Tahun-tahun berlalu, dua anak yang datang pada hari yang sama ini cepat menjadi akrab. Mereka sering berjalan-jalan bersama, mengunjungi tempat-tempat yang asing di sekitar panti, saling berbagi banyak hal yang mereka temukan, bahkan mereka juga merayakan ulang tahun secara bersamaan, hal itu wajar jika mengingat mereka datang pada hari yang sama, hari kedatangan itulah yang diputuskan menjadi hari ulang tahun mereka.
Tapi, sayangnya, Xira akhirnya akan diadopsi, tepat ketika hari ulang tahunnya yang ke-7. Tentu saja itu berarti perpisahan. Awalnya, dia terus menolak, menolak, dan menolak. Bahkan, Bu Astri sebenarnya juga tidak tega, tapi masalahnya yang akan mengadopsi Xira adalah teman baiknya dan Bu Astri pernah berhutang budi padanya. Sekarang, istrinya sedang sakit, pikirannya kacau karena keguguran, untuk itulah sekarang temannya ini ada disini, memohon padanya agar Xira dapat menjadi anak angkatnya.
Dengan berbagai bujukan, Xira akhirnya bersedia dengan syarat Bu Astri harus berjanji akan menjaga Jasmine dengan baik dan mencarikannya keluarga yang sungguh tulus menyayanginya. Tepat di hari ulang tahun mereka, saat dimana 5 tahun lalu mereka pertama kali bertemu di pintu panti dan sekarang, yang dulu menjadi awal pertemuan kini menjadi waktu perpisahan.
Xira dan Jasmine tentu saja sama-sama sedih. Xira hanya sempat mengucapkan salam perpisahan, karena setelah itu Jasmine langsung berlari ke kamarnya sambil menangis. Xira berusaha sekuat tenanga menahan air matanya, karena dulu Bu Astri pernah bilang padanya, bahwa dia tidak boleh menangis, tidak boleh cengeng, karena dia itu kuat, karena dia adalah Xira.
Xira mulai membereskan barang-barangnya karena sia-sia usahanya untuk memanggil Jasmine keluar. Pria itu juga sudah menunggu disana, menunggu sampai Xira selesai dengan urusannya. Awalnya Xira sempat ragu, tapi melihat senyum tulus pria itu dan matanya yang penuh dengan harapan dan semangat baru, Xira akhirnya memutuskan untuk memantapkan hatinya, karena ini adalah keputusannya.
Xira masuk ke dalam mobil bersama orang tua barunya. Tepat di persimpang jalan, Xira melihat Jasmine dari kejauhan.
“Menangislah kalau kau mau. Buat apa di tahan seperti itu.” Xira menoleh, pria di sampingnya yang berbicara. Dia tidak mampu lagi membendung air matanya. Akhirnya, untuk pertama kali yang mampu diingatnya, inilah tangisannya.
Pria di sampinya hanya tersenyum penuh pengertian sambil menyodorkan tisu untuknya. Itulah kasih sayang orang tua pertama yang diterimanya.
***
10 tahun kemudian. . .
Inilah aku sekarang, berada disini. Siapa sangka, anak dari keluarga biasa-biasa sepertiku bisa masuk ke SMA Bintang Harapan. Hari pertama, jangan sampai ada kesalahan. Sebentar lagi, pasti akan masuk, aku harus cepat-cepat mencari kelasku.
Brukkk. . . ., tapi sayangnya aku justru menabrak seseorang.
“Maaf. . . Aku sedang buru-buru.”, ujarku sambil buru-buru membantunya membereskan bukunya yang berserakan.
“Tidak perlu.” ucapnya agak ketus sambil menarik buku-bukunya dari tanganku. Apa-apaan dia? Padahal, aku berniat untuk menolongnya, lagipula aku tadi sudah minta maaf.
“Sekali lagi maaf.” Sekarang dia berdiri, aku dapat melihat wajahnya, dan tunggu sebentar, apa itu, yang ada di lehernya, mirip sekali dengan kalung milik. . . Xira? Ya Tuhan, itu pasti bukan Xira,
Dia hanya menatapku dengan ekspresi seolah-olah mengatakan ‘Hah? Siapa kamu?’. Dia lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Aku yakin, pasti, pasti, dia bukan Xira. Kalung seperti itu
Aku mencoba melupakan kejadian tadi, lalu kembali panik mencari kelasku. Untung saja, bel berbunyi tepat ketika aku telah mendapatkan tempat duduk. Awal yang melelahkan untuk memulai hari.
Sama seperti sekolah-sekolah pada umumnya, awalnya masih ada yang canggung tentu saja, guru-guru baru, teman-teman baru, pelajaran baru, dan suasana baru. Aku berusaha untuk menjalaninya karena bagiku kehidupan sekolah hampir tidak ada apa-apanya dengan kehidupan dunia nyata yang aku alami.
“Jasmine. . ., mau ke kantin? Aku sendirian.” ucapnya. Dia adalah Reine, teman baruku. Anaknya benar-benar menyenangkan, ceria dan membuat sekitarnya seperti
“Iya, tunggu sebentar, ya.” Aku segera melangkah menyusulnya.
Sesampainya, di kantin suasana yang lagi-lagi sama yang aku temui, penuh dan ramai, pembicaraan ada dimana-mana. Aku hanya menemani Reine, buat apa aku beli makanan di tempat yang harga air mineral saja bisa naik 2 kali lipat.
Antrean di sekitar kami mulai agak penuh, aku segera mencoba menyingkir, tapi, ada-ada saja, lagi-lagi aku bertemu dengannya dan parahnya kali ini sampai menumpahkan minuman yang sedang dibawanya.
“Ya ampun, maaf.” ucapku panik. Berbeda dengan tadi pagi, kali ini tatapan matanya benar-benar menyeramkan. Dia lalu pergi meninggalkanku. Untung saja dia tidak berkomentar apa-apa.
Akhirnya, setelah menjalani sisa waktu di sekolah, bel berbunyi juga. Aku benci mendengarnya, benci sepenuh hati, karena sebentar lagi, kehidupan nyataku akan dimulai.
Seperti biasanya hari ini juga aku pulang dengan berjalan kaki, aku bukan melangkahkan kakiku ke pusat perbelanjaan, juga buka ke café ataupun ke kawasan perumahan elit, tapi aku melangkahkan kakiku ke daerah itu, daerah yang setiap harinya akan sering sekali melihat orang bertengkar, mabuk-mabukan, berjudi, atau memakai narkoba. Mengerikan memang, tapi itulah daerah dimana aku tinggal.
Aku memalingkan wajah dari orang-orang sekitarku, kupercepat langkah kakiku. Akhirnya, sampai juga ke rumahku. Tapi, tampaknya keadaan di dalam sini tidak jauh lebih baik daripada apa yang aku lihat di luar
“Dasar anak tidak tahu diri. Bikin malu saja.” ucap ayah angkatku yang sedang mabuk sambil mengacungkan pecahan botol ke kakakku. Aku kaget, tepat ketika dia ingin melemparkannya ke kakakku, aku segera menahannya. Kuberikan uang sakuku yang tadi pagi diberikan oleh ibuku, tidak banyak memang, tapi kalau ayah sudah mabuk, uang berapapun akan membuatnya keluar dari rumah untuk sementara. Seperti biasa, dia pergi keluar sambil tertawa-tawa.
“Te. . . Terima kasih, terima kasih sekali. Tanpa kamu tadi, apa jadinya aku sekarang.” ucap kakakku yang tampaknya sudah sangat ketakutan. Aku miris melihatnya, keadaannya sekarang tampak lebih buruk.
“Maaf, kalau aku membuatmu malu.” ucapnya lirih. Sejujurnya, aku kesal padanya, ayah maupun ibu juga pasti kesal, tega-teganya dia bisa seenaknya hamil di luar nikah, padahal keluarga ini sudah banyak masalah. Tapi, melihat dia yang tampak sangat ketakutan, aku merasa kasihan juga. Padahal, dia itu sebentar lagi akan lulus SMA, akan lulus, tinggal sedikit lagi, tapi dia malah menghancurkan masa depannya sendiri, menghancurkan harapan keluarga ini.
Aku hanya memaksakan senyumku dan mengangguk. Aku tahu kalau keadaannya juga pasti buruk. Siapa coba yang mau mengalami rentetan peristiwa pahit seperi ini?
“Jasmine. . ., bisa kamu tolong hibur ibu, tadi ayah memukulnya lagi.” ucap kakakku. Aku kaget, sepertinya aku agak terlambat. Aku segera meletakkan tasku dan berlari ke kamar ibuku. Aku menghentikan langkah kakiku tepat di depan pintu kamar. Ya Tuhan, ibuku sedang menangis dalam diam.
“Ibu. . .” Dia melihat ke arahku. Sakit sekali rasanya menyaksikan orang yang telah membawaku dari panti itu tersiksa begini.
“A. . ada apa, sayang?” Dia tersenyum, tapi aku sudah sering melihat senyuman itu, senyum palsu, dia pasti sedang menangis dalam senyumnya itu.
“Jasmine hanya mau bilang terima kasih.” ucapku sambil berlari memeluknya. Saat itulah, dia menangis, menangis pilu. Hatiku benar-benar perih mendengarnya, tapi aku harus bertahan demi semuanya, terlebih demi diriku sendiri. Aku menemani ibuku selama beberapa menit.
“Ibu, permisi ya. Jasmine mau belajar dulu.” Dia mengangguk, dari matanya aku bisa melihat rasa bangga disana. Aku bersumpah, suatu hari nanti akan kubuat dia benar-benar bahagia.
Hari itu, aku membaca buku yang baru saja kupinjam dari perpuskaan. Isinya tentang pandangan lama soal kebobrokan moral generasi muda. Aku kesal, benar-benar kesal setelah membaca halaman-halaman awalnya. Tahu apa sih penulis buku ini? Dia pasti belum pernah menjalani kehidupanku, berada di posisiku, jika dia tahu masih banyak di antara kami yang susah payah berjuang, dia pasti akan menyesal telah menulis buku semacam ini. Salah besar menilai kami hanya karena ada beberapa remaja yang melakukan perbuatan menyimpang. Salah besar! Memangnya, sebegini bobrokkah moral bangsa? Bukankah banyak di antara kami anak yang baik, bermoral, kadang mungkin memang ada yang terkesan semrawut, tapi bukankan kita tidak tahu kehidupan yang dijalaninya? Kenapa melupakan remaja-remaja bermoral di luar
***
Sementara itu, sekarang ini anak laki-laki yang dikira Jasmine Xira tadi ternyata sedang ‘bersenang-senang’ bersama teman-temannya. Siapa sangka orang yang tampak kuat ini sekarang sedang merokok dan tampak botol-botol kosong alkohol dimana-mana. Oranng tuanya seperti biasa sedang pergi ke luar
“Gier, memangnya orang tuamu nggak tahu apa anaknya bersenang-senang?”
“Mereka lagi ada di luar. Jadi, pasti kita aman-aman disini.” ucap pemilik rumah santai. Teman-temannya tertawa untuk hal yang sama sekali tidak lucu.
Lewat tengah malam, ganja mulai diedarkan. Tapi, kali ini pemilik rumah menolak dengan halus. Dia kebal terhadap rayuan dan cercaan teman-temannya.
“Ayolah, masa pemilik rumah sendiri tidak ada niat mencoba? Sedikit saja.” ucap salah seorang anak jurusan Bahasa.
“Iya nih. Cobain deh, Gier. Nih. . .” ucapnya temannya yang lain sambil menyodorkan barang itu.
“Udah deh, aku ngantuk. Naik dulu ya, mau tidur. Kalau mau pulang terserah, kalau mau have fun juga diterima.” ucapnya lalu naik ke lantai atas. Terdengar seruan dari teman-temannya, tapi dia tidak peduli. Baginya, rokok oke, alkohol masih bisa diterima, tapi kalau sudah obat-obatan, jangan harap. Sampai kapan pun tidak berniat dia mencobanya.
Teman-temannya paham juga, sekali Gier tidak mau, pasti sampai kapan pun akan ditolaknya.
“Sudah, ya. Pulang dulu. Tuan rumahnya juga mau tidur. Besok juga kita sekolah.” ucap seorang anak lalu disusul oleh anak-anak yang lain.
***
Pagi ini, aku bangun karena mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Jam berapa ini memangnya? Aku melirik ke arah jam dinding tua itu, masih jam 5, kenapa berisik sekali?
“Ayah, sudah hentikan. . . .” terdengar sayup-sayup suara ibuku, bentakan-bentakan kasar ayahku, dan tangisan kakakku. Aku segera sadar, bangun dengan hampir melompat. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Aku segera berlari ke arah sumber suara.
“Dasar anak sialan!” bentak ayahku yang lagi-lagi sedang mabuk. Ibu berusaha sekuat tenaga menghentikan ayahku, tapi apa daya, justru ibu yang selalu kena pukul. Perasaan kesal, benci, sakit hati mengalahkan perasaan takutku. Aku segera pergi ke arah mereka, dengan langkah pasti. Kulayangkan satu pukulan ke arah ayahku, semua emosiku kupindahkan ke kepalan tanganku.
“Auw. . .” ayahku berteriak. Aku sudah tidak peduli, tidak peduli lagi. Buat apa hidup kalau hanya untuk disiksa olehnya. Maaf saja ya, hidupku ini jauh lebih berarti daripada hanya untuk menjadi sasaran pelampiasan amarahnya.
Ibu dan kakakku terdiam, kaget, mereka melihat ke arahku. Ayah segera pergi meninggalkan rumah setelah melempar barang terdekat yang bisa dijangkaunya. Aku tersadar, sebentar lagi hukuman sesungguhnya akan dimulai. Tidak terbayang rasanya kalau mereka berdua sampai marah. Nyaliku tiba-tiba hilang entah kemana, sepertinya aku mulai menciut di ruangan ini.
“Jasmine. . .” ucap ibu dan kakakku berbarengan. Aku tidak berani menatap mereka, aku hanya menundukkan kepalaku.
“Lebih baik kamu bersiap-siap pergi ke sekolah.” Hah? Aku kaget. Jauh di luar perkiraanku. Ibu menepuk pelan punggungku ketika dulu aku masih kecil. Aku sedikit lega, mereka sepertinya tidak membenciku.
***
Hari ini Bu Vera memberiku hukuman karena aku lupa membawa tugasku. Aku dimintanya untuk mewancarai Ketua OSIS, Gier, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam majalah dinding. Besok sudah harus dikumpulan, kalau tidak nilai tugas pertamaku akan kosong. Tentu saja aku kaget, aku sering mendengar bahwa mewawancarainya susahnya minta ampun dan ini harus dikumpulkan besok. Yang benar saja? Itu sama saja cara halus untuk membuatku kehilangan nilai.
“Reine dimana ya aku bisa menemui Gier?” tanyaku ketika istirahat.
“Biasanya ya, aku dengar sepulang sekolah dia sering pergi ke perpustakaan yang lama.” Terima kasih, Tuhan, setidaknya, ada petunjuk kecil, walau bagaimana pun juga aku harus bisa mewawancarainya demi nilaiku. Tidak peduli, kalau dia masih marah padaku, terserah, yang penting nilaiku tidak kosong.
Sesuai dengan informasi Reine tadi, sepulang sekolah aku segera bergerak ke perpustakaan lama, tidak ada orang, hanya ada penjaga perpustakaannya saja. Hal itu wajar saja, murid-murid lebih tertarik pergi ke perpustakaan baru yang ber-AC daripada jalan ke sini yang hanya dilengkapi dengan AC alam.
Aku menunggu di meja pojok yang agak tertutup oleh rak-rak buku sambil menyiapkan buku, alat tulis, dan pertanyaan yang akan kuajukan.
Tapi, dia tidak datang-datang juga. Sudah 30 menit aku menunggu disini. Jangan-jangan dia pergi ke tempat lain. Aku mengurungkan niatku untuk pergi ketika melihat Gier datang. Dia mengambil tempat agak ke pinggir. Aku bingung, dia sepertinya tidak datang untuk membaca, tapi untuk. . . Hah? Tidur?
Aku melangkah ke arahnya pasti setelah petugas perpustakaan keluar, entah mau ke mana, kalau begini, dibentak pun, kami tidak akan diusir.
“Permisi. . .” Tidak ada respon.
“Maaf, permisi. . . “ ulangku sambil menepuk pelan bahunya. Dia bergerak, lalu memandang ke arahku dengan malas.
“Maaf ya, mengganggu sebentar. Saya mau wawancara.” Tanpa ekspresi dia memperhatikanku, lalu tiba-tiba dia sedikit tersentak.
“Kamu
“Tunggu dulu. Aku ke sini ingin wawancara, bukan membuatmu kesal.” Dia tidak menjawab dan sepertinya tidak peduli. Dia segera melangkah pergi.
Aku sangat kesal. Siapa dia? Merasa sebegitu pentingkah orang ini? Tidak ada jalan lain, aku harus ke rumahnya, harus, daripada nilai tugasku kosong hanya karena orang seperti ini. Aku tidak rela, benar-benar tidak rela.
Aku segera mencari informasi ke Reine tentang alamatnya. Reine awalnya tidak tahu dan berjanji akan menghubungiku nanti jika dia mendapatkan alamatnya. Aku benar-benar berharap, menunggu dengan cemas.
“Jasmine. . . Aku dapat alamatnya. Ternyata kakakku Xenon, berteman akrab dengannya dari SMP.” ujarnya ceria ketika meneleponku.
“Yang benar? Kamu serius? Terima kasih ya, Reine. Kamu baik sekali. . Terima kasih.” ucapku senang.
“Santai, Jasmine. Aku temanmu, jadi wajar saja membantumu.”
Malam itu, aku segera bersiap-siap. Masih jam 7, pikirku, semoga dia belum tidur. Aku membawa serta buku dan pena yang kuselipkan di sakuku.
Ketika siang hari, daerah ini berbahaya, apalagi ketika malam, jauh lebih berbahaya lagi. Pemabuk dimana-mana, papan-papan judi mulai digelar, ketika malam daerah ini jauh lebih mengerikan.
Butuh perjuangan besar untuk sampai di jalan raya, butuh niat kuat, keyakinan penuh. Aku beberapa kali sampai sempat berkelahi, sejak tinggal di kawasan rawan begini, ilmu bela diri itu penting. Kacau, benar-benar kacau, hanya untuk tugas dan Gier itu aku harus berjuang antara hidup mati begini. Apakah pantas pengorbanan yang kulakukan ini?
Aku sudah tidak begitu peduli, lagipula sudah setengah jalan, tanggung kalau harus berhenti disini. Aku segera menyetop kendaraan umum yang masih tersisa. Kali ini, tidak boleh gagal, itu namanya sia-sia saja pengorbananku tadi.
Akhirnya, setelah 15 menit, sampai juga di rumahnya, besar memang, tapi kalau isinya orang menyebalkan seperti dia, itu sama saja. Setelah membayar ongkos, aku melangkah ke rumahnya.
Satpam yang menjaga hanya memasang wajah bingung, tapi tidak berkomentar apa-apa. Aku heran, di dalam banyak mobil dan sepertinya suasana di dalam benar-benar heboh. Apa aku datang pada saat yang tidak tepat, ya?
Ketika aku membuka pintu, terlihatlah hiruk-ikuk pesta, tapi ini bukan pesta ulang tahun atau semacamnya, karena yang aku lihat alkohol, rokok, dan ganja dimana-mana. Ini orang apa masih waras, ya?
“Gier. Aku mau bicara.” aku mengencangkan suaraku, musiknya terlalu keras.
“Apa?” ucapnya bingung.
“Gier. Ke. . cil. . .
“Apa?” Aku segera menariknya keluar, tidak peduli dengan protesnya dan tatapan teman-temannya.
“Maumu apa?” tanyanya ketika kami diluar.
“Aku hanya ingin wawancara. Itu saja.”
“Aku sudah menjawabnya, tidak mau. Apa kamu tidak mengerti, Nona?”
“Ini demi tugasku.”
“Ya itu urusanmu. Dasar aneh, mengganggu kesenangan orang saja.” Cukup sudah, aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku. Dia menolak wawancara, aku masih bisa terima, itu hak semua orang, tapi mengejekku aneh dan menyebut hal gila di dalam sebagai kesenangan, aku tidak bisa menerimanya.
“Kesenangan? Kamu katakan yang seperti itu yang disebut kesenangan?” ucapku jengkel.
“Bukan urusanmu. Pulang
“Mana orang tuamu?”
“Jangan bawa-bawa mereka.”
“Kenapa? Apa kamu tidak sadar akibatnya kalau mereka tahu hal ini?”
“Mereka tidak akan peduli!
“Apakah kamu masih berpikir waras?”
“Kamu tidak pantas menghakimiku. Kamu tidak tahu rasanya.”
“Tidak tahu? Kamu bilang tidak tahu? Jangan bercanda! Sejujurnya, aku pikir kamu yang tidak tahu. Kamu tentu saja tidak pernah melihat ibumu dipukuli oleh ayahmu yang mabuk, tidak pernah melihat orang terdekatmu mengalami kehamilan yang tidak diinginkan sehingga dia harus menentukan pilihan, tidak pernah keluar rumahmu dengan perasaan was-was apakah nanti kamu bisa selamat sampai jalan raya, tidak pernah,
“Kamu yang tidak tahu. Kamu tentu saja tidak pernah melihat seorang teman pergi darimu karena obat-obatan terlarang, karena perkelahian, kamu bahkan aku yakin, tidak pernah merasakan rasanya ingin melindungi teman-temanmu dari padangan sinis orang-orang. Iya,
“Tapi, begini caranya? Kenapa tidak bertahan saja? Aku yakin sekali, orang tuamu menaruh harapan yang besar padamu.”
“Aku
“Siapa bilang? Kadang, aku mau menyerah saja, tapi kalau mengingat teman-teman, diriku sendiri dan keluargaku, itu benar-benar hal bodoh. Karena orang seperti kamu ini generasi muda dicap memiliki moral yang kacau, karena hal-hal seperti inilah.”
“Maaf. . . Aku terlalu mengikuti emosi.” ucapnya lirih.
“Aku juga, mau minta maaf.” jawabku.
Entah dari kapan, teman-temannya ternyata dari tadi menonton kami. Mereka terdiam, memandang ke arah kami. Jujur saja, aku bingung. Memangnya ada apa ini?
“Terima kasih, ucapan kalian tadi benar-benar mengena di hatiku.” ucap salah seorang temannya, lalu melangkah pergi.
“Aku juga, pasti mama sedang menunggu di rumah. Aku harus segera pulang.”
“Aku juga. . “ Akhirnya, itu semua disusul dengan pernyataan pamit teman-temannya. Walaupun sedikit berlebihan, ada yang sampai memeluk kami bergantian, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Padahal, aku merasa tidak melakukan apa-apa.
Akhirnya, hanya tinggal kami berdua. Dia mengajakku berbincang di lantai dua karena keadaan bawah benar-benar berantakan.
“Baik. Sekarang apa pertanyaanmu?”
“Wah, terima kasih.” ucapku senang. Setidaknya, nilaiku akan terisi, bukan kosong sama sekali. Tapi, tiba-tiba saja ketika melihat kalungnya, pertanyaan yang sama datang lagi, apa dia itu Xira?
“Kamu beli dimana kalung itu?” tanyaku tiba-tiba. Dia kaget.
“Memangnya kenapa? Aku punya ini dari kecil.”
“Jangan bohong!” ucapku yang agak sedikit kesal.
“Siapa yang bohong. Dijawab, justru nggak percaya.”
“Kamu pasti bohong. Kalung ini bukannya pasaran. Aku hanya pernah melihat temanku memakainya.”
“Temanmu? Siapa?” ucapnya heran.
“Bukan urusanmu. Itu teman masa kecilmu. Kamu tidak akan kenal.”
“Te. . . Teman masa kecilmu? Ya sudah, siapa dia? Jawab pertanyaanku atau aku tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu.”
“Iya, iya, namanya Xira.”
“Xi. . . Xira? Siapa tadi, Xira? Kamu nggak salah?”
“Kamu sekarang yang tidak percaya. Aku serius.”
“Ka. . . kamu Jasmine ya?” Hah? Aku melongo mendengarnya, yang benar saja, tidak mungkin dia itu Xira.
“Kamu siapa?” tanyaku bingung.
“Ya ampun, Jasmine, ini aku Xira, Algierre Xira.” ucapnya senang.
“Xi. . . Xira? Kamu Xira? Jangan bercanda, ya.” ucapku bimbang, tapi melihat sikapnya, tampaknya dia jujur.
“Aku serius. Bagaimana kabar Bu Astri?” Ya Tuhan, dia memang Xira, Xira yang dulu, Xira sahabatku.
“Entahlah. Satu minggu setelah kamu diadopsi, aku juga mendapat orang tua baru.”
“Wah, kamu bahagia pasti.”
“Awalnya. . . Aku bahagia, mereka menyayangiku dengan tulus. Tapi, beberapa tahun kemudian ayah bangkrut, dia sekarang jadi suka mabuk-mabukan, suka memukul dan marah pada kami, keuangan keluargaku memprihatinkan, bahkan kakakku hamil di luar nikah. Kamu sendiri?”
“Mereka memang menyayangiku, tapi mereka sering sekali pergi ke luar. Aku jadi sendirian di rumah. Daripada bosan, aku sering mengadakan pesta seperti tadi. Sekarang, aku benar-benar menyesal. Mereka pasti kecewa kalau tahu.”
“Sudahlah, yang penting kamu mau berubah.” ucapku dibuat seceria mungkin.
“Lalu kamu? Oh ya, boleh aku lihat kalungmu? Dari dulu, aku sangat tertarik dengan kalung itu.”
“Tentu saja” ucapku sambil menyerahkan kalung yang kukenakan ke Xira. Ia menatapnya dengan pandangan mata berbinar.
“Ini.” katanya sambil menyerahkan kalungku setelah puas menatapnya.
Setelah berbincang dan melakukan wawancara dengan Xira, aku pamit pulang. Dia menawarkan mengantarku pulang dan tentu saja kuterima. Kuberi tahu arah rumahku, dan Xira yang mengemudinya.
Tapi, aku dan Xira sama-sama terkejut. Daerah ini telah dikepung api. Bagaimana ini? Keluargaku disana. Aku ingin kesana, tapi kutahu mustahil, api ada dimana-mana.
“Apa-apaan ini? Bagaimana Xira? Aku bingung.” ucapku panik.
“Tenang, Jasmine. Begini saja, bagaimana kalau malam ini kamu tinggal di rumahku dulu, nanti keesokan paginya, aku akan menemanimu mencari keluargamu.
“Tapi, Xira. . .” Aku sudah tidak kuat membendung air mataku, aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.
“Sudah, kita ke rumahku saja dulu.” Xira tidak menunggu lagi, dia langsung mengajakku masuk ke dalam ketika kami sampai. Aku masih bingung, semuanya terasa aneh.
“Ini kamarmu. Istirahatlah. Kalau perlu sesuatu, panggil saja aku.” ucapnya sambil menunjukkan kamar sementaraku. Aku mengangguk.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Tidurlah yang nyenyak.”
“Terima kasih, Xira. Terima kasih.” Xira hanya mengangguk, lalu melangkah pergi.
Aku menatap langit-lagit kamar ini, ingin rasanya aku menangis, ini rasanya benar-benar mustahil. Padahal, aku sudah mendapatkan keluarga, kenapa mereka harus pergi lagi? Jangan sampai hal itu terjadi. Semoga saja, aku bisa bertemu lagi dengan mereka. Aku tahu memang Tuhan banyak pekerjaan yang harus dilakukan, mungkin doaku ini tidak terlalu penting, tapi aku mohon dengan sangat agar aku bisa bertemu keluargaku. Tanpa sadar, akhirnya lama-kelamaan aku tertidur juga.
Besoknya, seperti janji Xira, aku ditemani olehnya pergi mencari keluargaku. Kami tidak pergi ke sekolah hari itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan nilai kosongku, biarlah, yang penting aku bisa bertemu lagi dengan keluargaku.
Namun, ketika kami tiba disana, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, ada beberapa mobil polisi disana, petugas medis, dan juga beberapa wartawan. Tampaknya, banyak sekali yang tidak bisa selamat. Aku miris melihatnya.
Aku dan Xira mencoba untuk mencari bekas rumahku dan siapa tahu kalau ada anggota keluargaku yang selamat. Agak susah memang, tapi untung saja aku masih mengenali rumah batu bata di dekat rumahku, rumah tua itu sepertinya selamat dari amukan api.
“Maaf, Pak.” ucap Xira ke petugas polisi yang lewat.
“
“Apa masih ada warga yang selamat?”
“Oh, iya, masih. Masih ada. Itu disana, di dekat tenda darurat, ada tempat pengungsian. Kamu tanya saja sama orang yang lewat, mereka pasti tahu. Kamu sedang mencari keluargamu ya?”
“Bukan. Tapi, teman saya. Maaf, kami permisi dulu.” ucap Xira. Polisi itu mengangguk, lalu pergi.
Aku mendapat secercah harapan baru, kemungkinannya memang kecil, tapi setidaknya aku harus mencoba memastikan keadaan keluargaku. Dengan ditemani Xira, aku pergi ke tempat yang dimaksud polisi tadi. Tidak terlalu sulit, karena setiap orang yang kami tanya, pasti tahu letaknya.
Aku memantapkan langkah kakiku. Suasana disana benar-benar memprihatinkan, memang ada beberapa yang selamat, tapi banyak juga yang luka parah. Raungan kesakitan ada dimana-mana. Anak-anak kecil yang selamat kebanyakan menangis dan ketakutan. Tiba-tiba, aku ingat hari perpisahankanku dengan Xira waktu itu. Sedih sekali kalau mengingatnya, tapi syukurlah kami dapat bertemu kembali.
“Kamu siap?” tanya Xira yang sedikit cemas.
“Tentu saja.” ucapku tegas, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu yakin.
Kami berkeliling untuk mencari kalau-kalau masih ada anggota keluargaku yang selamat, tapi sepertinya hasilnya sia-sia, tidak banyak wajah yang kukenal, karena pandanganku selalu lurus daripada harus menyaksikan hal-hal tidak berguna ketika melewati daerah tempat tinggalku. Kami juga sudah bertanya kepada orang yang berjaga disana, dia juga bilang tidak kenal dengan nama-nama yang kusebutkan.
“Jasmine!” Xira tiba-tiba panik. Waktu itu aku pingsan, rasanya semua kelelahan menumpuk jadi satu, aku ambruk seketika.
Xira segera memapah Jasmine ke mobilnya. Dia takut, dia takut kehilangan sahabatnya lagi, dia sudah sering ditinggal sahabatnya, jangan sampai hal itu terulang lagi.
Ketika sampai di rumahnya, Jasmine segera dipapah keluar dengan dibantu beberapa orang penjaga rumahnya. Mereka membawanya ke kamar sementara Jasmine, kamar yang dipinjamkan Xira kepadanya.
Beberapa orang segera membawa obat-obatan juga minuman. Setelah tidak ada kepentingan lagi, mereka segera meninggalkan Xira dan Jasmine.
“Jasmine, bangun. .” ucap Xira sambil mengguncang pelan Jasmine, dia juga sempat mencipratkan beberapa tetes air, tapi sepertinya itu sia-sia.
“Algieere, kamu tidak apa-apa?” Xira menoleh. Entah kapan pulangnya, tapi sekarang orang tuanya sedang berada di depan pintu, menatapnya dengan pandangan cemas.
“Mama. . . Papa. . .? Kapan pulangnya?” tanyanya bingung.
“Baru saja. Tadi, kami ke sini dengan seorang teman. Tapi, kata Pak Amin, ada temanmu yang pingsan, kami jadi khawatir, lalu menyusulmu ke sini.”
“Aku tidak apa-apa, yang perlu dicemaskan adalah Jasmine.”
“Apa sebaiknya kita panggil dokter, Ma?” tanya ayah Xira.
“Oh iya! Aku lupa! Nana
“Ya sudah, panggil saja dia ke sini, daripada dia hanya menunggu di bawah saja. Nanti, dia bisa bosan.”
“Iya, sebentar ya.” Ibu Xira lalu pergi, tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa seorang wanita cantik yang kira-kira seumuran dengan ibu Xira.
“Ini siapa, Ma?” tanya Xira bingung. Baru pertama kali dia melihat orang ini.
“Ini teman mama waktu kuliah dulu, Nana. Kebetulan sekali, kami bertemu kembali. Jadi, tadi mama ajak dia mampir.”
Bu Nana segera mendekati tempat Jasmine berbaring. Dia lalu memeriksanya sebentar. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sesuatu di leher Jasmine. Xira dan orang tuanya sama-sama bingung.
“
“Oh. . , tidak apa-apa. Dia hanya pingsan saja, sepertinya terlalu lelah, hanya perlu istirahat, mungkin dia akan sadar beberapa jam lagi. Tenang saja.”
“Untung saja Jasmine tidak apa-apa.” ucap Xira lega.
“Tunggu, tadi kamu bilang Jas. . . Jasmine? Nama dia Jasmine?”
Xira mengangguk, walaupun agak bingung juga, kenapa teman mamanya ini harus kaget begitu.
“Ya Tuhan. . . Kalung itu, nama itu, itulah kalung milik putriku dulu, nama itulah yang dulu kuberikan padanya.” ucap Bu Nana sedikit histeris.
Orang tua Xira kaget, Nana memang pernah bercerita padanya soal putri yang tidak pernah sempat dibesarkannya. Tapi, yang paling kaget adalah Xira. Betapa perjalanan nasib yang aneh dan tidak terduga.
“Maaf. Saya meminta penjelasan Anda.” ucapnya tegas ke Bu Nana. Akhirnya, Bu Nana membongkar rahasia terdalamnya, menceritakan pengalaman lamanya, tentang bagaimana dia sampai bisa memutuskan untuk membawa Jasmine ke panti asuhan, tentang bagaimana dia akhirnya kembali lagi untuk Jasmine, tapi ternyata panti asuhan itu sudah tutup, dan seterusnya.
Perasaan Xira campur aduk mendengarnya. Dia benar-benar kesal dengan orang tua mereka, tega-teganya membuang mereka. Sekarang dihadapannya ada ibu Jasmine, orang yang telah melahirkan Jasmine. Ingin sekali rasanya dia memukul wanita itu, datang dan pergi ke kehidupan orang seenaknya. Tapi, dia juga tahu bahwa Jasmine sangat menginginkan untuk bertemu dengan orang tua kandungnya, dia juga tahu kalau wanita itu berada pada posisi sulit dan mungkin akan merasa menyesal seumur hidupnya jika sampai tidak bertemu dengan putrinya.
“Xi. . . Xira.” panggilku. Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arahku. Aku bingung, memangnya aku telah berbuat apa? Lagipula, bukannya tadi hanya ada Xira? Siapa orang-orang ini?
“Jasmine. Maaf, mungkin ini akan mengejutkanmu, padahal kamu sendiri baru sadar. Tapi, ini adalah hal yang penting.” ucap Xira serius.
“Memangnya ada apa, ya?”
“Dia ini ibumu, ibu kandungmu.” ucap Xira sambil menoleh ke arah Bu Nana.
Aku kaget. Ibu kandungku? Apa sebenarnya yang telah terjadi. Aku melihat wanita asing yang dikatakan sebagai ibuku. Dia datang, sedikit ragu-ragu. Sepertinya, dia menangis.
“Jasmine, sayang.” ucapnya lirih ke arahku. Tunggu dulu, apa-apaan ini?
“Kamu siapa?”
“Aku ibumu.”
“Ibuku? Maaf, apa buktinya kalau Anda benar-benar ibuku?” tanyaku. Aku
Dia tampak berpikir. Apa yang mau dikatakannya?
“27 Maret 1994 aku meninggalkanmu di depan panti asuhan bersama keranjang bayi, boneka, buku cerita, kalung berbandul kunci mungil, 2 botol susu, dan secarik kertas berisikan nama Jasmine.” Sepertinya dia tadi agak gemetaran.
“Itu belum menjamin. Bisa saja Xira yang menceritakannya padamu.”
“Kalau begitu, ini. . .” ucapnya sambil mengambil sesuatu di dalam tasnya. Apa itu? Ternyata, benda itu adalah kotak musik.
“Bukalah. Kamu tidak akan mendengar suaranya. Tapi, cobalah putar kunci yang ada di lehermu ini. Kamu akan mendengar nada lagu Jasmine.” Aku mencoba untuk membuktikan apa yang diucapkannya barusan. Dan ternyata, tepat ketika aku selesai memutar kunci itu, kotak musik ini mulai berbunyi, ballerina di dalamnya berputar dengan anggun. Manis sekali.
“Apa sekarang kamu percaya?” tanyanya. Aku mengangguk, terus mengangguk sambil menangis. Ya Tuhan, terima kasih sekali. Di hari aku tahu aku kehilangan keluarga angkatku, di hari yang sama pula aku tahu bahwa aku telah menemukan keluarga asliku.
“Ta. . . Tapi, kenapa kamu membuangku? Aku
“Mama benar-benar minta maaf sekali. Waktu itu, mama masih SMA, tapi mengandungmu. Orang tuaku tidak setuju, terlebih ayah. Dia mengancam akan membunuh aku dan papamu jika sampai melahirkan dan membesarkan kamu. Tapi, mama nekat. Satu-satunya yang tidak bisa kutemukan solusinya adalah bagaimana cara membesarkanmu tanpa diketahui kakek dan nenekmu. Kuputuskan, untuk menitipkanmu sementara, walaupun sejujurnya aku tidak rela, benar-benar tidak rela. Mau bagaimana lagi? Ketika akhirnya kami menikah, kami memutuskan untuk mengambilmu kembali, tapi sudah terlambat, panti asuhan itu sudah ditutup. Kami terus mencarimu, tapi gagal dan gagal, lalu gagal lagi. Tidak kusangka bisa bertemu denganmu lagi.” jawabnya getir.
Aku memeluknya. Aku memaafkannya. Tidak peduli dia pernah membuangku. Mungkin, jika aku yang waktu itu berada di posisinya, akan melakukan hal yang sama walaupun itu jelas-jelas keputusan yang berat yang memerlukan nyali.
“Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya ragu-ragu. Aku mengangguk, tersenyum kepadanya. Kami saling berpelukan. Masih bisa kulihat disana Xira dan keluarganya juga seperti tersihir, sama sepertiku, siapa sangka hal ini bisa terjadi. Kini, jalan depanku akan mulai diterangi cahaya. Selamat datang kembali saat-saat ceriaku.
***
“Tuhan itu baik sekali, ya.” ucapku ke Xira sore itu. Sekarang, Xira sudah kuliah dan sebentar lagi aku akan tamat SMA.
“Iya, tapi kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” tanyanya heran.
“Aku hanya berpikir, bagaimana seandainya dulu tugasku tidak ketinggalan, seandainya kalau aku tidak diberi hukuman mewawancaraimu, seandainya aku tidak datang ke rumahmu, mungkin aku tidak akan ada disini dan tidak akan pernah bisa berkumpul kembali dengan keluargaku.”
“Kamu itu terlalu banyak seandainya. Ya sudah, jalani saja. Kamu juga telah menolongku malam itu. Aku pikir sudah sepantasnya kamu mendapatkan itu.” ucap Xira.
“Iihh, lihat anak muda itu, pacaran saja kerjanya. Dasar anak muda zaman sekarang, tingkah lakunya itu lho.” ucap seorang ibu-ibu yang lewat kepada temannya. Kami mendengarnya dan saling memandang bingung. Aku mendatanginya.
“Maaf, Bu. Sepertinya ibu salah penafsiran. Kami bersahabat, lagipula saya tidak setuju dengan perkataan tentang anak mudah zaman sekarang. Kami tidak seperti itu. Kenapa hanya karena beberapa yang memiliki kelakuan yang keterlaluan, ibu mengecap kami seperti itu? Itu tidak adil. Ibu tidak tahu kehidupan mereka. Lagipula, ibu pernah muda juga kan?” Dia dan temannya kaget, lalu melotot ke arahku dan segera pergi sambil terus mencibir.
“Kenapa Jasmine?” tanya Xira.
“Aku hanya kesal saja. Jahat sekali pandangan itu.”
“Sudahlah. Mau bagaimana lagi? Kita mungkin lahir di zaman yang salah, terima saja. Yang penting, kita sendiri bisa menjaga sikap.” ujar Zira.
“Iya, ya. Lihat saja nanti. Akan kubuktikan pada dunia bahwa masih banyak diantara kita yang berjuang mati-matian.” ucapku berapi-api. Xira tersenyum.
“Iya, iya, akan kubantu kamu membuktikan pada dunia bahwa masih banyak Jasmine-Jasmine di tempat lain yang walaupun hidupnya tampak gelap dan dipenuhi badai, tapi terus berjuang dan tahan banting.”
“Apa-apaan itu? Tapi, terima kasih ya, Xira, kamu telah menolongku menyingkirkan badai itu sedikit demi sedikit, telah membantu menerangi jalanku.”
“Memangnya aku lentera apa?” tanyanya pura-pura serius.
“Bukan, kamu lampu jalan.” jawabku asal.
“Lampu lalu lintas ya kalau begitu?”
“Terserah kamu, teman terbaikku. Aku tidak malu kok punya sahabat aneh sepertimu.” balasku. Xira memukul kepalaku pelan. Aku hanya tertawa.
“Teman terbaik untuk selamanya.” teriak Xira.
“Iya, teman terbaik untuk selamanya.” teriakku balik.
Kami lalu tertawa berbarengan. Kencang sekali, Xira sampai terguling-guling. Menunjukkan pada dunia bahwa kami bahagia. Kalau di taman ini masih ada pengunjung, mungkin kami akan dikira gila. Tapi, biar saja, yang penting ada sahabat terbaikku ini di sisiku.
BAGUSSSSSSSS!!
BalasHapusWaaahh~~ Keren!!
Tapi gak diceritain lagi ya kemana orangtua angkat Jasmine??
Huwwee~~
Baguss!!
Nice Job Dina!
Bgus t endingny. Untung g jdi cnt rmj monyet...
BalasHapusNamany Xira kren.
Q stj dg isel, kmn ortu angkat J??