Minggu, 19 April 2009

Akhir Sebuah Cerita

Akhir Sebuah Cerita
Karya : Heny Handayani (22)




Kaca jendela kamar masih berembun, pagi yang dingin datang menghampiri. Lama-kelamaan , sinar matahari pun menerobos masuk dan memantul lewat kaca jendela, menggantikan dingin dengan kehangatan. Tepat di depan cermin hias, Nina sedang mengikat rambut panjangnya.
“Yak, selesai.” ucapnya sambil mengambil tas sekolahnya. Nina segera beranjak dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan.
“Pagi.” ucap Nina sambil menarik kursi dan langsung duduk manis.
“Nina, cepat habiskan sarapannya agar kamu tidak terlambat.” ujar Mama sambil menuang susu dalam gelas.
“Ah, iya.” Nina mengambil roti isi dan memakannya dengan lahap.
“Dan ini bekalnya, sandwich tuna.” ujar Mama sambil menyodorkan kotak bekal kepada Nina.
“Iya.” jawab Nina dengan mulut setengah penuh roti isi.
“Nina, coba lihat jam.”
“Jam? Ada apa?” ucap Nina bingung.
“ Lima belas menit lagi kamu masuk.” kata Mama sambil mengambil koran.
“Apa?! Gawat! Ya sudah, aku pergi dulu.” teriak Nina yang kemudian mencium pipi mamanya itu. Nina berlari menuju mobilnya dan langsung melesat pergi.
“Dasar, selalu saja terlambat.” oceh Mama.



Kriiing!!
Bel sekolah berdering keras. Waktu menunjukkan pukul 07.00.
"Arrgh! Aku telat!” gerutu Nina yang masih berada di dalam mobil.
Nina turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam gedung sekolah.
“Aduh, sial sekali hari ini.” ucap Nina sambil berjalan mengendap-endap menyusuri lorong menuju kelasnya, X.2.
“Hei, kamu yang di sana ! Kamu terlambat!” teriak seorang guru yang sepertinya adalah guru piket. Wajah guru piket itu sungguh menyeramkan, membuat bulu kuduk Nina merinding.
“Ahahaha. Maaf, Bu.” ucap Nina sambil tertawa ketakutan.
“Berdiri di lapangan!!” teriak guru piket itu.
“Haha. I…iya.” jawab Nina.
Nina berdiri di lapangan tengah sekolah yang luas sendirian. Tampak anak-anak kelas lain yang berada di lantai atas memperhatikannya.
“Pagi-pagi sudah begini,” Nina menghela napas.
Tidak lama kemudian, seorang anak laki-laki yang tampaknya juga siswa kelas sepuluh berdiri di tengah-tengah lapangan. Anak itu bertubuh tinggi dan kurus, raut wajahnya datar tanpa ekspresi.
“Kalian berdua ini sudah sering telat!” tegur Ibu Ani, nama guru piket itu.
“Maaf.” ujar Nina sambil merunduk.
“Kamu yang di sana , mendekat ke sini!” panggil Bu Ani. Anak itu berjalan mendekat dan sekarang berada tepat di sebelah Nina.
“Siapa nama kalian?” tanya Bu Ani.
“Saya Nina dari kelas X.2, Bu.”
“Saya Ado dari kelas X.14.”
“Kalian berdiri di lapangan ini sampai jam pelajaran pertama selesai.”
“Baik.” jawab Nina dan Ado bersamaan.
Mereka berdua bertengger selama lebih kurang 40 menit di lapangan. Saat bel pergantian jam pelajaran berbunyi, mereka berdua pergi meninggalkan lapangan menuju kelas masing-masing yang berlawanan arah.
“Ado , ya.” ujar Nina sambil tersenyum memandangi Ado yang berjalan menjauh.



“Haah, lelah sekali! Berdiri di tengah lapangan yang panas!” gerutu Nina.
“Haha, menyedihkan sekali.” ucap Ayu yang merupakan teman sebangku Nina.
“Makanya, kamu jangan sering bangun telat.” tambah Maya, teman baik Nina dan Ayu.
“Yah, itu sulit sepertinya. Haha.” ucap Nina sambil tersenyum.
“Dasar!”
“Oh, iya. Kalian kenal dengan Ado , anak kelas X. 14?” tanya Nina.
“ Ado ?” tanya Maya.
“Oh, pasti Ado Soerahman!” jawab Ayu.
“ Ado Soerahman? Siapa dia?” tanya Nina.
“Itu, anak X.14 yang paling menyebalkan. Orangnya aneh, tidak suka diajak bicara.” jelas Maya.
“Menyebalkan?” tanya Nina dengan dahi yang dikernyitkan.
“Iya, Ado itu suka marah-marah kalau ada orang yang salah, walaupun hanya sedikit padanya.” jelas Maya lagi.
“Kenapa kamu tanya begitu?” tanya Ayu.
“Ah…” Nina terkejut.
“Ciee, Nina suka sama Ado ?”” goda Ayu dan Maya.
“Hah? Suka? Jangan bercanda!” gerutu Nina.



Sepulang sekolah, Nina berjalan keluar dari gedung sekolahnya untuk menunggu jemputannya.
“Kapan dijemput, ya? Lama sekali!” gerutu Nina.
Saat menunggu, tepat di belakang Nina ada orang-orang yang sedang berkelahi.
“Aduh! Ada apa, ya?” tanya Nina bingung.
Perkelahian itu merupakan pengeroyokan terhadap terhadap satu orang dan orang itu adalah… Ado !!?
“Jangan banyak gaya !!” teriak salah seorang yang mengeroyok Ado .
Kerumunan itu pun meninggalkan Ado sendirian. Perkelahian itu menyisakan luka memar di wajahnya.
“Ukh, sakit.” ucap Ado sambil mengusap luka di pipinya yang mengeluarkan darah.
Nina secara tidak sadar mengambil plester dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Ado .
“Apa?” tanya Ado .
“Ini, buatmu. Lukamu sepertinya sakit.” jawab Nina.
“Tidak usah.” jawab Ado dingin.
“Hei, terima sajalah. Lukamu itu perlu ditutup supaya darahnya tidak banyak keluar.” jelas Nina.
“…” Ado terdiam. Lalu, dia mengambil plester itu dan memakainya.
“Lebih baik.” ucap Nina sambil tersenyum.
“Terima kasih.” ucap Ado sedikit malu.
Nina mengulurkan tangannya untuk membantu Ado berdiri. Mereka berdua pun duduk di kursi yang ada di dekat mereka.
“Kalau boleh tahu, kenapa kamu dipukuli?”
“Biasalah, kakak kelas tukang pengiri.”
“Oh, iya. Perkenalkan, aku Nina Putri.”
“Aku Ado Soerahman dari X..14, salam kenal.”
“Haha, tadi kita sudah ketemu di lapangan.” ucap Nina.
“Terlambat, sial sekali tadi. Padahal aku sudah hampir berhasil mengecoh guru piket.” gerutu Ado dengan wajah kesal.
“Iya, gesit sekali guru piket kita. Hahaha.”
“Hahaha.” Ado pun tertawa.
“Aduh, lama sekali dijemput.” Nina tiba-tiba kesal.
“Sudah siang.”
“Oh, iya. Hari ini memang aku tidak dijemput!”
“Eh?”
“Hahaha. Aku pulang naik apa, ya?”
“Umm, mau pulang sama aku?”
“Hah?”
“Ah, kalau mau, sih.”
“Oh, boleh,ya? Aku mau sih, soalnya takut pulang sendirian.”
“Oke, ayo pulang. Kamu tinggal di mana?”
“Di Kompleks Permai Indah.”
“Oh, ayo!”
“Ya.”
Nina dan ado pun pulang bersama. Tanpa sadar, mereka menjadi akrab dan berteman baik. Rasa pertemanan yang erat pun lambat laun berubah menjadi rasa suka.



Tiga bulan telah berlalu, Nina dan Ado sudah resmi berpacaran. Rasa cinta di antara mereka bertambah besar.
“Wah, kalian mesra sekali.” goda Ayu.
“Iya, buat sirik. Padahal dulunya benci.” goda Maya pula.
“Kalian ini, itu sudah lalu. Sekarang beda.” jawab Nina.
“Kehidupan yang romantis.” ucap Ayu.
“Dunia serasa milik mereka berdua.” tambah Maya.
“Dasar kalian. Malu!!!” wajah Nina memerah.
Mereka bertiga bercerita dengan hebohnya hingga tidak menyadari ada Ado di dekat mereka. Wajah Ado merah padam mendengar semua percakapan ketiga siswi itu.
“Sstt!” Nina menyuruh Ayu dan Maya untuk diam.
“Umm. Nina, mau ke kantin?” tanya Ado .
“Boleh.” jawab Nina.
“Kalian berdua mau ikut?” tanya Ado kepada Ayu dan Maya.
“Ah, kalian pergi berdua saja. Kami mengganggu nantinya.” jawab Ayu.
“Iya, sana pergi.” usir Maya sambil tertawa geli.
“Kalian diam saja.” ucap Nina.
Sementara Ado hanya terdiam mendengar ocehan tidak penting mereka.
“Kami pergi dulu.” kata Ado.
“Daaah!” seru Ayu dan Maya bersamaan.
Nina dan Ado pergi ke kantin bersama-sama, meninggalkan Ayu dan Maya.



Kehidupan Nina dan Ado sangatlah menyenangkan. Di mana tawa, riang, dan kasih berkumpul menjadi suatu bentuk baru, yaitu cinta. Dimulai dari pertemuan tak terduga di antara mereka dan kesempatan untuk bertegur sapa. Semua sudah tertulis dalam takdir mereka, pertemuan yang manis.
Nina yang sedang tiduran di atas ranjang empuknya sibuk mengutak-atik ponselnya. Nina mencari nama “Ado” dengan cepat, kemudian mengetik pesan untuknya. Pesan pun dikirim dengan sukses. Sekitar dua puluh menit menunggu jawaban, Nina tidak mendapati pesan masuk dari Ado untuknya.
“Aneh. Kenapa belum dibalas? Tidak biasanya Ado lelet.” Nina tertawa kecil.
Nina mengirim pesan sekali lagi untuk Ado. Namun, tetap saja tidak ada pesan masuk untuk Nina.
“Ah, sebaiknya aku telepon dia.”
Nina pun menelepon Ado. Lima belas detik menunggu, teleponnya itu dijawab. Wajah Nina menunjukkan kegusaran, dia terus mengulangi untuk menelepon Ado, tapi tetap saja tidak diangkat. Sampai akhirnya, Nina meletakkan ponselnya di atas meja. Wajahnya merengut sebal.
“Ado jahat. Padahal aku mau cerita. Ado ke mana sih?!”



Keesokan harinya, Nina mendatangi kelas Ado pada jam istirahat. Matanya melirik ke sudut-sudut ruang kelas X.14, berharap menemukan Ado.
“Nina…”panggil Ado dari belakang Nina.
“Ado, aku mau bicara. Kita ke kantin, ya?” pinta Nina.
“Oh, baiklah.”
Mereka berdua pergi menuju kantin. Sesampainya di kantin, mereka memilih untuk duduk di sudut kiri kantin yang sedikit sepi. Tampaknya Nina ingin pembicaraannya dengan Ado tidak terdengar orang lain.
“Ada apa, Nina?” tanya Ado datar.
“Umm… Aku mau tahu, kamu ke mana kemarin malam?”
“Kemarin malam?” Ado heran.
“Iya, kemarin malam.” Nina menjelaskan.
“Aku tidur, lebih tepatnya ketiduran.”
“Kenapa pesan dan telepon aku dibiarkan saja? Kenapa kamu?”
“Ah.. Kemarin ponselku habis baterai. Tadi pagi baru aku lihat kalau kamu telepon dan kirim pesan ke aku. Maaf.”
“Oh, begitu. Ya sudah, aku kasih kamu maaf deh. Jangan diulangi.” nasihat Nina.
“Iya.” Ado tersenyum.
“Ado, dua minggu lagi aku ulang tahun. Kita candle-light dinner, mau?” tanya Nina malu.
Baru pertama kali dia mengajak seorang laki-laki untuk makan malam.
Candle-light dinner?”
“Ya, mau pergi, kan?” pinta Nina.
“Pasti. Aku pasti datang sambil bawa bunga dan kado buat kamu.” Ado tersenyum manis.
“Tempatnya di Delly Restaurant jam tujuh malam, ya? Hahaha…”Nina tersenyum juga.
“Iya.”



Dua minggu Nina menanti hari ulang tahunnya yang ke-17. Di mana dia berdandan secantik mungkin untuk hari spesialnya itu. Semua persiapan sudah disiapkannya dengan sebaik mungkin, tak boleh terlewat satu pun. Kesempurnaan untuk yang terbaik. Nina tersenyum manis di depan cermin.
“Aku harus tampil spesial untuk malam ini.”
Nina memilih gaun cantik berwarna merah muda dengan potongan cantik sebagai gaun tercantiknya untuk malam ini. Semuanya dipercantik. Hingga pada pukul tujuh kurang, Nina sudah berangkat menuju Delly Restaurant.
Sesampainya di Delly restaurant, Nina langsung mencari Ado yang mungkin sudah datang. Sayangnya, Ado belum datang. Nina tahu kalau dia mungkin datang terlalu cepat. Dengan pelan, Nina duduk di kursi dan menunggu kedatangan Ado.
“Pasti sebentar lagi Ado datang.”
Tapi, hingga pukul tujuh lewat tiga puluh, Ado belum juga datang. Nina segera mengambil ponselnya dan menelepon Ado. Namun, tidak ada jawaban. Berapa kali pun dicoba, tetap saja tidak dijawab. Wajah Nina mulai berubah ekspresinya. Senyum manisnya telah berubah menjadi kegusaran untuk menanti hadirnya Ado.
Hingga pukul sepuluh malam, Ado tetap tidak datang. Nina beranjak pergi dari kursinya dan meninggalkan restoran itu. Butir-butir air mata jatuh dari matanya. Dia kecewa pada Ado. Tak mampu berbuat apapun dan pulang ke rumah.



Keesokan harinya, Nina tidak masuk sekolah. Tubuhnya panas, ia demam. Nina terus menangis di dalam kamarnya.
“Nina, ada yang mau bertemu kamu.” panggil Mama.
“Umm.. Siapa, Ma?”
“Kamu temui dia, dia sudah menunggu.”
“Iya.”
Nina berjalan dengan langkah terhuyung-huyung, pergi ke luar rumahnya untuk menemui orang yang dikatakan Mama tadi. Nina melihat orang itu. Ia sangat mengenalnya. Raut wajah pucatnya berubah menjadi amarah setelah melihat orang itu, karena orang itu adalah Ado.
“Pergi kamu!!” usir Nina marah.
“Nina…”
“Pergi!!”
“Maaf, Nina. Aku tidak bermaksud. Aku sungguh minta maaf padamu.”
“Pergi!! Aku tak mau melihatmu lagi!”
“Aku salah padamu. Aku membuatmu kecewa. Semua salahku.”
“Kamu tahu kalau kamu salah?! Hahaha… Aku tidak menyangka.”
“Nina…”
“Kamu egois! Tidak memikirkan perasaanku!”
“Maaf…”
“Pergilah…”
“Nina, maafkan aku…”
“PERGI!!’
Ado terkejut. Dengan kecewa, Ado pergi meninggalkan Nina yang memaki dirinya. Tampak rasa penyesalan yang besar dari raut wajahnya. Tapi, semua sudah terlambat.
Nina dan Ado tidak pernah bertemu lagi. Nina selalu menghindari Ado, tidak mau bertemu dengannya lagi. Hatinya terluka. Tak dapat terobati lagi.



Dua bulan telah berlalu, Nina tetap murung. Ayu dan Maya tidak mampu mengembalikan keceriaan Nana lagi. Semuanya sudah berakhir. Tidak bisa dibenarkan lagi.
“Nina, kamu tahu kalau Ado sakit?” tanya Ayu.
“…” Nina hanya diam.
“Kudengar, sakitnya parah. Apa kamu tidak tahu?” tanya Ayu.
“Aku tidak peduli. Itu urusannya, bukan urusanku.” jawab Nina.
“Kamu tidak boleh begitu! Dia memang salah, tapi apa kamu tidak bisa memaafkannya?” tanya Maya.
“Apa kamu tahu perasaanku? APA KAMU TAHU BETAPA SAKITNYA HATIKU?!” teriak Nina.
“Nina…” Maya tak bias berkata lagi.
“Semua sudah berakhir.” ucap Nina.



Keesokan harinya, Nina melamun memandangi langit. Berharap pedih hatinya terbang ke langit. Terdengar bunyi bel pembukaan pengumuman yang bising, membuat lamunan Nina pecah.
“Pengumuman! Diberitakan berita duka. Telah meninggal dunia, Ado Soerahman dari kelas X.14, pagi ini di Rumah Sakit Medistra. Saat ini, jenazah siap dikebumikan di Pemakaman Umum Griya. Harap semua siswa-siswi memanjatkan doa untuk arwah Ado.”
Nina terdiam. Waktu terasa berhenti. Mata Nina mulai berlinang dan tanpa sadar tetes demi tetes air matanya mengalir. Ayu dan Maya memeluk Nina dengan erat, mencoba mengurangi kesedihan Nina, walaupun cuma sedikit.
Nina sangat menyesal. Kini tahulah ia alasan Ado tidak datang saat ulang tahunnya dulu. Nina terus menangis. Ia tidak bisa berkata-kata. Entah bagaimana Nina bias mengucapkan maaf yang tidak mungkin lagi bisa diucapkannya langsung untuk Ado. Ado sudah pergi selamanya. Hanya meninggalkan kenangan manis dan pahit untuk Nina. Ado yang muncul di kehidupan Nina dengan penuh cerita indah, berakhir dengan duka dan luka yang sangat mendalam. Entah sampai kapan duka dan luka itu dapat sembuh dan hilang dari hati Nina. Nina telah tenggelam dalam pahitnya cinta dan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar