Selasa, 21 April 2009

Rumitnya PDKT

Oleh: William halim (38)


Hari ini adalah tahun ajaran baru bagi Willy yang sekarang menduduki kelas 3 SMA. Tahun ini Willy dapat sekelas lagi dengan semua sahabatnya yang bernama Selly, Kevin, dan Karen. Mereka sudah bersahabat dari SMP dan selalu bisa mendapat kelas yang sama. Untuk kali ini, Willy duduk dengan Kevin dan Selly duduk dengan Karen yang duduk di baris ke 4 dari pintu dan urutan ke 2 dari belakang.
“Wuih, enak ya kita bisa sekelas terus jadi tiap ada pelajaran yang ngebosenin kita bisa bicara daripada bengong ga jelas,” kata Willy sambil menepuk bahu Karen yang kelihatnnya sedang sibuk sendiri dengan buku hariannya.
“Iya sih, tapi kalau kayak gini terus mana bisa ranking kita naik, soalnya kalian ribut terus sih,” ujar Karen lalu melanjutkan menulis buku hariannya lagi.
“Benar juga tuh. Tapi pelajarannya gak susah-susah amat sih, kecuali untuk biologi, merinding rasanya tiap kali aku denger info soal ulangan biologi. Mana gurunya punya mata jaipong gitu, pinter banget ngawas kita kalau lagi ujian,” kata Selly.
“Hmmmm, menurutku sih gak susah. Biologi itu mudah kalau kamu memperhatikan guru menjelaskan dengan baik,” kata Willy memberikan nasehat.
“Terserah deh tentang pelajaran ini, kita juga kan baru naik kelas. Nikmatin aja dulu, kayak aku, pulang sekolah nanti langsung main PS3 ada game baru yang keren abis,” kata Kevin sambil tertawa yang tiba-tiba terdiam ketika melihat seorang cewek cantik yang masuk juga ke kelas itu.
“Lanca Bana Will, liat tuh cewek cuantik buanget!” bisik Kevin kepada Willy, Selly dan juga Karen. Willy pun langsung melihat kedepan dan melotot memang cantik betul cewek itu.
“Ada yang tahu siapa cewek itu??” tanya Willy dengan penuh antusias.
“Elie, Elie Bukhari Setiawan tepatnya. Dia seorang murid yang sangat pintar tidak sama dengan kamu, Will. Memang kenapa tanya-tanya?—“ jawab Selly dengan cepat seperti elang yang mau menangkap ular. ”Atau jangan-jangan kamu naksir ya dengannya?” tanyanya dengan penuh antusias.
“Ngawur kamu. Kalaupun iya memangnya kenapa?” jawab Willy sewot namun terlihat banget kalau dia malu-malu juga.
“Cieeeee, sudah besar nih adik kecil kita,” kata Karen yang tiba-tiba langsung menutup buku hariannya itu.
“Ini yang enggak aku suka, kalau udah soal gosip, langsung deh kumat penyakitnya, ngomong nonstop 3 hari 3 malam,” Willy menggelengkan kepalanya.
”Terserah, bueeee—“ Jawab Karen. ”Tapi serius nih kamu naksir dengan dia?”
“Mungkin...” jawab Willy.
Saat itu Elie segera menghampiri kedua sahabatnya yaitu Michelle dan Vanny. Semua orang tahu bahwa mereka itu trio genius kecuali Michelle yang sesungguhnya hanya pintar di Biologi dan seni saja.
“Lie, kamu duduk di depan aja tuh masih kosong,” kata Michelle sambil merapikan kertas yang ada dimejanya.
“Gimana liburanmu? Enak ga Lie?” tanya Vanny.
“Lumayan lah, bisa ke puncak yang sejuk, beda dengan disini,” jawab Elie sambil merapikan tasnya.
Bel sekolah pun berbunyi dan ini saatnya guru wali kelas masuk ke kelas mereka masing-masing.
“Siapa ya kira-kira wali kelas kita? Jadi penasaran aku.”, kata Kevin.
“Berdoa dulu moga-moga ga dapet Pak Sukirmanto. Wuih guru kesenian yang satu itu gak enak banget,” jawab Selly dengan cepat sambil komat-kamit baca doa.
“Pak Sukirmanto? Oh, Pak botak yang genit itu ya? Amit-amit deh.”, jawab Kevin sambil menggigil.
“Bapak itu baik juga kok. Tiap aku gak bisa gambar pasti dibantunya,” ujar Karen yang kembali sibuk dengan buku hariannya itu.
“Dia kan seneng sama cewek yang rajin kayak kamu,” kata Selly dan Kevin berbarengan.
Sejak Elie masuk ke kelas dari tadi Willy selalu memperhatikannya terus-menerus. Sepertinya ia sangat terpaku dengan kecantikan Elie. Tiba-tiba masuk seseorang seumuran 40 tahun dengan kepala botak mengkilap dan langsung duduk di meja guru.Ternyata itu pak Sukirmanto!



“Akkhh!!! Kayaknya aku harus ganti kacamata deh. Gila masak aku ngelihat yang duduk di depan itu pak kinclong?” teriak Kevin yang terkejut melihat Pak Sukirmanto masuk ke kelas. Murid-murid yang lain hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya maklum. Satu kelas, bahkan satu sekolah sudah tahu bahwa Selly,Willy, dan Kevin merupakan trio musuh berat Pak Sukirmanto. Tetapi mereka selalu selamat dari hukuman pengusiran keluar dari kelas karena Pak Sukirmanto senang dengan Karen, yang berarti kalau trio itu diusir keluar kelas, Karen juga bakal ikutan keluar. Guru kesenian itu tidak tega melihat Karen berdiri di depan kelas, karena itu selalu dibiarkan sampai sekarang mereka memasuki tahun ketiga.
“Diam kau Kevin, pusing sudah bapak melihat mukamu itu,” perintah sang guru kesal memandang tajam salah satu muridnya yang paling menyebalkan itu.
“Memangnya aku gak bosan apa 3 tahun ngeliat kepala botaknya itu, hahahahaha,” balas Kevin sambil tertawa dengan Selly. Karen yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
Lalu Pak guru mulai mengabsen murid satu-persatu dan kemudian tibalah giliran Willy yang termasuk berada di absent atas.
”Andreas Willy santoso.” Willy tidak menjawab, ia masih saja sibuk memperhatikan Elie yang sedang tertawa lepas bersama kedua temannya.
“Ui, itu namamu dipanggil jangan ngelamun aja dong.”, kata Kevin.
“I-iya pak. Eh?! Gila!!!!!!! KENAPA ADA PAK KINCLONG DISINI?” teriak Willy kaget melihat wali kelasnya untuk tahun ini adalah musuh besarnya.
“Diam kau Willy, sekarang aku sudah menjadi wali kelas kalian, tolong hormati saya,” kata Pak Sukirmanto kesal.
“Baik, Pak,” sahut Willy ogah-ogahan dan kemudian kembali duduk. Matanya melihat Elie lagi yang ternyata sedang tertawa dengan kedua sahabatnya itu akibat perilaku Willy.
“Wuih, manis banget itu cewek kalau lagi senyum,” kata Willy yang kembali menatap Elie dengan penuh kagum.
“Woi, bangun! Udah mulai belajar. Jangan ngelamun aja.”, ucap Selly.
“Iya-iya,” jawab Willy menatap sekilas ke arah Elie lagi dan kemudian mengobrol dengan ketiga sahabatnya seperti biasa.
Tak lama kemudian masuklah Boby, seorang cowok yang sangat nakal dan selalu membuat onar di kelas. Walaupun Willy juga suka buat onar, setidaknya tidak separah Boby yang terkadang keterlaluan.
“Maaf, Pak, saya terlambat.”
“Kamu ini, bahkan di awal tahun ajaran baru saja terlambat. Pakaianmu itu tidak rapi lagi. Cepat masukkan seragam kamu itu—“ tegur pak Sukirmanto tegas. ”Sudah cepat duduk sana.”
“Baik, Pak,” jawab Boby yang dengan cepat dan lalu mencari tempat duduk. Saat itu teman baiknya, Agus dan Latif sudah duduk berdua di belakang dan mereka menunjuk kearah Elie terus yang ternyata duduk sendirian.Semua murid juga tahu bahwa Boby sudah lama mengincar Elie. Dia segera duduk disana dan memulai percakapan.
“Gimana liburanmu Lie?”
“Lumayan,” jawab Elie dengan ramah, tidak seperti kedua teman baiknya Michelle dan Vanny yang menatap kesal kearah Boby. Cowok itu sering sekali mengerjai mereka berdua dan itu sangat mengesalkan.
Lalu Pak Sukirmanto pun segera berdiri dan berkata, “Ayo, sekarang kita pilih ketua kelas dan atur denah tempat duduk.”
“Yailah, harus pindah tempat duduk lagi cape deh~,” kata Selly yang kelihatan sangat jengkel.
Setelah diadakan musyawarah kelas untuk menentukan pengurus kelas, hasilnya sangat mengejutkan karena ternyata Kevin terpilih menjadi ketua kelas dan Willy sebagai wakilnya. Oleh Pak Sukirmanto,mereka ditugaskan untuk menentukan tempat duduk. Mungkin dengan mereka berdua jadi pengurus kelas, Pak Sukirmanto berharap kedua muridnya bias lebih tenang dan bertanggung jawab. Michelle dan Vanny segera memohon kepada mereka supaya tidak dipindahkan.
“Hei Vin, aku akan atur tempat dudukku di sebelah Elie. Jangan cerewet ya.” bisik Willy dengan matanya yang berbinar-binar dan mengacungkan jempolnya.
”Oke deh. Tenang aja…”
Setelah itu mengatur denah, mereka segera berpindah tempat dan dapat dilihat reaksi kesal Boby yang melihat kesengajaan yang diatur Willy agar Boby tidak duduk sebangku dengan Elie lagi. Willy melirik kearah Elie dan menelan ludah. Grogi juga nih.
“H-hai, na-namaku Willy. Salam kenal,” kata Willy dengan terbata-bata yang hanya dibalas dengan tawa kecil Elie yang membuat Willy terpana.
“Kok terbata-bata gitu? Hahaha. Aku sudah kenal sama kamu dari Michelle. Soalnya kamu suka gangguin dia kan?”
“Hehehe, iya. Soalnya Michelle orangnya gampang marah jadi enak digangguin,” balas Willy yang hanya terkekeh dan obrolan mereka pun berlanjut.
Willy merasa sangat senang dengan dirinya yang selalu duduk dengan Elie. Dalam pengaturan tempat duduk beberapa kali, Willy dan Kevin selalu curang dalam mengaturnya sehingga Willy selalu duduk dengan Elie, Vanny dengan Michelle, dan Selly dengan Karen. Di lain pihak, Kevin selalu duduk dekat dengan murid-murid yang pintar untuk dimintai bantuan saat ulangan.
Tak terasa sudah beberapa bulan lewat dan sudah mendekati bulan Desember dimana mereka harus menghadapi ulangan semester. Willy lama kelamaan menjadi rajin juga karena tertular sikap rajinnya Elie yang selalu menjadi teman sebangkunya sejak awal semester. Walaupun sudah duduk sebangku, Willy merasa sangat susah untuk mendekati Elie dalam masalah lain karena ia sangat cuek dan tidak begitu banyak omong dengan orang bukan sahabat dekatnya. Sepulang sekolah, Willy memutuskan untuk meminta bantuan dan segera berbicara dengan sahabatnya mengenai masalah ini.
“Vin, menurut kamu gimana ya cara deketin cewek yang orangnya cuek bebek kayak dessy bebek?” tanya Willy yang kelihatan sangat bingung.
“Hmm, menurutku, kamu mesti deketin cewek cuek lewat perantara orang yang dekat dengannya. Itu cara paling baik,” jawab Kevin sambil menepuk pundak Willy.
Malamnya, mengikuti nasehat Kevin, dia mengirimkan sms kepada Michelle mengenai kesukaannya pada Elie dan tidak disangka ditanggapi positif oleh Michelle sesuai dengan isi smsnya.
” Serius kamu? Wah pantes tuh maunya duduk berdua dia terus. Gak nyangka banget aku. Hmm, gimana ya dia orangnya emang cuek bebek banget. Tapi tenang aja aku bakal Bantu kamu deketin dia.”
Setelah membaca sms itu, semangat Willy langsung melejat naik dan sengan gembira ia pun memberitahukannya kepada semua sahabatnya. Keesokan paginya, saat tiba di kelas tanpa sengaja ia mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Boby akan menembak Elie. Dia langsung cepat-cepat menaruh tasnya dan pergi menemui Michelle.
“Mis, gawat nih! Tolongin pengaruhin si Elie supaya gak mau sama si Boby, soalnya nanti Boby mau nembak Elie.”
“Eh??! yakin kamu? Gak bercanda kan?”
“Suer disamber ama Pak Kinclong.”
“Hmm, akan aku bantu dengan seikhlasnya. Aku juga gak seneng sama dia. Kalau jadian sama Elie terpaksa deh tiap kali jalan harus jalan ama dia. Aku gak mau! Amit-amit!”
Segera setelah percakapan singkat itu, Michelle menjalankan tugasnya untuk mencegah pernyataan cinta Boby dengan mengikuti Elie kemanapun gadis itu melangkah. Elie Cuma bias mengangkat alis melihat tingkah temannya itu.
“Tumben kamu ngikutin aku terus, Mis.”
“Well, daripada aku bengong di kelas gak ada teman. Vanny kan lagi sibuk dengan Friska cari bahan tugas fisika di perpustakaan.”
Sampai pulang sekolah, semuanya masih terkendali. Boby tidak diberikan kesempatan untuk mendekati Elie. Tetapi ternyata hari itu Jum’at yang berarti hari dimana Willy dan Michelle harus melakukan tugasnya mengurus misa mingguan sehingga terbukalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Boby, saat dimana Elie ditinggal sendiri oleh Michelle. Boby menggunakan kesempatan ini dan mengajak Elie ke kantin belakang sekolah.


Elie berlari tergesa-gesa menuju ke kapel samping sekolah tempat Willy dan Michelle sedang sibuk mengurusi misa. Dia harus segera memberitahukan berita mengejutkan dan menyenangkan satu ini. Setelah menemukan temannya, Elie mengajak Michelle menyepi dulu dan membisikkan sesuatu. Willy hanya melihat keduanya dari jauh dambil berdoa dalam hati agar bukan berita itu yang disampaikan.
“Mis, gila barusan si Boby nembak aku,” ungkap Elie setengah berbisik dengan cepat diantara sela tarikan nafasnya sambil tersenyum lebar. Mata Michelle terbelalak kaget dan rasanya bola matanya bias keluar kapan saja.
“Apa??!! GILA! Baru ditinggal sebentar juga!—“ teriak Michelle kesal, panic dan kaget bercampur jadi satu. Michelle menenangkan nafasnya lalu bertanya lagi. “T-terus kamu terima ya?? Makanya kamu senyum-senyum gitu?” tanya Michelle penuh selidik. Elie menggelengkan kepalanya.
“Jelas tidak. Aku tersenyum-senyum kayak gini karena aku merasa senang banget berhasil menolak si Boby. Kau mesti lihat ekspresi mukanya. Aku akan kasihtahu Vanny nanti. Hehehe,” jawab Elie dengan tenang. Michelle menghela nafas lega.
“Untung kamu tidak menerimanya Lie. Kalau kamu sampai jadian dengan Boby. Aku dan Vanny bakal menjaga jarak 10 meter tiap melihatmu jalan dengan dia,” kata Michelle tersenyum lega dan senang.
“Hahaha. Bisa saja kamu,” ucap Elie terkekeh. Willy mengecek arlojinya dan berdeham.
“Maaf, tapi cepat masuk ke kapel. Misa sudah mau dimulai,” ujar Willy memotong pembicaraan mereka berdua. Elie mengangguk dan melambai kepada Michelle dan Willy, kemudian masuk kedalam kapel.
Setelah melihat temannya masuk. Michelle langsung menghampiri Willy dan menceritakan semua yang dikatakan Elie. Willy tentu sangat senang. Satu rival sudah disingkirkan dan itu berarti dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Elie. Willy kemudian dengan segera bergegas bergabung dengan ketiga sahabatnya yang sudah duduk di dalam kapel. Dia tidak sabar untuk menceritakan kabar ini.
Setelah misa dimulai Willy segera menceritakan apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya tersebut.
“Wah, beruntung banget, Will. Coba diterima, pasti kau sudah pusing 7 keliling,” kata Kevin berdecak kagum dan menepuk bahu temannya itu.
“Bener tuh. Terus, kenapa?”, tanya Selly.
“Apanya kenapa?”, jawab Willy dengan heran.
“Ya kenapa si Boby bisa ditolak, gitu aja kok gak nyambung,” kata Karen langsung nyambung ke pembicaraan mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“O iya, lupa aku nanya. Nanti malem aku suruh Michelle nanya ama dia lewat sms,” jawab Willy dengan mengangguk-anggukan dan kemudian dengan gembira memperhatikan Elie dan teman-temannya yang juga sedang asyik mengobrol di tempat duduk mereka.
Setelah misa selesai, Willy langsung memanggil Michelle untuk menyuruhnya menanyakan apa sebab Elie menolak Boby di kantin waktu itu. Michelle pun juga penasaran dan belum mengetahui alasannya. Dia bakal menginterogasi Elie nanti malam dan berjanji akan memberitahukan alasannya nanti malam.
Sekitar pukul 8 malam HP Willy berdering. Telepon dari Michelle.
“Halo, Will ternyata alasan dia menolak Boby itu sangat sederhana. Hahaha,” kata Michelle tertawa di seberang telepon.
“Sudah, langsung saja. Jadi kenapa dia nolak si Boby?”, tanya Willy yang kelihatannya tidak sabar menunggu jawaban dari Michelle.
“Iya-iya, sabar dong kalau jadi orang.”
“Iya aku sabar, tapi mana alasannya.”
“Katanya dia nggak suka sama cowok playboy kayak Boby yang suka mempermainkan cewek yang dengan mudahnya meninggalkan cewek yang ia pacarin kalau sudah bosan. Selain itu, dia juga gak ada perasaan apa-apa ke Boby.”
“Loh, jadi kenapa dia selama ini kayaknya dekat banget sama Boby?”
“Ya, dia kan orangnya ramah walaupun cuek bebek. Tahu sendiri kan?”
“Ya. Hah, lega aku mendengarnya.”
“Ya udah ah. Aku gak ada pulsa, bye.”
“Dasar pelit dari dulu kalau ditelpon atau disms pasti alasan habis pulsa. Hahaha. Bye,” jawab Willy yang lalu mematikan handphonenya.
Waktu memang berjalan sangat cepat dan tanpa disadari sudah lewat 1 semester setelah kejadian itu dan ini saatnya bagi mereka untuk menghadapi UAN. Pada saat ini Willy sedang berada di kelas dan masih terus duduk di sebelah Elie. Dia berusaha untuk menarik perhatian Elie dengan segala cara, seperti curhat dengannya atau dengan menanyakan tugas dengannya. Dengan ini dia bisa meyakinkan Elie bahwa dia adalah laki-laki yang setia bukan seorang playboy. Tetapi Elie selalu saja menjawab yang dibutuhkan saja, jarang sekali mengajak mengobrol lama-lama. Ini membuat Willy sangat susah untuk mendapatkan perhatiannya.
Pada hari terakhir UAN, Willy sedang makan bersama sahabat-sahabatnya di kantin mendiskusikan saat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya kepada cewek pujaan hatinya itu.
“Jadi, Aku akan nembak Elie saat pembagian ijasah, gimana menurut kalian?” tanya Willy serius menatap satu persatu temannya.
“Ya terserah dan juga tergantung. Kamu sudah pasti belum mau sama dia?” ujar Kevin balik nanya kepada Willy.
“Tentu saja lah,” balas Willy dengan tegas.
“Ya udah. Kalau gitu silahkan lakukan rencanamu, tapi jangan di skul. Menurutku agak sulit. Lebih baik ajak dia makan atau nonton film gitu sehabis pembagian ijazah. Kesannya lebih serius gitu, “ ujar Karen memberikan saran ke willy sambil terkekeh.
“Wuih, bisa juga nih Karen omongin soal cinta hahahahaha.”, kata Selly sambil tertawa terbahak-bahak.
“Baiklah. Itu memang lebih baik. Tapi aku akan ajak kalian, Michelle dan Vanny juga. Aku tidak yakin dia akan mau jalan berdua saja kalau kami belum ada hubungan apa-apa. Makasih idenya kawan,” kata Willy tersenyum dan menghabiskan makanannya.
Tak lama kemudian mereka telah mendapat ijasah dan seluruh murid angkatan Willy lulus dengan nilai yang memuaskan. Sepulang sekolah, Willy langsung menjalankan rencanya dan pergi menemui Elie dan kawan-kawannya yang sedang merayakan kelulusan mereka.
“Hei, gimana hasilnya? Bagus?” tanya Willy kepada ketiga orang itu.
“Bagus kok. Hehehe,” jawab Elie dengan penuh tawa. Michelle dan Vanny juga mengangguk-angguk, tanda bahwa jawaban mereka sama dengan Elie.
“Oh iya, kita rayain yuk,” usul Vanny tersenyum yang ditanggapi oleh anggukan antusias Michelle. Elie juga mengangguk tanda setuju.
“Ah, kalau begitu gimana kalau kita nonton aja ke Mall of Palembang yang baru buka? Aku sudah pernah pergi dan tempatnya bagus. Sekalian nanti aku ajak Selly, Kevin, dan Karen biar rame. Mau?” tanya Willy santai berusaha menutupi rasa gugupnya.
“Boleh dong, enak juga tuh sekalian untuk refresing. Iya kan, Lie?” kata Michelle yang masih nyengir karena mendapatkan nilai bagus di mata pelajaran favoritnya.
“He-eh,” jawab Elie tersenyum
“Ok deh, nanti siapa yang mau aku jemput?” tanya Willy yang berharap hanya Elie yang mengangkat tangan.
“Aku akan pergi ikut Vanny, boleh kan Van?” jawab Michelle tersenyum jahil sambil merangkul lengan Vanny. Michelle sudah tahu rencana Willy dan ia jahat kan kalau nanti menganggu?
“Boleh aja…” jawab Vanny tersenyum.
“Eh, tunggu! Aku gimana? Mobil Vanny itu mobil kecil yang cuman muat untuk 5 orang, biasanya didalam ada banyak barang. Jadi palingan hanya muat untuk 3 orang,” kata Elie yang kelihatan kebingungan.
“Ikut aku aja gimana? Mobilku kan Harrier ga kecil-kecil amat,” tanya Willy dengan penuh harap. Elie tampak berpikir keras.
“Sudah, Lie. Ikut saja. Daripada lu jalan?” ujar Michelle membujuk Elie masih senyam-senyum gak jelas.
“ Ya udah deh,” jawab Elie.
“Nanti aku antar pulang juga yah?”tanya Willy
“Boleh jadi kokoku gak usah pergi keluar rumah lagi. Biasa dia suka rewel kalau diganggu pas lagi seru-serunya main internet,” jawab Elie dengan senang hati.
“Baiklah. Nanti jam 2 aku jemput ya.” kata Willy penuh semangat. Ia sudah tidak sabar untuk acara jalan-jalan ini.
“Oke,” jawab ketiganya.
Willy kemudian meninggalan ketiga cewek itu dan segera kembali menemui ketiga sahabatnya untuk memberitahukan hal ini.
“Aku udah berhasil ngajak dia pergi, gimana kalian jadi ikut kan?”, tanya Willy.
“Tentu saja . Kita kan mau refreshing juga.” jawab Selly
“Ntar aku ikut siapa?” tanya Karen
“Iya aku juga ikut siapa, supirku kan lagi cuti mana mobil masuk bengkel lagi,” kata Selly.
“Aku bisa jemput Karen tapi ntar baliknya jangan ikut aku yah aku mau nembak dia di mobil.” jawab Willy.
“Oke, aku bakal jemput Selly. Pulangnya Karen ama Selly ikut aku,” kata Kevin.
“Ok, makasih ya. Aku balik rumah dulu mau siap-siap.” Ujar Willy sambil berjalan meninggalkan tiga sahabatnya itu.
“Mentang-mentang mau nembak cewek, langsung lari ke rumah dandan sampe 3 jam hahahahahaha.” kata Selly sambil tertawa jahil.
“Bercanda aja kamu Sel. Ya sudah, aku balik dulu. See ya!” jawab Willy dan pulang ke rumahnya. Karen mengikuti dari belakang agak tergesa-gesa.
“Tunggu! Aku juga ikut turunin di simpang depan skul,” ujar Karen mengejar Willy yang Cuma dibalas dengan acungan jempol oleh Willy.


“Halo, Lie udah siap lom?" tanya Willy lewat teleponnya dan dapat dilihat kalau ia sudah tidak sabar lagi menunggu untuk pergi. Dia sudah terkekang selama satu bulan karen ujian akhir itu dan juga dia ingin cepat-cepat menemui Elie.
“Sudah. Cepetan. Michelle sama Vanny sudah nyampe.”
“Iya, tunggu ya. Bye.”
“Bye.”
Setelah mematikan handphonenya Willy langsung keluar dan menghidupkan mobil kesayangannya itu. Mobil itu merupakan pemberian ayahnya kepadanya saat berumur 17 tahun katanya menandakan kalau Willy itu sudah dewasa.Setelah pamitan dengan ibunya dia langsung pergi menuju rumah Elie dan menjemputnya lalu langsung pergi nonton ke Mall of Palembang.
Setelah mereka jalan-jalan sampai puas, hari sudah cukup malam dan mereka segera bergegas pulang ke rumah masing-masing. Sahabat-sahabat Willy memberi semangat pada Willy sebelum mereka pulang dan Willy menjadi sangat gugup di dalam mobil. Willy yang biasanya cerewet menjadi diam membuat Elie curiga.
Setelah sampai di depan rumah Elie. Elie pun segera pamitan pada Willy dan membuka pintu tetapi Willy segera memanggil Elie dan dia menutup pintunya lagi. Willy berdeham beberapa kali kemudian mengutarakan perasaannya.
“Lie, mungkin selama ini kamu gak sadar kalau aku selama ini selalu memperhatikanmu. Tapi. sebenarnya aku suka sama kamu. Asal kamu tahu, waktu Boby nembak kamu aku langsung keringetan bukan main—“ dengan segera digenggamnya tangan Elie yang kelihatannya sangat terkejut.”Mungkin bagi kamu aku gak sempurna seperti yang kamu inginkan, tapi di mataku kamu itu sangat sempurna dan tiada duanya. Will you be my lady?”
“G-gimana ya aku jadi bingung—“ Elie tidak menatap mata Willy namun saat sesaat melihat mata cowok dihadapannya ia dapat melihat ketulusan Willy. Elie tersenyum kecil dan menjawab dengan simpel sesuai dengan perwatakannya.”Oke deh.”
Jawaban yang hanya terdiri dari dua kata pendek itu dengan sukses membuat Willy meloncat kegirangan sampai-sampai kepalanya terbentur atap mobil yang rupanya cukup keras. Elie hanya tertawa kecil dan segera setelah mengantar Elie, Willy memberitahukan hal ini kepada teman-temannya termasuk Michelle dan mereka memberikan Willy selamat. Willy berjanji akan mentraktir mereka.
Bulan demi bulan berlalu, hubungan antara Willy dan Elie pun menjadi semakin erat, semua sahabat mereka pun tidak ada masalah. Beberapa dari sahabat Willy dan Elie sudah pindah untuk kuliah di tempat lain seperti misalnya Michelle yang pindah ke Jakarta dan masuk Universitas Indonesia dan mengambil jurusan kedokteran dan Kevin yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah bidang Teknologi Informasi. Vanny dan Selly memutuskan untuk tetap tinggal di Palembang untuk melanjutkan studinya. Selly tidak mau berpisah dari pacarnya yang sudah bekerja tetap disini. Sementara Willy, Elie, dan Karen memutuskan untuk pindah ke Singapura untuk melanjutkan studi disana. Saat ini Willy dan Elie sedang pergi makan di Mall of Palembang sambil mendiskusikan jurusan yang akan mereka ambil nanti di Singapura
“Aku sudah putuskan, aku akan masuk sekolah musik di Singapura bagian barat. Sekolahnya bagus kan, Will?”
“Iya sih. Kalau aku kuliah jurusan apa yah? “
“Kamunya suka apa?”
“Kalau aku sih sukanya ama Zoologi sama Kimia, tapi gak tau mau milih yang mana bingung.”
“Kayak aku dong. Dari dulu emang udah seneng main piano jadi sudah pasti kuliah ambil piano.”
“Hmmmm, tapi Lie, menurut kamu aku ambil apa?”
“Menurutku ambil Zoologi saja. Tempat kuliahnya kan deket sama college aku nantinya.”
“Iya juga. Dekat pula sama kampus Karen. Dia kan ambil jurusan matematika. Emang dari dulu udah jadi maniak matematika.”
“Hahaha, iya ya, jadi collegenya deketan dong.”
Saat itu Karen pun datang bersama Selly dan Vanny sehabis pergi berbelanja di mall.
“Wuih lagi ngomongin apa nih?” tanya Selly dengan ceria.
“Lagi nentuin tempat kuliah,” jawab Elie.
“Udah ketemu belum?” tanya Vanny.
“Udah, kampusnya deketan lagi ama kampusnya Karen. Jadi kan kalau pulang bisa sama-sama.”, jawab Willy.
“O, iya deketan. Jadi kapan kita akan berangkat?”, tanya Karen.
“Masih belum tahu. Aku lagi sibuk rundingin dengan Mamaku, boleh gak aku tinggal di tempat Willy sekalian,” ujar Elie yang masih kebingungan membujuk orangtuanya. Padahal keluarganya sudah cukup kenal dengan keluarga Willy. Seharusnya tidak ada masalah kan?
“Kalau bisa secepatnya ya, aku suda gak sabar mau lanjutin kuliah,” jawab Karen dengan penuh antusias.
“Berarti kau mau cepat-cepat ninggalin aku dong?” kata Selly dengan wajah memelas.
“Ya enggak lah kan tiap liburan aku pasti balik. Lagian kita kan bisa ol msn rame-rame, kayak waktu itu sama Kevin.”
“Iya yah, hahaha.”
“Sudah lah kalau gitu kita balik dulu ya.”, kata Elie.
“Ok, bye.”
Setelah sampai di rumah Elie, mereka langsung berdiskusi langsung dengan orang tua Elie yang kelihatannya sangat sibuk tetapi mau meluangkan waktunya untuk berbicara. Akhirnya, orang tua Elie setuju dan begitu pula untuk orang tua Willy, mereka langsung mengabarkan Karen mengenai hal ini dan ia memberitahukan kepada orang tauanya bahwa dia akan menginap di rumah Willy di Singapura, tentu saja orang tua Karen langsung setuju karena mereka sudah kenal lama dengan keluarga Willy.
Beberapa minggu kemudian mereka pun terbang langsung ke Singapura dan mendatangi kampus masing-masing, dan ternyata mereka semua diterima. Tak terasa sudah 4 tahun terlewatkan setelah mereka pindah ke Singapura. Sampai saat itu hubungan Elie dan Willy masih berjalan dengan baik. Saat ini mereka sedang makan di sebuah food court bersama Karen.
“Enggak terasa lagi ya, Will, sudah 4 tahun gak ketemu ama teman-teman.”, kata Elie yang saat itu sedang menyantap makanannya. Selama 4 tahun terakhir ini, mereka tidak sempat pulang ke Indonesia karena terlalu sibuk dengan kuliah dan juga tugas dari dosen. Sehingga, liburan selanjutnya saat mereka akhirnya bebas tugas, sudah sangat mereka tunggu.
“Iya sudah gak sabar mau pulang, kan sekarang kita tinggal nyelesain skripsi habis itu bulan depan uda bisa balik lagi ke Palembang,” jawab Willy.
“Makannya kalau kuliah itu yang rajin, kayak aku dong 3 tahun aja uda tamat. Malahan ditawarin lanjutin ampe S3 segala. Tapi sayang kalian bakal pulang dan itu berarti gak ada tempat tinggal. Padahal aku mau tapi terpaksa kutolak tawaran itu,” kata Karen dengan rasa sedikit menyesal.
“Ya iyalah, kamu kan maniak banget belajar. Hahaha,” kata Elie.
Akhirnya setelah penantian cukup panjang, akhirnya mereka telah dinyatakan lulus dari kampus masing-masing dan telah bersiap-siap untuk pulang ke Palembang.
Setibanya di Palembang, Willy langsung mengangkati koper mereka keatas troli dan segera membawanya kedepan, alangkah terkejutnya dia ketika ia merasakan ada tangan yang memegangi bahuny, karena Elie dan Karen sudah menunggu di depan bandara. Saat menoleh kebelakang dia melihat Kevin, dia sangat sengang meihat sahabatnya lagi itu.
“Tambah tinggi kau, Will bahkan melebihi aku ya. Hahaha, padahal dulu aku lebih tinggi darimu.”
“Bisa saja kau, Vin, becanda terus, darimana kau tahu hari ini kami akan pulang? Padahal kami ingin mengejutkan kalian dengan menyantroni rumah kalian satu-persatu.”
“Mau tahu aja. Kan aku punya banyak koneksi, hahaha.”
Setelah itu mereka pun berjalan keluar bandara yang ternyata didepan sudah menunggu semua sahabat mereka. Ada yang mukanya sangat berubah seperti Michelle dan ada yang masih tetap sama seperti Selly.
“Hei, masih akrab gak nih pasangan kita?” sapa Michelle tersenyum jahil sambil menepuk pundak Elie yang hanya tersenyum. Willy mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
“Tentu dong. Hahaha. Ayo, kita pulang,” jawab Willy sambil berjalan menuju mobil yang menjemput mereka.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar