Karya : Fabiola Ricca
Teng…Teng…Teng…
Bel sekolah berbunyi tiga kali. Itu tanda bahwa pelajaran hari ini sudah selesai. Seorang perempuan berambut panjang berjalan keluar dari kelasnya. Gadis itu bernama Violin. Saat melewati papan pengumuman sekolah, tanpa sengaja Violin melihat salah satu iklan yang menarik perhatiannya. Itu adalah iklan audisi pencari bakat. Melihat hal itu, Violin segera pergi menuju ke kelas
“
“Papan pengumuman?
“Kamu lihat dulu, ya. Kamu pasti senang,” katanya sambil menarik tangan
“Lihat. Kamu pasti belum lihat pengumuman ini,
“Tidak perlu, vi. Aku rasa aku tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengikuti audisi ini. Ini
“Kamu jangan putus asa sebelum mencoba. Menurutku kamu punya bakat yang bagus di bidang ini. Kamu ikut, ya.”
“Hm…kalau Violin sudah bilang begitu, aku akan mencoba melakukan ini demi kamu.”
“Benarkah? Kalau begitu nanti kita pergi bersama – sama, ya.”
“Ya, terserah kamu saja, lin,” jawab
“Aduh, lin. Aku sudah hampir terlambat kerja. Aku pergi dulu ya, lin. Maaf aku tidak bisa menemani kamu.”
“Iya. Kamu pergi saja. Aku tidak apa – apa, kok. Paling sebentar lagi sopirku sudah datang menjemput,” kataku sambil tersenyum.
“Baiklah, kamu hati – hati, ya.”
“Iya, aku tahu. Kamu cepat pergi. Nanti kamu terlambat,” kataku.
“Iya, aku pergi dulu.”
“Hati – hati, ya.”
“Baik, bos,” kata
Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil mewah yang berhenti di depan Violin. Sopirnya turun dari mobil lalu mebukakan pintu mobil untuk Violin.
“Maaf, bapak terlambat,” katanya.
“Tidak apa – apa, pak. Saya juga baru keluar, kok,”kata Violin kepada bapak itu..
“Papa dan Mama ada dimana, pak.”
“Mereka sedang pergi ke
Ini bukan yang pertama kalinya papa dan mama Violin pergi keluar negeri untuk urusan bisnis. Violin jarang sekali bertemu orangtuanya karena mereka selalu berpergian keluar negeri. Kalaupun mereka ada di
“Pak, kita pergi ke restoran tempat
“Ya, baiklah,” jawab bapak itu.
Tidak lama kemudian, Violin sampai di restoran tempat
“Pak, pulang duluan saja, ya. Nanti aku pulang diantar
“Beres! Kalau dengan bapak pasti beres. Bapak pasti akan selalu membela kamu,lin.”
“Bapak memang yang terbaik. Makasih ya, pak.,” kata Violin sambil menutup pintu mobil.
Pak Udin sudah bekerja di keluarga Violin sejak Violin masih TK. Pak Udin sudah menganggap Violin seperti anaknya sendiri.
Setelah masuk ke restoran, Violin duduk si sudut favoritnya. Menurutnya tempat ini adalah tempat yang sangat strategis. Melalui tempat ini Violin bisa melihat orang – orang yang sedang makan atau minum di restoran ini. Itulah yang biasanya Violin lakukan sambil menunggu
“Violin? Kok kamu tidak pulang ke rumah? Kamu besok ulangan,
“Aku bosan dirumah. Papa dan mama juga tidak ada dirumah. Aku belajar disini saja sambil menunggu kamu.”
“Baiklah, aku layani tamu dulu, ya. Kamu tunggu sebentar, ya. Nanti aku bawain minuman sama makanan. Nanti kalau sudah sepi aku temani kamu belajar.”
“Baiklah,” jawab Violin sambil tersenyum.
“Fuh…akhirnya sepi juga,” kata
“Kamu istirahat dulu, ya.”
“Tidak apa – apa. Apa ada soal yang tidak kamu mengerti?”
“Aku sudah mengerti kok. Tadi di sekolah aku sudah meminta Livi untuk mengajariku. Jadi kamu tenang saja dan istirahatlah baik – baik. Jangan sampai kamu kelelahan. Sebentar lagi kamu mau ikut audisi. Besok kita pergi mengambil formulir pendaftarannya, ya. Besok kamu kerja tidak?”
“Besok aku ada kerja sampai jam 2, lin.”
“Kalau begitu, kita langsung pergi setelah kamu kerja saja, ya.”
“Beres. Lin, kamu tunggu sebentar, ya. Aku kira – kira 10 menit lagi pulang. Nanti aku antar kamu pulang.”
“Iya,” jawab Violin dengan tersenyum.
***
Keesokan harinya…
“
“Violin? Kok kamu cepat sekali datangnya. Aku belum selesai bekerja.”
“Aku memang sengaja datang lebih cepat. Aku takut terlambat. Kamu kerja dulu
“Hm…baiklah. Kamu tunggu sebentar, ya.”
***
“Violin, aku sudah selesai. Kita pergi sekarang?
“Baiklah,” jawab Violin.
***
“Aduh…ramai sekali, ya. Aku tidak menyangka ada orang sebanyak ini yang ikut.”
“Aku juga. Wajar saja. Audisi ini
“Terima kasih, ya. Sekarang aku menjadi lebih yakin aku bisa memenangkannya.”
Setelah menunggu cukup lama, giliran mereka hampir tiba.
“Lin, kita pulang saja, ya,” kata
“Loh? Kok tiba – tiba mau pulang?
“Kamu lihat syarat – syarat pendaftarannya. Biaya pendaftaran Rp 500.000,- dan harus dibayar saat pengambilan formulir. Aku tidak ada uang sebanyak itu. Kita pulang saja, ya.”
“Selamat siang! Mau mengambil formulir pendaftaran untuk kategori apa?”
“Maaf ya, pak. Kami tidak jadi,” kata
“Jadi, pak. Saya minta untuk kategori penyanyi solo,” kata Violin .
“Lin, apa – apaan kamu. Aku sudah memutuskan untuk tidak mengikuti audisi ini,” kata
Violin mendiamkan
“Biaya pendaftarannya Rp 500.000,-. Besok audisi diadakan jam 09.00. Jangan datang terlambat karena akan diadakan pendaftaran ulang.”
“Ini uangnya, pak,” kata Violin sambil mengeluarkan uang dari dompet.
“Maaf, pak. Kami tidak jadi. Tolong kembalikan uangnya,” kata
“Terima kasih, pak,” kata Violin sambil membawa pergi formulir pendaftaran itu.
“Violin! Aku sudah bilang aku tidak mau mengikuti audisi ini. Cepat kamu kembalikan formulirnya. Mungkin uangnya masih bisa dikembalikan,” kata
“Aku tidak mau. Kamu sudah berjanji akan mengikuti audisi ini demi aku,
“Tapi aku sudah berubah pikiran. Berikan formulir itu, lin.”
“
Medengar perkataan Violin Bryan terdiam.
“Tenang saja, kalau kamu memang merasa berhutang denganku, kamu ikut saja audisi ini dengan sebaik – baiknya,” kata Violin kepada
“Aku senang sekali kamu berkata begitu.
“Baiklah. Kamu mau makan apa? Aku traktir kamu,” kata
“Ah…tidak perlu. Kamu belum gajian,
“Walaupun aku belum gajian, tapi kalau cuma traktir kamu makan aku masih bisa kok. Kalau cuma makan saja aku tidak bisa bayarin kamu, aku akan merasa malu pada dirku sendiri.”
“Ayo, kita pergi,” kata
***
Aduh, mbok. Aku lelah sekali. Tolong ambilkan minum, mbok,” kata Violin sambil merebahkan diri di atas sofa.
“Violin!”
Sebuah suara memanggil nama Violin. Itu adalah suara mama Violin.
“Mama? Kapan mama pulang. Kok tidak memberitahuku?”
“Naik keatas. Mama mau bicara sama kamu.”
“
“Darimana kamu jam segini baru pulang?”
“Hm…itu, ma…tadi…”
“Bryan lagi? Mama sudah bilang kamu tidak boleh berhubungan dengan dia lagi. Kamu tidak akan bahagia bersamanya.”
“Tapi ini yang aku mau, ma. Aku cinta sama Bryan.”
“Violin! Kamu itu masih SMA. Apa yang kamu tahu tentang cinta. Mama sudah menyiapkan
“Mama jahat! Kenapa mama selalu saja mengatur hidupku. Ini hidupku sendiri. Aku berhak untuk menentukan jalan apa yang akan kupilih.”
“Diam! Jangan melawan mama. Mama dan papa sudah memutuskan hal ini. Mulai besok kamu tidak boleh meninggalkan rumah sampai hari kepindahan kamu.”
Violin berlari menuju kamarku dan mengunci pintu. Violin menangis.
***
“Lin…bangun, lin. Sarapan sudah siap.”
“
“Violin tidak mau keluar dari kamarnya sejak semalam, bu.”
“Violin. Buka pintunya. Ini mama. Violin! Cepat ambilkan saya kunci cadangan, mbok.”
“Ini, bu.”
“Cepat buka pintunya.”
“Baik, bu.”
“Ya, ampun. Violin kemana, bu? Baju – bajunya hilang, bu.”
“Cepat hubungi polisi. Violin pasti dibawa oleh
***
“Semua sudah beres. Sekarang aku akan menjemput Violin,” kata
Ternyata Violin sedang tidur di depan teras rumahnya.
“Violin? Kok kamu ada disini? Kok kamu bawa koper? Kamu masuk dulu, ya. Kamu ada disini sejak semalam, ya?”
“Aku lari dari rumah, yan. Orangtuaku memaksaku pindah ke
“Sekarang jam 08.00, lin. Kamu masuk dulu,ya. Nanti kamu sakit.”
“Aku tida apa – apa, yan. Kita pergi sekarang, ya. Nanti kamu telat untuk ikut audisi.”
“Hm…baiklah. Tapi apa kamu yakin kamu baik – baik saja?”
“Iya. Aku baik – baik saja,”kata Violin sambil tersenyum.
“Baiklah, ayo kita pergi.”
***
“Lin, kamu yakin kamu tidak apa – apa,
“Iya, aku baik – baik saja.”
Brukk! “Maaf.”
“Lin, kamu jalan duluan saja. Nanti aku menyusul.”
“Ya, baiklah.” Kemudian Violin berjalan ke tepi jalan.
“AWAS! MENYINGKIR DARI JALANAN. TRUK ITU PENGEMUDINYA SEDANG MENGANTUK.”
Violin menoleh ke arah suara itu. Itu adalah suara dari salah seorang warga yang ada disana. Violin melihat ada sebuah truk yang melaju dengan kencang ke arah
“
Tetapi Bryan tidak mendengar suara Violin. Violin segera berlari ke arah
“
BRAKKKK!!!!!!!!!!!!!!!
Terdengar suara tabrakan yang sangat keras. Terdengar suara – suara orang. Mereka menghampiri Violin.
“Violin! Violin!”
Aku mendengar
“Panggil Ambulan! Cepat!”
***
“Permisi, harap semuanya menyingkir dari lorong.”
“Lin, kamu harus bertahan, ya. Kumohon. Jangan sampai terjadi apa – apa.”
“
“Aku tidak akan pergi. Aku akan menemani kamu. Kamu harus bertahan ya, lin. Kamu harus kuat,” kata
“
“Aku tidak akan pergi, lin. Jangan bicara apa – apa lagi.”
Kemudian Violin melihat ke arah gitar yang dibawa
“
“Lin, kamu jangan bicara apa – apa lagi. Aku tidak akan meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini.”
“
“Baiklah. Kamu harus menungguku. Aku akan membawa kabar baik bagimu. Aku tidak akan mngecewakan kamu.”
Kemudian aku tersenyum kepada
“Pak, aku mau menjual kalung ini.”
“Kalung ini… Baiklah Rp 600.000,-“
“Apa tidak bisa lebih tinggi lagi, pak? Ini kalung asli.”
“Tidak bisa. Kalau tidak mau saya juga tidak akan memaksa,” ujar penjaga toko emas itu.
“Baiklah. Tapi kalung ini jangan dijual, pak. Saya akan segera datang untuk menebusnya.”
Setelah menjual kalung milik Violin,
“Maaf, pak. Saya terlambat.”
“Kamu mau ikut audisi, ya. Audisi ini sudah ditutup.”
“Ijinkan saya mencobanya sebentar saja, pak. Saya mohon.”
Orang itu melihat kearah
“Terima kasih, pak.”
“Saya akan menyanyikan sebuah lagu yang saya ciptakan sendiri. Judulnya “Kekasih Terindah.”
“Ya. Cukup. Kamu lolos audisi. Persiapkan diri kamu untuk rekaman album.”
“Benarkah? Terima kasih banyak, pak. Apakah saya boleh pulang sekarang, pak?
Saya harus pergi mengabarkan kabar baik ini kepada seseorang.”
“Baiklah. Kamu tunggu saja telepon dari pihak kami.”
“Baik, pak. Terima kasih,pak.”
***
6 bulan kemudian…
“
“Apa kabar semuanya? Hari ini saya akan menyanyikan lagu ciptaan saya. Ini adalah pertama kalinya saya menyanyikan lagu ini. Judulnya Kekasih dalam Ingatanku.”
Kemudian Bryan menyanyikan lagunya dan seperti biasa dalam setiap penampilannya dia memakai sebuah kalung yang berbandul huruf “V”.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar