Selasa, 21 April 2009

Bersama

Karya : Kevin Harmen

Pagi ini matahari sangat cerah. Matahari begitu hangat menyinari bumi. Kosuke sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia adalah anak berumur 15 tahun yang selalu telihat santai kapan saja dan di mana saja. Dia selalu menanggapi sesuatu dengan santai.
“Hei Kosuke,” teriak seorang perempuan dengan penuh semangat dari sebuah halaman rumah di belakang Kosuke.
Teriakan itu diteriakkan oleh Mori, seorang teman sekelas Kosuke yang selalu menemaninya setiap saat dan membantunya dalam berbagai masalah Kosuke.
“Ada apa Mori?” balas Kosuke dengan santainya, “Ayo kita pergi ke sekolah bersama-sama lagi…”
“Ayo Kosuke!” balas Mori dengan penuh semangat,” jangan sampai terlambat lagi ya seperti kemarin! Kamu sih lama sekali kemarin.”
“Sudahlah, yang penting hari ini kan aku sudah berangkat pagi-pagi, jadi jangan cemas. Kita tidak akan telat lagi hari ini.” balas Kosuke sambil berjalan ke arah sekolah.
Merekapun berjalan bersama-sama menuju sekolah dan tiba di sekolah tanpa terlambat seperti biasanya. Setibanya di kelas, merekapun diolok-oloki oleh teman-temannya, terutama oleh Robert.
“Hei, teman-teman lihat! Sepasang kekasih ini tidak terlambat sekolah hari ini! Hahaha,” kata Robert, seorang murid di kelas Kosuke yang selalu mengolok-oloki mereka.
“Sepasang apa katamu! Kami ini cuma teman! Dasar sok tahu,” balas Mori dengan wajahnya yang memerah.
“Memang benarkan? Buktinya saja kalian selalu pergi berdua seperti sepasang kekasih,” ujar Robert dengan tawanya, “Lihat teman-teman, wajah Mori memerah seperti buah apel merah yang sudah matang!”
“Sudahlah Mori, biarkan saja mereka,” ucap Kosuke dengan santai, “Santai sajalah Mori, jangan dianggap serius lah.”
“Bagaimana sih kamu ini, tidak pernah menganggap sesuatu dengan serius,” balas Mori kepada Kosuke, “Awas ya kalian, nanti pasti akan kubalas!”
“Hei, hei, kalian ini bagaimana sih? Kok sepasang kekasih bertengkar?” sindir Robert dengan cengirannya.
“Ah, sudahlah, malas aku berbicara dengan kalian! Aku sudah capek!” balas Mori dengan kesal, “Ayo kita ke tempat duduk kita, Kosuke.”
Mori yang mengajak Kosuke untuk duduk di tempat duduk merekapun segera menuju ke tempat duduk mereka. Tak lama kemudian bel sekolahpun berbunyi yang menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai.
Jam pelajaran pagi itu dimulai dengan pelajaran matematika, pelajaran yang membosankan bagi Kosuke dan selalu membuat Kosuke tidur pada saat jam pelajaran tersebut. Kosukepun tertidur di kelas pada jam pelajaran tersebut.
“Jadi bila 5x ditambah a menjadi…” ucap Pak Margaret yang mengajar matematika di kelas Kosuke, “Bagaimana Kosuke?Mengerti nak?”
“Hei Kosuke, Pak Margaret memanggil kamu nih, bangun, bangun.” bisik Mori kepada Kosuke, “Hei, bangun Kosuke, nanti kamu diusir lagi dari kelas oleh pak Margaret.”
“Hah? Ada apa?” ucap Kosuke dengan setengah sadar, “Ada apa mori?Aku kan masih mau tidur nih.”
“Kosuke! Lagi-lagi kamu ini tertidur di kelas! Dasar anak pemalas.” ucap Pak Margaret sambil berjalan ke arah tempat duduk Kosuke, “Keluar sana dari kelas! Kamu baru boleh masuk bila jam pelajaran saya sudah selesai.”
“Kamu dimarahi Pak Margaret kan, kamu sih gak mau mendengar omonganku” ucap mori dengan suara yang rendah.
“Ya, ya, ya, saya keluar…” ucap Kosuke yang masih mengantuk, “Boleh ke kantin nggak Pak?”
“Kamu ini ya, sudah bosan sekolah apa?” balas Pak Margaret dengan kesalnya, “Duduk saja di teras kelas sana!”
“Bagaimana sih Pak ini, nggak pernah bercanda apa?” kata Kosuke dengan santainya, “Hei Mori, mau ikut denganku keluar nggak?”
“Umm… Aku... Aku…” Mori tak dapat menjawabnya karena ia masih kebingungan.Mori sangat kebingungan apakah dia harus menemani Kosuke di luar atau tetap berada di dalam kelas.
“Aku kan tidak tertidur di kelas sepertimu, jadi aku akan tetap di kelas…” balas Mori dengan ragu-ragu.
“Eh, eh, kok gitu sih? Masa pacarnya sendiri tidak menemani? Hahaha.” sindir Robert dengan cekatan. Murid-murid sekelaspun ikut tertawa dengan Robert.
“Apa-apaan sih kamu ini, sudah berkali-kali aku bilang kalau kami itu hanya teman!” teriak Mori sambil bersiri melihat Robert.
“Hei Mori, kamu keluar juga dari kelas dengan Kosuke!” ucap Pak Margaret, “Dilarang berteriak di dalam kelas tahu.”
“Wah-wah, akhirnya sepasang kekasih ini bersatu juga ya teman-teman,” ucap Robert dengan cengirannya.
“Sudah! Cukup Robert, mari kita lanjutkan pelajaran matematika ini,” balas Pak Margaret kepada Robert, “Untuk Kosuke dan Mori, kalian berdua silakan duduk di teras kelas hingga jam pelajaran saya selesai.”
Kosuke dan Moripun menuju keluar dan duduk berdua di teras kelas. Jantung Mori berdetak sangat cepat karena ia hanya duduk berdua dengan Kosuke. Mori tak dapat berkata apa-apa, ia hanya dapat duduk terdiam dan wajahnyapun memerah karena yang ada hanya Kosuke di sampingnya.
“Ada apa Mori? Kenapa wajahmu memerah?” tanya Kosuke, “Apakah kamu sakit? Ayo kita ke UKS.”
“Umm, tidak tidak, aku tak apa-apa kok,” balas Mori dengan ragu, “Aku cuma… Cuma cemas saja nanti aku tidak bisa mengerjakan soal-soal matematika yang diajarkan oleh pak Margaret, Cuma itu kok…”
“Oh, ya sudah, tenang saja, nanti aku ajarin kamu lah, aku bisa kok soal-soal Pak Margaret,” kata Kosuke dengan menatap mata Mori, “Soal-soalnya kan mudah-mudah jadi aku bisa mengerjakannya dengan mudah.”
“Baiklah kalau begitu, nanti jangan lupa ajarin aku ya…” balas Mori dengan gugup, ”Jadi annti sepulang sekolah aku ke rumah kamu ya.”
Mereka berduapun duduk di depan kelas hingga jam pelajaran Pak Margaret selesai. Jam pelajaran itu ditutup dengan jam istirahat. Tak lama kemudian Robert keluar dari kelas dan menyindir mereka berdua.
“Hei, bagaimana kencannya? Apakah menyenangkan?” ucap Robert, “Enak kan kalau cuma berdua saja? Tak ada yang menganggu kencan kalian kan?”
“Enak saja kamu bilang! Kamikan tadi dihukum, jadi kami cuma duduk saja di sini, tidak lebih kok!” balas Mori.
“Hei, hei, sudahlah Mori, biarkan saja si Robert itu, kalau kamu ladeni nanti dia malah menjadi-jadi,” ucap Kosuke dengan tenang, “Ayo kita ke kantin saja, perutku sudah lapar nih.”
“Baiklah Kosuke, ayo kita tinggalkan Robert si mulut besar ini,” balas Mori sambil berjalan ke arah kantin dengan Kosuke.
“Pergi sana! Pergi kencan sampai kalian puas sana.” ucap Robert dengan kesal, “Kalian akan menyesali kata-kata kalian!”
Kosuke dan Moripun berjalan ke arah kantin. Kosuke hendak mentraktir Mori makan, untuk menghibur Mori yang telah dikeluarkan dari kleas bersamanya tadi.
“Hei Mori, ambil saja makanan yang kamu suka, nanti aku yang bayarin deh.” ucap Kosuke sambil meraba-raba kantongnya, “Kita makan makanan yang murah-murah saja ya.”
“Oh, ok, baiklah Kosuke…” balas Mori dengan bingung, “Apa tak apa-apa kalau kau yang bayar?”
“Tak apa-apa tenang saja, aku tak akan memungut biaya darimu kok, hahaha,” balas Kosuke sambil tersenyum, “Ayo, ambil makanannya, nanti habis.”
Mereka berduapun makan dengan tenang dan hanya berdua saja di satu meja. Robert sedang tak ada di sana, jadi tak ada orang yang menyindir mereka. Mereka makan dengan lahap sampai kenyang, mereka pun puas dengan santapan mereka.
“Ayo Kosuke kita kembali ke kelas, nanti kita akan terlambat, jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai nih,” kata Mori setelah ia selesai makan, “Ayolah Kosuke, jam istirahat akan segera selesai nih, jam pelajaran setelah ini kan jam pelajaran…, kok aku mendadak lupa ya?”
“Setelah ini kan jam pelajaran Pak Kobasen, dia kan baik dengan murid-murid,” balas Kosuke dengan tenang, “Dia tak akan memarahi kita kok kalau kita hanya terlambat sedikit, dia kan guru yang baik.”
“Oh iya ya, tapi kan kamu ini jangan begitu lah, bagaimanapun juga kan dia seorang guru,” ucap Mori sambil berdiri, “Walaupun dia tak akan memarahi kita, kita kan sudah seharusnya menghormati dia sebagai seorang guru, bagaimana sih kamu nih.”
“Iya iya, aku akan segera menuju ke kelas,” balas Kosuke sambil memegang gelas air minumnya, “Kamu silakan ke kelas dulu sana, nanti aku akan menyusul.”
“Ah, tidak ada susul-menyusul, kamu harus segera menuju kelas denganku,” ucap Mori sambil menarik tangan Kosuke, “Ayolah, cepat sedikit kamu nih, lama banget sih.”
Tet… tet… tet…, bel tanda jam istirahat telah selesai berbunyi, murid-muridpun segera bergegas menuju kelas mereka masing-masing. Sementara itu Kosuke dan Mori masih di kantin dan akan segera berjalan bersama-sama menuju kelas mereka.
Mori dan Kosuke berjalan bersama-sama menuju kelas dan di depan kelas telah terlihat Robert yang telah siap dengan sindirannya. Pak Kobasen masih belum terlihat sehingga masih banyak murid-murid yang berada di teras kelas.
“Bagaimana makanannya sayang? Enakkan? Apalagi ditraktir oleh pacar sendiri,” sindir Robert sambil berdiri di depan pintu kelas mereka
“Siapa sih kamu? Pake sayang-sayang lagi,” ucap Mori dengan kesal, “Kami kan Cuma makan bersama-sama, Kosuke hanya mentraktirku kok.”
“Hei, hei sudahlah Mori, jangan ladeni Robert,” ucap Kosuke sambil menarik Mori ke dalam kelas, “Biarkan saja dia bicara sendiri, nanti dia diam sendiri kok.”
“Ahh, pergi saja sana!” ucap Robert dengan kesal, “Pergi saja pacaran lagi.”
“Umm…, Kosuke, terima kasih ya.” Ucap Mori sambil berjalan mendekati tempat duduknya dengan Kosuke.
“Iya, tak apa-apa, orang seperti dia itu tak seharusnya diladeni,” ucap Kosuke di tempat duduknya, “Nanti dia akan jera sendiri kok menyindirmu.”
Mereka berduapun tiba di kelas tanpa terlambat, tak lama kemudian Pak Kobasen datang dan mengajar mereka. Kosuke dapat menjalani pelajaran-pelajaran dari Pak Kobasen dengan baik, pelajaran yang diajarkan oleh Pak Kobasenpun tidak membuat Kosuke mengantuk.
“Eh Kosuke, pelajaran yang diajarkan Pak Kobasen itu menyenangkan ya, cara mengajarnyapun tidak membuat kita bosan,” ucap Mori dengan terkagum-kagum pada Pak Kobasen.
“Iya, Pak Kobasen ini kan guru favorit kita, dia mengajar dengan santai sehingga kita dapat mengerti pelajarannya dengan mudah,” balas Kosuke sambil memperhatikan pelajaran yang diajarkan oleh pak Kobasen.
“Iya, coba yang mengajar seluruh pelajaran itu Pak Kobasen ya, pasti semua mata pelajaran akan menjadi menyenangkan.” Ucap Mori kepada Kosuke.
“Hei Kosuke, Mori, apa yang kalian bicarakan di sana?” tanya Pak Kobasen kepada Kosuke dan Mori yang sedang berbincang di tempat duduk mereka.
“Tidak apa-apa Pak, kami Cuma membicarakan tentang pelajaran ini kok,” balas Kosuke dengan baik dan sopan kepada Pak Kobasen.
“Oh, baiklah, apa ada yang tidak kalian mengerti dari pelajaran ini?” tanya Pak Kobasen kepada seluruh murid di kelas.
“Tidak Pak, pelajaran yang Pak ajarkan dapat kami mengerti dengan mudah dan cepat,” ucap Mori kepada Pak Kobasen sambil tersenyum.
“Iya, pelajaran yang Pak ajarkan dapat dimengerti dengan cepat, jadi Pak tidak perlu khawatir.” Ucap salah seorang murid dari kelas tersebut.
“Baiklah-baiklah, mari kita lanjutkan pelajaran ini ya, bila ada yang tidak mengerti silakan menanyakannya kepada saya ya.” Ucap Pak Kobasen dengan tersenyum.
“Iya kan, Pak Kobasen itu guru yang baik,” ucap Mori kepada Kosuke, “Dia saja tidak mau menghukum murid dengan mudah, dia pantas menjadi guru favorit.”
“Iya, iya, mari kita dengarkan penjelasan dari Pak, aku sangat nyaman diajarnya.” Ucap Kosuke kepada Mori sambil memperhatikan pak Kobasen.
Pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru setelah pelajaran Pak Kobasen dapat dijalani oleh Kosuke dengan baik dan tidak tertidur di kelas lagi.
Tet… tet… tet…, bel tanda jam pelajaran sekolah hari ini telah selesai, semua muridpun bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara itu Mori ingin meminta Kosuke untuk menjelaskan pelajaran Pak Margaret yag ia tak mengerti tadi kepada Kosuke.
“Hei Kosuke, itu, aku mau meminta kamu mengajariku pelajaran yang diajarkan Pak Margaret tadi,” tanya Mori kepada Kosuke, “Apakah kamu bisa mengajariku hari ini sepulang sekolah di rumahmu?”
“Oh, bisa, aku punya waktu luang kok hari ini,” jawab Kosuke pada Mori, ”Nanti kamu ke rumahku sekitar jam 2 siang ya.”
“Baiklah! Aku akan segera tiba di sana sekitar pukul 2 nanti ya,” balas Mori dengan tersenyum, “Ayo kita pulang bersama-sama, jarang-jarang sekali ya Robert tidak di sini untuk menyindir kita.”
“Ya sudahlah, mungkin dia sudah kapok menyindir kita terus, ayo kita pulang.” jawab Kosuke kepada Mori.
Mereka berduapun berjalan ke rumah bersama-sama dan tidak tampak Robert yang sering menyindir mereka. Rumah Mori tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga Kosuke harus meneruskan perjalanannya sendirian ke rumahnya.
“Hei Kosuke, aku duluan ya,” ucap Mori sambil berjalan menuju ke dalam rumahnya, “Hati-hati ya di jalan!”
“Iya, baiklah,” balas Kosuke kepada Mori, “Aku tunggu di rumahku jam 2 ya! Jangan sampai lupa!”
Mori yang telah tiba di rumahnya duluan, melanjutkan kegitan siangnya dengan makan siang dan setelah itu ia segera bersiap-siap untuk menuju ke rumah Kosuke. Sementara itu Kosuke masih dalam kegiatan siangnya, yaitu makan siang.
Waktu telah menunjukkan pukul 13.40. Moripun bergegas menuju ke rumah Kosuke agar tidak terlambat dengan janjinya. Kosuke yang telah selesai dengan makan siangnya sedang bermalas-malasan di tamannya. Tak lama kemudian Moripun tiba di rumahnya dan menemui Kosuke yang sedang bersantai-santai di bawah pohon di halaman rumah Kosuke.
“Hei Kosuke!” teriak Mori dengan tersenyum, “Jangan bilang kamu lupa dengan janjimu untuk mengajarkanku pelajaran Pak Margaret ya!”
“Ahh.., ruapnya Mori sudah tiba ya,” ucap Kosuke yang hampir tertidur di bawah pohon di halamannya, “Tenang saja, aku tidak lupa kok, kamu mau aku ajarkan di mana? Di dalam rumah atau di halaman ini?”
“Di halaman ini sajalah, sepertinya lebih menyenangkan,” balas Mori, “Udaranya sangat segar dan sangat sejuk di bawah pohon seperti ini, pasti pelajaran lebih mudah dimengerti.”
“Baiklah, mana yang kamu tidak mengerti?” tanya kosuke kepada Mori.
“yang ini, bagian dimensi tiga,” ucap Mori sambil mengeluarkan bukunya, “pelajaran ini rumit, apalagi diajarkan oleh pak Margaret, malah menjadi lebih sulit.”
“Ohh, tenang saja, dimensi tiga ini tidak susah kok,” jawab Kosuke kepada Mori, “Bila kamu melakukan sesuatu degan berpikir positif, pasti kamu akan berhasil.”
“Terima kasih ya Kosuke atas nasihatmu, mungkin dengan berpikir positif aku akan menjadi lebih baik dan dapat melakukan apa yang aku inginkan.” Jawab Mori kepada Kosuke sambil tersenyum.
“Ayo, mari kita mulai pelajaran hari in dengan Pak Kosuke!” ucap Kosuke sambil mengambil soal-soal latihan di buku yang dibawa oleh Mori.
“Baiklah Pak Kosuke!” jawab Mori dengan penuh semangat, “Aku juga akan mengikuti caramu dengan berpikir positif.”
Moripun dapat mengerti pelajaran dimensi tiga itu dengan mudah. Semua itu karena motivasi dari kosuke untuk selalu berpikir positif, sehingga Moripun berusaha untuk tidak mudah menyerah dalam melakukan kegiatannya.
Tak lama kemudian, mereka menyudahi pelajaran mereka. Mori yang hendak pulang ke rumahnyapun diajak oleh Kosuke untuk bermain-main dahulu di rumahnya.
“Hei Mori, apa kamu akan segera pulang? Apa kamu tidak ma main-main dulu ke rumahku?” tanya Kosuke kepada Mori yang sudah memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.
“A-aku mau pulang sajalah, masih banyak hal yang harus aku lakukan,” jawab Mori kepada Kosuke dengan cepat, “Aku ingin berterima kasih atas semuanya, terima kasih ya Kosuke.”
“Ah, tidak apa-apa, sudah tugasku kok untuk menolong teman baikku ini,” jawab Kosuke kepada Mori dengan tersenyum, “Eh, jadi kamu mau langsung pulang ke rumah? Tidak perlu kutemani?”
“Aku kan bisa pulang sendiri kok, baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya!” ucap Mori sambil berjalan menuju pintu keluar halaman Kosuke.
“Eh Mori, aku mau menanyakan sesuatu nih,” ucap Kosuke kepada Mori, “Apa kamu ada waktu malam ini?”
“A-apa? Malam ini sih aku tidak ada acara…” jawab Mori dengan ragu.
“Baiklah kalau begitu, aku tunggu kamu di taman pukul 7 ya malam ini,” ucap Kosuke dengan mengacungkan jempolnya, “Aku ingin membicarakan sesuatu, jadi jangan sampai tidak datang ya!”
“B-baiklah Kosuke…” jawab mori dengan kebingungan, “Aku tak akan telat kok…”
Jantung Mori berdetak sangat kencang karena Kosuke sepertinya ingin mengajak Mori pergi kencan malam hari nanti. Mori masih bingung akan apa yang Kosuke rencanakan dengan ajakannya tadi. Perasaan Mori bercampur antara senang dan penasaran, ia tak sabar untuk menunggu hingga nanti malam.
Setelah sampai ke rumah, Mori segera mempersiapkan pakaian apa yang akan ia gunakan nanti malam pada perjumpaannya dengan Kosuke. Kosuke tidak mempersiapkan sesuatu yang spesial, ia hanya berharap agar Mori dapat menepati ajakannya.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.40. MTak lama kemudian Moripun tiba di taman, namun ia belum melihat Kosuke. Kosuke yang baru saja tiba langsung memanggil Mori dan mengajaknya duduk di kursi taman.
“Hei Mori! Maaf ya aku terlambat!” ucap Kosuke dengan menggaruk kepalanya.
“Tak apa-apa kok, aku saja yang terlalu cepat datang ke sini,” balas Mori sambil berjalan menuju ke arah Kosuke.
“Eh Mori, ayo kita duduk di sana,” ajak kosuke sambbil memegang tangan Mori.
“B-baiklah,” ucap Mori dengan gugup, “Oh ya, memangnya kamu mau membicarakan apa?”
“Itu, kita kan sudah lama berteman, bersama-sama dalam keadaan apapun,” ucap Kosuke sambil menatap mata Mori, “Jadi aku mau bilang sesuatu.”
“A-apa,” ucap Mori dengan perasaan ragu namun nyaman, “J-jadi kamu mau bilang apa?”
“Sebenarnya aku mau bilang ini sejak kita telah berteman akrab dan selalu bersama dulu,” ucap Kosuke sambil memegang tangan Mori, “Kupikir waktunya tepat sekarang, aku sebenarnya menyayangimu Mori…”
“A-apa,” ucap Mori dengan terkejut, “A-apa itu benar? Kamu tidak main-main kan?”
“Tentu saja tidak, kali ini aku serius dengan kata-kataku.” Ucap Kosuke sambil tersenyum menatap Mori, “Jadi, maukah kau menjadi pacarku?”
Mori tak dapat menjawab pertanyaan Kosuke karena ia sangat gugup dan jantungnya berdetak sangat cepat. Di dalam hatinya, Mori sangat senang dan bahagia karena ternyata Kosuke, teman baiknya sejak kecil dapat mengatakan hal tersebut.
“A-aku…” jawab Mori dengan gugup dan wajahnya yang memerah, “Aku akan menjadi pacarmu Kosuke…”
“Yahoo!” teriak Kosuke dengan senang dan bersemangat, “Benar kan? Kau benar-benar mau menjadi pacarku kan?”
“I-iya, aku serius…” jawab Mori dengan wajahnya yang memerah padam.
“Hei Mori, apakah kau haus? Sini aku belikan minuman.” Tanya Kosuke sambil tersenyum.
“Terserah kamu saja deh,” jawab Mori yang perasaannya bercampur aduk.
“Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar ya,” ucap kosuke sambil berjalan menuju ke kios yang menjual minuman, “Aku tak akan lama, jadi kamu tunggu di sini sebentar ya!”
Moripun menunggu Kosuke dengan sabar. Tak lama kemudian, Kosuke membawa dua gelas minuman ringan sambil tersenyum memandang Mori.
“Hei Mori, ini minumannya, kamu pasti haus.” ucap Kosuke sambil memberikan segelas minuman ringan kepada Mori.
“Terima kasih ya Kosuke,” ucap Mori sambil memegang tangan Kosuke, “Kosuke, aku hanya ingin meminta satu hal darimu…”
“Baiklah, apa permintaanmu itu Mori?” tanya Kosuke sambil menatap wajah Mori.
“Aku hanya ingin…” ucap Mori sambil memegang tangna Kosuke dengan kuat, “Aku hanya ingin kalau kau selalu ada di sampingku dalam keadaan apapun.”
“Baiklah Mori, aku akan selalu ada di sampingmu dalam keadaan apapun,” jawab Kosuke sambil tersenyum, “Aku akan selalu setia bersamamu dalam keadaan apapun.”
“Terima kasih Kosuke…” ucap Mori kepada Kosuke sambil memeluknya, “Aku sangat menyayangimu Kosuke…”
Kemudian, mereka berduapun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang sangat bahagia. Mereka berdua selalu bersama dalam keadaan apapun dan saling mengisi hari-hari mereka dengan kebersamaan.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar