Selasa, 21 April 2009

Sadar

Karya: Jessica Bakri

Tuhan memang punya caranya sendiri dalam menyadarkan orang yang “liar” seperti aku. Menurut beberapa orang, cara Tuhan menyadarkan mereka sangat majestic, atau apa sajalah yang mereka sebut Maha Kuasa dan Pengasih. Tapi menurutku, cara Tuhan terhadapku sangat menyakitkan. Menyakitkan hingga aku ingin mati rasanya, tapi, seperti yang kukatakan tadi Tuhan itu Maha Kuasa. Karena, aku tidak punya nyali untuk mengakhiri hidupku sendiri. Adapun aku nyali untuk itu, tapi, kembali lagi Tuhan itu Maha Kuasa, karena akhirnya aku tetap tidak mati jua.
Aku ingin bercerita tentang awal mula semua kejadian buruk yang kualami, walau aku sendiri juga tidak tahu dari mana harus memulai. Namun sebelumnya akan kuperkenalkan dulu diriku, namaku adalah Erina Soedibyo. Tapi panggil saja Erin. Nah kupikir mulai dari sini saja.

AWAL

Aku ingat betul, waktu itu adalah hari minggu pagi yang mendung. Semalam, hujan turun dengan derasnya bagaikan ada selang besar yang menyemprotkan airnya dari langit. Waktu kecil aku selalu berpikir kalau hujan terjadi karena ada seorang malaikat yang menyiram bumi dengan air dengan menggunakan selang besar seperti yang digunakan Pak Mudi -sopirku- untuk mencuci mobil. Tapi lama kelamaan, setelah aku dewasa pikiran itu terasa sangat konyol, terutama untuk pikiranku yang tak kalah konyol dan bodohnya.
Kembali lagi pada ceritaku. Pagi itu, ibuku datang mengetok kamarku. Aku masih tidur saat itu, padahal jam di dinding sudah menunjukan angka sepuluh.
“Sayang, ayo bangun. Sudah jam sepuluh ini, kita akan pergi ke gereja kan?” panggil ibuku seraya mengelus kepalaku.
“Mmm….” Erangku sambil menampik tangannya yang dikepalaku.
“Ya sudah, tapi cepat bangun yah. Nanti sarapannya sudah keburu dingin.” kata ibu. Ibuku pasti selalu menyerah kalau sudah berhadapan denganku, karena pasti aku akhirnya mengeluarkan suatu kata bodoh yang menyakitinya. Sekarang aku baru sadar bahwa ibuku selalu mengasihiku dan hanya menginginkan yamg terbaik untukku. Namun, tentu saja dulu aku tidak menyadarinya dan menganggapnya seorang tua yang menyebalkan, cerewet dan sebagainya.
Setelah itu ibu keluar dan menutup pintunya kembali. Di dalam kamar, aku mengutuk ibuku. “Menyebalkan, apa dia tidak tahu bahwa aku sedang tidur?” Dalam keadaan masih mengantuk, aku bangun dan berjalan kearah meja rias di depan tempat tidurku. Aku berkaca sejenak, menyisir rambut panjangku dan mengikatnya menjadi seperti ekor kuda. Setelah menyisir aku keluar dari kamar, dan telah menyiapkan wajah merengut kalau-kalau ada ibu di depan agar ia tidak banyak omong lagi. Tapi ia tidak ada di ruang tengah itu, jadi kubuang wajah merengut itu. Aku berjalan sambil menggosok-gosok mata kearah ruang makan, lalu duduk dan menuangkan segelas susu. Baru saja susu itu kuminum seteguk , tapi ibu datang dengan tiba-tiba dari belakangku dan meletakkan tangan kurus kecil bak hantu miliknya itu ke pundakku. Aku terkejut setengah mati, susu yang kuminum tadi keluar kembali melalui semburan kecil dari mulutku. Lalu kubanting gelas itu ke meja.
“Uh! Apa perlu datang dari belakang seperti hantu begitu? Mama ingin membuatku jantungan dan mati?” kataku ketus sambil mengelap ceceran susu di bibirku.
“Ya ampun, maaf. Mama tidak tahu kalau kamu akan terkejut sampai begitu.” Balasnya, sambil sibuk membantuku mengelap mulutku dengan lengan bajunya.
Namun aku menepis tangannya. “Sudah, jangan pegang-pegang!” Sambarku, masih dalam keadaan terkejut dan marah. Lalu aku kembali ke kamarku sambil sedikit menghentak-hentakkan kakiku.
Di dalam kamar, kembali lagi aku mengutuk ibuku dengan mengomel-ngomel sendiri. Ah merusak pagiku saja, orang tua itu. Baru saja akan minum sudah dikejutkan seperti itu, pikirku sendiri. Lalu aku duduk di tepi ranjang dan mengambil handphoneku. Aku membuka daftar kontakku dan memulai mencari-cari.
“Hmm, siapa yang yang enaknya diajak? Imel, Helda, atau Ivi yah.. ah, Imel aja. Helda cerewet, pasti banyak membualnya lagi.” Kataku sambil tetap menekan-nekan teleponku. Dan akhirnya kutelepon Imel, tapi nadanya sedang sibuk. Dan setelah beberapa saat ada pesan masuk.

“Bentar Rin, lagi di gereja. Anyway, kamu tidak datang yah?”

Oh iya, hari minggu. Sial. Membosankan sekali kalau harus pergi ke gereja, pikirku. Ah, kabur saja.
Lalu aku cepat-cepat masuk ke kamar mandi dan mandi dengan cepat, keluar dan mengeringkan rambutku sebentar dengan mesin pengering rambut. Setelah itu, aku berdandan, memilih baju, dan setelah beberapa saat akhirnya aku selesai. Aku segera mengambil tasku dan keluar dari kamar.
Namun baru selangkah aku berjalan, ibu memanggilku dari belakang.
Sial. Mau apa lagi sih.
“Sayang, mau kemana?” kata ibuku. Aku juga memperhatikan bahwa mama sudah berganti pakaian dan kelihatannya akan pergi.
“Bukan urusan mama.” Balasku ketus.
“Mm, bukannya kita akan ke gereja?”
“Aduh, tolong. Untuk apa pergi ke gereja? Tidak berguna, lagi pula sangat mengantukkan disana.”
“Ya Tuhan, kenapa bicara seperti itu…” omongan ibuku terputus karena aku menyela.
“Sudah, simpan saja ceritanya nanti. Aku mau pergi. Bye…”

Lalu aku berjalan membelakangi ibuku. Aku tahu pasti dia kecewa denganku. Tapi, apa peduliku? Pikirku saat itu.

TENGAH BAGIAN 1

Segera setelah keluar rumah dan mengambil mobilku, aku melaju kencang ke tempat dimana aku biasa menghabiskan waktu.
Seingatku waktu itu sudah mendekati tengah hari, namun bar tersebut masih sepi hanya ada beberapa orang. Karena bosan sekali, akupun berjalan ke sebuah mall disebelah. Setelah berjalan sejenak, handphoneku berdering dan akupun mengangkatnya.
“Hoi Rin, dimana? Kamu tidak ke gereja ya?” tanyanya sambil berdecak heran.
“Tidak. Habisnya, males sekali harus kesana dan mendengar orang-orang itu berdongeng ria. Ngomong-ngomong, aku sedang di tempat biasa kutunggu kalian yah.” Kataku sambil memutus telepon segera selesai bicara.
Singkat cerita, akhirnya temanku datang dan kami sempat berjalan-jalan, memasuki beberapa toko pakaian, makan siang, dan pada sekitar pukul 7 kami kembali ke bar disebelah dan berpesta.
Aku sedang berjoget ria saat pacarku Daniel datang. Ia langsung datang menghampiriku dan mengajakku duduk.
Daniel adalah pacarku yang baru setelah sekian banyak lelaki hidung belang yang kukencani, dan ia, masih termasuk dalam kategori lelaki hidung belang. Hanya, tentu saja aku tidak peduli saat itu. Aku tidak mau tahu hal lain tentangnya karena aku jatuh cinta padanya, atau setidaknya untuk saat itu.
“Hey, kamu sudah datang lebih dulu?” katanya sambil mengelus rambutku.
Uh, jika kuingat hal itu sekarang. Aku benci sekali, baik pada diriku maupun pada Daniel. Tapi apa daya kalau Tuhan sudah berkehendak?
Ok, berhenti menyesali diri sendiri, dan sekarang kembali pada ceritaku.
“Hey juga, ya aku sudah di sini dari beberapa jam yang lalu. Kemana saja sih? Lama sekali baru datang.” Balasku sambil sedikit menggunakan gerakan tubuh dengan maksud menggodanya. Dan, ia pun tergoda.
Lucu sekali bila diingat bahwa dulu aku perlu menggodanya. Aku benar-benar seperti orang buta saat itu. Sekarang aku sering berpikir, seandainya waktu itu aku tidak menggodanya sama sekali. Kurasa ia akan tetap melakukan apa yang selama ini memang diincarnya dariku. Uang dan tentu saja diriku sendiri.
Dan, setelah proses menggoda berlangsung kita semua tahu kemana hal ini berakhir. Dia mengajakku meninggalkan tempat itu dan pergi bersamanya. Tentu saja aku tidak menolaknya saat itu, dan mau saja diajak pergi. Tidak sadar apa yang dipertaruhkan dalam pergaulan bebas macam itu.

TENGAH BAGIAN 2

Dalam perjalanan ke rumahnya, kami hanya duduk diam mendengarkan musik. Lalu setelah beberapa saat, Daniel mulai berbicara.
“Apa acaramu tadi pagi?” Tanyanya.
“Tidak ada yang khusus, hanya duduk-duduk saja lagi pula aku hanya sebentar berada di rumah. Kalau kamu?”
“Yah, kurang lebih seperti itulah. Haha…
Saat tengah berbicara, aku memperhatikan bagian bawah kursiku. Sepertinya aku melihat sesuatu. Lalu setelah beberapa saat melihat akhirnya aku memutuskan untuk mengambilnya.
Alangkah terkejutnya aku saat melihat bahwa itu adalah sebuah pakaian dalam wanita dan yang pastinya bukan milikku.
Sontak aku langsung memukulnya dengan pakaian dalam itu. Mobil yang dikendarainya dengan kencang dari tadi agak oleng sejenak sebelum akhitnya dia melihat benda tersebut dan berpaling padaku.
“Siapa?” tanyaku dengan suara agak bergetar menahan amarah.
“Siapa apa? Tidak ada siapa-siapa selain kamu sayang. Percayahlah.” Jelasnya dengan raut wajah memelas memohon agar aku mempercayainya. “mungkin milik kakakku yang terjatuh saat aku mengantarnya kemarin.” Lanjutnya masih mencoba meyakinkanku.
“Oh yah, kamu pikir aku bodoh? Hah?! Kakakmu tidak akan pernah membuka pakaiannya didalam mobilmu. Brengsek…bangsaaat…”teriaku sambil kembali memukulnya.
Tapi ia memegang tanganku terlebih dahulu sebelum aku kembali mengayunkan tanganku.
“Turunkan aku sekarang juga.” Kataku dengan suara yang dalam.
“Tidak.”
“Turunkan aku sekarang juga, lelaki brengsek!”
“Tidak akan.” Jawabnya dengan tegas.
Kesal, akupun meraih setirnya dan membelokkan setirnya dengan keras, namun terlambat sudah. Aku tidak melihat bahwa didepan ada sebuah truk yang melaju sama cepatnya.

AKHIR

Aku bangun keesokan harinya diatas sebuah ranjang rumah sakit. Aku tidak dapat merasakan apapun, seperti mati rasa dan hanya merasakan sedikit kesemutan sedikit.
Aku mencoba bangun dari ranjang, namun baru saja akan bangun aku sudah terjatuh lagi. Pandanganku menjadi hitam seketika. Ahh, kenapa aku. Sakit sekali rasanya.
Kemudian seolah terbangun oleh gerakanku, seseorang datang menghampiri ranjangku. Samar-samar aku melihat sosok yang kurus, pucat dengan rambut diikat setengah kebelakang. Setelah penglihatanku membaik sejak usahaku untuk bangun tadi, aku baru melihat wajah orang tersebut. Ia menangis sesunggukan dengan sedih sekali. Wajahnya spontan terlihat sangat tua dan berkerut. Aku jadi ikut menangis karenanya.
“Sayaang…” panggil ibuku pelan. “Kamu tidak apa-apa? Mama terkejut sekali…” lanjutnya, namun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena ia kembali menangis sejadi-jadinya.
“Aku… kenapa?”
“Kamu kecelakaan sayang. Mobilmu ringsek dan hancur. Sungguh puji Tuhan sayang. Puji Tuhan..”
“aku…” aku mencoba bangun kembali, tapi ibuku menahanku.
“Sayang, jangan.. Kamu istirahat saja.” Kulihat wajahnya kian bertambah pucat dan ia kelihatan gugup.
“Aku mati rasa. Aku ingin duduk. Kakiku mati rasa dan kesemutan.” Rintihku sambil mencoba bangun kembali.
Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, aku benar-benar tidak bisa merasakan kakiku. Apakah kemarin terjepit? Namun tersentak sejenak, aku melihat kearah selimutku. Kenapa selimutnya ada bercak darah dan kempis..
Setelah berhasil bangun sedikit. Aku melihat ibuku, namun ia menutup matanya dan menangis. Penasaran kuangkat selimut tersebut. Namun dibawah selimut tersebut tidak ada apa-apa, tidak ada bantal dan tidak ada kakiku.
Seingatku, hari itu aku meraung-raung seharian. Ibuku hanya ikut menangis sambil mencoba menenangkanku, namun aku tidak bisa tenang sampai akhirnya dokter datang dan memberikan aku obat penenang.
Sungguh bodoh sekali aku ini. Andai saja pagi itu aku tidak pergi keluar melainkan pergi ke gereja bersama ibuku, andaikan saja aku tidak pernah berteman dengan orang-orang itu, andai saja aku dulu bukanlah orang kurang ajar dan brengsek, semua kesialan ini tidak akan terjadi dan lebih lagi aku tidak akan dan tidak perlu kehilangan kedua kakiku.
Tapi itu semua hanya berupa pengandaian. Andaikan…andaikan…dan andaikan. Sekarang semua hal itu tidak berarti lagi. Tidak ada lagi pengandaian untukku, karena aku sudah tidak bisa lagi berandai-andai. Aku sudah rusak.

Sekarang, setelah 2 tahun berlalu sejak musibah itu, aku adalah orang yang benar-benar baru. Aku tidak lagi pergi keluar saat malam (dan tentu saja tidak bisa karena aku tidak punya kaki dan tidak bisa memakai celana atau sepatu bagus lagi. Haha..lucu sekali). Hubunganku dengan ibuku membaik. Beberapa waktu setelah pulang dari rumah sakit waktu itu, aku meminta maaf pada ibuku. Aku tahu walaupun aku sampai bersujud dan menyembah, dosaku terhadap ibuku tidak akan hilang. Tetapi ia bilang bahwa ia tidak dan tidak akan pernah membenciku, ataupun menyesal telah melahirkan anak sepertiku, dan ia benar-benar telah memaafkanku sepenuhnya.
Aku sempat beberapa kali mencoba untuk bunuh diri, namun walaupun aku telah “berusaha keras”, tetap saja, aku tidak juga mati. Aku malah berakhir dirumah sakit, dan semakin menderita.
Akhirnya aku berhenti melakukan “usaha” tersebut. Aku pasrah pada apa yang akan terjadi. Kenyataannya, memasrahkan semuanya dengan mata terbuka lebih mudah dilakukan daripada mencoba mengatasinya tetapi dengan mata tertutup.
Setelah kecelakaan itu, aku merasa aku menjadi dekat kepada dua orang. Pertama adalah ibuku. Dulu aku membencinya karena aku selalu dianggap anak kecil, namun sekarang kenyataannya aku tidak bisa hidup tanpa bantuannya. Aku sangat bersyukur sekali mempunyai ibu yang penyayang seperti itu. Kemudian, orang kedua adalah Bapa-ku. Tuhan telah menjadi penerang, dan pendamping bagiku dalam jalanku yang suram dulu.
Sekarang, aku aktif dalam pelayanan di gereja. Aku menghabiskan waktuku sehari-hari di gereja, karena hanya didalam gereja aku merasakan damai dan aman. Untuk jujur, aku lebih merasa nyaman pada kehidupanku sekarang daripada dulu, walaupun dulu aku juga sempat merasakan senang. Aku telah tersadar sekarang dan cara Tuhan menyadarkanku memang menyakitkan, tetapi membawa hikmah yang berlimpah dibaliknya.

__________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar