Senin, 20 April 2009

Lagu untuk Violin

Karya : Fabiola Ricca

Teng…Teng…Teng…

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Itu tanda bahwa pelajaran hari ini sudah selesai. Seorang perempuan berambut panjang berjalan keluar dari kelasnya. Gadis itu bernama Violin. Saat melewati papan pengumuman sekolah, tanpa sengaja Violin melihat salah satu iklan yang menarik perhatiannya. Itu adalah iklan audisi pencari bakat. Melihat hal itu, Violin segera pergi menuju ke kelas Bryan. Ternyata Bryan sudah keluar dari kelas. Violin bertemu dengan Bryan di tangga sekolah.

Bryan! Kamu sudah lihat papan pengumuman?,”tanyanya dengan penuh semangat.

“Papan pengumuman? Ada apa?”

“Kamu lihat dulu, ya. Kamu pasti senang,” katanya sambil menarik tangan Bryan ke arah papan pengumuman sekolah.

“Lihat. Kamu pasti belum lihat pengumuman ini, kan? Audisi untuk anak SMA yang bisa bernyanyi dan bermain alat musik. Kamu ikut ya, bryan. Ini kesempatan emas buat kamu untuk jadi terkenal,” katanya dengan semangat.

“Tidak perlu, vi. Aku rasa aku tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengikuti audisi ini. Ini kan audisi besar. Pasti banyak orang yang mengikuti audisi ini. Aku pasti tidak akan menang.”

“Kamu jangan putus asa sebelum mencoba. Menurutku kamu punya bakat yang bagus di bidang ini. Kamu ikut, ya.”

“Hm…kalau Violin sudah bilang begitu, aku akan mencoba melakukan ini demi kamu.”

“Benarkah? Kalau begitu nanti kita pergi bersama – sama, ya.”

“Ya, terserah kamu saja, lin,” jawab Bryan sambil menggandeng Violn keluar sekolah.

Bryan adalah pacar Violin sejak setahun yang lalu. Sebenarnya orangtua Violin tidak menyetujui hubungan Violin dengan Bryan. Orang tua Violin selalu berusaha menggunakan segala cara untuk memisahkan mereka berdua. Keluarga Violin menganggap Bryan tidak pantas dengan keluarga mereka. Bryan tinggal di kost. Orangtua Bryan masih tinggal di kota lain dan bekerja sebagai petani. Sebenarnya orangtua Bryan tidak mampu untuk membiayai Bryan untuk bersekolah di SMA. Orangtua Bryan meminta Bryan untuk bekerja sebagai petani saja setelah lulus SMP, tapi Bryan adalah seorang murid yang pintar. Ia mendapatkan beasiswa penuh selama 3 tahun di salah satu sekolah yang cukup terkenal di kota Bandung, yaitu sekolahnya sekarang.

“Aduh, lin. Aku sudah hampir terlambat kerja. Aku pergi dulu ya, lin. Maaf aku tidak bisa menemani kamu.”

“Iya. Kamu pergi saja. Aku tidak apa – apa, kok. Paling sebentar lagi sopirku sudah datang menjemput,” kataku sambil tersenyum.

“Baiklah, kamu hati – hati, ya.”

“Iya, aku tahu. Kamu cepat pergi. Nanti kamu terlambat,” kataku.

“Iya, aku pergi dulu.”

“Hati – hati, ya.”

“Baik, bos,” kata Bryan sambil berlari pergi.

Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil mewah yang berhenti di depan Violin. Sopirnya turun dari mobil lalu mebukakan pintu mobil untuk Violin.

“Maaf, bapak terlambat,” katanya.

“Tidak apa – apa, pak. Saya juga baru keluar, kok,”kata Violin kepada bapak itu..

“Papa dan Mama ada dimana, pak.”

“Mereka sedang pergi ke Australia untuk melihat perkembangan salah satu pabrik mereka yang ada di Canberra, lin.”

Ini bukan yang pertama kalinya papa dan mama Violin pergi keluar negeri untuk urusan bisnis. Violin jarang sekali bertemu orangtuanya karena mereka selalu berpergian keluar negeri. Kalaupun mereka ada di kota Bandung, mereka selalu saja pergi kerja sebelum Violin bangun dan pulang setelah Violin tidur. Kadang dalam sebulan Violin hanya dapat bertemu dengan mereka sehari. Selama ini, yang mengurus segala keperluan Violin adalah 5 orang pembantu yang bekerja di rumahnya.

“Pak, kita pergi ke restoran tempat Bryan kerja saja. Di rumah juga tidak ada orang. Aku bosan di rumah sendirian.”

“Ya, baiklah,” jawab bapak itu.

Tidak lama kemudian, Violin sampai di restoran tempat Bryan bekerja.

“Pak, pulang duluan saja, ya. Nanti aku pulang diantar Bryan ,” kata Violin kepada sopir Bapak itu. Jangan bilang – bilang ke papa dan mama ya, pak. Kalau mereka menelepon, bilang saja aku pergi ke rumah Livi.”

“Beres! Kalau dengan bapak pasti beres. Bapak pasti akan selalu membela kamu,lin.”

“Bapak memang yang terbaik. Makasih ya, pak.,” kata Violin sambil menutup pintu mobil.

Pak Udin sudah bekerja di keluarga Violin sejak Violin masih TK. Pak Udin sudah menganggap Violin seperti anaknya sendiri.

Setelah masuk ke restoran, Violin duduk si sudut favoritnya. Menurutnya tempat ini adalah tempat yang sangat strategis. Melalui tempat ini Violin bisa melihat orang – orang yang sedang makan atau minum di restoran ini. Itulah yang biasanya Violin lakukan sambil menunggu Bryan selesai bekerja.

“Violin? Kok kamu tidak pulang ke rumah? Kamu besok ulangan, kan?”

“Aku bosan dirumah. Papa dan mama juga tidak ada dirumah. Aku belajar disini saja sambil menunggu kamu.”

“Baiklah, aku layani tamu dulu, ya. Kamu tunggu sebentar, ya. Nanti aku bawain minuman sama makanan. Nanti kalau sudah sepi aku temani kamu belajar.”
“Baiklah,” jawab Violin sambil tersenyum.

“Fuh…akhirnya sepi juga,” kata Bryan sambil duduk disebelah Violin .

“Kamu istirahat dulu, ya.”

“Tidak apa – apa. Apa ada soal yang tidak kamu mengerti?”
“Aku sudah mengerti kok. Tadi di sekolah aku sudah meminta Livi untuk mengajariku. Jadi kamu tenang saja dan istirahatlah baik – baik. Jangan sampai kamu kelelahan. Sebentar lagi kamu mau ikut audisi. Besok kita pergi mengambil formulir pendaftarannya, ya. Besok kamu kerja tidak?”

“Besok aku ada kerja sampai jam 2, lin.”
“Kalau begitu, kita langsung pergi setelah kamu kerja saja, ya.”

“Beres. Lin, kamu tunggu sebentar, ya. Aku kira – kira 10 menit lagi pulang. Nanti aku antar kamu pulang.”

“Iya,” jawab Violin dengan tersenyum.

***

Keesokan harinya…

Bryan!” Violin memanggil Bryan.

“Violin? Kok kamu cepat sekali datangnya. Aku belum selesai bekerja.”
“Aku memang sengaja datang lebih cepat. Aku takut terlambat. Kamu kerja dulu sana.”

“Hm…baiklah. Kamu tunggu sebentar, ya.”

***

“Violin, aku sudah selesai. Kita pergi sekarang?
“Baiklah,” jawab Violin.

***

“Aduh…ramai sekali, ya. Aku tidak menyangka ada orang sebanyak ini yang ikut.”

“Aku juga. Wajar saja. Audisi ini kan sudah banyak membuat orang jadi terkenal. Tapi aku percaya kalau pacar aku pasti tidak akan kalah dari mereka,” kata Violin dengan nada meyakinkan.

“Terima kasih, ya. Sekarang aku menjadi lebih yakin aku bisa memenangkannya.”

Setelah menunggu cukup lama, giliran mereka hampir tiba.

“Lin, kita pulang saja, ya,” kata Bryan tiba – tiba.

“Loh? Kok tiba – tiba mau pulang? Ada apa?”

“Kamu lihat syarat – syarat pendaftarannya. Biaya pendaftaran Rp 500.000,- dan harus dibayar saat pengambilan formulir. Aku tidak ada uang sebanyak itu. Kita pulang saja, ya.”
“Selamat siang! Mau mengambil formulir pendaftaran untuk kategori apa?”

“Maaf ya, pak. Kami tidak jadi,” kata Bryan sambil mengajak Violin pergi.

“Jadi, pak. Saya minta untuk kategori penyanyi solo,” kata Violin .

“Lin, apa – apaan kamu. Aku sudah memutuskan untuk tidak mengikuti audisi ini,” kata Bryan.

Violin mendiamkan Bryan.

“Biaya pendaftarannya Rp 500.000,-. Besok audisi diadakan jam 09.00. Jangan datang terlambat karena akan diadakan pendaftaran ulang.”

“Ini uangnya, pak,” kata Violin sambil mengeluarkan uang dari dompet.

“Maaf, pak. Kami tidak jadi. Tolong kembalikan uangnya,” kata Bryan.

“Terima kasih, pak,” kata Violin sambil membawa pergi formulir pendaftaran itu.

“Violin! Aku sudah bilang aku tidak mau mengikuti audisi ini. Cepat kamu kembalikan formulirnya. Mungkin uangnya masih bisa dikembalikan,” kata Bryan sambil berusaha mangambil formulir pendaftaran yang dibawa Violin.

“Aku tidak mau. Kamu sudah berjanji akan mengikuti audisi ini demi aku, kan?”

“Tapi aku sudah berubah pikiran. Berikan formulir itu, lin.”
Bryan, aku tahu kamu sangat ingin menjadi penyanyi sejak kamu kecil. Aku juga tahu alasan kamu tidak mau mengikuti audisi ini. Kamu tidak mau berhutang kepadaku, kan.”

Medengar perkataan Violin Bryan terdiam.

“Tenang saja, kalau kamu memang merasa berhutang denganku, kamu ikut saja audisi ini dengan sebaik – baiknya,” kata Violin kepada Bryan.

Bryan terdiam sejenak, “Terima kasih, lin. Kamu memang orang yang paling mengerti aku. Aku pasti tidak akan mengecewakan kamu. Aku pasti memenangkan lomba ini demi kamu.”

“Aku senang sekali kamu berkata begitu. Bryan, kita pergi makan, ya. Aku lapar.”

“Baiklah. Kamu mau makan apa? Aku traktir kamu,” kata Bryan.

“Ah…tidak perlu. Kamu belum gajian, kan? Aku masih ada uang kok,” jawab Violin kepada Bryan.

“Walaupun aku belum gajian, tapi kalau cuma traktir kamu makan aku masih bisa kok. Kalau cuma makan saja aku tidak bisa bayarin kamu, aku akan merasa malu pada dirku sendiri.”

“Ayo, kita pergi,” kata Bryan sambil menggandeng Violin.

***

Aduh, mbok. Aku lelah sekali. Tolong ambilkan minum, mbok,” kata Violin sambil merebahkan diri di atas sofa.

“Violin!”

Sebuah suara memanggil nama Violin. Itu adalah suara mama Violin.

“Mama? Kapan mama pulang. Kok tidak memberitahuku?”
“Naik keatas. Mama mau bicara sama kamu.”

Ada apa, ma?”

“Darimana kamu jam segini baru pulang?”
“Hm…itu, ma…tadi…”

“Bryan lagi? Mama sudah bilang kamu tidak boleh berhubungan dengan dia lagi. Kamu tidak akan bahagia bersamanya.”

“Tapi ini yang aku mau, ma. Aku cinta sama Bryan.”

“Violin! Kamu itu masih SMA. Apa yang kamu tahu tentang cinta. Mama sudah menyiapkan surat kepindahan kamu. Mulai minggu depan kamu akan sekolah di London. Mama sudah memilihkan sekolah yang terbaik untuk kamu. Mulai besok kamu tidak perlu ke sekolah lagi.”

“Mama jahat! Kenapa mama selalu saja mengatur hidupku. Ini hidupku sendiri. Aku berhak untuk menentukan jalan apa yang akan kupilih.”

“Diam! Jangan melawan mama. Mama dan papa sudah memutuskan hal ini. Mulai besok kamu tidak boleh meninggalkan rumah sampai hari kepindahan kamu.”

Violin berlari menuju kamarku dan mengunci pintu. Violin menangis.

***

“Lin…bangun, lin. Sarapan sudah siap.”

Ada apa, mbok?”

“Violin tidak mau keluar dari kamarnya sejak semalam, bu.”

“Violin. Buka pintunya. Ini mama. Violin! Cepat ambilkan saya kunci cadangan, mbok.”

“Ini, bu.”

“Cepat buka pintunya.”

“Baik, bu.”

“Ya, ampun. Violin kemana, bu? Baju – bajunya hilang, bu.”

“Cepat hubungi polisi. Violin pasti dibawa oleh Bryan.”

***

“Semua sudah beres. Sekarang aku akan menjemput Violin,” kata Bryan sambil membuka pintu.

Ternyata Violin sedang tidur di depan teras rumahnya.

“Violin? Kok kamu ada disini? Kok kamu bawa koper? Kamu masuk dulu, ya. Kamu ada disini sejak semalam, ya?”

“Aku lari dari rumah, yan. Orangtuaku memaksaku pindah ke London. Sekarang jam berapa?”

“Sekarang jam 08.00, lin. Kamu masuk dulu,ya. Nanti kamu sakit.”

“Aku tida apa – apa, yan. Kita pergi sekarang, ya. Nanti kamu telat untuk ikut audisi.”
“Hm…baiklah. Tapi apa kamu yakin kamu baik – baik saja?”

“Iya. Aku baik – baik saja,”kata Violin sambil tersenyum.

“Baiklah, ayo kita pergi.”

***

“Lin, kamu yakin kamu tidak apa – apa, kan?”

“Iya, aku baik – baik saja.”

Brukk! “Maaf.”

Ada seseorang yang menabrak Bryan. Orang itu tanpa sengaja menjatuhkan gitar Bryan.

“Lin, kamu jalan duluan saja. Nanti aku menyusul.”
“Ya, baiklah.” Kemudian Violin berjalan ke tepi jalan.

“AWAS! MENYINGKIR DARI JALANAN. TRUK ITU PENGEMUDINYA SEDANG MENGANTUK.”

Violin menoleh ke arah suara itu. Itu adalah suara dari salah seorang warga yang ada disana. Violin melihat ada sebuah truk yang melaju dengan kencang ke arah Bryan.

BRYAN!”

Tetapi Bryan tidak mendengar suara Violin. Violin segera berlari ke arah Bryan.

BRYAN! AWAS!”

BRAKKKK!!!!!!!!!!!!!!!

Terdengar suara tabrakan yang sangat keras. Terdengar suara – suara orang. Mereka menghampiri Violin.

“Violin! Violin!”

Aku mendengar Bryan memanggil namaku. Syukurlah Bryan baik – baik saja. Rasanya aku mengantuk sekali. Ingin sekali aku memejamkan mataku. Tapi Bryan melarangku untuk tidur. Aku berusaha untuk tetap tebangun.

“Panggil Ambulan! Cepat!”

***

“Permisi, harap semuanya menyingkir dari lorong.”

“Lin, kamu harus bertahan, ya. Kumohon. Jangan sampai terjadi apa – apa.”

Bryan? Kok kamu masih…ada disi…ni? Bukan…nya kamu harus ik…ut audisi…Ayo cepat per…gi,” kataku. Rasanya sulit sekali bagiku untuk berbicara. Seluruh tubuhku rasanya sakit sekali.

“Aku tidak akan pergi. Aku akan menemani kamu. Kamu harus bertahan ya, lin. Kamu harus kuat,” kata Bryan sambil menggenggam tangan Violin .

Bryan…Kamu sud…ah berj…anji pada…ku, kan? Aku tid…ak apa – apa. Ka…mu cepat pergi. Nanti kamu ter…lambat.”

“Aku tidak akan pergi, lin. Jangan bicara apa – apa lagi.”

Kemudian Violin melihat ke arah gitar yang dibawa Bryan di pundaknya. Gitar itu sudah rusak. Violin melepaskan kalungnya dan memberikan kalung yang berisial namanya itu kepada Bryan.

Bryan…jual saja kalungku ini. Lalu belilah…gitar untuk mengikuti audisi.”

“Lin, kamu jangan bicara apa – apa lagi. Aku tidak akan meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini.”

Bryan, pergilah. Aku baik – baik saja. Aku akan menunggu sampai kamu kembali,” kata Violin sambil melepaskan tangan Bryan.

“Baiklah. Kamu harus menungguku. Aku akan membawa kabar baik bagimu. Aku tidak akan mngecewakan kamu.”
Kemudian aku tersenyum kepada Bryan dan suster membawaku masuk ke suatu ruangan.

Bryan bergegas pergi ke sebuah toko emas.

“Pak, aku mau menjual kalung ini.”
“Kalung ini… Baiklah Rp 600.000,-“

“Apa tidak bisa lebih tinggi lagi, pak? Ini kalung asli.”

“Tidak bisa. Kalau tidak mau saya juga tidak akan memaksa,” ujar penjaga toko emas itu.

“Baiklah. Tapi kalung ini jangan dijual, pak. Saya akan segera datang untuk menebusnya.”

Setelah menjual kalung milik Violin, Bryan begegas pergi ke sebuah toko musik untuk membeli sebuah gitar. Setelah itu dia pergi ke tempat audisi

“Maaf, pak. Saya terlambat.”
“Kamu mau ikut audisi, ya. Audisi ini sudah ditutup.”

“Ijinkan saya mencobanya sebentar saja, pak. Saya mohon.”

Orang itu melihat kearah Bryan.“Baiklah, baiklah, saya beri kamu waktu 3 menit. Cepat mulai!”
“Terima kasih, pak.”

“Saya akan menyanyikan sebuah lagu yang saya ciptakan sendiri. Judulnya “Kekasih Terindah.”

Bryan kemudian menyanyikan sebuah lagu ciptaanya sendiri.

“Ya. Cukup. Kamu lolos audisi. Persiapkan diri kamu untuk rekaman album.”
“Benarkah? Terima kasih banyak, pak. Apakah saya boleh pulang sekarang, pak?

Saya harus pergi mengabarkan kabar baik ini kepada seseorang.”

“Baiklah. Kamu tunggu saja telepon dari pihak kami.”
“Baik, pak. Terima kasih,pak.”

Bryan kemudian menyalami para juri itu dan kemudian pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Bryan melihat keluarga papa dan mama Violin sedang berbicara dengan seorang dokter yang tadi membawa Violin keruang UGD. Kemudian dokter itu mengatakan sesuatu yang membuat mama Violin menangis. Melihat hal itu, Bryan terduduk lemas di lorong rumah sakit itu.

***

6 bulan kemudian…

BRYAN! BRYAN! BRYAN!”
“Apa kabar semuanya? Hari ini saya akan menyanyikan lagu ciptaan saya. Ini adalah pertama kalinya saya menyanyikan lagu ini. Judulnya Kekasih dalam Ingatanku.”

Kemudian Bryan menyanyikan lagunya dan seperti biasa dalam setiap penampilannya dia memakai sebuah kalung yang berbandul huruf “V”.

-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar