Sabtu, 18 April 2009

A n d i dan E s t e r

Karya: Hendry D.H. Sinurat (21)

“ Oek... oek... oek... ”,suara tangisan yang sangat keras keluar dari mulut seorang bayi telanjang dan mungil yang baru saja lahir.
“ Bu, selamat. Bayinya laki-laki. Kulitnya kuning langsat, mirip Ibu.”, kata seorang bidan yang membantu proses melahirkan dari bayi laki-laki lucu itu.
“..., Bu? Ibu? Ini bayinya, Bu.”
Sementara itu, terlihat Sang ibu yang melahirkan bayi itu sedang terkulai lemas, tak berdaya. Wajahnya pucat paci. Mungkin karena kelelahan saat harus mengeluarkan bayinya. Badannya penuh keringat dingin. Matanya terpejam.
“ Dokter! ”, si bidan berteriak keras dari dalam ruang operasi kelahiran bayi ibu itu.
“ Dokter! Dokter! Gawat! Bu Anna tidak sadarkan diri! Dokter, tolong periksa dulu keadaannya! ”
Ibu Anna langsung pingsan, sesaat ia telah melahirkan bayinya. Untung saja bayinya selamat. Sekarang, bayi mungil itu dipindahkan dari ruang operasi dan untuk sementara dipisahkan dari ibu yang telah melahirkannya.
Seorang bayi yang baru lahir dari rahim sang ibu, biasanya langsung mendapatkan pelukan dan ciuman hangat oleh ibunya. Namun hal ini tidak dirasakn oleh bayi laki-laki ini. Nasibnya sungguh berbeda. Ia harus dipisahkan dari ibunya, sesaat ia baru dilahirkan. Ia tidak mengetahui langsung ibunya. Sungguh suatu permulaan hidup di dunia yang menyakitkan. Alangkah malangnya bayi mungil itu.
“ Ini, Bu, tehnya. ”, seorang suster menawarkan secangkir teh pada Ibu Anna.
“ Terimakasih ya, Sus. ”, balas si ibu yang sedang terbaring lemah kepada suster.
“ Bagaimana, Bu? Sudah mendingan? ”, sapa dokter yang masuk ke kamar tempat Ibu Anna diperiksa.
“ Puji Tuhan, Dok. Sudah mendingan. Saya nggak merasa sempoyongan lagi. ”
“ Oh, kalau begitu baiklah, Bu. Saya tinggal dulu, ya. ”, kata dokter sambil menatap Ibu Anna penuh rasa iba.
“ Sebentar, Dok! Anak saya di mana, ya? ”, balas Ibu Anna menahan dokter yang berjalan keluar ruangan.
“ Anak Ibu ada di kamar sebelah. Ibu tenang saja, ya. Istirahat yang cukup, Bu. ”
Sekitar lima menit setelah dokter keluar dari ruangan, Ibu Anna berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Ia tampak kesulitan untuk mengangkat badannya sendiri. Namun, ia tetap memaksa untuk berdiri. Dengan perlahan namun pasti, ia berhasil untuk berdiri. Ia mulai mengambil langkah pendek. Tangannya mencoba untuk mencapai pegangan yang ada di dekatnya. Iapun berjalan keluar ruangannya. Iabu Anna bermaksud untuk melihat bayinya yang ada di kamar sebelah.
“ Ya Tuhan, inikah anakku? Inikah putraku? ”, kata Bu Anna dalam hati sambil menangis tersedu-sedu tanda senangnya hati Ibu ini.
“ Aku... Aku memberi Engkau nama Andi Gabriel Moses. Ya, nama yang cocok untukmu, anakku. ”, kata Ibu Anna sambil menatap bayinya yang sedang digendong.
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Ibu Anna dan anaknya, Andi meninggalkan rumah sakit. Ibu Anna sangat senang. Sukacita terpancar dari setiap senyumannya. Kini, ia tak sendiri lagi. Setelah bertahun-tahun hidup menyendiri, sekarang anaknya, Andi yang akan menemaninyaa. Lembaran baru dalam keluarga inipun dimulai.
****
“ Pagi, Mama! ”, sapa Ester yang baru bangun dari tidurnya.
“ Eh, Ester, pagi. Sini, Sayang. Duduk sama Mama. Kita sarapan sama-sama, ya. ”, jawab Mama Ester.
“ Papa mana, Ma? ”, tanya Ester sambil mengunyah sepotong roti yang ada dalam mulutnya.
“ Papa udah berangkat ke kantor, Ester. Papa banyak kerjaan hari ini. Makanya, dari tadi pagi, sebelum kamu bangun, Papa udah pergi. ”
“ Oh... Begitu ya, Ma. ”
“ Eh, Sayang, habis sarapan kamu langsung mandi, ya. Kamu kan harus sekolah hari ini. Nggak boleh telat, ya. ”, perintah Mama sambil mencium kening Ester dan kemudian mengambil tasnya untuk beranjak pergi.
“ Ya udah deh, kalau gitu, Mama pergi dulu, ya! ”
“ Ma, hati-hati, ya! ”
Ester adalah seorang anak perempuan dari Bapak Rudi dan istrinya. Sekarang, ia telah duduk di bangku SMA. Hubungan ayah dan ibu Ester kurang begitu harmonis. Sebabnya, mereka sibuk dengan masinh-masing pekerjaan di kantor. Hingga, terkadang Ester tidak sempat untuk bertemu dengan ayahnya dalam sehari. Ayahnya sering pulang larut malam, sedangkan Ester sudah terlelap. Keesokan harinya, ayah Ester sudah berangkat sebelum Ester bangun. Itulah mengapa Ester jarang bercerira dengan ayahnya. Ia hanya memiliki waktu bersama ayahnya pada hari Minggu, ketika mereka bersama-sama pergi ke gereja.
Malam harinya, ketika Ester sudah tertidur di kamarnya, ia mendengar suara teriakan. Entah dari mana asalnya, Ester tidak dapat mengetahuinya karena ia masih setengah tidur. Teriakan itu tidak kunjung berhenti, sehingga Ester pun terbangun dan terduduk. Ternyata, suara teriakan itu berasal dari kamar ayah dan ibunya.
“ Kamu apa-apaan sih? Selesai kerja bukannya langusng pulang ke rumah malah keliaran. Kamu ini nggak yahu diri, ya! Dasar, bapak tidak bertanggung jawab! Tiap hari kerjanya Cuma mabuk-mabukan! ”
“ Eh, maksud kamu apa? Apa maksudnya? Koq malah nagtur-ngatur aku? ”, jawab Pak Rudi yang dirinya masih mabuk.
“ Aku ini kepala keluarga di sini! Jadi, terserah aku mau ngapain! Yang cari uang aku, kan?! Yang penting anak bisa sekolah, kamu bisa makan, ya sudah beres! Apa itu masih kurang?! ”, tambah Pak Rudi dengan sombong.
“ Ya! Masih kurang! Tahu kamu! ”
“ Kurang? Kurang apa lagi? ”, tanya Pak Rudi pada istrinya.
“ Aku dan Ester kurang kasih sayang dan perhatian dari kamu! ”
“ Apa? Kasih sayang? Perhatian? Tahu apa kamu? Sudahlah nggak usah ngatur-ngatur aku! Aku udah malas diomelin terus sama kamu! Bukannya disambut baik-baik kalau suami di rumah, ini malah disemprot-semprot kayak gini! ”, kata Pak Rudi sambil menantang istrinya.
Istri Pak Rudi, Mama Ester hanya bisa menangis dan terus menangis mendengar perkataan kasar dari suaminya. Ia tidak tahan melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin liar saja.
“ Sudahlah, kita cerai saja! ”, kata Mama Ester sambil menangis.
“ Cerai? Ok! Kalau mau, besok kita urus perceraian kita! ”,jawab Pak Rudi cuek.
Suasana semakin panas. Seperti terjadi perang dalam rumah itu. Ester yang mendengar langsung pertengkaran orang tuanya tidak mampu menahan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia tidak menyangka sosok ayah yang ia bangga-banggakan ternyata berkelakuan buruk seperti itu. Ia justru merasa kasihan kepada ibunya yang harus tabah dan sabar menerima perbuatan ayahnya. Kejadian pada malam itu menjadi pukulan yang kuat bagi Ester. Semenjak malam itu, ayah Ester tidak pernah pulangke rumahlagi. Tinggallah Ester dan ibunya berdua di rumah. Ester yang mengerti keadaan keluarganya selalu menjaga kata-katanya kalau-kalau ada kata-katanya yang salah kepada ibunya.
Suatu hari, sepulang dari sekolah, Ester melihat rumahnya kosong. Mobil ibunya tidak ada di garasi. Mungkin ibunya belum pulang kerja. Saat Ester berdiri di depan gerbang rumahnya, mata Ester tertuju pada sebuah amplop yang terletak di teras rumahnya. Ia penasaran.Ester mengambil amplop itu dan membawa masuk ke rumah. Belum dia mengganti baju dan menyimpan tsnya, Ester langsung membuka dan melihat isi amplop itu.

RUMAH SAKIT SANTA MARIA
Jl. Jendral Sudirman No. 479
Jakarta Pusat
(021) 83435367


Kepada Yth.
Ibu Ratna
di tempat

Bersama surat ini, kami dari pihak Rumah Sakit Santa Maria ingin melaporkan hasil Medical Check Up (MCU) yang ibu lakukan pada tanggal 13 Maret 2007 lalu. Bahwa, hasil MCU yang kami peroleh, tanpa menambah ataupun mengurangi data dari MCU, Ibu Ratna diindikasikan mengidap penyakit kanker rahim. Untuk itu, kami memohon kesediaan dari Ibu Ratna untuk sesegera mungkin datang ke pihak Rumah Sakit Santa Maria supaya mendapat perawatan dan pengobatan yang lebih lanjut.
Atas perhatian dari Ibu, kami ucapkan terimakasih. Tuhan memberkati.

Jakarta, 1 April 2007


Rumah Sakit Santa Maria


“ Mama! Kenapa jadi seperti ini?! Tuhan! Kenapa Engkau biarkan Mama menerima penyakit ini?! Kenapa, Tuhan?! Engkau sungguh tidak adil! Ester tidak bisa menerima semua ini! ”, teriak Ester sekuat-kuatnya dalam kesendiriannya di tengah hari itu.
Sepanjang hari Ester menangis. Terus bertanya dalam hati, mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa keluarganya harus menderita seperti ini? Semenjak hari itu, Ester rasanya hilang pengharapan. Ia menjadi lebih banyak diam. Ia juga tak pernah menyinggung ataupun memberikan surat itu pada mamanya. Ester menyembunyikan surat itu dari sang bunda.
Kira-kira, tiga bulan setelah surat pemberitahuan dari rumah sakit itu, terjadi sesuatu pada Mama Ester.
“ Ester! Ester! Tolong Mama, Ester! ”, teriak Mama Ester.
Ester yang malam itu sedang belajar sesegera mungkin meninggalkan pelajarannya dan berlari menuju kamar ibunya.
“ Ada apa, Ma? ”, tanya Ester gugup. “ Hah? Apa ini? Kenapa bisa begini, Ma? ”
“ Ester, cepat bawa Mama ke rumah sakit! ”
Sambil menguatkan ibunya, Ester menopang badan mamanya ke mobil. Ester mengendarai mobil sekencang mungkin untuk sampai ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ester langsung membawa ibunya kebagian emergency rumah sakit.
“ Dok, tolong! Mama saya pendarahan! Tolong, Dok! Cepat! ”, kata Ester tergesa-gesa.
Dokter dan perawat lainnya langsung membawa Mama Ester ke kamar tindakan. Sementara itu, Ester langsung menghubungi papanya.
“ Pa, cepat ke sini! Tolong Mama! ”, teriak Ester.
“ Mama? Kenapa lagi memangnya Mamakamu? ”, balas Pak Rudi, Papa Ester.
“ Mama masuk rumah sakit, Pa! Mama pendarahan! ”
“ Hah? Yang benar? ”, balas Pak Rudi kaget.
“ Iya, Pa! ”
“ Ok... ok... Tunggu, ya! Papa segera ke rumah sakit ”, kata Pak Rudi menutup pembicaraan.
Dua puluh menit kemudian Pak Rudi tiba di rumah sakit dan langsung menemui Ester, anaknya yang sudah lama tidak ditemuinya.
“ Bagaimana Mama? ”, tanya Pak Rudi ketakutan.
“ Ester nggak tahu, Pa! Mama masih di dalam. ”, jawab Ester sambil menunjuk kamar tindakan.
Pak Rudi dan Ester terus menunggu dengan perasaan yang cemas, gelisah, dan takut. Mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Bu Ratna. Pak Rudi yang sering beradu mulut dengan istrinya, kini menangis sambil memeluk Ester, anak semata wayangnya.
“ Ma, Papa minta maaf. Papa salah selama ini, Ma. Papa memang bapak yang tidak bertanggung jawab. Papa bodoh, Ma. Papa sudah tergoda oleh dunia ini, sehingga Mama dan Ester tidak Papa perhatikan lagi sekarang. Papa Cuma bisa menyesali semuanya. Tapi, kenapaharus Mama yang seperti ini? Kenapa bukan Papa? Bukankah Papa yang berdosa? Tuhan, maafkanlah aku. Tolong ubah hidupku yang selama ini salah. Beri kekuatan pada istriku. Dia sungguh menyayangi dan mengasihi aku. Hanya aku saja, ya Tuhan, yang selalu tidak menerimakata-katanya. Tuhan, aku tidak mau kalau sesuatu terjadi pada istriku. Tolong pegang dia, Tuhan. Bantu dia keluar dari kesakitannya saat ini. Aku sungguh menyayanginya, Bapa. Sungguh... ”, begitu kata Pak Rudi dalam hatinya sambil menangis.
“ Bapak Rudi, ya? ”
“ Ya, Dok. Saya. ”
“ Maaf, Pak. Bisa ke ruangan saya sebentar? ”
“ Saya boleh ikut, Dokter? ”, sambung Ester.
“ Oh, boleh. Ayo. ”, jawab dokter.”
Hati Pak Rudi dan Ester semakin kacau saat dokter yang keluar dari kamar tindakanmeminta mereka untuk berbicara ke ruangannya tanpa memberi tahu kabar Ibu Ratna terlebih dahulu. Mereka semakin takut, sebenarnya apa yang terjadi pada Mama Ester.
“ Pak, saya sudah mengusahakan segala cara. Saya sudah mengerahkan seluruh tenaga... ”
Belum selesai dokter berbicara, Ester langsung berkata, “ Maksud Dokter apa? Bagaimana keadaan Mama saya? ”
“ Ya, ya, sabar, ya Nak. ”
“ Ester, kamu tenang dulu, ya. ”, kata Pak Rudi mencoba menenangkan anknya.
“ Saya sangat minta maaf. Sesungguhnya, sangat berat bagi saya untuk memberitahukannya. ”
“ Dok, kenapa? Kenapa Dokter berbicara seperti itu? ”, jawab Pak Rudi.
“ Istri Bapak tidak terselamatkan lagi, Pak. ”, kata dokter dengan nada lemah.
“ APA?! Dokter bercanda kan? ”, teriak Ester sambil membanting meja dokter di hadapannya.
“ Begini, pendarahan yang terjadi pada Ibu Ratna sudah sangat parah dan sepertinya sudah lam terjadi. Ibu Ratna banyak kekurangan darah. Sesudah diperiksa, ternyata pendarahan itu terjadi karena adanya kanker pada rahim Ibu Ratna. ”
Mendengar penjelasan dokter, Ester menjadi semakin sedih. Ia teringat akan surat kiriman dari rumah sakit yang memvonis bahwa ibunya terkena kanker rahim. Ester mengambil dompet dari saku belakangnya, mencoba mencari surat itu. Iapun memberukan surat itu pada papanya sambil terus menangis.
“ Ya, Tuhan! Ampunilah aku, Tuhan! Selama ini aku memang salah! Aku berdosa, Tuhan.”, teriak Pak Rudi sejadi-jadinya saat membaca surat itu.
Setelah kematian istrinya, Pak Rudi berubah total. Ia meninggalkan seluruh kehidupan lamanya. Ia kini telah bertobat. Pak Rudi menjadi pelayan di gerejanya. Ia banyak menghaiskanwaktunya untuk melayani di gereja dan berdoa. Kini, hanya tinggal mereka berdua, Pak Rudi dan Ester. Setiap hari mereka selalu punya waktu untuk bercerita, khususbya pada malam hari mereka melakukan ibadah bersama. Sungguh, hidup mereka diubahkan.
****
“ Andi, kamu lagi ngapain ? ”, tanya Ibu Anna.
“ Ini, Bu, Andi lagi beres-beres. Lagi nyusun baju buat dibawa ke Jakarta nanti. ”, jawab Andi.
Kini 17 tahun setelah Andi lahir, ia sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA. Sebentar lagi, Andi segera menyelesaikan masa SMA-nya. Untuk itu, Andi akan mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta. Untuk meringankan beban ibunya selama ini, Andi bertekad untuk mendapatkan beasiswa selama kuliah nanti. Ia tahu, uang yang akan dikeluarkan untuk biaya kuliahnya nanti pasti sangat besar.
Sejak Andi duduk di bangku kelas 3 SMA, Ibu Anna semakin sering bersedih. Ia merasa sebentar lagi dirinya akan tinggal dan hidup seorang diri. Anak tunggalnya, Andi, yang telah lama menemani hidupnya kini harus melanjutkan sekolahnya yang lebih tinggi untuk masa depannya kelak. Sedangkan suaminya tidak ada di sampingnya sampai sekarang. Ada sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari Andi setiap kali Andi bertanya, di mana ayahnya, Bu Anna selalu menjawab bahwa ayahnya sedang bekerja di luar negeri untuk waktu yang lama. Andi yang sangat menyayangi ibunya, percaya bahwa ayahnya sedang bekerja dan suatu saat pasti ia akan kembali. Sesungguhnya, ada sesuatu yang telah terjadi pada masa lalu Ibu Anna.
“ Nak, kamu hati-hati ya di Jakarta. Jakarta nggak sama kayak kampung kita, lho. Jakarta itu ramai sekali. Nanti di Jakarta jangan lupa langsung ke rumah pamanmu. Jaga kesehatan, ya. Jangan lupa makan. Nanti kalau kamu sakit, cita-citamu untuk meraih gelar sarjana teknik gagal. Ini pegangan untuk kamu. ”, kata Ibu Anna sambil menyodorkan sejumlah uang kepada Am=ndi yang sebentar lagi harus pergi ke Jakarta.
“ Ya, Bu. Tenang saja. Andi bisa jaga diri. Ibu juga hati-hati ya di rumah. Ibu kan sendirian. Jangan khawatir tentang Andi. Andi pasti baik-baik saja. ”, balas Andi sambil menyalam tangan ibunya tanda pamit untuk pergi.
Singkat cerita, Andi diterima di perguruan tinggi favoritnya denagn meraih beasiswa penuh tanpa harus menanggung biaya apapun. Untuk itu, ia harus meninggalkan ibunya di kampung. Sebelum pergi untuk meninggalkan ibunya dalam waktu yang lama, Ibu Anna memberikan anaknya sebuah gelang dari emas putih yang sangat indah.
“ Nak, ini untuk kamu. Dijaga, ya. ”, kata Ibu Anna sambil menahan air matanya.
“ Untuk apa ini, Bu? ”
“ Sudah, kamu pegang saja. Itu kenang-kenangan dari Ibu. ”
“ Begitu, ya Bu. Terimakasih, ya. ”
“ Ya sudah. Kamu pergi sana, nanti malah ketinggalan kereta lagi. ”, kata Ibu Anna yang sebenarnya belum kuat melepas ank tunggalnya.
“ Iya, Bu. Hati-hati juga, ya. Nanti, Andi sering-sering telepon ke rumah. ”
“ Iya, iya. Kamu jaga diri. Jangan buat paman susah, ya. ”
“ Iya, Bu. Kalau begitu, sampai ketemu lagi, ya Bu. ”
“ Iya, Nak. ”, kata Ibu Anna sambil memeluk dan mencium anaknya.
“ Satu lagi. Jangan lupa berdoa. ”, tambah Ibu Anna dengan berbisik pada telinga Andi.
****
Sesampainya di Jakarta, Andi yang tinggal bersama dengan pamannya mulai belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Semuanya serba baru,. Untuk itu, Andi yang datang dari kampung merasa terkejut melihat keramaian dan kemegahan kota Jakarta. Besok, adalah hari pertama kuliah di kampus barunya. Malam harinya, ia mempersiapkan semua yang akan dibawanya saat kuliah.
“ Andi bagaimana? Besok sudah siap? ”, tanya paman yang tiba-tiba masuk kek kamar Andi tanpa mengetok pinti terlebih dahulu.
“ Sudah, Paman. Beres semua. Tinggal berangkatnya aja besok. ”, jawab Andi.
“ Ya, baguslah. Cuma, ingat! Ini Jakarta, Andi. Kota yang sangat ramai. Kamu harus ekstra hati-hati. Perhatikan barang bawaan kamu. Jangan sampai dijambret. Soalnya, di sini banyak penjambret. ”
“ Oh, aman, Paman. Andi juga nggak bawa apa-apa. Cuma buku, alat tulis, sama uang ongkos. Buat makan siang kan bisa di rumah. Andi nggak bawa uang banyak-banyak, Paman. ”
“ Ya,baguslah. Andi, Paman juga mau ingati kamu, di sini kamu harus hati-hati sama teman-teman kamu. Di Jakarta banyak anak-anak kuliah yang menjadi pecandu narkoba. Janagn sampai kamu terjebak oleh mereka. Janagn pernah mau terima ajakan dan tawaran mereka. Yang penting kamu harus bijaksana. ”
“ Ok, Paman. Beres! Paman tenang saja! ”, jawab Andi mantap.
Hari demi hari, bulan demi bulan, Andi lewati dengan lancar. Tidak ada hambatan yang cukup berat selama ia kuliah. Andi pun tidak pernah lupa untuk berdoa ataupun pergi ke gereja. Sesibuk apapun Andi, setiap malam ia menyisihkan waktunya untuk membaca alkitab dan membuat renungan. Ia juga tidak pernah lupa untuk menginformasikan kabarnya kepada ibunda tercinta di kampung. Ibunya pun sangat gembira mendengar berita gembira dari anak tunggalnya itu.
Selama berkuliah, Andi juga aktif dalam organisasi pemuda di gerejanya. Ia sangat ingin melayani orang lain. Ia berprinsip, bahwa Andi dapat seperti sekarang hanya karena kasih karunia Tuhan. Tanpa kehendak dari Tuhan, ia tidak mungkin bisa berkuliah, apalagi denagn beasiswa. Untuk itulah, sebagai tanda terimakasih dan syukurnya kepada Tuhan, Andi mengambil bagian dalam organisasi pemuda di gereja tempat ia beribadah untuk menolong orang lain.
Di gereja, ia mengenal seorang wanita cantik yang seumuran dengan dia. Kira-kira tiga tahun lebih tua dari Andi. Sebetulnya, telah lama Andi menaruh perasaan hatinya pada gadis cantik berambut panjang itu. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia tetap mau fokus terlebih dahulu pada studinya. Walaupun seperti itu, Andi tetap berhubungan baik dengan wanita itu. Bahkan, Andi sering bercerita dengan dia. Saling berbagi satu dengan yang lain. Andi menceritakan bagaimana masa kecilnya dulu yang harus kehilangan sosok seorang ayah karena harus bekerja ke luar negeri. Wanita itupun menaruh perhatian yang spesial untuk Andi. Ia juga menceritakan bahwa ia hanya hidup dengan ayahnya. Jadi, mereka berdua dapat saling merasakan perasaan satu dengan yang lain.
****
Dua tahun masa kuliahnya telah berjalan. Tidak terasa waktu terus berjalan tanpa pernah mau berhenti ataupun berbalik arah. Andi telah memiliki banyak teman di kampusnya. Ia dikenal sebagai seorang mahasiswa yang sangat pandai, baik, dan penuh kerja keras. Semua tugas yang diberikan dosen-dosen yang mengajarnya dapat diselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan selalu memperoleh nilai A. Semua teman di kampusnya senang kepada Andi. Andi sangat dikenal di seantero kampus tempat ia berkuliah.
Ada sekumpulan teman Andi yang bernama Roy, Brian, dan Sam. Di kampus mereka terkenal sebagai komplotan mahasiswa nakal. Jarang masuk kampus, dan kerjanya hanya nongkrong di kantin kampus. Mereka tidak pernah peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kampus. Gaya hidup mereka sangat memprihatinkan. Mabuk-mabukan, merokok, dan bahkan pecandu narkoba. Namun, Andi tetap mau berteman dengan mereka. Andi tidak pernah memilih-milih kawan. Andi mengerti bahwa ia harus menjaga dirinya dan waspada terhadap ketiga temannya ini. Andi tetap membuka tangannya kepada mereka. Andi pun dengan bijaksana menasehati mereka supaya mereka mau bertobat dan tidak terikat dengan barang-barang haram itu. Tapi, apa daya. Andi harus terjebak pada omong kosong mereka.
“ Di, kamu mau nggak coba ini? ”, kata Roy sambil menyodorkan sebungkus heroin pada Andi.
“ Ya, Di. Coba aja dulu. Rasanya enak banget. Seru pokonya. ”, tambah Brian mencoba membantu Roy untuk mrnggoda Andi.
Setelah melakukan berbagai macam cara, akhirnya bujuk rayu mereka membawa hasil. Andi yang awalnya mencoba terus untuk menolak sekarang justru menjadi tertarik dan ingin mencoba bagaimana rasa dari heroin itu. Awalnya sedikit. Namun, semakin ia merasakannya, semakin menjadi rasa untuk mencicipnya lagi. Andi pun meminta kepada mereka sejumlah heroin itu. Andi semakin menikmatinya. Bahkan hingga saking banyaknya heroin yang dikonsumsi Andi, jalannya menjadi sempoyongan.
Semenjak Andi memberikan dirinya pada narkotika, hidupnya mulai berubah. Diawali dengan sikapnya yang menjadi aneh. Suka menyembunyikan diri dan terkadang hingga suka mengkhayal. Andi yang dikenal sebagai seorang pemuda yang taat beribadah, kini jarang pergi ke gerejanya. Ditambah lagi dengan prestasi kuliahnya yang kian buruk. Penampilannya yang berubah menjadi acak-acakan dan tidak karuan semakin menjadikan pandangan orang lain terhadap Andi berubah. Andi semakin jarang hadir dalam kelas. Dan apa yang ia lakukan? Ia mencoba untuk mencari bandar narkoba supaya dapat membeli dan kemudian mengkonsumsinya. Gelagat ini menuntut kampus tempat Andi berkuliah mengambil tindakan. Seluruh beasiswanya ditarik. Keadaan ini bukan menyadarkan Andi, justru ia masa bodoh dan tidak memikirkan sama sekali bagamana masa depannya nanti.
Ibu Anna yang ada di kampung sudah lama tidak mendengar kabar dari buah hati satu-satunya. Setiap hari ia terus menunggu telepon rumahnya berdering berharap Andi meneleponnya. Namun, hingga sebulan lebih telepon dari Andi tak kunjung datang. Sementara itu, Andi yang semakin kecanduan dan semakin ketergantungan pada obat terlarang itu mulai memikirkan cara-cara supaya dapat terus mengkonsumsi obat-obatan itu. Ia menjual barang yang ia miliki. Sikap Andi yang semakin aneh dari hari ke hari menbuat pamannya curiga, apa yang sebenarnya terjadi pada Andi. Hingga pada suatu hari, Andi kedapatan sedang merintih kesakitan di tempat tidurnya.
“ Aduh... Sakit... Mana obatnya? ”, kata Andi menahan sakit. “ Mana?! ”, teriak Andi semakin keras.
Karena tidak dapat menahan rasa sakit itu lebih lama lagi, Andi mulai menyilet kulit di lengannya dan kemudian menghisap darahnya sendiri.
“Ah, sakit! Obat! Obatnya mana?! ”, Andi berteriak keras hingga akhirnya terdengar oleh pamannya.
Pamannya yang sedang membaca koran di teras rumah langsung berlari ke kamar Andi. Tapi, pintu kamar Andi terkunci.
“ Andi! Buka pintunya! ”, perintah paman. “ Cepat buka! Kamu kenapa, Andi? ”, tanya paman dengan suara keras.
“ Sakit, Paman! Sakit! ”
Karena lama menunggu Andi membuka pintunya, akhirnya paman langsung mendobrak pintu kamarnya. Di kamarnya, Andi sedang tergeletak di sudut kamarnya. Ia menggerutu tak berdaya. Dengan segera, paman membawa Andi ke rumah sakit.
“ Dok, tolong! Keponakan saya sedang kesakitan! ”, lapor paman.
“ Ini ada apa ya, Pak? ”, tanya dokter lembut.
“ Saya juga kurang tahu, Dokter. Saya melihat dia di kamarnya sudah merinding-merinding seperti ini, Dok ”, kata paman memberi keterangan.
Kebetulan, saat itu Ester bersama papanya sedang ada di rumah sakit menjenguk teman gerejanya yang sedang diopname.
“ Eh, siang, Pak Pendeta. ”, sapa paman.
“ Bapak. Ada keperluan apa di sini? Siapa yang sakit? ”, jawab papa Ester sambil menjabat tangan pamannya Andi.
Semenjak bertobat dan melayani di gerejanya, Pak Rudi diangkat oleh gereja menjadi pendeta bagi jemaat di gerejanya.
“ Begini, Pak. Saya juga kurang ngerti. Si Andi. ”
“ Lho, ada apa dengan Andi, Om? ”, tanya Ester penasaran.
“ Andi tadi seperti merinding, terus kayaknya dia merasa sangat kesakitan di rumah. Saya kurang tahu kenapa bisa seperti itu. Langsung saja saya bawa ke rumah sakit. ”
“ Begitu, ya. Sekarang Andi di mana, Pak? ”, tanya Pak Rudi.
“ Andi sedang di rawat, Pak ”, jawab paman sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah ruangan emergency.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya hasil diagnosa dokter keluar. Pak Rudi dan Ester masih setia menunggu dan menemani pamannya Andi. Sebelumnya, paman telah menceritakan semua yang terjadi pada Andi. Perubahan-perubahan yang sangat aneh terjadi padadiri Andi belakangan ini. Ester juga menambahkan keterangan bahwa Andi sudah semakin jarang pergi ke gereja. Sampai saat ini, paman Andi belum tahu bahwa Andi sudah dikeluarkan dari kampusnya karena tidak sanggup membayar yang kuliah sesudah beasiswanya ditarik kembali.
“ Pak, begini, keponakan Bapak ini ternyata sudah overdosis. ”, kata dokter.
“ Maksudnya overdosis? ”, tanya paman aneh.
“ Andi sudah kecanduan narkoba, Pak. ”
“ Apa? Kecanduan narkoba? Ternyata benar dugaan saya selama ini. ”, kata paman.
Mendengar itu Pak Rudi menjadi prihatin, dan Ester pun menjadi sedih.
Dengan segera, pamannya Andi menghubungi Ibu Anna yang ada di kampung dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Mendengar cerita itu, Ibu Ana hanya bisa menangis dan bersedih, mengapa Andi bisa seperti itu. Paman pun meminta kepada Ibu Anna untuk segera datang ke Jakarta melihat kondisi Andi yang sedang melawan sakit. Ibu Anna pun memberi tahu paling lambat dua hari, ia sudah berada di Jakarta.
Selama satu malam itu, Pak Rudi dan anaknya menemani Andi yang sedang terkulai lemas menahan sakit. Mereka saling mendoakan Andi, supaya Andi diberi kekuatan oleh Tuhan agar ia dapat melewati dan memenangkan rasa sakit yang luar biasa itu. Ketika tangan kanan Pak Rudi hendak menjamah tangan kanan Andi, Pak Andi melihat sesuatu yang memutar ingatannya pada masa lalunya. Ya, gelang emas putih yang dipakai oleh Andi. Ternyata itu benar.
Keesokan harinya, Ibu Anna tiba di Jakarta. Ia tidak dijemput oleh pamannya Andi karena paman masih harus menjaga Andi di rumah sakit. Dengan menggunakan taksi, Ibu Anna pergi ke rumah sakit tempat Andi dirawat. Sesampainya di rumah sakit, Ibu Anna segera menuju bagian informsai rumah sakit menanyakan keberadaan anaknya di rumah sakit itu. Pihak rumah sakit pun membenarkannya dan langsung memberi tahu kamar tempat Andi dirawat. Dengan langkah yang terburu-buru Ibu Anna segera menuju ke kamar anaknya.
“ Selamat pagi. ”, sapa Ibu Anna ke dalam kamar Andi tempat ia dirawat sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam. Takseorang punyang menyahut salam dari Ibu Anna. Ibu Anna pun kembali menyapa, “ Selamat pagi. Ada orang di dalam? ”
Pintu kamar pun terbuka. “ Eh, Anna. Apa kabar? ”, sapa paman Andi dengan tersenyum.
“ Hei, Jack. Lama tidak ketemu. ”, balas Ibu Anna sambil bersalaman dengan adiknya, Jack.
“ Ya, beginilah sekarang keadaan anakmu. ”, kata Jack, paman Andi, membuka pembicaraan.
Ibu Anna mulai meneteskan air mata. Ia tidak tega dan tidak tahan melihat anaknya, Andi terbaring di atas tempat tidur dengan tidak sadarkan diri.
“ Sebenarnya, bagaimana kondisi Andi Jack? ”, tanya Ibu Anna mencoba menggali informasi.
“ Ya, seperti yang aku talah ceritakan padamu. Ia kecanduan narkoba. Karena sudah overdosis, beginilah akibatnya. ”, kata Jack pelan. “ Tapi, kamu patut berterimakasih kepada pendeta gereja Andi yang selalu medukung dan memberi kekuatan serta penghiburan bagi Andi. Tanpa ada dia, mungkin diri Andi belum tenang sampai sekarang. ”, tambah Jack.
“ Pendeta? Siapa? ”, tanya Ibu Anna penasaran.
“ Sudahlah, nanti kamu lihat saja sendiri. Nanti malam dia ke sini. ”
Andi yang masih terbaring lemas tidak menyadari bahwa ibunya sudah ada di sampingnya. Hingga akhirnya ia terbangun dan langsung memanggil ibunya.
“ Ibu... ”, kata Andi lemas.
“ Andi, kamu sudah sadar? Ibu di sini, Nak. ”, kata Ibu Anna sambil mencium tangan kanan anaknya yang sedang diinfus. “ Kamu baik-baik saja kan, Nak? ”, tanya Ibu Anna.
“ Bu, Andi minta maaf, ya. Andi salah, Bu. Andi gagal meraih cita-cita Andi. Andi malah terjerumus. ”, kata Andi mencoba menjelaskan.
“ Sudahlah, Nak. Tidak usah dipkirkan lagi. Yang penting kamu tetap sehat dan selamat.”
“ Bu, Ayah mana? ”
“ Ayah? ”, Bu Anna tidak mengerti.
“ Iya. Andi sudah bertemu dengan Ayah. ”
Ibu Anna kaget dan langsung heran mendengar perkataan anaknya. Suaminya yang sudah lama ia tidak jumpai bisa justru bisa bertemu dengan Andi, anak yang ditinngalkannya.
“ Ayah belum pulang. Dia masih di luar negeri. ”, kata Ibu Anna menjelaskan.
“ Bu, Ayah sudah pulang. ”
“ Sudah, Nak. Kamu istirahat saja dulu, ya. Supaya kamu cepat sembuh. ”, pinta Bu Anna menenangkan Andi.
Saat itu jam tepat menunjukkan pukul 07.00 malam. Pak Rudi bersama Ester datang ke rumah sakit untuk kembali menjenguk Andi.
“ Selamat ma...”, belum selesai Pak Rudi mengucapkan salam ia terkejut melihat sosok yang membukakannya pintu.
“ Anna? ”
“ Rudi? ”
“ Mama. Ini Ester, Ma. ”, kata Ester langsung memeluk Ibu Anna.
“ Bu, itu ayah, kan? ”, tanya Andi.
“ Rudi, akhirmya kamu kembali juga. Sudah sekian lama. Bertahun-tahun aku menunggumu kembali ke rumah, ternyata di rumah sakit ini kita kembali bertemu. ”, kata Ibu Anna sambil menahan tangisnya.
“ Anna, aku minta maaf, ya. Sudah lama aku tidak kembali dan meninggalkanmu berdua bersama Andi. ”
Ternyata Pak Rudi dan Ibu Anna adalah pasangan suami istri yang dikarunai dua orang anak. Andi dan Ester. Ester adalah anak pertama dari mereka. Kemudian, ketika Ibu Anna sedang hamil akan Andi, ia harus pergi ke luar negeri untuk bekerja. Ia pun membawa Ester pergi. Sejak kepergian suaminya, Ibu Anna beranjak pindah ke kampung halamnnya. Di sana ia berkumpul bersama keluarganya. Dan kelahiran Andi pun tanpa sepengetahuan Pak Rudi.
“ Anna, aku tahu Andi adalah anakku dari gelang yang dipakainya.”, kata Pak Rudi.
Bu Anna langsung teringat sesaat Andi akan berangkat ke Jakarta dan ia memberikan gelang emas putih kepada Andi yang bertuliskan ‘ AN ‘. Ternyata Ibu Anna dan Pak Rudi memilik gelang yang sama. Namun bedanya, gelang Pak Rudi bertuliskan ‘ DI ‘. Maka, saat malam Pak Rudi mendoakan Andi ia langsung teringat akan kenangannya bersama Bu Anna.
“ Ini gelang milikku. ”, kata Pak Rudi sambil menunjukkan gelang miliknya. “ Kamu masih ingatkan? ”, tanya Pak Rudi pada Bu Anna.
Pak Rudi langsung memeluk Bu Anna dengan rasa gembira. Ester yang ikut senang pun ikut tersenyum melihat papa dan mamanya yang sekarang telah bersatu. Andi yang tadinya sedang terbaring tak berdaya ikut gembira dengan bertepuk tangan melihat ayah dan ibunya yang sedang berpelukan.
Dan, wanita yang disukai oleh Andi di gerejanya adalah kakak kandungnya sendiri, Ester. Walaupun demikian, Andi tetap menyayangi Ester sebagai kakaknya.
Ya, kini mereka semua telah dipersatukan kembali. Suatu keluarga yang dulunya harus terpisah karena sebuah kepentingan sekarang telah dipertemukan kembali oleh Tuhan. Melihat kehadiran orang tuanya yang kini telah lengkap, perlahan-lahan Andi bangkit dari penyakitnya dan sembuh dari jerat obat terlarang yang telah merusak hidupnya. Sekarang, mereka semua mengabdikan diri kepada Tuhan dengan melayani di gereja. Mereka juga membangun sebuah panti asuhan untuk menanpung anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua lagi atau anak yang ditinggalkan orang tuanya. Hidup mereka kini telah diubahkan. Suatu keluarga yang sangat harmonis. Pak Rudi dan Bu Ester disibukkan dengan mendidik dan membimbing jemaat di gerejanya. Sementara itu, Andi dan Ester tetap aktif dalam organisasi pemuda yang mereka pimpin.
Ini adalah sebuah kisah yang dapat menguatkan dan memberikan kita suatu nilai tentang betapa berharganya keluarga. Hendaknya di dalam keluarga, kita dapat saling mengerti dan saling menolong satu dengan yang lain. Bahwa sesuatu yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Dan akan selalu ada pengampunan dosa bagi semua orang yang membuka diri akan dosa-dosanya dan mau bertobat. Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwa rancangan yang dimiliki oleh Tuhan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, dan rancanganNya adalah rancangan yang membawa damai sejahtera, bukan rancangan yang membawa kecelakaan. Selalu ada pintu pertobatan bagi setiap kita. Maka ketika kita telah bertobat, Tuhan akan mengubah total hidup kita. Itulah manusia baru.

2 komentar:

  1. Setelah Gue baca cerpen kamu....
    ternyata ada nama gue juga ye......

    BalasHapus
  2. Kunjungin Blog Gue Juge ye....

    ^_^ Mana tau kamu juga mau lihat-lihat.....

    heheheheeheheheheh

    salam kenal ye....

    BalasHapus