Minggu, 19 April 2009

Pangeran Pemimpi Mencari Cinta

Karya : Denny Suryadi

Banyak kisah dongeng yang menceritakan adegan-adegan yang romantis, seperti kisah seorang pangeran dengan putri dan nenek sihir. Seorang pangeran akan memperjuangkan cintanya untuk mendapatkan sang putri, walaupun harus menaruhkan nyawanya untuk melawan nenek sihir, dia berjuang sampai akhir. Tapi, bagi Dany, seorang pelajar, “Apakah mungkin aku seorang pangeran? Akankah ada seorang putri yang harus ku selamatkan? Bukankah aku hanya seorang anak yang suka bermimpi,” pikirnya bila dia sedang tidak ada pekerjaan.
Dany telah memikirkannya sejak dari sekolah dasar. Dia suka membayang-bayangkan apa yang terjadi, itu karena dia terlalu sering membaca dan menonton kisah-kisah dongeng yang romantis. Sewaktu sekolah dasar dia pernah menikuti lomba drama antar kelas dan selalum mendapatkan peran sebagai pangeran. Pada waktu SMP dia juga mengikuti ekstrakulikuler drama, dan pada saat ada acara kenaikan kelas, mereka yang mengisi acara tersebut.
“Hai kamu nenek sihir cepat lepaskan sang putri,” teriak pangeran.
“Tidak akan pernah, hi...hi...hi... dasar pangeran bodoh. Kalau kamu menginginkan dia kembali cepat lawan aku, hi...hi...hi...,” jawab nenek sihir.
“Pangeran bertarung dengan gagah sama seperti dengan pangeran yang ada di dongeng-dongeng,” kata salah seorang temannya yang terpana melihat Dany.
Cling... Cling... Clang... Klang...
“Hiat... enyahlah kamu, nenek sihir!!!” teriak pangeran.
Penyihir jahat itu terjatuh ke tanah dan berubah menjadi abu. Pangeran masuk ke kastil yang masih di jaga ketat oleh pasukan keamanan dari penyihir tersebut. Dengan sigap dia masuk ke dalam tanpa menyisahkan pasukan keamanan tersebut.
Sesampai di lantai paling atas pangeran menemukan putri yang di jaga oleh naga penyihir. Pangeran menghunuskan pedang ke arah kepala naga tersebut dan naga tersebut pun terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Kemudian pangeran mendekat kepada sang putri.
“Putri, anda sekarang sudah selamat,” ucap pangeran.
“Aku takut, cepat bawa aku keluar dari sini,” ucap putri sambil memeluk pangeran.
“Tidak apa-apa putri, penyihir telah saya kalahkan, sekarang putri sudah bisa pulang dengan selamat,” jawab pangeran.
“Terima kasih pangeran, saat pulang ke kerajaan nanti aku akan meminta Raja untuk menyetujui hubungan kita,”
Pangeran hanya diam dan mengambil pedangnya yang terjatuh di lantai dan berkata,” Ayo putri kita pulang.”
“Wooo... wo... cie... cium... cium... cium...,” teriak beberapa anak yang takjub melihat drama tersebut.
Mereka berciuman sebelum akhirnya tirai panggung di tutup dan drama pun selesai. Teman-teman Dany berkumpul dan menanyakan tentang adegan berciuman. Karena tidak ada dalam naskah.
“Hai Dan kamu mencuri kesempatan ya...,” tanya Dinata teman se ekskulnya.
“Ha... tidak aku hanya memberikan apa yang diminta oleh para penonton,” jawabnya dengan santai.”Lagi pula dia juga yang memintanya”
“Ha... yang benar,” jawab mereka semua serentak.
“Aku juga ingin kalau seperti itu, lain kali aku ya jadi pangeran,” kata Dinata dengan nada yang memaksa.
“Heh... ini kan acara perpisahan tidak ada lagi acara-acara seperti ini,” jawab Gunawan yang baru datang dari kantin.
“Sudah beri saja harapan sama dia, nanti dia nangis tidak ada balon dan permen disini terpaksa kita beli di kantin,” jawab Nico yang selalu bicara santai dan mudah.
Mereka semua tertawa bersama-sama. Ya inilah memang kelompok anggota drama yang selalu santai dalam menghadapi persoalan. “Andai aku bisa menjadi tokoh yang aku perankan” kata Dany dalam hati. Sepulang sekolah mereka berjalan bersama-sama dan menceritakan hal-hal yang tidak ada di naskah. Ternyata banyak yang tidak sesuai dengan naskah, tetapi mereka tetap saja berhasil menarik perhatian penonton. Sesampai di rumah seperti biasa Dany melanjutkan kesukaannya, melamun.
Dia memimpikan tentang drama yang tadi. Mengapa dia meminta untuk berciuman? Apakah dia memiliki perasaan suka kepada aku. Atau dia hanya ingin membuat drama menjadi lebih baik. “Aku sungguh tak mengerti. Ah lanjutkan besok saja aku sudah mengantuk.”
Liburan kenaikan kelas tiba dan tentu saja seperti biasa mereka selalu berkumpul bersama-sama. Dan membicarakan banyak hal kemuadian pulang. Hal itu mereka lakukan sampai liburan kenaikan kelas usai. Mereka tidak ingin berangkat karena mereka tidak suka menghabiskan uang. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama. Mereka masuk ke sekolah yang sama karena mereka tidak ingin terpisahkan.
Sebagai seorang anggota drama Dany merupakan anak yang cukup pandai. Dia masuk ke SMA terkenal, terkenal atas kepandaiannya bukan karena kenakalannya. Dia masuk dengan tidak menggunakan jalur tes dan juga nilainya cukup memuaskan, dia memiliki banyak teman sewaktu mengikuti Masa Orientasi Siswa yang di singkat MOS.
Dia mudah bergaul dengan siapa saja karena sifatnya yang tidak suka membeda-bedakan orang.
Setelah kegiatan MOS berakhir telah di pilih menurut kelas yang terbaik dan yang biasa. Dany dan Nico masuk ke kelas yang terbaik karena memang mereka memiliki bakat yan baik. Sedangkan Dinata dan Gunawan masuk di kelas biasa karena memang mereka hanya senang biasa-biasa saja. Sementara murid perempuan pemeran putri itu masuk ke sekolah yang berbeda.
Hari pertama di kelas seperti biasa diadakan pemilihan ketua kelas beserta perangkat-perangkatnya yang lain. Wali kelas datang menyapa mereka dan langsung menunjuk beberapa anak untuk menjadi calon keke.
“Andre, Sella, Lesi, Dany, Dika, dan Frady kalian menjadi calon KK dan kita mulai PKK,” kata wali kelas sambil tersenyum-senyum dengan pilihannya.
“Mmmm.... maaf bu saya ingin bertanya, bolehkah bu?” tanya Andre.
“Silahkan tanya saja,” jawab ibu dengan nada penasaran.
“Begini bu KK dan PKK itu apa bu?” tanya Andre kebingungan.
Seluruh isi kelas juga ikut semakin penasaran karena Andre ikut bertanya kepada walikelas.
“Oh, PKK itu adalah Pemilihan Ketua Kelas sedangkan KK ya kalian sudah tahu kan sekarang,” jawab ibu walikelas dengan santai.
Ha... ha... ha... “Wah ibu hebat bisa membuat singkatan yang aneh-aneh,” kata salah seorang anak yang duduk di belakang.
“Bu, mari kita lanjutkan aku sudah tidak sabar menjadi KK,” kata Frady.
“Jangan sombong kamu, orang seperti kamu ingin menjadi KK, ke laut saja.” Jawab Sella.
“Iya, orang ini kenapa otaknya mungkin terkena sindrom ‘KK’,” sambung Lesi.
Dany diam saja dan duduk dengan santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan melamun bila dia menjadi ketua kelas. “Kalau aku jadi ketua kelas akan ku buat kelas ini menjadi kelas drama jadi orang-orang ini bisa mengetahui seni drama,” pikirnya dengan memasang wajah yang menarik perhatian.
“Oh ya ibu lupa memperkenalkan diri nama ibu Rikanti Surprati Sarti Atmokarso Nurhantini, kalian biasa panggil ibu Rika,”
“Wah panjangnya seperti kereta api,” kata Andre.
Bu Rika mulai membuat beberapa CKK ke dalam beberapa partai. Yang pertama partai APW (Andre Pujangga Wanita), yang kedua SPB (Sella Pemimpin Bijaksana), yang ketiga partai LESI ( tidak mempunyai partai karena tidak kreatif), yang ke empat partai FGS (Frady Ganteng Sekali) dan yang terakhir DPP (Dany Pangeran Pemimpi).
Pemilihan ketua kelas berlangsung cukup lama karena semua partai yang dicalonkan tidak menjamin masa depan kelas. Salah seorang murid perempuan pun ikut bingung yaitu Lesi.”Aduh aku tidak ingin menjadi ketua kelas, tapi kelihatannya Dany bisa diandalkan, dari tadi sedikit saja dia tidak bicara mungkin itu sikap bijaksananya, uh... kalau dilihat terus tambah lama semakin gagah waw... aku pilih dia saja,” pikirnya dalam hati.
Setelah surat suara terkumpul bu Rika mulai menghitung suara yang dikumpukan.
“Partai APW mendapatkan 8 suara” Plok... plok... plok...
“Partai SPB mendapatkan 8 suara” Plok... plok... plok...
“Partai FGS mendapatkan 1 suara” Ha... ha... ha...
“Partai LESI mendapatkan 11 suara” Plok... plok... plok...
“Partai DPP mendapatkan 12 suara” Plok... plok... plok...
“Ha yang benar saja hanya 1 suara, tidak....,” teriak Frady dengan kecewa.
“Ha... ha... ha... pasti dia milih sendiri ha... ha... ha...,” teriak anak yang duduk di belakang .
“Iya kita sudah mendapatkan KK yang baru dari partai DPP, Dany silahkan pilih siapa yang ingin kamu ajak bergabung menjadi perangkat kelas dan setelah itu pidato,” kata bu Rika.
“Lesi menjadi WKK, lalu Andre menjadi bendahara, dan Sella menjadi sekertaris,” kata Dany yang hanya asal-asalan memilih. Kemudian dia berpidato, “Teman-teman terima kasih telah memilih saya menjadi ketua kelas, saya akan menjaga kelas ini dengan baik dan membuat kelas ini menjadi penuh dengan seni.”
“Seni maksudnya Dan?” tanya Frady.
“Ya seni, lebih tepatnya seni drama, saya melihat kelas ini membutuhkannya, coba lihat yang duduk paling belakang, dari tadi saya perhatikan dia hanya duduk diam sendiri tidak ada kegiatan hanya tertawa sendiri, dan saya melihat ada bakat drama di dalam dirinya.”
Tring... tring... tring... bel pulang sekolah berbunyi.
“Marilah teman-teman kita berdoa sebelum pulang” kata Dany mengajak untuk berdoa.
Setelah pulang sekolah, Dany duduk di depan gerbang sekolah dan mulai melamun kembali. Banyak murid perempuan yang melihatnya duduk disana seakan-akan sedang menunggu seorang putri lewat. Mereka bergosip tentang Dany. Tak lama kemudian Lesi melihat Dany sedang duduk di gerbang sekolah, dan dia langsung menyapanya.
“Hai, selamat ya menjadi ketua kelas,” ucap Lesi.
“Oh, ya... terima kasih, mmm..., kamu sekelas dengan aku ya?” tanya Dany.
“Ha? Orang ini aneh sekali,” katanya dalam hati.
“Ya namaku Lesi, Lesi Stephany, namamu Dany bukan?”
“Oh, ya wakil ketua kelas kan, ya betul namaku Dany, Dany Phantom, salam kenal.”
Mereka bercerita banyak hal, mulai dari nama belakang Dany, sampai kisah-kisah masa lalu Dany, juga sikap-sikap yang tadi ditunjukan oleh Dany saat pemilihan ketua kelas. Setelah cukup lama di sekolah mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka berjalan bersama-sama karena arah rumah mereka sama.
“Dan, aku pulang dulu ya, ini rumahku, sampai jumpa besok, hati-hati ya.”
“Baik kamu juga hati-hati, sampai jumpa besok.”
Dany pun berjalan menuju ke rumahnya, saat di tengah jalan dia melihat Frady sedang berkumpul dengan temannya di depan sebuah kafe. Dany menyapanya tetapi Frady tidak membalas, dia hanya sibuk berbicara dengan temannya. Dany pun melanjutkan jalan ke rumahnya.
Sesampai di rumah Dany memikirkan masalah tadi siang, dia melamun kembali “Lesi itu baik juga orangnya, ramah, sudah itu pintar, cantik pula, wah... wah... sama seperti putri yang waktu SMP ikut drama, mungkinkah itu kembarannya dia?” Banyak pertanyaan yang belum bisa di jawab sekarang olehnya sendiri. Dia memutuskan untuk tidur daripada harus semalaman memikirkan masalah itu.
Dalam beberapa hari mereka sudah semakin akrab dan saling bantu membantu, selain itu Dany juga mengenalkan mereka kepada teman-temannya. Mereka sangat terkejut dan mengira bahwa Lesi adalah pacarnya. Karena mereka selalu berdua kalau mengerjakan sesuatu. Sewaktu-waktu Lesi bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dan Dany menjawabnya dengan penuh canda walaupun itu jawaban yang jujur.
“Dan aku ingin tanya tapi kamu jangan marah ya?” Tanya Lesi kebingungan.
“Ingin tanya apa? Aku tidak akan marah, kan aku anak yang baik, lagi pula sama kamu mana bisa marah aku.” Jawab Dany dengan santainya.
“Ye... aku serius, Kamu kan hobi duduk-duduk sendirian, memangnya kenapa sih? Mengunggu pacar kamu ya?” Tanya Lesi yang sangat penasaran.
“Oh, tentang itu, sebenarnya aku hobi melamun,” jawab Dany dengan berbisik.
“Ha... yang benar kamu, pantas saja sering tertawa sendiri, aku pikir kamu tertawa bersama orang lain.”
“Ternyata diam-diam kamu sering memperhatikan aku, jangan-jangan kamu....”
“Jangan-jangan apa, jangan sembarangan kamu,” jawabnya dengan muka yang memerah.
“Tuh kan pipi kamu merah-merah, sudahlah jangan berbohong,” kata Dany menggoda Lesi.
“Merah-merah ini karena panas bukan karena kamu tahu, huh...” jawabnya dengan nada yang kesal.
“Iya... iya... aku hanya menggoda kamu saja.”
Tak di sangka teman-teman Dany ikut mendengar dari belakang dan langsung membuat drama tentang mereka.
“Oh sayangku Dany sebenarnya aku memang suka padamu,” kata Dinata
“Sebenarnya aku menggoda kamu karena aku ingin kamu jadi pacar aku,” kata Gunawan melanjutkan perkataan Dinata.
Muka mereka berdua memerah, Dinata, Gunawan, dan Nico keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke arah mereka. Mereka hanya tertawa bersama-sama dan tidak mempeributkan masalah yang terjadi. Saat itu juga Frady melihat mereka sedang berkumpul bersama dan dia melihat Dany dan Lesi berdua, dia marah karena Dany berdekatan dengan Lesi.
Mereka pulang bersama seperti biasa dan saat Dany pulang sendirian ke rumah dia di hadang olah Frady dan temannya. Seperti biasa Dany bersikap ramah dengan mereka. Tapi mereka langsung memukulnya tanpa memberikan alasan yang jelas. Setelah Frady merasa puas, dia pergi meninggalkan Dany yang terjatuh di lantai. Tetapi Dany hanya berpura-pura, dengan bakat bermain dramanya dia mampu menipu Frady dan juga mendapatkan luka memar di bagian kepala dan tangan. Lalu dia pulang ke rumahnya.
Sesampai di rumah, Dany mengobati lukanya dan menerima pesan singkat dari Frady. “Bagaimana sekarang masih ingin melawanku? Jangan pernah sekalipun untuk berpikir mendekati dia lagi. Paham? Kuharap kamu paham atau sesuatu lebih buruk akan terjadi.” Setelah membaca pesan itu Dany mulai berpikir kembali. Kali ini sudah kehabisan akal dalam menghadapi masalah.
Keesokan paginya sampai di sekolah teman Dany dikejutkan dengan luka memar nya. Dia tidak menceritakan hal kemarin karena dia sudah tahu apa bila dia memberitahukan hal sebenarnya terutama kepada Lesi, karena dia pasti sangat terkejut bila mendengarnya. Dia bercerita kemarin saat naik sepeda dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh terkena trotoar.
“Untung saja kamu tidak apa-apa Dan, untung kepalamu tidak pecah atau patah tangan,” kata Lesi dengan perasaan masih kaget.
“Makanya hati-hati lain kali, tuh kasihan kan Lesi jadi panik,” sambung Nico yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Iya... iya... maaf lain kali aku akan lebih hati-hati,” jawab Dany.
“Sebenarnya aku tahu lukanya bukan karena terjatuh tapi karena di pukul orang, aku akan mencari tahu,” kata Nico dalam hati, “Hai Dan, Si, aku tinggal dulu ya, aku ada pekerjaan sampai jumpa.”
“Ya hati-hati jangan sampai seperti aku ya,” balas Dany dengan canda.
Siangnya dia pergi ke sekolah temannya. Dany mencarinya karena mereka yang selalu memberikan pemecahan masalah kepadanya kalau tidak bisa dia pecahkan sendiri. Dany menceritakan semua hal kepada Kiky dan Disa.
“Dan sebenarnya apa yang kamu rasakan ketika di dekat Lesi?” tanya Disa.
“Tak perlu di jawab kami sudah tahu jawabannya.” Sambung Kiky.
“Ayolah teman aku di sini untuk meminta pemecahan dari masalah ini bukannya untuk berdebat dengan kalian,” jawab Dany.
“Begini, kalau kamu benar-benar suka dengan dia, jangan biarkan dia lepas dari hidupmu, tapi kalau sebaliknya...,”
“Ya aku sudah tahu, sekarang aku telah memutuskan sesuatu, terima kasih teman, kalian memang pasangan yang hebat, aku pulang dulu ya,”
Sesampai di rumah dia mengatur rencana untuk segera mengambil hati Lesi. Dia mengatur waktu dan tempatnya. Keesokan paginya dia pergi ke taman tempat Dany dan teman-temannya berkumpul di waktu santai.
“Kenapa harus hari Minggu? Aku masih mengantuk aku kemarin bergadang,” kata Dinata.
“Kita berkumpul di sini untuk membahas tentang acara dua minggu ke depan, kita akan mengisi acara tersebut dengan drama, ya seperti biasa kita akan melakukan hal yang sama” kata Dany.
“Ayo kali ini giliran aku menjadi pangeran, aku tidak ingin kalah dari kamu Dan,” jawab Gunawan.
“Memangnya kamu sudah punya calon putri, kalau aku sudah ada sebentar lagi akan datang,” kata Dany.
“Siapa sih putrinya kuharap bukan nenek sihir dari kelasku itu,” ucap Gunawan dengan ekspresi yang lucu.
Dari kejauhan terlihat seorang anak perempuan mendekati tempat mereka berkumpul.
“Siapa dia? Dari jauh lumayan dari kaki menggunakan sepatu hak tinggi, menggunakan gaun, dan menggunakan topi yang berumbai-rumbai. Waw... aku penasaran nih. Tapi kok aku kenal dengan topi itu ya” Kata Dinata penuh dengan rasa kekagumam.
“Maaf aku terlambat, Dan aku tidak ketinggalan kan?” tanya Lesi.
“Tidak Si, kamu datang tepat pada waktunya, nah teman-teman inilah calon pemeran sang putri, sempurna bukan?”
“Hah yang benar Dan, pasti kali ini kami tidak mendapatkan peran pangeran,” jawab Dinata dan Gunawan bersama-sama.
“Ingin bagaimana lagi kan tidak mungkin aku membiarkan kalian bermesra-mesraan di atas panggung.” Jawab Dany.
“Sudah lah sekarang lebih baik kita buat naskahnya dan langsung latihan,” sambung Lesi.
Mereka membuat naskah sambil latihan, karena menurut mereka bila ada yang tidak cocok langsung dapat diganti. Selama satu minggu itu mereka latihan dengan sungguh-sungguh tapi Frady ingin ikut dalam drama karena ada alasan tertentu. Dia tidak ingin Lesi dan Dany tampil di panggung. Dany memberikan kesempatan kepadanya, walaupun teman-temannya menolak Frady tetapi mereka harus mengikutinya karena pimpinan drama adalah Dany. Selama berlatih Frady menuruti naskah drama tersebut dengan baik. Setelah dua minggu latihan tiba saatnya untuk tampil di panggung.
“Selamat pagi semuanya, pada pagi hari ini di hari perayaan sekolah dengan bangga kami...,” kata pembawa acara.
“Aduh aku jadi gugup sekarang,” kata Dinata.
“Sama aku juga,” sambung Gunawan.
“Santai saja, pasti berjalan sesuai dengan rencana,” hibur Lesi.
“Acara pertama adalah sambutan dari Kepala Sekolah, kami mohon kesedian waktu Kapak Kepala Sekolah, kami persilahkan,” kata pembawa acara.
“Selamat pagi, pada kesempatan ini...,” kata sambutan dari kepala sekolah.
Sementara di belakang panggung mereka bersiap-siap untuk tampil di panggung. Mereka mengulang beberapa adegan yang paling penting dan mempersiapkan alat-alat yang diperlukan. Setelah pidato selesai, mereka naik ke atas panggung untuk bersiap memperkenalkan diri.
“Terima kasih Bapak Kepala Sekolah, acara selanjutnya adalah drama yang akan ditampilkan oleh anak kelas drama, yang berjudul “Pangeran Cinta” yang pemerannya Dany sebagai Sutradara sekaligus Pangeran, Lesi sebagai Putri, Frady sebagai Kepala Pasukan Keamanan, dan masih banyak tokoh lainnya,” kata pembawa acara.
Drama segera di mulai. Dari pengantar awal drama sampai masuk ke adegan pertemuan pangeran dan putri, penculikan sang putri, semua berjalan sesuai rencana tetapi pada saat bagian terakhir terjadi sebuah kesalahan. Setelah menyelamatkan putri seperti kisah yang dulu, kepala keamanan berubah menjadi musuh dan menculik putri kembali. Dany sebagai sutradara mengatur naskah ulang dan tidak membuat penonton kecewa. Pangeran tersebut mengalahkan kepala keamanan tetapi tidak membunuhnya, hanya di tangkap dan ditindak lanjuti di kerajaan. Dan pada akhirnya drama berakhir seperti yang diharapkan. Tepuk tangan penonton mengiring mereka turun dari panggung.
“Hai Dan memangnya itu berjalan dengan rencana?” tanya Dinata.
‘Tidak, aku tidak tahu mengapa Frady membuat keinginannya sendiri tadi,” jawab Dany.
“Ya sudah , yang penting akhirnya selesai dengan memuaskan,” sambung Lesi.
“Kurasa tidak begitu memuaskan,” kata Nico memecah kesenangan mereka.
“Apa maksudmu Nic?” tanya Gunawan.
“Ya, pasti ada sesuatu hal yang membuat Frady berbuat seinginnya,” jawab Nico.
“Ya, aku sudah tahu itu,” sambung Dany langsung meninggalkan mereka.
“Dan, ceritakan apa yang terjadi,” kata Lesi yang semakin bingung.
“Nanti aku jelaskan, sekarang aku ada urusan yang harus ku selesaikan, sampai jumpa teman-teman,” jawab Dany dan pergi tidak menghiraukan percakapan mereka.
“Apakah kau tahu Nic apa masalahnya?,” tanya Dinata.
“Entahlah,” jawab Nico dengan santai.
“Aku memiliki perasaan yang tidak enak mengenai hal ini,” kata Lesi dalam hati.
Saat Dany ingin pergi ke tempat Frady, dia bertemu dengan Levi, anak yang memerankan putri sewaktu mereka masih SMP. Mereka bercerita panjang lebar dan Dany melupakan masalah Frady. Levi baru pindah ke sekolah ini dari sekolah lamanya, karena dia ingin bertemu dengan Dany yang merupakan cinta pada pandangan pertamanya. Lalu saat itu juga Frady muncul.
“Hai Dan, di mana Lesi, waw... sekarang kamu sudah sama dengan pacar yang baru, berarti Lesi akan menjadi pacarku,” kata Frady.
“Tentu saja tidak, ini adalah temanku dulu sekarang dia baru pindah kemari dan dia bukan pacarku,” jawab Dany.
Levi menjadi kecewa mendengar perkataan Dany dan dia pergi meninggalkan mereka tanpa bicara terlebih dahulu.
“Ha... ha... ha... kamu membuatnya kecewa Dan, dan sebentar lagi kamu yang kecewa,” kata Frady kegirangan, “Aku akan memberitahukan Lesi bahwa Levi adalah pacarmu dan dia akan membencimu.”
Frady pergi ke tempat Lesi. Tinggalah Dany sendiri kebingungan dan segera kembali ke tempat teman-temannya. Sesampai di sana dia melihat Lesi dan teman-temannya bersama Frady. Lesi melihat Dany dan langsung pergi bersama Frady. Dany kebingungan dan bertanya kepada temannya. Dia terkejut karena Frady benar-benar mengatakannya. Mereka juga terkejut karena selama ini Dany selalu bersama dengan Lesi. Dan juga cerita yang diceritakan Frady begitu meyakinkan.
“Apa yang harus kulakukan, seharusnya dari dulu aku sudah mengajaknya menjadi pacarku,” kata Dany yang kehabisan akal.
“Ya, seharusnya seperti itu, kamu selalu saja menganggap hal itu sepele,”
jawab Nico.
“Mungkin aku harus menceritakan hal yang sebenarnya kepada Lesi.”
Besok paginya saat jam istirahat, dia mengajak bicara Lesi tetapi dia menghindarinya dan pergi bersama Frady. Frady hanya tersenyum riang saat dia melihat Lesi meninggalkan Dany. Saat pulang sekolah Dany berusaha mendekati Lesi lagi, tetapi Frady mengatur jarak dengan Lesi agar tidak di dekati Dany.
Telah hilang akal Dany, satu-satunya jalan adalah pergi ke rumahnya Lesi dan menceritakan apa yang sebernarnya terjadi. Tetapi sesampai di rumah Lesi, dia di usir oleh Lesi. Tak habis akal dia menelpon Lesi tetapi tidak di angkat. Mengirim pesan pun tak di balas. Salah satu jalannya adalah meminta tolang teman akrabnya Lesi untuk berbicara dengan Lesi.
Disa adalah teman baik mereka berdua. Danny meminta tolong kepadanya dan dia menyanggupinya. Setelah Disa berbicara dengan Lesi akhirnya dia ingin juga berbicara dengan Dany. Dany memberitahukan semua yang terjadi tetapi Lesi masih tidak percaya.
Dany pun mengajak Levi untuk memberitahukan kepada Lesi apa hubungan mereka.
Tetapi tak di sangka saat Levi menceritakan dia menyebut hubungan dia dan Dany adalah pacaran. Tentu saja hal ini membuat Lesi kecewa dan sakit hati lebih mendalam. Hilanglah harapan untuk Lesi dan Dany kembali bersama. Dia mulai kembali seperti dulu termenung, duduk sendiri melamun. Teman-temannya yang kasihan kepadanya mencoba menghibur dan memberikan solusi yang ada. Tetapi tetap saja dia masih kehilangan semangat hidup. Terutama saat Levi mencoba menghiburnya, Dany sangat marah ketika Levi mendekatinya. Tetapi Levi tidak putus asa. Dia selalu mencoba mendekati Dany.
“Apa arti cinta? Bila kita tidak punya orang untuk di cintai,” katanya setiap kali ada orang yang mencoba menghiburnya. Sampai dia duduk di kelas tiga masih saja dia seperti itu. Tetapi dia mendapatkan harapannya kembali saat Frady sedang ada masalah dengan Lesi. Saat itu Lesi sedang marah besar kepada Frady karena dia tertangkap sedang berdua dengan Levi. Ternyata mereka berdua bekerja sama untuk mendapatkan tujuan masing-masing. Levi ingin mendapatkan Dany dan Frady ingin mendapatkan Lesi.
Dany pun langsung mengambil kesempatan tersebut. Dia menghibur dan menemani Lesi. Mereka berdua pun berbaikan, tetapi Dany belum berani mengutarakan cintanya. Frady dan Levi melihat mereka dan segera membuat rencana yang baru.
Seperti biasa mereka bercerita dan membahas hal-hal yang sudah terjadi.
“Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Dany.
“Lumayan, bagaimana hubunganmu dengan Levi? Lesi berbalik bertanya.
“Tidak ada hubungan apa-apa,” jawabnya
Lesi menunjukan ekspresi wajah yang gembira karena Dany masih setia menunggunya. Walaupun dia pernah menjadipacar Frady.
“Jadi, bagaimana menurutmu kalau kita, mmm..., sulit aku menyebutnya,” kata Dany dengan suara yang bimbang.
“Bagaimana apanya?” tanya Lesi penasaran, “Ku harap dia mengajakku menjadi pacarnya, ayolah Dan jangan membuat aku kecewa,” bisiknya dalam hati.
“Ah, tidak lupakan saja, he... he... he...,” jawab Dany.
Tentu saja hal itu membuat dia kecewa. Dan kesempatan itu dipakai lagi oleh Frady dan Levi untuk memisahkan mereka kembali.
Saat hari libur sekolah, sekolah mengadakan wisata ke pantai yang letaknya dekat dengan sekolah. Dan disanalah Dany mempersiapkan yang perlu di gunakan untuk rencananya. Dia meminta teman-temannya menolong untuk membuat kejutannya lebih sempurna. Tak disangka Frady dan levi juga merencakan sesuatu.
“Lautnya indah ya,” tanya Dany.
“Ya, sangat indah aku dari dulu ingin sekali pergi ke pantai dan menikmati seperti saat ini,” jawab Lesi.
“Tentu saja dengan seseorang yang dekat dengan kamu kan?” tanya Dany.
“Ya, pasi lebih menyenangkan bila dengan orang itu.” Jawab Lesy.
“Jadi menurutmu, apakah aku orang yang cocok untuk menjadi orang itu,” tanya Dany penuh dengan keseriusan dan menatap Lesi.
“Mmm..., sepertinya ia,” jawab Lesi sambil menatap balik Dany.
Mereka berdua saling menatap dan tidak berbicara apa-apa. Dan tiba-tiba temannya Dany muncul dari belakang.
“Oh Juliet, lautnya begitu indah inginkah kamu menemaniku pergi ke sebrang laut sana,” kata Dinata sambil memegang tangan Gunawan.
“Tentu saja Romeo, aku akan menemanimu kemana kamu pergi,” jawab Gunawan sambil memeluk Dinata.
“Cie... cie... hoi teman-teman ada pasangan Romeo-Juliet yang baru ha... ha... ha...,” teriak salah seorang anak.
“Nah sepertinya situasi semakin memburuk, mmm, Si, aku ingin bertanya sama kamu? Tolong jawab sesuai dengan perasaanmu,” Kata Dany dengan memasang wajah yang serius.
“Hai Frad, bagaimana kita taruhan, di terima atau tidak,” tanya Nico untuk mengajak taruhan.
“Tentu saja tidak Lesi itu masih suka padaku,” jawab Frady.
“Itu artinya tidak kalau kamu kalah kamu jangan mengganggu mereka lagi, dan sebaliknya bila kamu menang lakukan apa semaumu, setuju?” tantang Nico.
“Setuju,” jawab Frady sambil berjabat tangan tanda persetujuan.
“Ingin bertanya apa? Aku tidak pernah tidak menjawab pertanyaan dengan tidak serius,” jawab Lesi.
“Maukah kamu menjadi pacarku?” tanya Dany yang berharap jawaban iya.
“Terima... terima... terima...,” teriak Gunawan sehingga yang lain mengikutinya.
“Aku tidak bisa,” jawab Lesi.
Dany menjadi kecewa tetapi tetap memandang Lesi.
“Wooo... woo... woo..., penonton kecewa,” teriak Dinata.
“Aku tidak bisa menolak kamu,” lanjut Lesi.
“Woo.... wo..., inilah pasangan baru kita Romeo dan Juliet versi anak sekolahan,” teriak Dinata.
“Bagaimana? Sekarang tepatilah janjimu,” kata Nico.
“Itu kan terserah padaku ingin melakukannya atau tidak,” jawab Frady yang langsung pergi meninggalkan Nico.
“Pasti terjadi hal yang tidak di inginkan, aku harus mengingatkan Dany,” kata Nico.
Tetapi terlambat Frady berlari ke arah Dany dengan membawa sebuah tongkat kayu. Dan segera menghunuskan tongkat itu ke punggung Dany.
“Hai apa-apaan ini,” tanya Lesi.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab Levi sambil menahan Lesi.
Teman-teman Dany ingin menolong Dany tetapi Dany menahannya.
“Jangan ada yang mendekat aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri,” Teriak Dany.
“Bodoh kamu Dan, kamu mencari masalah denganku,” kata Frady.
Mereka berbicara terus menerus tanpa menemukan hasil pembicaraan. Frady memukul Dany ketika dia merasa tersinggung oleh Dany, tetapi dapat di tangkis Dany.
“Sepertinya kita tidak bisa bicara baik-baik,” kata Dany, “Kalau begitu harus diselesaikan dengan cara kasar.”
“Itu dari tadi yang kutunggu,” jawab Frady.
Duk... dak... duk... krak... krek...
“Bagaimana sekarang Frad sudah puaskah kamu?” kata Dany yang berhasil mengalahkan Frady.
“Kurasa sudah...,” jawab Frady yang langsung terjatuh pingsan.
Kemudian Lesi, Levi dan teman-temannya datang mendekati mereka.
“Wah sudah selesai aku pikir bisa sampai besok pagi pertarungannya,” kata Nico.
“Untunglah kamu tidak apa-apa?” kata Lesi.
“Minggir kamu,” kata Levi mengusir Lesi, “Kamu tidak apa-apakan aku takut kalau terjadi apa-apa sama kamu,” kata Levi dengan centil.
Dany tidak menghiraukan ucapan Levi dia hanya menjawab dan mengarahkan perhatiannya kepada Lesi. Dany memberitahukan kepada Levi bahwa tidak ada hubungan khusus antara dia dengan Levi karena Dany hanya menyukai Lesi. Mendengar perkataan itu Levi pergi meninggalkan mereka dan tidak pernah menggangu hubungan mereka.
“Dan kalau kamu luka-luka seperti ini aku jadi tambah suka sama kamu,” kata Lesi.
“Ha... kalau aku luka-luka sampai kepalaku bocor, patah tangan dan kaki kamu masih suka?” tanya Dany.
“Ih... aku kan hanya menggoda kamu,” jawab Lesi sambil tertawa.
“Ha... ha... ha...,” semua orang tertawa.
Dany memutuskan untuk menolong Frady dan dia berkata.
“Ternyata aku telah salah menilai kamu Dan, aku mohon maafkan aku,” kata Frady.
“Tentu saja dari dulu aku selalu menganggapmu sebagai teman,” jawab Dany.
“Wooo.... wo... wo... aku selalu senang melihat cerita yang berakhir bahagia” kata Gunawan.
“Aku janji tidak akan mengecewakanmu Lesi, tapi aku tidak akan berhenti bermimpi,” kata Dany sambil memegang tangan Lesi.
“Memangnya aku memaksamu untuk berhenti bermimpi,” jawab Lesi.
“Tidak, tapi aku takut, aku akan lupa untuk bermimpi, karena dengan bermimpilah aku dapat mendapatkanmu,” jawab dany.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar