Saat dua hati bertaut. Apa yang terjadi? Ya, cinta telah muncul, menyatukan dua pribadi yang berbeda dan menggambarkan semua perasaan yang bercampuraduk yang dirasakan para penikmatnya. Cinta menimbulkan suatu kecanduan. Cinta memiliki daya pikatnya tersendiri. Semua orang akan tergiur dengan aroma semerbak dan rasa khas yang dipancarkan cinta..
“ Cinta, cinta, cinta. Kenapa sih mesti ada cinta? Bikin pusing aja!” kata Vella
“ Yyyee…. Kalo gak ada cinta. Lo gak bakal lahir, tahu?”
“ Siapa bilang? Banyak kok pasangan yang nikah tanpa cinta.”
“ Tapi cepet juga cerainya. Emangnya lo mau lahir dari keluarga kayak gitu?”
“ Ya nggak la. Kan gak enak banget tuh.”
“ Udah ah. Gak enak ngomong sama kaca. Bikin capek. Bukannya nyelesaiin masalah, nambah bikin puyeng aja. Huh!!” sambung Vella sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya.
“ Ooaaahhhh…. Ngantuk banget nih. Tidur dulu ah..”
Tok…tok…tok....
“Vel, bangun dong. Udah jam berapa nih!! Ntar telat, lho!” kata Axelle, kakak Vella.
“ Ehm, bentar lagi.”
DUAK…DUAK…DUAK…
“Woi, bangun!! Udah jam 7 neh!” teriak Axelle.
“ HAH!? JAM 7!! GAWAT!! MANDI…MANDI... Aduh! Gak sempet. Ya udah deh, pake parfum aja…,” rancau Vella saking paniknya.
Dalam lima menit, Vella sudah siap. Kemudian dia ke ruang makan untuk berpamitan dengan keluarganya..
“ Ayah, Bunda, Vella pamit, ya,” kata Vella sambil mengambil 2 keping roti isi.
“ Kak, antar aku, yuk!!”
“ Lho, kok pake seragam?! Lo mau ke mana?” tanya Axelle heran.
“ Ya, sekolah dong, Kak! Gimana sih?!”
“ Hwahahahahaha…Hwahahahhahaha…,” semua keluarga Vella tertawa.
“ Kok malah ketawa?!” tanya Vella heran.
“ Ini kan hari Minggu, ngapain lo ke sekolah?! Hwahahahaha…,” ujar Kak Axelle sambil tertawa.
“ Lho, bukannya tadi lo bangunin gue buat sekolah?!” ujar Vella marah.
“ Siapa bilang? Tadi kan gue nggak ngomong kalo lo telat sekolah.”
“ Makanya, kalo punya kuping, ya dipake. Hahahaha….”
“ Iih!! Rese banget..Uhh…,” rutuk Vella.
“ Vella, daripada kamu cemberut seperti itu, sebaiknya kamu ikut kakakmu lari pagi di taman. Lagipula, bangun siang itu tidak baik. Apalagi kamu itu perempuan, Vella,” nasihat Bunda.
“ Iya, deh, Bun. Vella ikut Kak Axelle olahraga aja,” ujar Vella.
“ Ya sudah, kamu cepat ganti baju sana. Nanti malah ditinggal kakakmu.
“ Ok, Bun."
“ Udah dulu, Kak. Capek!” Vella menyudahi lari paginya.
“ Oke.”
Saat itu Vella berdiri di tengah taman. Ia bermaksud melakukan pendinginan. Namun, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang hingga Vella jatuh.
“ Aduh! Kalau jalan pakai mata, dong,” kata seorang laki-laki yang menabrak Vella.
“ Enak aja. Kamu itu yang jalannya gak pake mata. Udah jelas-jelas kamu yang salah. Bukannya minta maaf, eh, malah nyalahin orang,” oceh Vella seraya bangkit dari jatuhnya dan membersihkan pakaiannya yang kotor.
“ Kok aku yang minta maaf? Kamu yang harusnya minta maaf. Berdiri ngalangin jalan, emangnya kamu pikir, ini jalan nenek moyang kamu?!” ujar lelaki tadi.
“ Udah..udah.. Gak usah berantem. Masalah gitu aja dibesar-besarin,” kata Axelle menengahi pertengkaran itu.
“ Lho. Axelle?” tanya lelaki itu kaget.
“ Iya. Siapa, ya?” tanya Axelle agak heran.
“ Gue Kay. Udah lupa, ya?”
“ Kay. Hahaha… Bukan lupa, tapi gue gak bisa ngenalin lo lagi. Gila! Lo berubah banget. Apa kabar, Kay?”
“ Baik. Lo sendiri?”
“ Baik juga.”
“ Lo ke mana aja? Lo kayak hilang ditelan bumi.”
“ Gue ikut nyokap ke Bandung, sekarang gue kuliah di sana.”
“ Hello… Jangan ngacangin gue dong. Ini cowok siapa, Kak?” kata Vella memotong pembicaraan.
“ Oh, gue lupa. Kenalin Vel, ini Kay. Kay, ini Vella, masih inget, kan?” kata Axelle.
‘ Masih inget? Maksud kakak apaan sih? Gue gak ngerti, deh. Ah, gak tahulah. Nanti aja, gue tanya,’ kata Vella dalam hati.
Vella tertegun. Matanya tertumpu pada pria itu. Vella melihat pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, seakan-akan menilai penampilan Kay. Namun, lambat-laun ia menyadari sesuatu yang lain dari Kay. Vella merasa seperti mengalami dejavu. Dia seperti merasa pernah bertemu dengan Kay. Tetapi kemudian pertanyaan Kay menyadarkannya dari lamunannya.
“ Kok melamun?”
“ Oh, enggak. Gak pa-pa. Ehm… Maaf, ya atas kejadian tadi.”
“ Iya, gue juga minta maaf.”
“ Vel, lo balik duluan aja, ya? Gue mau ngobrol-ngobrol dulu sama Kay,” ujar Axelle.
“ Gue pulang naik apa?” tanya Vella.
“ Ya jalan kaki la. Manja banget.”
“ Kok lo tega, sih sama adik lo sendiri?” protes Vella.
“ Cepetan sana. Ganggu aja, deh,” usir Axelle.
Vella pun pergi dengan muka cemberut dan kesal. Ada sedikit rasa kehilangan di hati Vella saat melangkah pergi dari tempat Kay dan Axelle berdiri. Entah mengapa.
Sesampai di rumah, Vella langsung menuju ke dapur. Dahaganya tidak dapat ditahan lagi. Perutnya pun sudah minta diisi. Lelah dan kesal. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan Vella saat itu. Lelah karena dia pulang dengan berjalan kaki dari taman ke rumahnya yang letaknya cukup jauh.
Kesal karena dengan teganya kakaknya menyuruhnya pulang atau lebih tepatnya mengusirnya dan lebih memilih mengobrol dengan teman lamanya tanpa menghiraukan adiknya sendiri.
Rasa penasaran pun tiba-tiba muncul ketika ia mengingat tentang kejadian di taman tadi. Berbagai pertanyaan melompat-lompat keluar dari otaknya.
“ Kok kayaknya pernah ketemu Kay. Tapi di mana, ya?”
Sejenak Vella diam, memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Lama dia berpikir tentang hal itu, namun tak satupun jawaban yang dia temukan. Malah rasa penasarannya bertambah besar.
“ Aduh! Di mana, sih? Kok gue gak inget, ya?”
“ Ah..udahlah. Ngapain juga gue mikirin soal itu. Kalau emang pernah ketemu, pasti nanti gue inget. Kalaupun gue nggak inget, berarti muka Kay itu pasaran. Banyak yang punya. Hahahaha…”
“ Duh! Maag gue kambuh lagi deh! Gara-gara mikirin Kay yang gak penting itu sih. Mendingan sekarang gue makan. Laper banget.”
“ Sabar, ya perut. Bentar lagi kamu kamu aku isi. Tenang aja,” Vella berbicara dengan perutnya sambil mengelus-elusnya.
Keesokan harinya, pukul 6.15, Vella sudah berada di meja makan untuk sarapan. Dia bangun pagi-pagi. Tidak mau kejadian kemarin tidak terulang. Seperti biasanya, Vella menyantap nasi goreng selimut dengan segelas susu putih. Hari ini, Vella sarapan sendirian. Ayah dan Bundanya pergi ke Bandung kemarin malam, sedangkan Kak Axelle sudah hilang dari tadi, entah kemana perginya.
“ Kak Axelle ke mana, ya? Kok pergi gak bilang-bilang. Gue ke sekolah gimana dong? Mana di sekitar sini gak ada kendaraan umum lagi,” gerutu Vella saking kesalnya.
“ Halo Vella! Gak baik, lho menggerutu seperti itu,” sapa Kay yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Vella.
“ Kok…Kay di sini? O..gue tahu, pasti nyari Kak Axelle! Sayangnya, Kak Axelle udah pergi dari tadi, tapi gak tahu ke mana,” balas Vella.
“ Gak tuh. Gue bukan nyari Axelle. Gue nyari lo,” jelas Kay.
“ Hah?!” kata Vella kaget.
“ Gak kok. Bercanda. Hahaha… Gue ke sini karena dapet amanat dari Axelle buat nganter lo.”
“ O…”
“ Tapi abis lo pulang sekolah. Lo mesti nemenin gue ke suatu tempat. Gimana? Mau, gak?”
“ Ehm.. tapi ntar jangan lupa traktir gue, ya?
“ Ok. Gak masalah.”
“ Kalau gitu, gue mau,” kata Vella sambil tersenyum.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Vella, Vella dan Kay berbincang tiada henti. Mereka berbincang apa saja. Vella pun merasa nyaman dan dekat dengan Kay. Padahal, mereka berdua belum begitu mengenal satu sama lain dan Vella sendiri pada dasarnya bukan seorang gadis yang bisa dengan mudah dekat dengan orang lain.
Rasa penasaran yang sempat dikuburkan jauh-jauh itu kembali lagi. Rasanya, seiring berjalannya waktu, rasa itu semakin menguat dan tak terbendungkan. Sampai-sampai, di sekolah pun Vella tidak bisa konsentrasi belajar. Kerja Vella hanya melamun saja. Bahkan, pada hari itu sudah 3 kali Vella ditegur oleh guru. Teman-temannya pun heran.
“Vella, lo gak pa-pa kan? Kerjaan lo dari tadi bengong mulu,” ujar Tania.
“ Kesambet baru tahu rasa,” timpal Anne.
“ Ada apa, Vel? Cerita dong,” kata Tania.
“ Hah?! Kalian ngomong apa? Sorry, sorry, gue tadi gak denger,” jawab Vella
“ Tuh, kan! Baru aja dingomongin, eh, udah melamun lagi,” ujar Tania.
“ Iya. Gue jadi heran.”
“ Kalau liat dari tanda-tandanya, nih. Kayaknya Vella lagi jatuh cinta. Iya, kan, Vel?” timpal Anne.
“ Ah. Enggak mungkin la. Mau jatuh cinta sama siapa, coba?” hindar Vella.
“ Ehm.. By the way, yang tadi pagi nganter lo, siapa, Vel? Jangan-jangan lo jatuh cinta sama orang itu, ya?
“Enggak la. Itu cuma temen kakak gue. Namanya Kay. Kakak gue nyuruh dia nganterin gue.”
“Cie...,” sorak Tania dan Anne..
“ Apaan, sih? Gue tegasin sekali lagi. Gue gak lagi jatuh cinta.”
“ Terus, kenapa dari tadi lo melamun aja?”
“ Gini lo…,”
Vella pun menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama Kay. Lengkap dan sangat terperinci. Mulai dari pertemuan mereka. Rasa penasaran Vella, juga kejadian tadi pagi yang membuat Vella semakin penasaran dengan Kay.
“ Kok bisa, ya lo ngerasa deket dengan dia, padahal lo baru kenal dy sebentar banget,” ujar Anne.
“ Udah la. Gak usah dibahas lagi. Ntar kita jadi pusing. Lupain ajalah, Vel. Paling-paling muka kayak Kay itu pasaran punya,” sambung Tania.
“ Iya, sih. Tadinya gue juga mikir kayak gitu. Gue udah berniat ngelupain semuanya. Tapi, pasti ujung-ujungnya kepikiran lagi,” kata Vella.
“ Oke. Sekarang kita lupain dulu masalah itu. Bu Resti udah masuk tuh. Gue gak mau cari gara-gara,” Tania mengingatkan.
“ Oke,” jawab Vella dan Anne bersamaan.
Teng…ting…teng…
“ Jangan lupa tugasnya dikumpulkan besok. Selamat siang!” ujar Bu Resti mengakhiri jam pelajaran.
“ Selesai juga pelajarannya,” ujar Vella dengan tersenyum manis.
“ Vella, kita ke rumah Tania, yuk. Udah lama kita nggak ngumpul-ngumpul,” ajak Anne.
“ Iya, iya. Udah lama banget. Sekalian kita ngerjain tugas dari Bu Resti,” ajak Tania yang mengamini ajakan Anne.
“ Guys, sorry banget. Gue udah ada janji sama Kay. Gimana kalau besok aja. Kebetulan besok gue gak ada kerjaan,” tawar Vella.
“ Wah! Kayaknya kita mesti nyingkir dulu deh, Tan. Ada yang mau kencan!” goda Anne yang diikuti tawa Tania.
“ Aduh! Jangan mulai lagi, dong! Gue marah, nih!” ancam Vella.
“ Iya, deh! Nggak lagi. Jangan marah, Vel! Kita cuma bercanda.”
“ Tapi, gue juga cuma bercanda. Hahaha… Udah dulu, ya? Gue udah ditungguin Kay dari tadi. Sampai ketemu besok! Daahhh!” kata Vella sambil melambaikan tangannya.
“ Daahhh.”
Vella berlari menyusuri koridor sekolah, menuju ke pelataran parkir. Tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan mobil Kay karena mobil yang ada di pelataran parkir itu hanya ada satu dengan warna kuningnya yang sangat menyala. Segera Vella berjalan menuju mobil itu dan membuka pintu mobil itu.
“ Halo, Kay! Udah lama, ya? Maaf, deh!”
“ Gue baru aja nyampe. Gimana sekolahnya?”
“ Yah, gitu deh. Biasa-biasa aja. Sekarang kita mau ke mana?”
“ Gimana kalau kita makan dulu? Tapi di mana yang enak?” tanya Kay.
“ Ke Roemah Kajoe aja. Gue suka banget suasananya,” saran Vella.
“ Letaknya di mana?” tanya Kay.
“ Di Jalan Telomoyo.”
“ Oke. Let’s go!.”
Roemah Kajoe adalah sebuah kafe mungil. Tempatnya kecil dan berdinding kayu. Dua meja biliar diletakkan di samping kumpulan tempat duduk. Hanya segelintir orang saja yang bermain biliar. Kafe itu selali berbau bunga jasmine. Ornamen yang diusungpun adalah ornament etnik dengan dominasi warna cokelat. Beberapa lampu kecil diletakkan dalam wadah terakota menerangi beberapa tempat.
Terdapat daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Dengan alunan lagu yang lembut yang diputar di sana, kafe itu memberi rasa nyaman kepada pengunjungnya. Ada rasa hangat saat duduk di kafe itu, seperti berada dalam sebuah keluarga yang harmonis.
“ Waw! Keren banget kafenya, Vel! Rasanya nyaman banget.” komentar Kay.
“ Karena itulah gue suka sama tempat ini,” jawab Vella sambil tersenyum manis.
“ Bakal betah banget gue di sini.”
Selagi menikmati keindahan dan keunikan kafe itu, seorang pelayang mendatangi Kay dan Vella dengan senyum yang menentramkan hati.
“ Silakan…,” ujarnya ramah sambil memberikan menu kepada Vella dan Kay.
Setelah melihat-lihat menu, Vella memilih satu creamy soup, satu pack kecil fried potato, dan segelas cappuccino, sedangkan Kay memesan satu meet rogan josh, satu samosa, dan segelas coffee latte. kemudian Vella menyerahkan kertas pesanannya kepada pelayan tadi seraya mengucapkan terima kasih.
Sambil menunggu pesanan, mereka kembali bercanda tawa. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit. Pesanan mereka datang. Mereka menikmati semua makanan dengan lahap dan sesekali berbincang-bincang lagi. Semua makanan di piring-piring sudah tandas. Minumannya pun juga tak bersisa.
“ Wah, kenyang sekali, tapi sumpah! Makanannya enak banget.”
“ Gak rugi, dong gue ngajak lo ke sini?” tanya Vella.
“ Iya. Makasih, Vel udah ngajak gue ke sini. Ternyata, selain unik, makanan di sini enak banget. Gak nyesel deh gue,” timpal Kay.
“ Eh, udah sore. Tadi kan gue rencananya mau nemenin lo ke suatu tempat, jadi, gak? Pergi sekarang aja. Ntar kemaleman pas nyampe rumah,” saran Vella.
“ Ok.”
Kay bersikeras membayar semua makanan dan minuman karena ia telah berjanji pada Vella, walaupun Vella sudah mengatakan bahwa dia hanya bercanda saja. Setelah melewati sebuah perdebatan kecil, Kay menepati janjinya dan membayar semua makanan dan minuman. Mereka pun pergi ke tempat yang memang ingin didatangi Kay.
“Vel, macet banget, nih!” ujar Kay.
“ Iya, gimana nih, padahal biasanya gak gini amat.”
“ Kalau kayak gini caranya, bisa malem banget baru nyampe rumah. Atau kita tunda aja. Besok aja, bisa?” tawar Kay.
“ Kalau besok, gak bisa. Gue udah ada janji sama temen-temen.”
“ Ya udah, hari Sabtu, deh. Bisa, kan?” tanya Kay.
“ O…. Bisa… Bisa,” jawab Vella sambil mengangguk-angguk.
“ Ya udah, kita pulang aja sekarang.”
Saking macetnya, perjalanan pulang ke rumah Vella juga memakan waktu berjam-jam. Vella pun tertidur karena kecapaian. Melihat hal itu, Kay tidak tega membangunkan Vella. Akhirnya, Kay menggendong Vella dan membawanya masuk ke rumah Vella.
“ Makasih, Kay udah nganterin adik gue balik. Gue jadi ngerepotin lo,” ujar Axelle tidak enak.
“ Santai aja, Xel. Malah gue yang ngerepoting adik lo.”
“ Duduk dulu, Kay,” Axelle mempersilahkan Kay duduk.
“ Gak usah, Xel. Udah malem. Gue pulang aja. Orang rumah udah nyari. Gue pamit dulu, Xel.”
“ O.. ya udah. Hati-hati di jalan, Kay. Thanks berat, ya.”
“ Bye.”
Axelle mengantar Kay sampai gerbang rumahnya sambil melambaikan tangan. Mobil Kay lama-kelamaan hilang dari pandangan mata Axelle, dia pun masuk ke rumah sambil tersenyum senang, senyum penuh arti.
Semakin lama, Kay dan Vella semakin dekat. Vella merasakan sesuatu yang beda terhadap Kay. Hari ini mereka berencana pergi, menuntaskan janji yang tertunda. Namun janji itu telah berubah. Bukan hanya pergi, mereka akan menginap di tempat itu. Pantai Parangtritislah tujuan mereka.
“ Ngapain, sih kita ke sini?” tanya Vella pada Kay.
“ Main-main, sekalian aku mau motret bintang jatuh,” jawab Kay santai.
“ Hah?! Mana bisa?”
“ Iseng aja, kalau gak dapet, juga gak pa-pa.”
“ Ya udah, sekalian refreshing setelah UN. Hehehe…”
“ Iya ya, kamu bentar lagi kuliah. Kamu nanti kuliah di mana?” tanya Kay.
“ Gak tau. Enaknya di mana, ya?” ujar Vella sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke kepalanya.
“ Di Bandung aja. Biar deket sama gue,” kata Kay.
“…,” Vella hanya diam. Mukanya memerah. Perasaannya bercampur aduk. Senang, tapi malu.
“ Kok mukanya merah gitu? Gak kok, gue cuma bercanda.”
“ Gue juga cuma kepanasan. Gue juga tahu kalo lo bercanda. Hahaha…,” kilah Vella sambil tertawa terpaksa. Dia berusaha menyembunyikan rasa malunya.
‘ Ternyata Kay cuma bercanda. Sepertinya gue terlalu banyak berharap. Gue terlalu ge-er,’ kata Vella dalam hati.
“ Sekarang kita ke rumah gue aja. Kebetulan gue punya rumah di sini. Jadi kita gak usah capek-capek cari penginapan,” ajak Kay.
“ Ok.”
“ Sekarang mendingan lo pergi tidur. Soalnya nanti kita bakal begadang sampai pagi. Nanti kalau udah waktunya, gue bangunin lo,” kata Kay sesampainya di rumahnya.
“ Oke, bos. Makasih ya,” jawab Vella sambil memberi hormat bak seorang polisi dan merekapun berlalu menuju ke kamar masing-masing.
Alarm jam di kamar Kay berbunyi. Dengan sisa-sisa kantukan, Kay bangun dari tempat tidurnya, mematikan alarmnya, dan kemudian berjalan menuju ke kamar Vella. Sesuai janjinya tadi, ia membangunkan Vella. Vella pun bangun, lalu mereka berdua bersiap-siap menuju Parangtritis.
Parangtritis mempunyai langit yang luas dan indah. Maka dari itu, Kay ingin sekali ke sana. Yogyakarta di musim kemarau memang aneh. Suhu kota jadi terasa dingin di malam hari, namun panas terik siang juga semakin menjadi-jadi.
Malam itu, langit cukup cerah. Ada banyak bintang, namun tiada bulan. Vella dan Kay duduk di pantai dengan beralaskan tikar sambil menghirup aroma khas laut. Ditemani semilir angin laut yang berhembus, Kay memasangkan teropong rakitan yang dipadupadankan dengan kamera, Vella ikut membantu Kay memasangnya. Lalu, perburuan pun dimulai.
Mereka tengkurap di tikar sambil menengadah ke langit. Beberapa kali Kay mencoba membidik bintang jatuh yang hanya muncul dua-tiga kali, tapi semuanya gagal. Yang ditangkap kameranya hanya gambaran gelap, hitam. Lama mereka berdiam diri. Akhirnya, Vella tidak tahan untuk menanyakan hal yang telah dipendamnya itu. Rasa penasarannya.
“ Kay, gue kayaknya pernah kenal sama lo, deh. Kayaknya dulu banget, tapi gue gak tahu di mana,” kata Vella membuka pembicaraan.
“ Kita kan dulu emang deket, Vel. Tapi emang udah lam banget. Udah 14 tahun yang lalu. Jadi, wajar aja kalau lo lupa,” jawab Kay sambil sesekali membidikkan kameranya.
“ Kok lo gak pernah bilang, sih?!” tanya Vella kesal.
“ Kan lo gak pernah nanya. Gue kira lo masih inget.”
“ O…”
“ Dulu gue pendiem banget. Sampai-sampai gak ada anak yang mau main sama gue. Tapi, kemudian lo dateng. Lo temen satu-satunya temen gue waktu itu…,” cerita Kay.
Ternyata Kay dulu adalah teman kecil Vella. Namun, tiba-tiba Kay bagai hilang hilang ditelan bumi. Tanpa kabar, tanpa pamit, Kay pergi. Vella waktu itu, merasa kehilangan Kay, namun seiring waktu, Vella dapat mengatasi rasa kehilangannya itu.
Pantas saja pada saat bertemu Kay di taman. Axelle sempat berkata ‘ Masih ingat?’ pada Kay. Niatnya yang waktu itu ingin menanyakan perkataan hal itu kek kakaknya, sudah terlupakan. Baru hari itu, dia mengingatnya kembali.
Sekarang rasa penasaran Vella terjawab sudah. Memang Kay sekarang sangat berubah. Menjadi lebih periang. Kacamatanya juga sudah tidak digunakannya lagi. Teknologi lasik mengubah semuanya dan Kay ternyata juga menggunakan teknologi itu.
“ Pantes aja. Gue ngerasa udah ngenal lo lama banget. Gue juga ngerasa nyaman dan nyambung banget sama lo.”
“ Coba aja gue certain itu dari awal. Pasti lo gak penasaran terus,” sambung Kay.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat. Hari sudah hampir pagi. Namun, rasa kantuk belum menghinggapi mereka, saking antusiasnya membahas masalah itu. Walau begitu, Kay tetap mengajak Vella pulang. Sebaiknya mereka istirahat dulu, daripada nanti sakit, begitu pikir Kay.
“ Kay, kita jalan-jalan, yuk!” ajak Vella yang sedang bosan.
“ Ke mana?” tanya Kay.
“ Ke Malioboro aja. Mumpung udah di Yogya,” usul Vella.
“ Ok, deh.”
Jalan-jalan di Malioboro memang asyik. Pantas saja Malioboro banyak dikunjungi para turis. Salah satu bagian jalan dipakai oleh para pedagang kaki lima lesehan. Ada rumah makan, jajanan kecil, dan lain-lain. Walaupun rumah makannya hanya berupa lesehan dan terbuat dari tenda, di sana ramai sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri saat kita mengunjungi tenda-tenda itu.
Setelah makan di salah satu tenda itu, Kay dan Vella berkeliling-keliling kota menggunakan dokar. Mereka juga sempat mampir ke beberapa toko yang menjual oleh-oleh khas Yogyakarta. Sambil memilih-milih barang, mereka bertukar cerita, satu sama lain, Kay pun sempat mengutarakan isi hatinya.
“ Vel, gue mau tanya sesuatu.”
‘ Jangan-jangan Kay mau nembak gue?! Wah, seneng banget,’ pikir Vella kesenangan.
“ Vel, lo dengerin gue gak sih?” tanya Kay sambil melambaikan tangannya di depan muka Vella.
“ Eh, iya. Sorry. Lo tadi mau tanya apa? Ngomong aja.”
“ Temen sekelas lo yang anak cheerleader itu, siapa namanya?”
‘ Kirain mau nembak, ternyata…’ pikir Vella sebal.
“ Vel, kok ngelamun lagi?” tanya Kai yang merasa tidak didengarkan.
“ Eh, nggak ngelamun kok. Oh ya, pertanyaan lo tadi. Di kelas gue, anak cheerleadernya, jadi yang mana?” tanya Vella dengan setengah hati.
“ Yang rambutnya panjang, agak ikel, cantik, tinggi, putih. Siapa namanya?” tanya Kay dengan sangat antusias.
“ Oh, itu Chiara. Emang kenapa? Lo naksir?” tanya Vella dengan raut muka sedikit khawatir.
“ Mungkin. Kayaknya orangnya baik, menarik, cantik lagi. Gue tertarik sama dia. Berhubung lo temen sekelasnya, kenalin ke gue, dong?” pinta Kay.
Hati Vella mencelos. Ternyata, Kay tidak memiliki perasaan khusus terhadap dirinya. Padahal, dia sudah merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Kay, yang rasanya makin lama, makin kuat saja rasa itu. Semua harapannya kepada Kay, pupus sudah. Memang Chiara itu tipe pacar impian. Tinggi, langsing, cantik, putih, dan juga dia anggota tim cheerleader.
“ Vel, jangan ngelamun lagi. Seharian ini gue perhatiin, udah 3 kali lo kayak gini. Ada apa, sih?” tanya Kay khawatir.
“ Hehehe… Gak ada apa-apa. Tenang aja. Gue usahain deh, soalnya gue gak terlalu deket sama dia.”
“ Makasih, Vel!” kata Kay yang tersenyum dengan lebarnya, sementara Vella hanya bisa menahan perih hatinya.
Sejak saat itu, Vella menjadi sering sekali harus mendengarkan curhatan Kay tentang Chiara. Kay juga selalu menanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Chiara. Tentu saja hal itu membuat Vella semakin hari semakin jengah.
Seperti perayaan-perayaan kelulusan di sekolah-sekolah lain, sekolah Vella mengadakan prom nite. Para siswa-siswi harus membawa pasangan ke acara itu, entah itu kakak, adik, teman, ataupun pacar.
Prom nite akan diadakan 2 minggu lagi, namun Vella belum menentukan siapa yang akan menjadi pasangannya. Dia masih berharap kepada Kay. Dia ingin sekali mengajak Kay, tapi setelah mengingat curhatan Kay, Vella mengurungkan niatnya, dia yakin Kay akan menolaknya.“ Vel, kalo gue ke prom nite sama Chiara, oke gak?” tanya Kay meminta saran.
“ Emang Chiara udah ngajak lo?”
“ Udah, tapi gue belum jawab.”
“ Lho, kenapa?” tanya Vella heran.
“ Gak apa-apa, cuma adalah sedikit masalah. Kalau udah kelar, baru deh gue kasih jawabannya.”
“ Masalah apaan sih?” tanya Vella penasaran.
“ Ada deh. Mau tahu aja! Lo sendiri gimana? Lo pergi sama siapa?” tanya Kay.
‘ Gue pengennya sama lo, Kay. Tapi, lo kayaknya lebih milih Chiara daripada gue,’ jawab Vella, hanya dalam hati.
“ Gak tahulah. Itu juga bukan urusan lo!” jawab Vella dengan ketus. Tiba-tiba suasana hatinya memburuk.
“ Mendingan lo pulang sekarang. Gue mau tidur!” Vella mengusir Kay.
“ Sana! Sana!” kata Vella seraya mendorong Kay ke arah pintu depan rumahnya.
“ Ya udah deh, gue pulang dulu. Sampai ketemu besok, Vel.”
Setelah itu, Vella langsung masuk ke kamarnya. Dia menangis. Sikap Kay yang sangat baik dan manis kepada Vella membuat Vella semakin berat melupakan Kay. Andai saja Kay menolaknya, menjauhi, atau membencinya sejak awal. Pasti rasa sakit itu tidak sedalam yang dialaminya sekarang.
Vella sadar. Dia tidak seharusnya mendengarkan curhatan Kay tentan Chiara. Itu penyebab utama hatinya sakit. Dia juga sudah jenuh. Selama ini dia berusaha terlihat senang dan tidak cemburu ketika Kay berbicara tentang Chiara. Selama ini dia menutupi perasaannya karena ia takut Kay akan menjauhinya saat Kay mengetahui yang sebenarnya.
Ia pun memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia akan menghindari Kay selama beberapa waktu, sampai dia benar-benar siap untuk mengatakan hal itu kepada Kay, sehingga tidak akan ada penyesalan di kemudian hari.
Vella semakin menghindari Kay, baik saat Kay datang ke rumahnya, menjemputnya di sekolah, maupun saat ditelepon dan di-sms. Kay bingung terhadap semua sikap Vella.
Sampai suatu hari, Kay datang ke rumah Vella tiba-tiba, karena itu juga Vella tidak bisa menghindar dari Kay. Vella belum siap benar menghadapi Kay, emosinya masih sedikit labil.
Tok..tok..tok…
“ Vel, ini gue, Vel,” kata Kay sambil mengetuk pintu kamar Vella.
“ Ngapain lo ke sini? Lo pergi aja.”
“ Gue mau ngomong, Vel.”
“ Ngomong aja, gue juga bisa denger dari sini.”
“ Vel, kok akhir-akhir ini lo ngehindarin gue? Ada apa, Vel?”
“ Bukan urusan lo, Kay. Mendingan lo urusin Chiara aja. Dia lebih penting!” teriak Vella yang mulai meneteskan air mata.
“ Kok lo sinis banget ngomongnya?”
“ Bukan urusan lo. Gue mau sinis, mau enggak. Itu bukan urusan lo.”
“ Tentu aja itu urusan gue.”
Karena tidak tahan lagi. Vella membuka pintunya yang tadi terkunci dan menemui Kay. Siap tidak siap, sekarang dia harus mengakhiri semuanya.
“ Apa maksud lo? Emangnya lo siapa gue?” tanya Vella yang semakin terisak.
“ Asal lo tahu aja! Gue suka sama lo, Kay. Betapa hancurnya gue saat gue tahu ternyata lo suka sama Chiara. Harapan gue hilang. Betapa sakitnya gue pas lo ceritain tentang Chiara, tanya tentang Chiara, semuanya Chiara, Chiara, dan Chiara. Gue emang salah saat gue nutupin perasaan gue dan berpura-pura setuju dan seneng tentang semua rencana lo buat Chiara,” ujar Vella mengungkapkan semua perasaannya yang diiringi tangisnya yang semakin deras.
“ Vel, gue ma…”
“ Dengerin gue sampai selesai!” perintah Vella menghentikan perkataan Kay.
Vella diam sejenak, kemudian berbicara kembali.
“Gue sadar, gue gak pantes buat lo. Gue dan Chiara itu bedanya kayak ilalang dan mawar. Chiara seperti mawar yang indah dan menggoda, sedangkan gue ilalang yang jelek dan gak enak dipandang. Maka dari itu, hari ini gue mutusin untuk mengakhiri semuanya. Gue gak kuat buat nyimpen semua ini. Terserah lo mau beranggapan apa soal gue sekarang. Lo mau ngebenci gue, gue juga gak apa-apa. Sekarang gue lega,” kata Vella dengan sisa-sisa tangisannya.
“Huuuhhh…,” Vella menghembuskan dan mengambil nafas sejenak.
“ Sekarang gue udah bisa ngelepasin lo buat Chiara. Gue bakal seneng ngeliat lo seneng dan bahagia sama Chiara. Buat gue, lo udah tahu perasaan gue aja udah cukup. Gue juga udah bisa terima semuanya. Gue udah siap kehilangan lo sebagai temen gue. Emang lo bukan jodoh untuk gue. Gue cuma bisa bilang selamat buat lo dan Chiara, semoga bahagia…,” ucap Vella mengakhiri semua perkataannya.
Sesudah berkata demikian, Vella menundukkan kepalanya di hadapan Kay. Dia belum sanggup menatap Kay. Vella sudah pasrah. Namun, tiba-tiba dua buah tangan memeluknya erat. Vella berkhayal dia dipeluk Kay saat itu juga. Tetapi rasanya pelukan itu begitu nyata, begitu hangat.
Vella menengadahkan kepalanya dan ternyata benarlah bahwa hal itu bukan khayalannya. Pelukan itu nyata. Kay memeluknya. Vella tidak bisa berkata apa-apa saking senang dan terkejutnya.
“ Vel, kenapa lo baru nunjukkin rasa cemburu dan suka lo sekarang? Gue udah lama nunggu lo nunjukkin hal itu!” katanya.
“Sebenarnya gue udah suka sama lo sejak kecil, Vel. Gue seneng banget pas ketemu lo di taman itu,” jelas Kay.
“ Lo bohong, kan? Lo pasti cuma kasian sama gue, makanya lo ngomong kayak gitu,” tuduh Vella yang kemudian mendorong Kay menjauh darinya. “ Lebih baik lo kembali ke Chiara.”
“ Gue gak bohong, Vel. Gue serius,” tegas Kay.
“ Lo bohong! Gue tahu diri, kok! Gue ibarat ilalang, sedangkan Chiara itu mawar. Di mana-mana, orang pasti milih mawar daripada ilalang. Jangan mainin gue, Kay. Gue gak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Gue udah cukup menderita!”
“ Gue gak bohong, Vel. Gue ngomong yang sejujurnya sama lo. Andai kamu ilalang dan Chiara itu mawar. Aku bakal tetep milih ilalang itu,” ujar Kay.
“ Ucapan gue suka Chiara itu bohong. Gue gak pernah suka sama Chiara. Dari dulu sampai sekarang, cuma lo yang ada di hati gue, Vel,” jelas Kay sambil memegang kedua bahu Vella.
“ Gimana gue bisa percaya? Lo aja udah bohong sama gue?”
“ Gue terpaksa ngelakuinnya. Gue juga gak tega ngeliat lo kayak gini. Gue gak nyangka lo bakal menderita banget kayak gini. Gue kira lo gak suka sama gue. Ini cuma strategi gue. Gue mau tahu apa lo suka sama gue apa enggak. Sikap lo selama ini gak menunjukkan bahwa lo suka sama gue. Lo keliatan biasa-biasa aja. Makanya, gue bikin strategi ini. Gue minta maaf, Vel. Lo mau kan maafin gue dan jadi pacar gue?” ujar Kay berusaha meyakinkan Vella.
Vella menatap kedua mata Kay lekat-lekat. Tidak ditemukannya suatu kebohongan di mata itu, malah sorot mata itu sangat teduh, membuat Vella merasa nyaman dan terlindungi. Yakinlah Vella bahwa ternyata Kay tidak berbohong.
Vella menjawabnya dengan senyum. Senyum yang berarti iya. Iya yang berarti dia memaafkan Kay dan iya yang berarti dia mau menjadi pacar Kay.
Melihat itu, Kay tersenyum senang, kemudian dia maju dan memeluk Vella. Di sela-sela pelukan itu, Vella bertanya,” Kay, kenapa kamu memilih ilalang, bukan memilih mawar? Padahal mawar itu kan sangat indah dan ilalang tidak dapat menandinginya.”
“ Vella, mawar itu memang indah, namun bila tidak hati-hati, kita bisa tertusuk duri mawar. Mawar memang memiliki mahkota yang indah, namun mahkota itu hanya berfungsi untuk menutupi durinya. Mahkota yang cantik itu hanya sebagai tameng untuk menutupi semua keburukan mawar. Coba bayangkan mawar tanpa mahkota yang indah, namun berduri. Tidak ada seorangpun yang akan meliriknya. Sedangkan ilalang itu sangat alami, dapat tumbuh di mana saja dan juga tidak mudah dihilangkan. Seperti ilalang di padang rumput, sangatlah indah. Ilalang tidak memerlukan mahkota untuk mempercantiknya karena ilalang memiliki kecantikan tersendiri. Kealamiaannya melambangkan kepolosan dan kejujuran. Sifat tidak mudah dihilangkan itu memancarkan semangat hidup yang tinggi. Intinya, kamu itu ilalang dan kamu itu unik,” begitu ujar Kay seraya tersenyum dan menyentuhkan telunjuknya ke hidung Vella.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar