Senin, 20 April 2009

Drama Hidup Ryan

Karya : Jenice Chandra

Malam telah larut, Ryan sedang mengendarai mobil mewahnya sambil menyusuri jalan tol ibukota untuk pulang ke apartemennya. Jam menunjukkan pukul 2.00 pagi dan Ryan sudah mulai merasa mengantuk apalagi ia masih harus ke kantor dan menghadiri rapat penting keesokkan harinya. Sebenarnya, alasan mengapa Ryan masih pergi selarut itu padahal ia tahu bahwa ia ada rapat penting besok adalah karena hari ini ia merasa sangat tersinggung dengan ucapan teman sekantornya yang mengatakan bahwa, Tuhan tidak akan memaafkan kaum homoseksual. Ya! Ryan memang salah seorang dari ribuan kaum homoseksual yang sekarang masih sangat tabu untuk dibicarakan di Indonesia. Setiap kali ia merasa terpojok karena orientasi seksualnya, Ryan selalu pergi ke klub malam gay untuk saling membagi cerita alias curhat atau sekedar mencerahkan pikiran dari seharian berpura-pura menjadi kaum heteroseksual.

Pukul 2.30 pagi, Ryan telah sampai di apartemen mewahnya. Ia segera menuju kamar tidurnya dan menghempaskan dirinya ke kasurnya dan langsung terlelap. Di samping kasurnya terdapat foto keluarganya. Sesungguhnya, Ryan sangat mecintai keluarganya namun ia harus meninggalkan rumah keluarganya karena ia tak mau menghancurkan nama baik keluarganya hanya karena ia seorang homoseksual, apalagi keluarganya sangat religius dan taat pada norma-norma agama. Sejak 2 tahun yang lalu, Ryan pun putus hubungan dengan keluarganya dan hidup sendiri di keramaian kota.

Keesokan harinya, Ryan berhasil sampai di kantor tepat waktu dan dapat mengikuti rapat dengan baik. Ryan termasuk seorang pemuda yang sangat berhasil. Ia dapat menjabat menjadi seorang direktur perusahaan iklan besar pada umur 24 tahun. Ia pun menjadi idola di kalangan teman kerja wanita di perusahaan tempat ia bekerja. Bagaimana tidak..? Ryan masih muda, tampan, kaya, baik hati dan berhasil di pekerjaanya. Namun tak ada seorang pun yang tahu bahwa ia adalah seorang homoseksual.

Suatu hari, bos Ryan memberi tahu Ryan bahwa ia akan segera mendapatkan sekretaris baru. Lalu keesokan harinya, ia melihat sosok perempuan yang menarik dan terlihat sangat dewasa sedang duduk di meja sekretarisnya.
“Kamu siapa?”tanya Ryan. “Ah, nama saya Indri Hermanto, saya sekretaris baru pak Ryan Lesmana. Anda pasti pak Ryan.” Ryan sedikit terkejut dengan sekretaris barunya karena ia merasa ada sesuatu dari gadis ini yang menimbulkan perasaan aneh di hatinya. Namun, Ryan tidak terlalu memikirkannya. Ia pun segera memberikan Indri tugas sambil menjelaskan peraturan kantor kepadanya.

Malam itu, Ryan tidak dapat tidur nyenyak. Ia bangun berkali-kali dari tidurnya karena mimpi buruk. Mimpi buruk yang paling dibencinya, mimpi tentang kisah masa lalunya. Mimpi itu mengulang masa kecil Ryan yang selalu dikucilkan temannya karena ia bertingkah-laku feminim layaknya perempuan, sehingga ia selalu diejek dengan panggilan banci. Masa-masa SD, SMP dan SMA, ia lalui dengan panggilan banci atau sissy. Sesungguhnya, ia tidak pernah merasa dirinya seperti perempuan, bahkan ia masih menyukai lawan jenis pada saat di bangku SMA. Hanya saja, ia dilahirkan di keluarga yang penuh dengan perhatian wanita, sehingga hal yang ia lakukan terlihat sangat feminim di mata orang lain. Namun bagi Ryan, hal itu biasa karena sudah mendarah-daging dalam dirinya.

Muak dicap sebagai banci, Ryan memutuskan melanjutkan kuliahnya di Amerika. Di Amerika lah, Ryan mulai mengenal gay, karena Amerika sangat terbuka dengan kaum gay sehingga Ryan dapat merasakan kebebasan sesungguhnya dan sejak itu ia memilih menjadi gay untuk mendapatkan kasih sayang. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat bersalah akan keputusannya ini.

Keesokan harinya, Ryan pergi jalan-jalan dengan kekasihnya, Ihsan Mereka telah merajut kasih selama 1,5 tahun dan mereka sangat cocok karena mengalami masa kecil yang sama suramnya. Namun, bedanya Ihsan sudah merasa ia memiliki orientasi seks yang berbeda sejak dari ia kecil, tak seperti Ryan yang menjadi gay karena lingkungan. Sudah lama Ryan dan Ihsan tidak bertemu. Mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka, jadi mereka menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk melepas rindu. Mereka menghabisi malam di rumah Ihsan dan sambil berbagi cerita.

Hari kerja kembali dimulai, Ryan memulai kerjanya dengan hati gembira. Ia baru saja mendapat proyek besar dari bosnya. Hari ini juga, ia dan Indri akan menemui klien penting untuk membicarakan tentang konsep pembuatan serta tema iklan sesuai yang mereka inginkan. Mereka telah membuat janji untuk bertemu di café pukul 13.00. Ryan akan mengajak Indri dan sekalian mengajarkannya bagaimana cara untuk berdiskusi dengan klien.

Ternyata klien yang mereka temui adalah bos besar dari organisasi HIV/AIDS. Ryan agak sedikit terkejut mendengar hal itu, dan ia yakin pasti tema iklan ini akan menyinggung tentang seks bebas, prostitusi, dan tentu saja gay, yang akan menjadi ironis untuk dirinya. Dan benar yang diduga Ryan, seperti itu lah konsep pembuatan iklannya, malahan mereka akan lebih cenderung mengusung tema tentang homoseksual dan membeberkan keburukan-keburukan dalam komunitas gay serta dampak apa yang ditimbulkan dari gaya hidup tersebut.

Setelah mendengar ide dari bos tersebut, Ryan hanya dapat setuju karena ia takut kliennya akan marah dan membatalkan kerjasama kerja penting tersebut, jika ia menyatakan ketidaksetujuannya. Selain itu, ia juga tidak mempunyai bukti konkrit untuk mengatakan bahwa ide tentang homoseksualitas ini tidak baik, karena sesungguhnya ide ini sangat baik untuk iklan dengan tema mencegah HIV/ AIDS.

Namun tiba-tiba Indri berkata, “Maaf pak, tapi saya kurang setuju dengan ide bapak.” Ryan langsung menyuruh Indri duduk namun dihalangi dengan pertanyaan bos itu. “Memang bagian mana dari konsep itu yang tidak kamu setujui?” “Menurut saya, iklan tersebut sangat menjelek-jelekan dan sangat menyinggung kaum gay. Padahal sesungguhnya, mereka tidak bersalah dan mereka tidak pernah ingin menjadi seorang gay, karena penyimpangan yang mereka lakukan sama sekali bukan keinginan diri sendiri, namun karena gen dan lingkungan hidup sejak mereka kecil.”

Ryan sangat terkejut akan pernyataan Indri. Ia tak menyangka bahwa ada orang yang dapat mengerti perasaan kaum gay di dunia ini. Ryan pun akhirnya mendukung pernyataan Indri dan mencoba untuk mengganti konsep iklan tersebut. Setelah beberapa saat berdiskusi, akhirnya kliennya setuju untuk mengganti konsep iklan tersebut menjadi lebih sopan dan lebih menghormati kaum gay. Klien menginginkan full concept iklan ini selesai dalam jangka waktu 1 bulan. Jika mereka menyukai konsep yang Ryan dan Indri berikan, maka mereka akan langsung membayar penuh dan iklan tersebut akan segera dibuat dan ditayangkan di media-media. Ryan dan Indri sangat senang. Mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk menghasilkan iklan yang baik, dan sekaligus menghormati kaum gay.

Ryan berpikir sekeras mungkin untuk memikirkan konsep iklan tersebut. Namun tetap saja tak ada ide yang melintas di kepalanya. Lagipula, bagaimana membuat sebuah iklan yang mengajak orang-orang untuk memcegah HIV/AIDS, tetapi tetap menghormati kaum-kaum pecinta sesama jenis!? Ide ini sangat susah untuk dikembangkan menjadi sebuah iklan yang menarik utnuk ditonton masyarakat. Timbul rasa kesal dan menyesal dalam dirinya, mengapa tadi ia mendukung Indri. Jika saja ia tidak mendukungnya, maka ia tidak akan menghabiskan waktu memeras otak mencari ide, dan tetap saja tanpa hasil.

Satu minggu berlalu tanpa ada satupun ide cemerlang yang terhasilkan. Akhirnya mereka memutuskan lembur untuk bekerja bersama memikirkan ide untuk iklan tersebut. Satu per satu ide bermunculan, tapi selalu saja tidak cocok. Saat Indri sedang serius memikirkan ide, tiba-tiba keingintahuan menyelimuti Ryan. Ia teringat akan peristiwa saat Indri menolak ide awal klien. Lalu Ryan pun bertanya,”Indri, mengapa kamu tidak setuju dengan ide awal klien kita? Kalau saja kamu setuju, kita tidak perlu bersusah payah lembur seperti ini.”
“Seperti yang saya katakan, sesungguhnya kaum gay tidak bersalah dan mereka tidak pernah ingin menjadi seorang gay, karena penyimpangan yang mereka lakukan sama sekali bukan keinginan diri sendiri, namun karena gen dan lingkungan hidup sejak mereka kecil.”jawab Indri dengan penuh wibawa.
“Bagaimana kamu tahu dan yakin akan semua itu? Kan kamu tidak pernah menjadi seorang gay.”
“Saya memang tidak pernah menjadi seorang gay, namun adik saya adalah seorang gay dan saya dapat menerima orientasi seksualnya dengan sepenuh hati.”
Ryan sangat terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka bahwa salah satu anggota keluarga Indri mengalami hal yang sama dengan dirinya.
“Walau awalnya sangat susah untuk menerima kenyataan pahit itu, tapi setelah saya mencari tahu penyebab munculnya penyimpangan itu, saya sadar bahwa menjadi gay, bukanlah keinginan adik saya. Penyebab seseorang dapat menjadi gay adalah gen dan lingkungan. Dan penyimpangan orientasi seksual adik saya adalah karena gen. Oleh sebab itu, saya sedikit mengerti perasaan kaum homoseksual. Apalagi jika iklan yang menjelek-jelekkan mereka muncul, pasti akan sangat melukai hati mereka.”lanjut Indri.
“Pak Ryan, saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda. Tapi anda jangan marah atau merasa tersinggung ya?” Ryan merasa cemas, jangan-jangan Indri telah tahu bahwa ia juga seorang gay. “Bapak juga gay kan?”
Pertanyaan Indri membuat Ryan panas dingin. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sepertinya Indri sangat yakin dengan ucapannya, dan kalaupun Ryan berbohong, Indri akan tahu juga akhirnya, karena pasti ia memiliki banyak pengalaman tentang masalah ini.
“Bapak tak usah takut, saya tidak akan memberi tahu siapa-siapa. Saya mengerti perasaan bapak yang takut akan dikucilkan jika hal ini tersebar. Hanya saja, jika bapak ingin berbagi cerita, saya siap mendengarkan.”kata Indri dengan senyum merekah di wajahnya. Ucapan Indri tersebut membuat hati Ryan tenang. Ia merasa perempuan ini sangat mengerti dirinya, padahal ia belum menjawab sepatah kata pun, tapi ia mengatakan sama seperti yang ia pikirkan. Ia pun menjadi tak ragu untuk menceritakan kisah hidupnya kepada Indri.

Beberapa lama bercerita dan Indri mendengarkan dengan seksama. Cerita diakhiri Ryan. “Yah.. begitulah kisah hidup saya. Semuanya seperti drama saja.” Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di benak Indri! “Bagaimana jika iklan tersebut kita buat seperti drama dan drama itu bercerita tentang dua orang lelaki yang saling mencintai dan mereka tetap melanjutkan cintanya walau banyak halangan. Namun, penyakit AIDS menggerogoti tubuh mereka dan akhirnya mereka mati bersama. Di akhir drama, kita buat pesan seperti: Walaupun ini cinta, namun AIDS itu kejam atau semacamnya.” “Bagus sekali Indri! Kamu memang hebat!”seru Ryan. “Terima kasih pak. Tapi ini juga berkat kisah hidup bapak.”kata Indri. Sepulang dari tempat kerjanya, Ryan langsung berbaring di kasurnya. Ia sangat letih sehabis lembur, tetapi entah mengapa ia merasa sangat senang hari itu. Mungkin, karena ia menemukan teman baru untuk berbagi kisah. Ya, mungkin ataukah ada perasaan lain yang mulai timbul di hati Ryan.
Tiba-tiba, handphone Ryan berdering. Ternyata Ihsan yang menelpon. “Ryan, kenapa tidak pernah menghubungi aku lagi?” “Ah, maaf san. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, aku mendapatkan proyek baru yang sangat besar!” “Oh, benarkah? Selamat ya Ryan! Bagaimana jika besok kita rayakan bersama di restoran biasa, jam 8 malam?” “Hmm, baiklah, sepertinya aku tidak begitu sibuk besok.”

Jam tangan menunjukkan pukul 8.45, Ihsan telah menunggu kedatangan Ryan selama 45 menit. Ihsan mulai khuatir, tidak biasanya Ryan terlambat, ia selalu tepat waktu sesuai dengan janjinya. Ihsan terus-menerus mencoba menghubungi Ryan, tetapi selalu tidak diangkat. Sekitar pukul 9.10, Ryan muncul dengan buru-buru. “Maaf San aku telat. Tadi aku harus membahas proyek baruku dengan sekretarisku. Aku benar-benar minta maaf.”ucap Ryan. “Oh, baiklah. Aku tidak marah koq, tapi seharusnya kau beritahu aku dulu. Aku sangat kuatir karena tidak biasanya kamu terlambat.” ”Sorry, tadi aku terlalu serius membicarakan konsep proyekku ini. Lain kali, aku pasti tidak akan telat lagi.”

Mereka mulai menikmati makan malam mereka. Ihsan asyik berbagi-bagi cerita dengan Ryan. Namun Ryan tidak fokus mendengarkan cerita Ihsan. Ia hanya menjawab sekenanya saja dengan “oh”, “hmm”, “lalu?” dan yang ia ceritakan hanya proyek barunya dan sekretaris yang menjadi teman curhatnya. Tiba-tiba Ihsan menjadi kesal karena Ryan seperti tak ada niat sama sekali untuk pergi makan malam dengannya. “Kamu kenapa sih Ryan!? Kamu tak pernah menelponku lagi, kamu datang telat dan kamu tidak mendengarkan ceritaku sama sekali! Kamu benar-benar berubah akhir-akhir ini! Yang kamu bicarakan hanya proyek kamu itu dan sekretaris barumu itu! Apa kamu suka dengan dia!? Kamu sudah menjadi ‘normal’ karena gadis ini!”ucap Ihsan dengan penuh amarah. Ryan tak bisa menjawab. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia suka dengan Indri, namun ia tidak percaya ia dapat menyukai seorang perempuan lagi.

Tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Ryan, Ihsan memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Ia benar-benar kesal dan ia tidak ingin melihat wajah Ryan! Setelah beberapa saat Ihsan pergi, Ryan baru sadar dari lamunannya, ia pun membayar dan langsung pulang ke apartemennya. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan memikirkan kembali apa yang dikatakan Ihsan tadi. “Apakah benar aku menyukai Indri? Apa aku tidak mencintai Ihsan lagi? Apakah aku telah menjadi ‘normal’ lagi?” pikir Ryan dalam hati.

Dalam kebingungannya, Ryan tertidur dan bermimpi. Dan dalam mimpinya, ia berdiri di ujung sebuah tebing. Di bawah tebing itu, ada Ihsan dan Indri menggantung-gantung sambil berteriak minta tolong karena mereka akan jatuh ke dalam jurang. Ryan hanya dapat menolong salah satu dari mereka. Karena berpikir terlalu lama, akhirnya keduanya jatuh ke jurang dan Ryan pun terbangun!

“INDRIIII!”teriak Ryan. Ternyata setelah terbangun dari mimpi pun, yang paling dikhawatirkannya adalah Indri. Akhirnya Ryan menyadari bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta dengan Indri. Ia sangat bingung dengan perasaannya. Bagaimana ia akan menyatakan cintanya kepada Indri? Selain itu, Indri telah mencap dirinya sebagai gay. Dan lebih serius lagi, bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada Ihsan!? Ryan benar-benar bingung harus bagaimana. Pusing harus melakukan apa, Ryan pun memutuskan untuk pergi bekerja untuk melupakan masalah yang sedang ia alami. Ia akan fokus bekerja keras supaya proyek besarnya ini akan sukses dan disukai oleh kliennya.

2 minggu berlalu tanpa terasa, Ryan dan Indri sangat tekun mengerjakan konsep proyek iklan itu. Rasa-rasa cinta pun makin terasa di hati Ryan, ia semakin suka dengan Indri. Namun 3 hari yang lalu, Indri jatuh sakit dan seluruh data proyek itu ada pada Indri. Jadi 3 hari terbuang sia sia karena Ryan tak bisa mengerjakan proyek tersebut sementara full concept iklan itu sudah harus siap untuk dipresentasikan 4 hari lagi. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Indri.

“Halo, bisa bicara dengan Indri?” “Ini dari siapa ya?”terdengar suara yang sangat keibuan di ujung telepon. “Saya Ryan, teman sekantor Indri, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Indri.” “Oh, sebentar ya nak.”
“Halo, kenapa Ryan?” “In, kamu masih sakit ya?” “Iya, maaf ya. Proyek kita jadinya terhenti karena saya sakit.” “Iya, tidak apa apa koq. Kan sakit juga bukan kehendak kamu. Begini saja, bagaimana kalau malam ini aku pergi ke rumah kamu untuk mengerjakan proyek kita ini. Jadi kita bisa kerja dan kamu tetap bisa beristirahat. Gimana?” “Hmm, ide bagus! Datanglah malam ini sepulang dari kantor. Sampai ketemu nanti ya.” “Oke!”

Sekitar jam 7 malam, Ryan tiba di rumah Indri. Ia merasa sedikit deg-degan akan bertemu dengan keluarga Indri. Ia disambut hangat oleh seorang ibu yang terlihat sangat ramah. “Kamu pasti Ryan! Ayo, silakan masuk.” “Makasih tante.” “Langsung aja ke ruang kerja, kamu tinggal lurus lalu masuk ke kamar yang ke2, sebelah ruang keluarga. Indri sudah menunggu di sana.” “Iya, permisi tante.” Ryan langsung menuju ruang kerja tersebut. Saat masuk, ia langsung dapat melihat Indri sedang berada di depan komputer. “Ah Ryan, ayo duduk. Aku sedang memikirkan tentang proyek ini. Bagaimana jika kita usulkan pada klien kita supaya penayangan pertama kali iklan ini, ditayangkan di TV besar di pusat kota?” “Wah, itu ide yang sangat bagus! Kamu benar-benar kreatif! Tapi biaya untuk menayangkan iklan di TV itu sangatlah mahal. Aku tidak yakin klien kita mau membayar sebanyak itu.” “Walau bagaimanapun, kita harus mencoba untuk menawarkan klien kita terlebih dahulu, mungkin saja ia setuju dengan usulan kita.” “Oke, baiklah. Kalau begitu, iklan ini harus dibuat benar-benar sempurna! Mereka pun bekerja semalaman menyelesaikan iklan tersebut.

Saat selesai menyelesaikan proyek tersebut, Ibu Indri mengajak mereka untuk ngobrol di ruang keluarga. Sesampainya di ruang keluarga, Ryan sangat syok saat melihat foto keluarga mereka. Ia melihat ada sosok Ihsan di foto kelurga Indri! “Kenapa Yan?” “Itu! Laki-laki itu keluarga kamu?!” “Iya, itu adikku, Ihsan. Tapi ia tidak tinggal di sini lagi. Kamu kenal ya?” “Ya, aku sangat kenal dengannya. Malahan aku dan dia adalah…” Ryan tak mampu melanjutkan kata-katanya. “Kamu dan dia apa?” tanya Indri bingung. “Tidak apa-apa. Saya permisi dulu ya Indri, kepala saya pusing.” “Lho..? Tunggu yan!” Ryan pun langsung pergi dari rumah Indri. Ia benar-benar sangat bingung sekarang. Mengapa semuanya menjadi begitu sulit? Ryan benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Ihsan, dan juga Indri. Akhirnya Ryan memutuskan untuk membiarkan hal itu dulu dan memikirkannya lagi nanti.

Pada hari presentasi mereka, mereka berhasil menyelesaikan konsep iklan tersebut dengan tepat waktu dan klien pun sangat menyukai konsep mereka. Lalu Indri pun mengusulkan idenya itu. Namun sayangnya klien menolak usulannya. Alasannya adalah mereka tidak mau menghabiskan uang sebanyak itu, hanya untuk ditayangkan sekali dan belum tentu semua orang melihatnya. Indri sangat kecewa dengan keputusan klien dan Ryan benar-benar ingin membuatnya ceria kembali. Diam-diam ia menghubungi lagi kliennya dan membujuknya untuk setuju menayangkannya di TV besar itu. Setelah membujuk terus menerus selama sekitar 2 minggu, akhirnya klien setuju karena Ryan menunjukkan keuntungan-keuntungan dari menayangkan iklan tersebut di TV besar di pusat kota.

Setelah 1 bulan proses pembuatan iklan, akhirnya besok malam pukul 7, iklan yang mereka buat akan ditayangkan pertama kali di TV besar di pusat kota. Ryan akan memberikan kejutan kepada Indri tentang penayangan itu, dan sekaligus menyatakan cintanya. Namun, sebelum itu, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Ihsan.

Malam itu juga, Ryan pergi menemui Ihsan di rumahnya. Ihsan nampak terkejut dengan kedatangan Ryan.
“Kamu mau apa Yan?” “Aku mau menjelaskan semua masalah kita.”
“Apa lagi yang harus dijelaskan!? Pilihan kamu kan hanya dua, tetap denganku atau dengan sekretarismu itu!”
“Maaf Ihsan, tapi kini aku mencintai sekretarisku itu dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui San. Sekretarisku itu adalah kakakmu, Indri.”
“Apa!? Jadi kamu jatuh cinta pada kakak!?”
“Ya, maaf. Aku pun tidak tahu mengapa cinta itu dapat muncul. Namun dalam sekejap, rasa itu ada dan rasa itu mengalahkan rasa cintaku padamu. Aku sungguh minta maaf.”
“Aku butuh waktu untuk berpikir sendiri. Lebih baik kamu pulang Yan.”
“Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi maaf san.”

Ryan merasa sangat bersalah sekaligus lega. Akhirnya ia dapat mengungkapkan seluruh isi perasaannya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menyatakan cintanya kepada Indri. Ia tidak yakin bahwa cintanya akan terbalas namun ia hanya ingin jujur dengan perasaanya sendiri. Ryan pun menelpon Indri untuk mengajaknya jalan-jalan. “Dri, besok jam 6, kita pergi yuk. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu” “Hmm, baiklah.” “Oke, nanti aku jemput ya.” Malam itu, Ryan bersiap-siap untuk menyatakan cintanya kepada Indri. Ia merasa sangat gugup hingga tak bisa tidur karena ini pertama kali ia akan menyatakan cintanya kepada seorang wanita.

Jam masih menunjukkan waktu 17.30, tetapi Ryan sudah berada di depan rumah Indri. Indri sedikit terkejut melihat Ryan sudah berada di depan rumahnya sementara Indri sama sekali belum siap. Sekitar 15 menit berganti baju dan mandi, akhirnya Indri pun selesai. Indri nampak cantik walaupun bajunya sangat simpel dan kasual. Mereka pun langsung berangkat pergi ke pusat kota, untuk melihat penayangan iklan yang mereka buat untuk pertama kali.

“Kita mau kemana sih yan?” “Kita akan suatu tempat, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan dan pasti kamu akan sangat senang melihatnya. Ayo, pakai kain ini untuk menutup matamu, aku ingin memastikan ini akan menjadi kejutan yang benar-benar hebat.” kata Ryan dengan semangat. “Baiklah baiklah. Tapi jangan aneh-aneh ya.” Mereka tiba di pusat kota sekitar 10 menit sebelum penayangan. Ryan pun membuka pintu Indri dan membantu Indri keluar dari mobil. Mereka pun duduk di bagian depan mobil. Sambil menunggu penayangan, mereka saling bercerita. Akhirnya jam 7.00 pun tiba, penayangannya akan dimulai. Ryan langsung membuka kain penutup mata Indri dan Indri pun melihat iklannya.

Iklan tesebut bercerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai, namun sayangnya mereka berdua dilahirkan sebagai laki-laki. Tapi, mereka sudah terlanjur cinta dan tidak mungkin bagi mereka untuk menghentikan hubungan ini. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melanjutka cintanya hingga menikah layaknya sepasang kekasih walaupun tanpa status yang sah. Cinta mereka sangat dalam dan cinta itu bukan sekedar karena nafsu melainkan dari hati yang terdalam. Mereka bukan saling mencintai karena mereka gay, namun mereka menjadi gay karena saling mencintai.
Setelah bertahun-tahun bersama, konsekuensi dari cinta mereka pun akhirnya timbul juga. Mereka berdua divonis mengidap AIDS. Walaupun begitu, mereka tidak menyesal telah mempertahankan cinta mereka meski pada akhirnya mereka harus meninggal dengan tragis.
Pada akhir cerita tertulis makna sebenarnya dari iklan tersebut, yaitu Cinta memang sepatutnya dipertahankan dan dijaga. Dan jika cinta telah tumbuh, maka takkan ada yang bisa menghentikannya. Namun sebaiknya mencegah daripada mengobati. Karena cinta terlarang seperti ini, hanya akan membawa luka abadi. Dan satu hal terpenting, HIV/AIDS tidak mengenal cinta.

Indri meneteskan airmata. Ia sangat terharu iklan yang ia dan Ryan buat dapat ditonton orang banyak. Terlebih lagi, semua mobil yang melewati TV besar di pusat kota itu berhenti untuk menonton iklan tersebut sehingga timbul sedikit kemacetan di pusat kota dan ada beberapa orang yang turut meneteskan airmata. Mereka pun merasa mereka telah berhasil membuat iklan yang dapat menggetarkan hati semua orang yang melihatnya.

“Ryan, kamu yang membuat semua ini? Kamu berhasil membujuk klien kita untuk menayangkannya di sini? Terima kasih sekali ya yan.” Ryan hanya tersenyum dan berkata, “Ini semua kulakukan untuk kamu, Indri. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Kamu telah membuatku meninggalkan kehidupan kelamku sebagai gay dan sekarang aku jatuh cinta padamu.” Indri sangat terkejut dan juga terharu mendengarnya namun ia tetap menanggapi pernyataan Ryan. “Maaf yan. Aku hanya menganggapmu sebagai teman baik saja, tidak lebih dan tidak kurang. Lagipula, aku sudah menyukai orang lain.” “Tidak apa-apa kok dri. Sejak awal aku tidak mengharapkan balasan darimu. Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku dengan menyatakannya kepadamu. Oh ya, memang siapa yang kau sukai?” “Ihsan…” “Hah!? Ihsan kan adikmu sendiri! Bagaimana mungkin kau suka dengan adikmu sendiri!? Lagipula Ihsan adalah…gay.”kata Ryan dengan syok. “Ya, aku tahu Ihsan adalah gay dan cintaku tak mungkin terbalaskan. Namun apa dayaku. Dan sebenarnya Ihsan bukan adik kandungku. Aku adalah anak angkat dan Ibu yang kau temui di rumahku itu adalah ibunda Ihsan.”

Ryan sangat terkejut dengan segala hal yang ia alami. Seluruh orang yang ia sayangi ternyata saling behubungan dekat dan hubungan antara mereka sangatlah kompleks. Ia benar-benar bingung, namun ia memberanikan diri untuk berbicara lagi dengan Indri. “Jika kamu tahu cintamu takkan terbalaskan, bagaimana jika kamu mencoba untuk mencintai aku daripada menaruh harapan semu pada Ihsan?”ucap Ryan dengan nada bercanda tetapi sebenarnya ia sangat serius dengan kata-katanya. Indri pun hanya tersenyum dan berkata, “Ya… mungkin akan kulakukan nanti...” Mereka pun masuk ke dalam mobil dan menghabiskan malam berdua.




The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar