karya : Gisella Tellys (19)
“
Anak perempuan yang ditanya meletakkan jari telunjukknya di depan dagu dan berpikir keras, “Hadiah? Hmm.. apa saja boleh?”
Wanita muda yang duduk di kursi depan mobil bersama sang pria hanya tertawa kecil melihat tingkah putri semata wayangnya itu. Lalu menoleh ke arah anak itu sambil mengangguk..
“Ya, ini adalah ulang tahunmu yang ke-10. Kami akan mengusahakannya untuk mu selama kami bisa—“jawab wanita itu lalu merubah ekspresinya menjadi pura-pura mengancam. “Jadi jangan meminta kami mengambil bulan, bintang atau membangkitkan orang mati, Velyn.. itu di luar kemampuan kita..”
Anak perempuan yang dipanggil Velyn itu mengangguk sambil terkikik. Ia tahu kalau hal itu mustahil lagipula di sekolah ia sudah tahu kalau letak bulan dan bintang itu sangat jauh dan sulit dijangkau. Tetapi kalau ia tidak tahu, mungkin itulah permintaan anak berambut panjang itu.
“Aku tahu, Ma. Ah, sudah terpikir olehku. Aku ada dua keinginan. Yang pertama, aku ingin minta adik—“ Pasangan suami istri itu hanya menatap satu sama lain dan tersenyum penuh arti. “dan.. yang kedua aku ingin Papa dan Mama selalu ada bersamaku. Bisa?” tanya Velyn memandang penuh harap dengan kedua orangtuanya dari kursi belakang mobil.
Sang ayah berdeham dan tersenyum menatap Velyn dari kaca spion. “Untuk yang pertama, Papa dan Mama akan mengusahakannya—“ lalu ia mengedipkan sebelah matanya ke si wanita yang hanya bisa tersenyum. “Tapi untuk yang kedua, itu sudah pasti bisa.. kami akan selalu bersamamu, Velyn karena kau anak perempuan yang sangat kita sayangi..”
Velyn tersenyum lebar dengan muka memerah karena senang. Dia sangat menyayangi kedua orangtuanya!
Matahari menerobos masuk lewat sela-sela gorden berwarna biru kedalam ruangan berukuran 4 X 4 m. Cat dinding dibuat serasi dengan warna gorden. Perabotan di ruangan itu tidak banyak. Hanya sebuah tempat tidur, meja belajar, lemari, cermin dan juga beberapa pigura foto, baik yang digantung atau diletakkan di atas meja. Seseorang menggeliat di dalam selimut di atas tempat tidur lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha beradaptasi dengan sinar yang mengisi ruangan itu. Dengan berat Velyncia Soetrisno duduk di atas tempat tidurnya dengan mata sayu yang terlihat sedih lalu melihat jam yang menunjukkan pukul 6 kurang 5. Ia diam sejenak lalu beranjak meninggalkan tempat tidurnya.
“Hari lain yang membosankan..” gumam Velyn tidak pada siapa-siapa dan menguap lalu mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah hari ini.
Hari itu,
“I-itu.. dia datang.. “
“Gawat.. cewek itu datang..”
“Aduh.. aku pakai semua atribut sekolah
“Ukhh.. aku tidak ingin berurusan dengan cewek itu lagi..”
Suara bisik-bisik terdengar dan rasa tegang muncul dan menyelimuti seluruh murid yang sedang berjalan menuju ke bangunan sekolah ketika Velyn datang dan melangkah dengan santai kedalam tidak memedulikan sekitar.
“Pagi, Kak..”
“Pagi, Velyncia…”
“S-selamat pagi..”
Sapaan terdengar setiap kali Velyn melewati murid-murid yang lain, namun gadis itu tidak membalas ataupun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar. Dengan cepat, Velyn telah menghilang menaiki tangga dan masuk ke dalam ruangan kelasnya yang langsung mengikuti suasana di luar tadi.
Velyncia duduk di kelas 2 dan merupakan ketua OSIS SMA tersebut. Ia adalah murid yang brillian, pintar baik di bidang akademik dan non-akademik. Ia menyabet juara umum untuk ulangan semester. Wajahnya cantik dan matanya yang tajam memberikan nilai tambah untuknya. Dia adalah seorang murid yang disiplin dan seharusnya menjadi tipe yang disukai seluruh murid satu sekolah karena kelebihan-kelebihannya. Namun ternyata tidak.
Velyn adalah seorang yang kuat. Cewek itu memegang ban hitam untuk karate, taekwondo dan juga aikido. Selain itu ia juga sangat dingin dan tidak peduli dengan orang lain. Ia tidak menyukai keributan dan tidak segan-segan memukul orang yang dianggap telah merusak kedamaian yang telah ada. Dia melawan para preman sekolah dan menghentikan teror yang menyelimuti seluruh murid di SMA itu saat ia kelas 1. Ia memukul murid-murid yang melanggar peraturan dan merusak ketentraman. Velyn melakukan semua itu tanpa pandang buluh dan karena itu, ia ditakuti satu sekolah, namun juga dihormati bahkan oleh seluruh guru yang ada di sekolah itu karena Velyn juga merupakan putri tunggal Almarhum ketua yayasan 7 tahun lalu dan adalah anak angkat ketua yayasan yang sekarang.
“Padahal dulu dia adalah anak yang ceria…”
“Kasihan sekali, ia harus ditinggal mati kedua orangtuanya..”
“Mereka berdua dibunuh katanya.. kasihan sekali..”
Silih berganti sejak hari naas itu, orang-orang yang mengaku ‘teman’ orangtuanya datang dan pergi mengucapkan belasungkawa mereka. Perkataan saat itu hanya perkataan semata. Sejak orangtuanya meninggal, satu demi satu perusahaan milik keluarganya direbut oleh orang yang mengaku ‘teman’ sampai akhirnya hanya tinggal Yayasan sebuah sekolah yang dikelola keluarganya yang menjadi haknya.
Semua orang mengucapkan turut berduka, merasa kasihan dan kata-kata lain, namun Velyn sudah muak dengan kata-kata para penjilat itu yang hanya ingin mendapatkan harta keluarga Soetrisno. Semua orang merasa berduka, tapi kenapa tidak ada yang menyelidiki lebih lanjut perihal pembunuhan keluarganya kalau mereka betul-betul menyayangi kedua orangtuanya? Seharusnya mereka meminta keadilan
Pihak Velyn telah meminta penyelidikan lebih lanjut namun pihak kepolisian seperti tidak peduli dan membuat rumit seluruh persoalan yang harus dilakukan. Tidak ada yang mau membantu menemukan kebenaran bagi seorang anak yang ditinggal kedua orangtuanya. Tidak ada yang mau tahu dan Velyn kecil pun mulai mengetahui borok yang tersembunyi di balik dunia yang kelihatan indah. Keburukan ternyata menggerogoti setiap hal yang ada di dunia. Velyn mengalami titik balik dalam dirinya yang masih amat muda dan berujung pada sikapnya yang berubah dingin.
Dunia anak-anaknya pecah berkeping-keping dan yang ada hanya kegelapan dan serpihan kenangan indah yang tidak akan pernah terulang. Kebahagiaan tidak pernah muncul di dunia yang penuh trik dan kemunafikan.
Teng..Teng.. Teng
Terdengar 3 kali bunyi bel yang menandakan saatnya pulang sekolah. Velyn beranjak meninggalkan kelas dan menuju ruangan OSIS. Velyn membuka pintu dan mendapati ruangan itu masih kosong. Ia mengambil kursi dan meletakkan tasnya lalu menguap lebar yang tidak mencirikan anak perempuan dan duduk bertopang dagu menunggu anggota OSIS yang lain.
Terdengar bunyi celoteh riang dan juga langkah kaki di luar ruangan. Velyn memandang kosong para murid yang hilir mudik di luar kaca jendela lalu menguap lagi dan mengecek handphonenya.
Kosong..
Velyn hanya menutup matanya dan memasukkan nya kembali ke kantong roknya. Ia tidak perlu kaget karena inbox handphonenya itu hanya diisi pertanyaan dari anggota OSIS dan juga sms dari Om Jonathan atau secara resmi sudah menjadi orangtua Velyn. Tidak ada orang yang menanyakan kabarnya, apakah ia sudah makan atau belum, bagaimana harinya atau apapun, tapi Velyn tidak peduli karena ia sudah biasa dengan kesendirian selama 6 tahun terakhir ini, sejak Velyn mulai menutup diri.
Pintu terbuka dan seorang cowok berkacamata muncul lalu tersenyum kecil sambil menggumamkan selamat siang kepada Velyn. Ia mengambil tempat di sebelah kiri Velyn dan ikutan diam mengikuti Velyn. Cowok itu berusaha tidak bersuara, namun ia tidak tahan lagi. Bagaimana bisa sih orang tahan dengan kesunyian seperti ini?
“Bagaimana sekolah tadi, Vel?” tanya cowok itu berusaha mencairkan suasana.
“Membosankan seperti biasanya..” jawab Velyn datar dan kesunyian merebak lagi. Cowok itu tahu bahwa sangat sulit mencairkan kesunyian seperti itu. Lalu pintu terbuka lagi.
“Ah, Velyn, Leo, kalian sudah disini..” ujar seorang cewek berambut panjang yang dikuncir kuda tersenyum lalu duduk disamping cowok berkacamata yang bernama Leo itu.
“Selamat siang Ketua dan juga Wakil Ketua…” ujar cowok berikutnya yang berambut jabrik dan nyengir kuda lalu mengambil tempat duduk juga.
“Siang, Helen.. siang juga Reza..” balas Leo sambil tersenyum. Velyn tidak membalas sapaan mereka malahan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil melipat kakinya.
“Mana yang lain?” tanya Velyn datar tanpa menatap ke-3 orang yang lain.
“
Satu persatu anggota mulai datang dan mengisi penuh ruangan OSIS yang cukup sumpek dengan banyaknya lemari berisi berkas dan barang-barang lain yang khas OSIS. Ruangan itupun kemudian diisi celoteh dan juga tawa anak-anak OSIS yang agak berbisik. Velyn memperhatikan satu persatu anggota lalu ia berdiri dan berdeham. Seketika ruangan hening.
“Rapat kali ini kita mulai.” Ujar Velyn dan dimulailah rapat hari itu.
Rapat selesai pukul setengah 4. Semua anggota OSIS sudah pulang kecuali Velyn yang sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti. Selain sekolah, Velyn tidak punya kegiatan rutin dan terkadang karena hal ini, rasa bosan betul-betul muncul dan menganggu kehidupan Velyn.
Velyn berjalan di koridor sekolah dan menuju ke halaman depan sekolah namun ada sesuatu yang menangkap mata sang Ketua OSIS yang cantik itu. Sebuah mobil sedan biru sedang terparkir di halaman sekolah. Mata Velyn terbelalak kaget melihat mobil yang bisa dibilang sama persis dengan mobil orangtuanya dulu yang membuat untuk sepersekian detik Velyn percaya bahwa orangtuanya telah datang untuk menjemputnya. Disadari kebodohannya, Velyn menggelengkan kepalanya dan mengucapkan kata bodoh tanpa suara untuk dirinya sendiri.
Bruk..
Velyn menoleh ke sumber suara itu dan melihat seorang cowok yang jatuh terjerembab karena sepertinya menginjak tali sepatunya yang lepas. Kertas-kertas berhamburan di lantai. Beberapa kertas bahkan jatuh ke kolam dekat koridor. Velyn tidak tahu berkata apa, terdiam dengan kecerobohan anak itu. Memangnya masih ada kejadian orang jatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri?
Velyn menghela nafas dan menuju ke arah kolam dan mengambilkan kertas-kertas yang terjatuh ke kolam lalu memberikannya ke cowok yang sedang sibuk merapikan kertas-kertasnya.
“Kertasmu terjatuh ke kolam. Ini, keringkan saja pakai hairdryer…” ujar Velyn datar.
Anak cowok itu mengangkat kepalanya dan menatap mata Velyn lalu kemudian tersenyum dan menerima kertas-kertas yang basah itu.
“Te-terima kasih.. A-aku memang ceroboh..” ujar cowok itu tersenyum kecil dan berdiri sambil membersihkan baju kemeja nya yang agak kotor. Velyn tidak memedulikan ucapan cowok itu dan membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya.
“Kau murid sekolah ini
“Hei, tunggu. Namamu siapa?”
“Velyncia Soetrisno.” Jawab Velyn singkat akhirnya dan berjalan melewati gerbang dan menghilang dari pandang kemudian. Edwin jelas tidak mengejar lagi karena mobilnya ada di halaman parkir. Velyncia Soetrisno, dia bakal mengingat nama cewek yang sudah membantunya tadi itu.
Pagi akhirnya datang lagi mengawali hari lain dalam hidup Velyncia. Seperti biasa, cewek itu datang ke sekolah dan duduk di ruang kelas mendengarkan ajaran guru yang membosankan dan yakin bahwa hari itu akan sama membosankan dengan hari-hari sebelumnya namun sepertinya cewek itu salah untuk kali ini.
“Velyncia!! “ terdengar suara yang cukup besar dari ujung koridor yang ditujukan ke seorang cewek bernama sama yang sedang berada di ujung koridor yang lain, hendak menuju ke kantin. Segera, seluruh koridor langsung sunyi senyap tidak ada yang berani bersuara. Cowok yang memanggil itu berlari kearah Velyn, namun Velyn tidak berhenti.
“Apakah dia ada masalah dengan pendengarannya??”
“Hei Velyncia, tunggu! Aku memanggilmu.. kau tidak ada masalah dengan pendengaranmu
Velyn melepaskan tangan Edwin dari pundaknya dan hanya memandang sinis cowok itu yang bingung dengan reaksi lawan bicaranya.
“Aku mendengarmu..” jawab cewek itu melipat kedua tangannya.
“Kalau begitu kenapa kau tidak menyahut? Kalau kau tidak menyahut bagaimana aku tahu kau mendengarkan aku?” tanya Edwin melipat kedua tangannya. Velyn hanya menghela nafas dan sudah bersiap akan meninggalkan Edwin lagi saat cowok itu menangkap tangan Velyn.
“Eh, tunggu. Pembicaraan kita belum selesai. Kemarin kau sudah membantuku, dan rasanya ucapan terimakasih saja belum cukup ja—“
“Aku hanya mengambilkan kertas-kertas itu karena kau terlihat begitu—“ potong Velyn kesal namun sebelum ucapannya sempat selesai cowok yang lebih tinggi sedikit dari Velyn itu menarik tangan Velyn dan mengajak (baca : memaksa) Velyn ke arah kantin.
“Kantin arah sini
“Kamu mau rasa apa?” tanya Edwin setelah memesan eskrimnya. Velyn rasanya ingin memukul anak pindahan itu yang sudah semaunya menyeret dirinya ke kantin walau memang dari awal ia ingin ke kantin. Velyn menghela nafas kesal lalu menunjuk salah satu menu.
“Yang ini, coklat, vanilla, stroberi..” ujar Velyn datar dengan nada kesal, namun si lawan bicara tidak menyadari kekesalan Velyn dan hanya mengangguk-angguk.
“Ternyata kau makan banyak ya? Kemarin aku belum sempat tanya, kamu dari kelas berapa, Velyncia?” tanya Edwin sembari menyerahkan selembar uang 20ribuan kepada penjual lalu mengambil kedua eskrim yang mereka pesan dan memberikannya kepada Velyn.
“Velyn saja.. aku tidak suka dipanggil dengan nama panjangku. Aku kelas XI IPA 3” ujar Velyn datar dan menjilati eskrimnya dan sepertinya dinginnya eskrim mengurangi kadar kekesalan Velyn terhadap cowok yang baru sehari ia kenal itu.
“Eh? Kelas 2 ya? Kakak kelas dong! Aku kelas X.4.. gak nyangka..Tidak apa-apa
“Kamu pendiam sekali ya?” gumam Edwin yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Velyn yang sibuk menjilati eskrimnya. Edwin memandang dalam diam cewek berambut pendek itu. “Kesannya misterius sekali, namun cantik. Kelihatannya pintar juga..”
Velyn menatap tajam cowok itu. “Apa lihat-lihat?”
“Enggak.. aku penasaran saja. Kesanmu misterius sekali..” jawab Edwin tersenyum malu ditangkap sedang memandang seseorang seperti itu dan kemudian bel berbunyi.
Tanpa banyak bicara, Velyn meninggalkan posisinya berdiri tadi dan berjalan meninggalkan adik kelasnya itu. Edwin melambaikan tangannya dan berkata cukup keras, “Sampai jumpa nanti!” dan tak lama kemudian, Velyn menghilang di ujung koridor. Lalu tanpa tahu darimana asalnya, beberapa orang datang menghampiri Edwin dengan muka takut-takut. Edwin jelas kaget, karena saat dia mengobrol dengan Velyn tadi, tidak ada orang di sekelilingnya.
“Kau tidak apa-apa? “
“Hei, anak baru, kau tidak demam
“Edwin, ini hari pertamamu di sekolah.. jangan buat masalah!”
Silih berganti pertanyaan dan saran datang menghujani Edwin yang tidak mengerti sama sekali maksud perkataan mereka. Teman-teman barunya bahkan orang-orang lain lalu mengajukan pertanyaan yang sama serta serempak yaitu “Dia tidak melukaimu
Edwin mengerjapkan matanya, bingung mau menjawab apa, karena ia tidak mengerti sama sekali. “A-aku tidak apa-apa kok… Ke-kena—“ sebelum sempat menyelesaikan pertanyaannya, orang-orang menghela nafas lega mendengar jawaban Edwin dan pergi meninggalkan Edwin sendiri dengan beberapa teman sekelasnya menuju ke ruang masing-masing. Sesampainya di kelas, yang lain menghujaninya pertanyaan yang sama. Hal ini semakin membuat Edwin penasaran maka ia memutuskan untuk bertanya.
“Hei…
“Namaku Margaretha..” ujar cewek berkacamata yang duduk di samping Edwin tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis. Sang guru di depan sedang menjelaskan sesuatu tentang optik dan hal-hal sejenisnya. Namun Edwin tidak memusingkan diri untuk memperhatikan pelajaran.
“Nah, Margaret, sebenarnya ada apa sih dengan kakak kelas yang bernama Velyncia Soetrisno itu?” tanya Edwin berbisik kepada cewek berambut ikal itu. Margaret menatap Edwin agak kaget.
“Kau tidak tahu kenapa kau ditanyai seperti tadi? Kau belum mendengar rumornya?” ujar Margaret balik nanya. Edwin semakin bingung.
“Jelas dong, aku baru sehari bersekolah disini. Memangnya ada apa? Ceritakan kepadaku..” balas Edwin berpura-pura memperhatikan pelajaran.
“Velyncia Soetrisno itu adalah cewek yang paling ditakuti di sekolah ini. Ia dihormati bahkan oleh para guru karena ia adalah putri tunggal almarhum ketua yayasan sekolah ini, yang berarti dialah pewaris yayasan sekolah ini. Velyncia itu sangat kuat, dia menguasai 3 jurus beladiri. Saat pertama kali masuk sekolah, dia bertarung dengan para preman yang sudah menguasai sekolah ini dan menang. Sekolah ini jadi disiplin berkat dia. Dia sangat pintar dan seorang Ketua OSIS. Bahkan karena kelebihannya itu ada rumor yang mengatakan bahwa Velyncia itu adalah seorang anggota organisasi bawah tanah.” Jelas Margaret panjang lebar dengan satu tarikan nafas. Edwin cuma bisa menatap Margareta tanpa bisa berkata apa-apa. Sehebat itukah cewek itu? Mengagetkan masih ada cewek yang bisa dikategorikan sempurna seperti itu.
“Karena alasan itu, nyawamu bisa terancam, Edwin anak baru. Kalau kau masih sayang nyawamu, jangan dekati dia. Bahaya..” ujar cewek itu dan dari nadanya menutup percakapan singkat antara mereka berdua.
Percakapan itu cukup menyita pikiran Edwin selama 1 minggu penuh. Aneh memang, kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal tentang Velyn dan segala rumor itu. Betulkah rumor-rumor itu? Apakah nyawanya betul-betul terancam? Padahal dia baru pindah sekolah. Kemana mayatnya akan dibawa nanti kalau teman-teman satu organisa-si-nya…datang?
Edwin cepat-cepat mengusir pikiran negatif dari otaknya lalu menghela nafas. Walaupun baru sebentar ia mengenal Velyncia, Edwin tahu perempuan itu adalah orang yang baik. Ia percaya itu. Menurutnya, Velyn itu hanya… apa kata-kata yang pas? Oh ya, kesepian. Sikap dinginnya mungkin menunjukkan sikap sombong. Namun sinar mata Velyn memancarkan kesedihan dan kesepian yang mendalam.
Bel berbunyi menandakan waktu pulang. Edwin cepat-cepat membereskan barang-barangnya lalu bergegas menaiki tangga menuju deretan ruangan anak-anak kelas dua dan menunggu di depan kelas yang berpapankan “XI IPA 3”. Satu demi satu anak-anak kelas dua keluar dari kelasnya masing-masing dan saat melihat Edwin, mereka berbisik-bisik dan berdecak serta menggumamkan kata-kata ‘apakah dia mau cari mati? Dia anak yang minggu lalu bersama Velyncia
Edwin pura-pura tidak mendengar dan mengintip ruang kelas XI IPA 3 dari pintu kelas. Masih ada beberapa anak di ruangan kelas itu, namun siapa peduli? Yang ia cari adalah Velyncia yang masih duduk di salah satu meja sambil memegang handphonenya. Edwin melangkah masuk ke dalam ruang kelas dan menuju ke arah meja Velyn. Anak-anak lain yang masih berada di kelas tidak bisa berkata apa-apa. Anak baru itu sungguh kasihan. Ia tidak tahu siapa yang ia dekati. Cewek galak yang bahkan tanpa pikir dua kali membanting seorang cowok kelas 3 yang ganteng.
“Hei, Velyn..” sapa Edwin nyengir sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Velyn memandang dingin cowok itu sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke layar HPnya lagi.
“
“Kau sendiri kenapa belum pulang? Aku akan menungguimu.” Jawab Edwin santai.
“Tidak perlu dan itu bukan urusanmu.”
“Oh ya? Menurutku itu urusanku juga karena kau temanku.” Ujar Edwin memproklamasikan diri sebagai teman Velyncia tanpa meminta pendapat yang lain.
Velyn berdiri secara tiba-tiba dan memukul meja.
“Teman?! Memang kau tahu apa arti teman? Kau anak baru, jangan berkata seakan-akan kau mengerti semuanya,“ ujar Velyn tanpa senyum. Nadanya terkesan mengancam Sudah lama ia tidak dibuat kesal, dan sekarang oleh anak baru yang bahkan belum genap 1 bulan menikmati kehidupan barunya di sekolah ini.
“Pulang jika tidak aku akan mematahkan tulang hidungmu…Kau membuatku kesal.” lanjut Velyn menatap dingin cowok itu dan dari suaranya, semua orang tahu kalau cewek itu tidak main-main. Edwin ikut berdiri juga.
“Aku tidak mau pulang. Padahal baru sebentar kenal dengan kamu, tapi ternyata kau sungguh keras kepala—“ Velyn mengernyitkan dahi. Kata-kata itu seharusnya diucapkan oleh mulutnya bukan mulut anak baru itu. “Kau tidak suka punya teman?”
Velyn mengeratkan kepalan tangannya. Anak ini sungguh menyebalkan.
“Bukankah semuanya takut dan juga memakai topeng tebal berlapis-lapis?” tanya Velyn tersenyum mengancam. “Pergi dari hadapanku. Kau bersikap seakan-akan telah mengenalku sejak lama. Tidakkah kau sadar itu memuakkan??”
“Aku tidak takut terhadapmu.. Menurutku kau tidak menakutkan, itu hanyalah topeng milikmu. Aku tahu kau adalah orang yang baik walaupun baru 1 minggu aku mengenalmu,” Ujar Edwin tegas. Apa yang ia ucapkan serius. Walaupun baru sebentar, namun pertemuan yang pertama itu terasa sangat berkesan.
Velyn menggertakkan giginya dan mengacungkan kepalannya tepat kearah cowok itu yang tidak bergerak sama sekali tapi hanya mengatupkan giginya dan menutup matanya. Gerakkannya berhenti tepat di depang muka cowok itu, hanya selisih beberapa senti saja. Edwin membuka sebelah matanya dan dari ekspresinya, bisa dibilang ia shock dengan tangan yang berada di tepat mukanya dan siap melontarkan 1 pukulan kuat. Muka Velyn terlihat merah karena marah – tapi ada hal lain yang tidak bisa Edwin deskripsikan – dan nafas cewek itu terengah-engah seperti sesaat seluruh oksigen diambil dari cewek itu.
Velyn menundukkan kepalanya. Pundaknya masih naik turun lalu dengan cepat, cewek itu mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Edwin.
“Lakukan sesukamu..” ujar Velyn lalu pergi keluar kelas.
Edwin terpaku di tempat dan kemudian secara perlahan senyum tersungging di mulut lelaki itu. Ia berhasil mengalahkan cewek itu dalam hal perang mulut. Sesuai dugaannya, Velyncia adalah orang baik. Sikap acuh tak acuh cewek itu hanya topeng.
“Dia memang orang baik.. “ batin Edwin tersenyum lega penuh kemenangan dan melangkah keluar kelas menenteng tasnya.
“Velyn!!”
Edwin menyebut nama cewek berambut pendek itu dari bawah tangga segera setelah melihat cewek yang ditunggunya itu menuruni tangga. Velyn menghela nafas, namun tetap memakai topeng tanpa ekspresinya. Edwin nyengir kuda lalu berjalan bersama Velyn sambil membopong tasnya.
“Mau kubawakan tasnya?” tanya Edwin menawarkan sambil senyum jahil.
“Tidak perlu..” respon Velyn datar dan meneruskan jalannya. Edwin hanya tertawa hampa dan mengikuti Velyn.
Sudah 1 bulan penuh Edwin bersekolah disini dan sudah 3 minggu dia menjadi ‘teman’ cewek paling menakutkan seantero sekolah, walau hanya teman sepihak karena Velyn tidak pernah mengakuinya. Seluruh teman Edwin sudah tidak bisa membujuk cowok itu lagi dan semuanya sudah lepas tangan. ‘Biarlah apa yang terjadi, terjadilah. Kau keras kepala..Kalau sudah kejadian baru deh menyesal.’ ungkap salah seorang teman sekelas Edwin
Tapi sampai detik ini, belum pernah Velyn memukul Edwin—kalau nyaris sering—dan seiring waktu berjalan, semakin banyak yang Edwin ketahui tentang Velyn. Mulai dari tanggal ulang tahun, alamat rumah, mata pelajaran favorit, dan juga beberapa hal lain. Semakin lama semakin penasaran Edwin tentang Velyn dan rasanya tidak ada hari tanpa memikirkan cewek misterius itu.
“Hei Velyn—“ Edwin diam sesaat menunggu respon dari cewek itu, tapi ternyata tidak ada. “Jalan yuk hari Sabtu”
Velyn berhenti berjalan lalu menatap Edwin sambil mengangkat sebelah alisnya. Inilah salah satu kelebihan Velyn, ia selalu menatap lawan bicaranya saat berbicara yang menunjukkan kepercayaan dirinya. Edwin mengangguk.
“Yup, kita belum pernah jalan bareng
“Memangnya harus?” ujar Velyn balik nanya dan dengan sikap angkuhnya melipat kedua tangannya, menunggu jawaban.
“Well, tidak sih, tapi.. ya.. a-aku
“Ayolah, kau tidak ada kursus atau les atau apapun
“Oke, aku tidak punya kerjaan juga-- “ Edwin betul-betul lega mendengarnya. Ia sangat ingin jalan dengan cewek satu ini.”Jam berapa?”
“Jam 11 saja! Aku akan jemput kau di rumahmu,” ujar Edwin bersemangat lalu menuju ke arah parkiran motor. “Bye, Velyn!” Velyn tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh tanda bahwa ia mendengar.
“Mau kemana?” tanya Edwin tersenyum begitu Velyn memasuki Lancer yang ia kendarai. Khusus hari ini dia telah memohon-mohon ke orangtuanya untuk diperbolehkan membawa mobil, bahkan Edwin sampai membuat janji kalau ia akan belajar lebih rajin lagi apabila diperbolehkan membawa mobil lagi dan mengancam akan mengurung diri di kamar kalau tidak diperbolehkan dan akhirnya Edwin diperbolehkan.
Hari ini, Velyn memakai baju tangan panjang kuning gading dengan tudung dan juga celana jeans selutut berwarna biru tua nyaris hitam serta sepasang sneaker. Ini adalah pertama kalinya bagi Edwin melihat cewek itu memakai baju bebas dan Velyn terlihat sangat manis dengan baju itu, terlihat lebih segar.
“Terserah..”
“Tidak ada tempat yang namanya terserah. Mau kemana?”
“Kau yang pilih tempat.”
“Aku
Velyn terdiam sejenak. “Ke Sushi Tei di Mall Taman Anggrek saja. Kau tahu tempat itu
“Ya. Pilihan bagus, Tuan Putri, “ ujar Edwin mengangguk-angguk antusias dan mengarahkan mobilnya ke tempat tujuan.
Seperti umumnya
“Lagu Lost Heaven-nya Laruku?” tanya Velyn yang jelas mengagetkan Edwin. Yang pertama, band ini mungkin kurang dikenal untuk orang
“Wow, kau tahu? Aku tidak menyangka. Lagunya bagus-bagus ya..” ujar Edwin tersenyum lebar.
“Ya, Laruku cukup terkenal apalagi banyak juga anime yang soundtracknya diisi oleh Laruku seperti Gundam 00,” respon Velyn yang tambah membuat kaget Edwin. Siapa yang sangka kalau cewek cuek seperti Velyncia Soetrisno ini tahu tentang yang namanya anime termasuk anime yang lagi ngetop belakangan ini.
“Ternyata kau suka anime juga ya? Mengejutkan, kukira cewek sepertimu sukanya novel berat atau apa—“ Edwin berhenti sebentar menunggu tanggapan dari Velyn, tapi ternyata tidak ada. “
“Code Geass dari
“Kalau manga?”
Velyn terdiam sejenak. “
Edwin tertegun mendengar jawaban Velyn. Cewek ini mengikuti betul anime dan manga yang lagi di peringkat atas. “Kau mengikuti betul ya…” komentar Edwin singkat.
“Karena aku tidak ada kerjaan lain. Jadi hanya buka internet atau apa kalau bosan.”
Suasana di dalam mobil sunyi kembali. Mobil mulai berjalan setelah cukup lama berhenti dan setelah 15 menit, sampailah mereka di tempat tujuan. Setelah memasuki restoran dan memesan pesanan mereka, keduanya mulai mengambil yang mereka mau dan makan.
“Yang ini enak. Mau?” tanya Edwin menyodorkan sushi miliknya ke tempat Velyn. Tanpa menjawab, Velyn mengambil sushi itu dengan sumpitnya dan memakannya, lalu mengangguk. Tanpa berbicara satu sama lain lagi sesudahnya, mereka memakan habis pesanan mereka.
“Habis ini mau kemana?” tanya Edwin sambil meminum jus melon yang ia pesan.
“Terserah..”
“Sudah kubilang, tidak ada tempat yang namanya terserah..”
“Aku ikut saja..” ujar Velyn sepertiya tidak berniat memberikan rekomendasi tempat atau apa. Edwin cemberut lalu setelah beberapa menit ia tersenyum cemerlang.
“Aku tahu! Kita main itu saja..” ujar Edwin sambil menunjuk ke arena bermain seluncur es.
“Itu?” tanya Velyn memastikan dengan mengangkat sebelah alisnya. Edwin mengangguk semangat.
“Iya, kau bilang terserah aku
“Terima kasih!” ujar salah seorang kasir kepada Edwin dan juga Velyn. Udara dingin mulai terasa dan kemudian segera setelah memasang sepatu seluncurnya, dengan penuh semangat (dan juga hati-hati) Edwin berjalan linglung menuju ke arena skate diikuti Velyn dari belakang. Dengan hati-hati, Edwin melangkah masuk dan berpegangan ke tiang yang disediakan.
“Hmm.. jadi bagaimana ya cara meluncurnya…” gumam Edwin melihat-lihat orang lain yang sibuk meluncur dengan indahnya di atas arena. Velyn terbatuk kaget.
“Kau belum pernah main ini?—“ Edwin menganggukan kepalanya. Velyn mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan cowok itu. “Kalau begitu kenapa main ini?”
“Well, karena belum pernah makanya mau mencoba,” jawab Edwin nyengir kuda dan mulai belajar meluncur, namun baru sedetik lepas dari tiang, cowok itu langsung jatuh terjengkang.
“Ouch! Sakit..” rintih Edwin memegang bagian belakangnya dan berusaha berdiri namun ternyata gagal dan dia malah terjatuh lagi. Velyn melipat kedua tangannya dan meluncur ke arah Edwin dan mengulurkan tangannya.
“Pegang tanganku. Aku akan mengajarimu..” ujar Velyn tanpa ekspresi. Edwin hanya terperangah mendengar Velyn yang ingin mengajarinya, padahal cewek ini biasanya cuek sekali! Edwin mengabil uluran tangan Velyn dan akhirnya bisa berdiri.
“Apabila mau meluncur, condongkan badanmu kedepan dan buka kedua kakimu selebar bahu, seperti ini… Lalu apabila ingin berhenti, miringkan badanmu dan juga kedua kakimu. Prinsip dasarnya sama seperti sepatu roda. Aku akan memberimu contoh, “jelas Velyn lalu mulai meluncur mengelilingi arena berbentuk bulat itu dengan cepat dan kemudian berhenti lagi di depan Edwin yang memandang kagum cewek itu.
“Coba..” perintah Velyn yang ditanggapi dengan anggukan. Edwin mulai meluncur namun baru beberapa saat, cowok itu terjatuh lagi. Velyn menghela nafas dan kemudian mengulurkan tangannya lagi. Segera setelah Edwin meraih uluran tangannya, Velyn mengambil tangan yang satu lagi dan mulai menarik Edwin, mengajak Edwin meluncur.
“Seperti ini.. Pelan-pelan dulu. Bisa?”
“Se-sepertinya.. “ ujar Edwin tersenyum malu. Setelah 30 menit, akhirnya Edwin bisa juga meluncur sendiri. Tanpa sadar, Velyn menyunggingkan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan melihat Edwin yang meluncur-luncur penuh semangat seperti anak kecil. Velyn pun ikut meluncur dan melakukan beberapa trik indah diatas es yang dilihat oleh banyak orang dengan penuh kekaguman. Edwin bahkan bertepuk tangan.
“Wow! Kau hebat sekali! Aku juga akan mencobanya!” ujar Edwin berbinar-binar dan mulai meluncur dan berputar, namun baru awal putaran, cowok itu sudah jatuh lagi untuk kesekian kalinya dalam selang waktu 40 menit. Velyn yang melihat hal itu tidak tahan lagi untuk tertawa dan mengulurkan tangannya.
“Butuh latihan yang lama kalau mau melakukan trik berputar seperti yang aku lakukan..” ujar Velyn diantara tawanya. Edwin tidak langsung meraih uluran tangannya itu, namun hanya tersenyum.
“Kau sangat cantik kalau tertawa, ini pertama kalinya aku melihat tawamu..” Velyn terdiam mendengar ucapan cowok itu dan dapat dirasakan mukanya merona. Cewek itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain yang disambut tawa kecil Edwin yang berdiri dan meluncur ke depan Velyn.
“Velyn, ada apa? Kok memalingkan muka? Tidak sakit
“Di-diam,” bentak Velyn tergagap yang malahan membuat cowok semakin bingung.
“Diam untuk apa? Aku ada salah bicara?”
Velyn tidak menjawab lagi dan berusaha meluncur menjauhi Edwin namun dia malah tergelincir dan terjatuh. Tapi sayangnya tidak jadi karena Edwin lebih dulu menahan tubuhnya sebelum terjatuh.
“Hati-hati..”
“A-aku tahu! Jangan main-main lagi!” jawab Velyn dengan kesal dan cepat-cepat melepaskan diri dari Edwin dan meluncur meninggalkan cowok itu. Edwin menghela nafas kecewa dan bingung.
“Aku main-main apa?
Semenjak kejadian hari itu, Velyn entah kenapa jadi susah berhadapan dengan cowok itu. Ia tidak bisa menatap langsung cowok itu tanpa membuat mukanya memerah. Ia menjadi sering salah tingkah bila ada Edwin di dekatnya dan jantungnya berdebar kencang. Velyn jadi sulit berkonsentrasi tanpa memikirkan cowok itu. Tapi untunglah, karena Edwin itu bodoh, dia tidak menyadari perubahan sikap Velyn. Edwin adalah orang pertama yang ia perbolehkan berbuat seenaknya dengannya seperti ini. Dia adalah orang pertama yang membuatnya merasakan hal seperti ini. Semakin Velyn memikirkannya, semakin ia tidak mengerti dan semakin ia muak dengan hal yang ia rasakan ini. Perasaan yang ia alami tambah dirumitkan sejak pertanyaan dari para anggota OSIS
“Hei, Vel. Kau dekat sekali dengan murid pindahan itu. Pacaran ya?” tanya Leo tiba-tiba saat mereka lagi menunggu anggota yang lain. Velyn tersedak dan terbatuk-batuk.
“Apa? Pacaran? T-tidak..” jawab Velyn kaget dan sekali lagi, dirasakan mukanya memanas
“Oh, tapi kalian dekat sekali ya. Kau suka dia?” timpal Helen menanyai Velyn yang tambah membuat Velyn bingung, namun sebelum sempat menjawab, Reza sudah memotong duluan.
“Jelas tidak dong, len. Menurutku si anak pindahan itu—siapa namanya? Oh ya.. Edwin—yang suka pada ketua OSIS kita ini,” ujar Reza dengan PD nya dan kemudian ketiga orang bawahan Velyn itupun berdebat tentang hubungan Velyn dan Edwin. Velyn menarik nafas perlahan, namun karena kesabarannya yang sudah habis, Velyn memukul meja.
“Diam! Tidak penting sekali!” bentak Velyn kesal dengan tatapan tajam ke 3 orang itu yang langsung membisu dan menggumamkan kata maaf dan sebagainya.
Velyn menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau memikirkan percakapan itu lagi. Cewek itu bangkit duduk dari tempat tidurnya dan menghela nafas sambil memeluk bantalnya kesal. Sebenarnya apa sih yang ia rasakan ini? Perasaan kesal? Perasaan benci? Perasaan sebal? Perasaan suka?
Velyn berbaring lagi dan memandang langit-langit kamarnya. Dari sekian banyak orang yang ia kenal, hanya Edwin yang mau mendekatinya seperti sekarang. Sejak kejadian itu, Velyn telah menutup hatinya rapat-rapat dan membiarkan hatinya dimakan kegelapan. Satu persatu, teman-temannya meninggalkannya.
Siapakah Edwin menurut Velyn? Seorang yang keras kepala? Adik kelas yang bodoh dan ceroboh? Teman? Sahabat? Bawahan? Ataukah lebih dari itu? Perlahan tapi pasti, Velyn dapat merasakan dirinya mulai mengalami titik balik yang kedua lagi. Ia dapat merasakan hatinya yang sudah dikunci rapat-rapat perlahan mulai terbuka dan cahaya baru mulai mengisi kekosongan yang ada di hatinya. Dengan perubahan seperti ini, apa yang harus dia lakukan?
***
Velyn berangkat ke sekolah seperti biasa dan seperti hari-hari yang biasanya, Edwin langsung datang menghampiri Velyn yang baru datang dengan senyumnya yang terkesan bodoh.
“Pagi, Velyn!” sapa Edwin yang hanya ditanggapi dengan tatapan lekat-lekat Velyn. Edwin mengerutkan kening. “
Velyn merasakan mukanya mulai memanas dan berjalan meninggalkan cowok yang sedang bingung itu sambil menundukkan kepalanya.
“Velyn? Tidak biasanya kau menundukkan kepalamu seperti itu. Hei, Velyn.
Matahari bersinar sembunyi-sembunyi di balik awan yang menghiasi langit. Angin berhembus lembut menerpa dua orang yang sedang berdiri di depan sebuah nisan. Velyn membawa sebuket besar bunga dan meletakkannya di atas kuburan kedua orangnya. Hari ini adalah hari peringatan 8 tahun kematian kedua orangtua Velyn yang berarti hari ini adalah hari ulang tahun Velyn yang ke-18. Di belakang, Velyn berdiri seorang cowok yang juga membawa buket bunga dan meletakkannya di atas makam sesudah Velyn, kemudian cowok itu mundur beberapa langkah lagi, menyediakan waktu untuk Velyn dengan orangtuanya.
Velyn berlutut dan kemudian menyentuh batu nisan. Lalu ia mengatupkan kedua tangannya dan mulai berdoa. Doa untuk orangtuanya yang sekarang, Velyn yakin sedang ada di surga dengan bahagia. Cowok di belakang Velyn berdeham beberapa kali sehingga cewek itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
“A-aku akan membawa mobilnya sekarang. Kau disini saja, oke?” tanya cowok itu tersenyum kecil sambil mengeluarkan kunci mobilnya.
“Baiklah, Edwin—“ cowok itu tersenyum lagi dan kemudian berlari meninggalkan Velyn. “Jangan lari, bodoh..” kata Velyn memperingatkan dengan suara agak keras yang dibalas dengan acungan jempol cowok itu. Velyn memandang makam kedua orangtuanya lagi dan tersenyum.
“Papa, Mama, Aku yakin kalian berdua sudah berbahagia di atas
Sebuah Lancer berwarna biru berhenti di jalanan keluar dari komplek pemakaman dan Velyn membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil itu lalu membuka pintu.
“Sekarang mau kemana, Tuan Putri?” tanya Edwin dengan nada sopan yang dibuat-buat. Velyn tersenyum kecil sambil menutup matanya dengan anggunnya.
“Terserah, Kau. Aku ikut saja..” jawab Velyn santai dan bersandar ke kursi yang didudukinya. Edwin menghela nafas lalu memegang tangan kanan cewek yang duduk di sampingnya itu sambil menatapnya dalam. Velyn memandang Edwin tanpa ekspresi yang berarti walaupun mukanya sekarang memerah dan jantungnya berdegup semakin kencang.
“Baiklah, tapi apakah ada yang kau inginkan untuk ulang tahunmu kali ini, Velyn?”
Pertanyaan itu membuat mata Velyn terbelalak dan kenangan masa kecilnya 8 tahun yang lalu pun berputar kembali di dalam otaknya. Velyn membuang muka dan memandang ke luar jendela. Velyn menginginkan hal yang sama dengan yang ia inginkan saat itu, tapi apakah itu menjamin kalau Edwin akan selalu bersamanya? Bagaimana kalau dia kehilangan orang yang ia sayangi seperti kejadian dulu lagi? Velyn tidak ingin mengucapkan permintaanya itu.
“Aku tidak menginginkan apa-apa..” ungkap Velyn datar sambil membalas genggaman cowok itu yang tersenyum lembut dan menghela nafas.
“Hahaha, ya sudah—“ Edwin melepaskan genggaman tangannya dan memasukkan persneling mobilnya dan kemudian menjalankan mobilnya. “Sekarang kita rayakan ulang tahunmu.”
Velyn tetap memandang keluar jendela dan mukanya masih merona karena tatapan dan pertanyaan Edwin tadi. Velyn menutup matanya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di kursi penumpang dan melirik sedikit ke arah Edwin yang sedang mengemudi.
“Permintaanku hanya satu, Aku hanya ingin kau terus bersamaku, Edwin…”
TAMAT
Isel...
BalasHapusTokoh Velyn itu keren y.. Huah. .
>.<
Cerpenny bagus d..
Makasih Dina~~ XD XD
BalasHapusTOP, sel! Tpi...
BalasHapusSIAPAKAH PEMBUNUH ORANG TUA VELYN?
ahahaha...
BalasHapusitu nanti aja lah diceritainnya..