubah sudah menjadi sebuah kepedihan yang sangat mendalam.
Sudah 3 minggu setelah aku menjenguk pertama kali Nando di rumah sakit. Ketika itu, aku datang seperti biasa menjenguk Nando. Aku membawa novel ”Totto-Chan” , novel yang sangat ingin dibaca oleh Nando. Novel yang bercerita tentang seorang anak kecil polos dengan keceriaannya yang menikmati hidup. Aku sangat beruntung menemukan novel itu di perpustakaan sekolah. Aku sampai-sampai harus berdebat dengan kakak kelas untuk memperebutkan novel itu.
Dengan perasaan senang, aku datang menjenguk Nando. tapi ada yang aneh saat aku datang. Aku lihat dari luar pintu kamar Nando. ada Tante Rani, Dokter yang memeriksa Nando dan seorang perawat. Mengapa tante Rani menangis ? Aku membuka pintu ruangan Nando, udara dingin langsung merasuk ke tubuhku dan aku masuk dengan berjalan perlahan. Tante Rani terus saja menangis sampai ia berteriak histeris. Saat aku lihat Nando, ia terlihat pucat. Infus ditangannya pun telah dilepas. Sang perawat pun menutup mata Nando dan ia menutup tubuh Nando dengan selimut. Dan saat itu aku tahu, Nando telah meninggal dunia. Aku meneteskan air mataku. Aku tak dapat mengatakan apapun selain menangisi kepergian Nando. Aku belum sempat menyatakan perasaanku padanya. Maafkan aku Nando.
”Ra, ini dari Nando.” kata Tante Rani sambil menyodorkan suatu surat.
”Untukku, Tante ? tanyaku
”Ya untukmu.” jawab Tante Rani sambil menangis
Kubuka surat dari Nando itu. Kukeluarkan kertas berwarna biru dari amlopnya.
Aurora Amanda Lukman, kaulah orang yang dapat membuatku tersenyum di hari – hariku . Kaulah yang dapat membuatku tertawa karena candaanmu itu. Kau orang yang dapat memberikan aku semangat di setiap hariku. Kaulah pula yang telah membuatku ini jatuh cinta kepadamu.
Ra, maafkan aku harus meninggalkanmu untuk selamanya. Hanya kata maaf yang dapat kusampaikan padamu. Hanya sebuah kata cinta yang dapat kukatakan padamu. Hanya itu yang dapat kulakukan. Sekali lagi, aku minta maaf Ra.
Aku sayang kamu...
Fernando Wijaya
Kian kubaca surat itu, kian menetes air mataku. Tak ada yang kulakukan selain menangisi kepergian Nando. Aku sangat sedih telah ditinggalkan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya.
................................................................................................................................................
Kau jahat sekali padaku Nando...
...............................................................................................................................................
Bersandarlah aku kini
Pada lemahnya dinding yang terbentang
Aku sendiri
Dengan jiwa yang diselimuti kegelisahan
Sesal ini kian terasa
Sesal yang terus usikkan jiwa
Kata maaf itu kian terucap
Permohonan maaf akan segala
Aku tak tahu harus bagaimana
Semua terasa kosong dan hampa
Aku telah bersalah, aku takut dan aku sedih
Hingga aku seorang diri menyesali apa yang terjadi
................................................................................................................................................
Hari-hariku telah menjadi kosong setelah kepergian Nando. Hari-hari di sekolah sungguh menyebalkan. Aku hanya duduk sendiri dan hanya dapat menatapi tempat duduk Nando yang telah kosong. Kusadari ia telah tiada. Aku selalu sedih membayangkan kepergian Nando. Mungkin aku akan sulit melupakannya karena saat itu hanya ia yang ada di dalam hati ini. Kuharap kau akan bahagia di sana, Nando.
................................................................................................................................................
Setiap rasa penyesalan itu selalu datang ketika aku ingat masa dimana rasa sedihku mulai muncul. Ketika aku mengingat kepergian orang-orang yang kusayangi. Tapi, akhirnya aku bisa menjalani hidupku ini lebih baik, tanpa ada rasa sedih yang mengganjal hati. Aku tidak bisa memulai hariku jika aku hanya terus menyesal, sedih dan lemah.
Seperti biasanya, aku pergi ke sekolah dengan senyuman. Kusapa teman-teman dan guru-guruku. Saat bel masuk berbunyi, aku langsung siap dengan buku dan alat tulisku. Bu Riska akhirnya masuk, tetapi aku lihat, dia belum akan memulai materi pelajaran. Ia sepertinya akan mengatakan sesuatu.
“Selamat Pagi, anak-anak ” sapa Ibu Riska kepada kami, murid-muridnya
“Selamat pagi Bu” jawab kami
“Hari ini, kita akan mendapat teman baru.” kata Bu Riska
“Ayo Randy masuk” sambungnya.
“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan, nama saya Randy Sanjaya. Kalian dapat memanggil saya dengan nama Randy.” kata anak baru itu.
“Ya, terima kasih Randy. Silahkan duduk di sebelah Aurora.”
Anak lelaki yang bernama Randy itu datang menuju arah tempat dudukku, dan ia duduk di sampingku. Dengan tersenyum ramah, ia menyodorkan tangannya, bermaksud memperkenalkan dirinya padaku.
“Hai, namaku Randy, salam kenal.”
“Namaku Aurora, kau panggil aku dengan Rara saja. Senang berkenalan denganmu.”
Hari baruku akan kulewati mulai hari ini.
Selasa, 21 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar