Jumat, 17 April 2009

Harta yang Paling Berharga

Oleh : Rani Iswara

“Chiemi, bagaimana kalau kita berteman? Cuma kamu yang mau jadi temanku, jadi kamu jangan pernah meninggalkan Cherry, ya? Kita akan selalu bersama kan?” tanya Cherry.
“Tentu, Cherry kan anak yang baik dan menyenangkan. Kita berteman. Aku akan selalu menemani Cherry. Aku berjanji akan membuat Cherry selalu bahagia. Janji?” kata Chiemi.
Cherry dan Chiemi mengikat janji di bawah pohon sakura yang sedang mekar dengan indahnya di halaman samping SD Seirin, sekolah mereka. Janji yang mempersatukan mereka sebagai sahabat yang akan selalu bersama selamanya.
Empat tahun kemudian.
Seperti janji yang mereka ucapkan empat tahun yang lalu, mereka akan terus bersahabat. Cherry yang dulu tidak mempunyai teman karena dia yang sangat pendiam dan tidak pandai bergaul, sedangkan Chiemi yang ramah dan ceria mempunyai banyak teman. Chiemi mau berteman dengan siapa saja dan menjadikan Cherry sahabat terbaiknya. Chiemi mengajarkan Cherry untuk lebih ramah pada orang lain sehingga orang lain mau berteman dengannya. Hasilnya pun tidak terlalu buruk, sekarang Cherry lebih ramah pada orang lain walaupun dia tetap sedikit pendiam. Sekarang Cherry dan Chiemi telah mempunyai banyak teman.
Ishida Cherry dan Hoshino Chiemi adalah dua sahabat terbaik yang tinggal di Tokyo, Jepang. Mereka adalah sahabat terbaik sejepang atau mungkin sedunia. Langit selalu biru dan cerah bila Ishida Cherry dan Hoshino Chiemi bersama. Mereka memancarkan atmosfer yang menyenangkan saat mereka bersama, atmosfer persahabatan yang membuat orang – orang di sekitar mereka ingin selalu bersahabat seperti mereka. Mereka berbeda, Cherry adalah anak yang berfisik kuat dan sangat menyukai olahraga terutama basket, namun ia tergolong anak yang pendiam. Sedangkan Chiemi adalah anak yang sangat ceria, bahkan keceriaannya melebihi batas normal bagi seseorang yang ceria, namun sejak kecil fisiknya lemah, sehingga ia lebih sering menghabiskan waktu untuk memasak. Mereka bersahabat baik sejak mereka kelas IV SD sampai sekarang mereka duduk di kelas VIII SMP. Mereka selalu bersama, saling berbagi, saling menyayangi, dan tentu saja saling menolong.
Inilah persahabatan yang menyatukan dua pribadi yang berbeda, namun mereka juga mempunyai kesamaan, yaitu mereka anak yang ramah dan sangat peduli serta memperhatikan temannya. Selain itu, dua remaja cantik ini juga cukup pintar dalam seluruh mata pelajaran dan yang terpenting mereka punya bakat mereka masing – masing. Cherry dengan mudahnya bisa masuk tim inti klub basketnya dan selalu sukses membawa tim basketnya memenangkan pertandingan. Sedangkan Chiemi yang sangat senang memasak, bergabung dengan klub masak sekolahnya dan Chiemi berhasil menyandang gelar patissier muda Jepang. Mereka tidak sombong, mereka mau berteman dengan semua orang dan semua orang pun menyukai mereka. Mereka terlihat seperti sepasang sahabat yang sempurna dan tanpa cela, tidak ada yang dapat memisahkan mereka. Cherry menjadi bagian hidup Chiemi begitu juga sebaliknya, mereka bisa merasakan perasaan satu sama lain. Cherry selalu melindungi Chiemi yang fisiknya lemah. Chiemi pun sangat senang karena Cherry selalu ada di sisinya dan membuat semuanya menjadi lebih baik.
Saat ini, Cherry dan Chiemi duduk di kelas 2-A SMP Seirin. Libur Musim panas sudah tiba bersamaan dengan setumpuk tugas liburan. Liburan musim panas memang paling menyenangkan, biasanya keluarga Cherry dan keluarga Chiemi akan pergi berlibur bersama, jadi selama musim panas mereka tetap bisa bersama. Tradisi mereka setiap liburan musim panas adalah bermain kembang api bersama atau paling tidak datang ke festival kembang api. Sedangkan, tugas mereka akan diselesaikan seminggu sebelum masuk sekolah. Cherry tidak sabar untuk pulang dari sekolah dan menyambut libur musim panasnya. Begitu bel berbunyi dan guru bahasa Inggrisnya keluar dari kelas, Cherry langsung menyerang tempat duduk Chiemi.
“Ayo, kita pulang dan merencanakan liburan ini kita akan pergi ke mana?”ajak Cherry.
“Tunggu. Ayo, ikut dengan ku dulu.” Chiemi buru – buru merapikan alat tulis dan buku – bukunya, lalu menarik Cherry ke dapur klub memasaknya.
“Hei….mau apa kita ada di sini?” tanya Cherry yang heran karena Chiemi membawanya ke ruang klub memasak.
“Kita rayakan datangnya musim panas tahun ini dengan kue buatanku.”jawab Chiemi.
“Bukankah kita bisa merayakannya dengan pesta kembang api yang biasa kita lakukan setelah ada di tempat kita berlibur nanti?”
“Sudahlah yang penting kita rayakan saja dulu. Jadi, kalau acara liburan keluarga kita batal, kita sudah merayakan datangnya musim panas ini.”
Chiemi menarik Cherry untuk duduk tenang di kursi, kemudian Chiemi langsung sibuk mempersiapkan bahan – bahan untuk membuat kue. Cherry hanya duduk dan melihat serta menanti kue buatan Chiemi selesai. Cherry sebenarnya malas menunggu, tapi kalau demi sahabatnya yang satu ini pasti dia bersedia. Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, aroma kue sudah menyebar ke seluruh penjuru ruangan itu dan Cherry yakin kue itu akan segera selesai. Tidak lama kemudian, Chiemi muncul dengan nampan berisi kue berbentuk seperti cupcake. Tapi sepertinya itu bukan cupcake karena kue itu sama sekali tidak dihiasi atau mungkin itu cupcake setengah jadi.
“Sudah selesai.” Sapa Chiemi.
“Wah….ehm itu cupcake?”tanya Cherry.
“Bukan. Ini namanya Crème Brulee.”
Mereka segera menghabiskan kue yang ada dalam sekejap. Setelah puas makan, Cherry dan Chiemi pulang ke rumah. Hari itu pun seperti biasanya mereka pulang bersama karena rumah mereka berdekatan. Sebelum mereka pulang Cherry menemani Chiemi membeli air mineral untuk meminum vitaminnya.
“Kamu setiap hari memakan semua obat itu. Itu obat buat apa?”
“Oh….ehm… Ini Cuma vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuhku, kamu kan tahu kalau aku lemah.” Jawab Chiemi yang tergagap.
“Oh…. Tapi apa obat itu tidak terlalu banyak?” tanya Cherry.
“Yang penting kan sehat.” Jawab Chiemi agar Cherry tidak bertanya lebih jauh lagi, karena dia tidak tahu sampai sejauh mana dia bisa berbohong.
Mereka memang bersahabat tetapi ada satu hal yang selalu disembunyikan Chiemi dan Chiemi sendiri tidak pernah sanggup memberi tahu Cherry. Chiemi bahagia dengan tetap menyimpan rahasia itu, walaupun rasanya berat. Cherry tidak boleh tahu tentang rahasia tersebut. Chiemi sebenarnya tidak tega membohongi Cherry, tapi dia lebih tidak ingin kalau Cherry bersedih.
Di sisi lain, Cherry menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Chiemi, namun dia tidak ingin bertanya lebih jauh. Dia merasa Chiemi semakin menjauh, mereka jarang bermain bersama dan chiemi juga jarang datang kerumahnya untuk mengajarinya memasak. Cherry berusaha menghapus pikiran buruknya dengan Chiemi yang tetap tersenyum ceria seperti biasanya. Tanpa sadar ternyata Cherry melamun.
“Stop! Kamu mau menabrak tiang lampu lalu lintas? Hei…. Sebaiknya kamu memperhatikan jalan. Jangan melamun!” Chiemi memperingatkan Cheery yang hampir saja menabrak tiang lampu lalu lintas.
“Ehm…. Bagaimana rencana liburan musim panas kita?” Cherry tersadar dari lamunannya dan langsung bertanya spontan.
“Bagaimana kalau kita ke Hokaido?”
“Setuju! Sekarang kita tinggal mengatakannya pada orang tua kita.”

****
Liburan musim panas tahun ini, keluarga Ishida Cherry dan Hoshino Chiemi sepakat mengunjungi Hokaido. Mereka menyewa sebuah rumah di tengah padang lavender dan tidak jauh dari rumah tersebut ada sebuah aliran sungai kecil. Mereka sudah mempersiapkan kegiatan pertama mereka, yaitu bermain kembang api.
Pada malam harinya mereka bermain kembang api di halaman dengan menggunakan yukata mereka, karena bagi mereka bermain kembang api pada musim panas berarti mereka harus menggunakan yukata. Menggunakan yukata sebenarnya adalah hal yang sangat tidak disukai Chiemi karena dia seperti seorang anak yang akan menghadiri festival shichigosan[1]. Cherry terlihat sangat anggun dengan yukatanya, sedangkan Chiemi benar – benar seperti anak kecil yang tenggelam dalam yukatanya karena tubuh Chiemi memang kecil atau lebih tepatnya seperti anak kecil. Namun, Chiemi tahu bahwa tidak ada orang yang akan menertawakannya karena yang melihatnya hanya keluarganya sendiri dan keluarga temannya.
“Hey…. Sebaiknya tahun depan kita mengubah tradisi musim panas kita.” Sara Chiemi.
“Apa yang diubah?” tanya Cherry.
“Saat pesta kembang api kita tidak perlu memakai yukata lagi. Aku tidak ingin setiap tahun terlihat seperti anak kecil yang datang ke festival shichigosan.”
“Hua….ha….ha…” Cherry tertawa.
“Aku baru tahu kalau gaya tertawa mu sekarang berubah seperti tawa pahlawan bertopeng.”
Chiemi dan Cherry sangat menikmati malam itu. Bintang – bintang bertaburan di langit malam yang luas dan angin yang berhembus pelan membawa serta aroma lavender yang menyegarkan. Seandainya liburan musim panas ini bisa tetap membahagiakan seperti ini.

****
Pagi harinya….
Chiemi menahan rasa sakit yang dirasakan kepalanya. Dia membongkar isi tasnya untuk mencari botol obatnya dan segera mengambil beberapa tablet. Dia menelan semua obat yang ada di tangannya, namun rasa sakit itu tak kunjung hilang. Dia hanya bisa berbaring menunggu sakit di kepalanya hilang, tetapi sakit itu bukannya berkurang melainkan bertambah parah. Chiemi tidak sanggup lagi menahan sakit itu dan perlahan – lahan penglihatannya kabur, lalu ia sudah tak sadarkan diri.
Hari masih terlalu pagi dan matahari pun belum terbit, tetapi Cherry membuat semua orang yang ada di rumah itu membuka mata karena mendengar suara langkahnya yang sangat berisik sedang menuju ke kamar Chiemi. Cherry ingin mengajak Chiemi melihat matahari tebit di padang bunga lavender. Cherry mengetuk pintu kamar Chiemi, tapi tak ada yang menyahut atau membukakan pintu, jadi Cherry memutuskan membuka pintu itu dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Cherry menatap Chiemi yang tertidur pulas.
“Chiemi! Selamat pagi!” sapa Cherry sambil menggoyang – goyangkan tubuh Chiemi. Chiemi tidak menyahut atau bergerak. Chiemi tetap diam. “Chiemi!”Cherry kembali memanggilnya dan menggoyang – goyangkan tubuhnya, namun Chiemi tetap diam. Wajah chiemi yang terlihat sangat pucat membuat Cherry panik dan segera berteriak. Semua orang segera berlari ke kamar Chiemi.
“Ada apa?” tanya Ayah Cherry.
“Ayah…. Chiemi tidak bisa dibangunkan. Apa yang terjadi padanya?”kata Cherry sambil menangis. Ayah Chiemi, tanpa berkata sepatah kata pun langsung menggendong Chiemi ke mobil.
“Mau ke mana?”tanya ayah Cherry.
“Ke rumah sakit.”
Cherry dan kedua orang tuanya menyusul Chiemi ke rumah sakit dengan mobil yang lain. Cherry tak henti – hentinya menangis. Ibunya berusaha menenangkannya namun sepertinya hal itu malah membuat tangisan Cherry semakin keras. Otak Cherry dipenuhi dengan seluruh pertanyaan dan dugaan. Apa yang terjadi pada Chiemi? Apa Chiemi sakit? Bagaimana kalau penyakitnya parah? Bagaimana kalau Chiemi meninggal?

****
Rumah sakit Hokaido terlihat sepi karena masih terlalu pagi. Chiemi segera dibawa ke UGD dan kedua orang tuanya serta keluarga Cherry menunggu dengan penuh kekhawatiran. Rumah sakit itu terlihat asing bagi Cherry, semuanya dominan putih dan bau menyengat obat. Suasana rumah sakit yang sepi menambah kekhawatiran dan kesedihan mereka. Cherry tetap menangis dan duduk di kursi tunggu, menunggu Dokter Kitano Akira keluar memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Chiemi. Seperti biasa, menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan bagi Cherry, kali ini ia 100 kali lebih tidak sabar dibandingkan biasanya. Dari balik matanya yang berlinang air mata, Cherry bisa melihat wajah tegang dan khawatir kedua orang tua Chiemi.
‘Apa sebenarnya yang dilakukan dokter itu di dalam? Mengapa belum keluar? Ini sudah terlalu lama! Apa yang terjadi pada Chiemi?’kata Cherry dalam hati.
Dokter keluar dari ruang UGD dan mereka segera menyerbu dokter tersebut dengan berbagai pertanyaan.
“Apa yang terjadi dengan Chiemi?”
“Bagaimana keadaan nya, dokter?”
“Maaf…tenang sebentar. Chiemi menderita kanker otak stadium dua. Sebaiknya dia segera dioperasi. Mungkin ini belum terlambat untuk menyembuhkannya. Walaupun tentu saja operasi ini ada resikonya.” Dokter itu menjelaskan.
“Apa resikonya?” tanya ibu Chiemi.
“Nyawanya dipertaruhkan di sini. Bila operasi gagal, dia akan koma atau kemungkinan terburuknya adalah meninggal.”jawab dokter.
Suasana hening sejenak.
“Kita harus mengoperasinya.” Kata Ayah Chiemi.
“Tapi kalau gagal, kita akan kehilangan anak kita satu – satunya.” Ibu chiemi tidak rela bila ia harus kehilangan anaknya.
“Tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Bila tidak mencoba juga tidak akan memperbaiki keadaan. Keadaan Chiemi pasti akan bertambah buruk.” Ayah chiemi berusaha meyakinkan.
“Baiklah.” Ibu chiemi menyerah.
“Baiklah. Anda silakan mengisi syarat dan pendaftarannya.” kata Dokter.
Setelah memenuhi semua syarat operasi, operasi segera dilakukan. Chiemi dibawa ke ruang operasi. Cherry hanya bisa menatap Chiemi dari jauh, pemandangan yang menyedihkan itu membuat segala kemungkinan buruk kembali muncul dalam otaknya. Bagaimana kalau operasi ini gagal? Kalau Cherry pergi untuk selamanya, apa semua akan sama? Apa bisa tetap baik – baik saja?
Lampu ruang operasi menyala, tanda operasi di mulai. Cherry berharap Chiemi bisa sembuh. Cherry sudah tidak punya tenaga lagi untuk menangis dan ia harus menunggu kembali. Cherry duduk di kursi tunggu dan karena kelelahan dan kurang tidur, ia tertidur.

****
Sudah berjam – jam berlalu, namun operasi masih belum selesai. Menunggu lagi. Mengapa Cherry bisa terus menunggu, melakukan hal yang paling tidak disukainya? Bagi Cherry, Chiemi berarti segalanya, sangat berarti. Chiemi tetap berusaha sabar, walaupun ingin rasanya dia mendobrak ruang operasi itu dan menyuruh dokter lebih cepat menyelesaikan operasinya dan yang terpenting menyelamatkan Chiemi.
Lampu di ruang operasi padam, tanda operasi sudah selesai. Tidak lama kemudian, Dokter keluar dengan pakaian operasinya yang berwarna hijau.
“Bagaimana operasinya?” tanya ayah Chiemi.
“Dia selamat.” Semuanya lega, sesaat, ”namun kita belum tahu apakah operasi ini benar – benar berhasil atau tidak. Kita harus menunggunya sadar dan melihat perkembangannya ke depan.” Dua kalimat terakhir tersebut menghilangkan kelegaan yang baru saja tercipta.
Cherry menemani Chiemi setiap hari sampai akhirnya Chiemi sadar setelah tiga hari koma. Tetapi, Chiemi terbangun dari tidurnya yang panjang tanpa bisa mengingat siapa dirinya, siapapun, dan apapun. Semua orang bahagia setelah tahu chiemi sudah sadar dari koma dan semua orang kembali bersedih ketika mereka tahu bahwa chiemi kehilangan ingatannya. Menurut Dokter, Chiemi kehilangan ingatannya akibat operasi tersebut, namun operasinya berhasil. Ingatannya dapat pulih, namun butuh waktu yang cukup lama dan tidak bisa dipaksakan. Chiemi sembuh, tapi dia kehilangan ingatannya, Cherry tidak tahu harus senang atau sedih.
Setiap hari Cherry berkunjung ke rumah sakit dan membawa tugas liburan musim panasnya. Cherry merasa chiemi yang saat ini sangat berbeda, Chiemi seperti menjauhi Cherry. Chiemi yang saat ini sangat tidak ceria dan tidak bersemangat. Setelah Chiemi sadar, Cherry belum pernah melihat Chiemi tersenyum. Cherry bertekad untuk mengembalikan ingatan Chiemi. Dan seperti biasanya, hari ini Cherry datang mengunjungi Chiemi.
“Selamat pagi!” sapa Cherry lebih ceria dari biasanya.
“Selamat pagi.” Sambut Chiemi.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa kau sudah bisa mengingat sesuatu? Aku membawakan buah apel, jeruk, dan pear. Kamu mau yang mana?”
“Aku baik-baik saja, tapi tak bisa ingat apapun. Aku seperti orang bodoh. Setiap mengingat kepalaku terasa sakit, mungkin lebih baik aku tak berusaha mengingat.”
Karena Chiemi tidak menjawab pertanyaan yang terakhir, jadi Cheery memutuskan mengupas apel. Namun, saat Cherry mengupas apel pisau yang ada di tangannya melukai jarinya dan Cherry langsung terbangun dari tidurnya. Dia tertidur dan bermimpi. Kata – kata terakhir Chiemi kembali diputar di otak Cherry seperti sebuah kaset rekaman,’ aku seperti orang bodoh. Setiap mengingat kepalaku terasa sakit, mungkin lebih baik aku tak berusaha mengingat.’
‘Ugghhh….. Bagaimana bisa aku bermimpi buruk seperti itu! Aku tidak ingin Chiemi kehilangan ingatannya dan melupakan persahabatan kami.’ Kata Cherry dalam hati.
Dokter keluar dari ruang operasi. Mereka yang telah menanti operasi selesai langsung menghampiri Dokter dan bertanya mengenai keadaan Chiemi.
“Bagaimana?” hanya tinggal satu kata itu yang bisa diucapkan.
“Operasi berjalan lancar, kita tinggal melihat respon tubuhnya.” Jawab Dokter.
Chiemi dipindahkan ke ruang ICU. Keadaan Chiemi sangat memprihatinkan, selang – selang terhubung dengan tubuhnya dan sudah berpuluh – puluh jarum telah menusuk tubuhnya. Semua alat dalam ruangan tersebut berusaha menopang hidup Chiemi. Chiemi hanya terbaring lemah dengan wajah pucat dan tak bergerak sedikitpun. Setiap hari Cherry datang menjenguk Chiemi. Sudah berhari-hari Cherry menunggu Chiemi akan bangun dan langsung menyapanya, tetapi sayangnya Chiemi sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya.
Ini adalah hari kedua puluh enam Chiemi koma setelah dioperasi, ia belum sadar. Seperti biasanya, Cherry dan keluarga Chiemi datang menjenguk. Keluarga Chiemi sedang berbicara dengan Dokter dan Cherry pergi lebih dulu menjenguk Chiemi. Perasaan Cherry hari ini berbeda dari biasanya, dia merasa sangat sedih.
“Chiemi, kapan kamu akan sadar?”
Di ruangan Dokter Akira, Dokter Akira dan kedua orang tua Chiemi sedang membicarakan keadaan Chiemi yang tidak kunjung sadar.
“Dokter, mengapa anak saya sampai sekarang belum juga sadar? Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Tubuh Chiemi tidak memberi respon yang baik. Kemungkinan besar dia akan koma. Dia hanya akan tetap hidup dalam keadaan koma dengan dibantu alat – alat medis, tanpa alat – alat medis tersebut Chiemi tidak bisa bertahan. Kemungkinan dia untuk sadar sangat kecil atau itu artinya dia tidak akan pernah sadar.”
“Tolong usahakan yang terbaik! Sembuhkan anak saya!” Ayah Chiemi meninggikan nada bicaranya, sedangkan Ibu Chiemi terus menangis.
“Pilihan yang ada adalah Chiemi tetap hidup dalam keadaan koma selamanya dengan ditopang oleh alat medis atau Anda bersedia merelakan anak Anda untuk tenang di sisi Tuhan dan kami akan melepas semua alat medis. Sebaiknya jangan membuat Chiemi terus menderita. Sudah tidak ada kemungkinan untuk sadar apalagi sembuh.”
Semua terdiam kecuali tangisan ibu Chiemi yang semakin keras, tak ada satu orang pun yang sanggup berbicara. Bagaimana mungkin mereka mau kehilangan Chiemi, namun bila terus dalam keadaan yang seperti itu Chiemi akan terus menderita.
“Baik… Mungkin akan lebih baik kalau kita merelakan Chiemi. Tapi beri waktu sebentar sebelum berpisah dengan anak saya. Bagaimana kamu bisa merelakan anak kita, Misa?”
“Tentu aku merelakannya kalau itu memang yang terbaik buat Chiemi. aku juga tidak ingin melihatnya menderita.”
“Baik kami beri waktu Anda berpisah dengan Chiemi.”
Kedua orang tua Chiemi keluar dari ruang Dokter dan pergi ke ruang perawatan Chiemi. Ayah Chiemi menjelaskan apa yang terjadi dengan Chiemi dan keputusan yang telah diambil mereka kepada Cherry. Cherry membeku, tak bisa bergerak, tak bisa berkata – kata, dan tak bisa menangis. Bagaimana tidak, dia mengetahui sahabat baiknya ini akan segera pergi meninggalkannya. Melihat Chiemi dengan keadaan seperti ini saja sudah membuatnya sedih, apalagi bila Chiemi sudah tidak ada lagi.
“Chiemi, ibu sayang kamu. Kamu jangan sedih, ya…”kata Ibu Chiemi.
“Iya. Kami semua menyayangi kamu. Kami tidak akan melupakanmu. Semoga nanti kamu bahagia di sana.” Ayah Chiemi melanjutkan.
Mereka sudah kehilangan kata – kata mereka. Sudah tidak ada lagi air mata. Mereka ingin berpisah dengan Chiemi tanpa air mata. Mereka tidak ingin Chiemi ikut bersedih. Cherry berusaha untuk tidak menangis, namun air matanya tidak bisa ditahan lagi. Cheery duduk di samping tempat tidur Chiemi, menanti saatnya berpisah dengan sahabat terbaiknya. Yang membuat Cherry tahu bahwa Chiemi masih hidup hanya alat pendeteksi jantung yang menampilkan garis – garis yang menyatakan detak jantung Chiemi masih ada.
“Aku berharap mimpiku pada waktu itu menjadi kenyataan. Aku lebih senang kalau kamu sembuh meskipun harus kehilangan ingatanmu dan melupakan semua yang pernah kamu ingat daripada kamu harus pergi.” Cherry terus menangis tanpa bisa menghentikannya.
“Selamat siang.” Sapa Dokter Akira yang masuk dengan ketiga suster untuk mencabut semua selang dan melepas semua alat medis yang menopang hidup Chiemi. “Apa semuanya sudah siap?”
“Ya.” Jawab Ayah Chiemi.
Para suster mulai mencabut semua selang dan melepas semua alat medis.
“Selamat tinggal, Chiemi.” ucapan selamat tinggal Cherry dengan senyum tulus yang terlihat sedih.

****
Hari ini adalah hari pemakaman Chiemi. Cherry menguatkan diri datang ke pemakaman untuk mengantarkan sahabatnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir, meski tetap dengan berurai air mata. Setelah pemakaman selesai, Cherry datang ke halaman samping SD Seirin, tempat Cheery dan Chiemi berjanji untuk bersahabat selamanya. Semuanya tidak jauh berbeda dengan empat tahun yang lalu, hanya saja beberapa bunga sakuranya berguguran.
“Terima kasih, Chiemi, kamu sudah mau jadi sahabat baik aku. Kamu sudah penuhi janjimu. Kita tetap sahabat hari ini, besok, dan untuk selamanya.” Cherry mengatakan hal itu sambil memandang bunga pohon sakura yang bunganya masih mekar.
Tidak ada pertemuan yang abadi, tetapi Cherry percaya, seperti halnya pertemuan, maka perpisahan juga tidak ada yang abadi. Persahabatan itu untuk hari ini, besok, dan selalu selamanya. Persahabatan adalah harta yang sebenarnya, harta yang berharga. Saat kita tidak mempunyai apa pun yang bisa dibanggakan, tapi kita masih punya sahabat. Contohnya, gajah membanggakan belalainya, seorang Profesor membanggakan otaknya, seorang model membanggakan wajah dan penampilannya, dan seorang Direktur membanggakan uangnya. Sedangkan kamu, tenaga kamu pasti kalah dengan gajah, kepintaran kamu pasti kalah dengan Profesor, wajah dan penampilan kamu pasti tidak seperti seorang model, serta kamu pasti tidak punya uang sebanyak seorang Direktur, tetapi kamu masih mempunyai sahabat yang tidak dipunyai gajah, mempunyai sahabat yang lebih berharga dari uangnya Direktur, mempunyai teman yang bisa mengajari kamu hal yang tidak bisa diajarkan seorang Profesor, dan yang terpenting sahabat yang baik akan menerimamu apa adanya. Itulah gunanya sahabat. Apakah kamu punya sahabat? Apakah kamu menganggap sahabatmu itu berharga?


[1] Festival untuk anak umur tujuh, lima, dan tiga tahun.

1 komentar:

  1. SEDIHHH!!!
    Huwwee..
    Persahabatan itu memang indahhh.. UKkhhh..
    aku sedih bacanya~~

    Gud Job RANI!

    BalasHapus