Senin, 20 April 2009

Awal yang Baru

Karya : Callista Theodora/ 06

SMA Canfield adalah sebuah Sekolah Menengah Atas swasta yang sangat terkenal di kota Palembang. SMA ini adalah sekolah yang selalu memenangkan setiap perlombaan yang diikutinya, baik dalam tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Siswa-siswi SMA ini juga disegani oleh masyarakat di kota Palembang, maupun masyarakat dari daerah ini. Selain disegani, siswa-siswi SMA Canfield juga kebanyakan merupakan anak dari pejabat negara atau pengusaha terkenal dibidangnya masing-masing, dengan kata lain, kebanyakan merupakan anak orang kaya.
Perlombaan yang terakhir diikuti sekolah ini adalah Olimpiade Biologi yang diikuti oleh Zacharry Aryosuprapto, yang biasa dipanggil Zac. Seperti biasanya, SMA Canfield yang diwakili oleh Zac adalah peraih medali emasnya dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat internasional.
Zac tidak termasuk anak pengusaha atau anak pejabat, ayahnya hanyalah seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil), ibunya sudah lama meninggal dunia, sejak dia berusia 3 tahun. Zac tidak mungkin dapat bersekolah di SMA Canfield jika tidak mendapatkan beasiswa dari sekolah karena prestasinya yang membanggakan.
“Zac, jangan hanya mengisi waktumu dengan membaca buku di perpustakaan saja. Kamu harus lebih banyak bergaul dengan siswa-siswi lainnya juga.” kata Kyle, Kyle adalah sahabat Zac.
“Membaca itu jauh lebih baik daripada mengganggu orang lain seperti yang sedang kamu lakukan.” jawab Zac, karena sebal, karena Kyle selalu saja mengganggunya.
“Maafkan aku, jika aku mengganggumu, tetapi apalagi yang bisa kukerjakan selain mengganggumu,” jawab Kyle sambil tersenyum jahil.
Mendengar temannya membicarakan hal itu, Zac hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Zac, bisa tolong kamu kemari sebentar?” tanya seorang guru biologi yang juga merupakan pembina Olimpiade, sambil berjalan ke arah Zac dan Kyle.
“Iya, ada apa, Bu?” tanya Zac, sambil meletakkan buku yang sedang dibacanya dan berdiri dari kursi yang didudukinya, sedangkan Kyle hanya pura-pura tertarik pada buku yang sedang dipegangnya.
“Tidak, saya hanya ingin memberitahu bahwa sehabis jam istirahat akan diadakan pembinaan di Laboratorium Biologi, dan ini surat izinnya, tolong kamu serahkan kepada guru yang mengajar setelah jam istirahat,” jawab guru tersebut.
“Baiklah, Bu,” jawab Zac sambil mengambil surat izin.

***

Selain Zac, ada juga Regina Katherine Sastrowidjaja, yang biasa dipanggil Katherine atau Kate, yang selalu mengharumkan nama SMA Canfield, namun bukan di bidang akademik, melainkan di bidang non-akademik, seperti menyanyi, menari, ataupun modelling. Kate adalah putri ketua yayasan SMA Canfield, yang sekaligus merangkap sebagai kepala sekolah SMA Canfield. Oleh karena itu, Kate selalu bersikap semena-mena di sekolah, jika ada orang yang tidak disukainya, dia akan membuat orang itu keluar dari sekolah. Hal itu disebabkan karena ayahnya yang sangat memanjakan dia, karena dia adalah putri tunggal, dan juga karena pesan terakhir ibunya sebelum meninggal dunia, saat Kate masih berusia 10 tahun. Kate akan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan
Sebenarnya Kate adalah anak yang cantik, pintar, dan menarik, tetapi kepribadiannya tidak bagus, karena dia sangat sombong terhadap teman-temannya. Semua siswa-siswi SMA Canfield takut kepadanya, tidak ada siswa yang pernah mencoba membuatnya marah, karena dia akan membuat orang itu menyesal dan pada akhirnya mengeluarkannya dari sekolah. Kate sangat suka menjadi pusat perhatian dan dia akan berusaha untuk membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya. Kate itu ibarat seorang putri raja, atau setidaknya Miss Popularity, karena kemanapun dia pergi, maka akan ada 2 teman yang setia mengikutinya, Vidia Bosson, atau biasa dipanggil Vidia atau V, dan Melanie Stryder, yang biasa dipanggil Mel, yang juga adalah anak pemilik perusahaan yang terkenal di bidangnya masing-masing, walaupun begitu, mereka bukan teman Kate dalam arti yang sebenarnya, tetapi sebagai dua orang yang selalu mengikuti dan meniru Kate.
Kate juga sebenarnya tidak disukai oleh banyak siswi, tetapi tidak ada yang berani berkata seperti itu di hadapannya, karena takut akan dikeluarkan dari sekolah. Kate juga selalu menggunakan handphone tercanggih dan menggunakan barang-barang bermerek internasional, seperti Prada, Gucci, Zara, Levi’s, Converse, dan merek-merek terkenal lainnya, dan dia akan selalu menjadi trendsetter yang pertama di SMA Canfield, walaupun hampir semua siswa di sini orang kaya. Kate sangatlah cantik, kulitnya putih seperti porselen, tubuhnya seperti model profesional, hal ini didapatkannya, karena dia adalah ibunya adalah orang Inggris, dan juga adalah model dan penyanyi yang terkenal pada zamannya. Kate juga sangat terkenal di seluruh sekolah, maupun di luar sekolah.
Sementara itu, Kate sedang berjalan menuju ke kantin ditemani oleh V dan Mel. Ketika mereka berjalan, semua mata, terutama para siswa tertuju ke arah mereka. Kate yang mengetahui hal tersebut merasa sangat senang. Saat mereka berjalan, mereka melewati papan pengumuman sekolah, dan Kate sangat tidak percaya akan apa yang dilihatnya, yaitu Lomba Menyanyi sekolah untuk grup-grup vokal dengan jumlah 3 sampai 6 orang. Lomba menyanyi ini akan diadakan dalam waktu 2 minggu, dan dana yang dikumpulkan dari lomba ini akan disumbangkan untuk sebuah panti asuhan di kota Palembang yang diruntuhkan beberapa hari yang lalu, sehingga mengakibatkan lebih dari 40 orang anak kehilangan rumah tempat mereka berlindung. Sebenarnya, Kate tidak tertarik tentang sumbangan itu, tetapi karena menurutnya ini adalah saat tepat untuk menjadi pemenang Lomba Menyanyi, dan menjadi pusat perhatian.
“Kita harus ikut Lomba Menyanyi ini,” kata Kate kepada Vidia dan Melanie.
“Ya, tentu saja kita harus ikut,” jawab Vidia dengan yakin.
“Kita pasti akan tampil dengan sangat hebat, dan semua mata akan tertuju kepada kita,” kata Kate lagi, sambil membayangkan hal tersebut.

***

“Zac, bisa tolong kamu panggilkan teman-temanmu yang lain untuk mengikuti pelatihan olimpiade?” tanya guru pembina Olimpiade Biologi, sambil menyodorkan surat-surat izin.
“Baik, Bu, saya akan mengantarkan surat-surat ini,” jawab B sambil mengambil surat-surat tersebut.
“Terima kasih, Zac,” kata guru tersebut.
“Terima kasih kembali, Bu,” jawab Zac.
Selagi berjalan ke kelas teman-temannya yang juga anggota Olimpiade Biologi, Zac melewati papan pengumuman dan membaca tentang Lomba Menyanyi. Akan tetapi, berbeda dengan Kate, Zac justru tertarik tentang panti asuhan yang diruntuhkan, karena kehilangan donatur dan surat tanah yang dianggap tidak sah. Sambil berjalan dia berpikir tentang betapa menyedihkannya nasib para anak panti asuhan tersebut, apakah mereka menjadi putus sekolah dan menjadi anak jalanan. Bagaimana mungkin tidak ada satu orang pun yang menghentikannya, terutama pemerintah? Pemerintah Indonesia sekarang ini cenderung mementingkan nasib para pengusaha kaya, atau pun orang-orang yang berpengaruh, daripada nasib rakyat tingkat akar rumput atau tingkat menengah ke bawah. Para pejabat negara dan partai politik hanya berani berjanji untuk memajukan rakyat miskin, tetapi ketika mereka telah naik jabatan, janji itu hanyalah janji, tidak untuk menjadi kenyataan. Zac juga berpikir untuk mengumpulkan uang dari hasil meraih medali Olimpiade dan mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan uang dan menyumbangkannya. Zac memang bukan anak orang kaya, tetapi ayahnya telah berhasil mendidiknya menjadi seseorang yang berhati besar dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

***

Zac sangat senang karena rencananya untuk mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan uang dan menyumbangkannya untuk anak-anak panti asuhan. Sementara itu, Kate juga sangat senang memikirkan lomba menyanyi yang akan dia menangkan, karena dia yakin bahwa lagu mereka sudah terdengar baik dan terharmonisasi, dan juga gaya yang akan mereka bawakan sudah berhasil dilakukan dengan baik, lomba akan diadakan besok, dan jika dia memenangkannya dia akan menjadi pusat perhatian banyak orang, dan tidak seperti biasanya R berjalan sendirian.
Mereka berdua terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, sehingga mereka berdua tidak menyadari jika mereka berdua sedang berjalan dari arah yang berlawanan dan akan segera bertabrakan.
BRAKKK!!!
Mereka berdua pun bertabrakan dan dua-duanya jatuh ke lantai.
“Hei, apa sih maumu? Apa maksudmu menabrakku?” tanya Kate marah sambil berdiri.
“Maaf, aku tidak sengaja, aku sedang tidak fokus saat berjalan tadi,” jawab Zac, sambil berdiri juga dan menyesal.
“Apa kamu bilang? Maaf, kamu pikir kamu berjalan di lapangan terbuka sendirian, sehingga kamu tidak fokus. Apakah kamu tidak tahu siapa aku? Aku adalah putri ketua yayasan SMA ini, dan kamu hanya meminta maaf setelah menabrakku.” cecar Kate histeris.
“Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja, lagipula kamu sendiri juga tidak fokus saat berjalan tadi,” jawab Zac.
Kate sepertinya ingin berteriak ke arah Zac, tetapi suaranya tidak keluar sama sekali, dan dia segera memegang tenggorokannya.
“Maaf, tetapi apakah kau tidak apa-apa? Sepertinya suaramu tidak keluar,” kata Zac.
Rasanya Kate ingin menangis sekarang, bukan karena bertabrakan Zac, tetapi karena suaranya tidak bisa keluar, dan saat itulah Vidia dan Melanie datang.
“Kate, apakah kamu baik-baik saja? Apa yang baru saja terjadi?” tanya Vidia.
“Maafkan saya, tetapi tadi saya tidak sengaja bertabrakan dengan dia, setelah itu dia marah-marah, dan setelah itu suaranya tidak keluar sama sekali.” jawab Zac merasa bersalah.
“Apa yang baru kamu bilang? Suara Kate tidak keluar? Bagaimana ini, padahal Lomba Menyanyi akan berlangsung besok, dan suara Kate tidak keluar?” tanya Vidia lagi sambil berjalan mondar-mandir dengan wajah yang tampak pucat karena keputusasaan.
“Kita sudah mempersiapkan semuanya agar kita bisa tampil maksimal, tetapi karena kamu menabraknya, sekarang suara Kate sama sekali tidak keluar.” kata Mel sambil ikut berjalan mondar-mandir dan menangis.
“Kita harus mundur dari perlombaan ini,” kata Vidia, mendengar hal itu Kate yang ingin berteriak hanya mengeluarkan suara mendengking.
“Kita sudah berlatih keras 2 minggu ini, dan kita akan mundur dari perlombaan? Kate pun pasti tidak setuju dengan hal ini. Benarkan begitu, Kate?” tanya Melanie yang disetujui oleh Kate dengan sebuah anggukkan.
“Bukankah kalian bertiga, mengapa kalian berdua tidak tutupi saja bagian yang dinyanyikan oleh Kate?” tanya Zac dengan ingin tahu, karena ini adalah perlombaan grup, walaupun mereka bertiga harus bernyanyi, tetapi hal itu seharusnya pisa dipikirkan lagi, pikir Zac.
“Itu tidak mungkin, karena Kate adalah penyanyi utama dalam grup ini, dan kami hanya penyanyi latar,” jawab Melanie.
Oh, pantas saja mereka begitu memerlukan Katherine, tetapi bukankah penyanyi grup seharusnya bernyanyi bersama, pikir Zac.
“Bagaimana kalau kamu lips-sync saja?” tanya Zac karena dia merasa sangat bersalah.
Kate mengangkat kepala dan memberikan pandangan menghina kepada Zac.
“Maaf, aku hanya merasa bersalah dan hanya itu yang muncul untuk menyelamatkan grup kalian,” kata Zac tampak menyesal.
“Ehm, kalau memang kamu tidak bisa memberikan solusi, kamu sebaiknya tidak usah di sini, kami bisa memikirkannya sendiri.” kata Vidia dengan wajah marah dan kecewa.
“Maaf, kalau aku mengganggu, tetapi aku sangat ingin membantu kalian,” jawab Zac.
“Sudahlah, tidak perlu, kami bisa memikirkannya sendiri, lagipula, saat ini KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sedang berlangsung,” kata Melanie.
“Sekali lagi, maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Maafkan aku jika aku mengganggu, mungkin lebih baik aku pergi saja,” kata Zac.
Zac pun pergi dengan merasa sangat bersalah kepada mereka bertiga, walaupun itu tidak sepenuhnya kesalahan Zac. Dia berjalan dengan pelan dan setiap lima langkah dia menoleh dan memandang dengan tatapan menyesal ke arah mereka bertiga.
Beberapa menit berlalu, Kate sudah mulai menangis, dan Vidia dengan wajah penuh keputusasaan memeluk Kate sambil berusaha menenangkannya. Melanie masih saja berpikir mengenai solusinya sambil berjalan mondar-mondir. Tidak ada orang yang memperhatikan mereka, karena saat ini KBM sedang berlangsung, dan mereka membicarakan hal ini di WC Putri.
“Aku punya ide, aku tidak tahu apakah ini bagus atau tidak menurut kalian, tetapi bagaimana bila kita mencoba untuk berbicara dengan ayah Kate, beliau adalah kepala sekolah, sehingga mungkin saja beliau bisa memahami kesulitan kita dan membantu kita agar tetap bisa ikut dalam lomba dengan Kate sebagai penyanyi utama.” kata Melanie.
“Katakan saja apa idemu, Mel!” jawab Vidia yang tidak sabar lagi menunggu untuk mengetahui apakah ide Melanie.
“Bagaimana jika kita meminta agar perlombaan itu diundur satu minggu saja? Aku yakin suara Kate akan sudah kembali pada saat itu.” jawab Melanie .
Kate dan Vidia pun saling memandang dan mereka berdua tersenyum pada saat yang sama. Kemudian, Kate segera memeluk Melanie, dan diikuti oleh Vidia yang memeluk mereka berdua sekaligus.
“Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Hal ini mungkin saja berhasil,” kata Vidia kepada dirinya sendiri.
Mereka pun segera keluar dari WC dan menuju ke ruang kepala sekolah. Melihat mereka bertiga, Kepala Sekolah yang juga ayah R pun segera mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
“Pak, sebenarnya kami ke sini karena kami ingin minta bantuan Bapak,” kata Vidia memulai pembicaraan.
“Apa itu, Vidia?” tanya Bapak Sastrowidjaja.
“Begini, Pak, suara Kate hilang, dan Lomba Menyanyi akan diadakan besok. Grup kami tidak mungkin bisa menang, atau bahkan mungkin kami akan menanggung malu jika kami tetap memaksakan tampil. Apakah mungkin bagi Bapak untuk memundurkan waktu perlombaan?” tanya Vidia.
“Apa yang terjadi pada suaramu, Sayang?” tanya Bapak Sastrowidjaja kepada Kate dengan pandangan sedih dan menyesal.
“Suara Kate hilang, Pak,” jawab Melanie.
“Oh, maaf, Katherine, Vidia, Melanie , tetapi saya tidak bisa membantu kalian, karena lomba ini akan dihadiri oleh Dinas Pendidikan Kota Palembang, dan undangan sudah dikirimkan, dan mereka sudah setuju akan datang. Maaf, Katherine, tetapi Papa benar-benar tidak bisa membantu kalian.” jawab Bapak Sastrowidjaja dengan sangat menyesal tidak bisa membantu putri tunggal yang sangat dicintainya.
Kate hanya menganggukkan kepala, dia sebenarnya ingin agar ayahnya membantu mereka dan memundurkan waktu acara, tetapi dia sadar kali ini ayahnya tidak bisa membantu. Kate yakin ayahnya akan bisa membantu rencananya yang lain untuk menyingkirkan orang yang dia benci.
“Baiklah, kalau begitu, terima kasih, Pak,” kata Vidia.
“Maafkan saya, saya benar-benar tidak bisa membantu,” jawab Bapak Sastrowidjaja.
“Tidak apa-apa, Pak, kami akan memikirkan cara lain untuk tetap mengikuti perlombaan,” jawab Melanie sambil berdiri.
Kate dan Vidia pun segera berdiri, dan segera meninggalkan ruangan. Kate hanya menganggukkan kepala ketika ayahnya memandangnya dengan sangat menyesal.

***

Sekarang sudah 1 minggu sejak Lomba Menyanyi, sebenarnya Zac sangat ingin menonton lomba tersebut, tetapi dia tidak bisa karena dia sakit dan baru masuk sekolah hari ini.
“Kyle, bagaimanakah perlombaan menyanyi yang diadakan 1 minggu yang lalu?” tanya Zac sambil merangkul Kyle yang adalah sahabat terbaiknya.
“Keren, sayang sekali kamu tidak menonton, walaupun aku kecewa karena dalam grupnya Kate tidak menyanyi tetapi gaya yang dia lakukan sangat keren. Apa aku tidak salah dengar Zac bertanya tentang lomba menyanyi?” kata Kyle.
“Tidak, memang apa konsep dan yang dilakukan oleh grup Katherine?” tanya Zac lagi.
“Katherine? Maksudmu Kate? Bukankah kamu pernah bilang kamu tidak pernah bertemu dengan Kate?” Kyle kembali bertanya.
“Ehm, sebenarnya sehari sebelum perlombaan aku tidak sengaja menabrak Katherine dan kami berdua terjatuh, kemudian dia marah-marah kepadaku. Ternyata sesudah itu suara Katherine menghilang dan dia tidak dapat bernyanyi, aku sangat menyesal saat itu sehingga aku benar-benar merasa tidak enak hati.” jawab Zac.
“Oh, berarti kamu penyebab kalahnya grup Kate. Mereka tampak sangat kecewa. Kate tidak bernyanyi, yang bernyanyi hanya V dan Mel, tetapi gaya yang dilakukan oleh Kate sangat keren, aku tidak dapat menjelaskan bagaimana gayanya, tetapi gayanya sangat keren. Tapi, Zac, kamu harus berhati-hati terhadap Kate, dia bisa menyingkirkanmu dari sekolah ini, jika dia tidak menyukaimu, walupun kamu sering mengharumkan nama sekolah dan berprestasi,” kata Kyle.
Sementara itu, Kate datang dan ingin berbicara empat mata dengan ayahnya.
“Pa, aku ingin minta tolong untuk mengeluarkan Zacharry Aryosuprapto, anak kampungan dari sekolah,” kata Kate memulai pembicaraan setelah Zac keluar dari ruang kepala sekolah.
“Apa, kamu meminta Papa untuk mengeluarkan Zac dari sekolah? Papa tidak bisa, Sayang, dia itu anak yang baik, tidak pernah membuat masalah, dan sering mengharumkan nama sekolah, Papa tidak bisa sayang,” jawab ayahnya.
“Aku mohon, Pa, keluarkan dia dari sekolah, dia adalah orang yang membuat suaraku tidak keluar pada saat lomba menyanyi,” kata Kate sambil membujuk ayahnya.
“Bukankah suaramu hilang karena kamu berteriak? Dan sejak dua hari sebelumnya suaramu sudah mulai hilang,” kata ayahnya.
“Pa, aku mohon keluarkan Zac dari sekolah demi aku, Papa sayang kepadaku, kan?” tanya Kate.
“Papa tidak menemukan kesalahan apapun dari Zac, Sayang, dan dia menabrakmu itu karena kecelakaan, bukan disengaja,” jawab ayahnya.
Kate mulai cemberut, maklumlah, dia sangat dimanja ayahnya, dan dia harus mendapatkan apa yang diinginkannya, dia benar-benar benci Zac, bahkan ayahnya sangat mempertahankan Zac, dia tidak suka ayahnya menyayangi orang lain, dan karena dia tidak berhasil dengan rencananya, sekarang saatnya rencana kedua.
“Kalau begitu, Pa, aku ingin minta tolong Papa melakukan razia, karena tadi saat istirahat, aku melihat ada siswa yang merokok,” kata Kate.
“Apa benar yang kamu lihat, Katherine?” tanya ayahnya.
“Pa, aku tidak bohong, aku tidak pernah bohong kepada Papa,” kata Kate.
“Baiklah Papa akan bicara kepada para guru sekarang,” kata ayahnya sambil berdiri. Kate yang melihat hal itu ikut berdiri dan keluar dari ruangan.
Razia dilakukan di setiap kelas, tidak ada siswa yang diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Hanya ada satu siswa yang didapati membawa barang terlarang ke sekolah, karena siswa-siswi lain sudah diberitahu oleh Kate, V, dan Mel sebelumnya. Hal ini memang bagian dari rencana Kate, karena dia mempunyai rencana untuk mengeluarkan Zac dari sekolah. Zac tidak penah merokok, tetapi Kate meletakkan rokok ke dalam tas Zac saat Zac dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Akibatnya sekarang Zac dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“Silahkan duduk, Zac. Apa kamu tahu mengapa saya memanggilmu lagi ke sini?” tanya kepala sekolah, yang diikuti dengan gelengan kepala dari Zac.
“Saya sangat kecewa terhadap kamu, kamu tahu apa ini?” tanya Bapak Sastrowidjaja lagi.
“ Rokok, Pak,” jawab Zac.
“Saya menemukan ini di tas Anda.” kata Bapak Sastrowidjaja tegas.
“Tapi, Pak, saya tidak pernah merokok, jadi untuk apa saya membawa rokok?” tanya Zac yang bingung.
“Kamu bilang kamu tidak merokok, tetapi putri saya, Katherine bilang bahwa dia melihat kamu merokok, awalnya saya berpikir bahwa dia berbohong, tetapi sekarang saya percaya kepadanya, karena saya menemukannya sendiri di dalam tas kamu.” jawab Bapak Sastrowidjaja.
Sekarang Zac mengerti, bahwa ini adalah rencana Katherine yang ingin mengeluarkannya dari sekolah, karena Zac telah menabraknya dan membuat suaranya hilang.
“Baiklah kalau begitu, saya akan menskors kamu selama tiga hari,” kata Bapak Sastrowidjaja.
“Saya diskors tiga hari, Pak?” tanya Zac.
“Kamu bisa menyelesaikan pelajaranmu hari ini, dan skors dimulai besok, saya tahu kamu berprestasi, tetapi kamu telah melanggar peraturan sekolah.” kata Bapak Sastrowidjaja, sambil mengisyaratkan Zac untuk keluar dari ruangannya.

***

Ayah Zac sudah tahu bahwa Zac diskors dan alasannya. Ayahnya sama sekali tidak marah kepadanya, karena ayahnya yakin bahwa Zac tidak mungkin melakukan hal tersebut.
“Zac, coba kamu lihat koran hari ini,” panggil ayahnya.
Zac membaca koran itu dengan seksama dan berita itu sangat mengejutkan. Kepala Sekolah, sekaligus ketua yayasan SMA Canfield, Bapak Sastrowidjaja ditangkap polisi, karena kasus korupsi uang pemerintah bantuan sekolah untuk pendidikan. Beliau sendiri sudah mengakui hal tersebut, dan semua harta bendanya, termasuk rumah dan rekening ditahan polisi sebagai bukti. Putri tunggalnya sekarang harus pindah dari rumah dan ikut terkena imbas dari perbuatan ayahnya.
“Aku tidak percaya bahwa Bapak Sastrowidjaja melakukan perbuatan laknat itu,” kata Zac kepada ayahnya, dia sendiri tidak percaya pada berita ini, tetapi tampaknya beliau khilaf sehingga melakukan hal tersebut.
“Ayah kasihan kepada putrinya, Zac,” kata ayahnya.
“Ayah tidak pergi bekerja?” tanya Zac kepada ayahnya.
“Ini baru pukul 06.15, Zac. Ayah baru saja akan pergi. Ayah pergi dulu ya, baik-baik di rumah.” kata ayahnya.
Zac hanya menganggukkan kepala sambil meminum tehnya.

***

Sejak hari ini, kehidupan Regina Katherine Sastrowidjaja berubah 180o dari kehidupannya sebelumnya. Dia harus tinggal di perumahan kumuh, semua tabungannya ditahan oleh pemerintah, bahkan handphone dan pakaiannya pun ikut ditahan. Mulai hari ini, Katherine tidak lagi bisa memamerkan barang miliknya kepada orang lain. Dia sangat malu, bahkan dia hampir tidak ingin sekolah hari ini, karena berita penangkapan ayahnya karena kasus korupsi, tetapi ia tetap pergi.
Benar saja, di sekolah semua orang menatapnya dengan pandangan menghina, layaknya dia adalah binatang yang patut dibuang. Setiap orang berbisik-bisik ketika melihatnya. Orang –orang yang dulu dibuatnya malu, sekarang membuatnya malu. Katherine masih tetap bisa bersekolah di sini karena biaya pendidikannya dibuat atas namanya, dan sudah diinvestasikan untuknya sejak dia masih kecil, dan itu sangat berguna sekarang.
Aku tidak kuat lagi, padahal aku baru menjalani hidup baru ini selama 1 hari, aku tahu, aku masih mempunyai uang untuk hidup dan aku tidak perlu bekerja untuk menghidupi diriku, karena masih ada Tante yang bekerja di luar negeri yang bersedia untuk menanggungku. Walaupun demikian, tetap saja aku merasa kalau tidak ada orang yang mau menerimaku. Apakah yang dulu aku lakukan itu salah? Tetapi aku kan tidak akan menjadi orang miskin jika bukan karena Papa. Ya, aku bahkan tidak lagi bisa mengikuti style fashion, atau shopping, dan semua ini adalah salah Papa, pikir Katherine.
Tidak satu orang pun yang berbicara kepadanya, bahkan Vidia dan Melanie pun menjauhinya. Dia benar-benar sendirian. Dia sadar dia tidak mempunyai teman. Vidia dan Melanie hanya berada didekatnya ketika dia sedang senang, tetapi ketika dia berada dalam situasi seperti ini tidak ada satu orang pun yang menerimanya. Dia sadar selama ini, semua orang tidak melihatnya sebagai dirinya sendiri, melainkan melalu materi yang dimilikinya dan ayahnya yang merupakan orang terhormat. Dia merasa dibuang oleh semua orang, dan itu bukan salah siapa pun, itu salahnya sendiri, Katherine yang dulu adalah Katherine yang sangat sombong dan mau menang sendiri, banyak orang yang tidak menyukainya, dan sekarang saat dia membutuhkan orang lain tidak ada orang lain yang mau berteman dengannya.
“Kalian tahu tidak, bahwa Regina Katherine Sastrowidjaja itu sudah bukan siapa-siapa lagi di sekolah ini, dia bukan lagi anak ketua yayasan sekolah, tetapi anak koruptor,” teriak Vidia di depan kelas saat Kate memasuki ruang kelas, yang diikuti dengan tertawaan dan cemoohan dari teman-teman lainnya.
Ini pertama kalinya Katherine menjadi bahan tertawaan banyak orang, dan hal ini benar-benar memalukan. Ini semua salah Papa, mengapa Papa melakukan semua ini, dan membuatku malu. Semua ini salah Papa, aku benci Papa, Papa tidak mengerti jika aku adalah orang yang paling menderita karena apa yang telah Papa lakukan. Aku benci Papa. Benci. Sangat benci, pikir Katherine.
Sebenarnya, Katherine ingin membalas kata-kata Vidia, mereka bukanlah teman yang baik, mereka hanya mau berteman dengannya, berteman baik bahkan, tetapi semua itu hanya ketika Katherine adalah Katherine yang dihormati, kaya, pusat perhatian untuk hal yang positif, terkenal, dan dengan semua sifat lama Katherine yang lama.
Katherine sangat malu dan tersinggung, dan rasanya air matanya akan tumpah saat itu, tetapi dia berhasil menahannya. Dia tidak mau harga dirinya dilukai. Dia hanya duduk di kursinya dan biarkan semua kesedihan menyelimuti dirinya.

***

Tiga hari, Zac sudah diperbolehkan masuk ke sekolah, Zac langsung mendekati Kyle.
“Hai, Zac!” panggil Kyle, “Aku benar-benar merindukanmu, rasaynya sekolah ini sangat sepi tanpamu,” kata Kyle lagi.
“Kamu ini mengapa, sih?” tanya Zac yang mulai sedikit takut.
“Jangan berpikir macam-macam, kamu kan teman baikku. Zac, ngomong-ngomong kau sudah tahu apa yang terjadi pada Pak Sastrowidjaja, dan putrinya tercinta dan manja, Regina Katherine Sastrowidjaja, orang yang telah membuat diskors. Itulah akibat bagi seseorang jika dia membuat orang lain menderita, itu namanya karma. Kamu pasti senang mendengar berita tersebut?” kata Kyle.
“Tidak, aku justru merasa kasihan pada Katherine,” kata Zac.
“Setelah apa yang telah dia lakukan kepadamu?” tanya Kyle.
“Iya,” jawab Zac mantap.
“Aku sangat salut kepadamu, walaupun dia telah memfitnahmu, kamu masih tetap baik kepadanya. Dia dibenci, diejek, dan direndahkan oleh teman-teman lainnya, itu semua adalah akibat dari sikapnya yang sangat sombong dan mau menang sendiri.” kata Kyle.
“Aku naik ke atap sekolah dulu, ya, aku mau mencari tempat yang tenang untuk membaca,” kata Zac.
“Okay, tapi jangan jadi ‘kutu’, ya. Maksudku ‘kutu buku’,” kata Kyle sambil tertawa.
Zac hanya ikut tertawa, kemudian berlari ke atap sekolah.
Sesampainya Zac di atap, Zac melihat Katherine berdiri di pinggir atap, melihat hal tersebut Zac langsung berlari dan menghampiri Katherine.
“Katherine, apa yang kamu lakukan?” tanya Zac. Katherine hanya diam saja.
Zac pun bertanya lagi “Kamu mau mencoba untuk membunuh diri, ya?”
Katherine hanya menoleh dengan tatapan kosong. Melihat hal tersebut, Zac langsung menarik tangan Katherine, dan membawanya lebih jauh dari pinggir atap, Katherine pun memberontak dan berteriak, ”Apa yang kamu mau? Aku lebih baik mati saja dan pergi dari dunia ini, daripada aku harus hidup menderita dan miskin di dunia ini.” kata Kate.
“Hidupmu ini mungkin tidak berarti bagimu, tetapi bagi ayahmu, kamu adalah segalanya,” kata Zac sambil berusaha untuk menenangkan amarah Kate.
“Papa, aku benci papa. Papa yang membuatku seperti ini,” kata Katherine.
“Regina Katherine Sastrowidjaja, apakah kamu tidak tahu ada orang yang hidupnya lebih sulit dan lebih menderita daripada dirimu?” tanya Zac.
“Aku ini sangat menderita. Aku lebih baik mengakhiri hidupku saat ini. Jangan ikut campur!” kata Katherine.
“Kamu berpikir masalahmu berat hanya karena kamu miskin dan semua orang di sekolah memperolokmu, tetapi kamu tidak pernah peduli dengan orang lain yang masalahnya lebih berat dibandingkan dirimu. Setidaknya jangan sia-siakan hidupmu, kamu masih mempunyai waktu untuk berubah, menjadi lebih baik. Tunjukkan kepada semua orang, kalau kamu tidak seperti yang mereka katakan.” kata Zac.
Mendengar kata-kata Zac, Katherine terdiam dan terduduk lemas di lantai.
Ternyata aku ini memang tidak berguna, untuk apa aku menyia-nyiakan hidupku, hal itu akan membuat mereka memperolokku lebih dari sekarang. Aku memang salah dulu, tetapi sekarang aku harus berubah. Benar kata Zac, masalahku tidak terlalu berat. Aku masih bisa makan dan bersekolah. Memang aku jatuh miskin, tetapi aku harus menunjukkan kepada semua orang kalau aku mampu berdiri dan bertahan, pikir Katherine.
“Katherine, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Zac.
“Panggil aku Kate, aku baik-baik saja. Terima kasih telah menyadarkanku, dan maafkan aku jika aku telah marah-marah dan berteriak kepadamu, Zac.” kata Kate.
“Sama-sama, aku senang kamu mengerti maksudku. Jangan pernah meminta maaf karena kamu telah memperlihatkan perasaanmu, ingatlah bahwa jika kamu melakukannya, berarti kau meminta maaf untuk sebuah kebenaran.” kata Zac sambil tersenyum.
“Terima kasih, dan aku mau meminta maaf lagi karena aku telah memfitnahmu, dan membuatmu diskors selama tiga hari. Aku sangat menyesal karena telah melakukannya.” kata Kate.
“Sudahlah, jangan pikirkan soal hal itu, aku bahkan sudah melupakannya. Maaf, tetapi apa yang menyebabkanmu ingin membunuh diri?” kata Zac.
“Terima kasih, kamu sangat baik, aku tidak percaya kamu bisa dengan mudah memaafkan aku, setelah apa yang telah aku lakukan terhadapmu. Untuk pertanyaanmu, aku merasa aku tidak berguna untuk hidup di dunia ini. Bahkan, Papa pun membuatku menderita. Aku benci pada papa karena dia melakukan semua ini kepadaku. Aku tahu, semua siswa marah karena kesalahanku yang terlalu sombong dan sering mengejek mereka, aku dibenci semua siswa di sekolah ini, dan bahkan kedua teman baikku, tetapi bukan berarti mereka bisa menghakimiku seperti itu, dan mereka tidak akan memperolokku dan mengejekku jika papa tidak melakukan korupsi. Aku bahkan gagal mengikuti dua audisi menyanyi, karena kasus papa, padahal sebelumnya mereka mengatakan aku mempunyai potensi besar untuk menjadi penyanyi, tetapi karena kasus papa mereka mengeliminasiku, karena menurut mereka itu akan membuat rating mereka turun jika menerima anak koruptor sebagai salah satu penyanyi di label mereka.” kata Kate sambil menahan tangis, dia tidak mau kelihatan seperti anak cengeng di depan Zac.
“Itu bukan alasan untuk mengakhiri hidupmu. Ini memang rintangan yang berat untukmu, tetapi memang rintangan adalah guru yang keras, karena memberikan ujian terlebih dahulu, sebelum pelajarannya. Lagipula, untuk apa kamu memikirkan kegagalan, karena kegagalan adalah penundaan, bukan kegagalan, dan kegagalan adalah jalan memutar, bukan jalan buntu. Tahukah kamu, dalam bahasa Cina, krisis terbentuk dari dua karakter, karakter yang pertama adalah bahaya, dan karakter yang kedua adalah peluang. Intinya, dalam hidup, kamu akan selalu menghadapi masalah dan rintangan, tetapi jangan pernah berhenti berharap, ikuti kata hatimu untuk membuat keputusan, maka kamu akan selalu bisa mengatasi segalanya, kamu harus tetap kuat untuk hidup dengan kegagalan dan percekcokan. Kamu juga akan punya banyak pilihan yang harus kamu buat, dan hatimu akan sering pata, tetapi meski kamu meraskan kepedihan dan air mata, hatimu akan selalu sembuh, jadi jangan pernah menyerah pada godaan, dan membiarkan dirimu dicuri. Anggaplah kegagalan ini adalah masa lalu, dan masa lalu bukan untuk dilupakan, tetapi justru untuk diingat agar bisa mendapatkan pelajaran, yang membuat kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan untuk menghadapinya, kamu harus maju, memandang ke arah depan dan menjadi lebih baik,untuk meraih mimpimu,” kata Zac.
“Terkadang seseorang mengatakan sesuatu yang sepele, tetapi rasanya begitu pas untuk mengisi kekosongan di dalam hatimu, seperti yang kamu katakan saat ini. Aku tahu yang kamu katakan benar, tetapi itu hanya sebagian masalah, karena setiap orang akan tetap tidak menerimaku jika aku berusah untuk meninggalkan dari kegagalanku saat ini dan maju untuk mencapai mimpiku. Aku takut untuk maju, jika pada akhirnya aku tidak diterima” kata Kate.
“Kate, jangan mengingat ketakutanmu, tetapi ingatlah pada harapan dan impianmu Jangan pernah pikirkan frustasimu, tetapi pikirkanlah potensi yang belum kamu peroleh, dan jangan mengkhawatirkan apa yang telah kamu coba namun gagal, tetapi pikirkanlah apa yang masih mungkin kamu lakukan.” kata Zac lagi.
“Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan?” tanya Kate kepada Zac.
“Menurutku, kamu harus bisa memaafkan ayahmu dan teman-teman yang lain, dan berubah.” jawab Zac.
“Tetapi papa yang membuat hidupku menderita, dan untuk apa aku berubah jika tidak ada orang yang peduli kepadaku?” tanya Kate lagi, putus asa.
“Bagaimanapun, beliau tetap ayahmu, mungkin dia berbuat kesalahan, tetapi ketika kita menolak memaafkan, kita sendiri yang menderita, karena pada saat kita memilih untuk memaafkan, suatu prinsip yang mengagumkan langsung bekerja. Ketika kita berubah, orang lain pun ikut berubah, begitu kita mengubah sikap terhadap orang lain, mereka pun mengubah sikap mereka. Bagaimanapun juga, pada saat kita mengubah cara pandang kita, orang lain akan mengerti berubahnya harapan-harapan kita. Kamu juga tidak tahu, kan, mengapa ayahmu melakukan hal tersebut, bagaimana jika ternyata ayahmu melakukannya agar kamu bisa hidup bahagia dan bergelimang harta? Masihkah kamu akan membencinya, jika ternyata semua yang dilakukannya adalah untuk kebahagiaanmu, putrinya satu-satunya. Aku yakin kamu bahkan belum pernah menemuinya sejak dia masuk penjara, kamu itu egois, kamu hanya memikirkan masalahmu sendiri yang dibenci oleh orang lain, tetapi tidak menghawatirkan ayahmu, yang diejek oleh banyak orang yang tinggal di Indonesia, terlebih lagi, dibenci oleh putrinya yang sangat dia cintai.” jawab Zac dengan geram.
Mendengar kata-kata Zac, Kate menangis, merasa sangat bersalah karena telah menghakimi ayahnya yang sangat dia sayangi, dia ingin agar ayahnya baik-baik saja di penjara, tetapi semua itu dipatahkannya dengan alasan ayahnya membuat hidupnya menderita. Kate sangat menyesal atas semua yang telah dia lakukan dan pikirkan terhadap ayahnya, dia tahu ayahnya tidak ingin membuatnya menderita.
“Baiklah aku sangat menyesal karena sikapku terhadap papa, tetapi, tetap saja, aku tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan aku sendirian di dunia ini, semua orang membenciku.” kata Kate.
“Tuhan tidak membiarkanmu sendirian, Dia selalu ada bersamamu, melalui banyak orang. Mungkin melalui rintangan ini, Tuhan menginginkanmu untuk berubah. Perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia, tidak ada yang tetap sama. Hari esok akan datang, membawa awal yang baru, kamu bisa memilih untuk menyesali masa lalu, atau kamu bisa memilih untuk meneruskan hidaup dan menggapai mimpimu dengan ketangguhan dan pikiran terbuka. It’s just getting started. Dan ini adalah awal baru bagimu untuk berubah menjadi Kate yang baru, Kate yang tidak mendapatkan segalanya karena nama besar, tetapi karena kemampuannya sendiri, minta maaflah kepada semua orang yang pernah kamu sakiti, dan maafkanlah orang yang telah menyakitimu. Tunjukkan pada dunia siapa dirimu yang sebenarnya. Bersikaplah sangat jujur tentang apa dan siapa dirimu, dan jika mereka masih bersikap seperti itu terhadapmu, itu masalahmu, tetapi kamu harus mencoba, sebelum kamu berpikir lebih jauh. Jangan pernah takut untuk mengambil langkah panjang, karena kamu tidak mungkin bisa menyebrangi jurang dengan lompatan pendek.” Kata Zac lagi.
Kate langsung berdiri meninggalkan Zac sambil tersenyum. Zac pun ikut berdiri dan berlari menyusul Kate. Ternyata Kate menuju ke ruang radio sekolah yang sedang siaran. Kate berbicara dengan penyiarnya, kemudian mengambil alih tempat penyiarnya.
“Saya Regina Katherine Sastrowidjaja, sebelumnya saya ingin meminta maaf karena telah mengganggu siaran. Tetapi, pada kesempatan ini, saya ingin meminta maaf kepada semua yang pernah saya sakiti atau pun saya ejek. Sungguh, dari hati saya yang terdalam saya sangat menyesal atas apa yang telah saya lakukan selama ini. Saya tahu saya salah, dan ini tidak saya lakukan karena saya dibenci oleh teman-teman, tetapi ini semata-mata karena saya sangat menyesal atas apa yang telah saya lakukan kepada kalian semua saat ini. Saya sadar bahwa saya telah melakukan hal yang salah selama ini, sehingga dalam keadaan seperti ini saya dibenci oleh kalian semua. Tetapi, sungguh, saya sangat menyesal atas semua kesalahan yang telah saya perbuat selama ini, dari hati yang terdalam. Saya tahu seharusnya saya mendatangi kalian satu-persatu, tetapi tanpa mengurangi maksud saya untuk meminta maaf, saya benar-benar menyesal dan minta maaf. Saya tidak akan meminta kalian untuk tidak menjauhi saya, atau untuk tidak mengejek saya, tetapi, niat saya tulus untuk meminta maaf, itu semua terserah kepada kalian apakah kalian akan memaafkan saya atau tidak, tetapi saya benar-benar menyesal dan meminta maaf atas semuanya. Terima kasih,” kata Kate di microphone, yang sedang siaran langsung dan didengar oleh semua guru dan siswa SMA Canfield.
“Kate, kamu benar-benar berani, aku kira kamu tidak akan pernah melakukan hal itu,” kata Zac yang menunggu Kate keluar dari ruang radio.
“Perkataanmu mengubah cara pandangku. Terima kasih banyak, dan kamu tahu, aku hanya mencoba berani, dan mencoba melakukannya, tetapi ketika aku bertindak tanpa penyesalan, hanya spontanitas, aku bisa yakin bahwa aku benar. Dua hal yang kupelajari darimu adalah bahwa aku sekuat yang kuinginkan dan bahwa bagian tersulit dari setiap upaya adalah melakukan langkah pertama, membuat keputusan pertama.” kata Kate sambil tersenyum, puas dengan yang telah dilakukannya.
“Kamu benar, kamu sangat berani, kamu tahu, mengakui kesalahan akan menjernihkan masalah, dan menjernikan masalah dan membuktikan kamu lebih berani daripada sebelumnya,” kata Zac.
“Kate,” teriak Vidia dan Melanie sambil berlari ke arah Kate dan Zac.
“V, Mel, ada apa?” tanya Kate.
“Kami mendengar apa yang telah kamu katakan melalui siaran radio. Kamu sangat berani, dan aku juga mau meminta maaf karena aku telah mengejekmu sebelumnya, aku juga sangat menyesal, mungkin aku telah membuatmu marah dan malu, tetapi aku benar-benar minta maaf,” kata Vidia.
“Aku juga mau minta maaf kepadamu, Kate, aku sangat menyesal,” kata Melanie.
Kate tidak berkata apa-apa, dia hanya menghampiri Vidia dan Melanie, lalu memeluk mereka, mereka bertiga pun langsung berpelukan.
“Aku tidak percaya bahwa kamu seberani itu,” bisik Vidia.
Kate hanya tertawa, kemudian berkata, ”Penampilan bukanlah kecantikan, tetapi keberanianlah yang merupakan kecantikan. Tidak satu orang pun yang berani mengatakan aku tidak bisa melakukan sesuatu, karena aku adalah seorang perempuan. Apa pun yang bisa kamu lakukan, atau kamu bayangkan kamu bisa, lakukanlah. Karena di dalam keberanian terdapat kejeniusan, ketakutan, dan keajaiban, bukan begitu, Zac.” kata Kate.
Mereka bertiga tertawa. Zac pun ikut tertawa mendengarnya. Persahabatan Katherine, Vidia, dan Melanie, walaupun sempat berhenti di tengah jalan, tetapi bagaimana pun, jalan ke rumah seorang sahabat tidak pernah jauh.

***

Sejak hari itu, Kate selalu pergi ke penjara tempat ayahnya ditahan, sesering mungkin. Kate sudah mengetahui bahwa penyebab ayahnya melakukan korupsi, seperti kata Zac adalah dirinya, ayahnya tidak ingin dia menderita, dan ayahnya sangat ingin membahagiakannya. Kate telah memaklumi alasan ayahnya, dia juga sangat menyayangi ayahnya.
Persahabatannya dengan Vidia dan Melanie pun semakin dekat, bahkan sangat dekat. Tidak ada lagi orang yang mengejeknya sejak hari itu, mereka semua bahkan sangat menghargai Kate. Hubungannya dengan Zac adalah ...hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu. Kate juga diterima dalam sebuah label produksi untuk menjadi penyanyi beberapa minggu yang baru, para dewan juri menerimanya, tanpa memandang siapa dia, tetapi memandangnya sebagai diri sendiri. Seseorang yang potensi dan harapan yang tinggi untuk mencapai mimpinya. Seperti kata Walt Disney, jika kamu bisa memimpikannya, maka kamu bisa melakukannya.


-TAMAT-

1 komentar:

  1. Klo nurut aq, lbih keren klo semua karakter namony tetep A B C D E dst...

    BalasHapus