Karya : Adella Kurnia Sari
Rachel adalah seorang wanita berusia sekitar 18 tahun, bulan Desember nanti dia akan berusia 19 tahun. Rachel berambut panjang sebahu, agak ikal dibawah. Warna matanya kecoklatan, tentu saja ini keturunan dari ibunya yang merupakan peranakan Roma. Sedangkan ayahnya adalah orang asli Padang. Rachel baru saja sampai di kampung halaman ibunya, Roma. Ini adalah kali pertama Rachel mengunjungi Roma, walaupun sebenarnya Rachel sendiri sudah mahir bahasa Italy karena ibunya mengajarinya bahasa Italy sejak kecil. Saat orang tuanya masih hidup mereka tidak pernah terpikir untuk mengajak Rachel pergi ke Roma bahkan hanya sekedar berlibur pun tidak. Mungkin ini karena hubungan orang tua Rachel dengan kakek neneknya. Dulu ibunya pernah bercerita bahwa sebenarnya kakek nenek Rachel tidak merestui hubungan ayah dan ibunya. Seperti cinta terlarang, bahkan pada saat ibunya bercerita Rachel sedikit geli mendengar cerita tersebut. Dia tidak menyangka bahwa cerita yang biasa dipakai sebagai alur film atau novel romantis ternyata bisa terjadi di kehidupan nyata.
Saat itu musim gugur di Roma. Setahun setelah kematian orang tua Rachel. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Rachel akhirnya sampai juga di bandara Leonardo Da Vinci, Roma. Nama bandara yang sedikit aneh ini membuat Rachel merasa geli. Saat pertama kali tiba di Roma, Rachel tidak tahu harus merasa senang, cemas, ataupun sedih. Seharusnya ia merasa senang karena akhirnya kakaknya, Lindsay, mengizinkan Rachel melanjutkan sekolah di Roma, di kampung halaman ibu mereka sendiri. Kakaknya berkali kali melarang Rachel untuk pergi ke Roma, tetapi Rachel tetap saja ngotot untuk pindah ke Roma. Ada sesuatu yang membuat Rachel ingin tinggal di Roma, mungkin karena ia tahu bahwa ibunya lahir di Negara tersebut. Lagipula ia merasa tidak enak dengan Lindsay yang sudah mempunyai anak yang masih berumur 6 tahun, Ron, dan suaminya yang bekerja di sebuah pabrik rokok, Jake. Ia tidak bisa terus-terusan tinggal bersama mereka. Ia ingin mandiri. Sudah sepantasnya ia bisa hidup sendiri. Tetapi bagaimanapun ini pertama kalinya ia tinggal di Negara orang, bahkan jauh dari sanak saudara. Ia pun tidak tahu apa apa mengenai orang tua ibunya. Siapa mereka dan dimana mereka tinggal. Dan ini berarti tinggal di Roma berarti sendiri, jauh dari orang orang yang di sayanginya. Dia hanya berharap kehidupannya di Roma bisa menjadi lebih baik. Lindsay dan Jake sudah mempersiapkan segala keperluan Rachel di Roma. Mereka sudah menyewa sebuah apartemen di Via Conca Doro. Mereka juga sudah mendaftarkan Rachel di salah satu universitas di Roma, Rome university. Semuanya sudah siap, dan Rachel yakin atas pilihannya untuk tinggal di Roma.
Rachel berjalan keluar ke arah tempat pemberhentian bus di dekat bandara. Perjalanan menuju apartemennya yang baru sekitar 1 jam setengah jam dari bandara. Sebenarnya ia sudah merasa lelah karena perjalanan yang panjang. Ia menaiki sebuah bus yang sudah lumayan penuh, ia agak menyesal karena satu-satu nya tempat duduk yang tersisa adalah di sebelah seorang pria berumur sekitar 25 tahunan dan berbadan agak sedikit besar. Hal ini membuatnya merasa tidak nyaman untuk menghabiskan 1 jam setengah bersama pria ini. Tetapi untungnya pria berbadan besar ini tidur selama perjalanan menuju apartemennya. Bus mulai menyusuri jalanan kota Roma yang sangat asing bagi Rachel. Rachel memandang ke luar jendela. Kota Roma sedikit ramai. Kebanyakan orang Roma berbadan seperti halnya orang Indonesia. Ia sempat berpikir bahwa orang-orang Roma berbadan tinggi besar seperti kebanyakkan orang orang Eropa barat. Daun-daun berguguran, beberapa pohon malah sudah ada yang gundul. Ia baru teringat kalau saat ini musim gugur. Musim gugur di Roma tidak terlalu menyenangkan, anginnya hangat bukannya sejuk seperti bisaanya. Suasananya juga tidak terlalu indah karena tidak banyak bunga bermekaran. Rachel berpikir mungkin musim gugur di Roma tidak akan menjadi musim favoritnya di Roma.
Rachel tidak bisa tidur karena pria bertubuh besar di sebelahnya mengorok terlalu keras dan membuat Rachel risih. Sesaat pikirannya teralih pada Sam. Pacarnya saat di Indonesia dulu. Sam adalah tipikal orang yang sangat sulit di tebak sedikit misterius, bahkan bagi Rachel yang adalah pacarnya sendiri. Tidak terlalu humoris dan terlalu serius. Tetapi Sam sangat peduli pada Rachel. Ia sangatlah menyayangi Rachel, hal sekecil apapun tentang Rachel ia pasti peduli, dan begitu juga Rachel pada Sam. Rachel mencintainya. Hubungan mereka sangat baik sampai pada saat Rachel memberitahu Sam kalau ia akan pindah ke Roma. Sam tiba-tiba tidak seperti bisaanya, ia jarang mengirim sms pada Rachel, padahal biasanya ia selalu rutin mengirim sms pada Rachel tiap malam. Dan pada saat Rachel menanyakan mengapa Sam bersikap seperti itu, Sam akhirnya mengakhiri hubungan mereka. Rachel sangat syok. Ia sempat menolak putus dari Sam. Karena alasan satu-satunya yang dikeluarkan Sam untuk putus dari Rachel adalah jarak. Hanya karena jarak ! Tetapi akhirnya mereka putus juga. Rachel mengalah. Hubungan mereka berakhir hanya karena satu kata, jarak. Tetapi ia tahu bahwa baik Sam atau dirinya sendiri masih saling mencintai, tetapi tidak ada harapan untuk kembali pada Sam karena jarak mereka yang memang sudah sangat jauh.
Akhirnya ia sampai juga di Via Conca Doro. Ternyata di Via Conca Doro terdapat banyak apartemen-apartemen. Apartemennya di seberang jalan raya, bahkan kalau ia ingin pergi kuliah dia hanya perlu berjalan beberapa blok dari apartemen. Ia pun cukup senang karena posisi apartemen yang strategis ini. Saat ia masuk ke dalam apartemen, Rachel bertemu dengan seorang wanita paruh baya berumuran sekitar 40 tahun. Wanita itu memakai celana panjang berwarna hitam dan sweater merah berbunga bunga. Ia tersenyum melihat kedatangan Rachel.
“Hai, bisa saya bantu ? Saya pemilik apartemen ini, nama saya Signora Emma. Apakah kamu teman Haylie?” kata Signora Emma. Signora memang berarti Mrs dalam bahasa Inggris dan nyonya dalam bahasa Indonesia.
“hmm…perkenalkan nama saya Rachel, saya baru saja datang dari Indonesia. Tetapi saya tidak kenal dengan Haylie. Maaf..” kata Rachel.
“oooh..hhha. Maafkan saya Rachel, kupikir kau temannya Haylie, ia juga baru datang dari Indonesia. Tapi ngomong-ngomong nomor berapa kamarmu?” kata Signora Emma dengan lembut, sepertinya dia orangnya baik dan ramah.
“tidak apa-apa. Saya di kamar no 237.” Jawab Rachel.
“baiklah kalau begitu, saya antar kamu. Mari..” katanya lembut.
Kamarnya berada di lantai 3, maka mereka naik dengan lift ke atas. Sesampainya di kamar, Rachel menaruh barang-barangnya di kamar. Ruangan itu terdiri dari satu spring bed besar yang berada di sebelah lemari, ada TV di dekat sofa yang berada di sebela jendela. Kamar mandi berada di seberang ruangan, dan di sana juga terletak satu meja yang sepertinya bisa di gunakan untuk belajar. Kamarnya nyaman, dindingnya berwarna hijau muda. Sehingga suasananya terasa sejuk.
“Terima kasih sudah mengantar, apa di sekitar apartemen ini ada restoran atau kafe, untuk berjaga jaga, siapa tahu saya kehabisan makanan ?” kata Rachel.
“Sama sama, jangan sungkan, kalau kau perlu sesuatu panggil saja saya, kamar saya ada di lantai dasar no 21. Beberapa blok dari sini ada Mc donalds dan toko roti…sepertinya kau butuh istirahat, aku akan pergi, tidurlah, sekali lagi selamat datang di Roma!” kata Signora Emma.
Setelah Signora Emma pergi Rachel langsung merayap ke tempat tidur, ia baru sadar bahwa ia sudah sangat mengantuk, mungkin karena tadi ia memikirkan banyak hal. Ia pun langsung terlelap dan berusaha tidak mencemaskan apa-apa lagi, yang dibtuhkannya saat ini adalah tidur. Dan kehidupannya yang baru pun akan segera dimulai.
Rachel terbangun keesokan harinya agak sedikit kesiangan karena sudah pukul 7 pagi. Masih merasa ngantuk dan capek karena perjalanan yang panjang kemarin. Ia mandi dan berganti pakaian. Ia memakai kaos dan celana jins hitam kesayangannya. Ia membawa tas dan mengisi tasnya dengan beberapa buku tulis dan peralatan tulis lainnya. Rachel pun berjalan menuju Rome university yang berada di Via Campania, hanya beberapa blok dari Via Conca Doro. Ia sampai di universitasnya. Rome university. Universitasnya besar dan merupakan bangunan tua, tetapi sangat klasik. Mau tak mau Rachel merasa sedikit bersemangat memasuki universitasnya yang baru. Rome university sangat luas dan banyak sekali ruangan, ia hampir tersesat tetapi setelah bertanya-tanya kepada beberapa orang akhirnya ia sampai di kelasnya. Rachel merasa sedikit canggung berbicara dalam bahasa italy kepada bule-bule ini. Kelasnya sangat luas, lantainya bertingkat dan cukup ramai. Ia duduk di baris kelima. Di sebelahnya ada seorang cewek berambut panjang lurus dan berponi. Cewek ini tersenyum ramah dan menyapanya.
“Hei..perkenalkan namaku Haylie. Kau orang Indonesia juga? Senang ada orang yang setanah air di sini. Hahaha” katanya.
“Hai juga, namaku Rachel. Ya, aku orang Indonesia juga. Hm..apakah kau juga tinggal di apartemen di Via Conca Doro, yang di seberang jalan?? “ Tanya Rachel teringat perkataan Signora Emma.
“ Ya, bagaimana kau tahu dimana aku tinggal?” kata Haylie bingung.
“ ooh..ternyata betul. Semalam Signora Emma sempat bertanya padaku apakah aku teman Haylie yang baru datang juga dari Indonesia” kata Rachel senang akhirnya mendapat kenalan di Roma.
“Begitu rupanya..nah..berarti mulai saat ini kau memang akan menjadi temanku. Hahaha”kata Haylie sambil tersenyum senyum.
“hahaha. Ya, tentu saja. Lagi pula kita satu apartemen, kita bisa pulang dan pergi bersama” kata Rachel mantap sambil tersenyum juga.
“Tentu saja! Kapan-kapan aku main ke kamarmu!” kata Haylie.
Tak lama kemudian dosennya datang. Pelajaran hari ini cukup membosankan dan agak sulit dipahami. Mungkin karena dosen itu berbicara sangat cepat. Ternyata belajar bahasa Italy sejak kecil belum bisa membiasakan diriku untuk memahaminya secara total.
Aku dan Haylie berjalan kembali ke apartemen kami di Via Conca Doro.
“aku sudah berpikir pikir untuk melamar kerja di sini. Untuk uang tambahan, lagipula umurku sudah 18 tahun lebih.”kata Haylie mantap saat kami melewati sebuah toko roti di pinggir jalan Via Conca Doro.
“ide yang bagus. Bagaimana kalau kau mengajakku juga?”pinta Rachel pada Haylie, Rachel berpikir bekerja paruh waktu disini juga sangat menguntungkan, jadi dia tidak perlu merepotkan Lindsay dan Jake lagi tiap bulannya.
“Hm...boleh juga. Aku sangat senang kalau kau juga mau bekerja sambilan denganku. Kita bisa melamar di Chique!” kata Haylie.
“apa itu Chique?” Tanya Rachel kepada Haylie.
“Bagaimana mungkin kau tidak tahu! Itu kan salah satu majalah fashion yang ada disini, sepertinya melamar disana tidak sesulit yang dibayangkan. Ibuku pernah bilang bahwa bekerja disana yang dibutuhkan hanya selera fashion yang bagus, mereka tidak peduli berapa nilai ujianmu. Hahaha” kata Haylie mencoba membuat lelucon.
“ Hhahaha…tapi kurasa itu akan sulit bagiku, aku tidak mempunyai selera fashion yang tinggi. Kau lihatkan aku hanya memakai celana jins butut dan kaos oblong kusut.” Kata Rachel tidak yakin.
“Heii.. tidak ada salahnya kita mencoba kan..? lagipula disana kan kita bisa menjadi karyawan kantoran biasa yang tugasnya hanya membuat laporan atau apalah.”kata Haylie.
“Baiklah, kurasa kau benar. Kapan kita akan melamar?” Tanya Rachel.
“Bagaimana kalau besok sepulang kuliah?” Kata Haylie bersemangat karena tahu Rachel jadi ikut melamar bersamanya.
“Ok. Boleh juga.” Kata Rachel akhirnya mengalah.
Keesokan harinya sepulang kuliah, aku dan Haylie pergi ke kantor Chique. Mereka berusaha memakai pakaian terbaiknya. Bahkan Rachel sempat dipinjami celana jins yang ketat dan baju yang sepertinya sedang tren saat ini. Rachel dan Haylie akhirnya sampai di Chique. Kantornya luas dan besar, mempunyai 3 lantai. Dan mereka langsung duduk di salah satu ruang di Chique. Seorang pria masuk ke ruangan tersebut. Pria itu mungkin berusia 20 tahun. Badan pria ini sangat proporsional. Wajahnya juga tampan, ia mempunyai hidung mancung dan warna matanya hijau, kulitnya putih dan senyumnya sangat manis. Bahkan Haylie sempat terkesiap melihat pria yang baru saja datang ini.
“perkenalkan saya Dean Boswell. Saya editor disini. Ada yang bisa saya bantu?” kata pria ini.
“Apakah anda Dean Boswell anak dari Alexa boswell, pemilik Chique?” kata Haylie terkejut. Rachel tidak menyangka bahwa Haylie bisa mengetahui hal ini, tidak heran karena ibunya pernah bekerja disini.
“Ya..ada yang bisa saya Bantu?” kata pria itu sambil tersenyum manis.
“Ya, kami ingin melamar kerja disini, kami memang bukan professional atau orang yang ahli dalam bidang fashion tetapi kami tau kami….” kata Haylie terburu buru karena masih memandang takjub Dean.
“Sepertinya kalian salah masuk ruangan. Ini ruangan editor. Ruangan HRD nya ada di lantai 3, kemudian belok kanan.” Potong Dean masih berusaha tersenyum ramah walaupun kentara sekali ia merasa geli.
“oh. Maafkan kami. Kami tidak tahu. Sekali lagi kami mohon maaf…gedung ini besar dan..” kata Haylie dengan gugup karena malu. Jelas wajah Rachel maupun Haylie memerah karena malu. Sesaat waktu meninggalkan ruangan Dean, Rachel merasa Dean tersenyum sekilas padanya.
Akhirnya mereka pergi menuju HRD yang sebenarnya, berharap kali ini tidak akan salah masuk lagi. Untungnya kali ini memang benar-benar ruang HRD Chique. Setelah sekitar satu jam diwawancara mereka pun pulang.
“ Kau tahu..kupikir kita pasti diterima! “ kata Haylie yakin.
“ Bagaimana kau yakin? Sepertinya orang yang mewawancarai kita tadi kurang menyukai kita” kata Rachel teringat pandangan pewawancara yang sedikit sinis dan jutek.
“ Ah.. Tenang saja. Kuberi tahu kau rahasiaku.. Ibuku adalah teman dekat Alexa Boswell, kau tahu, pemilik Chique!! Hahahah” kata Haylie sedikit berteriak saking semangatnya. Sepertinya karena hal itulah dari tadi Haylie terlihat tenang-tenang saja saat di Chique. Tetapi Rachel tidak akan mempermasalahkan sedikit kecurangan kecil ini, karena jelas ini juga membuat hatinya senang karena akan segera mendapat pekerjaan di Chique.
Malamnya Haylie main ke kamar Rachel. Rachel sedang duduk di depan komputer sambil membuka email. Sedangkan Haylie membaca majalah-majalah yang baru saja Rachel beli di pinggir jalan tadi. Saat Rachel membuka email nya ternyata ada email dari Sam. Ia menanyakan kabar Rachel dan menceritakan keadaannya. Ternyata ia lulus tes UI dan sekarang dia tinggal di Jakarta. Ia mengambil jurusan kedokteran. Ia sangat senang Sam masih mempedulikan dirinya walaupun hubungan mereka sudah berakhir. Di saat Rachel ingin membalas emailnya, tiba tiba Haylie sudah duduk di sebelahnya sambil membaca email Sam dan bukannya membaca majalah.
“Siapa Sam? Apakah dia pacarmu?” kata Haylie penasaran melihat email Sam yang sepertinya sangat terlihat akrab.
“Yah..dulu. Dengan kata lain dia mantan pacarku.” Kata Rachel singkat.
“Kenapa kau memutuskannya? Sepertinya dia sangat baik denganmu dia juga pintar. Lihat, dia lulus tes PMDK UI dan bahkan mengambil jurusan kedokteran. Kurasa dia cowok yang sempurna buatmu, apalagi kalau dia tampan seperti Dean !” kata Haylie sambil tertawa.
“ Ya…dia memang sempurna dan aku memang sungguh mencintainya, lagipula bukan aku yang mengakhiri hubungan kami, dia sendiri yang mengakhirinya. Alasannya karena jarak. Dia memang sangat misterius bagiku. Jalan pikirannya tidak bisa ditebak. Dan aku heran mengapa ia masih peduli sekali padaku” Kata Rachel sambil mengetik balasan email untuk Sam.
“Tentu saja kan itu karena ia masih mencintaimu !” Kata Haylie.
“Aku juga berharap begitu, tetapi kau tahu kan berapa jauh jarak kami. Apakah masih ada kesembatan untuk kembali berpacaran?” Kata Rachel, tapi bagaimanapun ia harus mengakui bahwa sebenarnya ia masih mengharapkan Sam, Rachel masih tetap focus menulis balasan untuk Sam.
Malam itu dihabiskan sambil membahas tentang hubungan Rachel dan Sam. Sampai pada pukul 1 Haylie memutuskan untuk kembali ke apartemennya di lantai 2. Rachel pun pergi tidur setelah mematikan komputer dan mengunci pintu depan.
Keesokan harinya setelah pelajaran selesai, Rachel sedang duduk di kantin sambil menunggu Haylie yang masih ada di kelas untuk menyalin catatan.
“Rachel……kau tahu kita sudah bisa bekerja di Chique sore ini ! Aku menjadi penata letak dan kau..hmm……kurasa Ben tadi bilang kalau kau jadi penulis artikel !” kata Haylie sangat bersemangat.
“Ben?” kataku heran bagaimana Haylie bisa mengenal staf Chique.
“Iya, Ben. Aku ketemu dia di Chique waktu itu, sewaktu aku pergi ke toilet! Hahaha. Orangnya tampan, keren, dan baiiiik sekali….” Kata Haylie tanpa malu malu.
“Yah…bagus juga kalau aku menjadi penulis artikel, setidaknya aku memang sudah sering menulis arikel si mading SMA dulu. Tapi aku ragu apa aku memang bisa menulis untuk majalah fashion seperti Chique…” kata Rachel ragu.
“Sudahla Rachel…kau hanya tidak percaya diri. Lagipula sebenarnya kita masih dalam waktu uji coba, sekitar 3 bulan ke depan baru kita akan diberi tahu apakah kita akan menjadi pegawai tetap atau tidak, tapi setidaknya kita harus berusaha! Ayo kita siap- siap kerja!.” Jawab Haylie sambil menarik tangan Rachel dan menyeretnya pergi dari kantin.
Kami sampai di Chique. Ini hari pertama kami bekerja dan kami tidak boleh memberi image buruk, piker Rachel. Setelah hal memalukan yang terjadi saat kami pertama bertemu Dean waktu itu. Rachel berada di sebuah ruangan kerja dengan satu komputer dan sekarang di tugaskan untuk membuat artikel dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan. Tiba-tiba pintu ruangnya diketuk.
“Sore..masih ingat aku?? Dean Boswell?” kata seorang pria yang sekarang berdiri di depan pintu ruangannya. Rachel terkejut mengapa Dean ada di ruangannya
“y-ya..tentu saja. Yang waktu itu ma..” kata Rachel, tapi Dean langsung memotongnya.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Itu hal biasa yang terjadi, aku maklum kalian kan baru pertama datang ke Chique. Tapi ngomong-ngomong aku kesini ingin mengajakmu berkeliling Chique. Kupikir sebagai anak dari pamilik Chique aku wajib menemani karyawan baru di hari pertamanya bekerja..”kata Dean lembut.
“Aku.. baiklah.” Kata Rachel. Rachel tidak bisa memikirkan kata lain untuk keluar dari mulutnya. Masih merasa heran. Dua jam dihabiskan Rachel untuk berkeliling Chique, dia dan Dean berbicara tentang banyak hal, tentang Indonesia, tentang Chique, tentang Alexa ibunya Dean, dan tentang pekerjaan Dean ! Sepertinya dalam waktu 2 jam Rachel sudah sangat bisa mengenal Dean. Dean humoris, periang, dan lembut. Menghabiskan waktu dengan Dean berarti banyak tertawa. Dean memang humoris dan menyenangkan. Dean sangat bisa membuat Rachel tertawa seperti ini, padahal ia baru saja kenal dengan Dean. Waktu sangat cepat berlalu. Rachel tidak sadar malam ini sudah pukul 10. Dan ia sudah harus pulang. Dean sempat menawarkan diri untuk mengantar Rachel, tetapi Rachel menolah karena ih tidak mungkin membiarkan Haylie pulang sendiri.
“ Seharusnya kau biarkan Dean mengantarkanmu pulang, itu kesempatan bagus untuk kalian buat saling mengenal !“ kata Haylie, dan langsung saja Rachel sedikit menyesal menolak ajakan Dean, karena jelas jelas ia dengan berat hati menolak ajakannya.
Sesampainya di apartemen Haylie langsung pergi ke apartemennya dan Rachel kembali ke apartemennya. Saat Rachel selesai menggosok gigi dia mendengar bunyi telepon. Dan ternyata itu Sam! Rachel hampir loncat kegirangan karena tau itu dari Sam. Sam menanyakan banyak hal tentang kehidupan baru Rachel di Roma, dan dia sempat mengatakan bahwa dia sangat merindukan Rachel. Sekitar setengah jam Sam menelepon.Dan malam itu Rachel yakin bahwa ia akan mimpi indah. Dan tanpa sadar terlintas dipikiran Rachel untuk mengajak Sam kembali padanya. Tetapi sebelum Rachel sempat memikirkan maksud untuk berbalikkan, Rachel sudah terlelap…..
Hari-hari berlalu. Kegiatan Rachel di Roma tidak banyak, pagi-pagi ia dan Haylie berangkat kuliah. Mereka baru pulang jam 2 siang. Kemudian mereka makan di kantin, kadang-kadang di café dekat Via campania. Setelah itu mereka pergi ke Chique. Bekerja di Chique ternyata menyenangkan. Rachel biasanya ditugaskan membuat artikel-artikel kecil untuk persiapan majalah Chique edisi selanjutnya. Setiap makan malam, biasanya Rachel makan dengan Dean, sedangkan Haylie pergi dengan Ben yang sekarang entah bagaimana telah berpacaran dengan Haylie. Haylie sungguh tergila-gila pada Ben, dan Rachel tau mengapa Haylie begitu. Ben memang tampan, pintar, juga kaya. Maka di Chique Haylie lebih senang menghabiskan waktu dengan Ben. Maka Rachel lebih banyak menghabiskan waktu dengan Dean, tetapi Rachel senang menghabiskan waktu dengan Dean. Karena Dean sangat menyenangkan. Saat itu sudah musim semi. Roma sangat indah. Bunga-bunganya bermekaran dan anginnya sangat sejuk. Jauh lebih menyenangkan saat musim semi daripada musim gugur di Roma. Karena angin musim gugur di Roma hangat dan tidak menyenangkan.
Setelah beberapa bulan di Roma, Rachel sudah cukup terbiasa dengan aksen-aksen orang-orang Roma. Orang-orang Roma mempunyai aksen khusus, mereka agak sulit mengucapkan kata yang di akhir kata tersebut terdapat huruf mati. Mereka biasanya menambahkan huruf vokal di setiap akhir katanya. Rachel juga sudah mulai mahir bahasa Italy. Beberapa orang di Chique bisa berbahasa Inggris, maka Rachel lebih memilih berbicara dalam bahasa Inggris. Hanya dengan Haylie Rachel bisa mengobrol menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun sudah beberapa bulan di Roma, Rachel belum juga sempat berkeliling Roma. Rachel belum sempat pergi ke kawasan pertokoan di Via Del Corso.
“Aku ingin jalan-jalan ke Via Del Corso akhir pekan ini. Apa kau mau menemaniku? Aku ingin jalan-jalan.” Kata Rachel saat ia dan Haylie sedang duduk di ruangan Haylie.
“Akhir pekan? Hm… Sepertinya aku tidak bisa kalau akhir pekan ini. Aku dan Ben akan pergi kencan. Kami ingin nonton El Torero Unleashed, film yang baru muncul. Kalau kau memang ingin pergi ke Via Del Corso kau bisa mengajak Dean. Kalian berdua bisa jalan-jalan sementara aku dan Ben nonton. Kurasa Dean tidak akan keberatan.” Kata Haylie sambil melihat-lihat foto-foto model terkenal yang baru saja dicetak.
“Aku tidak yakin..Dean mungkin akan…..” sebelum Rachel menyelesaikan perkataannya, Dean memotong.
“Aku tidak keberatan menemanimu jalan-jalan. Aku tidak ada kerjaan akhir pekan ini, bagaimana? Kau mau? Oh iya, maaf tidak mengetuk pintu, aku tadi ingin memberikan ini pada Haylie.” Kata Dean sambil menyerahkan beberapa dokumen ke Haylie.
“Ya sudah kalau begitu, kita pergi bersama ke Via Del Corso, tetapi aku dan Ben pergi nonton sedangkan kalian berbelanja saja di sana.” Kata Haylie.
Aku akhirnya setuju untuk pergi dengan Dean. Maka Sabtu sore, aku dan Haylie dijemput oleh Ben. Di dalam mobil Ben sudah ada Dean.
“Apa kalian sudah lama menunggu? Tadi aku pergi menjemput Dean, rumah kami kan bersebelahan, kami tingggal di Via Salaria.” kata Ben. Via Salaria? Pikir Rachel. Itu kan salah satu perumahan elit yang ada di Roma.
“Tidak juga. Kami hanya menunggu kalian 10 menit” kata Haylie sambil mengecup pipi Ben.
Akhirnya mereka sampai di Via Del Corso. Dipinggir-pinggir jalan banyak sekali toko-toko. Ada juga mall dan bioskop. Rachel dan Dean berpisah dengan Haylie yang sekarang pergi berdua Ben untuk menonton. Lagi-lagi Rachel merasa senang bejalan dengan Dean, Dean selalu saja bisa membuat Rachel tertawa. Dean mengajak Rachel berkeliling. Mereka pergi ke toko baju, aksesoris, bahkan Rachel dan Dean sempat mampir ke toko barang antik. Setelah 2 jam berkeliling Via Del Corso, Dean mengajak Rachel makan. Mereka pergi ke café di dekat toko buku. Mereka memesan makanan.
“Rachel…aku ingin bicara denganmu..” kata Dean serius.
“apa yang ingin kau bicarakan ?” kata Rachel penasaran.
“begini, aku…sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakannya. Sebenarnya aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi pacarku.” Kata Dean tanpa basa basi.
Begitulah akhirnya, Dean dan Rachel resmi berpacaran. Malam itu dihabiskan Raachel dengan Dean. Haylie dan Ben akhirnya telah selesai kencan. Maka malam itu mereka pulang sudah sangat larut. Rachel tidak menyangka Dean akan memintanya menjadi pacarnya malam itu. Tapi Rachel senang, lagipula ia memang menyukai Dean. Dan sangat menyukai untuk menghabiskan waktu dengan Dean.
Kehidupan Rachel di Roma semakin menyenangkan. Di Chique, ia sering menghabiskan waktu dengan Dean. Kadang-kadang Dean datang ke ruangan Rachel kalau ia sedang tidak ada kerjaan. Begitu pula sebaliknya. Setelah sebulan berpacaran dengan Dean, Rachel merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dean sangat berbeda dengan Sam. Menghabiskan waktu dengan Dean memang sangatlah menyenangkan, tetapi Rachel merasa Dean tidak terlalu peduli padanya. Dean tidak pernah menanyakan bagaimana pekerjaanmu atau hanya sekedar mengucapkan selamat tidur pun tidak Padahal Sam dulu sangat perhatian pada Rachel. Dean orangnya cuek. Di saat Rachel menghabiskan waktu dengan Dean, Dean hanya menceritakan pekerjaannya dan hal-hal mengenai dirinya sampai Rachel merasa mungkin Dean tidak terlalu mengenal Rachel secara keseluruhan. Yang Rachel tahu Dean memang humoris, periang, lembut, dan menyenangkan. Tapi sangat tidak perhatian dengan Rachel. Bahkan waktu Rachel tidak masuk kerja karena flu, Dean bahkan tidak mengucapkan semoga lekas sembuh atau bagaimana keadaanmu hari ini. Dan saat Rachel masuk kerja lagi, Dean hanya berkata “aku senang kau akhirnya masuk kembali. Kau tahu kemarin Michalka Veron menerima tawaranku untuk menjadi cover Chique adisi bulan depan !”. Apakah begitu seharusnya sikap seorang cowok kepada ceweknya? Dean memang begitu ! Dan Dean itu cowoknya!
Belakangan ini Sam sering mengirim email atau sms, walaupun Rachel tahu, biaya sms dari Indonesia ke Roma cukup mahal. Tetapi Sam tidak pernah absen menghubunginya. Sam selalu saja peduli padanya, menanyakan kabarnya, dan apa yang dilakukan Rachel hari ini. Biasanya Sam menelepon sekitar pukul sepuluh malam. Saat Rachel baru saja sampai di apartemennya. Mereka menghabiskan waktu setengah jam atau sejam di telepon. Rachel heran mengapa Sam tetap berusaha berhubungan dengan dirinya walaupun hanya sekedar di telepon, email, atau sms. Bukankah dulu Sam yang mengakhiri hubungan mereka karena jarak yang jauh ? Tetapi buktinya mereka tetap bisa menjaga hubungan mereka walaupun dengan jarak yang jauh. Sam memang selalu misteerius bagi Rachel dan Rachel memang sulit menebak jalan pikiran Sam.
Sampai suatu hari Sam menelepon sekitar pukul 1 malam. Rachel heran mengapa Sam meneleponnya selarut itu. Seharusnya Sam tahu bahwa waktu Roma dengan Indonesia berbeda.
“Hai..kau sudah tidur ? maafkan aku, tetapi kupikir aku perlu segera bicara denganmu.” Kata Sam
“memangnya apa yang ingin kau bicarakan?” kata Rachel sambil menguap.
“begini, aku tahu saat kita putus kau masih mencintaiku, begitu juga aku. Saat itu aku ragu kalau kau tidak akan bertahan lama berpacaran denganku karena kau sudah berada di Roma dan tidak pernah bertemu denganku lagi. Tetapi belakangan ini aku sadar kalau sepertinya kita tetap bisa bertahan walaupun sudah jauh satu sama lain. Dan setelah kupikir-pikir…kurasa aku mau mengajakmu balikan. Itupun kalau kau belum punya pacar di Roma.” Kata Sam. Rachel langsung duduk di kasur, Rachel tidak menyangka Sam akan mengajaknya balikan. Tetapi Rachel berdebar-debar. Ia sangat senang Sam mengajaknya balikan karena Rachel tahu sebenarnya dia masih mengharapkan Sam.
“Tentu saja Sam, kau tahu, aku memang ingin sekali mendengar kau bicara seperti itu, ini seperti mimpi.” Rachel bicara cepat karena ia tidak bisa mengontrol rasa senangnya yang berlebihan. Tetapi tiba-tiba Rachel teringat Dean. Ia kan masih resmi berpacaran dengan Dean. Dan saat ini hubungan mereka baik-baik saja. Rachel tidak bicara beberapa saat. Dia heran mengapa tadi ia sungguh lupa bahwa Dean masih menjadi pacarnya.
“Rachel..kau baik-baik saja?” Tanya Sam.
“I-iya..aku baik. Tentu saja aku baik. Aku sangat senang kita bisa pacaran lagi.” Kata Rachel. Ia berpikir, mungkin tidak apa-apa kalau ia kembali pada Sam dan tetap berpacaran dengan Dean. Sam tidak akan tahu kalau sebenarnya Rachel sudah punya Dean, dan Dean juga tidak tahu apa-apa tentang Sam.
***
“APA ? kau berpacaran dengan Sam lagi ??” Tanya Haylie kaget setelah Rachel memberitahukannya tentang hal ini.
“Ya. Aku juga tidak tahu mengapa saat itu aku melupakan Dean dan langsung menerima Sam kembali. Tak kupungkiri, aku memang masih menyayangi Sam !” kata Rachel tegas.
“Rachel ! Kau masih berpacaran dengan Dean. Dan itu berarti kau menduakan Dean. Apa kau tidak menyayanginya ?” tuntut Haylie pada Rachel.
“Aku tahu ! Aku tahu Dean masih menjadi pacarku dan itu berarti aku menduakannya. Tapi aku juga mencintai Sam, dan aku juga tetap mencintai Dean !” kata Rachel.
“kau gila Rachel, kau egois, kau tidak bisa terus begini. Kalau Dean atau Sam tahu kalau kau memacari 2 orang sekaligus….” Tuntut Haylie lagi.
“kalau begitu jangan sampai mereka tahu kan !” potong Rachel.
“aku tidak mengerti jalan pikiranmu Rachel..” kata Haylie mengalah, Haylie tidak tahu harus berkata apa lagi. Rachel diam saja…ia tahu dia memang mencintai Sam ataupun Dean.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Sepulang kuliah Rachel dan Haylie pergi ke Chique. Hubungan Rachel dan Dean baik-baik saja. Hubungan Rachel dan Sam juga baik. Semuanya berjalan lancar. Hanya saja Haylie selalu menyinggung tentang hubugan ganda Rachel di depan Dean. Tetapi Dean tidak pernah menyadarinya, ada bagusnya kalau Dean kurang perhatian dengan Rachel. Tetapi tetap saja setiap waktu yang dihabiskan Rachel dengan Dean terasa menyenangkan. Sepulang kerja Rachel selalu membuka email nya dan membalas email dari Sam sambil menunggu sms atau telepon Sam.
“bagaimana kalau kita kencan ? sudah lama kita tidak jalan berdua.” Kata Dean saat sedang makan malam dengan Rachel, Haylie, dan Ben.
“boleh juga…aku juga ingin jalan-jalan. Kapan?” Tanya Rachel sambil memotong daging lada hitamnya.
“sabtu malam?” Tanya Dean.
“kami ikut. Kita bisa kencan ganda ! Iya kan Ben ?” kata Haylie sambil melirik Rachel. Rachel tahu Haylie tidak akan senang kalau Rachel terlalu menikmati waktu-waktu berdua dengan Dean. Karena Haylie tahu sepulang kerja Rachel akan langsung bersenang-senang dengan Sam di telepon atau sms.
“boleh juga.” Kata Dean.
Malam itu mereka pergi nonton. Dean menawarkan tiket nonton premiere film terbaru. Kemudian mereka berempat pergi ke bioskop. Rachel tidak terlalu menyukai filmnya. Karena agak sedikit membosankan. Tiba-tiba Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel, Rachel tahu apa yang ingin dilakukan Dean. Tetapi Rachel berpura-pura ingin ke toilet sebelum mereka akhirnya benar-benar berciuman. Mengapa rasanya Rachel tidak sanggup mencium Dean. Rachel juga tidak tahu alasannya. Yang dia pikirkan hanyalah bahwa dia tidak boleh mencium Dean. Dan itu memang tidak bisa ia lakukan. Mereka pulang, malam itu Haylie memutuskan menginap di apartemen Rachel karena lampu kamarnya rusak dan belum diganti. Ia tidak biasa tidur dalam keadaan lampu mati. Sam menelepon sekitar setengah jam. Rachel sedikit risih karena Haylie mendengarkan percakapan Sam dan Rachel.
“kau tahu…kupikir kau harus memilih !” kata Haylie ketika Rachel menutup telepon.
“maksudmu ?” tanya Rachel bingung.
“tentu saja, maksudku kau harus memilih antara Sam atau Dean !” kata Haylie tegas.
“kau tidak bisa begini terus. Kau tidak boleh memacari dua orang sekaligus !” lanjut Haylie saat melihat raut wajah bingung Rachel.
“aku tidak bisa. Mereka bukan pilihan Haylie !” kata Rachel.
“kau tahu apa yang kupikirkan ? Aku berpikir bahwa kau menyukai keduanya karena mereka melengkapi satu sama lain. Aku tahu Dean orangnya humoris dan selalu bisa membuatmu tertawa, tetapi ia cuek dan kurang perhatian denganmu. Sedangkan Sam, ia terlalu serius dan sulit ditebak, tetapi ia sangat peduli hal sekecil apapun mengenai dirimu ! Tetapi kau tidak bisa memperoleh semua yang kau inginkan dengan memilih satu diantara mereka. Makanya kau menyukai keduanya. Kau harus memilih, bagaimanapun Sam ataupun Dean adalah pilihanmu !” kata Haylie panjang lebar. Rachel tahu Haylie benar. Dia terlalu egois karena menginginkan mereka berdua karena dia tahu Sam dan Dean memang saling melengkapi. Malam itu Rachel tidak bisa tidur. Ia terus terngiang-ngiang perkataan Haylie. Dia memang harus memilih !
Beberapa hari Rachel memikirkan pilihannya. Seharusnya ia tahu dari dulu siapa yang benar-benar dicintainya. Dan ia memang sudah memutuskannya sekarang. Dia harus menyampaikan hal ini.
“Dean…aku ingin bicara.” kata Rachel saat ada di ruangan Dean.
“tentu saja. Apa yang ingin kau bicarakan ?” Tanya Dean penasaran.
“aku ingin mengakui sesuatu padamu. Beberapa bulan ini aku berpacaran lagi dengan Sam. Mantanku. Aku benar-benar minta maaf. Aku memang egois.” Kata Rachel tidak berani memandang Dean. Dean diam saja. Suasana jadi hening tidak mengenakkan. Rachel menunggu respon Dean, tetapi Dean tetap diam.
“aku tidak tahu harus bagaimana Rachel. Aku kecewa kau ternyata begini. Padahal aku sangat menyayangimu.” Kata Dean tidak menatap mata Rachel juga.
“aku tahu kau akan marah dan kecewa. Aku tahu itu…tapi aku sudah memilih” kata Rachel sebelum ia tidak bisa bicara lagi.
“tapi kumohon kau jangan marah…” tambahnya.
“entahlah Rachel, kupikir aku siap kalau memang kau ingin putus dariku. Aku tahu selama ini aku memang tidak perhatian denganmu. Tetapi asal kau tahu walaupun begitu aku mencintaimu.” Kata Dean mantap. Rachel terkesiap mendengar perkataan Dean. Ia tidak menyangka Dean akan begitu pasrahnya mendengar segala keputusan yang akan diucapkan Rachel saat itu.
“Dean…tapi aku…” kata Rachel.
“tidak apa-apa Rachel..terima kasih selama ini kau mau memberiku waktu yang sangat menyenangkan.” Kata Dean.
“Dean…aku kan belum selesai. Aku lebih menginginkanmu !” kata Rachel sebelum Dean sempat memotong lagi. Dean langsung menatap Rachel. Terkejut.
“kenapa ?” tanyanya bingung.
“jelas kan…bersamamu aku selalu menghabiskan waktu yang menyenangkan. Kau selalu membuatku tertawa. Aku sadar tidak semua cowok menunjukkan rasa sayangnya hanya dengan perhatian yang melimpah. Aku juga tahu kau sebenarnya sangat menyayangiku hanya saja kau tdak bisa menunjukkannya padaku.” Kata Rachel tegas.
“lalu ba-bagaimana dengan Sam ?” Tanya Dean.
“entahlah…aku memang menyayanginya. Tapi kurasa aku tahu aku lebih ingin bersamamu ketimbang Sam.” Kata Rachel.
“lalu kenapa kau menerima ajakan Sam untuk balikan ?” Tanya Dean masih bingung.
“aku tidak tahu pasti. Kurasa saat itu aku sangat menginginkan Sam untuk lebih memperhatikanku. Karena Sam memang selalu begitu. Sedangkan kau…kau bahkan tidak terlalu perhatian denganku. Aku hanya ingin ada yang memperhatikanku seperti Sam. Dan kau tidak mampu memberikannya. Tetapi aku sadar…aku menyayangi Sam karena dia terlihat sangat menyayangiku dengan perhatiannya yang melimpah. Sedangkan kau tidak” kata Rachel panjang lebar.
“lalu kenapa kau menghindar saat aku akan menciummu ? Aku tahu kau bukannya benar-benar ingin ke toilet saat itu.” Tuntut Dean.
“aku tidak berani menciummu. Tadinya kupikir aku tidak bisa menciummu karena aku tidak ingin menduakan Sam sekalipun ia tidak tahu aku menciummu. Tetapi aku sadar…aku tidak bisa menciummu saat itu karena aku tahu kalau aku menciummu itu berarti kebohonganku padamu akan bertambah. Dan aku tidak ingin itu terjadi.” Kata Rachel.
“aku menyadari hal ini sewaktu Haylie berkata bahwa aku menginginkan kalian berdua karena kalian saling melengkapi. Kau bisa membuatku tertawa setiap saat-saat yang aku habiskan denganmu. Tetapi kau tidak menunjukkan perhatianmu. Sedangkan Sam selalu tidak bisa ditebak dan misterius bagiku, tetapi ia perhatian padaku. Dan aku sadar rasa sayangku pada Sam saat ini bukan karena aku benar-benar menyayanginya, tetapi hanya karena aku ingin membalas rasa sayangnya padaku, dan aku memang membutuhkan perhatian darimu yang tidak bisa kau berikan padaku. Dan aku tahu Sam bisa memberikannya padaku. Dan aku memang tidak mengenalnya seperti aku mengenalmu karena ia selalu tertutup dan sulit ditebak. Dan dengan aku tahu kau menyayangiku itu sudah cukup tanpa kau harus menunjukkannya dengan perhatian yang lebih padaku.” Lanjut Rachel. Dean hanya diam kemudian dia tersenyum dan memeluk Rachel.
“aku tahu aku bodoh tidak memberi perhatianku padamu. Semua ini bukan salahmu. Aku mengerti kau mengharapkan perhatian lebih dariku yang tidak pernah aku berikan padamu, dan Sam bisa memberikannya padamu. Maafkan aku…” kata Dean lembut.
Malam itu juga Rachel menelepon Sam dan menjelaskan semuanya padanya. Sam mau menerima penjelasan Rachel, walaupun Rachel tahu disana Sam kecewa pada Rachel karena dia lebih memilih Dean. Rachel bukan main leganya. Ia tahu dia memang mencintai Dean lebih daripada Sam dan dia memang mengambil keputusan yang tepat dari pilihan yang diberikan kepadanya. Yaitu Dean !
TAMAT
Sabtu, 18 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar