Kubanting pintu mobilku. Tak tahu sudah berapa kali. Yang jelas, aku hanya ingin segera pergi dari sini. Kuhidupkan mesin mobilku. Segera kupacu mobil ini dengan kecepatan penuh. Tak peduli tatapan mata heran disekitarku. Tak peduli bunyi decitan ban mobil yang bergesekan dengan lantai parkir. Dari belakang terdengar teriakan seorang laki-laki yang memanggil namaku. Seorang lelaki tampan dalam balutan kemeja hitam dan jas abu-abu yang serasi. Dengan seorang gadis yang menarik tangannya. Menarik tangannya agar dia tak lagi berlari mengejar mobil ini. Bukan aku tak peduli dengannya. Sebaliknya, aku justru sangat mencintainya. Tapi terlambat, aku telah terbakar emosi. Amarah menyeruak dari pikiranku.
Dean. Laki-laki tampan yang telah mengisi hati dan hari-ku selama kurang lebih delapan bulan. Bukan waktu yang singkat untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami bertemu pertama kali di sebuah pertandingan basket antar SMA, satu tahun yang lalu. Ketika dia menjadi salah seorang anggota tim basket dari SMA Harapan Bangsa yang sedang bertanding, sedangkan aku menjadi anggota cheerleaders SMA Tunas Emas, rival pertandingannya. Tak kusangka, Dean merupakan kakak sepupu dari Ega, teman satu tim cheers-ku. Seusai pertandingan, dikenalkanlah aku dengan Dean. Tak lama, dia menyatakan cinta kepadaku. Tak kusangka, dia merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Janji itu pun terucap. Tapi apa yang terjadi sekarang sungguh diluar akal sehatku. Dia mendua di depan mataku.
***
“Apa Dit, kamu mimpi Key memutuskan hubungannya dengan Dean?” pertanyaan Dino memecahkan kesunyian.
“Bisa dibilang begitu,” sahutku. Kulihat Dino yang sedang meletakkan jari telunjuk ke dagunya, tanda bahwa ia berpikir.
“Gawat, Dit!” ujarnya dengan mimik wajah serius.
“Apanya yang gawat?” tanyaku heran sekaligus panik.
“Sepertinya kamu sudah terkontaminasi sama Keyla, Dit. Atau jangan-jangan kamu dipelet oleh Keyla,” katanya dengan nada bercanda. Dasar Dino. Orang lagi pusing justru bercanda.
“Bisa serius?” tanyaku seolah marah padanya.
“Tanya saja sendiri sama Keyla, itu orangnya di lapangan basket,” jawab Dino sambil menunjuk ke arah seorang perempuan cantik dengan tinggi tak kurang dari 165 cm yang sedang duduk di pinggir lapangan basket.
Tak biasanya Keyla hanya duduk-duduk di pinggir lapangan. Seorang Keyla mana tahan kalau sehari saja tak menjahili atau bersilat lidah dengan temannya. Pasti ada yang tidak beres. Kuhampiri Keyla, meninggalkan Dino yang tengah asyik membaca majalah bola.
“Kamu kenapa Key?” tanyaku sembari menepuk bahunya.
“Apa?” sahutnya celingukan.
“Keyla.. Keyla.. Selama ini, Keyla yang kukenal tak pernah absen menjahili orang, di saat sakit sekalipun. Keyla itu sosok yang kuat dan selalu ceria. Tak pernah melamun dan berwajah muram seperti sekarang,” jawabku. Kulihat tatap matanya yang memandang jauh ke depan. Pasti ada yang sedang dipikirkannya.
“Aku.. Aku dan Dean, semalam.. semalam kami putus, Dit,” sahutnya ragu. Lalu mengalir sebuah kisah pilu yang terjadi semalam, di tengah isak tangisnya. Persis seperti mimpiku, semalam.
***
Kabar yang beredar bahwa pertandingan basket akan segera diadakan, membuatku dan teman-teman anggota cheerleaders lainnya harus merelakan waktu tidur siang kami untuk melaksanakan latihan. Sedari sepulang sekolah sampai sore ini, kami masih tetap tinggal di sekolah untuk latihan. Kami harus melakukan persiapan yang matang. Tak mau kalah dari tim basket sekolah kami yang selalu memenangkan berbagai pertandingan bergengsi, kami juga harus menang. Namun karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya, Kak Sari, instruktur cheers kami mesti pulang sekarang juga. Akhirnya, latihan hari ini selesai sudah. Sebagian besar menghambur keluar untuk pulang, namun ada juga yang masih sibuk mengganti baju dan membereskan barang-barang bawaannya. Seperti aku dan Gina saat ini.
“Key, kamu pulang dengan siapa? Mobil kamu masuk bengkel kan?” tanya Gina yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.
“Biasa, mobil bekas!” sahutku
“Bekas pamanmu juga, cuma sempat dipakai dua bulan pula oleh beliau. Hiperbola kamu,” ujarnya bercanda. “Jadi mau pulang denganku atau naik kendaraan umum?” kembali ia bertanya.
“Aku pulang sama Radit, Gin,” jawabku sembari membantu Gina membereskan barang-barangnya yang tak beres-beres sedari tadi.
“Bagus! Sudah seharusnya kamu melupakan Dean, Key. Aku rasa Radit, kandidat yang cocok. Bahkan dia lebih tampan dari Dean. Kapten basket pula,” Gina berbicara panjang-lebar.
“Sudah selesai ceramahnya?” tanyaku ketus. Aku sangat sensitif bila disinggung soal Dean.
“Maafkan aku, Key. Aku tak bermaksud menyinggung soal Dean,” nada bicara Gina terdengar tulus. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan. Sudahlah, Gina juga tak sengaja.
“Sudah, lupakan saja! Keluar yuk!” ajakku pada Gina. Radit pasti sudah menunggu di lapangan parkir sekolah. Benar saja, sebuah mobil sedan berwarna hitam sedang terparkir disana. Kulambaikan tanganku kepada Gina yang segera berlalu menuju mobilnya. Lalu, kubuka pintu mobil Radit.
“Sepertinya ada yang aneh dengan rambutku,” sebuah suara mengejutkanku. Kutengok sumber suara, tentu saja Radit.
“Kamu baru potong rambut, ya?” tanyaku polos. Kubetulkan posisi dudukku.
“Sepertinya ada uban yang tumbuh karena terlalu lama menunggu Keylani Putri,” sahutnya menyindirku. Sambil tertawa, kucubit kecil perutnya. Dan tawa kami terganti dengan suara deru mobil Radit yang segera bersiap mengantarku kembali ke sebuah kos putri. Wajar, karena aku tinggal sendiri di kota ini. Sedari kecil aku dirawat oleh paman dan bibiku, satu-satunya keluarga yang kumiliki. Mereka berdua tinggal di Jakarta. Itulah sebabnya aku tinggal sendiri.
“Sudah sampai, nona!” ucapan Radit menyadarkanku dari lamunan panjangku.
“Terima kasih!” sahutku sembari mengacak-acak rambutnya.
“Kenapa kamu tak mau menerima ajakan ibuku untuk tinggal di rumahku. Lebih baik kamu tinggal dirumahku saja. Lebih aman dan nyaman,” ucapnya sebelum aku menutup pintu mobilnya.
“Aman, nyaman, ditambah supir pribadi yang siap mengantar kemana saja ya?” sahutku bercanda. Kulihat Radit berkacak pinggang, siap-siap menjitak kepalaku. Terlambat pintu mobilnya sudah kutup sebelum dia sempat melaksanakan niat jahatnya itu.
“Tunggu pembalasanku, Key!” teriak Radit sembari menurunkan kaca mobilnya. Bercanda tentunya. Aku tersenyum.
Aku mengenal Radit lebih dari setahun yang lalu. Kami merupakan teman satu kelas. Kami menjadi dekat semenjak aku menjadi cheers yang bertugas mendukung tim basket, termasuk Radit. Karena begitu akrabnya, aku sudah mengenal dengan baik kedua orang tuanya. Ternyata lamanya persahabatan tak menjamin matinya perasaan. Dari teman biasa, bisa tumbuh cinta. Mungkin Gina benar, Radit kandidat yang cocok sebagai pengganti Dean.
***
Nafasku terengah-engah. Keringat bercucuran dari sekujur tubuhku. Dengan sekuat tenaga kulempar bola basket yang tengah kupegang ke dalam ring. Aku tak berharap banyak. Hanya tinggal tiga belas detik yang tersisa bagiku. Kututup mata bermimpi keajaiban akan datang. Benar saja, bola tersebut masuk tepat sesaat sebelum waktu habis, dan dinyatakan sebagai three point-shoot berarti skor tim kami bertambah menjadi 41-38 untuk kemenangan tim kami. Kontan, seluruh pendukung tim basket SMA Tunas Emas berteriak senang. Sorak-sorai kemenangan membahana di gelanggang olahraga terbesar di kota ini. Seluruh anggota tim basket memelukku. Mengelu-elukan namaku. Bersama dengan guru basket kami, aku diangkat keliling lapangan. Begitu diturunkan, sebuah medali dikalungkan ke leherku. Serah terima medali dan hadiah dilakukan. Kulihat senyum bahagia dari wajah Key. Senyum lepasnya yang pertama semenjak putusnya hubungan Key dengan Dean. Tak lama setelah itu, Key menghampiriku.
“Selamat ya, Dit!” ucapnya sembari menjabat tanganku.
“Ya sayang!” sahutku bercanda.
“Apa? Awas kamu Radit!” Key berteriak, dipukulinya badanku dengan pom-pom yang dipegangnya. Aku tertawa, bukan hanya karena pom-pom yang membuat badanku geli, tapi juga ekspresinya yang lucu. Ini dia Key yang dulu, yang lama tak kulihat.
***
Tiga belas detik lagi dan.. masuk! Sebuah three point-shoot dari Radit, membuahkan hasil. Hebat. Kulihat dia diangkat oleh teman-temannya. Semua orang mengelu-elukan namanya. Rasa bahagia menjalar padaku. Senang rasanya melihat dia tertawa bahagia. Baru kali ini aku merasa benar-benar senang. Aku yang sedari tadi berada di pinggir lapangan menghampirinya. Aku yang memberi selamat kepadanya, justru dijadikan bahan bercandaan baginya. Kupukuli badannya dengan pom-pom yang tengah kugenggam.
“Ke ruang ganti yuk, Key!” sahutnya mengajakku.
“Ya, tapi jangan main-main lagi!” sahutku pura-pura kesal. Ditariknya tanganku. Ditariknya menuju kamar ganti. Melihat wajah jahil Radit, mengingatkanku akan pembicaraanku dan Gina.
“Kamu memang kandidat terbaik, Dit! Gina benar,” bisikku pelan sambil terengah-engah. Untuk sekedar informasi, kami telah berada di ruang ganti, tinggal teman-teman yang lain terheran-heran melihat kami yang terengah-engah.
“Apa Key?” tanyanya.
“Capek tahu!” sahutku gusar. Untung Radit tak mendengar perkataanku.
Diacaknya rambutku sembari tertawa. Diambilnya baju ganti dari tas. Tak lama dia masuk kedalam kamar ganti yang sekaligus berfungsi sebagai tempat MCK. Mandi, cuci, dan kakus. Kuambil juga baju ganti dari tas biru kesayanganku. Mana mungkin aku keluar dari gelanggang olahraga dalam seragam cheers. Kumasuki kamar ganti yang kosong. Dari luar terdengar suara dari teman-teman yang lain.
“Key, mau ikut kami pergi ke rumahku atau tidak?” teriak Gina dari luar.
“Maaf Gin, aku sudah ada acara,” jawabku jujur. Terdengar tawa dari luar. Pasti ulah Gina.
“Acara dengan Radit ya? Boleh ikut?” tanya Gina menggodaku. Tawa nyaring semakin terdengar dari luar
“Ya, Key memang ada acara denganku!” suara Radit terdengar, bermaksud menggodaku. Kontan, teman-teman satu tim cheers-ku tertawa seru. Aku memilih diam. Radit memang tak tahu situasi dan kondisi.
***
“Radit! Kamu ini benar-benar tak tahu sikon ya!” teriak Key begitu memasuki mobilku. Ditekuknya wajah cantiknya.
“Tak tahu sikon bagaimana?” tanyaku polos. Aku memang benar-benar tak mengerti maksudnya. Key tak menjawab. Sifat Key memang susah ditebak. “Key, aku minta maaf kalau aku ada salah ucap,” tambahku. Aku takut membuat Key marah.
“Wajah kamu lucu kalau begitu Dit!” sahutnya sambil tertawa. Dasar Keyla. Ternyata dia tadi pura-pura marah.
“Jadi kamu main-main, Key?” giliran aku yang pura-pura marah.
“Gantian ya?” tanyanya.
“Kamu itu, Key! Ya sudah, kencangkan sabuk pengamanmu. Aku mau ngebut!” jawabku gusar.
Kupacu mobil dengan kecepatan sedang. Mana mungkin aku ngebut bila membawa penumpang, Keyla pula, bisa penuh dengan muntah mobilku. Key sering mabuk bila mobil yang dikemudikan ngebut. Tak lama, kami sampai di tempat tujuan. Sebuah danau indah dengan puluhan pohon rindang disekitarnya. Danau itu merupakan tempat favorit kami berdua. Tempat kami melepas penat. Bahkan jadi tujuan utama kalau kami sedang membolos berdua dari sekolah. Tempat ini terlihat sepi. Sepi seperti biasa. Key segera berlari. Lalu dengan santainya duduk diatas kayu tua yang berada melintang didepan danau. Kuhampiri dia.
“Disini dingin, ya Key?” tanyaku membuka pembicaraan. Kupakaikan jaketku ke bahunya.
“Makasih Dit!” sahutnya riang.
“Ya, sayang!” sahutku bercanda. Pasti sebentar lagi Key akan berteriak dan menjitak kepalaku. Lalu mengejarku diantara rimbunnya pepohonan. Namun Key hanya tersenyum, tak ada reaksi darinya.
“Kamu benar-benar sayang aku, Dit?” pertanyaannya membuatku terdiam. “Aku tahu kita sudah cukup lama berteman, satu tahun bukan waktu yang singkat memang,” tambahnya. “Tapi, aku tak lagi bisa membohongi rasa. Aku.. Aku merasa beda setiap kita berdua. Bukan seperti dulu. Ada rasa yang memaksa aku untuk bilang aku sayang kamu, Dit.” ucapnya
“Makasih Key, kalau kamu sayang aku. Aku juga sayang kamu. Kita kan teman dekat,” sahutku mencoba merangkai kata yang tepat.
“Bukan sayang sebagai teman, Dit! Aku benar-benar sayang kamu. Cuma kamu yang bisa membuatku melupakan Dean. Kamu.. Kamu mau menggantikan posisi Dean kan Dit?” tanyanya. Kulihat dia menundukkan kepala.
“Kamu terbawa euphoria kemenangan sekolah kita, ya?” candaku, mencoba mencairkan suasana.
“Aku serius, Dit! Kamu mau kan menggantikan Dean, Dit?” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
“Aku.. Aku tak bisa, Key. Kita tak mungkin bersama!” kucoba mengatakan hal yang sejujurnya.
“Kenapa Dit? Apa karena kita sahabat? Atau ada perempuan lain yang kamu suka?” sahutnya penuh emosi. Dia berdiri, lalu menyandarkan tubuh rampingnya ke pohon didekatnya.
“Bukan Key, bukan karena itu.” jawabku.
“Lalu, karena apa Dit? Kenapa?” dia bertanya. Pipinya meme rah. Air mata mulai menetes membasahi hidungnya yang mancung.
“Karena… karena kita saudara kandung, Key!” kubongkar fakta yang selama ini kusembunyikan. “Kita saudara kembar,” ucapku pelan.
“Kamu bohong, Dit! Kamu cuma tak mau menerima aku, Dit!” jawabnya tak mau menerima kenyataan. Dia tutupi kedua mulutnya, tanda tak percaya.
“Ayah memberikan kamu kepada paman Agus dan bibi Sheila yang merawat kamu sekarang. Mereka berdua adalah teman ayah. Dan ini semua karena… karena mereka tak punya banyak dana untuk merawat kita berdua, Key. Bibi Sheila yang belum memiliki anak, jatuh hati setelah melihat kamu, Key. Bibi Sheila lalu mengadopsi kamu yang baru berumur tiga bulan!” ucapku. “Ayah terpaksa memberikan kamu kepada mereka karena ayah baru saja bangkrut. Paman Agus memberikan modal untuk kembali membangun usaha ayah jika ayah mau merelakan kamu diadopsi oleh mereka.” tambahku.
“Kamu bohong Dit! Bohong!” teriaknya. Tangisnya semakin deras.
“Kamu tahu mengapa mereka menyuruhmu bersekolah disini, Key. Kamu tahu? Karena mereka mau mengenalkan kamu kepada kedua orangtua kandungmu. Agar kamu bisa beradaptasi dan menerima kami kembali sebagai keluargamu. Paman Agus tak tega melihat ibu kita yang sering sakit-sakitan karena mengingatmu.” kuceritakan semuanya. “Sudah lama aku ingin menceritakan fakta ini, Key. Tapi ayah melarangku. Bukan waktu yang tepat menurut beliau. Akhirnya aku hanya bisa berteman dekat denganmu. Karena aku mau melindungimu, Key. Aku tak mau ada satu orang pun yang menyakiti adikku.” aku berujar pelan.
“Bukan waktu yang tepat? Waktu yang tepat, Dit? Jadi menurut kamu ini waktu yang tepat, Dit? Disaat aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku, disaat aku sadar orang itu adalah kamu, Dit? Jawab Dit! Jawab!” diguncang-guncangkannya tubuhku.
“Bukan begitu, Key. Aku tak mungkin membiarkan perasaan kamu terus bersemi, Key. Kita kakak-adik. Kamu harus mampu menerima kenyataan, Key!” kujawab tanyanya. Pasti sulit baginya untuk menerima kenyataan. Tapi aku memang tak bisa terus berbohong. Kugenggam tangannya. Kutarik dia kedalam pelukanku. Awalnya dia terus memberontak, sampai akhirnya dia lelah dan menangis keras dalam pelukanku. Kucoba menenangkannya, “Maaf Key, maafkan kakak.”
***
“Key, ayo cepat! Kamu tak mau membuat tamu kita menunggu kan?” sebuah suara terdengar dari dalam mobil.
“Ya, tunggu sebentar kak!” jawabku. Kak Radit ini benar-benar tak sabaran. Kupatut diriku di depan cermin kamarku. Sebuah gaun malam tanpa lengan berwarna merah marun berpotongan v-neck dengan panjang di atas lutut.
“Bagus ya bu!” ucapku kepada seorang wanita berumur empat puluhan yang sedang duduk sembari memasangkan sebuah bros di bajunya.
“Ya sayang! Ayo cepat. Ayah dan kakak sudah menunggu di depan!” ujarnya lembut. Digandengnya tanganku. Diajaknya aku keluar rumah. Kami berjalan berdua sambil berpegangan tangan.
“Bagaimana yah, kak? Bagus tidak?” tanyaku sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
“Cantik sekali kamu, nak!” jawab seorang pria yang juga berumuran empat puluhan dalam setelan jas berwarna hitam.
“Ya, cantik kok Key! Kakaknya saja cakep!” sahut seorang pemuda berumur belasan tahun yang tengah duduk dibalik kemudi mobil.
“Makasih ayah! Makasih kakak jelek” sahutku. “Ayo kak, tancap gas!” ujarku nyaring, yang disambut tawa dari mereka.
Hari ini ulang tahunku yang ke tujuh belas. Beruntungnya, karena ulang tahunku dan kakak kembarku kali ini dirayakan oleh kedua orang tua kami di sebuah hotel mewah. Aku sudah mengundang begitu banyak tamu dan aku tak mau mengecewakan mereka dengan membuat mereka semua menunggu. Sekarang aku telah berada di dalam mobil yang akan segera mengantarkanku ke tempat tujuan. Bersama ayah, ibu, dan kakakku. Keluarga lama yang baru kutemukan. Kutatap langit malam melalui jendela. Dingin memang, namun kehangatan yang sedang kurasa. Kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Aku, Keylani Putri Satriawan, berjanji tak akan mengecewakan ayah, ibu dan kak Radit yang aku sayangi. Selamanya…
Dessy Carmelia Nurhadana
X.2
11
Senin, 20 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar