Jumat, 17 April 2009

Nomor Aneh

Karya : Herdwin. L

Aku adalah Aris tepatnya Markus Arisno Abadi, nama yang cukup membanggakan bagiku. Namun namaku tidak sebaik nasipku, aku anak seorang pengamen keliling yang kadang-kadang dipanggil untuk mengisi acara nonton layar tancap bersama. Sedangkan ibuku adalah seorang tukang jamu yang kadang-kadang sering diganggu oleh preman-preman kampung yang genit, maklumlah ibuku adalah orang yang paling cantik di daerah tempat tinggalku atau yang biasa bunga desa, kalau ayahku adalah orang yang sok keren dan sedikit gak tau malu. Aku gak tau mengapa ibuku bisa memilih ayahku untuk menjadi suaminya. Banyak orang yang bilang kalau ayahku mendapatkan ibuku adalah sebuah mukzizat dan anugerah sedangkan ibuku mendapatkan ayahku adalah sebuah musibah.
Aku adalah seorang murid kelas 2 SMA di SMA negeri yang kurang popular di Palembang. Aku dapat bersekolah karena beasiswa dari pemerintah yang kadang-kadang sedikit di korupsi oleh pihak sekolah. Ayahku tidak dapat membiayai sekolahku karena pendapatan ayahku hanya sepuluh ribu rupiah per hari sedangkan ibuku tidak mempunyai pendapatan yang tetap. Karena hal itu ayahku selalu berpesan agar aku giat sekolah untuk meraih masa depanku. Aku merupakan orang yang paling tampan di sekolahku karena aku masuk ke sekolah yang dulunya merupakan sekolah khusus putri, jadi siswa laki-laki yang ada di sekolah itu hanya ada 16 orang, itupun anak-anak pemulung yang berasal dari berbagai daerah seperti Kalimantan dan Sulawesi. Aku termasuk orang yang tidak pernah “nganggur” atau dengan kata lain aku tidak pernah tidak dapat pacar.
Setiap aku sudah putus hubungan dengan pacar yang sedang aku pacarin pasti cewek lain mulai menebar pesonanya atau mencari perhatian bahkan ada yang lansung minta putus hubungan dengan pacarnya. Banyak cara yang mereka gunakan untuk merebut perhatianku mungkin mereka tau aku merupakan ciri orang yang gak bisa lihat orang sedih, terutama perempuan. Aku gak punya barang-barang mewah seperti yang biasa anak remaja zaman kini miliki, contohnya “handphone”, “I-Pod”, ataupun laptop. Aku hanya memiliki satu buah handphone yang dibelikan oleh pacar pertamaku, pulsa pun aku tidak punya, tapi aku biasanya dikirimin pulsa dari seseorang yang gak ada namanya. Aku sering berganti pacar bukan karena aku seorang yang suka mainin perempuan, tapi aku gak tahan karena aku selalu dijadikan seperti barang yang mau dibangga-bangakan, setelah itu mereka menggunakan kebaikan ku terhadap seseorang perempuan untuk memperbudakku.
Sekarang aku sedang menjalani hidupku dengan seorang perempuan yang menurutku adalah seorang yang paling perhatian dan mengerti diriku, namanya Gina, ia adalah anak dari kepala sekolah kami. Walau begitu dia gak pernah menyombongkan diri. Ia pun seseorang yang paling aku percaya setelah orang tuaku, ia pun sangat mempercayaiku. Hari ini aku mau pergi ke rumah Gina untuk mengajaknya jalan-jalan, aku hendak menelponnya, untuk memberitahunya agar ia dapat bersiap-siap. Mungkin hari itu adalah hari paling sial bagi diriku aku lupa kalau handphoneku sudah tidak bisa nelpon lagi, karena sudah gak ada pulsa. Aku pun pulang dengan hati yang sedih, sialnya lagi ternyata hari ini aku juga lupa bawa uang untuk ongkos perjalananku menuju rumahku. Akhirnya aku pulang berjalan kaki sambil menedang tumpukan debu yang ada didepanku, Tiba-tiba aku melihat sepetak kertas keras yang kecil. Setelah kuambil kertas itu, teryata benar dugaanku, itu adalah sebuah nomor perdana yang biasa kita gunakan pada “handphone”. Aku merasa itu adalah dewa penolongku, dengan nomor ini, aku akan menelpon Gina dan memintanya untuk menjemputku. Tanpa basa-basi aku langsung menggunakan nomor itu. Seperti biasa pertama-tama aku memeriksa apakah nomor tersebut masih aktif dan ada pulsanya. Setelah aku periksa ternyata nomor itu masih dapat digunakan dan berisi pulsa sebesar serartus lima puluh ribu rupiah.
Saat aku ingin mencoba untuk menelpon Gina tiba-tiba aku ditelephon terlebih dahulu oleh seseorang, dengan rasa was-was aku mengangkat telepon itu:
“Halo” jawabku dengan sedikit takut
“Hey!!!, siapa ini? Dimana kamu sekarang?
Karena aku yang tidak mengerti maunya, hanya menjawab saja,
“Aku Aris, Sekarang aku lagi ada di depan Palembang Indah Mall, emangnya kamu siapa?”
“Kamu diam disana, tunggu saya, saya akan segera kesana!!!”
Ia langsung mamatikan teleponnya, dan aku yang binggung itu pun menunggunya karena ia menyuruhku untuk tetap ditempat itu. Satu jam kemudian, aku didatangi oleh beberapa mobil polisi dan segera menyeret ku ke dalam mobil itu. Aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa yang telah kulakukan.
Sesampainya di kantor polisi aku melihat seorang perempuan yang cantik, tinggi, berkulit putih dan mulus dengan rambut panjangnya yang tegerai indah, aku melihatnya seperti melihat seorang bidadari. Setelah itu ia melihatku dengan pandangan manis dan lembut, aku pun sangat tersepona atas perlakuannya itu. Wajahnya yang manis itu tiba-tiba berubah dan ia langsung memarahiku
“Oh, jadi kamu yang mencuri handphoneku, kurang ajar ya!!! Menyerang seorang perempuan yang tak berdaya secara diam-diam, laki-laki tidak tahu malu kamu ya!!!”
“Tidak kok bu, eh mbak, aku tidak mencuri handphonenya mbak!!!” jawabku yang binggung dan sedikit takut
“Alah, alasan kamu!!! Trus kamu kan yang menjawab telephone aku tadi kamu kan yang ngambil handphone aku!!!”
“ Iya emang aku yang angkat tapi…”
“ Alah kebanyakan alasan kamu, mana ada maling yang mau mengaku maling!!! Kalau ada penjara sudah penuh sekarang!!! Sudahlah pak bawa saja pemuda ini, dan adili seadil-adilnya kalau bisa sampai dihukum mati!!!”
Selama beberapa jam aku dimintai keterangan oleh bapak polisi, aku pun akhirnya dinyatakan tidak bersalah, serentak legalah hatiku. Aku diajak untuk kembali ke tempat dimana perempuan tadi telah menungguku. Sesampainya disana ia langsung berdiri dengan penuh semangat seperti hendak ingin membunuhku
“ Bagaimana pak? Dia yang mencuri handphone sayakan pak? Saya sudah tau pasti dia yang telah mencuri handphone saya, habis muka seperti seorang pencuri kelas lele!!! Huh sekarang kamu tidak bisa apa-apakan kamu sekarang sudah tertangkap makanya jadi orang jangan suka mencuri apalagi mencuri orang seperti diriku, sekarang kembaliin handphoneku banyak nomor-nomor berharga didalamnya harga handphonenya pun juga mahal,…”
“ maaf bu, saya memotong pembicaraan anda tapi pemuda ini sudah kami anggap tidak bersalah!”
“Apa!!!”
“ Ya bu, orang ini hanya menemukan nomor ibu yang dibuang oleh sang pencuri untuk menghilangkan jejak”
“Makanya jadi orang itu jangan asal fitnah aja, yang difitnah merasa tersinggung nih”Jawabku dengan nada yang menyindir
“Aduh, maaf loh aku kira kamu yang mencuri”
“Kalau minta maaf berlaku untuk apa ada polisi? Aku udah kehilangan rencanaku yang indah untuk kencan sama pacarku!!! Sekarang dia pasti marah sekali!!! Mana sekarang aku tidak bisa pulang, lapar lagi!” jawabku untuk lebih menjatuhkannya
“Oke deh aku antarin kamu pulang, ayo kita ke mobilku”
“Eit, tunggu dulu sebelum pulang kamu harus bayarin aku makan dulu aku seperti ini kan juga karena kamu” ucapku yang seperti seorang bos
“ ok-ok ayo kita pergi!!!”
Aku keluar dan diajaknya naik sebuah mobil BMW yang terbaru dan mungkin baru keluar dari Negara Amerika Serikat. Kami tidak langsung pergi ke restaurant seperti yang ia janjikan, aku terlebih dahulu diajaknya pulang ke rumahnya karena ia mau mengganti pakaianya dan mengambil sedikit uang. Aku tercengang saat melihat rumahnya, menurut perkiraanku harga rumah ini sekitar dua puluh milyard rupiah. Dengan penasaran aku pun bertanya dengan seorang pembantu yang sedang membawakanku segelas minuman
“Permisi bi, numpang tanya ini rumahnya siapa ya?”
“Oh ini rumah bapak Eddy, Walikota kota Palembang itu!!!”
“Apa!!! Beneran bi? Ya udah deh kalau begitu saya permisi dahulu ya!” jawabku sambil beranjak pergi dari rumah itu karena aku takut akan berurusan dengan ayahnya
Ditengah jalan tiba-tiba ada suara dibelakangku:
“Hey kamu mau kemana? Aku sudah siap ayo kita berangkat!!!”
Akupun berbalik dan melihatnya, akupun terdiam dan mati rasa, ia seperti seorang putri yang menggunakan gaun cantik dan keluar dari istananya yang megah
“Woi, jadi tidak nih? kalau kamu tidak mau ya sudah” ucapnya membangunkanku dari khayalanku sambil beranjak meninggalkanku
“ Tunggu-tunggu aku ikut”
Sesampainya di dalam mobil aku pun memberanikan diri untuk bicara denganya
“Oh iya, kita belum kenalan, namaku Aris tepatnya Markus Arisno Abadi”sambil mengajukan tangan untuk bersalaman
Mendengar namaku ia sedikit tertawa dan langsung menyambut tanganku
“Namaku Bella, nama panjangnya Princess Bella Santana Putra, ya sudah cukup kenalannya ayo kita berangkat ”
Ia pun mengajakku pergi ke restoran mewah dan makan makanan ala perancis. Aku pun binggung untuk memasuki restoran itu, karena biasanya aku cuma masuk warteg dan langsung duduk. Melihat alat makannya pun aku menjadi sangat binggung, tempat duduknya pun sangat mewah. Setelah kami duduk kami dialasi oleh sebuah kain diatas kaki kami, yang menurutku kami seperti anak bayi yang dialasi celemek agar tidak berantakan. Aku melihat sekeliling, ternyata disana tidak disediakan air kobokan!!!. Mataku tertuju pada alat untuk mengambil makanan, disana tersedia sendok , garpu, serta pisau dengan bebagai macam ukuran. Kami pun hanya duduk berdua, dan hal ini membuatku sediikit canggung.
Makanan pertama pun datang, inilah saat yang kutunggu-tunggu, namun yang datang ternyata yang disajikan hanyalah semangkuk sup yang kecil. Melihat hal ini aku pun marah dan protes pada pelayan itu
“Oi, kamu sudah gila ya saya kesini mau makan, bukan hanya untuk menghabiskan semangkuk sup porsi kecil ini” jawabku sambil menunjukkan mangkuk kecil tersebut kepada pelayan itu
Serentak semua orang melihatku, Bella pun melihatku sambil memperlihatkan senyumnya.
“ Maaf mas, tapi ini memang makanan pembuka”
“Tapi saya tidak bisa puas kalau hanya makan semangkuk kecil sup ini, gimana sih restaurantnya besar tapi makananya hanya sedikit ini”
“Tapi ini baru makanan pembukanya mas”
“Maksudnya?”
“Nanti kami akan mengantarkan makanan utama yang lebih banyak dari ini, dijamin bapak akan merasa lebih puas”
Aku pun duduk kembali ke tempat dudukku dengan malu-malu. Setelah selesai makan Bella mengantarkan ku pulang, sesampainya di rumah, aku pun tidak lupa untuk mengembalikan nomornya kepadanya. Kami pun tidak lupa untuk bertukar nomor untuk menjaga silahturahmi.
Keesokan harinya seperti biasa aku pergi ke sekolah bersama Gina, aku banyak bercerita tentang hal-hal yang kulakukan tadi malam, Gina pun hanya tertawa mendengar ceritaku. Sepulang sekolah tanpa disadari aku bertemu kembali dengan Bella, ia sudah menungguku di parkiran. Aku pun segera menghampirinya bersama Gina
“Hai Aris, aku bosan nih kita pergi jalan-jalan yuk!!!, kita nonton, trus kita makan bersama. Oh iya ini siapa?”
“Oh iya ini Gina, Pacar aku, kenalin Gina ini Bella, Bella ini Gina”
“Hai aku Bella, kamu siapa tadi? Ehm Gina ya Kamu pacarnya Aris? Kalu gitu aku pinjam arisnya sebentar ya”
Gina yang tak mengerti apa-apa hanya mengangguk setuju, Bella pun lansung menarikku ke dalam mobilnya dan ia melambaikan tangannya pada Gina. Kami pergi jalan-jalan berdua dengan akrab sampai malam. Bella pun mengantarkan ku sampai ke depan rumah. Sesampainya di dalam rumah aku melihat Gina telah menungguku dengan sabar, aku baru ingat kalau aku ada janji untuk belajar bersamanya. Aku segera bertukar pakaian dan belajar bersama Gina. Aku pun selalu mengingat hal-hal yang tadi aku lakukan bersama Bella sehingga secara tidak langsung aku seperti tidak peduli dengan Gina yang sedang sibuk bebicara tentang pelajaran denganku. Keesokan harinya Aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah bersama Gina, tanpa kuduga Bella sudah ada di depan rumahku dan bersiap untuk menjemputku. Ia memaksaku untuk ikut dan serentak aku melupakan janjiku untuk menjemput Gina. Sesampainya di sekolah aku sama sekali tidak melihat Gina ada di sekolah. Sepulang sekolah aku berinisiatif untuk melihatnya disana. Sesampainya di rumah Gina aku melihat ia sudah siap dengan pakaian sekolah dan menungguku sampai tertidur. Aku pun membangunkannya
“Gin,Sayang bangun dong!! Sudah siang nih”
“Eh, Aris memang ini udah jam berapa?”
“Ini sudah jam satu siang, tadi kenapa kamu tidak pergi ke sekolah”
“Oh ya, aku kan menunggu kamu untuk menjemput aku, terus kamu kenapa tidak jemput aku”
“ Oh iya, aku lupa maaf deh abis tadi aku sudah dijemput oleh Bella maaf ya?”
“ Aku perhatiiin kamu lebih perhatian sama Bella daripada aku, aku kan pacar kamu, jangan-jangan kamu suka lagi sama dia”
“Kog kamu gitu sih ngomongnya, aku benar-benar tidak ada perasaan sama dia”
“Alah, kamu bisanya hanya ngomong doang buktinya mana?” jawab Gina sambil menyindir aku
“Kamu kog gitu sih!!! Aku kan sudah berusaha untuk mengerti segala keperluaan kamu, kamu kok sepertinya mau mengurung aku, aku kan berhak mendapat kebebasan berteman.”
“Teman? teman tapi mesra kali”
“Sudalah aku capek ngomong sama kamu kalau gitu kita putus hubungan aja!!!”
“Ya udah siapa juga yang mau sama cowok mata keranjang seperti kamu!!!”
Dengan kesalnya aku pulang ke rumah, disana aku kembali bertemu dengan Bella yang sudah menungguku. Tanpa basa-basi aku langsung mengajak Bella untuk pergi. Aku menceritakan segala masalahku dengan Bella berharap aku ia dapat menyelesaikan masalahku. Setelah kejadian itu aku dengan Bella semakin dekat, setiap malam Bella pasti menelponku untuk menanyakan kabarku. Hubungan ku dengan Gina semakin lama semakin menjauh. Suatu ketika pada saat Bella mengajak ku untuk pergi jalan-jalan aku merasa Bella adalah orang yang paling tepat untuk mengisi hatiku yang kosong. Di malam itu juga aku langsung menyatakan perasaan ku. Tak kusangka ia langsung menerimaku dan menjadikan ku pacarnya.
Setelah malam itu kami menjadi semakin dekat, bahkan kami sudah sampai mengikat janji, pada saat kami menyelesaikan pendidikan nanti kami akan menikah, Bella pun berjanji akan meminta ayahnya untuk menyekolahkanku sampai perguruan tinggi. Kami menjalankan kehidupan kami dengan baik aku merasa sangat cocok denga Bella, tapi pada suatu hari saat Bella menjemput di sekolah
“Bella!!!” aku memanggil Bella dengan keras “Bella, kenalkan ini Romi sahabatku yang datang dari Inggris, dia adalah sahabatku sejak aku masih kelas 1 SD. Oh ya, Romi ini Bella pacarku, Bella ini Romi” ucapku sambil mengenalkan mereka berdua
“Hai namaku Bella, nama panjangku adalah Princess Bella Santana Putra”
“Hai aku Romi, kamu pacarnya Aris? Kok bisa ya? kamu cantik, kaya, baik lagi”
“Ya, begitu-begitu dia kan tetap pacar aku ya sudah, ayo sekarang kita berangkat”
“Memangnya mau kemana?” Tanya Romi kepada Bella
“ Ya pulang la, aku mau mengantar Aris pulang!”Jawab Bella menjelaskan
“Pulang?, yang benar aja! Inikan masih siang gimana kalau kita jalan-jalan dulu, kita bisa makan atau nonton bioskop, kali ini aku yang traktir deh!”
“Ya udah kalau gitu kita jalan-jalan dulu” jawabku menyetujui usulan Romi
Akhirnya kami bertiga pergi bersama, kami bersenang-senang, tapi disanalah awal mula kehancuran hubunganku dengan Bella, walau kami pergi bertiga, tapi seperti hanya pergi berdua sedangkan aku hanya seorang pembantu yang bisa disuruh apa saja. Segala omonganku kepada Bella hanya menjadi angin lewat bagi dia, mereka berdua malah sibuk sendiri dengan pembicaraan mereka. Saat makan pun yang dapat menjadi kesempatanku berdekatan dengan Bella, tetapi dia hanya diam dan menatap Romi dengan mesra, aku diantara mereka hanya dianggap seperti patung hiasan yang tidak berguna bagi mereka. Sesampainya dirumahku mereka langsung pulang, tidak biasanya hal ini terjadi, biasanya sebelum pulang Bella terlebih dahulu mengantarkanku sampai ke depan rumah mengucapkan selamat tinggal setelah itu Bella biasaanya menicium pipi kanan dan pipi kiriku, dan mengucapkan selamt tidur atau mimpi indah.
Keesokan harinya, ketika aku sedang menunggu Bella untuk menjemputku, aku melihat mobil Romi, setelah kulihat dengan seksama di dalamnya sudah ada Bella mereka bicara dengan akrab dan sangat dekat. Melihat hal itu aku langsung masuk ke dalam rumah dan meminta ibuku untuk menemui mereka lalu mengatakan bahwa aku sudah pergi ke sekolah sendirian. Sedangkan aku hanya mengintip dibalik pintu. Setelah ibuku menemui mereka, mereka pergi meninggalkan rumahku dengan berperpengan tangan dan nampak bahagia. Ternyata mereka senang saat mendengar aku sudah pergi ke sekolah terlebih dahulu. Aku sengaja tidak pergi ke sekolah dan mengikuti mereka sampai ke sekolah Bella. Dengan bersungut-sungut aku berusaha unuk mendengar pembicaraan mereka
“Oh ya Bell, kamu benar pacarnya Aris? Aku kok masih binggung ya? Kamu bisa-bisanya menerima dia yang sudah jelas-jelas tidak pantas sekali untuk dijadikan pacar”
“ Sebenarnya aku mau jadi pacarnya bukan karena aku cinta, tapi karena aku kasihan dengan Aris yang baru putus hubungan mantan pacarnya, Gina. Bagi aku Aris itu Cuma seorang yang tidak tau malu dan kampungan” Jawab bella Menjelekanku
“Kalau gitu kenapa tidak kamu putuskan saja hubungan kamu sama dia? Lagipula kamukan tidak cinta sama dia”
“Rencananya sih seperti itu, tapi setelah aku puas untuk menjadikan dian mainanku yang bisa disuruh-suruh habis dia bodoh sih”
“Oh ya? Bagus dong” jawab Romi
Mereka berdua tertawa, seakan senag dengan rencana itu, tiba-tiba Romi berhenti tertawa dan mengatakan
“ Kalau kamu sudah putus hubungan dengan dia, kamu mau kan pacaran sama aku”ucap Romi seolah mau merebut Bella dari aku
“Ehm, ya sudah deh aku mau sama kamu” jawab Bella
Setelah mendengar pernyataan itu air mataku menetes dengan perlahan, lalu aku bangun dan langsung menghajar muka Romi
“karang ajar kamu Rom, selama ini aku mengganggap kamu sebagai sahabat yang paling dekat dengan aku, ternyata kamu malah menusuk aku dari belakang”
“Eh, kamu jangan asal pukul aja ya aku melakukan ini juga atas persetujuan Bella kok, sekarang kita buktikan saja, gimana kalau kita suruh Bella yang memilih”
“ Ok kalau begitu, Ok Bell, sekarang kamu pilih siapa? Kamu tidak perlu takut, biarkan hati kecilmu yang memilih” jawabku menjawab tantangan Romi
“Aku memilih Romi, maaf ya Ris dari awal aku sudah tidak suka dengan kamu”
“Trus selama ini untuk apa kamu menjalani kehidupan ini dengan aku”
“Maaf ya Ris aku selama ini hanya kasihan dengan kamu, sekarang kamu jangan ganggu aku dengan Romi lagi ya?”
Serentak jatuhlah air mataku, tak kusangka seseorang yang ku bela sampai aku rela mengorban kan cinta lamaku sebenarnya hanya mempermainkan aku. Aku pulang dengan hati yang hancur, aku tidak punya siapa-siapa untuk menceritakan keluh kesahku. Saat malam hari aku merenungkan apa kesalahan yang telah aku perbuat sehingga aku tidak layak mendapatkan cinta sejati. Tiba-tiba aku teringat pada Gina, aku telah berbuat kesalahan yang paling fatal kepadanya, aku sangat menyesal dengan perbuatanku aku ingin sekali minta maaf kepadanya. Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku langsung berangkat ke rumah Gina, aku bermaksud untuk minta maaf dengannya dan aku ingin memberinya kejutan kepadanya. Sesampainya di rumah Gina
“Hai Gin, udah mau berangkat ya sama-sama yuk” ucapku ramah
“Ngapain kamu ke sini? Mana pacar kamu yang cantik, kaya, seksi lagi?”
“ Kok kamu ngomongnya gitu, aku kan datang baik-baik mau jemput kamu”
“Tidak perlu!!!, aku sudah ada yang yang jemput!!!”
“Yah, Gin aku minta maaf deh, aku tau aku salah sama kamu, sekarang aku sudah menyesali kesalahanku kamu maafin aku dong”
“Aku pikir-pikir dulu deh, tapi aku tidak bisa berjanji sama kamu”jawabnya sambil meninggalkannku sendirian
Setelah beberapa hari aku menunggu jawaban dari Gina ternyata dia tidak mengecewakanku, dia mau memaafkanku. Tapi bagiku hanya mendapat maaf tidaklah membuatku puas. Dengan seluruh keberaniaanku aku berusaha untuk kembali merebut perhatiaannya walau dengan perlahan tapi aku akan berusaha untuk mendapatkannya kembali. Setelah beberapa bulan. Aku langsung menyatakan perasaanku
“ Ehm, Gin sekarang kamu sudah punya pacar belum”
“Ngapain kamu nanya seperti itu?”jawabnya yang menyurutkan keberaniaanku
“Ya aku Cuma mau tau aja”
“Belum, terus kenapa?”
“Kamu mau tidak menjadi pacar aku? Aku tau kamu sulit untuk terima aku kembali, tapi aku mohon kamu lupain segalanya, kita mulai dengan lembaran yang baru”
“Terus bagaimana dengan Bella pacar kamu yang cantik itu?”
“Aku sudah mulai melupakan dia, sekarang aku lebih ingin berkonsenterasi untuk membahagiakan kamu”
“O, jadi aku Cuma pelarian cinta kamu aja nih”jawab Gina yang membuat aku semakin pesimis
“Tidak seperti itu kok, percaya deh sama aku”
“ Ehm, kalau begitu ok deh, lagi pula setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua tapi ingat, kamu tidak boleh membuat hatiku terluka lagi”
“ Benar Gin?, kalu begitu terima kasih ya” jawabku sambil memeluknya erat-erat
Kami pun akhirnya kembali menjadi seorang pasangan, kami tidak menyia-nyiakan saat-saat itu kami pergi bersama-sama menikmati kota Palembang yang indah. Kami sengaja pergi jalan-jalan dengan berjalan kaki agar terasa lebih lama. Ditengah jalan, tanpa disangka kami menemukan Bella yang sedang berjalan dengan gaun indah dengan wajah yang menangis, kami pun serentak menghampiri Gina
“Bella, kamu kenapa kok kamu menangis”Tanyaku
“Aris!!!” jawabnya sambil memelukku
“Kamu kenapa? Mana Romi dia tidak mengantarkan kamu pulang”
“Ris, Romi bukanlah cowok yang baik aku menyesal”
“Ya udah sekarang kamu pulang dulu, kamu tenangin hati kamu, mungkin besok kamu bisa cerita dengan aku”
“Tidak!!! Aku tidak mau pulang, aku mau pergi ke hotel aja, kamu temani aku ya Ris, aku mohon aku butuh kamu nih”ucapnya dengan mesra
“Tapi…”
“Sudahlah jangan-jangan kamu tidak mau bantuin aku”
“Bukan begitu, tapi Gina…”
“Aku tidak peduli dengan Gina!!!, ayo kita pergi” jawab Bella menarikku masuk ke dalam taksi
Akhirnya aku pun ikut dengan Bella menuju hotel, Gina yang melihatku pergi dengan Bella meneteskan air mata dan berlari pergi, aku pun tau perasaannya pasti sangat hancur . Sesampainya di hotel Bella menceritakan semua hal kepadaku mengenai Romi. Sekarang aku tau mengapa Bella menangis tadi ternyata Romi adalah seorang cowok yang sudah menikah dan punya dua anak. Dia hanya seorang loper Koran yang menyamar menjadi orang kaya. Pantas saja kelakuaan serta harta benda miliknya nampak lebih murahan daripada kelakuan dan harta benda milikku. Romi sengaja mencari perempuan-perempuan kaya untuk dia manfaatkan. Romi telah meminta Bella untuk membeli barang mahal seperti mobil baru, rumah baru, handphone baru, yang terakhir Romi minta agar Bella memberinya uang seratus milyard rupiah dengan alas an untuk memulai bisnis baru, yang membuat Bella rela menjual mobilnya dan tidak mendapat uang jajan selama satu tahun. Hari ini seharusnya menjadi hari untuk memperlihatkan hasil pekerjaan Romi kepada Bella, tetapi dia malah tidak datang pada perjanjian malam ini. Setelah beberapa jam berlalu Bella mulai menarik perhatianku sesuai dugaan ku ia kembali memintaku untuk menjadi pacarnya, untuk sesaat aku berpikir untuk menerimanya kembali tapi aku teringat kata-katanya yang ia ucapkannya pada Romi kepadaku, kemudian aku hanya bisa menerimanya sebagai sahabat.
Karena sudah kemalaman aku pun menginap di hotel dimana Bella menginap. Tentu saja aku tidak tidur satu ranjang dengannya. Keesokan harinya yang kebetulan merupakan hari minggu, pagi-pagi benar aku pergi ke rumah Gina, dengan maksud meminta maaf kepadanya karena telah meninggalkannya. Sesampainya di rumah Gina tanpa kusangka rumah mereka sudah kosong. Aku menanyakan pemilik kontrakan kemana keluarga Gina pergi, ternyata mereka sekeluarga akan pindah ke Lubuk Linggau naik kereta. Tanpa membuang waktu aku lansung pergi ke stasiun ternyata kereta jurusan Lubuk linggau sudah berangkat, serentak putuslah harapanku untuk mendapatkan Gina kembali, aku pulang dengan hati pilu. Sesampainya di rumah aku diberikan sepucuk surat, dan ternyata itu surat dari Gina. Surat yang kuanggap dapat menyelamatkan cintaku malah semakin menyakiti hatiku, ternyata mereka pindah karena Gina mendapat perjodohan di Lubuk Linggau, serentak hatiku menjadi remuk redam. Tiba-tba ayahku mengajakku untuk pulang ke Lubuk Linggau. Aku juga akan dijodohkan dengan seseorang dari Lubuk Linggau, tapi menurutku itu adalah kesempatan untuk aku menemui Gina, dan media untuk melupakan.
Seminggu kemudian aku pulang ke Lubuk Linggau, ternyata di sana keluarga pengantin sudah menungguku. Tanpa kusangka orang yang akan dijodohkan denganku adalah Gina sendiri karena ayahku dan ayah Gina ternyata sudah berteman sejak remaja, dan sudah merencanakan ini semua, aku sangat bahagia.tanpa membuang waktu aku langsung menjelaskan segalanya pada Gina apa yang terjadi pada malam itu, untungnya Gina mau mengerti aku. Kami tidak langsung menikah, kami hanya harus mengenal satu sama lain. Seminggu kemudiaan kami kembali ke Palembang namun bukan hanya sebagai sepasang kekasih, tapi pasangan yang sudah bertunanggan untuk menjaga hubungan kami. Sedangkan Bella telah menjadi seorang gadis yang tegar, ia menjadi orang yang paling setuju dengan hubungan kami.

2 komentar:

  1. Lucu~~

    Aris si Pengamen.. Kayaknya lu menjiwai banget ya Herdwin??
    XD

    Bagus"
    Tapi agak berlarut-larut.. tapi bagus kok XD

    BalasHapus
  2. Win, tingkat narsis kw parah nian...

    tpi lumayan lah... lucu jg... tpi sejak kpn Eddy Santana Putra tambah anak???

    BalasHapus